
Tepat ketika Ray memikirkan Nara, gadis itu muncul dan tertangkap oleh mata tajamnya. Nara sedang berdiri di halte bus. Hari ini Ray memang berencana untuk naik kendaraan umum saja. Entah kenapa dia merasa malas membawa mobil dan disinilah dia berada. Tapi tenyata dia membuat pilihan yang tepat untuk naik kendaraan umum. Dia bisa bertemu dengan Nara.
Ray menghampiri Nara yang sedang mendengarkan musik sepertinya. Terlihat ada dua benda yang menyumpal telinganya. Bahkan gadis manis itu sudah menggoyangkan kepalanya kekanan dan kekiri. Terlihat sekali dia menikmati musik yang terputar.
Ray menepuk pundak Nara pelan. Langsung saja gadis manis itu menoleh cepat kebelakang. Matanya melotot lucu, namun setelahnya terganti dengan helaan napas lega. Sepertinya dia terkejut karena tepukannya tadi.
Dia melepas satu earphonenya serta mengecilkan volume suaranya.
“Kenapa naik bus hari ini? Tidak bersama Cein?” Ray membuka pembicaraan antara mereka. Entah disadari oleh keduanya atau tidak, tapi Ray menjadi banyak berbicara ketika bersama Nara. Dia seakan ingin terus mendengar suara Nara sehingga terus mengajaknya berbicara.
“Cein menginap di rumahmu karena Eve kemarin memintanya datang. Mobil sedang diberada di bengkel karena mendadak tidak bisa menyala kemarin.” Ray mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda mengerti. Psst, jangan beritahu Nara kalau sebenarnya Ray sempat berpikir untuk membelikan mobil baru untuk Nara.
Tidak ada lagi pembicaraan antara mereka. Yang satu fokus mendengarkan lagu sedangkan yang satu lagi terlihat fokus pada jalanan yang ramai dengan kendaraan.
“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik kan?” Nara memang meninggalkan Ray setelah dirasa laki-laki itu sudah membaik dan pergi ke apartmentnya sendiri.
Nara baru menyadari kalau mereka berdua tinggal di gedung yang sama. Yang berbeda hanya lantainya saja. Ray berada di lantai 12 sedangkan Nara berada di lantai 10.
“Tentu saja. Kamu yang merawatku, sudah pasti sembuh.” Ray tersenyum ketika mengingat Nara yang sudah merawatnya ketika dia sakit. Sepertinya hatinya memang tidak salah berlabuh.
“Ah, benar juga. Kamu dirawat oleh peri cantik sepertiku. Hanya ku usap kepalamu saja pasti sudah sembuh.” Nara mengucapkannya sembari memperagakan bagaimana dia seperti mengusap kepala Ray. Tentu saja tidak dilakukan langsung pada Ray. Nara hanya melakukannya secara imajiner.
Si tampan yang berada disebelahnya dibuat tertawa. Mendengar nada riang keluar dari mulut Nara memang menjadi hiburan tersendiri untuk Ray. Belum lagi kalimat sombong yang dia ucapkan barusan. Tapi anehnya, apa yang diucapkan oleh Nara malah serasa mengelitik Ray dan membuatnya tertawa.
Mereka terus berbincang sampai bus yang mereka tunggu datang mendekati halte. Semua orang bersiap untuk naik ke bus. Begitu kendaraan besar beroda empat itu berhenti, mereka mulai berebut naik.
Ray jarang naik kendaraan umum dan ini pertama kalinya dia melihat bagaimana orang-orang saling mendorong dan mendahului agar bisa naik.
Nara yang melihat Ray hanya diam di tempat mulai menarik tangan laki-laki tampan itu. Ray benar-benar dibuat melongo oleh Nara yang bisa dengan mudah menerobos segerombolan orang yang memenuhi pintu masuk bus. Apakah semua perempuan seperti ini?
Saat sudah berada di bus, Ray masih menatap Nara yang berada di sebelahnya dengan pandangan takjub. Jika dia sendirian tadi, maka dia pasti akan menunggu dan masuk di paling akhir, itupun kalau bus belum kepenuhan dan membuatnya harus menunggu bus lainnya lagi.
“Kenapa melihatku seperti itu?” Nara merasa aneh ditatap seperti itu oleh Ray. Apa mungkin ada sesuatu di wajahnya? Atau Ray tidak suka karena ditarik olehnya tadi?
Ya...jangan salahkan dia juga, siapa suruh Ray hanya bengong disana. Kalau semakin lama, nanti mereka akan masuk di akhir dan tidak akan dapat tempat. Ini saja mereka harus berdiri.
“Kamu benar-benar luar biasa ya.”
“Maksudmu?”
“Bagaimana kamu menerobos orang-orang ini tadi?" Melihat mereka yang saling dorong-dorongan saja sudah membuatku ngeri.”
“Badan ku kecil, jadi aku bisa menyelinap dengan mudah. Berbeda dengan badanmu yang besar ini.” Nara menusuk pelan lengan kekar Ray yang terbalut dengan hoodie berwarna abu-abu. Nara yakin walaupun terlihat biasa saja, tapi hoodie ini pasti mahal.
Ray hanya bisa tertawa. Bus yang mereka naiki sudah berjalan sejak tadi. Bus ini penuh karena banyaknya orang. Sejujurnya ini adalah alasan kenapa Ray jarang ingin bus. Mereka akan saling berhimpitan disini. Dan Ray paling tidak suka ada yang menyentuh tubuhnya, bagian manapun itu.
Namun Ray menahan diri dengan menjaga jarak sendiri dari orang-orang. Beruntung masih ada space sehingga tidak terlalu berhimpit. Dia bisa saja turun, tapi ada Nara disini jadi dia tidak ingin melewatkan kesempatan berangkat bersama Nara walaupun naik kendaraan umum.
Mungkin setelah ini dia yang akan menjemput Nara agar pergi bersamanya naik mobilnya.
Disepanjang perjalanan itu, Ray merasa ada yang aneh dari pria yang berdiri tidak jauh darinya dan Nara. Gerak geriknya mencurigakan dan dia juga beberapa kali terlihat oleh Ray sedang memperhatikan Nara.
Beberapa saat kemudian, orang yang berdiri disebelah Nara turun dan pria tadi segera berpindah tempat ke sebelah Nara.
Mata tajam Ray terus memperhatikan pria itu dalam diam. Sedangkan Nara yang menjadi objek perhatiannya itu sudah terlarut dengan alunan musik dari earphonenya.
Ray tidak sengaja melihat pria itu menggerakkan tangannya mendekati Nara. Tapi sebelum pria itu berhasil menyentuh Nara, bus berhenti dan ada orang yang turun dan masuk ke bus.
Kesempatan ini digunakan oleh Ray untuk berpindah tepat ke belakang Nara. Dia memposisikan dirinya seakan mengurung tubuh Nara diantara tubuhnya.
Tentu saja Nara terkejut. Dia menyadari ada orang dibelakangnya dan ketika dia berbalik, dia melihat Ray disana. Ray tidak terlalu memperdulikan itu, dia malah memberikan lirikan tajam kepada pria disebelahnya.
Pria itu tergagap karena tertangkap basah oleh Ray lalu berpindah tempat ke tempat yang jauh dari Ray dan Nara.
“Ada apa?” Nara bertanya dengan heran karena Ray sedari tadi melihat ke arah lain.
Ray hanya menggelengkan kepalanya tapi Nara tidak percaya begitu saja. Pasti ada sesuatu sehingga Ray menjadi aneh seperti ini.
“Ada yang ingin mengganggumu tadi. Aku takut kamu mengamuk disini, jadi aku mengusirnya. Bagaimana kalau bus ini terbalik karena kamu mengamuk? Aku masih ingin hidup lebih lama.” Nara memandang Ray tidak percaya. Memangnya dia hulk atau memiliki kekuatan super sampai-sampai bisa membuat bus terbalik?
Melihat wajah tertekuk Nara membuat Ray gemas padanya. Apakah dia tidak sadar ya kalau wajahnya itu benar-benar lucu. Bibirnya dimajukan dan pipinya dikembungkan. Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk karena tidak jadi diajak bermain.
Ray menangkup kedua pipi Nara dengan satu tangannya sampai membuat mulut di manis maju dan membuat Nara tampak seperti ikan kembung. Alhasil Ray mendapatkan pukulan penuh kasih sayang dari Nara.
Lagi-lagi Ray tertawa. Entah sudah keberapa kalinya Nara melihat Ray tertawa seperti ini. Tapi dia tidak bohong kalau Ray berkali-kali lipat lebih tampan saat tertawa seperti ini. Dia benar-benar meninggalkan image menakutkannya ketika sedang tertawa.
“Nara.” Yang dipanggil terkejut ketika mendengar Ray berbicara tepat di telinganya. Rasanya geli saat terpaan napas Ray mengenai pipinya.
“I-iya? Kenapa?” Nara mendengar Ray seperti sedang mengendus sesuatu. Apa dia bau? Seingatnya dia sudah mandi, dia juga menggunakan sabun juga mencuci rambutnya.
“Kamu wangi.”
“Hah?”
“Wangi mu seperti citrus, aku suka.” Sejujurnya Ray sudah mencium wanginya sedari tadi dia berada di samping Nara. Hanya saja dia tidak yakin apakah itu berasal dari Nara atau dari orang lain. Tapi setelah dia berada di belakang Nara, dia bisa mencium dengan jelas kalau wangi citrus yang masuk dalam indra penciumannya, memang berasal dari Nara.
Wanginya memabukkan, membuat Ray seakan ingin terus menciumnya. Tapi dia segera mengendalikan diri. Bisa-bisa dia membuat Nara tidak nyaman jika seperti itu terus.
Dia tidak tahu saja kalau si manis didepannya sudah tersipu malu dengan pipi yang memerah. Nara benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Dia tidak percaya pada laki-laki tapi kenapa dia selalu tersipu dengan perlakuan Ray? Belum lagi jantungnya yang berdetak tidak normal. Mungkinkah dia...jatuh cinta pada Ray?
Di mansion keluarga Noordien, ada Jerry yang sedang membaca tablet sambil meminum teh di ruang tengah. Penampakannya terlihat seperti pengusaha muda atau tuan muda kaya raya yang pekerjaannya hanya memantau pergerakan grafik perusahaannya.
Hansel yang baru selesai mandi turun kebawah untuk mengambil minum. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Jerry yang melihat tabletnya dengan begitu serius. Dia sudah sering melihat pemandangan seperti ini. Kalau ada Jayden, maka mereka akan benar-benar terlihat seperti ayah dan anak.
Jika Ray ada disini, pasti dia akan mengejek Jerry dengan memanggil dia orang tua atau duda beranak satu. Alhasil mansion ini akan dipenuhi oleh suara-suara saling mengejek antara Ray dan Jerry.
Setelah mengambil air, Hansel ke ruang tengah. Dia ikut duduk di sofa besar disana. Sebelumnya dia mengintip apa yang dilihat oleh Jerry di tablet itu.
Pantas saja dia terlihat serius, ternyata ada hubungannya dengan pekerjaannya.
“Ada apa?”
“Sepertinya ada yang ingin bermain-main denganku.” Jerry meletakkan tablet di meja dan beralih mengambil cangkir teh miliknya.
“Aku hanya akan membantumu kalau ada feedback yang ku dapat.”
“Kau tidak perlu turun tangan. Tugas ini berkaitan dengan markas kesayangan kita, jadi kuminta pemimpinnya untuk membereskannya. Tapi karena aku penasaran, jadi ku katakan aku akan ikut mereka untuk melihat.”
“Yang mana satu targetmu?”
“Orang yang hari itu berhasil membobol masuk ke markas kita itu, dia ada mengambil senjata yang baru dibuat oleh Nenek yang diberikan kepada kita. Hari itu dia mengatakan kalau dia telah menjualnya kan. Kita berhasil mengetahui kepada siapa dia menjualnya, tapi ternyata itu membentuk jalur. Pencarian terhenti ditengah jalan karena orang yang katanya membelinya terbunuh dan kita tidak bisa menemukan dimana barangnya atau kemana transaksinya. Lalu Reid memberitahuku kalau senjata itu akan masuk pada pelelangan lusa. Dia telah melacak ditangan siapa senjata itu berada, dan kita akan mengambilnya kembali.”
“Pantas saja kau begitu serius. Senjata yang dibuat nenek cantik hanya ada satu-satunya di dunia dengan kekuatan yang sangat hebat. Siapapun yang menjadi lawannya tidak akan pernah bisa menang.”
“Itu pun kalau mereka bisa menggunakannya. Menurutmu kenapa senjata itu terus menerus berpindah tangan? Itu karena mereka tidak mengerti cara mengaktifkannya.”
“Nenek cantik memang benar-benar jenius ya.”
“Tentu saja. dia kan nenek ku.”
“Jadi, kapan?”
“Aku sudah mengirimkan email pada The Reaper. Dia pasti akan segera tahu. Dan...acaranya besok. Pastikan kau datang jika mau menonton pertunjukkan menarik.”
“Siapa saja yang ikut? Kalau semua pergi, lalu bagaimana dengan Eve?”
“Bunda dan Zea aku yakin tidak akan ikut. Sedangkan Nenek...dia pasti ingin ikut.” Jerry menebak itu semua. Dia belum memberitahukan hal ini kepada keluarganya yang lain. Dia hanya memberikan tugas kepada The Reaper dan memberitahu Ray tadi pagi melalui pesan singkat.
Dia akan memberitahu mereka nanti. Lihat saja, tebakannya pasti benar.
“Kalian sedang membicarakan apa? Serius sekali.” Perhatian mereka berdua teralih pada Cein yang baru turun dari lantai dua. Gadis itu berhenti di tengah tangga sambil menatap pada mereka berdua.
“Bukan apa-apa. Hanya membicarakan tentang beberapa masalah pekerjaan. Eve sudah bangun?” Jerry hampir lupa kalau Cein menginap dirumah mereka. beruntung sepertinya Cein tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Ya bukannya dia menutup-nutupi, hanya saja pekerjaannya ini berat dan rasanya tidak sembarang orang sanggup dan bisa mengerjakannya.
“Sudah. Dia sedang bersiap-siap sekarang. Dimana Zea?” Cein hanya sempat bertemu Zea sebentar karena semalam anak itu sudah ke kamarnya untuk belajar dan tidak keluar kamar lagi.
“Dia sudah berangkat kesekolah diantar supir. Tadinya dia ingin menghampirimu ke kamar tapi ku larang, takutnya kamu dan Eve masih tidur.”
Cein hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Kalau sudah Jerry yang mengatakan siapa yang tidak percaya. Dilihat-lihat juga menurut Cein, Jerry bukan orang yang pandai atau suka berbohong.
“Kalian sudah makan?”
“Belum. Kami menunggumu dan Eve untuk makan bersama. Maid sudah memasak, jadi kau tidak perlu memasak lagi.” Hansel mengambil paksa cangkir teh Jerry dan meminumnya sampai habis. Si empu memandang Hansel dengan tajam. Jika tidak ada Cein maka mungkin saja akan terjadi peperangan disana.
“Ayo tunggu Eve di ruang makan.” Jerry berjalan mendahului keduanya menuju ke ruang makan sambil membawa cangkirnya yang sudah kosong. Dibelakangnya Hansel terdengar sedang mengobrol ringan dengan Cein.
Tanpa aba-aba Jerry menarik leher Hansel dan merangkulnya dengan kuat sampai-sampai laki-laki itu merengek kesakitan. Dia melihat dengan ngeri wajah Jerry yang tersenyum padanya. Ada yang aneh dengan temannya ini. Dia mencium bau sesuatu yang mencurigakan.