Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 22: Cynthia



Sejak Nara dan Ray sampai di Universitas, orang-orang terus memperhatikan mereka. Tentu saja, siapa yang menduga akan melihat pangeran kampus mereka datang bersama Nara. Walaupun dia baru berkuliah diuniversitas ini, namanya sudah benar-benar dikenal oleh anak-anak disini.


Apa lagi kalau bukan karena kedekatannya dengan Ray. Semuanya berawal dari forum dan Nara sendiri tidak memiliki rencana untuk mengklarifikasinya ataupun menjauhi Ray sama sekali.


Justru bukankah dia harus bersenang-senang? Dia sudah pergi jauh-jauh dari Vancouver dan meninggalkan semua orang-orang yang sudah berhasil dia buat tunduk padanya. Pastinya dia harus membuat pertunjukan yang menarik disini. Kalau perlu dia ingin membuat mereka semua juga tunduk dan takut padanya.


Memangnya hanya mereka saja yang bisa semena-mena disini? Dia juga bisa. Anggap saja kedekatannya dengan Ray adalah keberuntungannya sehingga membuatnya memiliki backing-an yang kuat. Kalau pun tidak, dia juga tidak akan mengalah pada mereka.


Akan dia tunjukkan siapa yang harus tunduk disini. Yang pasti bukan dia.


Silahkan beranggapan kalau Nara jahat. Kenyataannya inilah dia. Kenapa dia harus tunduk pada orang lain yang bahkan selalu memandang rendah orang lain? Bertindak lemah itu bukan Nara.


Daripada duduk diam menunggu orang lain membela mu, lebih baik angkat tanganmu dan pukul wajahnya sekuat yang kamu bisa. Kalau kamu tidak ingin mengotori tanganmu, maka balas dia dengan ucapanmu. Jangan biarkan mereka merendahkanmu. Karena nyatanya orang-orang seperti mereka lah yang lemah disini.


Orang yang hanya berani maju beramai-ramai dan bersembunyi dibelakang apa bukan pengecut namanya? Kalau mau ayo maju hadapi dia. Itupun kalau mereka berani.


Kalau kata Cein, Nara suka menjadi pusat perhatian dengan cara sebaliknya. Tapi dia tidak menganggap cara Nara salah. Justru orang yang seperti Nara lah yang lebih mudah diingat orang-orang.


Okay, kembali pada Nara dan Ray. Mereka berdua sedari masuk terus berbincang-bincang atau lebih tepatnya Nara yang mengajak Ray untuk berbicara. Ray juga kelihatannya tenang-tenang saja dan sesekali menyahut jadi Nara terus mencari topik pembicaraan.


Tiba-tiba ada beberapa gadis yang sepertinya ada yang Nara kenal. Diam-diam Nara menyeringai. Memang hari akan terasa lebih seru jika seperti ini. sangat tidak mungkin bagi Nara untuk memiliki hari yang benar-benar damai tanpa memancing keributan.


“Selamat pagi Ray!” Seorang gadis yang berjalan paling depan itu menyapa Ray.


Ray tidak membalas sapaan gadis itu. Yang dia lakukan hanya melihatnya dengan tajam selama 2 detik setelahnya menoleh ke arah lain. Dia melihat pada Nara yang masih berdiri disebelahnya.


Melihat Ray yang tidak membalas sapaan itu, Nara kemudian melihat pada Ray yang sedang melihat padanya. Dia menaikkan sebelah alisnya seakan bertanya kenapa laki-laki itu melihatinya seperti itu.


“Kenapa melihatiku seperti itu? Dia menyapamu tadi, kenapa tidak membalas sapaannya?” Okay...Nara saat ini sedang mengambil konsep anak baik. Dia mungkin harus mencobanya sebentar. Menjadi anak baik itu tidak selamanya seru. Sesekali memang harus dicoba, tapi tidak untuk seterusnya.


“Untuk apa? Aku tidak mengenalnya.” Beberapa gadis didepan mereka terutama yang tadi menyapa Ray merasa tertohok. Mereka bersekolah bahkan di fakultas yang sama dan dikelas yang sama, tapi Ray tidak mengenal mereka.


“Walaupun begitu setidaknya balas sapaan mereka. Mereka kan penggemarmu, apa kamu tidak takut mereka berhenti menyukai mu karena hal ini?”


“Untuk apa aku memiliki penggemar? Yang harus ku miliki itu kamu.” Nara terbelalak kaget dengan serangan mendadak dari Ray. Ada apa dengan Ray hari ini? Apa mungkin demamnya belum turun?


Merasa di acuhkan gadis tadi menginterupsi mereka sembari melirik sinis pada Nara.


“Namaku Cynthia, kita berada di kelas yang sama. Mungkin kamu tidak mengenalku karena aku tidak pernah memperkenalkan diri secara langsung padamu.” Cynthia memperkenalkan dirinya dengan kepala menunduk. Kedua tangannya berada di belakang badannya dan tubuhnya bergoyang-goyang kekanan dan kekiri.


Sejujurnya Nara merasa Cynthia gadis yang cantik hanya saja dia terlalu membuat-buat sikapnya. Nara tidak yakin apa mungkin Cynthia memiliki selera fashion sedikit berbeda atau memang ada orang yang merekomendasikannya untuk berpakaian seperti ini?


Yah, mungkin memang begitu selera fashionnya. Nara juga tidak bisa menjudge dia untuk sesuai dengan pandangannya.


“Aku memang tidak mengenalmu, tapi aku tahu kau siapa.”


Wajah cynthia menjadi sumriang ketika mendengar Ray mengatakan tahu dia siapa. Bukankah itu berarti Ray ada memperhatikannya? Apa mungkin selama ini Ray juga diam-diam menyukainya seperti dia menyukai Ray?


Teman-temannya yang berada di sekitarnya mulai menyoraki Cynthia dan Ray. Mengatakan kalau mereka akan segera menjadi pasangan kekasih. Cynthia kembali menundukkan wajahnya malu-malu. Tangannya menyelipkan rambutnya ke telinga sambil sedikit melirik pada Ray yang hanya diam saja.


“Kau yang hari itu mendatangi Nara di kelas sambil membawa teman-temanmu kan? Kau meminta Nara untuk menjauhiku karena katamu dia tidak pantas.”


Sejujurnya Ray daritadi sudah menahan dirinya untuk tidak lepas emosi. Terlebih lagi matanya benar-benar sakit melihat pakaiannya yang dipenuhi dengan kerlap kerlip.


Bagaimana jika Nara benar-benar menjauhinya hanya karena ancaman tidak masuk akal dari gadis didepannya ini? walaupun bukan berarti dia tidak bisa mendapatkan Nara, hanya saja pasti tidak akan semudah saat ini.


Beruntung Nara bukan gadis yang mudah ditakut-takuti dengan bualan omong kosong seperti itu. beruntung Nara adalah gadis unik yang malah menantang ancaman orang-orang. 


“B-bukan b-begitu maksudku. A-aku hanya...hanya i-ngin mengetesnya saja.”


Cynthia benar-benar gugup sekarang. dia tidak tau kalau Ray seperhatian itu pada Nara sampai-sampai mengingat hal seperti ini. tadinya dia kira Ray mengingatnya karena selama ini sudah banyak orang yang mengatakan padanya kalau dia menyukainya.


Dia kira Ray membalas perasaannya, tapi ternyata semuanya hancur hanya karena Nara. Kenapa juga Nara harus hadir di sini sih? Kalau tidak kan dia pasti sudah akan mendapatkan Ray.


“Hanya ingin mengetes katamu? Tapi menurutku kau tidak hanya sekedar mengetesnya. Yang kau lakukan lebih seperti pengancaman dan akan menjurus pada perundungan kalau Nara tidak membalas ucapanmu dengan berani.”


“B-bukan begitu Ray. K-kamu salah paham. Iya kan Nara?”


Cynthia memelototi Nara dan mengkode padanya untuk mengikuti alur yang dia ciptakan. Tapi bukan Nara kalau dia ikut saja dengan alur yang ada.


Nara memandang Cynthia dengan polos lalu melihat pada Ray yang saat ini sudah melihat padanya juga. Perhatian semua orang tertuju padanya terutama Cynthia yang sudah sangat gugup karena Nara tidak segera membalas ucapannya.


“Kenapa bertanya padaku? Mau aku berkata seperti apapun tidak akan merubah pemikiran Ray. Lagipula dia sudah melihatnya sendiri hari itu, kalau aku mengatakan ini adalah salah paham pun dia tidak akan percaya padaku.”


Cynthia ini benar-benar pandai playing victim ya. Sayang sekali actingnya kurang sempurna. Terlebih lagi dia melakukannya didepan Ray. Dia sudah pasti ketahuan bahkan sebelum dia mulai.


“Baiklah aku minta maaf karena sudah mengancammu hari itu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku harap kamu mengerti.”


Nara rasanya ingin sekali tertawa karena Cynthia sendiri yang berinisiatif untuk meminta maaf padanya.


Sepertinya dia tidak ingin imagenya dimata Ray berubah begitu saja. Tapi entah apakah caranya ini berhasil atau tidak karena wajah Ray sama sekali tidak berubah.