
“Dia adalah Big Boss Miel.” Mata pria itu membulat seakan ingin keluar dari tempatnya. Tapi bodohnya Ren malah menantikan bola mata itu untuk keluar sendiri dari tempatnya. Kalau tidak bisa, maka akan dia bantu untuk mengeluarkannya. Siapa tahu ada orang yang sedang menginginkannya untuk dijadikan koleksi.
“M-miel? K-kau...kalian....”
“Tidak perlu terkejut seperti itu. The Reaper sudah bergabung dengan Red Diamond. Walaupun kami masih memegang titel serigala pemburu, tapi kami bukan lagi pembunuh bayaran seperti dulu. Seharusnya kau merasa terhormat karena kau dan semua anggotamu adalah kelompok pertama yang kami bunuh setelah bergabungnya kami dengan Red Diamond.”
Ren menengakkan tubuhnya. Tiba-tiba terlintas sebuah ide bagus dari otak pintarnya. “Mari kita buat pesta. Tapi membuat pesta harus ada kue. Bagaimana kalau kau yang menjadi kuenya? Jari-jarimu bisa menjadi lilinnya. Dan organ tubuhmu bisa menjadi hiasan untuk kuenya. Bagaimana menurutmu? Tidakkah itu sangat menggemaskan?”
Mata merah Ren terlihat berbinar. Wajahnya sangat bahagia seakan ide yang dia ucapkan tadi adalah sebuah rencana yang sangat bagus untuk dilakukan.
“D-dasar sinting. Orang gila! Pergi dari tempatku! Pergi! Atau aku akan membunuhmu!” Ren cemberut. Pria didepannya ini tidak menerima idenya dengan baik padahal itu adalah ide yang bagus. Di dalam sebuah pesta pasti harus ada kue bukan? Mengapa pria ini menuduhnya sebagai orang gila?
“Kau yang membunuhku atau aku yang membunuhmu? Pikirkanlah. Mengapa para tikus berdasi itu begitu takut pada kami? Tentu saja karena kami memang malaikat maut untuk orang-orang seperti kalian. Dan sekarang adalah giliranmu.” Ren bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri pria itu dengan wajah ceria.
Pria itu termundur ketakutan terutama ketika melihat kilatan membunuh dari mata merah milik Ren. Sial, mata merah itu, mau awalnya dia tidak merasa takutpun ketika sedang dalam keadaan seperti ini pasti terasa menakutkan. Dia benar-benar terlihat seperti serigala pemburu saat ini. Pantas saja orang-orang takut pada mereka. Selain menakutkan dalam segi kemampuan membunuh, mereka juga menakutkan karena mata aneh mereka.
“Kenapa mundur? Bukankah tadi kau mengatakan kalau kau akan membunuhku? Bagaimana kau bisa membunuhku kalau kau saja mundur begitu aku mendekat?”
“Gila! Psychopat! Menjauh dariku! Menjauh!” Melihat wajah ketakutan mereka ini benar-benar sangat menyenangkan. Tadi dia dengan berani mengacungkan pisaunya pada Ren, tapi sekarang dia malah berubah menjadi kucing ketakutan.
Cein melemparkan dua buah pisau pada tangan dan kaki pria itu. Pria itu terjatuh terduduk. Tubuhnya terus membawa tubuhnya untuk mundur sampai terkena tembok. Tidak ada jalan keluar lagi untuknya. Dibelakangnya adalah tembok dan Ren masih terus berjalan mendekatinya.
Gadis bermata merah itu mengeluarkan sebuah pisau dengan ukiran unik di gagangnya. Mata pria itu mengenali pisau tersebut. Itu adalah pisau yang di seludupkan olehnya dan tersimpan di pelabuhan. Mengapa pisau itu berada di tangan gadis ini?
“Tidak perlu bingung. Sebelum kemari, aku sudah menghancurkan pelabuhan yang sebelumnya kau ambil alih. Aku melihat ada pisau ini dan tertarik untuk mencobanya. Bagaimana kalau kita mencobanya padamu? Biar ku lihat seberapa tajam pisau ini.”
“J-jangan! Ampuni aku. Jangan bunuh aku!”
“Sttt. Entah sudah berapa banyak kali aku mendengar orang-orang sepertimu memohon diampuni ketika kematian sudah berada di depan mata. Biar ku beritahu, yang kau lakukan itu percuma. Aku tidak akan mengampuni kalian. Orang yang akan membunuh kalian tidak akan mengampuni kalian. Sama seperti bagaimana kau tidak mengampuni orang-orang yang sudah kau bunuh selama ini.”
“J-jang—AKHH.”
Ren meraih pisau yang berada di tangan pria itu dan memasukkannya kedalam mulutnya. Hal itu membuat pria tersebut tidak bisa berbicara lagi. Ren tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya beberapa kali. “Begini lebih baik. Mari kita lihat selama apa kamu bisa bertahan.
Semakin lama maka akan semakin puas aku bermain denganmu.”
Ren mengesekkan acak ujung pisau yang dipegangnya dengan perlahan di atas dada telanjang pria itu. Ujung pisaunya berhenti dibagian perut sang pimpinan. Tanpa aba-aba dia menusuk perut itu dan membelahnya membuat luka menganga lebar. Darah merembes keluar dari perut pria itu disertai rintihan tidak jelas yang dikeluarkannya.
Ren melakukan apapun pada tubuh pria itu selayaknya mainan yang bisa dia perlakukan seperti apapun.
Diluar rumah tersebut sudah dipenuhi dengan mayat-mayat penjaga yang tadi dilawan oleh Sin. Aspal dibasahi dengan darah yang berceceran. Sin melemparkan mayat terakhir kepada tumpukan mayat lainnya. Dia melihat pada rumah singgah ini. rekannya itu pasti sedang bersenang-senang sekarang.
Tungkai kakinya melangkah memasuki rumah. Begitu masuk, dia sudah disuguhkan dengan mayat beberapa penjaga lainnya yang sepertinya hanya dibereskan dengan asal oleh rekannya. Buktinya masih ada orang yang masih bernapas walaupun dia tidak bisa bangun. Sin mengeluarkan pistolnya dan langsung menembak mati orang tersebut.
Matanya melihat sebuah pintu kamar yang rusak. Pasti ulah rekannya. Entah bagaimana rekannya itu membuka paksa pintu tersebut.
Sin mengeluarkan ponselnya. Jari-jari lentik yang sebagian tertutup dengan sarung tangan bergerak dengan cepat diatas ponsel tersebut. Lalu kembali menyimpan benda persegi tersebut. Dia berjalan memasuki kamar tersebut dengan pelan, berusaha untuk tidak menganggu rekannya dan duduk di sofa yang tadi diduduki oleh Ren.
Setelah lama bermain dengan mainannya, Ren menoleh kebelakang karena merasa ada orang yang memperhatikannya. Dia mendapati yang memperhatikannya tidak lain dan tidak bukan adalah rekannya. Dia berdiri dan menghampiri Sin yang duduk dengan tenang disana.
“Lihat! Aku membuatkan kue untuk pesta kita. Ini adalah pembunuhan pertama kita setelah bergabung dengan Red Diamond, jadi kita harus membuat kue untuk memeriahkan pesta ini.” Ren menunjuk pada mayat pria yang sudah tidak berbentuk itu. Dia memasang wajah seakan dia sangat bangga dengan hasil karya. Seakan hasil karyanya itu pasti akan memenangkan penghargaan paling berharga di seluruh dunia ini.
“Tidakkah kuenya sedikit terlambat keluar? Aku sudah menyelesaikan pesta di luar sana dan kuenya baru jadi?” Sin menanggapi ucapan Ren dengan santai.
“Siapa suruh dia begitu banyak omong bahkan mengancam akan membunuhku.” Ren mengecurutkan bibirnya dari balik masker. Jika saja pria itu tidak banyak omong, maka dari tadi dia sudah akan menarik Sin masuk untuk melihat, bukan Sin yang datang sendiri.
“Karena itu kau merusak pita suara dan mulutnya serta memotong tangannya menjadi beberapa bagian termasuk jari-jarinya?” Ren menganggukkan kepalanya.
Sin hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak perduli. Ren dengan hobinya sudah tidak lagi bisa dipisahkan. Bahkan jika seluruh dunia menentang, dia akan terus melakukan hobinya tanpa rasa takut.
Memangnya siapa yang bisa melarang mereka? Oh, ada. Ada seseorang yang bisa melarang mereka. Seorang pria tua yang sudah membawa mereka ke negara ini. Hanya dia yang bisa.
---
Di tempat lain, di mansion keluarga Noordien. Ke-enam laki-laki itu masih berada didalam ruangan dengan Jerry dan Hansel yang penasaran dengan pimpinan baru yang telah dipilih oleh Ayah dan Kakek mereka itu.
“Kakek, apakah kedua orang itu ada menunjukkan wajahnya ketika kakek menguji mereka? Bagaimana wajah mereka? Apakah mereka adalah orang yang terkenal?”
“Kalian tidak akan bisa menebak siapa orang dibalik masker itu. Bahkan Kakek saja terkejut ketika melihat mereka. Kalian tidak akan pernah menduga siapa mereka berdua. Kalian tidak pernah mengira kalau orang dibalik masker itu ternyata adalah The Reaper.”
“Bahkan Kakek saja terkejut? Berarti mereka bukan orang sembarangan. Apakah kami pernah bertemu dengannya?”
“Yah, mungkin saja. Sudah, kalian akan segera bertemu dengan mereka. Kalau mereka mau mungkin mereka akan datang pada kalian dengan wajah asli mereka. Tapi kalau masih memakai masker ya berarti mereka tidak ingin memberitahukannya pada kalian.”
Pintu ruangan terketuk dan muncul seorang pria yang umurnya sepantaran Ken masuk menghampiri Jayden. Dia menunduk lalu menyerahkan sebuah amplop besar berisikan kertas-kertas. Di kertas itu terdapat foto-foto yang diambil oleh orang tadi mengenai pekerjaan The Reaper.
Foto mengenai keadaan di pelabuhan sebelum di hancurkan begitu juga foto rumah pimpinan bos yang diberantaki oleh kedua gadis berbeda warna mata itu.
Jayden tersenyum melihat bagaimana hasil pekerjaan kedua orang yang baru direkrutnya. Kekacauannya memang khas The Reaper. Raymond, Ken, dan ketiga anak muda disana mendekat untuk melihat apa yang menarik perhatian Jayden.
Raymond mengangkat kedua alisnya ketika melihat foto tumpukan mayat disana. Menarik. Dia tidak menyangka kalau mereka akan ditumpuk seperti layaknya menara. Jayden membalik lembaran demi lembaran sampai berakhir pada foto seseorang dengan keadaan mengenaskan.
Hansel yang sedari kecil sudah disuguhkan dengan pembunuhan bahkan menjalankan misi pertamanya di umur yang masih kecil pun masih meringis ngeri melihat organ tubuh yang bececeran keluar. Belum lagi foto-foto itu diprint dengan warna membuat kondisi orang itu semakin jelas terlihat.
Ken hanya tersenyum maklum. Jika hasil misi bukan seperti ini, maka jangan sebut mereka The Reaper. Ini bahkan masih lebih baik daripada ketika mereka di Vancouver. Mungkin ini masih permulaan untuk mereka. Anggap saja sebagai peregangan.
“Yang menumpuk mayat itu adalah Sin sedangkan yang membuat keadaan pimpinan seperti itu adalah karya Ren.”
“Apakah mereka membuat pesta disana? Terlihat menyenangkan.” Ucap Jayden. Memang tidak salah dia merekrut mereka berdua untuk masuk dalam mafianya.