
“Omong-omong Ray, bagaimana kalau kita makan bersama? Aku yang traktir. Bagaimana?”Cynthia menatap Ray dengan penuh harapan.
Nara melihat Ray yang berada disebelahnya. Entah kenapa dia merasa Ray sedang menahan emosi dalam dirinya. Atau menahan diri agar tidak membuat keributan dipagi hari?
Sebuah bola cahaya muncul di atas kepala Nara. Tanpa aba-aba Nara memeluk lengan kekar Ray. Si empu sampai terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nara. Ini agak tidak terduga olehnya.
“Maaf sekali, tapi Ray sudah memiliki janji denganku. Kami akan makan bersama di cafetaria karena Ray belum makan. Tadi dia merengek padaku untuk menemaninya atau dia tidak mau makan. Jadi maaf ya, dia harus menolak ajakanmu.”
Nara bisa melihat wajah kesal bercampur marah Cynthia padanya. Siapa suruh melemparkan umpan dan berharap dia memakannya tadi. Dia tidak sebodoh itu!
Justru seharusnya ini yang dia lakukan. Menjadi anak baik memang bukan ciri khas Nara. Lebih baik seperti ini karena dia bisa melihat wajah kesal targetnya. Hihihi!
“Ayo Ray. Kamu harus makan sarapanmu atau kalau tidak aku marah padamu. Jangan pernah berpikir untuk berbicara padaku lagi kalau kamu melewatkan makanmu!” Nara mengatakan itu sambil melihat pada Ray dengan wajah yang dibuat marah. Ya walaupun itu tidak benar-benar menunjukkan kalau dia marah. Ekspresi itu muncul secara tidak sengaja begitu dia mengucapkan kalimatnya.
“Kenapa begitu?” Ray mengikuti alur yang dibuat oleh Nara. Dia tidak tau apa ini termasuk dalam rencana Nara atau memang Nara membantunya. Yah, tidak ada salahnya mengikutinya.
“Aku tidak ingin berbicara dengan orang yang tidak mementingkan kesehatannya sendiri.”
“Bukannya ada kamu? Kamu akan mengingatkanku kan kalau aku lupa?”
“Memangnya aku alarm yang akan selalu mengingatkanmu? Aku kan tidak selalu bersamamu.”
“Kalau begitu akan aku buat kamu terus bersamaku.”
Seseorang tolong ingatkan mereka kalau mereka masih berada di tempat umum dan didepan mereka masih ada Cynthia dan teman-temannya.
Mereka seakan lupa kalau ada Cynthia didepan mereka yang bahkan tawarannya belum di jawab oleh Ray lansung. (Walaupun Nara sudah menjawabnya, mereka terutama Cynthia mana percaya.)
“Cih. Ayo makan. Aku jadi lapar lagi karena berurusan dengan iblis berkostum malaikat club malam.”
“Hahaha!”
Mereka berjalan pergi sambil diiringi oleh tawa Ray yang sangat langka dilihat. Semua orang langsung terdiam di tempat dan terpesona dengan Ray yang sedang tertawa. laki-laki itu tidak pernah terlihat tertawa dan sekalinya terlihat, berhasil membaut semua orang semakin menyukainya.
Tapi ada juga yang iri karena Ray tertawa untuk Nara. Mereka ingin Ray tertawa untuk mereka. Egois memang. Dan Nara adalah lawan yang cocok untuk mereka.
Di cafetaria, Nara dan Ray duduk saling berhadapan. Mereka benar-benar makan bersama. Nara belum makan karena makan sendirian dan Ray dipaksa Nara untuk makan atau gadis itu akan marah padanya nanti.
Sebenarnya Ray cukup penasaran dengan Nara, terutama kepribadian Nara. Awal mereka bertemu, dia kira Nara adalah gadis yang bahkan tidak bisa melawan ketika diremehkan oleh orang lain
Dan dia pikir dia tidak akan dekat dengan Nara. Tapi kenyataannya malah berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam pikirannya.
Nara adalah sosok gadis yang dia tunggu-tunggu selama ini. gadis yang kuat, yang bisa melindungi dirinya, yang tidak membiarkan orang lain menjatuhkannya dan meremehkannya, yang tidak membiarkan orang memanfaatkan dirinya, dan yang bahkan bisa membalas orang yang berniat menyakitinya.
Dia bisa menjadi gadis yang lembut dan penyayang, tapi juga memiliki sifat angkuh dan kuat dalam dirinya.
Nara sendiri sadar bagaimana perilakunya sehari-hari. Menurut pandangan orang lain mungkin dia seakan menjadi antagonis dalam hidup mereka. Dia akui dia memang mirip antagonis. Tapi dia tidak perduli dengan pandangan orang lain untuknya.
Bagaimana dia hidup dan berperilaku itu semua hak nya untuk memutuskan. Orang lain tidak bisa memaksanya untuk berubah dan menghakiminya karena kepribadiannya. Dia pikir, selama dia tidak merugikan orang lain seharusnya itu tidak menjadi masalah.
Selain itu, Nara paling tidak suka diremehkan apalagi oleh orang yang belum mengenalnya. Rasanya ingin sekali dia mencongkel mata mereka yang menatapnya dengan pandangan merendahkan.
Kembali pada saat ini, Nara melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Ray karena laki-laki itu bengong sambil menatapnya.
“Ray? Hello? Kamu masih disini?”
“Justru seharusnya aku yang bertanya. Kamu kenapa bengong begitu?”
“Itu...aku hanya terpikirkan tentang mu.”
“Aku? Ada apa denganku?”
“Aku berpikir apakah kamu sengaja seperti itu ada gadis tadi?”
“Kenapa? Kamu mulai tertarik pada gadis tadi?”
“Tidak! Aku hanya bertanya karena merasa kepribadian mu itu sangat menarik.”
“Bagaimana kalau aku bilang kalau aku sengaja?”
“Aku sengaja melakukan itu. aku menggunakan mu untuk memanas-manasi dia karena tau dia menyukaimu. Kenapa? Apa aku terlalu jahat dan terlihat seperti antagonis yang menghalangi protagonisnya untuk mendapatkan orang yang dia sukai?”
Ray hanya tersenyum. Nara memang mengatakan kalau dia sengaja dan terkesan memanfaatkannya. Tapi justru apa yang dia lakukan itu lebih berdampak padanya sendiri daripada dirinya.
“Entah lah, tapi aku suka.”
“Maksudmu?”
“Aku suka dengan antagonis ini. Dibandingkan protagonis, sepertinya mendapatkan antagonis jauh lebih menyenangkan.”
“Selain itu, bukannya antagonis adalah pasangan dari antagonis?”
“Siapa antagonis lainnya?”
“Aku.”
“Kamu? Kamu bahkan dianggap dewa oleh anak-anak disini. Bagaimana kamu bisa menjadi antagonis. Bagi mereka kamu adalah protagonis yang seharusnya bersama dengan protagonis perempuan, bukannya dengan antagonis sepertiku.”
“Begitukah? Tapi aku tidak perduli. Mereka yang tidak mengenalku akan menganggap aku adalah protagonis. Tapi mereka yang mengenalku, pasti akan terang-terangan mengatakan kalau aku antagonis. Atau lebih tepatnya iblis berparas tampan? Anggap saja ketampanan ku ini adalah bonus.”
“Hahaha! Lihatlah darimana kepedean mu ini berasal.”
“Tapi aku memang tampan kan? Buktinya kamu saja pernah mengagumi ketampananku.”
“Kalau aku mengatakan kamu jelek itu berarti aku perlu periksa mataku. Selain itu, aku juga masih gadis normal yang menyukai laki-laki. Wajar kalau aku mengagumi ketampananmu.” Nara menjelaskannya dengan jujur. Lagipula untuk apa menutup-nutupinya. Yang ada Ray akan semakin jahil dan menggodanya setiap hari mengenai ini.
“Kalau begitu, kamu mau menjadi kekasihku? Sepertinya kita cocok karena orang yang selama ini aku tunggu untuk ku jadikan milikku adalah kamu.”
“Aku tidak mau!”
Ray mengangguk-anggukkan kepalanya dengan santai. Sama sekali tidak tampak seperti “Akan aku coba lagi nanti.”
Nara sampai tersedak karena Ray. Dia pikir Ray mungkin akan sakit hati karena ditolak. Mana tau ternyata reaksinya sesantai ini bahkan akan mencoba lagi nanti. APA-APAAN INI?!!!
Si empu yang membuat Nara tersedak hanya tertawa kecil melihat reaksi Nara. Dia sama sekali tidak memiliki niat membantu Nara selain menggeser minuman Nara menjadi lebih dekat padanya.
Sangat tidak romantis kan?
Sejujurnya dia tidak terlalu perduli dengan penolakan Nara karena ini memang hanya permulaan. Dia sudah memutuskan untuk tidak melepaskan Nara. Jadi apapun penolakan yang dia dapat, dia tidak perduli.