Re: Turning

Re: Turning
Keinginan



Shinnichi menghela nafasnya. Ia masuk ke dalam kamarnya. Hampir ambruk di depan pintu.


“Kukira aku akan mati….” Shinnichi bergumam sedikit ketakutan. Pria kekar bergaun merah muda itu sepertinya membangunkan insting lari atau bertarungnya.


Shinnichi berjalan ke arah salah satu ranjang lalu berbaring di atasnya. Empuk dan lembut. Ia menjatuhkan tas yang berisi pakaian di sampingnya. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tertutup.


“Kau berlebihan lagi. Dia hanya Manusia biasa, kau tahu itu?”  Schwarz berkomentar dari dalam kepalanya.


“Maaf, dari segi mana orang itu ‘biasa’?” Shinnichi mempertanyakan pendapat Schwarz. “Matamu sudah rusak ya? Apa kau perlu kacamata?”


“Aku melihat melalui matamu, bodoh.”


“Oh, benar juga.” Shinnichi mengangguk. “Berarti yang salah itu kepalamu.”


“Bocah sialan!”


“Bercanda. Bercanda. Kau ini terlalu serius.” Shinnichi mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepalanya.


“… Terserah kau sajalah.” Gantian Schwarz yang menghela nafas. “Ngomong-ngomong, gadis itu dari tadi menguping kan?.”


“Yah, dia Beastkin kelinci, jadi bukankah itu jelas? Pendengaran tajam dan semacamnya.” Shinnichi bangkit dari kasurnya. Merogoh tas yang ia jatuhkan tadi.


Di saat yang bersamaan, pintu kamar mandi terbuka. Genia menundukkan kepalanya.  Kedua telinganya terkulai layu. Terlihat takut seperti biasa. Ia terlihat jauh lebih bersih. Rambut cokelat terangnya kini bebas dari debu. Kulitnya putih bersih. Jika bukan karena memakai kain kumuh, Shinnichi mungkin mengira bahwa Genia itu gadis biasa.


“Ma-maafkan aku….” Genia mencoba mengeluarkan suaranya.


“Kenapa kau meminta maaf?” Shinnichi tidak mengerti gadis ini. “Sini.”


“Baik….” Ia menghampiri Shinnichi dengan langkah pelan. Tak berani menatap Shinnichi.


“Ulurkan tanganmu.”


Genia dengan diam mengangguk dan melakukan apa yang dikatakan Shinnichi. Ia sudah pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Dulu saat majikannya mendapatinya mencuri makanan. Kedua tangannya dicambuk sampai memar. Bukan pengalaman yang ingin ia ingat. Tapi, ia hanya bisa menerima ini.


Namun, rasa pedih yang ia sangka akan dirasakannya tidak datang. Sebuah sensasi lain terasa di tangannya. Ringan, hangat, dan lembut. Genia menaikkan kepalanya, di atas kedua tangannya, Shinnichi memberikannya sebuah set pakaian.


“Ini…?” Genia membulatkan matanya.


“Pakaian untukmu.” Shinnichi menjawab singkat.


“Untukku? Kenapa?” Genia tidak mengerti.


“Kenapa kau bertanya?” Shinnichi lebih tidak mengerti. “Tinggal pakai saja, kain itu tidak cocok untukmu. Anggap saja hadiah untuk info kemarin.”


“Hadiah….” Genia menatap pakaian yang ada di tangannya. “Hadiah….”


Genia mendekap pakaiannya dengan erat. Ia kembali menundukkan kepalanya. “Te-terima kasih.”


Suaranya bergetar. Seperti menahan tangis. Shinnichi tidak mengatakan apa-apa tentang itu.


Shinnichi tersenyum samar. Ia tidak bisa melihat wajah Genia, namun sepertinya gadis itu terlihat senang.


“Ganti pakaianmu lalu temui aku di bawah. Aku mau makan dulu.” Shinnichi menepuk-nepuk kepala Genia tanpa sadar sebelum keluar dari kamarnya. Meninggalkan Genia sendirian.


Gadis Beastkin itu memegang kepalanya. Menyadari apa yang diterimanya. Sentuhan lembut. Sentuhan yang sudah lama tidak ia rasakan. Genia terus mendekap hadiah dari Shinnichi.


❂❂❂❂❂❂


Shinnichi turun ke area makan. Ramai; pelayan bergerak ke sana kemari dengan lincah. Membawa berbagai macam pesanan. Manusia, Beastkin, bahkan Elf dan Dwarf berkumpul dan berbincang ria di sini. Suasana tempat itu secara praktis berteriak ‘dunia lain’ dan ‘fantasi’.


Shinnichi menemukan sebuah meja kosong di pojok ruangan. Ada sebuah tanda di atasnya, bertuliskan “Reservasi untuk tuan Shinnichi”. Shinnichi menggaruk kepalanya, terlalu kagum dengan pelayanan penginapan ini.


Baru sekejap duduk, seorang pelayan datang menghampirinya. Seorang gadis cantik berambut pirang pendek. Telinga runcingnya menandakan bahwa ia adalah seorang Elf. Ia menuangkan segelas air putih di hadapannya dengan Batu Sihir. Selesai, ia tersenyum ramah.


 “Permisi tuan, apakah Anda siap memesan?”


Gila, profesional banget! Shinnichi membatin kagum dalam kepalanya. Ia tersenyum kaku.


Shinnichi mengambil menu yang berdiri di atas meja. Meskipun ini bar, aura yang diberikan terasa seperti restoran bintang lima. Menu yang disajikan juga terlihat biasa.


Shinnichi menatap menu itu sebentar. Memilih makanan yang ingin ia pesan. Setelah hampir lima menit, ia memutuskan. Ia menjentikkan jarinya.


“Aku pesan semua makanan yang ada di menu ini.” Shinnichi menunjuk buku menunya.


Senyum ramah Elf itu sedikit rusak sekarang. Ia meragukan telinganya. “M-maaf, tuan? Sepertinya saya salah dengar….”


“Aku pesan semua makanan yang ada di menu ini. Ah, jangan gunakan terlalu banyak garam, aku kurang suka makanan asin.” Shinnichi mengulangi perkataannya dan menambahkan sedikit permintaan.


Keringat dingin menuruni dahi pelayan itu. Tapi, ia masih mencoba untuk terlihat profesional, dan tersenyum. “A-apakah itu semua, tuan? Ba-bagaimana dengan minumnya?”


Pelayan itu menduga Shinnichi akan memesan seluruh minuman dalam menu. Ia tahu itu. Firasatnya memberitahunya.


“Ah, Ale jahe, dua gelas saja.”


Kok biasa?!


Pelayan itu tidak mengatakan apa-apa. Entah kecewa kepada dirinya sendiri atau kepada Shinnichi. Ia mencatat pesanan Shinnichi lalu kembali ke dapur setelah memberitahu Shinnichi untuk menunggu.


Shinnichi meminum air putihnya. Sekedar membasahi tenggorokannya. Ia menghabiskannya setelah dua teguk. Air biasa terasa tidak enak dibandingkan dengan air penyembuh Emphiria. Diam-diam ia mengisi gelas itu dengan air dari kristal biru yang dikalungkannya.


“Lebih baik,” komentarnya setelah meminum air itu.


“T-tuan.”


Sebelum ia bisa menghabiskan airnya, seseorang memanggilnya. Ia menoleh ke samping. Seorang gadis Beastkin kelinci. Rambut cokelatnya mengalir dan mengkilat seperti madu. Memakai tunik cokelat dengan celana dan sepatu boot kulit sewarna. Penampilan simpel, namun menarik mata. Kedua telinga kelincinya berdiri tegap. Melihat bagaimana para pria menatapnya, sudah jelas ia adalah gadis yang cantik.


Genia berdiri. Sedikit malu dan sedikit gugup.


“Oh, kau sudah datang.” Shinnichi menaruh gelasnya.  Mengisinya lagi lalu berhenti sebelum meminumnya. Sadar bahwa Genia masih berdiri. “Tunggu apa lagi? Duduk.”


“Ah baik.” Genia membungkukkan tubuhnya. Bersiap untuk duduk di lantai.


‘Tunggu! Tunggu!” Shinnichi menghentikan Genia sebelum ia bisa duduk di atas lantai. “Apa yang kau lakukan?”


“Ma-maafkan aku! A-apakah aku tidak diperbolehkan duduk?”


“Duduk di kursi.” Shinnichi menggaruk kepalanya. Heran, ia menggerutu. “Ya ampun, akal sehat di dunia ini benar-benar aneh.”


“Dia mantan budak. Sudah jelas ia akan bertindak seperti budak.” Schwarz menjelaskan.


“Kau tidak bisa memberitahuku lebih awal?” Shinnichi mengeluh. Jika dipikir-pikir, seharusnya Shinnichi tahu itu.


Genia menatap kursi dan Shinnichi bergantian. Masih tak yakin apa yang harus dilakukannya. “A-apakah aku benar-benar boleh duduk di sini?”


“Dengar,” kata Shinnichi, mulai muak. “Kau ini bukan budak lagi. Tak usah bertingkah seperti seperti budak.”


“Aku…. bukan budak lagi?” Genia kembali membulatkan matanya tak percaya. Kedua kalinya hari ini. “Tu-tuan tidak menginginkanku?”


“Haah?! Kau bukan milikku dari awal.” Shinnichi tidak mengerti arah pemikiran gadis ini.


“Benar, dia milikku.” Suara seseorang menimpalinya.


Ekspresi Genia langsung berubah. Ketakutan dan teror mengisi hatinya. Shinnichi menyadari perubahan itu. Ia menoleh ke belakang.


Seorang pria gemuk tersenyum lebar di depan. Memakai jubah hijau yang terlihat mahal dan membawa sebuah tongkat emas. Seorang bangsawan atau semacamnya. Sayang, aura berwibawa tidak dimilikinya. Dari jauh, seseorang mungkin menyangkanya sebagai anak Orc.


Di belakangnya, sepasang laki-laki kembar. Rambut merah menyala, wajah sangar, dan otot kekar. Memakai zirah hijau lengkap, tampilan pria macho yang sempurna. Masing-masing membawa sebilah Greatsword yang melebihi tinggi badan 2 meter mereka. Mereka berdiri seperti patung.


Dilihat dari jauh pun jelas. Kedua orang itu adalah pengawal pria yang mirip anak Orc itu.


“….”


“Oho, ada apa? Kau tidak tahu diriku?” Pria gemuk itu pura-pura terkejut. “Aku Gerald Grog Greenmile, anak kedua dari Ketua perusahaan Greenmile. Atau dengan kata lain,  pemilik kereta kuda dan budak yang satu ini.”


Gerald menunjuk ke arah Genia. Gadis itu hampir menangis ketakutan.


“….”


“Hmm? Bukankah kau terlihat lebih cantik?” Gerald berjalan ke arah Genia. Membela rambutnya. Gadis Beastkin itu ingin berlari, tapi ketakutan yang tertanam dalam hatinya terlalu besar. Ia tidak bisa melakukan apa-apa.


“Jadi, apakah kau menikmati dirimu sendiri? Aku secara pribadi tidak sabar untuk kembali bermain denganmu.” Gerald berbisik.


Genia semakin menyusut dalam ketakutannya. Gerald adalah salah satu majikannya. Ia memiliki banyak pemilik sebelumnya. Dan di antara mereka, Gerald lah yang paling buruk. Memukul, menampar, memecut. Tak terhitung berapa kali pria ini menyiksa dan menghinanya.


Gerald membiarkan Genia sendirian dengan pikirannya. Ia mengalihkan pandangannya kepada Shinnichi. Pemuda berambut hitam itu tidak mengatakan sepatah katapun. Hanya menatap dalam diam.


“Jelaskan, di mana kau menemukan kereta kuda kakakku?” Gerald bertanya.


“… Di hutan, aku membawanya ke sini karena kereta kuda itu ditinggal.” Shinnichi menjawab datar meskipun sedikit berbohong.


“Ah, kakakku dan pengawal bodohnya itu pasti mati dimakan monster.” Gerald tertawa riang. Seolah-olah tidak peduli dengan nasib kakaknya. “Yah, setidaknya dengan ini aku bisa menjadi pewaris tunggal perusahaan Ayahanda.”


Shinnichi mengkerutkan dahinya. Namun, Gerald tidak peduli. Ia lebih mementingkan harta warisan yang akan diterimanya.


“Tuan muda, ini sudah waktunya.” Seorang pengawal mengingatkan Gerald.


Pria gemuk itu menyadari tingkahnya. Ia mengangguk. Lalu, dengan kasar mencengkram telinga Genia.


“Argh-! S-sakit!” Genia memekik kesakitan.


“Diam! Dasar hewan kotor!” Gerald membentaknya. Membuat gadis itu terdiam. “Kau berani melawan majikanmu!? Akan kupotong telinga ini!”


Genia hanya bisa menurut. Ia adalah budak. Budak tidak bisa melawan majikan mereka. Di dunia ini, ia ada di tingkat terbawah.


Hatinya sakit. Ia tidak ingin ini lagi. Ia bahkan tidak bisa meminta bantuan kepada Shinnichi. Membebaskan seorang budak tanpa izin majikannya adalah perbuatan yang melanggar hukum di dunia ini.


Genia hanya bisa menahan perasaan di dalam hatinya. Mencoba untuk tidak memperlihatkan ekspresi sedih kepada penyelamatnya. Satu hal yang disesalinya karena ia tidak pernah meminta namanya. Dan mungkin, ia takkan pernah tahu.


“Tunggu.” Suara Shinnichi menghentikan Gerald. Ia barusan akan keluar.


. Lalu, ia bertanya.  “Apa yang kau inginkan?”


“Hmm? Aku-“


“Diam wajah ****. Aku tidak bertanya kepadamu.” Shinnichi menatap Gerald tajam, Aura membunuh yang kuat membuatnya dan kedua pengawalnya diam di tempat. Membeku di tempat.


“Genia.” Shinnichi memanggil namanya. “Apa yang kau inginkan?”


Genia takut. Ia sudah pernah mengalami neraka dan ia tidak ingin kembali ke sana lagi.  Ia tidak ingin tidur di lantai yang dingin lagi. Ia tidak ingin makan makanan sisa lagi. Ia tidak ingin terkena pukulan lagi. Ia tidak ingin kembali.


“A-aku….: Genia mulai mengangkat suaranya.  Dengan wajah berlinang air mata, ia menatap Shinnichi. Untuk pertama kalinya setelah entah berapa lama, Genia akhirnya mengucapkan keinginannya. “A-aku ingin bebas! Aku tidak ingin menjadi budak! ”


Shinnichi mengangguk. Tak mengatakan apa-apa, ia mengubah tangan kanannya menjadi Abyssal Mist.


“AP-!? ARGH!”


“”Tuan muda!!””


Sebelum bisa bereaksi, Shinnichi memecut wajah Gerald. Membuat pemuda itu melepaskan Genia. Kedua pengawalnya bereaksi terlalu lambat.


“Hnn!” Shinnichi menanamkan sebuah pukulan, telak ke wajah si gendut itu. Sensasi lembut yang dirasakan Shinnichi tidak menghentikan gaya dorongan dahsyat kepalannya.


Tubuh gendut Gerald melayang di udara. Didorong oleh daya pukulan Shinnichi.


 “GOHH!”


“UWAH!”


Kedua pengawal itu merasakan tubuh gendut Gerald menghantam mereka. Rasanya seperti dihantam gada. Dan seperti ditembak oleh meriam, mereka ikut terlempar ke belakang.


Brakk! Suara keras timbul saat tubuh mereka menubruk dinding, menghancurkannya. Dengan dampak keras seperti itu. Dalam sekejap, sebuah lubang tercipta di dinding penginapan. Dan ketiga orang itu terkapar di luar.


Pengunjung lainnya hanya bisa menatap tidak percaya. Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari dua detik. Mereka menatap lubang itu dan Shinnichi bergantian.


Shinnichi tidak memperdulikan mereka. Ia menatap Genia. Gadis itu balik menatapnya dengan wajah tidak percaya dan berlinang air mata.


“Lihat? Apakah itu sulit dilakukan?” Shinnichi mengangkat bahunya. Tersenyum samar.


Genia butuh beberapa saat untuk memproses perkataan Shinnichi. Kemudian, ia juga tersenyum.


❂❂❂❂❂❂


Shinnichi memakan sebuah apel dengan lahap. Entah buah keberapa pagi itu, ia sendiri tidak menghitungnya. Ia berjalan menelusuri pasar yang ramai, sesekali berhenti untuk melihat-lihat barang dagangan.


Memakai kemeja putih, rompi hitam dan celana sewarna dengan sepatu kulit, ia terlihat seperti memakai seragamnya saat di istana. Minus, tuxedo berekornya. Ia tidak akan memakai hal seperti itu untuk pakaian kasual.


“Haah, dasar bangsawan sialan. Bukan salahku tubuhnya begitu gendut sampai menghancurkan dinding. Aku hanya memukulnya dengan pelan padahal.” Shinnichi menggerutu sambil berjalan.


Jika Gerald tahu Shinnichi menahan kekuatannya, ia pasti menangis ketakutan.


Semalam, setelah Shinnichi membuat ketiga orang itu terkapar, ia dipanggil oleh pemilik penginapan untuk membayar biaya kerusakan. Sekitar empat koin emas. Jumlah yang cukup untuk menghidupi keluarga beranggotakan empat selama dua generasi di dunia ini.


Empat koin emas itu cukup kecil dibandingkan dengan jumlah uang total Shinnichi. Tapi, perasaaan yang didapat saat seseorang membayar sesuatu yang tidak mereka lakukan itu benar-benar tidak mengenakkan.


Shinnichi menghela nafas. Secara teknis, ia juga mencuri dari perusahaan Greenmile. Kereta kuda yang ia gunakan juga menghilang.  Sepertinya perusahaan itu akan mengincarnya di masa depan. Menyusahkan saja, batin Shinnichi.


Shinnichi mengeluarkan buku catatan (Emphiria) miliknya. Ada beberapa hal yang dijadikan daftar di situ.


“Bahan makanan, baju, peralatan memasak. Peta juga sudah.” Shinnichi mencentang daftarnya dari buku catatan Emphiria. Kini menulis menggunakan tinta dan bulu unggas biasa. Ia ingin membeli pulpen, tapi sepertinya dunia ini belum mempunyainya.


“Sihir ada di mana-mana, tapi pulpen sederhana pun tak ada.” Shinnichi menghela nafas. Perkembangan teknologi dunia ini terlalu aneh. “Hmm, apa yang kurang? Apa yang kurang?” Shinnichi mengetuk-ngetuk bukunya.


“Ah! Apel!” Shinnichi teringat sesuatu yang penting. Shinnichi mengangguk. “Baik, aku akan membeli semua apel yang ada di tempat ini!”


Membuat pernyataan yang mengerikan, Shinnichi sepenuhnya serius. Toko yang butuh apel akan kesusahan beberapa minggu ke depan.


"Hmm?" Shinnichi menoleh ke belakang. Merasakan seseorang tidak mengikutinya.


Tatapannya tertuju kepada seorang gadis Beastkin yang berjongkok sedikit jauh di belakangnya. Menatap bermacam-macam bumbu.


“Genia.” Shinnichi memanggilnya namanya. Gadis itu menoleh. “Oi, kau mau kutinggal? Ayo.”


“Ah, baik-” Genia berlari kecil mengikutinya. Ia tersenyum kecil sebelum menyelesaikan kalimatnya. “-Shinnichi-sama.”