
Entah mengapa Nara terlihat sangat menarik di mata Ray. Seakan semua yang dilakukan dan yang ada pada Nara adalah sesuatu yang indah dan begitu mempesona sampai-sampai membuat Ray yang dikenal tidak memiliki hati pun terpesona padanya.
Bagi Ray, mata Nara mungkin adalah sesuatu yang paling indah di dunia ini. Semakin lama dia menatap pada matanya, semakin dia merasa terhipnotis. Mata itu membuatnya terjatuh semakin dalam.
Ray terus menatap Nara sampai membuat siempu merasa gugup karena di tatap sedemikian rupa oleh Ray. Siapa yang tidak gugup jika ditatap seperti itu oleh laki-laki tampan nan rupawan? Nara juga perempuan, jangan salahkan dia jika dia merona karena perlakuan laki-laki didepannya ini.
Nara sendiri tidak bisa berbohong jika obsidian hitam yang tengah menatapnya ini juga sangat indah. Sorot matanya tajam tapi malah membuatnya semakin tampan.
Sebelum menghalu lebih jauh lagi, Nara segera menyadarkan dirinya. Tapi Ray sepertinya masih tetap berada di dalam pemikirannya sendiri. Nara melambaikan tangannya didepan wajah Ray. Karena tidak ada respon apapun dari si empu, Nara menepuk kedua pundak Ray dengan sedikit keras.
Ray terlonjak kaget. Tangannya yang sedari tadi masih berada di kedua sisi tubuh Nara, tiba-tiba saja mengambil pinggang si manis dan menariknya turun dari pembatas. Hal itu dilakukan oleh Ray secara reflek karena terkejut.
Nara yang ditarik, tidak sempat mengambil pijakan. Mereka berdua berakhir terjatuh dengan posisi Nara berada di atas tubuh Ray dengan kedua tangannya memegang kedua pundak Ray guna untuk menahan tubuhnya tadi.
Detak jantung Ray berdetak dengan tidak normal. Matanya menelisik seluruh bagian wajah Nara yang tampak tidak bercela dan sempurna baginya.
Acara saling tatap menatap kembali berlanjut sampai pintu rooftop dibuka dengan kencang oleh seseorang. Mereka berdua serempak menoleh dan menemukan Evelyn berdiri disana bersama Cein dibelakangnya. Keduanya tampak terkejut ketika menemukan dua orang yang sebelumnya belum pernah saling berbincang satu sama lain, kini bersama dengan posisi yang sedikit intim.
Nara terburu-buru bangun dari posisinya disusul dengan Ray yang anehnya malah tampak biasa saja. Seakan dia tidak melakukan apapun sebelumnya.
“K-kalian kenapa kemari?” tanya Nara yang berusaha untuk menghilangkan kegugupannya.
“Aku sudah menghubungimu dari tadi tapi kamu tidak menjawabnya. Eve takut kau kenapa-kenapa jadi dia memaksa untuk mendatangimu kesini. Tapi siapa yang tahu kalau....” Jawab Cein. Dia cukup terkejut melihat adiknya ternyata sudah memiliki suatu hubungan yang tidak terduga dengan laki-laki dihari kedua dia dinegara ini.
“K-kalian salah lihat. I-ini tidak seperti yang kalian pikirkan.”
“Memangnya apa yang kami pikirkan?”
Evelyn masih terkejut ditempat. Tidak menyangka kalau dia akan melihat pemandangan seperti itu diantara kedua kakak kesayangannya.
Sampai didalam mobil pun Evelyn masih menatap Ray dengan tatapan menelisik. Saat ini dia dalam perjalanan pulang bersama kedua kakak dan satu teman kakaknya.
Dia masih tidak menyangka kalau salah satu kakak kandungnya memiliki suatu hubungan dengan kakak kesayangannya yang lain. Dia hanya tidak menyangka akan secepat ini. Mereka baru bertemu kemarin, dan mereka sudah memiliki hubungan spesial?
Ya, Ray memang bukan laki-laki jahat. Dia yakin itu walaupun dia sudah lama tidak bertemu dengannya. Tapi dia yakin, bunda Ryn tidak akan membiarkan baik Ray maupun Jerry menjadi laki-laki brengsek yang suka menyakiti perempuan.
Dia bukannya akan melarang atau tidak suka jika memang keduanya memiliki hubungan. Justru akan bagus jika mereka dekat. Dengan begitu keamanan Nara akan terjamin. Kakaknya itu pasti akan melindungi Nara dengan baik kan? Kakaknya juga kuat, lihat saja tubuh kekar dan lengannya yang berotot.
Setelah dipikir-pikir, mereka berdua juga terlihat cocok dan serasi jika bersama. Tapi tetap saja dia tidak akan membiarkan kakaknya dengan mudah mendapatkan Nara. Tidak akan ada siapapun yang boleh mengajak mau itu Nara ataupun Cein berkencan tanpa seizin darinya.
Jerry menyadari Evelyn yang terus menatap Ray dengan tajam entah karena alasan apa. Lalu dia menatap pada Ray yang tampak biasa saja tapi jelas terlihat kalau dia juga sedang memikirkan sesuatu. Apa yang sebenarnya terjadi disini?
“Eve, kenapa kamu terus melihati Ray seperti itu?”
“Kak Ray, bukankah kakak memiliki sesuatu yang harus dikatakan?”
Jerry beralih menatap pada Ray lagi. Laki-laki itu malah tersenyum sekarang. Ada apa ini? Apakah adik kembarnya ini berbuat masalah? Lalu mengapa dia tidak mendengar ada berita apapun?
“Kau berbuat masalah? Lalu apa hubungannya dengan Eve?” Hansel bertanya dengan bingung. Seharusnya jika Ray membuat masalah maka berita itu haruslah sudah tersebar kemana-mana. Karena masalah yang buatnya pastilah sesuatu yang besar.
“Memangnya apa yang harus aku katakan? Sepertinya tidak ada.” Ray tersenyum tipis, berniat untuk menggoda sang adik.
“Kak Ray! Kakak memiliki hubungan apa dengan Kak Nara? Cepat katakan! Biar aku lihat apakah jawaban kakak bisa membuat aku menyetujui hubungan kalian berdua!” Evelyn memukul belakang sandaran kepala Ray dengan keras. Dia mengambil sebuah pistol yang sengaja ditaruh di belakang kursi Jerry lalu menodongkanya pada Ray.
“Kau? Dengan Nara?” Jerry menunjuk Ray dengan ibu jarinya. Dia melihat Ray sebentar kemudian kembali melihat ke jalan didepannya.
“Sekarang kau benar-benar harus menjelaskannya Ray. Kau memiliki hubungan dengan Nara?” Hansel ikut penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Setahunya Ray bukan orang yang mudah dekat dengan perempuan. Dia cenderung tidak tertarik pada siapapun sampai-sampai dia pernah mengira kalau Ray benar-benar tidak memiliki hati sampai tidak pernah menyukai siapapun.
“Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya.” Ray menjawab dengan santai, tapi berhasil membuat Evelyn merasa kesal.
“Memangnya kenapa?”
“Kak, aku benar-benar akan memusuhi dan membenci kakak kalau sampai kakak hanya memiliki pemikiran untuk bermain-main dengan Kak Nara. Aku akan memutuskan hubungan saudara kita. Aku tidak akan mau menganggap kakak sebagai kakakku lagi kalau kakak sampai menyakiti Kak Nara!”
“Sebentar. Aku masih belum mengerti. Memangnya apa yang dia lakukan pada Nara sampai membuatmu seperti ini Eve?” tanya Jerry.
“Tadi ketika ingin menemui Kak Nara di Rooftop, aku menemukan mereka berdua saling bertindih di lantai.”
“Ray! Kau sudah dekat dengan Nara? Setahuku kau bahkan tidak memiliki ketertarikan dengan perempuan. Aku hampir mengira kalau orientasi seksualmu itu berbeda.”
Ray memukul kepala Jerry. Bisa-bisanya kakak kembarnya itu memiliki pemikiran seperti itu padanya.
“Cepat jelaskan. Apa kalian memiliki hubungan atau tidak? Kalau tidak mengapa kalian terlihat begitu dekat seperti itu? Atau kakak menyukainya? Kenapa kakak bisa berada disana bersama Kak Nara? Jelaskan padaku!”
“Aku tidak memiliki hubungan dengan dia. Aku kesana karena tadinya aku hanya ingin kesana. Siapa yang tahu aku bertemu dengan dia disana. Lalu semuanya terjadi begitu saja. Dia terjatuh dan aku menangkapnya. Kemudian kalian datang. Cerita selesai.”
Evelyn menatap Ray dengan sengit seakan tidak percaya dengan penjelasan yang diberikan tadi.
“Tidak percaya yasudah. Tanya saja sendiri pada Nara.”
“Kak, ku beritahu satu hal. Kalau kakak memang berniat untuk mendekati Kak Nara, maka dekati dan perlakukan dia dengan baik. Kalau hanya berniat untuk bermain-main, maka lebih baik buang jauh-jauh pemikiran itu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Kak Nara maupun Kak Cein.”
Evelyn kemudian menoleh pada Jerry yang hanya menahan tawa mendengar Evelyn yang lebih menyayangi Nara dan Cein daripada kakaknya sendiri. Bahkan dia berani menodongkan pistol pada Ray tadi hanya karena masalah ini.
“Hal ini juga berlaku untuk Kak Jerry! Kalian berdua harus mendapatkan izinku dulu jika ingin mengajak mereka berdua berkencan!” Jerry melirik Evelyn dengan bingung. apa hubungannya dengannya? Mengapa dia juga disangkutpautkan disini?
“Tidak usah sok bingung seperti itu. Aku tahu tadi kakak menguping pembicaraanku dengan Kak Cein tadi bahkan mengintip pada kami. Aku tahu kakak mungkin tidak akan mengintip untuk melihatku karena kakak pasti bisa langsung menghampiriku. Jadi jawabannya pasti karena Kak Cein. Ingat ya, aku tidak akan berbaik hati walaupun kalian berdua adalah kakak ku. Sekali kalian menyakiti mereka berdua, maka aku juga akan membalas kalian!”
“Kamu mengangkat bendera perang dengan kami berdua hanya karena mereka?” Menurut Ray, adiknya ini memang sudah berubah. Mungkin karena kedua kakaknya adalah laki-laki, dia hanya memiliki satu adik perempuan yaitu Zea.
Hari-harinya banyak dilalui bersama Nara dan Cein. Menurut perasaan tentu saja adiknya itu akan lebih memihak pada mereka berdua. Karena mereka berdua yang sudah merawatnya selama ini. Mengingat Paman Ken sudah kehilangan istrinya sebelum Evelyn tinggal bersamanya.
“Iya. Aku sudah membuat mereka banyak menderita dulu. Tentu saja aku tidak akan membiarkan mereka menderita lagi apalagi jika disebabkan oleh kakak kandung ku sendiri.”
“Coba ceritakan apa saja yang kalian lalui ketika berada di Vancouver sampai kamu mengatakan mereka menderita karenamu.” Bohong jika Jerry tidak penasaran dengan apa yang telah dilalui oleh adiknya disana. Adiknya memang banyak bercerita walaupun melalui ponsel. Tapi adik cantiknya itu hanya bercerita mengenai hal-hal baik saja. Sehingga mereka tidak tahu apa saja hal buruk yang telah terjadi pada adiknya.
“Hanya melihat kejadian dikantin tadi pun sudah bisa ditebak bukan? Selain itu Kak Jerry juga menguping tadi, jadi Kakak pasti sudah bisa menebaknya.”
“Ceritakan Eve, dengan begitu kami bisa sama-sama memahaminya.” Bujuk Ray karena dia juga penasaran.
“Mmm, mana yang harus aku ceritakan ya. Intinya mereka melindungi ku dari orang-orang yang berniat membullyku. Mereka menggantikan aku untuk di pukuli, menggantikan aku untuk menerima pembullyan mereka. Kak Nara pernah masuk rumah sakit dan menjalani perawatan selama 2 minggu penuh. Kak Cein pernah disiram air panas. Kak Cein juga pernah koma selama 5 hari. Lalu Kak Nara pernah hampir diseret ke kantor polisi karena ada pelaku yang menuduhnya hampir membunuhnya. Sebagian besar seperti itu.”
“Kamu pernah terluka parah ketika berada disana?”
“Sepertinya tidak pernah. Semua yang seharusnya aku terima, telah digantikan oleh mereka. Mereka sama sekali tidak membiarkan aku melihat apalagi membantu mereka.”
“Kamu tahu kenapa mereka seperti itu?”
“Katanya mereka hanya ingin melindungiku. Mereka tidak ingin aku terluka karena aku sudah seperti adik mereka sendiri. Sudah menjadi kewajiban mereka untuk melindungi adik mereka dari masalah. Tapi karena sekarang aku sudah kembali ke keluargaku, maka aku juga harus bisa melindungi mereka. Ayah pasti akan membantuku kalau aku memintanya untuk menjaga Kak Nara dan Kak Cein.”
“Begitu ya.” Melihat apa yang telah dilakukannya untuk Evelyn, Ray tidak bisa tidak tergerak hatinya.
Sekarang sepertinya baik Ray maupun Jerry mengerti mengapa Evelyn begitu menyayangi Nara dan Cein. Bahkan tidak mau mereka terluka apalagi tersakiti. Mereka begitu menjaga Evelyn sampai rela menjadikan nyawa mereka sebagai taruhannya. Tidak heran Evelyn lebih mengutamakan Nara dan Cein dibandingkan keluarganya sendiri.
Bisa dibilang sebagian besar yang memegang peranan dalam membentuk kepribadian Evelyn yang sekarang adalah Nara dan Cein.
Sejujurnya Jerry bisa merasakan dari bagaimana Cein bersikap pada Evelyn. Ketika dia menenangkan Evelyn tadi, ketika dia dengan lembut mengusap rambut Evelyn. Dia membayangkan bagaimana beruntungnya orang yang akan menjadi prianya. Dia pasti akan menjadi laki-laki paling beruntung.