Re: Turning

Re: Turning
Tatapan



“Hehehe….” Kekehan terdengar di lapangan luas itu. Menggema di bawah langit malam. Seorang pria gemuk berjalan melewati mayat puluhan petualang. Beberapa masih hidup, nyaris.


“K-kau….” Seorang Beastkin Harimau, Hans menatap pria itu dengan ekspresi penuh kebencian.


Pria itu, Gerald tersenyum simpul. Sekejap kemudian, ekspresinya berubah buruk. Ia menginjak wajah Hans berkali-kali.


“Dasar hewan kotor! Diam dan mati sana!”


“Urgh!” Hans jatuh dengan wajah berlumuran darah.


“Paman Hans!” Seorang gadis Beastkin kelinci menyerukan namanya khawatir. Genia tidak tahan melihat seseorang yang mengajarinya dengan sabar beberapa jam yang lalu diinjak-injak seperti serangga. Namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Tangannya terkekang oleh salah satu penjaga Gerald.


Genia meronta. Mencoba melepaskan dirinya.“Kyaa!” Sia-sia, pria berambut merah, Heln mencengkram kedua tangannya dengan erat. Tidak membiarkan kesempatan kecil pun baginya untuk membebaskan dirinya.


“Oho? Sang kelinci kecil mencoba berlari lagi?” Gerald mendengar pekikan Genia. Ia menoleh ke arah Genia dengan senyum gelap.


Bagi Genia, senyum itu lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Ia sudah menderita di bawah senyum itu selama bertahun-tahun. Menahan dan berharap segalanya akan berakhir. Dan setelah ia kira semuanya baik-baik saja, teror kembali memegang kakinya.


“T-tidak….” Genia menggumam. Ia menolak untuk jatuh ke dalam jurang itu lagi. Bukankah ia berjanji kepada Shinnichi untuk menunggunya di sini?


Genia takut, tapi ia tidak akan membiarkan rasa takut itu menjadi alasan kelemahannya. Ia ingin menjadi kuat. Untuk bisa berdiri di samping Shinnichi. Agar Shinnichi bisa mengandalkannnya.


Geniamenggertakkan giginya. Ia tidak ingin merasa lemah lagi. Genia menatap Gerald tepat di mata. Gerak tubuhnya masih menandakan ketakutan, tapi matanya mantap dan penuh tekad.


“Berani menatap majikanmu seperti itu?”


Gerald menampar Genia. Suara yang menyakitkan bisa terdengar. Pipinya langsung memerah. Tapi, Genia tidak menangis atau memperlihatkan ekspresi sakitnya. Ia masih menatap Gerald dengan tajam. Gadis lembut yang polos tadi seperti menghilang darinya seutuhnya.


Gerald mundur beberapa langkah. Sedikit ketakutan dengan tatapan tajam Genia. Ia seperti orang yang berbeda. Gerald mendecakkan lidahnya. “Masukkan dia ke dalam kandang! Kita akan pergi ke Ibukota!”


❂❂❂❂❂❂


“Shinigami Putih!”


“Benar-benar hebat….”


“Inikah kekuatan Naga Iblis?”


“Tidak, ini baru setengahnya?”


“Luar biasa…..”


Ramley menatap Shinnichi dengan mata berbinar-binar. Kagum dengan sihir dan kekuatannya. Anggota party lain juga mengakui kehebatan Shinnichi. Mereka secara alami menerima gelar yang diusulkan oleh Ramley. Shinnichi di sisi lain.


‘Berhenti memanggilku dengan gelar aneh itu! Ah, aku mau mati. Malu oi!’ Ia berteriak dalam hatinya. Keinginannya untuk mengubur dirinya membesar setiap detik.


“Kenapa kau begitu enggan dengan gelar yang diberikan mereka? Malaikat Maut Putih, gelar yang cocok untuk seseorang dengan kekuatanku. Bukankah itu menandakan bahwa kau seorang yang kuat?” Schwarz mencoba menenangkan Shinnichi. Ia bisa merasakan hati pemuda itu yang entah kenapa terobsesi dengan mengubur dirinya sendiri.


“Malaikat Maut Putih….” Shinnichi menggumamkan gelarnya. Hanya merasakan geli serta malu yang besar.


‘Putih darimana? Penampilanku hitam dan ungu! Setidaknya yang akurat lah!’ Shinnichi menurunkan kedua bahunya kecewa. Ia kini yakin, penduduk dunia ini punya selera nama yang aneh!


“… Ayo kembali.” Shinnichi mengusulkan setelah beberapa saat diam. Anggota party Gruzzex setuju dengannya.


Gruduk! GRUDUK!


Shinnichi dan party Gruzzex baru saja berniat untuk pergi. Namun, belum dua langkah mereka berhenti. Tanah berguncang hebat. Seolah-olah gempa bumi besar terjadi tepat di bawah mereka.


“A-ada apa ini!?”


“Apakah peri bumi murka karena kita menghancurkan wilayahnya?!”


Gruzzex dan Jade bertanya bingung. Mewakili anggota Part yang lain. Sementara itu, Shinnichi memasang ekspresi kesal.


“Oh, yang benar saja! Bos lagi!?”


Dugaanya tepat.


Dari tengah-tengah lubang yang terisi, sesuatu naik. Menggali, atau lebih tepatnya, mendorong berton-ton tanah dan bebatuan. Dua detik kemudian, ia muncul.


“GRYAAAAA!!!”


Seekor kadal raksasa. Tidak, membandingkan makhluk itu dengan seekor kadal besar terlalu merendahkannya. Sepasang cula di atas mata hijaunya, duri-duri besar muncul di sepanjang punggungnya, enam kaki menopang tubuh kekarnya, sisik hijau kekuningan yang keras melindunginya. Ia adalah seekor monster legendaris. Ibu dari Meiolania. Alasan utama kenapa Meiolania, ras monster penyendiri, bergabung dan menciptakan sebuah pasukan.


Shinnichi mengaktifkan [Appraisal].


『Spesies : Basilisk


Level : 76


 


Stats


Agi : 123


Atk : 471


Int : 75


Vit : 809


 


Skill


[Petrification Gaze lvl.6] [Venom lvl.4] [Impenetrable Skin lvl.7] [Reproduction]


 


Title


[Mother] [Walking Curse]』


“Sial….” Shinnichi mengumpat lagi.


Level Basilisk mungkin lebih rendah daripada bos monster yang ia hadapi di Dungeon, tapi kekuatannya lebih tinggi. Skill yang bisa mengubah orang menjadi batu dengan sebuah tatapan? Itu cheat level tinggi!


“GRYAAA!!!” Basilisk kembali meraung. Murka karena melihat ratusan anaknya mati. Instingnya sebagai seorang ibu mendorong kemurkaannya ke titik tertinggi. Ia menyadari pelakunya. Basilisk menatap ke arah Shinnichi dan yang lain. Mata hijaunya mulai bercahaya merah.


“Jangan tatap matanya!” Shinnichi memperingati mereka.


“-!?”


Peringatan Shinnichi datang terlalu lambat. Higg dan Jane terkena tatapan Basilisk. Tubuh mereka bersinar terang sebelum berubah menjadi batu. Ketakutan dan keterkejutan menghiasi patung batu itu.


“Higg! Jane!” Gruzzex menyerukan nama rekan sepertempuran mereka. “Sialan!”


Gruzzex menarik pedangnya. Ia mencoba melompat turun untuk menghadapi Basilisk, namun Shinnichi mengentikannya.  “Minggir! Monster itu perlu mati!”


“Kau ingin berubah jadi batu juga?” Shinnichi bertanya tenang. Tak menoleh ke arah Gruzzex.


Ia merubah Abyssal Mist menjadi sebuah perisai besar. Menghalangi tatapan berbahaya Basilisk. Tentu saja, monster itu tidak membiarkannya. Ia meludahkan bisa ke arah Shinnichi. Ludah itu melelehkan bebatuan di sekitarnya namun perisai bayangan Shinnichi tidak bergeming. Inilah kekuatan Schwarz.


“Bagaimana bisa!? Apakah kau kebal dengan tatapan itu?!” Gruzzex melupakan tata kramanya. Ini adalah medan pertempuran. Dan musuh di depannya menyakiti orang yang berharga baginya.


Shinnichi tersenyum samar. “Aku seorang pengecut. Aku pasti melarikan diri jika suasananya memburuk.”


“Pengecut…?” Gruzzex bingung dengan perkataan Shinnichi. Bukankah ia akan menghadapi musuh itu sendirian? Pengecut mana yang berani melakukan itu?


“Gruzzex-dono!” Sam memegang bahunya. Membuatnya kembali tersadar. Ramley sudah memberikan sihir angin di bawah Higg dan Jane. Ramley menatapnya khawatir dan takut, sementara wajah Sam tersembunyi di bawah topeng hitamnya. Tapi, Gruzzex tahu.


‘Percayalah kepadanya.’


Hati nuraninya terus berbisik. Gruzzex mendecakkan lidahnya. Ia akhirnya mengangguk. “Tolong kembalilah dengan selamat!” Gruzzex membalikkan badannya. Berniat untuk pergi sesuai dengan perintah Shinnichi. Tapi, sebelum memasuki terowongan, tangan Shinnnichi memegang pundaknya.


Gruzzex terkejut. Apakah Shinnichi merubah pikirannya? Apakah ia akan menepati janjinya untuk tidak menghalanginya? Ia menatap Shinnichi dengan tatapan penuh harapan.


“Shinnichi-dono….”


“Tinggalkan zirahmu.”


“….”


Ia merasa dirampok.


❂❂❂❂❂❂


Pemuda berambut hitam itu menelan ludahnya. “Sial.” Shinnichi mengumpat sebelum melompat turun ke dalam lubang. Menghadapi Basilisk seukuran truk itu, Shinnichi merasa kecil.


“Hindari matanya. Bahkan kau akan berubah menjadi batu jika terkena tatapannya.” Schwarz memperingati Shinnichi. Ia pernah bertemu dengan monster semacam ini sebelumnya.


“Dasar Cheater.” Ia menggerutu. Abyssal Mist berubah menjadi bentuk favoritnya; sebilah pedang hitam.


“GRYA!”


Fwoosh! Basilisk menatap Shinnichi dengan mata merahnya lalu mengayunkan ekor panjangnya. Shinnichi uru-buru mengalihkan pandangannya, sekejap kemudian tekanan angin yang berat menerpanya. Bersamaan dengan sebuah ekor yang menghantam perutnya. Ia hampir terlambat mengangkat pedangnya untuk menangkis serangan itu.


“Ugh!” Shinnichi menghantam dinding gua dengan keras. Punggungnya yang harusnya tertusuk bebatuan dilindungi oleh jubah Schwarz.


Brak! Shinnichi menggertakkan giginya. Menggunakan dinding sebagai pijakan, Shinnichi melesat ke arah Basisilisk. Abyssal Mist terhunus ke depan, ia berubah menjadi sebuah anak panah. Basilisk menggerakkan tubuh besarnya. Sisik hijaunya berubah warna menjadi abu-abu besi.


Crang! Suara besi dapat terdengar. Abyssal Mist, pedang yang terbuat dari bayangan, pecah berkeping-keping saat berhadapan dengan sisik Basilisk. Daya pertahanan skill [Impenetrable Skin] terlalu besar untuk Abyssal Mist.


“-!?” Shinnichi melebarkan matanya. Tangan kanannya terdorong mundur karena hukum ketiga Newton. Saat bersamaan, kulit Basilisk kembali berubah hijau. Sebuah ekor besar kembali menghantam tubuhnya.


“Ugh!” Shinnichi menerima sapuan itu langsung. Perutnya terasa dipukul oleh sebuah tongkat baseball. Kali seratus lipat.


Tubuhnya kembali terlontar seperti batu yang dilempar anak kecil. Dinding gua hancur lebur seperti ditembak oleh sebuah meriam. Rasa sakit yang dirasakan Shinnichi mungkin bisa membuat orang lain kehilangan kesadaran dan merasakan putus asa. Namun, Shinnichi tidak menyerah. Ia tidak akan menyerah.


Ia mungkin menyebut dirinya pengecut. Bahwa ia akan melarikan diri jika ia tahu ia tidak akan menang. Tapi, Shinnichi tidak akan meninggalkan sebuah kota dalam bahaya. Ia mungkin mengeluh atau menggerutu, namun hatinya tidak akan membiarkan itu.


Shinnichi kembali berdiri. Telinganya berdengung dan pandangannya buram. Ia meminum air penyembuh Emphiria untuk kembali bertarung. Tangan kanannya sudah membentuk sebuah meriam hitam. Abyssal Mist tidak berefek, apakah Dominator juga sama?


Shinnichi mengarahkannya ke Basilisk yang menggeram. Matanya masih berwarna hijau. Apakah karena ia kehabisan Mana? Shinnichi tidak tahu. Ia menembakkan sebuah peluru Mana ke arahnya.


Dum! Peluru itu mengenai bahu sang Basilisk. Peluru Mananya berhasil mengusap debu dari sisiknya.


“Ck, kadal sialan…”


Pertahanan fisik dan pertahan sihirnya terlalu besar. Monster semacam ini pasti di-nerf jika ia berada di dalam sebuah game. Sang Basilisk meludah. Air liur berwarna hijau tertembak ke arahnya. Mendesis seperti air panas.


Shinnichi melompat ke samping. Bebatuan yang tadinya di bawah kakinya mulai menguap dan terkikis. Bisa Basilisk setara dengan cairan asam Blob di lantai ke 95. Tidak, mungkin lebih buruk. Setidaknya cairan asam itu tidak memiliki warna.


“Krya! Krya! Krya!”


Basilisk kembali meludah dan menembakkan bisanya ke arah pemuda berjubah hitam ungu itu. Dengan lihai, ia menghindari bisa berbahaya itu. Merundukkan kepalanya, meroda, dan menggunakan Abyssal Mist sebagai perisai.


Shinnichi tidak bisa mendekati kadal besar itu. Setiap kali ia mendekat, mata Basilisk menyala merah. Ia tidak bisa membahayakan nyawanya di sini. Berubah menjadi batu, kemudian dihantam dengan ekornya. Menghancurkannya berkeping-keping. Bahkan seekor Naga bisa mati dengan cara itu.


“Bagaimana aku bisa mendekatinya?” Shinnichi merasa frustrasi.


“Bukankah jawabannya mudah?” Schwarz mengerti hati Shinnichi. “Berhenti menggunakan matamu.”


Serang dengan membabi buta. Secara harfiah. Itu arti perkataan Schwarz. Tapi, apakah ia bisa menyerangnya? Bukankah pertahanan monster yang satu ini sangat tinggi? Shinnichi memutuskan untuk tidak mengkhawatirkannya untuk saat ini. Sepertinya ia harus menggunakan cara yang berbahaya.


Shinnichi menutup matanya. Ia menginjak tanah lalu mendorong tubuhnya ke depan Abyssal Mist kembali terhunus di tangannya. Ia berusaha untuk menghindari serangan Basilisk. Namun, monster itu tahu, mata tertutup adalah akhir bagi seorang Manusia.


Fwoosh! GRUAG! Bunyi angin terdengar saat Basilisk mengayunkan ekornya lagi. Kali ini ia menghantam ekornya ke tanah. Bersamaan dengan tubuh Shinnichi yang terkena ekornya.


“Gruagh!” Shinnichi merasakan udara terhempas keluar dari paru-parunya saat ekor besar Basilisk menghantam dadanya ke tanah. Suara retak bisa terdengar dari dadanya. Sepertinya satu atau dua tulang rusuknya patah.


Shinnichi ingin merutuk sekuat tenaga. Namun, bernafas saja menyulitkannya. Shinnichi mendecakkan lidahnya. Ia berguling ke samping. Menahan rasa sakit yang menusuk dadanya kemudian menenggak air penyembuh Emphiria.  Sedikit meredakan rasa sakit di dada kanannya.


Shinnichi bersiap-siap untuk kembali menyerang Basilisk. Monster itu sudah menyiapkan ekornya dan tatapannya. Jika ia menyerangnya lagi, dapat dipastikan Shinnichi akan jatuh ke dalam serangannya.


“Jangan tergesa-gesa!” Suara Schwarz menggema di kepalanya. Menghentikan Shinnichi. “Fokuskan dirimu ke inderamu yang lain!”


“Indera lain….” Shinnichi merenungi perkataan Schwarz.


Shinnichi memang pengecut. Tapi, ia bukan orang bodoh. Ia tahu pengelihatan hanya merugikannya jika bertarung dengan Basilisk. Apakah ia bisa menggunakan pendengaran atau penciumannya seperti protagonis dalam film atau anime? Jujur saja, ia sendiri ragu.


Shinnichi menutup matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam. Memfokuskan konsentrasinya ke telinganya. Ia berdiri diam seperti patung.


Basilisk tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia kembali mengayunkan ekornya. Tubuhnya yang besar membuatnya sulit bergerak dengan cepat. Kulitnya yang tebal melindunginya dari segala macam serangan. Ia adalah salah satu monster Tanker terbaik di Zelfria. Kekuatannya juga tak bisa dibandingkan dengan monster reptilia lainnya. Cukup dua sapuan ekornya untuk mengalahkan seseorang dengan zirah lengkap dan level tinggi.


Namun, makhluk di depannya tidak mati walaupun menerima dua sapuan ekornya. Kenapa? Insting Basilisk mengatakan bahwa pemuda di depannya bukanlah makhluk biasa. Ia memberikan kekuatan yang lebih ke serangan terakhir ini. Ia berniat untuk menghancurkan tubuhnya langsung.


Fwoosh! Tanah yang bergerak di bawah kakinya, suara angin yang mengikuti ekor itu, tekanan yang dibawanya. Shinnichi bisa mendengarnya. Shinnichi bisa merasakannya.


Shinnichi menggeser tubuhnya ke samping. Ia bisa merasakan angin menepis wajahnya saat ekor sang Basilisk melewatinya.


GRUM! Ekor itu menghantam tanah kosong. Gantian Basilisk yang membelalakkan matanya. Ia menyeret ekornya di tanah ke arah kaki Shinnichi.


“Hup!” Pemuda itu dengan mudah melompatinya. Shinnichi dengan cepat merubah Abyssal Mist menjadi Dominator. Ia menembak tepat ke arah mata Basilisk. Tembakan yang beruntung tentu saja.


“GRYAAAA!!!” Raungan Basilisk begitu keras, gua mulai berguncang. Shinnichi dengan cepat berlari ke arah Basilisk yang masih meronta-ronta kesakitan.


Matanya adalah kelemahannya! Shinnichi mengetahui fakta ini secara tidak langsung. Tapi, kemudian ekspresinya kembali gelap.


“Bukankah kekuatan terkuat Basilisk juga ada di matanya….?” Shinnichi merasa dirinya dijahili oleh seseorang.


Shinnichi tidak terlalu memikirkannya. Ia membuka [Storage] lalu mengeluarkan sebuah benda familiar. Sebuah zirah emas yang berkilau. Zirah milik Gruzzex. Ada alasan kenapa ia merampok, tidak, meminjam zirah miliknya.


Shinnichi berlutut di depan Basilisk. Zirah di depannya. Basilisk menyadari kehadiran Shinnichi di depannya. Dengan satu mata menyala merah, Basilisk menoleh. Untuk menemui, pantulannya sendiri di permukaan zirah emas itu.


“GRYAA!!” Basilisk menyadarinya.


Permukaan memantul adalah kutukan untuk makhluk yang memiliki tatapan terkutuk. Tubuh Basilisk itu menyala terang. Ia berubah menjadi batu.


Suasana sekejap menjadi sunyi. Tak membuang-buang waktu, Shinnichi menusukkan Abyssal Mist lalu membelah patung itu menjadi dua.


Ibu dari Meiolania. Sang pemilik tatapan batu, Basilisk. Jatuh di tangan Shinnichi, sang setengah naga iblis.