Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 08: Iblis bersaudara



Warning!!


Ada adegan pembunuhan


Bagi yang masih dibawah umur tolong bijak untuk membacanya atau lewati bagiannya. 


“Oh iya Nara, sepertinya tadi aku hanya bertanya apakah kamu menyukai Ray atau tidak. Bukan mengenai apakah kamu memiliki hubungan dengannya.” Cein menjauhkan tubuhnya dan menaik-turunkan alisnya dengan maksud menggoda adiknya.


Nara memukul pelan lengan Cein yang sekarang terkekeh lalu berlari menuju kamarnya sembari menutup wajahnya. Nara menutup pintu kamarnya dengan sedikit kencang.


Cein yang ditinggalkan segera bangun dan berjalan menuju pintu kamar Nara. Dia membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak dikunci oleh si pemilik ruangan. Langsung saja dia melesak masuk kedalam kamar untuk melanjutkan aktivitasnya menggoda Nara.


Di tempat lain, malam yang seharusnya di pakai untuk menghabiskan bersama keluarga dan orang-orang tersayang justru di pakai untuk hal yang berbeda oleh ketiga laki-laki berparas tampan ini.


Ruangan yang dipenuhi dengan alat-alat penyiksaan dan dengan pencahayaan minim serta nuansa menegangkan, sama sekali tidak membuat ketiga laki-laki itu gentar. Disana juga terdapat tiga orang lainnya yang berada dalam keadaan terikat dan tergantung secara terbalik.


Langkah kaki yang tegas membuat ketiga orang yang digantung tersebut menahan napas. Mereka benar-benar ketakutan. Belum lagi rasanya mereka bisa kapan saja kehilangan kesadaran. Rasanya seluruh aliran darah mereka berjalan menuju ke kepala mereka.


Mereka tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada mereka. Ketika keluar dari universitas tadi, mereka bertiga tiba-tiba saja dihampiri oleh orang-orang bersetelan hitam layaknya bodyguard. Mereka lalu membuat mereka kehilangan kedasaran dan begitu sadar, mereka sudah berada di posisi seperti ini.


Ketika mereka sedang berkutat dengan pemikiran mereka. Seorang laki-laki yang tampak menyeramkan memberikan isyarat kepada orang berpakaian hitam yang berada di dekatnya.


Pria berpakaian hitam itu langsung melangkah mendekati ketiga orang yang digantung lalu membuka penutup kepala mereka dengan kasar. Ketiga orang itu menyesuaikan mata mereka dengan pencahayaan yang ada disana.


Dengan keadaan terbalik, salah satu gadis diantara ketiganya menyadari ada orang lain yang berada disana. Dia melihat ada seorang laki-laki yang duduk bersandar pada meja. Di sampingnya terdapat laki-laki yang duduk di kursi. Dibelakang antara keduanya terdapat seorang laki-laki lainnya yang berdiri sambil bersidekap.


Dia menajamkan penglihatannya sampai menyadari kalau orang yang berada jauh didepannya adalah laki-laki yang selama ini menjadi incarannya.


“Ray?” tanyanya dengan ragu-ragu. Kenapa Ray bisa berada disini? Dan dimana dia berada sebenarnya? Mengapa dia digantung terbalik seperti ini?


“Kau mengenalku? Sayang sekali aku tidak mengenalmu. Tapi aku hafal wajah orang yang telah menganggu adik kesayanganku.” Ray melirik gadis itu dengan dingin. Tangannya sedang memainkan pisau lipat miliknya. Disampingnya terdapat Jerry yang sedang duduk di kursi sembari memegang sebuah kertas berisi biodata, keluarga, serta riwayat hidupnya.


“Ray, kamu tidak mengenaliku? Ini aku Azura. Kita bertemu tadi di sekolah. Ray tolong lepaskan aku. Seluruh tubuhku sakit, Ray.” Azura sebenarnya bingung, jika Ray berada disini mengapa dia tidak berusaha untuk menolongnya? Kenapa dia hanya duduk diam disana sambil memainkan sesuatu di tangannya.


“Benar Jerry. Tolong lepaskan aku....” ucap Jessica dengan suaranya yang sendu. Dia berusaha untuk membuat Jerry merasa kasihan padanya.


“Apakah ada keuntungan untuk kami melepaskan kalian? Justru kami sengaja menangkap kalian. Untuk apa kami menyianyiakan pekerjaan dari orang-orangku.” Jerry menatap pada ketiga gadis didepannya dengan remeh. Hansel memang selalu dapat dipercaya ketika berurusan dengan hal-hal seperti ini. Tidak salah jika dia dan Ray menjadikan Hansel sebagai orang kepercayaan mereka.


“Apa maksudmu, Jerry? Memangnya salah kami apa?” Ray tidak bisa menahan tawanya ketika Vanessa bersikap seolah mereka adalah orang suci yang tidak pernah melakukan kesalahan apapun dalam hidupnya. Namun, seketika suara tawanya menghilang digantikan kekehan yang entah mengapa terdengar begitu menakutkan.


“Kalian tahu? Kami mendapatkan julukan iblis tanpa hati bukan hanya karena alasan classic seperti yang kau sebarkan itu. Tapi karena kami adalah iblis sesungguhnya yang akan menunjukkan pada kalian neraka yang telah kami siapkan.” Tanpa aba-aba Ray melemparkan pisau lipatnya ke arah Azura. Pisau itu menusuk tepat pada perut gadis itu.


Teriakan memekakkan telinga terdengar menggema di dalam ruangan itu. Tapi teriakan itu malah membuat ketiga laki-laki tersebut tersenyum senang seakan apa yang mereka lakukan saat ini adalah sesuatu yang menyenangkan.


“R-ray, a-apa yang kamu lakukan?” Azura terkejut sekaligus kesakitan. Dia terkejut Ray ternyata adalah orang seperti ini. Bukankah rumor mengenai dia yang berhati iblis hanyalah karangannya karena Ray akan memukuli siapa saja yang mengganggunya? Mengapa semua menjadi kenyataan?


“Kenapa? Terkejut karena cerita karanganmu itu kini menjadi kenyataan dan korbannya adalah dirimu sendiri?” tanya Hansel. Dia sangat senang ketika melihat wajah Azura yang ketakutan. Padahal dia yang telah menyebarkan berita tentang mereka bertiga.


Ray berjalan mendekati Azura. Dia mengeluarkan pisau lipat lainnya dan mengetuk-ketukkannya di bawah dagu Azura. Dia menyeringai ketika melihat Azura begitu ketakutan ketika melihat pisau itu mendekat padanya.


Memang inilah yang seharusnya ditunjukkan olehnya. Bukan wajah sok berkuasa apalagi ketika dia dengan lancangnya menjambak rambut Evelyn dan berniat untuk melempar Nara dengan Nampan. Orang sepertinya hanya akan bermimpi bisa masuk dalam keluarga Noordien.


Paling tidak pasangannya nanti harus terbiasa dengan apa yang namanya darah. Akan lebih baik bila pasangannya bisa mengimbanginya dalam hal seperti ini. Dengan begitu mereka bisa menghabisi orang bersama-sama. Bukankah mereka akan menjadi pasangan yang serasi bila seperti itu?


Tiba-tiba saja Ray membayangkan Nara yang sedang membunuh orang dengan pisau dan tersenyum padanya dengan tubuh bersimbah darah korbannya. Bayangkan betapa mempesonanya Nara ketika dia benar-benar melakukan itu? Membayangkannya saja sudah bisa membuat Ray tersenyum-senyum sendiri.


Kembali pada saat sekarang. Melihat wajah Azura yang berada di depan wajah Ray sambil menatapnya dengan pandangan memohon benar-benar membuat Ray jijik. Dia ingin sekali merobek wajah gadis ini sekarang juga.


Azura sempat melihat mata Ray yang memunculkan binar tadi. Gadis itu berpikir apakah mungkin laki-laki ini sedang membayangkan hal-hal mengerikan untuk dilakukan padanya? Atau tentang dia yang selama ini berjuang untuk mendapatkan Ray?


“R-ray...?” panggil Azura seolah memohon pada Ray untuk mengampuninya. Dia tidak ingin mati disini apalagi ditangan orang yang sudah diincarnya selama ini.


Yang di lakukan oleh Ray benar-benar diluar dugaannya. Laki-laki itu memasukkan sesuatu langsung kedalam mulut Azura. Benda itu melukai tenggorokan dan bagian dalam mulutnya. Erangan demi erangan keluar menunjukkan Azura kesakitan.


Dia ingin menggerakkan kepalanya untuk mengeluarkannya tapi Ray menahan kepala Azura dan semakin mendorong benda  itu sepenuhnya masuk kedalam mulut Azura. Dia lalu mengambil sebuah kain untuk menyumpal mulut Azura sehingga gadis itu tidak bisa mengeluarkan benda itu dari mulutnya.


Erangan kesakitan semakin terdengar ketika Ray menggerakkan benda tajam itu pada satu persatu jari tangan juga telapak tangan Azura. Setelah selesai dengan karyanya, dia berjalan mundur dan kembali pada posisinya sebelumnya.


Sebelum sampai, dia berbalik dan melemparkan benda tajam lainnya dan kali ini diarahkan kepada jantung gadis itu.


Tadinya dia ingin menyiksa gadis itu lebih lama lagi, tapi semakin lama dia melihat wajah gadis itu. Semakin dia kesal karena mengingat tangan Nara yang terluka tadi. Memang bukan dia yang membuat gadis itu terluka, tapi tetap saja dia kesal. Jangan tanya apa alasannya, karena dia sendiri tidak mengetahuinya. Dia hanya merasa kesal saja sampai ingin membunuh orang.


Jerry kini mulai berdiri dari kursi. Dia melempar kertas yang tadi dia baca lalu berjalan mendekati Jessica yang sekarang menatapnya dengan ketakutan. Melihat apa yang telah dilakukan Ray pada Azura, membuat dia yakin kalau sasaran Jerry adalah dia. Mengingat Ray dan Jerry adalah kembar, maka kepribadian mereka pasti tidak berbeda.


“Kau...anak dari Johan Gregory bukan? Kebetulan sekali, ayahmu sempat bermain curang ketika bekerja sama dengan ku. Aku sempat berpikiran hadiah seperti apa yang harus ku berikan padanya. Lalu tiba-tiba saja kau datang, maka kau saja yang dijadikan sebagai hadiah untuknya. Bagaimana?” Jessica bergetar ketakutan. Selama dia berusaha untuk mendekati Jerry, membuat dia mengetahui kalau Jerry tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.


Jerry tersenyum dengan misterius. Dia memberikan kode kepada salah satu orangnya yang berada di dekat sana. Orang itu mengerti mengerti dengan kode yang berikan oleh tuannya. Dia pergi mengambil sebuah kotak kayu yang didalamnya berisi sebuah rantai besar. Dia menatap pada dua orang dan tanpa perlu diberikan instruksi, mereka mengarahkan rantai itu pada leher Jessica. Jerry tersenyum sekali lagi kepada Jessica lalu mendekat padanya untuk membisikkan sesuatu padanya.


“Sebenarnya tadinya aku ingin sedikit berbaik hati padamu dengan menyiksamu sedikit demi sedikit. Tapi ketika melihat keluargamu yang pernah bermaksud untuk mengambil keuntungan dari bunda ku, sepertinya aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan ini.” Jerry kembali menjauhkan tubuhnya. Dia melihat raut ketakutan di wajah Jessica. Bahkan gadis itu sudah menangis. Oh tentu saja dia tidak akan luluh hanya karena itu.


Sudah banyak orang yang telah menjadi korbannya. Ini juga bukan pembunuhan pertamanya, jadi tentu saja dia tidak akan kasihan hanya karena ini.


Dia berbalik sembari mengangkat tangan kanannya. Kedua orang yang berada disana menganggukkan kepala mereka. Dengan segera mereka menarik kedua ujung dari rantai yang berada di leher Jessica. Teriakan keras terdengar begitu nyaring.


Sampai beberapa saat kemudian teriakan itu berganti menjadi suara sesuatu yang terjatuh dan tetesan darah yang menetes dari tubuh Jessica.


“Bungkus itu dengan cantik dan kirimkan pada keluarga Gregory. Pastikan paket itu diterima langsung oleh Tuan Gregory. Masukkan juga surat ini di paket itu.” Jerry menyerahkan sebuah surat yang sudah diberikan amplop yang cantik. Dia menyerahkannya pada salah satu orang tadi.


Dia membayangkan bagaimana ekspresi keluarga itu ketika dia membuka “paket hadiah” darinya. Membayangkannya saja sudah bisa membuatnya tertawa. Sepertinya dia harus mengirimkan satu orangnya untuk merekam bagaimana mereka ketika membuka paket.


Ray dan Jerry menatap pada Hansel yang masih tetap diam di posisinya. Walaupun posisi Hansel adalah orang kepercayaan mereka, tapi tetap saja Hansel adalah teman mereka sejak kecil. Mereka berlatih bersama. Bahkan mereka juga menjalankan misi pertama mereka bersama.


Hansel adalah anak yang ditemukan oleh Ayah dan Bunda ketika mereka sedang menangkap perbudakan anak di negeri tetangga. Mereka lalu membawanya pulang kerumah karena merasa anak itu memiliki potensi dalam dirinya.


Setahun setelahnya Hansel di adopsi oleh seorang teman Jayden karena istrinya tidak bisa memiliki anak. Mereka memutuskan untuk mengadopsi Hansel karena istrinya begitu menyukai Hansel. Terdapat sebuah kejadian yang terjadi pada istrinya dan Hansel lah yang membantunya walaupun umurnya masih kecil.


Saat ini Hansel tinggal bersama keluarga Noordien karena kedua suami istri itu sedang pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis dan tentu saja atas persetujuan dari keluarga itu.


Sebagai informasi, teman Jayden juga memiliki hubungan dekat dengan keluarga Noordien karena dia pernah membantu perusahaan Jayden ketika dia pertama kali memegang perusahaan keluarga.


Jayden sangat berhutang budi padanya, karena itu tentu saja dia mengizinkan Hansel untuk tinggal bersamanya. Hansel juga pertama ditemukan olehnya dan dilatih bersamaan dengan Ray dan Jerry.


Kembali pada topic cerita kali ini.


Hansel yang ditatap sedemikian rupa oleh kedua anak kembar di depannya itu hanya berbalik menatapnya dengan bingung. Apakah ada yang salah dengannya sampai-sampai mereka seperti ini?


“Kau tidak berniat untuk melakukan pada yang satunya?” Hansel hanya menatap Vanessa singkat lalu menggelengkan kepalanya. Tadinya Vanessa sempat ingin berterima kasih pada Hansel. Tapi perkataannya selanjutnya membuatnya mengurungkan niatnya.


“Biarkan saja dijadikan makanan untuk peliharaan kalian. Seingatku Hope sudah jarang memakan manusia lagi, kan?” Hope adalah harimau putih peliharaan dua anak kembar ini. Keluarga Noordien memiliki tempat sendiri untuk Hope dan peliharaan lainnya. Terkadang kandang rumah untuk Hope sengaja dibuka dan ada bagian rumah tertentu yang bisa dijelajahi oleh binatang satu itu.


Lagipula Hope juga sangat ramah dan jinak jadi tidak ada masalah bukan jika membiarkannya lepas sesekali.


“Kau yakin? Kita bisa mencarikan orang lain untuk menjadi makanan Hope.” Ray dan Jerry sangat tahu bagaimana perangai dari Hansel. Dia memang tidak sekejam mereka berdua. Tapi sekali batas miliknya dilanggar, maka dia akan berubah menjadi orang yang jauh berbeda.


Perlu diingat kalau dia berlatih bersama Ray dan Jerry. Tidak mungkin bila ada malaikat diantara mereka bertiga. Sangat tidak mungkin. Yang ada mungkin sedikit lebih baik. Ingat, hanya sedikit.


Hansel menganggukkan kepalanya. Dia tidak sedang dalam mood untuk membunuh orang jadi lebih baik dia membiarkan Hope mendapatkan kesempatan untuk menuntaskan keinginannya.


“Hansel, kau...tidak menyukai dia kan?” Hansel menatap Jerry dengan terkejut. Dia menutup mulutnya berpura-pura kalau Jerry menebaknya dengan benar. Hal itu membuat Jerry ikut membulatkan matanya, tidak percaya kalau teman kecilnya ini benar-benar menyukai yang seperti itu.


Hansel seketika mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius sekarang. Bisa-bisanya temannya ini percaya pada ekspresinya tadi. “Apakah menurutmu seleraku serendah itu? Kalian jelas tahu siapa yang aku sukai.”


“Lalu kenapa kau tidak membalasnya? Bukankah dia adalah dalang dibalik orang-orang yang sudah menyakiti adikku?”


“Karena itu aku membiarkannya untuk menjadi makanan Hope. Dia akan senang ketika mengetahui dialah orang yang sudah membuat adik kesayanganmu menangis tadi.” Ray dan Jerry hanya menganggukkan kepalanya.


Ya sudah jika Hansel memilih memberikannya pada Hope. Ray mengkode pada bawahannya untuk mengurus sesuai dengan yang mereka dengar tadi. Vanessa yang sudah ketakutan karena melihat kedua temannya mati karena dua laki-laki incarannya. Dia tidak memberontak dan menerima apa yang akan terjadi padanya dengan pasrah.


Note: Bagian pembunuhannya sebisa mungkin agak ku sensor.