Re: Turning

Re: Turning
Malaikat Maut Putih



Gruzzex, Sam, dan Ramley berlari menelusuri lorong yang gelap. Menghindari lubang dan bangkai Meiolania di belakang. Higg dan Jane yang menjadi patung ditarik oleh mereka. Melayang di udara berkat sihir Ramley.


Setelah beberapa saat, mereka berhenti. Di hadapan mereka sebuah jurang lebar. Mereka tidak bisa melompatinya begitu saja. Bersamaan, Higg dan Jane jatuh ke tanah. Sihir angin yang mengangkat mereka hilang. Nafas Ramley terengah-engah. Kekuatan fisiknya rendah sebagai penyihir.


“Tuan Gruzzex… maafkan aku….” Ramley menopang tubuh kecilnya dengan tongkat sihir. Mananya sudah habis. Kondisi yang fatal bagi seorang penyihir. “Tolong, tinggalkan sa-“


“Tidak.” Suara Gruzzex tegas. Meskipun diliputi sedikit kesedihan. “Aku tidak akan meninggalkan rekanku! Tidak lagi….”


“Tuan Gruzzex….”


Gruzzex menoleh ke arah gua. Ia bisa merasakan getaran samar dari tadi. Namun, sekarang getaran itu berhenti. Shinnichi, seorang penyihir, mampu menahan Basilisk selama ini? Jujur saja, Gruzzex kagum. Pada saat yang bersamaan, ia menyesalinya.


“… Kenapa bakat sepertinya harus mengorbankan dirinya.” Gruzzex mengepalkan kedua tangannya. Ia ingin memprotes dunia yang tak adil ini.


“Kenapa kau membicarakanku seperti aku sudah mati?”


“””-!?”””


Ketiga petualang itu membelalakkan mata mereka. Wajah mereka seperti melihat hantu. Tidak, mungkin pemuda di hadapan mereka memang hantu? Shinnichi muncul dari kegelapan. Menatap mereka dengan wajah datar, sedikit kesal bahkan. Seperti seorang rajin yang melihat orang lain membuang sampah sembarangan.


“T-tuan Shinnichi?”


“A-anda masih hidup!?”


“Bagaimana….?”


Shinnichi mengangkat bahunya. Ia membuka [Storage] lalu menyodorkan kembali zirah Gruzzex. “Kurasa aku menggoresnya sedikit, maaf.”


“Huh? A-ah, tak apa….”


Shinnichi tidak menghiraukan Gruzzex yang kehilangan kata. Ia berjalan ke arah pasangan yang menjadi batu lalu mengeluarkan sebuah kristal biru. Ramley menatap batu itu aneh. Ia bisa merasakan Shinnichi mengalirkan Mana ke dalam batu itu.


Air mulai menyembur pelan dari kristal itu. Membasahi kedua patung itu. Ramley tidak mengerti kenapa Shinnichi menyiram Higg dan Jane menggunakan sebuah batu sihir berafinitas air. Tentu saja, ia langsung membulatkan matanya sekejap kemudian.


“Ap-!?”


Kedua patung itu bersinar terang. Kemudian, sedikit demi sedikit, kutukan batu menghilang. Seperti lumpur yang hilang disiram air. Higg dan Jane jatuh sambil terbatuk-batuk.


“Higg! Jane!” Gruzzex buru-buru memeluk kedua rekannya itu. Ia yakin mereka tidak akan kembali seperti semula. Tapi, Shinnichi berhasil melakukannya semudah membalikkan telapak tangannya.


“Gruzzex-dono?”


“Apa yang terjadi? Di mana kita?”


Jane dan Higg yang kebingungan mulai bertanya. Gruzzex mulai menjelaskan. Sementara Shinnichi menyimpan kembali kristal Emphiria. Sedari tadi ia merasakan tatapan lekat dari Ramley.


“Hadiah dari teman.” Shinnichi menjelaskan dengan singkat. Ramley, meskipun terlihat tidak puas, mengangguk mengerti.


“Bagaimana….” Sam yang dari tadi diam mulai mengangkat suaranya. Misterius seperti biasa. “Bagaimana Anda bisa mengalahkan Basilisk?”


Baru pertama kali Shinnichi mendengar Sam bertanya kepadanya. Berbeda dengan Beastkin kucing yang selalu menanyainya setiap saat. Setidaknya ia akan menjawab pertanyaan Sam.


“Aku tidak menatap matanya.”


“…?”


Sam secara alami tidak mengerti perkataan Shinnnichi. Hal pertama yang harus dilakukan seseorang jika bertemu dengan Basilisk tentu saja mengalihkan pandangan. Tapi, apakah itu cukup? Tentu saja tidak, kecuali.


“-!! Anda mengalahkannya tanpa menggunakan mata?”


Shinnichi mengangkat bahunya. Secara teknis, ia memang mengalahkan Basilisk tanpa menggunakan pengelihatannya. Mengakuinya secara langsung? Shinnichi tidak mau. Ia hampir mati karenanya. Ia tidak ingin memamerkan hal semacam itu.


“Hebat….” Gumam Sam, menatapnya kagum. Anggota party yang lainnya juga menatapnya sama.


Hati Shinnichi terasa berat menerima pujian dan tatapan kaguman yang tidak perlu itu. Ia ingin mereka berhenti. Ia tidak pantas menerimanya.


“Kau mengalahkannya bukan?” Suara dalam Schwarz kembali terdengar di kepalanya. Sekali lagi merasakan hati dan emosi Shinnichi. “Hampir mati sekalipun, monster itu kalah berkat usahamu. Sedikitlah sombong, dasar pesimis.”


Shinnichi memikirkan sedikit perkataan Schwarz sebelum tersenyum kecil. Alasan kenapa Emphiria mencintai Schwarz semakin jelas setiap hari. Ia tidak mengatakannya tentu saja, ia tidak butuh ocehan sang kaisar naga yang menyombongkan dirinya dan istrinya.


“?”


Shinnichi merasakan sesuatu yang aneh. Mencium sesuatu lebih tepatnya. Bau yang mirip dengan besi atau karat. Shinnichi menyadarinya; bau darah.


Tak menunggu Gruzzex dan lain, Shinnichi melompati jurang dengan mudah. Ia berlari dengan cepat. Mencoba mencapai dunia luar. Tak butuh semenit, ia sudah ada di luar. Dan pemandangan di situ, dapat membuat siapa saja mual.


Hampir seratus petualang; laki-laki maupun perempuan. Tua ataupun muda. Mereka berbaring di tanah basah. Basah bukan karena hujan, tapi karena darah mereka. Cahaya minim dini hari menutupi skalanya, namun sangat jelas bahwa ada pertempuran di sini.


Party Gruzzex keluar sesaat kemudian. Dan langsung mereka menyadari apa yang terjadi. Ramley mencoba menahan rasa mual. Ia lemah terhadap hal seperti darah. Higg memeluk Jane, mencoba mengalihkan perhatiannya dari pemandangan brutal itu. Sementara Sam dan Gruzzex menatap tidak percaya.


“Ap-!?”


“Ugh!”


“A-apa yang terjadi di sini…?”


“Monster…?”


“Ah, Ada yang masih hidup!” Higg berseru.


“Kita harus menyelamatkan mereka. Jane, tolong gunakan sihir penyembuhanmu.” Gruzzex memberi perintah. Ia melemparkan zirahnya ke samping. “Sam, Ramley. Kumpulkan yang terluka. Higg, maafkan aku, tapi tolong kumpulkan korban bersamaku.”


Keempat orang itu mengangguk mengerti. Di bawah pimpinan Gruzzex, mereka mulai bergerak. Menggunakan sihir dan tubuh mereka untuk menyelamatkan mereka yang masih memegang kehidupan. Cahaya hijau keluar dari tongkat sihir Jane dan menyelimuti para korban. Menyembuhkan sedikit dari berbagai luka mereka.


Shinnichi terdiam beberapa saat. Matanya memeriksa setiap inci dari pemandangan di hadapannya. Ia tidak menemukannya. Matanya menjadi dingin.


“Shinnichi.” Schwarz memanggil namanya.


Shinnichi berjalan melewati belasan mayat yang bertebaran di lapangan itu. Luka di tubuh mereka rapi. Seperti terkena bilah tajam bukan cakar atau taring monster. Ada seseorang atau sekelompok yang datang menyerang mereka.


Shinnichi berhenti di belakang Jane.Ramley dan Sam membaringkan sebuah wajah yang familiar. Jane mengucapkan mantera untuk  sebuah sihir penyembuhan level menengah, [Heal]. Cahaya hijau menyelimutinya.


 “Ugh….” Ia mendengar erangan seseorang. Seorang Beastkin harimau. Hans, ia melihatnya dengan Genia beberapa jam lalu. Seorang paman yang ramah adalah kesan pertamanya. Berbeda dengan sekarang, berlumuran darah dan penuh memar. Suatu keajaiban bagi seorang tua sepertinya untuk bertahan hidup dengan luka sebanyak itu.


“Siapa…” Jane bertanya kepadanya. “Siapa yang melakukan ini…?”


Hans membuka mulutnya. Menahan rasa sakit yang menyerangnya setiap kali ototnya bergerak. “K-Keln dan Heln....”


“Greatsword kembar? Kenapa?” Jane tidak mengerti. Kedua orang itu adalah petualang terhebat di Iedrich. Peringkat A, sama dengan Gruzzex. Jika mereka berdua bertarung bersama, bahkan Gruzzex bukan tandingan mereka.


“Gerald…. Mereka disuruhnya….”


“Perusahaan Greenmile? Kenapa….?”


Hans tidak menjawab Jane. Lebih tepatnya, ia tidak bisa. Di hadapannya, seorang pemuda berdiri. Di matanya, wajah pemuda itu buram, seperti pemuda lain seumurnya Tapi, matanya. Mata dingin dan tajam. Seperti sebilah pedang yang mencekat tenggorokannya.


“Kemana mereka pergi?” Suara Shinnichi keluar dengan pelan. Siapa saja bisa merasakannya. Amarah di balik suara tenang itu. Api membara yang disembunyikan oleh dinding es yang kokoh.


Mulut Hans terasa kering. Tekanan yang dikeluarkan Shinnichi melebihi monster manapun yang pernah ia hadapi dalam hidupnya. Dengan terbata-bata, ia menjawab. “I-Ibukota….”


Shinnichi tidak menjawab. Ia menoleh ke arah Jane. “Arah mana Ibukota?”


Jane menunjuk ke arah Utara. “Me-mereka pasti belum jauh….” Jane mencoba untuk tidak jatuh pingsan.


“….”


Shinnichi membuka [Storage] untuk mengambil sebuah topeng. Memakainya, aura ungu meledak keluar darinya. Berbeda dengan waktu di Dungeon, tak ada ekor bayangan atau petir ungu, namun tak salah lagi, aura Naga Schwarz mengelilingi Shinnichi. Ia berjalan menjauhi para petualang. Melewati Jane, Sam, Ramley, Higg dan Gruzzex.


Gruzzex dan party-nya hanya bisa menatap tanpa mengeluarkan sepatah kata. Bagi mereka dan penduduk dunia ini, Naga adalah kehadiran yang berada di atas segalanya. Semacam Dewa atau lebih sering, musibah alami. Merasakan aura sang naga kegelapan begitu dekat membuat mereka bisu. Ada sesuatu yang mencegah mereka mengatakan atau melakukan sesuatu; rasa takut yang mencegah mereka.


“T-tunggu!” Meskipun begitu, seseorang mengeluarkan suaranya. Hans berdiri meskipun terluka cukup parah. Ia memegang pinggangnya yang robek. Ia berjalan tertatih-tatih ke Shinnichi, tak mengindahkan peringatan Jane.


Shinnichi melirik ke arah Hans sekilas. Di tangannya terdapat sebilah pedang pendek. Ia melihat Hans menyodorkan pedang itu kepadanya. “Ini…. milik Genia.”


Shinnichi menerima pedang itu. Biasa, tanpa ada ornamen rumit atau skill tersembunyi. Tapi, Shinnichi memegangnya erat. “Terima kasih.”


Shinnichi berlari beberapa langkah sebelum merendahkan tubuhnya. Lalu, dengan kekuatan yang melebihi seseorang seukurannya, ia menendang tanah. Goncangan yang melebihi gempa bumi manapun menimpa daerah sekitar. Getaran itu bahkan terasa dari Iedrich, 60 km dari situ.


“I-itukah kekuatan naga?” Higg yang pertama kali bertanya.


“Tidak. Itu setengah naga.” Gruzzex menggelengkan kepalanya.


“… Kita beruntung ia ada di sisi kita.” Sam menimpali.


“Saya berdoa untuk keselamatan musuhnya.” Jane  mengepalkan kedua tangannya dan berdoa kepada sang Dewi.


“Malaikat Maut Putih….” Ramley hanya bisa menggumamkan gelar pemuda itu.


Tes. Tes. Butiran air mulai berjatuhan. Dingin, tapi lebih sejuk dari biasanya. Ramley mengadahkan kepalanya. Langit dini hari cerah tanpa ada awan di mana-mana. Darimana asal air itu?


“””-!??”””


Kemudian, sesuatu yang luar biasa terjadi. Luka-luka yang ada di tubuh para petualang mulai sembuh dengan sendirinya. Tak hanya itu, tumbuhan mulai menyeruak dari bawah tanah. Seperti waktu menjadi cepat.


“A-apa ini…?”


“Berkah dari Dewi?”


Gruzzex menoleh ke arah utara. Ia tersenyum. “Tidak, ini berkat Shinnichi-dono.”


“M-Malaikat!”


Hari itu, membawa musibah dan berkah di belakangnya,  sang Malaikat Maut Putih turun ke Zelfria.


❂❂❂❂❂❂


Matahari sebentar lagi terbit. Walaupun begitu, kegelapan masih menguasai. Di waktu-waktu seperti ini, dunia berada dalam kondisi tersunyinya. Tapi, di dalam sebuah hutan tengah-tengah benua Ronzi, suara berisik melintasi lanskap pepohonan itu.


Hentakan kaki kuda  yang berirama dan kuat seolah-olah menggetarkan hutan sekitar. Dedaunan kering hancur di bawah kuku mereka, semak-semak dan tumbuhan kecil yang diinjak tidak bisa berdiri lagi. Menarik kereta kuda dengan sekuat tenaga. Kusir yang membawa pecut tidak membiarkan mereka berhenti untuk alasan apapun. Seperti buru-buru untuk meninggalkan ranah rindang itu.


Di dalam kereta kuda itu, selusin kotak kayu tertata rapi. Sesekali, goncangan kereta menggetarkan isi kotak itu, namun Gerald Grog Greenmile tidak peduli. Pria yang mirip anak Orc itu menatap sebuah kandang di hadapannya. Di dalam, bukan seekor hewan eksotis atau monster, tapi baginya ras Beastkin memang sama dengan hewan.


Pria berambut hijau itu memiliki senyum busuk di wajahnya. Gerald memiliki reputasi di seluruh kerajaan Birre, seorang maniak budak. Kepuasan dirinya adalah melihat puluhan budaknya menderita. Kalimat yang tepat untuk menggambarkannya adalah seorang sadistik yang suka menyiksa orang lain. Sebagai kerajaan Beastkin, seharusnya ia dihukum dengan balasan yang setimpal. Namun, apa daya. Uang mengendalikan segalanya. Sebagai anak kedua dari perusahaan Greenmile, perusahaan dagang terbesar kedua di Birre, hukum tidak bisa menyentuhnya.


“….”


Di dalam kandang, seorang Beastkin kelinci, Genia duduk dengan tangan yang dirantai. Posisi rantai itu memaksanya untuk terus mengangkat tangannya. Kondisi rantai yang berkarat juga menggores tangannya setiap kali kereta itu berguncang. Dari awal ia di situ, pergelangan tangannya kembali berdarah. Telinganya terkulai lemas. Tunik yang dibelikan Shinnichi kini kotor dan berantakan. Sama seperti sebelum ia diselamatkan Shinnichi kurang dari seminggu yang lalu. Berbeda dengan dirinya yang dulu, Genia tidak putus asa. Ia tidak sudi menghiburnya dengan meneteskan air mata.


“Kau tahu, aku membayar uang yang lumayan untuk mendapatkanmu.” Gerald mulai mengoceh. Nada sarkas memenuhi setiap katanya. “Kau seharusnya senang bukan? Kau begitu dihargai.”


“… Kau gila.” Genia secara praktis meludah.


Alis Gerald mengejang. Seekor hewan berani menghinanya? Gerald hampir tak bisa menahan amarahnya. Ia akan menghukum kelinci ini dengan keras.


“Shinnichi-sama akan me-“


“Pemuda itu? Mana mungkin.” Gerald memotong Genia. Mendekatkan wajahnya ke sisi kandang. “Dia kuat? Lalu, apa? Kau pikir satu orang mampu melawan ratusan Meiolania?”


“Shinnichi-sama bisa.” Genia menajwab mantap. Telinga kelincinya berdiri tegak. Tanpa membutuhkan waktu untuk memikirkan jawabannya.


“Hah… Haha! Hahahaha!” Gerald mulai tertawa. Kepercayaan diri hewan ini terlalu besar. Bahkan orang yang tak tahu malu pun akan kalah dengan kesombongan itu. “Yah, menaruh ekspektasi tinggi tidak salah. Dan….”


Gerald menutupi mulutnya. Menutupi senyum lebarnya. “Saat kau menyadarinya, keputusasaan itu akan terasa sangat manis di mulutku.” Gerald kembali tertawa terbahak-bahak.


‘Shinnichi-sama….’


Dalam hatinya, Genia hanya bsia berharap kepada Shinnichi. Perkataan Gerald sedikit meresap di hatinya. Bagaimana jika ia tidak selamat? Bagaimana jika ia tidak keluar dari gua? Segala macam spekulasi berputar di dalam kepalanya sekali lagi.


Kemudian, telinganya menegak.


Sepasang pria kembar duduk di kursi kusir. Mengabaikan gelak tawa yang keluar di belakang mereka. Ekspresi serius terpasang di wajah mereka yang penuh luka. Hasil dari bertarung dengan seratus petualang. Heln dan Keln menang tentu saja. Tapi, tak ada kemenangan tanpa harga. Bahkan untuk dua petualang terkuat di Iedrich.


Tumbuh di lingkungan miskin, tujuan mereka adalah mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Sejak kecil, mereka sudah melihat perbedaan antara orang berharta dan mereka yang fakir. Langit dan bumi; dan mereka ingin menyentuh langit itu. Tidak, mereka ingin menguasai langit itu. Apapun dan bagaimanapun caranya.


Di bawah Gerald, mereka bisa mewujudkan mimpi itu. Mereka tidak peduli jika mereka disuruh untuk membantai sekelompok monster atau sebuah desa. Jika harga pas, mereka akan melakukan apa saja.


Sekali lagi meneguhkan mimpi mereka, Heln menyentakkan tangannya. Tali kekang kuda menyambar mulut mereka, tanda untuk mempercepat langkah. Tiba-tiba.


“”-!?””


Kakak beradik itu merasakannya. Niatan membunuh yang begitu besar. Seperti seseorang menempelkan kapak di kepala mereka. Ketiga kuda yang menarik kereta itu juga merasakannya. Spontan, mereka berhenti.


Heln dan Keln menoleh ke sana kemari. Mencoba mencari tahu sumber dari tekanan itu. Tak bisa menemukannya, mereka melompat turun. Menghunuskan Greatsword mereka.


Fwoosh! Suara angin melaju di atas mereka. Terdengar seperti kepakan sayap burung. Tapi, lebih besar. Mereka mendongakkan kepala.


Sesosok melayang di langit yang gelap. Lebih hitam dari malam itu sendiri. Setitik cahaya ungu menjadi petunjuk tunggal bahwa ada sesuatu di atas sana. Sosok itu melayang melewati bulan yang mulai tergelincir. Siluetnya terlihat jelas di depan rembulan terang.


‘Naga!?’


Heln dan Keln tidak bisa mempercayai mata mereka.


Bencana alam berjalan adalah julukan bagi sebagian besar naga. Satu kepakan sayap mereka mampu menciptakan badai ganas. Satu langkah mereka mampu menyebabkan gempa bumi besar. Satu hembusan nafas api mereka mampu menghanguskan sebuah kota.


Mereka harus melawan seekor naga? Hanya orang bodoh saja yang hanya bisa memikirkan itu. Namun, beruntung bagi mereka siluet itu bukanlah naga.


Menukik tajam, ia mendarat seperti sebuah meteor. Dikelilingi aura ungu, ia berdiri.


Heln dan Keln tercekat. Tak bisa mengeluarkan sepatah kata. Ada satu emosi yang berputar-putar dalam kepala mereka. Emosi yang sudah lama tidak mereka rasakan; Rasa takut.


Heln dan Keln tahu. Kematian mengintai dekat. Mereka tahu hari seperti ini akan datang. Yang tidak mereka tahu adalah kenapa sosok yang akan mengakhiri mereka begitu mengerikan?


Sepasang sayap hitam mirip asap di punggungnya, sesekali mengepak dan menyebarkan kabut. Tangan kanan yang berbentuk bilah, tajam dan berbahaya. Dan wajah mengerikan seperti sebuah mimpi buruk. Rahangnya setengah daging, setengah tulang. Setengah manusia, setengah naga. Mata kirinya hitam seutuhnya, kecuali setitik cahaya ungu di tengah-tengah. Kata “humanoid” hampir kurang cukup untuk menggambarkannya.


Dua sayap dipunggungnya kembali bergerak, satu ke atas, satu ke bawah. Menyatu kembali dengan tubuhnya, membentuk sebuah jubah. Ia melangkah maju. Setiap langkah yang ia ambil terasa pelan, namun pasti.


Heln dan Keln maju. Insting mereka mengatakan untuk lari sejauh mungkin. Namun, mereka tidak akan tunduk kepada insting. Mereka melaju dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan tubuh besar dan zirah berat mereka.


““HRRAAAH!””


Mereka mengayunkan Greatsword itu sekuat tenaga. Berniat memotong makhluk itu dengan bilah Greatsword mereka seperti gunting. Ayunan yang dipenuhi keinginan mereka untuk hidup. Untuk meraih mimpi. Ayunan terkuat yang akan mereka berikan seumur hidup.


Sayang, konsep ‘terkuat’ mereka tidak berguna di hadapannya.


Trang! Trang! Dua gerakan. Hanya dua gerakan sederhana dan cepat menangkis Greatsword kedua pria kembar itu. Bunga api sekilas terpecik, menerangi wajah sosok itu. Mereka melihatnya. Emosi yang dipasang sosok itu.


Kemurkaan.


Sosok itu mengangkat ‘tangan’ kanannya. Tangan yang seharusnya berbentuk bilah sepanjang 80 cm itu memanjang dan membesar. Ia mengayunkan bilah baru itu – kini sepanjang 2 meter – sekali.


Brugh! Brugh! Kedua pria itu tumbang. Kepala mereka menggelinding di tanah.Heln dan Keln dijemput maut. Dan ia adalah pria yang buru-buru.


Sosok itu terus berjalan. Tak menghiraukan dua mayat yang jatuh di kakinya. Ia melangkah ke belakang kereta. Matanya memeriksa kendaraan itu. Ia berdiri di belakang, menatap ke dalam kereta yang tertutupi kain.


Ia menusukkan tangannya ke depan. Bilah hitam memanjang seketika. Mengejang sedikit, ia menariknya kembali. Darah merah terlihat cerah di bilah hitamnya. Kereta kuda bergoyang sedikit.


Ia naik ke atas. Hal pertama yang dilihatnya adalah seorang pria gemuk yang berbaring. Darah keluar dari dadanya yang berlubang. Di sampingnya, sebuah kandang besar. Sosok itu menatap gadis Beastkin kelinci di dalamnya.


“S-Shinnichi-sama….” Genia hampir tak bisa memanggil namanya. Tekanan yang dirasakannya begitu besar.


Pemuda di hadapannya begitu berbeda dari penampilan biasanya. Ekspresi bosan dan datar yang ia pasang kini tak terlihat di mana-mana. Menggantikannya, ekspresi ganas. Seperti seekor hewan buas.


Shinnichi berjalan ke arahnya. Jeruji besi yang menahannya terlihat rapuh di tangannya. Bengkok dan patah seperti kawat.


Di dalam kandang, matanya terarah kepada Genia. Gadis itu gemetar ketakutan di bawah tatapan Shinnichi. Untuk alasan yang tepat. Shinnichi mengangkat Abyssal Mist.


“Shinnichi! Kendalikan dirimu!”


Suara Schwarz menggema di kepalanya.  Terlepas dari amarah yang menelan mereka berdua, Schwarz memperingatkan Shinnichi. Sedikit terlambat.


Abyssal Mist mengayun ke bawah. Mata Genia membulat. Ia menatap bilah itu.