Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 14: The Reaper



Di apartement, sedari tadi Nara menyadari ekspresi berbeda pada Cein ketika berada di parkiran universitas. Ada apa dengan ekspresinya itu. Bahkan didalam mobil tadi juga begitu. Dia beberapa kali melihat Cein mencuri pandang kebelakang di mana terdapat motor Jerry disana.


“Kak, ada apa denganmu? Dari tadi aku lihat, ada sesuatu yang kamu pikirkan?” Cein menoleh. Agak sedikit ragu untuk mengatakannya tapi dia harus menceritakannya pada Nara atau adiknya itu akan menerornya terus menerus.


“Motor yang dibongkar tadi, terlihat seperti motor yang hampir menyenggolnya tadi pagi.” Nara ingat kalau tadi Cein ada bercerita padanya kalau saat di parkiran dia bertemu dengan Jerry. Dan saat itu juga Cein mengatakan kalau ada motor yang hampir menyenggolnya.


Maka kemungkinan besar pelaku yang telah membuat motor itu dibongkar sampai tidak berbentuk seperti itu adalah Jerry. Pasti dia meminta orang yang membongkarnya. Sepertinya dia mengerti skenario macam apa yang akan Cein dapatkan kedepannya. Nara tiba-tiba tersenyum penuh arti pada Cein. Dia tidak mengatakan apapun, tapi dia menatapnya penuh dengan tatapan menggoda.


Cein menatap adiknya bingung. Apa maksud senyuman itu? mengapa adiknya tiba-tiba tersenyum? Apakah dia dirasuki hantu? Rasanya tidak, karena Nara tidak melakukan apapun yang aneh. Tapi menatapnya seperti itu saja sudah aneh baginya.


Nara tidak akan mengatakan apapun karena sepertinya Jerry juga tidak berniat untuk mengatakannya pada Cein. Buktinya dia hanya berdiri tanpa niat untuk memberitahukannya sama sekali tadi.


---


Malam harinya di sebuah mansion besar milik keluarga Noordien. Terdapat enam orang laki-laki berbeda usia yang sedang berkumpul disebuah ruangan. Ditangan mereka masing-masing, terdapat kertas yang menunjukkan profil beberapa orang yang telah menganggu kedatangan Nara, Cein, dan Evelyn beberapa hari yang lalu.


Ray terlihat menahan kekesalannya ketika mendengar Ken menjelaskan apa yang menjadi topik pembicaraan mereka malam ini.


Orang-orang yang pernah mengejar ketiga perempuan manis di Vancouver itu adalah bawahan dari pimpinan mafia yang membenci Jayden karena telah menggagalkan rencana penyeludupan senjata miliknya. Entah darimana dia mengetahui mengenai Evelyn yang berada di Vancouver dan berusaha untuk menggagalkan penerbangan mereka.


Sayangnya rencana mereka juga berhasil digagalkan oleh Nara dan Cein atas perintah dari Ken. Sehingga mereka bisa dihentikan sebelum mereka mencapai bandara.


Pimpinan mereka berada dinegara ini sekarang. Mereka berhasil melacak kemana tujuan penerbangan mereka berempat dan mengejarnya. Ken telah mendapatkan lokasi terkini milik mereka dan penyergapan akan dilakukan.


“Kapan penyergapannya? Biarkan aku mengambil mainanku terlebih dulu.” Tanya Jerry. Dia sudah tidak sabar untuk membelah tubuh orang yang telah membuat adiknya hampir tidak bisa kembali kepada mereka.


Jayden dengan cepat menghentikan Jerry. Dia menepuk pundak anak sulungnya beberapa kali sambil menggelengkan kepalanya.


“Kalian tidak perlu turun tangan langsung untuk masalah ini. Ayah sudah mengirim orang untuk melakukan itu.” Ketiga anak laki-laki disana mengerutkan dahi mereka. Siapa orang yang dikirimkan oleh ayah mereka? Biasanya paling tidak salah satu dari mereka yang akan memimpin penyergapan seperti ini.


“Ayahmu dan aku sepakat menunjuk pemimpin baru untuk markas bagian utara. Markas kesayangan kalian yang beberapa bulan lalu sempat dihancurkan karena kelalaian pemimpinnya.” Ray memutar matanya malas. Kali ini siapa lagi yang diangkat oleh ayah dan kakeknya untuk menjadi pemimpin markas kesayangannya itu? Tidakkah seharusnya mereka yang harus memilihnya? Setidaknya agar kejadian sebelumnya tidak terjadi lagi. Siapa tahu yang sekarang juga tidak begitu kompeten.


“Kamu tenang saja Ray. Kali ini pemimpinnya tidak berada di kelas yang sama dengan yang sebelumnya. Ayah yakin, mulai dari sekarang, markas kesayangan kalian itu tidak akan lagi sama seperti yang dulu. Markas itu, tidak akan bisa dimasuki dengan mudah, karena ayah juga telah menambahkan personil kesana. Mereka adalah orang-orang yang dibawa oleh Ken dari Vancouver kemari.”


“Kalian tenang saja. Kakek sudah menguji mereka sendiri dan mereka cukup pantas untuk bergabung bersama kita walaupun mereka hanya menjadi anakan dari mafia kita.” Mereka mengangguk-anggukkan kepala mereka. Jika Raymond sudah mengujinya langsung dan tetap mengizinkan, maka mereka memang berbakat.


“Siapa mereka?” Jayden melihat pada Ken dan segera diangguki oleh Ken. Dia memencet pulpen di tangannya lalu tampilan di layar putih pun berubah. Disana terdapat dua foto orang setengah tubuh. Wajahnya tidak terlihat karena dia memakai topi juga masker. Tapi bisa dipastikan kalau mereka adalah perempuan. Namun, lambang kecil yang berada di jaket mereka itu terlihat tidak asing.


“Mereka perempuan?” Jayden menganggukkan kepalanya. Setelahnya tampilan layar kembali berubah. Disana terdapat sebuah nama terpampang dilayar besar putih itu, membuat mereka kembali mengalihkan perhatian mereka kepada benda itu.


The Reaper


Mereka bertiga sontak ribut ketika membaca nama itu. Bahkan Hansel tidak percaya apakah dia membacanya dengan benar, atau memang matanya minus.


“The Reaper? Ayah dan Kakek mengerekrut mereka? Sejak kapan?” Jerry dengan ribut menanyakan itu.


Setahunya, The Reaper adalah pembunuh bayaran terkenal. Mereka bekerja tanpa organisasi, tapi keberadaan mereka sulit untuk diketahui. Belum lagi wajah dan penampilan asli mereka tidak pernah terlihat sebelumnya.


Yang diketahui hanya mereka adalah perempuan dan ber-anggota dua orang dengan keterampilan membunuh yang sudah tidak diragukan sama sekali.


Nama The Reaper tentu tidak asing lagi ditelinga para mafia maupun pebisnis. Para pebisnis diketahui takut dengan nama The Reaper ini karena dilihat dari riwayatnya mereka selama ini, mereka mengincar orang-orang yang sering berbuat curang dalam kehidupan mereka.


Ray pernah mendengar kalau mereka berdua pernah memusnahkan dua mafia besar di luar negeri hanya dalam satu malam. Kemampuan mereka termasuk hebat walaupun mereka adalah perempuan dan Ayah dan Kakeknya merekrut kedua orang itu lalu menjadikan mereka salah satu pimpinan dalam markas mafia mereka?


Wow!


Mungkin mereka adalah satu-satunya perempuan yang menjadi pimpinan markas dalam mafia mereka. Bukankah keberadaan mereka perlu untuk diperhitungkan?


Kini mereka bukan lagi hanya sekedar pembunuh bayaran The Reaper, tapi sudah menjadi pemimpin markas utara dari mafia Red Diamond.


Di tempat lain, dua orang perempuan tengah bersenandung ria sembari berjalan memasuki wilayah dimana sekitarnya terdapat banyak deretan kontainer yang dijadikan sebagai markas oleh orang-orang bodoh tidak kompeten.


Seorang gadis dengan celana pendek berwarna hitam tampak mengotak-atik pistol yang dipegangnya sementar gadis lainnya sedang bersenang-senang dengan kumpulan pisau tidak bergagang miliknya.