Red Diamond: Revenge

Red Diamond: Revenge
Chapter 01: Pertemuan



Vancouver


11.00 AM


Jalanan yang ramai oleh kendaraan ber-roda, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan dua mobil yang tampak sedang kejar-kejaran. Salah satu mobil yang berwarna putih menyelip kesana kemari, berusaha untuk menghindari kejaran mobil besar berwarna hitam.


Aktivitas dijalan terpaksa terganggu karena dua mobil tersebut. Tidak sedikit orang yang membunyikan klaksonnya karena laju kendaraan mereka terhambat oleh mereka. Tapi, apa peduli mereka? Mereka tetap saling kejar-kejaran tanpa memperdulikan bunyi klakson yang saling bersautan.


Sampai pada sebuah perempatan, mobil putih tadi tiba-tiba membelokkan setirnya mengarah ke kiri. Mobil hitam yang mengejar mereka itu tidak bisa mengikuti gerak mobil yang berubah secara tiba-tiba. Alhasil mereka terpaksa mengerem mobil dan membuat beberapa mobil yang berada dibelakangnya saling menghantam.


Mereka tetap tidak perduli. Sang pengemudi kembali menginjak gas dan kembali menjalankan mobilnya mengikuti mobil putih tadi.


Didalam mobil putih, seorang gadis yang duduk disamping pengemudi melirik kaca spion yang menampilkan mobil besar hitam tadi kembali mengejar mereka. Dia menyungging senyumannya lalu mengalihkan pandangannya pada gadis disebelahnya yang sedang mengemudi.


Si pengemudi menerima kode tidak langsung darinya dan kembali menambahkan kecepatan laju mobilnya. Gaya santainya sama sekali tidak menunjukkan seakan dia berada dalam situasi yang berbahaya atau menegangkan. Berbeda dengan keadaan laju kendaraan yang melaju bagai berada di arena balap.


Suara-suara tembakan pistol berdatangan menghantam mobil mereka. Beruntung mobil yang mereka gunakan adalah mobil anti peluru sehingga serangan mereka sama sekali tidak berguna.


Kedua gadis tersebut mulai bosan dengan keadaan yang tidak semenyenangkan yang mereka kira. Para pecundang itu hanya menghabiskan peluru mereka untuk hal yang tidak perlu. Mereka bahkan tidak bisa mengejar mereka. Sangat membosankan.


Gadis berambut pendek yang duduk disamping pengemudi akhirnya mengeluarkan sebuah laptop dari tasnya. Jari-jari lentiknya bermain dengan indah diatas perangkat elektronik satu itu.


Dari sebuah persimpangan, muncul lagi sebuah mobil putih yang memiliki warna dan jenis yang sama. Mobil tersebut berjalan bersebelahan dengan mobil putih yang ditumpangi oleh dua gadis tadi.


Jarak mobil yang cukup jauh membuat mereka berdua menjadi bingung mobil mana yang diisi oleh buruan mereka. Belum lagi kedua mobil tersebut bergerak secara acak membuat mereka tidak bisa mengikuti mana mobil yang sebenarnya.


Pada sebuah perempatan, kedua mobil tersebut berjalan ke arah yang berbeda-beda. Dengan kebingungan mereka memilih untuk mengikuti mobil yang berjalan lurus kedepan dan mempercayai bahwa mobil yang sedang mereka ikuti adalah mobil incaran mereka.


Dengan segala upaya, mereka berusaha untuk membawa mobil mereka menjadi lebih cepat.


Tanpa aba-aba mobil putih tadi berbelok ke kiri. Membuat mobil orang-orang itu langsung memperlambat lajunya agar tidak menabrak sebuah pohon diujung jalan. Tapi karena hal itu, mobil lain yang melaju dibelakangnya menabrak bagian belakang mobil mereka. Namun karena sedang terburu-buru, mereka tidak memperdulikannya dan kembali mengejar mobil putih.


Mobil putih tadi terlihat berhenti disebuah jalan buntu. Mobil mereka pun tiba tepat setelah mobil putih itu berhenti. Orang-orang itu tersenyum jahat. Sebagian dari mereka turun dari mobil dan berjalan mendekat. Sedangkan orang yang berada di dalam mobil tertawa mengingat segala upaya melarikan diri tadi tapi pada akhirnya berhasil tertangkap oleh mereka.


Salah satu dari mereka membuka pintu mobil yang ternyata tidak dikunci. Tanpa memikirkan resiko apapun, mereka semua membuka semua pintu mobil. Tapi yang berada didalam mobil benar-benar membuat mereka terkejut.


Bukan orang-orang yang mereka incar yang berada didalam mobil itu, tapi tiga buah boneka seukuran manusia tengah duduk dikursi pengemudi dan penumpang. Mereka mengumpat. Mereka sudah dibodohi dengan mengejar mobil yang salah. Sudah terlambat untuk mengejar mobil yang satu lagi dan mereka sekarang terpedaya oleh tiga buah boneka.


Seorang dari mereka menangkap sebuah kertas yang tertempel di perut boneka yang duduk dikursi penumpang. Matanya melebar setelah membaca tulisan yang tertulis diatas kertas itu. dia segera mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil dan berteriak pada rekannya untuk segera menjauh dari mobil tersebut.


Para rekannya bingung namun tubuh mereka bekerja berlainan dengan apa isi otak mereka. semua orang segera menjauh dari mobil. Baru beberapa langkah mereka menjauh, ledakan terjadi dan berasal dari mobil tadi. Orang yang berada dekat dari mobil terpelanting kemana-mana. Bahkan mobil mereka yang terparkir disana pun ikut terkena dampaknya.


Sebagian besar dari mereka terluka parah dan sisanya berhasil menyelamatkan diri dan hanya mendapatkan luka ringan. Mereka kesal dan marah. Mereka sudah dibodohi oleh dua gadis remaja ingusan.


Disisi lain sebuah mobil putih terus melaju pergi menembus padatnya jalan raya. Kedua gadis yang duduk dikursi depan saling tos karena telah berhasil mengelabuhi musuh mereka. salah satu dari mereka menolehkan kepadanya kebelakang untuk melihat seorang gadis lainnya yang sedang tertidur dengan nyenyak tanpa terganggu oleh apapun yang telah mereka lakukan dari tadi.


Pandangannya kembali ke perangkat elektronik di pangkuannya. Dia menghubungi seseorang yang sudah berada di tempat tujuan mereka sekarang, mengabarinya bahwa mereka akan segera sampai. Halangan sudah mereka selesaikan dan kini tersisa acara penutupnya.


Si pengemudi segera memarkirkan mobilnya di parkiran bandara. Gadis lainnya keluar dari mobil dan mengeluarkan gadis lainnya yang tertidur dikursi penumpang. Dia membawanya di punggungnya, sebelum itu dia menutupi wajah dan rambutnya dengan topi jaket yang dipakainya. Mereka segera masuk dan bertemu dengan seorang pria tampan yang tidak lain adalah orang yang tadi mereka hubungi.


Tanpa membuang banyak waktu, mereka segera menaiki pesawat pribadi yang sudah disiapkan sejak tadi dan segera pergi meninggalkan negara itu.


Didalam pesawat mereka melaporkan apa yang terjadi tadi pada satu-satunya pria disana. Sesekali mereka melirik pada gadis yang masih tertidur sampai sekarang, berjaga-jaga dia akan terbangun dan mendengar apa yang mereka bicarakan. Walaupun itu tidak mungkin karena gadis itu sudah dipasangi penutup telinga sejak masuk ke pesawat ini.


Setelah itu mereka menempati tempat duduk masing-masing dan merehatkan tubuh mereka karena perjalanan jauh yang akan mereka tempuh, namun tanpa melepaskan pengawasan pada keadaan disekitar mereka.


Sebuah pesawat telah berhasil mendarat dengan aman. Tanpa membuang banyak waktu, orang dalam pesawat pribadi itu segera turun dan berpindah pada mobil yang sudah disiapkan. Dengan orang-orang bersetelan hitam yang sudah menunggu dan membuka jalan untuk langsung menuju mobil.


Dengan banyaknya penjagaan disekitar mereka, tidak membuat mereka lengah dan berpangku tangan pada penjaga-penjaga yang ada. Mereka tetap harus mengawasi keadaan sekitar sebelum mereka berhasil sampai di rumah. Sampai disana, tujuan terakhir mereka, misi pun berhasil diselesaikan.


Akhirnya mobil mereka sampai disebuah rumah besar yang dipenuhi oleh banyak penjaga yang berjaga di sekitar rumah.


Sebuah rumah mewah dengan nuansa modern di sertai ukiran-ukiran indah pada pilar-pilar besar. Taman luas yang di penuhi oleh berbagai macam bunga-bunga cantik dan tanaman mahal. Hanya dengan melihatnya saja, sudah membuat mereka mengetahui seberapa besar kekayaan yang dimiliki oleh sang pemilik rumah.


Pintu mobil dibuka oleh penjaga yang berdiri di depan pintu rumah besar itu dan mereka semua masuk ke dalam rumah tersebut.


Di dalam terdapat beberapa orang yang sedang menantikan kedatangan anak kesayangan mereka yang selama ini berada jauh dari mereka.


Pria bertubuh tinggi menyambut mereka dengan hangat. Disampingnya berdiri seorang wanita yang cantik dan anggun. Dia tersenyum dengan hangat pada mereka berempat.


Tidak jauh dari mereka terdapat pasangan lainnya yang umurnya lebih tua daripada pasangan yang pertama menyambut mereka. Ketiga gadis dan satu pria itu digiring masuk lebih dalam ke rumah dan berakhir di ruangan besar di mana terdapat sofa dan meja.


Didekat sana terlihat seorang laki-laki muda yang memperhatikan kedatangan mereka, terutama pada gadis berambut panjang yang sedang bersembunyi di belakang seorang gadis berambut pendek sebahu. Gadis cantik itu terlihat malu-malu dan terus bersembunyi.


“Ada apa Eve? Kenapa malu seperti itu? Apa kamu tidak ingin bertemu dengan kami?”


Pria yang pertama menyambut mereka menggoda Eve yang malu-malu pada keluarganya sendiri. Dia menyadari kalau gadis itu pasti perlu beradaptasi karena tidak bertemu langsung dengan keluarganya sendiri selama 14 tahun lamanya dan hanya berhubungan dengan media ponsel saja.


Pria ini adalah Jayden, ayah tiri dari Eve dan kedua kakaknya. Pertama kali dia bertemu dengan Eve adalah saat dia berumur 4 tahun lalu dia dikirim ke Canada oleh dia dan Istri kesayangannya, Ryn. Hal itu mereka lakukan untuk menjaga Eve.


Mereka berdua sepakat untuk menitipkan Eve pada Ken, sahabat Ryn yang baru saja pindah ke Canada. Demi melindungi Eve dari orang-orang itu, dia harus memisahkan Eve dari kedua kakak laki-lakinya.


“Kenapa bersembunyi dari kami Eve? Kamu tidak rindu dengan Bunda? Tidak mau memeluk Bunda?”


Ryn menahan air matanya. Terakhir kali dia melihat Eve saat itu dia masih kecil tapi sekarang dia sudah berubah menjadi gadis cantik. Wajah cantiknya sangat mirip seperti mendiang kakaknya dahulu. Dia sangat merindukan Keponakan kesayangannya itu.


Wanita anggun itu maju selangkah dan merentangkan sedikit tangannya. Tanpa buang waktu, Eve segera berlari menghampiri orang yang sangat dia sayangi, pengganti ibu kandungnya yang meninggal.


“Rindu. Aku sangat rindu dengan Bunda dan Ayah.”


Bunda Ryn melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Eve. Air mata yang sedari tadi berusaha dia tahan sudah mengalir membasahi pipi tembamnya.


“Anak cantiknya bunda, sekarang kamu sudah tumbuh sebesar ini.”


Eve menganggukkan kepalanya ribut. Ini yang dia rindukan. Dia sangat merindukan pelukan dan kasih sayang bunda. Walaupun saat itu dia masih anak-anak, tapi masih terus tersimpan dalam benaknya bagaimana hangatnya pelukan dari wanita ini.


Ryn tidak bisa berhenti menangis, dia sudah banyak melewatkan pertumbuhan dari Eve. Merupakan pilihan yang sulit baginya dulu untuk menitipkan Eve jauh darinya.


Selesai dari Ryn, Eve beralih memeluk Jayden. Meskipun dia adalah ayah tirinya, tapi selama dia adalah suami dari Bunda Ryn dan dia baik pada Bunda Ryn maka dia adalah ayahnya. Dia juga orang yang sudah membantu Bunda untuk menjaganya dulu dan dia sangat baik padanya.


“Ayolah Jay, aku juga ingin memeluk cucu kesayanganku.” Ucap Raymond si kakek keren yang wajah dan perilakunya awet muda.


“Berisik, biarkan aku memeluk putriku lebih lama lagi.” sarkas Jayden pada Raymond yang notabenenya adalah ayahnya.


Eve tertawa kecil dalam pelukan Jayden. Ayah dan kakeknya memang lucu, bahkan setelah mereka bertemu secara langsung. Setelah itu dia beralih memeluk Kakek dan neneknya secara bersamaan.


Kakek dan nenek melepaskan pelukan mereka dan hal itu membuat Eve bisa melihat orang yang ada dibelakang kakek dan neneknya. Kakak keduanya, Ray sedang tersenyum padanya.


Dia segera berlari dan melompat pada kakaknya. Dia sangat sangat merindukan kakaknya salah satunya Ray. Laki-laki yang sudah melindunginya di belakang punggungnya dihari ketika keluarganya dibantai habis. Dia sendiri ingat ketika dia akan dibawa ke canada saat itu, dia tidak mau lepas dari kedua kakaknya.


“Adikku ternyata lebih jelek dari yang kulihat di ponsel.” Goda Ray dan tentu saja mendapatkan pukulan kasih sayang dari sang adik.


Eve melihat ke kanan dan kekiri seakan mencari orang lain.


“Jerry sedang menjemput Zea dari sekolah. Seharusnya sebentar lagi dia akan sam-.” Ucapan kakek terpotong oleh suara yang datang dari pintu


“EVE/KAK EVEE!”


Eve segera menolehkan kepalanya ke asal suara berasal. Kurva terbentuk di wajahnya dan menampilkan senyuman manis. Itu adalah Jerry dan Zea, adiknya.


Zea segera berlari masuk dan melompat kepelukan Eve. Walaupun dia sama sekali belum pernah bertemu dengan Eve, tapi mereka sudah sering bercengkerama melalui ponsel. Lebih tepatnya Zea akan merebut ponsel Ray ketika laki-laki itu sedang melakukan panggilan video pada Eve.


Jerry ikut memeluk adik kesayangannya itu. Dia sangat ingat ketika terakhir kali dia melihat adiknya, dia masih kecil dan sering merengek meminta ice cream padanya. Tapi sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang akan digilai oleh semua orang.


Selesai melepas rindu, Eve menatap pada Nara dan Cein, kedua gadis yang sudah membawanya pulang kembali ke keluarganya. Dia berjalan mendekati kedua orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya juga.


“Semuanya, ini kak Nara dan kak Cein. Mereka berdua sudah membantu ayah Ken untuk mengurus dan menjagaku selama di Canada.”


“Kami tahu, kamu sangat sering menceritakan mengenai mereka pada kami. Bagaimana kami bisa tidak mengenal mereka.” Ucap Bunda Ryn


Ketika itu, mata Nara tidak sengaja bertemu dengan sepasang obsidian hitam legam milik Ray. Mereka saling bertukar pandangan. Nara menunggingkan senyum tipis dan sedikit menganggukkan kepalanya pada Ray. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Melihat adegan yang begitu kekeluargaan didepan matanya membuat Nara sedikit merasa emosional. Keluarga yang begitu hangat dan rumah yang begitu nyaman untuk dijadikan tempat berpulang. Jika waktu kembali diulang, bisakah dia merasakan yang seperti ini juga?


Tidak ingin berlarut dalam pikirannya, Nara segera mengalihkan pandangannya. Dia melihat pada Cein yang juga tengah menatap padanya. Gadis berpipi gembil itu segera memeluk lengan adik kesayangannya. Dia mengerti dengan perasaan Nara. Mereka sudah bersama-sama sejak kecil, apa yang disukai dan tidak disukai sudah diketahui oleh mereka masing-masing.


“Jangan sedih. Kakakmu ini tidak akan membiarkanmu sendirian.”


“Memangnya aku tidak tahu? Kamu selalu mengatakan itu padaku, Kak.” Nara tersenyum manis. Dia mungkin tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari kakaknya ini.


“Hanya ingin mengingatkan saja, siapa tahu kamu terkena lupa ingatan sementara atau jetlag.”


Mereka kembali melihat kepada keluarga bahagia yang sedang saling bertukar rindu. Sepertinya baik Nara maupun Cein akhirnya mengetahui dari mana asal kecantikan adik kesayangan mereka itu berasal. Memang gen yang sangat mengesankan.