
Di tempat lain Ray yang baru saja mengantar Nara pulang ke apartement langsung mendapatkan telepon juga dari Ayahnya. Ayahnya memintanya untuk pergi ke markas kesayangannya. Apa ada sesuatu yang menyenangkan yang akan dilihatnya nanti?
Andai saja dia bisa membawa Nara untuk ikut dengannya. Hanya saja dia takut gadis itu akan takut padanya dan berakhir menjauhinya. Lebih parah lagi kalau gadis itu membencinya dan tidak suka padanya karena kepribadiannya yang sangat gelap.
Sudahlah. Lebih baik dia segera pergi menemui ayahnya atau jika tidak dia akan berakhir di omeli oleh Neneknya karena terlambat. Neneknya itu sangat menjunjung tinggi tepat waktu.
Ray pernah terlambat dan berakhir telinganya di tarik oleh Nenek cantiknya. Dia hampir mengira telinganya menjadi panjang dan runcing seperti elf. Mana yang ditarik hanya sebelah. Kalau dia berubah bentuk, yang berubah hanya sebelah saja. Aneh jadinya.
Mobil mewah milik Ray sampai di sebuah bangunan yang merupakan markas Red Diamond. Sudah lama dia tidak kesini. Sepertinya semenjak The Reaper menjadi pemimpin, markas ini banyak berubah. Dulu dia tidak memasang penjaga sebanyak ini di dekat markas.
Sepertinya mereka mendisiplinkan mereka lebih baik. Setelah masuk kedalam pun didalamnya lebih tertata daripada sebelumnya.
Dia terus melangkah pada sebuah ruangan besar yang menjadi ruang pengendali yang biasanya sering dipakai untuk meretas dan mengontrol saat melakukan misi.
Ruangan itu besar berisikan komputer dan layar-layar besar. Sekarang ruangan ini lebih terang daripada sebelumnya. mungkin pencahayaannya ditambahkan juga layar-layarnya.
The Reaper ini memang bisa membuat Ayahnya mengeluarkan uang dengan lancar.
Disana ada beberapa orang yang tidak dia kenal. Yah dia tidak pernah mengenal bawahannya kecuali orang kepercayaannya. Tapi dia melihat ada wajah-wajah asing ditempat ini. Sepertinya itu orang yang dibawa oleh The Reaper bersama mereka.
Ray berjalan menghampiri Ayah, Ayah Ken, Kakek, Nenek, Hansel, dan Jerry. Keluarganya ada disana kecuali Bunda, Evelyn, dan Zea.
Tapi tunggu, kenapa ada Cein disini? Bukankah Jerry sedang bersama Cein tadi? Apa mungkin kembarannya itu membawa Cein kesini? Mengambil resiko sekali dia.
“Kau membawa Cein, Je?”
Jerry yang sedang memainkan ponselnya menganggukkan kepalanya. Dia sudah tau kemana arah pembicaraan ini.
“Kau terkejut kan? Sama Kakek juga. Tidak ku sangka dia bergerak secepat ini.”
Cein yang duduk disebelah Nenek melihat sekitarnya dengan antusias. Dia bahkan menonton sesuatu dari layar besar yang ada disana. Entah apakah dia mengerti atau tidak karena layar itu hanya menunjukkan koordinat-koordinat saja.
Tapi yang aneh Cein justru terlihat tertarik dengan senjata-senjata yang tergantung didekat sana. Ada banyak sekali pistol, senapan, juga pisau sampai pedang. Tapi gadis itu malah melihatnya seolah itu adalah etalase kue.
“Kamu tidak takut dengan senjata-senjata itu sayang?” Nenek juga sebenarnya heran. Bukankah seharusnya Cein takut atau tidak nyaman? Walaupun tempat ini tidak semenakutkan dulu, tapi tetap saja tempat ini penuh dengan senjata dan orang-orang menakutkan.
“Tidak juga. Ini menarik. Senjata disana, terlihat bagus diletakkan disana. Mereka juga tertata dengan rapi. Layar-layar itu juga, walaupun aku tidak terlalu mengerti apa yang ditampilkan. Tapi titik-titik itu terlihat menarik.”
“Begitu kah? Mau memegangnya?”
“Boleh?”
“Bo-“
“Tidak!”
Mereka semua seketika menoleh pada Jerry. Laki-laki ini yang tadi mengatakan tidak. Dia tentu saja tidak akan memperbolehkan Cein untuk memegang senjata-senjata berbahaya itu. Bagaimana jika gadis ini terluka?
“Senjata yang ada disana berbahaya untuknya. Aku sudah berjanji pada Nara untuk menjaganya dengan baik. Bagaimana aku bisa mengembalikannya kalau-kalau dia terluka?”
“Benar juga sih. Dia tidak biasa memegangnya, bisa saja terluka.”
“Bukankah itu mirip seperti pisau dapur?”
“Tentu saja berbeda sayang. Ini senjata khusus.” Cein mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kalau dia memang ingin memegangnya silahkan saja. Aku memiliki sarung tangan, dia bisa memakainya jika ingin menyentuhnya.”
Seseorang bermata ungu dengan jaket kulit dan masker wajah mendatangi mereka. Gadis dengan rambut diikat satu ini berpakaian serba hitam. Belum lagi auranya yang sangat menguar darinya. Sekali lihat juga bisa menebak siapa orang ini.
“Kamu The Reaper Sin?” Gadis itu menganggukkan kepalanya.
“Aku Sin. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan keluarga atasanku. Hormat pada King and Queen.” Sin menundukkan kepalanya, memberikan hormat pada atasannya dengan membungkuk kan badan.
“Jangan begitu. Harusnya kami yang berterimakasih karena kamu sudah mau masuk kedalam kelompok kami.”
“Yah. Ini bukan sepenuhnya pada kami sih. Pak tua itu yang mengatur semuanya. Dia bilang kalau kami masuk Red Diamond, kami bisa membunuh lebih banyak orang sesuka hati, jadi disinilah kami sekarang.” Sin melirik pada Ken yang berada didekat Jayden.
Ken yang disebut pak tua jelas kesal. Dasar tidak tau terima kasih. Jelas-jelas dia yang sudah membawanya kesini, tapi malah menjelekkannya. Huh!
“Hey! Aku ini lebih tua darimu tau!”
“Oh ya, Ren sedang mengurus sesuatu yang mendesak karena itu dia tidak bisa datang menemui kalian sekarang. tapi kalian tenang saja, untuk misi malam nanti, dia pasti akan ikut, mungkin telat sedikit.”
Mereka semua memaklumi. Sudah bagus Sin dan Ren ingin bertemu dengan mereka. bukannya sombong atau apa.
Meskipun jabatan Jayden dan keluarganya lebih tinggi dari pada The Reaper yang notabenenya hanya anak buah nya saja. mereka mau bertemu saja sudah bagus.
Karena dari yang mereka ketahui. Sejak dulu The Reaper bekerja tanpa asosiasi dan kelompok manapun itu karena mereka tidak ingin diatur. Mereka memiliki aturan mereka sendiri dan tidak ingin tunduk pada siapa pun.
Walaupun The Reaper masuk kedalam Red Diamond, mereka tetap memiliki aturan mereka sendiri. Jayden dan King memberikan mereka kebebasan untuk mengatur markas tanpa persetujuan mereka.
Kemampuan The Reaper jika digabungkan memang tidak sekuat Red Diamond. Tapi mereka tetap saja berbahaya. Meskipun tidak akan menghancurkan seluruh kekuatan Red Diamond, paling tidak mereka akan berhasil menghancurkan 70 persen dari kekuatan mereka.
Kalau tidak The Reaper tidak akan begitu ditakuti oleh pebisnis dan mafia.
Jayden dan King merasa sangat beruntung bisa membawa The Reaper masuk dalam kelompok mereka. Orang seperti Sin dan Ren benar-benar tidak boleh dijadikan musuh.
Beruntungnya lagi Sin dan Ren bukan orang yang sulit di atur. Selama kita tetap mengikuti aturannya maka mereka juga akan menuruti kita. Seperti misi kali ini saja.
Jerry melemparkan misi ini kepada The Reaper dan diambil dengan senang hati.
Tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh besar mendatangi Sin. “Permisi, maaf Sin, itu....”
“Katakan.”
“Ren mengirim pesan katanya urusannya sepertinya akan selesai lebih cepat. Dia akan datang sebelum misi dimulai.”
“Okay.”
“Selain itu, gadis yang hari itu-“
“Dia masih belum mau berbicara?”
“Iya. Tapi dia sudah mulai memakan makanannya.”
“Pastikan dia memakan makanannya dan ajak dia berbicara terus. Jika sudah berhasil mendapatkan informasi darinya, beritahukan pada Ren.”
“Baik.”
Gadis remaja yang hari itu ditemukan oleh Sin bersama dengan pimpinan itu dibawa oleh mereka. Sebenarnya untuk menggali informasi darinya karena dia adalah budak dari mafia. Tapi sampai saat ini gadis itu masih tidak mau berbicara.
“Dan juga, minta Ravi untuk mempersiapkan kesayanganku. Aku perlu yang besar kali ini.”
“Baik. Akan segera ku sampaikan.”
Setelahnya orang itu pergi dari sana. Tidak lupa memberikan hormat pada Jayden dan keluarganya. Bisa-bisa dia dipenggal nanti oleh Sin jika seperti itu.
“Sin, perkenalkan ini anak-anakku.” Ucap Jayden sambil menunjuk pada Jerry, Ray, dan Hansel.
“Ini Ben dan Val. Mereka adalah penerusku. Disebelah Val adalah Zoan. Anakku juga.” Jayden mewakili ketiga anaknya untuk berbicara. Anaknya itu memiliki kepribadian yang dingin apalagi di lingkungan seperti ini.
Sepertinya anak-anaknya juga tidak memiliki keinginan untuk memperkenalkan diri mereka sendiri.
“Lalu siapa kakak cantik ini?” Perhatian Sin tertuju langsung pada Cein yang menatapnya dengan wajah polos.
“Dia-“
“Aku Cein. Namamu Sin kan? Tolong ajari aku untuk menggunakan senjata kalau kamu ada waktu senggang.” Cein benar-benar meminta hal itu dengan ceria. Seakan hal yang dia minta itu hanya ajakan bermain biasa.
“Tentu. Aku bisa mengajarimu.”
Jerry benar-benar terkejut mengetahui Cein tertarik dengan senjata berbahaya disana. Dia tidak salah dengar kan? Ini bukan hanya ilusinya saja kan?
Kalau tau begini sudah dari lama dia mengajak Cein kesini. Tidak perlu berpikir mendalam karena takut dijauhi dan dibenci oleh gadis ini.
Ray yang berada disana tidak jauh berbeda. Dia sama terkejutnya. Hanya saja dia berpikir apa mungkin reaksi Nara juga akan seperti ini jika dia membawanya kemari. Apa Nara akan meminta untuk diajarkan juga.
Tapi bagaimana jika Nara tidak nyaman? Kepribadian orang berbeda-beda. Bisa saja Cein menyukainya, tapi Nara malah tidak suka. Kalau seperti itu justru malah membuatnya semakin jauh dari Nara.
Dia bimbang.