Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 19: Jerry



Note: Chapter ini banyak dialognya!


“Apa Cein memang pandai memasak?” Evelyn melihat Jerry sama sekali tidak memalingkan pandangannya dari Cein.


“Iya, karena itu aku meminta Kak Cein datang. Aku rindu masakan kak Cein.” Jerry mengangukkan kepalanya tapi matanya sama sekali tidak berpaling. Evelyn merasa kakaknya ini bisa saja membolongi punggung Cein karena ditatap dengan intens.


Evelyn memiringkan badannya, sepenuhnya menghadap pada sang kakak. Jerry mengalihkan pandangannya ketika merasa Evelyn menusuk-nusuk lengannya dengan jari telunjuk miliknya.


“Kakak bukannya tadi bilang ingin menyusul kak Ray? Kenapa tiba-tiba bisa datang bersama kak Cein?”


“Tadi tidak sengaja bertemu dengannya di jalan. Dia bilang mau kemari, jadi ku antar. Lagipula sudah ada Ray yang kesana, jadi setelah dipikir lagi aku tidak perlu datang juga tidak masalah.” Evelyn memincingkan matanya, menatap kakaknya dengan tatapan tidak percaya.


Kenapa kakaknya ini terlihat mencurigakan? Mungkinkah kakaknya ini sebenarnya berniat untuk mendatangi Cein dan mengajaknya pergi? Atau memang hanya tidak sengaja bertemu?


“Jangan seperti itu. Kami memang tidak sengaja bertemu tadi Eve.” Cein mendekati kakak beradik itu. dia mendengar semua pembicaraan mereka dan merasa harus membantu Jerry untuk meluruskannya pada Evelyn.


“Kak Jerry tidak sedang mencuri kesempatan kan?” Cein tertawa, bagaimana bisa Cein mengatakan hal seperti ini tentang kakaknya sendiri?


“Kenapa kamu bilang begitu? Kakakmu hanya ingin bersikap baik, jangan terlalu sering mencurigainya.” Evelyn mengerucutkan bibirnya. Lalu menatap pada Jerry dengan wajah memelas, persis seperti kucing kehujanan.


Jerry hanya tertawa. Tangannya beralih mengusap rambut sang adik. “Sudah, tidak apa-apa.”


Cein pergi untuk mengambil masakannya yang sudah jadi. Dia meletakkannya di depan Evelyn dan Jerry. Dia juga menyiapkan alat makan untuk mereka.


“Oh iya, kemana Hansel?”


“Sepertinya dia ada di ruang tengah.” Jerry baru saja ingin mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Hansel, tapi Evelyn tiba-tiba turun dari kursinya sehingga membuatnya terkejut. Dia kira Evelyn terjatuh tadi, tapi ternyata dia memang ingin turun.


“Biar ku panggil.” Evelyn berlari keluar dari dapur menghampiri Hansel.


Jerry dan Cein hanya terdiam melihat tingkah Evelyn yang tampak begitu semangat. Padahal Jerry bisa saja meneleponnya dan memintanya untuk datang kedapur. Jerry dan Cein saling bertukar pandang seakan berkomunikasi hanya dengan tatapan mata saja.


Setelah makan, mereka mulai berpencar melakukan kegiatan mereka masing-masing. Cein dengan mencuci piring, Evelyn kembali ke kamarnya atas perintah dari Cein sedangkan Jerry dan Hansel...entahlah, mereka menghilang begitu saja tadi.


Ketika Cein sedang asik mencuci alat makan yang mereka gunakan tadi, tiba-tiba ada sepasang tangan yang mengambil alih alat makan yang sudah di sabuni untuk dibilas dengan air.


Cein mengangkat kepalanya dan orang yang membantunya adalah Jerry. Laki-laki ini tadi pergi tanpa kata lalu datang juga tanpa diundang. Benar-benar seperti...


“Kamu seperti hantu saja. aku bahkan tidak merasakan kedatanganmu sama sekali.” Cein kembali melanjutkan kegiatannya mencuci alat makan. Kali ini dengan bantuan dari Jerry.


Laki-laki itu hanya terdiam sembari tersenyum menanggapi ucapan gadis manis di sampingnya ini. Tidak ada dari mereka berdua yang membuka pembicaraan. Hanya melakukan tugas mereka masing-masing.


“Habis ini...bisa kita bicara berdua?” Cein menatap Jerry dengan bingung. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba laki-laki ini mengajaknya untuk berbicara berdua? Apa dia ada melakukan kesalahan? Begitu pikirnya.


“Temui aku di balkon ya, aku akan menunggumu disana.” Jerry pergi begitu saja setelah mengucapkan hal itu. Sementara Cein hanya menerjapkan matanya bingung.


Setelahnya dia kembali melihat pada tumpukan alat makan yang baru setengah di bilas oleh Jerry. Tangannya masih penuh dengan sabun.


“HEI! SETIDAKNYA SELESAIKAN APA YANG SUDAH KAU KERJAKAN!! JERRY!!” Teriak Cein yang entah apakah bisa didengar atau tidak oleh Jerry. Lihat saja nanti, akan dia balas!


Laki-laki diteriaki tadi hanya tertawa setelah mendengar teriakan dari gadis di dapur itu. Tujuannya mendatangi Cein adalah untuk mengatakan itu, jadi membantunya membilas alat makan hanyalah kedok belaka.


Dia menumpukan kedua lengannya di pagar balkon. Malam ini terasa tentram, bintang-bintang memenuhi langit, dan angin bertiup sepoi-sepoi. Tapi perasaan Jerry malah sedikit tidak nyaman. Dia kepikiran dengan Ray.


Ponsel yang berada di saku celananya bergetar menunjukkan ada pesan masuk. Sebuah kurva terbentuk di bibirnya setelah melihat apa yang masuk ke ponselnya.


“Reaksi mereka cukup memuaskan. Tidak salah aku mengirim orang untuk merekamnya.” Jerry yang sekarang tampak berbeda dengan Jerry yang sebelumnya seakan-akan mereka adalah dua orang yang berbeda. Lihat saja bagaimana dia menyeringai. Terlihat menyeramkan.


“Bagaimana pak tua? Apakah paket hadiah dariku sangat bagus sampai kalian berteriak kesenangan seperti itu? Inilah akibat kalian bermain-main dengan keluargaku.” Jerry benar-benar tampak seperti iblis yang kegirangan melihat mangsanya mendapatkan karma.


Tiba-tiba pundak Jerry di tepuk, membuat si empu menoleh dengan cepat. Dia buru-buru memasukkan ponselnya kedalam saku celananya, tidak lupa mematikannya juga. Matanya bergerak secara acak, menghindari tatapan Cein yang entah mengapa terasa sedikit mengintimidasi.


“Kenapa kamu bergumam-gumam seperti itu? Aku kira tadi kamu sedang berbicara dengan orang disini. Tapi ternyata hanya kamu saja yang ada disini.”


“Ah, itu...itu...aku tadi...sedang...sedang memikirkan Ray. Perasaanku tidak enak padanya, karena itu aku bergumam sendiri tadi.” Jerry menatap Cein dengan keraguan besar dalam dirinya. Entah apakah Cein percaya dengan alasannya tadi. namun setelahnya dia melihat Cein menganggukkan kepalanya beberapa kali.


Jerry menghela napas pelan. Syukurlah Cein percaya, kalau tidak dia tidak tahu harus beralasan apa. “Terimakasih Ray, berkat mu aku bisa mengelak dengan baik.” Begitu katanya dalam hati.


“Maaf membuatmu menunggu lama, tadi Aku menelepon Nara karena Eve meminta ku untuk menginap disini. Tidak apa-apa kan?” Cein menyandarkan pinggangnya di pagar balkon, mengarahkan pandangannya pada Jerry.


“Kenapa tidak boleh? Lagipula sepertinya Eve rindu denganmu.” Cein menatap lekat wajah Jerry yang terlihat tampan walaupun dari samping. Memang gen yang sangat mengesankan. Cein jadi ragu apakah memang benar laki-laki didepannya ini belum memiliki kekasih. Hmm perlu di ragukan.


“Cein, boleh aku bertanya padamu mengenai Eve?” mata Jerry jelas menunjukkan sorot sedih. Entah karena tidak bisa melihat bagaimana adiknya tumbuh sampai seperti ini, atau karena adiknya menjadi lebih perhatian pada orang lain daripada keluarganya sendiri.


“Tanyakan saja, akan ku jawab semuanya.” Cein jadi kasihan sekaligus takut. Dia takut keluarga ini tidak menyukai atau bahkan membencinya dan Nara karena Evelyn menempel pada mereka. Sepertinya dia dan Nara harus sedikit mendorong Evelyn untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya sendiri.


“Apakah Eve pernah memiliki kekasih?” Jerry sangat penasaran dengan hal ini. Adiknya begitu cantik, tidak mungkin tidak ada yang mendekatinya. Kalau memang adiknya memiliki kekasih, dia ingin tahu siapa orang itu. Kalau tidak, dia juga ingin tahu kenapa.


“Tidak, tapi mungkin dulu dia pernah menyukai seseorang. Walaupun tidak berakhir dengan baik.”


“Apa yang terjadi?”


Tapi setelah Eve berbalik menyukainya, laki-laki itu malah berkencan dan menyatakan perasaannya pada gadis lain.”


Jerry memperhatikan Cein yang bercerita padanya dengan seksama, tidak ingin melewatkan satupun perkataan dari gadis itu.


“Saat itu Eve dekat dengan laki-laki itu tanpa sepengetahuanku. Mereka tidak terlalu sering berbicara di sekolah, tapi saling mengabari lewat ponsel. Aku dan Nara mengetahui itu ketika menemukan Eve menangis di kamarnya.”


“Lalu bagaimana dengan laki-laki itu? Siapa namanya? Biar ku habisi dia.” Cein terkekeh. Tangannya mengacak rambut yang lebih tampan. Dia merasa gemas dengan tingkah laki-laki ini. Lihat saja bagaimana niat membunuh melingkupi dirinya.


“Tenang lah, dia sudah habis di tangan Nara. Tepat setelah Eve menceritakannya, keesokan harinya dia langsung pergi mencari laki-laki itu dan memukulnya. Ku pikir sudah cukup dengan membuatnya menginap di rumah sakit selama 1 bulan penuh, jadi kami melepaskannya dengan syarat dia tidak boleh lagi mencari Eve.”


“Ayo apa lagi yang mau kamu tanyakan?”


“Bagaimana hidup Eve disana? Dia hanya menceritakan kisah menyenangkannya saja, jadi aku tidak tau apa dia kesulitan disana.”


“Dibandingkan kesulitan, akan lebih cocok menyebut dia disulitkan. Orang-orang menganggap Eve sebagai anak lemah yang polos. Mereka mengetahui Eve pintar jadi memintanya untuk mengerjakan tumpukan tugas-tugas mereka. Ketika istirahat memintanya untuk membelikan makanan di kantin. Hah...terlalu banyak jika ku sebutkan, secara garis besarnya Eve banyak di manfaatkan orang lain.”


“Apa yang terjadi kalau Eve tidak menuruti mereka?”


Cein tersenyum tipis dengan raut wajah meremehkan. “Kamu pasti juga bisa membayangkannya. Aku dengar Eve sudah menceritakan pada kalian apa yang pernah terjadi padaku dan Nara.”


“Kalian benar-benar melalui itu semua? Kenapa tidak mengatakannya pada ayah? Dengan begitu mereka tidak akan pernah mengusik kalian.”


“Dan setelahnya membuat orang semakin menargetkan Eve untuk di olok-olok sebagai anak polos manja yang menggunakan kekuasaan untuk melindungi dirinya sendiri. Dia lebih memilih untuk bersikap seakan dia tidak memiliki apapun sehingga bisa belajar bagaimana kehidupan itu berjalan, daripada langsung naik ke atas tapi hanya melihat para penjilat itu menjilati sepatunya.”


“Jerry, ku beritahu satu hal. Walaupun Eve bersikap seakan dia lebih perhatian dan menyukai kami, tapi nyatanya dia sangat-sangat menyayangi kalian. Jika memilih pun dia pasti akan lebih memilih berada bersama keluarga dan kedua kakaknya daripada bersama kami. Apa yang dia lakukan saat ini lebih seperti dia ingin membalas apa yang sudah kami lakukan padanya selama ini. Sekarang dia bukan lagi Eve yang dititipkan pada Ayah Ken dan kami, tapi putri pertama keluarga Noordien yang berkuasa disini. Dia hanya ingin membalas kami.”


“Jujur, tapi aku selama ini berpikir kalau prioritas Eve adalah kalian berdua. Ku pikir itu karena kalian sudah bersama dengannya sejak kecil dan kalian yang sudah menemani dan melindunginya. Karena itu dia begitu menyayangi kalian.” Cein menggelengkan kepalanya.


“Prioritas Eve tetaplah keluarganya. Di matanya, kamu dan Ray adalah kedua kakaknya yang sudah melindunginya dibelakang punggung kalian ketika berada dalam bahaya. Walaupun dia baru kembali dan tidak familiar dengan tempat ini, tapi kalian tetaplah yang utama untuknya.”


“Tapi kenapa dia mengatakan untuk meminta izinnya dulu jika ingin mendekati kalian?”


“Dia berkata seperti itu?” Jerry menganggukkan kepalanya.


“Walaupun dia berkata seperti itu, dia sama sekali tidak melarang Ray untuk dekat dengan Nara kan?” jerry terdiam. Tidak salah apa yang diucapkan oleh Cein. Eve memang berkata untuk meminta izinnya dulu jika ingin mendekati Nara dan Cein, tapi tidak pernah melarang mereka.


“Adikmu itu hanya ingin lebih dekat dengan kalian. Dia ingin kalian bercerita padanya jika sedang dekat dengan perempuan. Dia ingin kalian berbincang dengannya walaupun itu hanya mengenai hal-hal sepele. Dia ingin menghabiskan waktu dengan kalian dengan cerita-cerita kalian, bukan hanya dia yang bercerita. Memang terdengar hanya tertuju pada satu hal yaitu izin untuk berkencan, tapi dibalik itu jika kalian ingin meminta izin padanya kalian pasti akan bercerita padanya kan? Menurutku itu maksudnya.”


Ternyata selama ini dia dan Ray salah menangkap perkataan Eve. Eve banyak bercerita pada mereka, tapi tidak dengan mereka. Dia juga ingin mendengarkan, bukan hanya didengarkan.


“Terimakasih sudah membantuku.”


“Tidak perlu berterimakasih. Wajar seorang kakak ingin bertanya mengenai adiknya. Jika masih ada pertanyaan lain, tanyakan saja. Aku akan menjawabnya semampu ku.”


“Iya. Kalau begitu aku bolehkan menghubungimu jika tiba-tiba ada yang ingin ku tanyakan?”


“Tentu saja.”


“Boleh aku meminta nomor ponselmu?” Cein menyodorkan tangannya, meminta ponsel pada laki-laki itu. Dia mengetikkan nomornya dan menyerahkannya kembali pada Jerry.


“Terimakasih.” Cein menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. setelahnya mereka sama-sama terdiam, menikmati semilir angin yang menerpa wajah mereka.


“Boleh aku bertanya sesuatu?” Kali ini Cein yang bertanya. Dia penasaran tentang satu hal. Setelah melihat anggukan kepala dari Jerry dia tersenyum senang.


“Apa yang membuatmu penasaran?”


“Ini tentang kembaranmu, Ray.”


“Ada apa dengannya? Apa dia membuat masalah denganmu?”


“Tidak bukan itu. Aku penasaran apa dia benar-benar untuk mendekati Nara? atau hanya karena penasaran dan merasa Nara terlihat menantang?”


“Kurasa dia memang benar-benar berniat untuk mendekati Nara. selama ini belum pernah aku melihat dia dekat dengan perempuan lain. Selama ini aku kira dia memiliki orientasi seksual yang berbeda. Karena dia memang tidak terlihat memiliki ketertarikan pada perempuan. Perempuan yang dulu mendekatinya selalu berakhir menerima bentakan dari Ray. Emosinya itu memang benar-benar tidak terkendali.


"Tapi baru kali ini aku melihat dia begitu tenang saat berada di dekat Nara. Jadi kupikir, ahh ternyata ada orang yang bisa mengendalikan perilaku Ray. Ternyata ada yang bisa membuat Ray diam tidak berkutik dan berubah menjadi pengecut bahkan hanya ketika mendengar namanya saja. Menurutku sekarang dia sedang meyakinkan dirinya atas perasaannya sendiri. Kamu tenang saja, jika dia memang menyakiti Nara, aku sendiri yang akan memukul dan menghukumnya.”


“Baguslah.”


“Ada apa? Apakah ada yang menganggu pikiranmu?”


“Tidak, hanya saja aku takut Ray yang akan tersakiti nanti.”


“Kenapa?”


“Nara...dia masih terbelenggu dengan masa lalunya.”


“Maksudnya dia masih memiliki hubungan dengan mantan kekasihnya?”


“Tidak bukan itu. Dia tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Lebih tepatnya dia memiliki trauma. Dia masih belum bisa keluar dari kejadikan masa lalunya yang terjadi ketika dia masih kecil dulu. Nara...dia...tidak percaya pada laki-laki.”