
Shinnichi menarik bilah hitamnya dari leher seekor Filbrum. Darah mengalir dari lubang yang tercipta. Melenguh pelan selagi cahaya mulai meninggalkan hewan rusa mirip burung itu.
Shinnichi menghembuskan nafasnya. Tersengal-sengal, ia mencoba memasukkan udara ke paru-parunya. Hampir setengah jam ia memburu hewan ini.
Shinnichi merubah bilah hitam ke tangannya kembali. Pemuda itu menepukkan kedua tangannya. Mendoakan agar hewan itu mati tenang.
"Lumayan. Ini bisa mencukupi makananmu untuk beberapa saat." Dari dalam kepalanya, komentar Schwarz terdengar. "Tapi, aku melihat bagaimana kau bergerak. Masih banyak gerakan yang tidak perlu. Kau butuh latihan lebih."
Shinnichi mengangguk. "Iya, iya," jawabnya malas.
Ia melepaskan sabuknya lalu mengikat kaki belakang hewan itu. Ia menariknya ke sebuah pohon besar. Berniat menggantungkannya.
Dengan kekuatan barunya, ia bisa mengangkat hewan itu dengan mudah. Seperti mengangkat sebuah batu ukuran sedang.
Berhasil menggantungnya di atas pohon, Shinnichi memenggal kepala Filbrum. Kembali membiarkan darah mengalir ke bawah. Ia mengubah tangan kanannya menjadi sebilah pisau pendek. Ia menatap hasil buruannya.
"Sial, aku benci ini." Shinnichi mengumpat pelan. Ia mulai menguliti Filbrum itu.
"Oh? Kukira kau bodoh. Ternyata kau punya sedikit kegunaaan ya?"
"Aku tidak terlalu ahli. Hanya dasar-dasarnya saja." Shinnichi mengiris perut hewan itu.
Sebelum datang ke dunia ini, Shinnichi adalah pemuda yang aneh. Berbeda dengan orang lain, ketertarikan Shinnichi terletak pada sejarah dan masa lalu; terutama abad pertengahan dan peperangan. Jika seseorang melihat sejarah penelusurannya, mereka pasti ketakutan. Senjata di masa abad pertengahan, cara-cara penyiksaan, teknik berburu, permainan pedang, bahasa kuno, bahkan pakaiannya.
Meskipun orang lain berpikir itu sia-sia, Shinnichi dulu benar-benar terobsesi dengan hal-hal semacam itu. Dapat dilihat bahwa ia adalah seorang otaku sejarah. Atau lebih tepatnya, seseorang yang mempersiapkan diri untuk dipanggil ke dunia lain.
Pengetahuan-pengetahuannya yang aneh itu kini cukup berguna di dunia lain yang notabenenya masih memakai teknologi abad pertengahan. Sepertinya ia harus berterimakasih kepada dirinya sendiri. Meskipun ia masih ingin memukul dirinya empat tahun yang lalu.
❂❂❂❂❂❂
"-- [Spark]." Shinnichi menyulut api. Menggunakan kayu yang ia kumpulkan sebelumnya, ia membuat api unggun. Di atasnya, terdapat beberapa potong daging.
Bau darah dan asap mulai memenuhi udara sekitar. Diikuti dengan derakan api. Shinnichi menyandarkan tubuhnya di batang pohon yang sudah jatuh. Berburu hewan lebih melelahkan daripada yang ia kira. Shinnichi menutup matanya.
"Tertidur di sini dan kau akan mati." Peringatan dari Schwarz membuatnya kembali terjaga. "Monster di sini tidak akan menunggumu bangun saat memakanmu."
"Tempat ini benar-benar menyebalkan." Shinnichi menggerutu. Ia mulai menusuk-nusuk abu menggunakan tongkat kecil. "Aku tidak tahu bagaimana kau bisa hidup di sini."
"Aku kuat," jawab Schwarz sombong.
"Ya? Dan kau payah memilih rumah," cetus Shinnichi. Menyentuh daging di atas api yang mulai matang.
"Dungeon ini bukan rumahku. Ini milik... kakakku."
Shinnichi yang berniat mengambil dagingnya membeku di tempat. "Kau numpang di rumah kakakmu?"
"A-aku tidak numpang. Hanya tinggal sebentar." Suara Schwarz terdengar ragu.
"Itu numpang namanya." Shinnichi mengambil dagingnya dengan santai. Tidak merasakan panas karena tangan barunya. "Jadi kau hanya membual ya?"
"A-apa!? Aku ini Kaisar Naga!"
"Kaisar naga kok numpang." Shinnichi mengangkat bahunya. Ia menggigit daging itu. "Bueh!" Dan langsung meludahkannya.
"Daging apa ini!? Pahit!" Shinnichi meludah. Membersihkan lidahnya dari rasa pahit.
"Inilah yang dinamakan karma! Hahaha!" Schwarz tertawa puas.
"Oi! Kau membodohiku!" seru Shinnichi kesal. "Daging rusa ini benar-benar pahit! Aku tidak bisa memakannya!"
Schwarz berhenti tertawa setelah beberapa saat. "Monster di sini terbuat dari Arcana. Tentu saja mereka pahit."
"Apakah semua makanan di sini rasanya pahit seperti ini?"
"Benar."
"Bahkan buah-buahan?"
"Tak ada gunanya mengeluh." Schwarz terdengar santai. "Kau tidak bisa memilih-milih di sini. Makan atau mati, itu pilihanmu."
Shinnichi menatap daging di atas api. Menggiurkan, tapi rasanya benar-benar pahit. Perut Shinnichi kembali berbunyi.
"Sial...." Shinnichi mengumpat.
Ia menggertakkan giginya sebelum kembali mengambil gigitan. Mengisi mulutnya dengan daging pahit itu. Dengan enggan, ia menelannya.
Menerima makanannya, perutnya terasa sedikit terisi. Shinnichi meringis. Ia terus memakan daging Filbrum itu.
❂❂❂❂❂❂
"Aku ingin muntah."
"Jangan. Kau membuang-buang makanan."
"Ugh."
Derak api kembali terdengar. Menggeser arang dan menerbangkan abu ke udara. Bunga api menjilat-jilat, memberi suatu ketenangan kecil.
Shinnichi duduk sambil memegang sebatang tongkat kecil dengan ujung yang mulai hangus. Sudah berada di samping api unggunnya selama beberapa jam.
Shinnichi sudah menghabiskan satu kaki. Rasanya pahit, tapi pilihan apa yang ia punya? Meskipun ia sudah mencuci mulutnya dengan air dingin. Sepertinya rasa daging itu tidak akan menghilang dalam waktu dekat.
"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa memakan daging menjijikkan seperti itu," keluh Shinnichi.
"Aku tidak pilih-pilih makanan."
"Ada yang namanya tidak pilih-pilih dan ada yang namanya rakus. Kurasa kau masuk yang terakhir."
"Aku tidak ra—! lupakan saja."
"?"
Shinnichi menelengkan kepalanya. Tak mengerti Schwarz. Ia memutuskan untuk mengabaikannya.
"Hei Schwarz, Dungeon ini punya berapa lantai?" Shinnichi bertanya, sedikit penasaran.
"Ada 102 lantai. Masing-masing lebih berbahaya dari yang terakhir. Hanya orang—"
"102 lantai ya," gumam Shinnichi. Tak terlalu mendengar perkataannya.
Ia memikirkan peluangnya untuk keluar. Ia perlu menaiki 78 lantai untuk keluar. Tapi, jika ia turun, ia hanya butuh 24 lantai sebelum mencapai dasar Dungeon. Jiwa penjelajahnya tergelitik.
"— Oleh karena itu, tak ada yang dapat mencapai lantai terakhir. Mengerti?" Schwarz mengakhiri penjelasannya yang cukup panjang.
"Ah, iya bagus bagus." Shinnichi hanya mengiyakan apa yang dikatakan Schwarz. "Ngomong-ngomong, kakakmu ada di dasar 'kan? Apakah dia bisa mengabulkan permintaan?"
"Ah, jadi seorang Dungeon Master." Shinnichi mengangguk-ngangguk.
"Dungeon Master. Kedengarannya cukup cocok."
Shinnichi hanya menggelengkan kepalanya. Kaisar naga ini memang seorang chuuni tulen. Ia juga sedikit kaget karena Schwarz tahu cerita jin dalam lampu ajaib. Dunia ini memang aneh, pikirnya.
"Kau tahu, aku sudah memutuskan." Shinnichi melempar tongkatnya ke dalam api. "Aku akan menuruni Dungeon ini."
"Kau benar-benar tuli ternyata. Aku yang ada di kepalamu juga tidak didengar."
"Aku tidak mendengarkan, maaf."
"Itu yang baru saja kubilang!"
Schwarz tercengang. Kenapa bisa ada orang yang tidak mendengar suara di kepala mereka sendiri?
"Dengar, Dungeon ini sangat berbahaya. Setiap lantai lebih mematikan daripada yang terakhir. Terutama di Great Dungeon. Kau perlu mengalahkan bos lantai sebelum melanjutkan ke lantai selanjutnya," jelas Schwarz. Agak frustasi karena harus mengulangi penjelasannya lagi.
Seperti namanya, bos lantai adalah monster yang menguasai sebuah lantai di Dungeon. Biasanya mereka hanya muncul di Dungeon tingkat sedang ke atas. Di labirin tingkat tinggi seperti Great Dungeon Gram, monster biasa saja sudah cukup mematikan. Bos lantai tentu saja berada di tingkat lain.
"Aku tahu itu. Tapi, naik ke atas membutuhkan waktu yang terlalu lama," jawab Shinnichi. Mengangkat bahunya. "Aku tidak mau membuang-buang waktu."
Waktu adalah segalanya bagi Shinnichi. Ia tidak tahu berapa lama ia sudah berada di sini. Tapi, yang jelas adalah ia tidak mau berlama-lama.
".... Baiklah." Schwarz setuju setelah diam beberapa saat. "Tapi, aku punya permintaan."
"Akan kulakukan jika mampu."
"Bunuh Wolfsdämon." Suara Schwarz terdengar dingin. Penuh dengan kebencian dan dendam. Shinnichi sendiri bahkan merinding sedikit.
"Wolfsdämon. Siapa itu?"
"Monster terkuat di Dungeon ini. ******** itu merebut sesuatu yang penting dariku. Bunuh dia dan aku akan memberimu imbalan."
Penjelasan samar Schwarz membuat Shinnichi bertanya. Seperti apa rupa monster ini? Apa yang direbutnya?
"Bagaimana aku bisa menemukannya? Seperti apa wujudnya?" Shinnichi memutuskan untuk tidak terlalu menggali dalam privasi Schwarz.
"Kau tak perlu khawatir. Selama kau berada di dalam Dungeon kau akan menemukannya," jawab Schwarz tak khawatir. "Lalu, untuk rupanya. Kau akan mengetahuinya saat kau bertemu dengannya."
"Kau tahu, penjelasan itu benar-benar tidak berguna."
Shinnichi berdiri. Mulai memotong kembali daging Filbrum. Mengingat rasa daging itu membuatnya meringis.
"Aku tidak mengerti. Aku baru saja makan. Tapi, kenapa aku merasa lapar lagi?"
"Metabolisme yang cepat dibutuhkan tubuhmu. Karena kau Manusia —atau lebih tepatnya mantan manusia, kau harus makan. Kau akan terus merasakannya sampai tubuhmu menyesuaikan diri dengan kekuatanku."
"Uwa, merepotkan." Shinnichi menusuk tiga lapis daging dengan Abyssal Mist. Memanggangnya di atas api. "Jadi, tubuhku akan terus berubah? Rambutku tidak akan berubah warna atau semacam itu 'kan? Tolong katakan tidak."
"Kenapa kau begitu menolaknya?" gumam Schwarz. Sedikit sedih karena ia pikir warna rambut kontras itu keren. "Tidak, rambutmu tidak akan berubah seperti matamu."
"Ah, syukurla— Tunggu." Shinnichi membeku. Keringat dingin mengucur dari dahinya. "M-mataku berubah warna?"
"Kau belum menyadarinya? Mata kirimu rusak, jadi aku menggantinya. Dengan warna kebanggaanku, Ungu!"
Shinnichi menjatuhkan dagingnya. Suara plak keras terdengar. Ia bergegas ke sisi sungai.
Ekspresi panik wajahnya terlukis jelas di permukaan air. Shinnichi membuka kelopak mata kirinya. Ia bisa melihat iris berwarna ungu. Memantulkan cahaya samar.
"Bagaimana? Bukankah itu menakjubkannya?"
"...."
"Hmm? Bocah? Kau masih di sa— A-apa yang kau lakukan?! Oi! Jangan congkel matamu!"
❂❂❂❂❂❂
"Ah, cahaya di atas langit memanggilku pulang."
"Jangan katakan hal aneh seperti itu. Kau sudah kehilangan akalmu?"
Duduk memeluk lututnya, Shinnichi menggumamkan hal-hal aneh. Terlalu aneh. Sang Kaisar naga bahkan khawatir.
"Kau! Kau yang kehilangan akalmu!" Shinnichi tiba-tiba membentak. "Kenapa kau memberiku mata ini??"
"Apa maksudmu? Mata itu adalah berkah." Schwarz terdengar sombong dan bangga.
"'Berkah' pantatku! Ini mata orang chuuni!" Shinnichi menunjuk mata kirinya. Hitam dengan iris ungu. "Ah, biarkan aku mati saja."
".... Baru pertama kalinya aku melihat seseorang begitu menolak [Soul Eyes]," kata Schwarz. Setengah bingung, setengah terkejut. "Paling tidak coba kemampuan barumu."
Shinnichi menghela nafas. Ia menutup matanya. Menangkup tangannya di mata kanannya, ia membuka mata kirinya.
Gelap. Tapi, ia bisa melihat cahaya. Banyak, warnanya beragam. Kuning, hijau, biru. Butuh beberapa saat untuk menyesuaikan diri. Kemudian ia sadar, cahaya-cahaya itu bergerak. Melewati siluet pepohonan dan bebatuan. Ia masih bisa melihatnya.
"Apa ini? Pengelihatan Elang?" gumam Shinnichi, kagum. Mengingat kemampuan di seri game favoritnya. "Cahaya ini...."
"Jiwa," sambung Schwarz. "Seperti namanya, [Soul Eyes] mampu melihat jiwa makhluk hidup. Warna jiwa mereka menggambarkan kecocokan sihir dan kesucian jiwa. Tanaman tidak termasuk."
"... Kenapa kau mengatakan itu seolah-olah memasarkannya?" Shinnichi bergumam. "Kemampuan ini cukup bergu— huh? Apa itu?"
Di ujung oasis, mata Shinnichi menangkap sosok besar. Cahaya merah yang terang. Bentuknya tidak jelas. Lalu.
Cahaya itu melesat ke arahnya.
"!?"
Shinnichi menyiapkan dirinya. Pengelihatannya kembali normal. Namun, ia tahu ada sesuatu yang mengincarnya.
"Persiapkan dirimu." Suara Schwarz terdengar tenang dan dingin. Seolah-olah ia sudah mengerti. "Wolfsdämon datang."
Bunyi pohon jatuh, gempa bumi dan seruan hewan memenuhi oasis. "GROOAAARR!" Lolongan monster itu menggetarkan udara. Membuat ratusan bahkan ribuan burung mengangkasa. Shinnichi bisa melihat sepasang tangan mengerikan raksasa di atas kanopi pohon.
"Begitu ya." Shinnichi menutup matanya. Ia menggeser kaki kirinya ke belakang.
Kemudian, lari sekuat tenaga ke arah sebaliknya.
"Oi! Oiii! Kenapa kau kabur!? Lawan dia!"
"Kabur? Salah. Ini teknik khususku! Jurus Seribu Langkah, [Nigerundayo, Smokey]!"
"OOIIIIIIII!!"