Re: Turning

Re: Turning
The First Battle II



Serangan mereka berlangsung cepat. Samejima memimpin di depan.


Samejima mengarahkan tangannya ke depan. Merapal nama sihir yang dimilikinya.


"[Fire Magic : Fireball]!"


Sesaat kemudian, sebuah bola api melesat dari tangannya. Sihir rendah level satu, tidak diperlukan mantera untuk menggunakannya. Namun, di tangan seorang pahlawan seperti Samejima, kekuatan bola api itu meningkat.


Seperti meriam, bola api itu mengarah tepat ke tempat Minotaur. Tetapi, sesuatu terjadi.


Sebuah bilah pedang raksasa. Terbang asap biru, ia mengenai bola api Samejima. Seperti pisau yang memotong apel, sihir Samejima terpotong menjadi dua.


Ledakan besar terjadi. Meniup asap biru dan memberi para pahlawan kesempatan untuk melihat makhluk yang ada di baliknya.


Minotaur itu menggeram. Dengan Greatsword di tangannya, ia maju ke depan. Gantian menyerang. Sasarannya adalah Samejima.


Ia mengayunkan pedangnya. Kini sebuah sapuan horizontal. Sebuah sapuan yang mampu memotong siapa saja menjadi dua.


Samejima menyadari itu. Ia menendang lantai. Memutar tubuhnya di udara selagi menghindari bilah raksasa.


Mendarat dengan sempurna, ia menendang tanah. Melontarkan tubuhnya ke arah Minotaur itu sekali lagi.


Rivelia menyala merah. Seperti nafas api seekor naga. Samejima mengayunkan pedangnya. Sesuatu yang keras menahannya.


Minotaur menangkis serangan Samejima menggunakan Greatsword-nya. Ia mendorong Samejima ke belakang. Tak menduga ini, Samejima tertegun.


Minotaur melihat kesempatan. Dengan tangan yang bebas, ia memukul Samejima.


"-!?"


Tak bisa mengelak, Samejima mengangkat kedua tangannya untuk bertahan. Rasa sakit menjalari lengannya saat kepalan Minotaur menghantamnya.


"Gah!"


Samejima terlempar jauh. Menghantam dinding, semua udara di dadanya dipaksa keluar. Ia jatuh ke tanah.


"""Samejima!"""


Ketiga pahlawan menyerukan namanya. Izumi mendecakkan lidahnya.


"Sialan!"


Izumi menerjang maju. Kesal melihat rekannya terkapar. Meskipun hubungan mereka di masa lalu cukup buruk, di Zelfria mereka menjadi dekat karena terus bersentuhan dengan bahu kematian. Ini adalah salah satunya.


Minotaur mengalihkan pandangannya ke Izumi. Menatap manusia berambut merah itu, ia melempar pedangnya.


Pedang sebesar dua meter melaju tepat ke arahnya, Izumi tetap tenang. Panik hanya akan memperburuk keadaan.


Izumi melompat kecil ke samping. Menghindari bilah itu. Namun, seketika bulu kuduknya berdiri. Mata Izumi tertarik ke tangan Minotaur. Ia memegang rantai panjang. Terpasang ke....


Pedangnya!


Sebelum bisa bereaksi, Minotaur mengayunkan tangannya. Rantainya mengikuti, mengeluarkan suara. Izumi membulatkan matanya. Tanpa melihat pun, ia mengerti.


Pedang yang dilempar Minotaur tiba-tiba berubahnya arah. Bilah itu menetapkan Izumi sebagai sasarannya.


Sial!


"[Hardeni— Gah!"


Sebelumnya bisa menyelesaikan nama skillnya, pedang Minotaur mengenai pinggang Izumi. Merasakan kekuatan Greatsword yang menghantamnya langsung, Izumi terlempar.


""Izumi!""


Dua gadis di belakang menyerukan namanya saat Izumi terserang. Yonaka langsung melepaskan berbagai macam jenis anak panah ke arah Minotaur. Beberapa meledak, beberapa menancap di tubuhnya, beberapa juga jatuh tanpa memberi sedikit goresan.


"GROOAAAA!"


Minotaur menemukan sasaran baru. Manusia berambut hitam yang menembaknya dengan panah. Dengan langkah yang mampu menggetarkan bumi, Minotaur berlari ke arah Yonaka.


❂❂❂❂❂❂


Izumi berbaring di tanah. Sesaat yang lalu, tubuhnya menabrak lantai. Lantai altar yang sebelumnya terlihat seperti ukiran batu yang indah, kini rusak karena terkena Izumi. Orang biasa mungkin langsung mati, tapi Izumi bukanlah orang biasa.


"Aduh... Duh!" Izumi bangkit. Terlihat berantakan. Sebuah robekan besar di baju pelindungnya terbentuk. Menampakkan kulit yang sedikit memar. "Itu sakit, sialan!"


Izumi menatap tubuhnya. Merasa bahwa baju pelindungnya sudah tidak berguna, ia merobeknya dengan mudah. Baju itu terbuat dari kulit seekor Wyvern, meski tak sekuat naga, kulit mereka benar-benar tangguh. Merobeknya seperti kertas merupakan bukti kekuatan yang dimiliki Izumi.


Izumi menatap Minotaur. Monster itu sedang mencoba menyerang Yonaka. Namun, kelincahan sang gadis lebih dari cukup untuk menghindarinya.


"[Hardening]!" Izumi kembali menyerukan nama skill yang digemarinya. Ia merasa sedikit berat. "[Strengthening Magic]!" Setelah menyerukan sihir yang jarang ia gunakan, tubuhnya menjadi ringan.


Sihir Izumi mampu menambah kekuatannya lebih dari sihir Erina. Namun, ia tidak suka mengandalkan sihir. Ia lebih senang mengandalkan kekuatannya sendiri. Menurutnya, sihir itu hanyalah steroid.


Ini adalah kesempatan langka. Bagi Izumi, itu hanyalah sedikit dorongan. Bagi musuhnya, itu adalah bencana.


Izumi berlari dengan kencang. Tangannya mengepal kuat. Dengan kecepatan yang tidak bisa diremehkan, ia melaju tepat ke Minotaur itu.


"GRAH!"


"-GROAAAR!"


Sebuah tendangan membuat kepala Minotaur menghantam tanah. Menciptakan suara keras dan kepulan debu.


"Kau tidak apa-apa, Yonaka?"


"Izu—!"


Sebelum bisa memanggil namanya, wajah Yonaka langsung memerah. Di hadapannya, Izumi berdiri. Memamerkan otot-ototnya yang berkilauan karena keringat. Stimulasi ini terlalu berat untuk Yonaka, sang gadis berhati murni.


"I-I-I-Izumi-kun! Ba-bajumu!?" seru Yonaka, menutupi wajahnya. Masih bisa melihat melewati jarinya.


"Hmm? Oh, tadi rusak. Jadi, aku robek saja." Izumi menjawab tanpa masalah. Jelas-jelas salah paham.


"Bu-bukan itu maksudku!"


"Meskipun aku senang melihat hal seperti ini, waktunya tidak tepat!" Erina menyela dari belakang. Sama-sama terlihat malu. "Kita sedang bertarung dengan Minotaur!"


Izumi dan Yonaka menoleh ke arah Erina dan Minotaur itu bergantian. Sadar akan situasi mereka. Yonaka berusaha untuk tidak menatap Izumi, meskipun beberapa kali meliriknya. Sementara itu, Izumi beralih ke mode serius.


"Erina, kau sembuhkan Samejima. Aku dan Yonaka akan menahannya." Izumi memberi perintah.


""Mengerti!"" Erina dan Yonaka mengangguk.


Pada saat yang bersamaan - memilih waktu yang sempurna - Minotaur bangun. Melepaskan kepalanya dari dalam tanah. Raungan yang menggetarkan rongga dada kembali menggema.


"Ayo!"


Izumi memberi isyarat. Maju pertama, ia menyiapkan senjatanya; Kepalannya.


Minotaur kembali mengayunkan pedangnya. Kini lebih cepat dan lebih kuat. Namun, itu bukan tandingan Izumi yang menggunakan sihir penguatan.


Kiri! Kanan! Lompat! Pukul!


Izumi menghindar dengan lihai. Menanamkan sebuah pukulan ke tubuh sang Monster. Membuatnya mundur beberapa langkah.


Merasakan sebuah kesempatan, Yonaka melepas sepasang anak panah biru ke kaki Minotaur. Cairan lengket berwarna biru meledak keluar saat kedua panah itu mendarat di tanah. Menahan Minotaur di tempat.


"Grooa!?" Minotaur terlihat kebingungan. Mencoba menggerakkan kedua kakinya dengan sia-sia.


"Bagus, Yonaka!" Izumi berseru. Masih menatap monster itu.


"Te-tentu!" Yonaka menjawab dari belakang. Mencoba mengalihkan pandangannya dari punggung dan lengan berotot Izumi.


Menyadarinya dirinya tak bisa bergerak, Minotaur memutar otaknya. Meskipun tidak secerdas manusia atau ras lainnya, kepintarannya jauh di atas monster-monster biasa. Mengambil kesimpulan, ia melepaskan Greatsword-nya ke tanah.


"Oh? Apakah dia menyerah?" Izumi mengamati gerak-gerik monster itu.


"GROAA!"


Mematahkan ekspektasinya, Minotaur mulai memutar-mutar tangannya. Greatsword yang terikat rantai terangkat dari tanah. Dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa, sebuah tornado pedang terbentuk di sekitar Minotaur.


Yonaka mencoba menembakkan anak panah, namun angin membawanya pergi dari sasaran. Anak panahnya hancur menabrak dinding. Panah tidak efektif.


"Gila!" komentar Izumi. Rambutnya terkena angin kencang. "Bagaimana kita bisa mendekatinya?"


Izumi tidak bisa mendekatinya begitu saja. Greatsword yang memutari tubuhnya dengan kecepatan tinggi bisa benar-benar melukainya. Bahkan dengan sihirnya, ia tidak tak terkalahkan.


Setelah beberapa saat, Minotaur menyipitkan matanya. Menatap Izumi dan Yonaka, ia melempar pedangnya ke arah mereka.


""!?""


Pedang itu tidak berhenti. Dengan sedikit tarikan, arah terbang pedang itu berubah. Ia kembali ke pemiliknya. Kembali membentuk tornado.


"Oh, hebat sekali!" Izumi mengeluh, nada sarkas bisa terdengar. Masih memasang kewaspadaannya.


"Izumi!" Mendengar namanya dipanggil, Izumi menoleh. Melihat Samejima yang berdiri sambil memeluk pinggangnya. Erina berada di sampingnya, terlihat khawatir.


"Oh! Kau masi—"


"Aku akan menggunakan [Ragnarok]!" ser Samejima, memotong Izumi. "Kalian semua mundur!"


"Ap—!?" Izumi tidak mempercayai telinganya. "Kau gila!? Kau bisa mati!"


"Kita tidak punya pilihan! [Apollo] milik Yonaka tidak akan bisa melukainya!"


Izumi menoleh ke arah Yonaka. Gadis itu terlihat gugup. Tidak tahu harus berbuat apa.


Izumi mengeklik lidahnya. "Baiklah!" Ia akhirnya setuju. "Aku akan mengambil perhatiannya!"


Samejima tersenyum kecil. "Terima kasih," katanya.


"Erina." Samejima menoleh ke arah gadis di sampingnya."Setelah Izumi berhasil mengalihkan perhatiannya, larilah bersama Yonaka."


"Ta-tapi, Samejima-kun...."


"Tak usah khawatirkan aku," katanya lembut, mengelus pipinya. "Aku akan mengalahkan monster itu lalu kembali."


Iris hijau Erina menatap Samejima lekat. Masih enggan meninggalkannya.


"Hey, kita sudah berjanji bukan?" Samejima tersenyum.


Perkataan itu membuat pipi Erina merona. Merasa malu saat pemuda itu mengingatkannya apa yang terjadi di kamar sang gadis berambut pirang di kastil beberapa hari yang lalu.


Samejima memegang dagu Erina. Dengan lembut mencium bibirnya. Merasakan sensasi lembut Samejima, Erina merasa meleleh. Meskipun nyawa mereka dalam bahaya, Erina berharap waktu bisa berhenti.


❂❂❂❂❂❂


"Yonaka." Izumi memanggil nama gadis yang sudah lama ia sukai. "Setelah aku mengalihkan perhatiannya, bawa Erina dan dirimu ke Gregory. Aku akan menyusul."


Mendengar nada Izumi yang serius, Yonaka hanya bisa mengangguk. Jarang Izumi menggunakan nada itu. Yonaka tidak bisa menahan pipinya yang mulai panas.


Izumi menarik nafas dalam-dalam. Mengambil kuda-kuda tengah, ia mengulurkan kedua tangannya ke depan. Mengepal erat hingga tangannya berwarna putih.


Ia mempersiapkan diri. Ia menatap tornado di depannya. Lebih tepatnya, menatap sang Minotaur.


Sepuluh tahun ia belajar berbagai macam bentuk bela diri. Sepuluh tahun ia melatih tubuh dan jiwanya. Tiada hari yang ia lewati tanpa keringat yang membasahi tubuh.


Bukan karena ia ingin terlihat keren di depan lawan jenis. Bukan karena ia ingin menyombongkan diri.


Tapi, karena ia terinsipirasi seseorang.


Ia ingin menjadi seperti orang itu. Selalu membantu orang lain. Selalu tersenyum ramah. Selalu ada di sampingnya.


Seorang teman yang setia.


Kurobane Shinnichi adalah nama temannya. Dan demi temannya, ia menjadi kuat. Demi temannya, ia berlatih keras.


Dan ia tidak akan berhenti dalam waktu yang dekat. Selama ia masih bernafas. Selama ia masih bergerak. Selama ia masih hidup. Izumi tidak akan berhenti.


Izumi mengangkat kakinya lalu melangkah ke depan. Suara keras menemani. Sebuah retakan tercipta di tanah. Seolah-olah tidak bisa menahan kekuatan Izumi.


Izumi menarik tangan kiri ke sisi pinggangnya. Kain yang terikat di tangannya mulai sobek. Bukan karena dipakai untuk memukul, tapi karena tekanan tangan Izumi.


"Ayo maju."


Suara Izumi tenang. Tidak ada tekanan atau daya di baliknya. Ia benar-benar tenang.


Sebaliknya, Minotaur merasakan setiap bulu di tubuhnya berdiri. Dirinya kacau. Instingnya sebagai makhluk hidup berteriak. Menyuruhnya untuk melarikan diri dan menyelamatkan nyawanya.


Namun, sebagai monster ciptaan inti labirin, ia tidak bisa pergi. Meskipun slime yang menahannya sudah mulai melemah, ia tidak beranjak dari tempatnya. Dorongan untuk melindungi penciptanya lebih besar daripada keinginannya untuk bertahan hidup.


"GRROOOAAAR!"


Minotaur kembali meraung. Ia melemparkan pedangnya ke arah Izumi. Berharap pedang besar itu bisa memotong benang kehidupan Manusia berambut merah itu.


Sekali lagi, ekspektasinya akan terpatahkan.


Izumi menutup matanya. Dunia terlihat berjalan lebih lambat. Ia tidak mendengar apapun selain detak jantungnya sendiri. Nafasnya teratur. Seolah-olah sedang bersantai di rumah atau sedang berbincang dengan temannya.


Sekejap kemudian, Izumi membuka matanya. Greatsword Minotaur kini berjarak kurang dua meter darinya. Orang biasa mungkin menerima pemandangan di depannya adalah kematian.


Namun, Izumi bukanlah orang biasa.


Ia melangkah, menggerakkan tangan kirinya ke depan. Menampik sisi Greatsword itu dengan punggung tangannya.


Suara keras tercipta saat pedang itu menancap ke dalam tanah di sampingnya. Kerikil dan debu terbang ke mana-mana.


"HMPH!"


Izumi tidak membuang-buang waktu. Ia kembali melangkah, melempar sebuah pukulan ke sisi bilah Greatsword. Pedang itu retak, kemudian dengan suara nyaring, pecah berkeping-keping.


"-!?"


Semua orang di lantai terakhir labirin membelalakkan matanya. Tidak mempercayai bahwa Izumi menghancurkan sebuah Greatsword dengan tangannya kosong. Bahkan monster pemilik pedang itu merasa terkejut.


Izumi tidak berhenti. Ia memegang rantai yang terhubung dengan Minotaur. Mengerahkan tenaga, ia menarik rantai itu.


Tak menduga kekuatan sang Manusia, Minotaur kehilangan keseimbangan. Ia jatuh langsung jatuh. Melenguh kesakitan.


Itu tandanya!


Samejima dan yang lain berpikir seperti itu. Yonaka mulai berlari ke arah Erina, bersiap-siap membawanya ke belakang. Sedangkan Samejima mulai menyiapkan skill utamanya.


Skill yang mampu merubah lautan menjadi kobaran api. Hutan menjadi tanah gersang. Dan gunung menjadi rata.


Mungkin itu yang akan terjadi jika Izumi berhenti. Tapi, pemuda berambut merah itu terus bergerak.


"!"


"GROA—!?"


Ia melompat ke arah Minotaur. Mengangkat kakinya di udara, ia melontarkan sebuah tendangan ke bawah. Menanamkan tumitnya ke kepala monster banteng. Membuatnya tertanam di tanah.


Menggunakan hukum ketiga Newton, Izumi melompat ke depan. Berniat untuk melakukan jungkir balik. Namun, sebelum itu, ia memegang kedua tanduk Minotaur. Berniat menghubungkan serangannya.


"!!"


Menggunakan kekuatannya, ia mengangkat Minotaur itu. Ia menjungkirkan dirinya ke depan. Melempar Minotaur ke tanah. Sebuah kawah berbentuk tubuhnya terbentuk.


Izumi mendorong kakinya. Melompat ke dada Minotaur itu. Ia melancarkan pukulan demi pukulan ke dada dan wajah monster itu. Berat dari setiap pukulannya terlihat jelas. Suara retakan tulang dan daging yang sobek bisa terdengar jelas. Menggema di lantai labirin.


"Hah!"


Izumi mengangkat tangan kanannya. Mengambil nafas dalam-dalam, ia menghantam wajah Minotaur. Angin kencang yang membawa debu dan kerikil tercipta karenanya. Minotaur itu berbaring tak bergerak.


Izumi melompat mundur.


"Sekarang, Samejima! Serang dia sekarang!" Izumi menoleh ke arah Samejima. Pemuda itu menatapnya dengan pandangan kosong.


"U-um... Izumi-kun...."


"Ada apa!? Serang dia sebelum dia bangun!" seru Izumi, menunjuk Minotaur itu.


"I-Izumi...."


"Jangan ganggu, Erina! Cepat! Waktunya sedikit!"


"Izumi... Dia sudah mati...." Suara Erina sampai di telinga Izumi.


"Ah." Pemuda itu membuka mulutnya. Menatap monster yang berbaring tanpa nyawa.


"...."


"...."


"...."


"... Maaf."


Akhirnya, pertarungan pertama mereka berakhir dengan tenang.