
"Bagaimana?" Endel kembali bertanya. Nadanya terdengar santai.
Sementara itu, di bawah, Izumi dan Yonaka meningkatkan kewaspadaan mereka. Entah bagaimana, Iblis itu berhasil menyelinap di belakang mereka.
Yonaka, seseorang dengan kelas Ranger - kelas yang berfokus pada penangkalan perangkap dan penyelinap - bahkan tidak bisa menangkap keberadaannya. Ia lebih waspada kepadanya.
"Sejak kapan kau di situ?" Izumi bertanya. Melindungi Yonaka di belakangnya.
"Tadi."
Endel melompat turun. Meskipun jarak antara patung singa dan tanah itu kurang lebih 10 meter, pendaratannya ringan. Seperti melompat dari anak tangga kecil.
Endel menyeringai kepada Izumi. "Kau kuat. Bertarung dengan tangan. Pugilist? Berserker?"
Izumi mengangguk. "Kelasku Pugilist."
"Ah, benar." Endel ikut mengangguk. Senang karena tebakannya benar. "Jadi, mau bertarung?"
"Untuk apa aku berduel denganmu?"
"Karena menyenangkan!"
Izumi tertegun. Tidak menyangka jawaban Endel. Bukankah itu berarti Iblis ini adalah otak otot? Izumi tersenyum kecil. Sama sepertinya.
Izumi berniat melangkah maju, tapi ia merasa sebuah tarikan di lengan bajunya. Yonaka memeganginya, mencegahnya untuk maju.
"Yonaka?"
Yonaka menatap ke bawah. Ia menggelengkan kepalanya. "Jangan," bisiknya. "Izumi-kun bisa terluka."
Meskipun Izumi tahu bahwa ini bukan waktu yang tepat, hatinya berada di atas awan sekarang. Kata-kata Yonaka, seklise apapun itu, mampu membuat Izumi tersipu.
Tapi, Izumi tidak bisa menolak. Ia melepaskan tangan Yonaka lalu memegangnya. Yonaka mengangkat kepalanya, juga tersipu.
"Tak apa." Izumi tersenyum lebar.
"Ah, b-baiklah." Yonaka akhirnya mengangguk. Tak bisa menolak Izumi setelah ia mengatakan itu.
Izumi tersenyum percaya diri. Ia menoleh ke arah Iblis itu. "Siapa namamu?" tanyanya.
"Endel. Artinya 'kuat'." Pemilik nama itu tersenyum lebar. Bangga akan namanya sendiri.
"Baiklah, Endel. Ayo maju."
✾✾✾✾
Mereka berdua mengambil kuda-kuda. Izumi mengambil kuda-kuda tengah. Sementara Endel mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kepala.
Endel yang mengambil langkah pertama.
Secepat kilat, ia menendang tanah lalu menerjang ke arah Izumi. Sebuah hook kanan mengincar sisi kepalanya. Namun, kepalan itu terhenti.
Izumi tersenyum kecil. Menggunakan tangan kirinya, ia berhasil menangkis serangan pertama Endel. Tak membuang-buang waktu, ia melemparkan sebuah Age-Zuki ke perutnya.
Menerima uppercut Izumi, Endel terpukul mundur. Atau lebih tepatnya, terdorong mundur. Meninggalkan jejak di tanah.
"Ah, itu terasa." Endel kembali menyeringai. Ia memukul-mukul perutnya, tertawa kecil. "Kukuku, kau kuat."
Izumi mendengus lalu tersenyum. "Itu belum apa-apa." Ia membuka-tutup tangannya. Mempersiapkan kembali senjata pamungkasnya.
Meskipun berlagak biasa, Izumi sedikit terkejut. Perut Iblis itu terasa keras seperti besi. Endel juga tidak jauh berbeda. Pukulan Izumi terasa berbobot. Pantas menyandang gelar Tinju Baja.
Mereka berdua mengambil kuda-kuda. Pada saat yang bersamaan, menerjang maju.
"Hrah!"
"Hoh!"
Izumi melancarkan pukulan yang berhasil dihindari oleh Endel. Selagi menunduk, Endel mengirim kepalannya ke arah perut Izumi. Dengan cepat, Izumi menampiknya ke samping.
Memegang lengan musuhnya, Izumi menariknya ke belakang. Ia menghantam dada Endel menggunakan lututnya.
"Doryah!"
"Guh!"
Endel menahan nafasnya. Menerima hantaman itu langsung. Bertahun-tahun berlatih, tubuhnya sudah lebih dari cukup untuk menerima itu. Tapi, tetap saja, dadanya sesak merasakan dampak hantaman itu.
Tak membiarkan itu terulang, Endel melepaskan tangannya dari genggaman Izumi. Ia menyikut perut Izumi sekuat tenaga.
Izumi menerima serangan itu. Meskipun tubuhnya sudah lebih tangguh, sikut Endel terasa lebih bertenaga. Ia mundur beberapa langkah.
Sebuah kesempatan! Endel mengirimkan sebuah tendangan ke perut Izumi. Nampaknya, ia akan menyerang satu tempat untuk melemahkannya.
Izumi tak akan membiarkannya. Ia menangkap kaki Endel. Mereka bertatapan mata, seperti di film-film aksi Cina. Izumi tersenyum.
"Rasakan ini!"
Izumi mengeratkan cengkramannya atas kaki Endel lalu mengangkatnya ke atas. Otot-ototnya mengembang dan urat nadinya muncul saat ia melakukan itu. Tak membiarkan momentumnya hilang, ia membanting Endel ke tanah.
Menemani suara keras yang mengerikan itu, debu terbang ke mana-mana. Menutupi pandangan sekitar.
Izumi melepaskan kaki Endel. Ia mengibas-ibaskan tangannya. Mencoba mengipas pergi awan debu itu.
Dengan itu, Izumi melanggar salah satu hal tabu dalam bertarung; Jangan pernah lengah.
Sebuah sapuan menyambar kaki Izumi. Membuat pemuda berambut merah itu kehilangan keseimbangan dan jatuh. Melompat ke atas, Endel mengirimkan sebuah tendangan kapak. Berniat menanamkan tumitnya ke perut Izumi.
"Sia—!"
Tak sempat merutuk, Izumi menghantam bumi dengan suara nyaring. Didorong oleh kaki Endel, awan debu dan — kini — bebatuan kembali mengudara. Endel langsung melompat mundur.
"Izumi-kun!" Yonaka berseru khawatir.
Melihat seorang teman ditendang dengan kekuatan yang dapat meretakkan bumi tentu saja membuat siapa saja khawatir. Sedari tadi, ia hanya bisa menonton duel ini. Beberapa pelayan juga berhenti melakukan kegiatan mereka untuk melihat pertarungan antara Pahlawan dan Iblis.
"Aduh, duh. Sakit juga ternyata." Suara Izumi terdengar dari dalam awan debu itu.
Suaranya tidak mirip dengan orang yang baru saja ditendang oleh Iblis. Lebih mirip seperti seseorang yang baru saja dilempar penghapus.
"Izumi-kun! Tidak apa-apa?"
"Oh, tenang saja. Ada sedikit debu di mulutku." Izumi meludahkan kerikil yang masuk ke mulutnya. "Tapi, aku baik-baik saja."
"Hoh? Hebat!" Endel memuji Izumi yang masih hidup. "Tak ada yang tahan tendanganku dulu."
Meskipun bahasa Manusianya belum cukup lancar, Izumi bisa mengerti bahwa tendangannya itu cukup kuat. Dan jujur saja, perutnya terasa agak mual.
"Lumayan. Perutku terasa sedikit longgar." Izumi berdiri. Membersihkan debu dari tunik putihnya. "Kau bisa menggunakan cara itu untuk mengobati sembelit."
Mengesampingkan selera humor Izumi yang aneh, Yonaka tersenyum kecil. Lega karena Izumi terlihat baik-baik saja.
Di bawah kakinya ada sebuah lubang berbentuk tubuhnya. Di sampingnya juga ada lubang milik Endel. Bantingannya serta tendangan Endel memiliki kekuatan yang cukup untuk membentuk tanah. Izumi terkesan.
Sedikit mengagumi lubang itu, Izumi menggerakkan bahunya dan lehernya. Pemanasannya sudah selesai.
Ia menghirup nafas dalam-dalam. Menggeser kaki kirinya ke belakang. Pertama menyilangkan kedua tangannya, ia menaruh tangan kirinya di depan tangan kanannya. Izumi mengambil Han Zenkutsu-Dachi.
Aura di sekitar Izumi berubah. Matanya tajam, nafasnya tenang dan tubuhnya lebih tegap. Debu yang masih terbang membuatnya seperti monster di balik kabut.
Bulu kuduk Endel berdiri. Instingnya berteriak bahwa musuh di hadapannya ini berbeda dari yang lain.
Jika tadi ia berhadapan dengan petarung kuat, kini ia berhadapan dengan seekor hewan buas. Hewan yang tidak memikirkan apa-apa kecuali apa yang ada di hadapannya saat ini.
Dan saat ini, Endel ada di hadapannya.
Pemuda iblis itu tersenyum. Kesenangan baru saja dimulai.
❂❂❂❂❂❂
Mendengar keributan serta perkataan dari para pelayan, Shinnichi dan Fiona datang ke lapangan istana. Di sana, ada ratusan orang yang sedang menonton pertandingan antara Izumi dan Endel. Erina sudah datang dari tadi, menemani Yonaka di sisi lapangan.
Fusena dan Haira juga ada di seberang lapangan. Menonton duel itu dengan penuh fokus.
"Kurobane-sama, ayo kita lihat juga."
Mendengar ajakan sang Puteri, Shinnichi mengangguk setuju. Ia berjalan di depan Puteri. Berdeham kecil.
Menyadari siapa itu, orang-orang yang menghalangi jalan sang Puteri langsung menyingkir. Memberi jalan impromptu langsung ke sisi Yonaka dan Erina.
"Yonaka-chan, Himekaze-san." Shinnichi menyapa mereka berdua.
"Ah, Shinnichi-kun, Fiona-hime."
Yonaka dan Erina langsung menoleh ke arah mereka. Yonaka mewakili Erina juga saat gantian menyapa Shinnichi dan Fiona. Hanya sebentar, ia kembali mengarahkan pandangannya ke lapangan istana.
Izumi dan Endel sedang berjalan memutari satu sama lain. Masing-masing terlihat buruk.
Wajah Izumi penuh luka, darah menetes dari hidungnya. Tunik putihnya juga robek. Memperlihatkan perutnya yang memar.
Endel juga tidak jauh berbeda. Kepalanya berdarah dengan satu pipi yang bengkak. Salah satu tanduknya bahkan patah. Lengan baju dan celananya robek di sana sini. Memperlihatkan memar dan luka di anggota tubuhnya.
Tak hanya diri mereka saja yang terkena dampak pertarungan. Lingkungan sekitar mereka juga.
Tanah retak setiap kali mereka bergerak, kawah besar dan kecil di mana-mana, beberapa pohon besar tumbang, bahkan ada sebuah lubang besar di tembok istana. Pemandangan itu dapat membuat orang berpikir bahwa ada gempa bumi yang baru saja terjadi.
Meskipun begitu, mereka tetap terlihat liar. Sesekali, salah satu dari mereka akan melancarkan pukulan dan tendangan.
"Apa yang terjadi?" Fiona bertanya. Sedikit penasaran.
"Iblis itu, Endel, menantang Izumi berduel," jelas Yonaka singkat.
"Dan dia menerimanya begitu saja?" Fiona tidak percaya ada orang yang mau menerima sebuah tantangan seperti itu tanpa berpikir panjang.
"Izumi itu tipe yang suka bertarung." Shinnichi tersenyum lemah. "Jika ada seseorang yang menantangnya, Izumi pasti langsung setuju."
"O-oh, ada orang seperti itu ternyata." Pengetahuan Fiona bertambah sedikit. "Berapa lama sudah mereka berkelahi?"
"Sekitar satu jam." Erina gantian menjawab. "Hebatnya lagi, mereka sama sekali tidak memakai sihir."
"Apa?!" Fiona terkejut. "Tak menggunakan sihir?"
Berkelahi dengan Iblis tanpa menggunakan sihir? Siapa orang gila yang mampu melakukan itu? Petarung terhebat di Victoria, tidak, seluruh Panzia saja tidak ada yang mampu.
Fiona menjadi sedikit penasaran dengan dunia para Pahlawan. Ia kini menduga dunia mereka diisi oleh monster lebih mengerikan daripada dunianya.
Perhatian mereka kembali tertuju kepada kedua petarung tangan kosong di tengah-tengah lapangan. Meskipun penuh luka, mereka berdua masih bisa tersenyum.
"Kau... Haah... juga. Haah...." balas Endel memegang bahunya. Dengan suara retakan keras, ia menariknya. Memperbaiki posisi bahunya. "Ah, lebih baik."
Menyiapkan diri sekali lagi, mereka kembali memasang kuda-kuda. Endel kembali menyerang lagi.
Ia melompat-lompat kecil. Mendekati Izumi yang mengambil posisi bertahan. Cukup dekat, ia melontarkan sebuah pukulan.
"Hrah!"
Izumi menggeser kakinya ke belakang. Menghindari pukulan Endel dengan gerakan cepat. Ia membalasnya dengan Yoko Empi Uchi. Sebuah serangan sikut menyamping ke dada.
"Fuh!"
Endel mengangkat tangan kirinya untuk menahan serangan Izumi. Meskipun berhasil, tangannya langsung kaku. Ekspresi kesakitan terlintas di wajahnya.
Izumi tak membuang kesempatan. Ia mengangkat kakinya lalu mendorong sekuat tenaga.
"Hah!"
"Gofu!'
Izumi langsung mengirim tendangan tepat ke perut Endel. Kakinya mengenai perut Endel dengan telak. Kembali mendorongnya ke belakang, memegangi perutnya. Bahkan sempat berlutut.
Namun, meskipun begitu, Endel masih tersenyum. Ia berdiri. Mengeratkan kepalannya.
Ia kembali melaju ke depan. Lebih cepat dari biasanya.
"Hah! Hah! Hah! Hraah!"
Kemudian, ia melontarkan rentetan pukulan ke tubuh Izumi. Kiri, kanan, bawah. Semuanya ditangkisnya.
Namun, kecepatan Endel membuat Izumi kewalahan. Ia mulai kelelahan. Endel menyadarinya. Serangannya mulai terhubung.
Pertama pinggangnya, kemudian dadanya, lalu bahunya. Terakhir, Endel menghantam rahang Izumi dengan sebuah uppercut.
"Guh!"
Gigi Izumi bergemeletuk. Menghantam satu sama lain dengan kekuatan yang mampu mematahkan beton. Ia terhuyung.
"Fuh!"
"Urgh!"
Endel menarik kaki kanannya. Menghirup nafas dalam-dalam, ia juga mengirimkan sebuah tendangan. mengenai Izumi, telak di perutnya.
Tubuh Izumi membentuk sebuah "(" sebelum terlontar jauh. Memakan jarak sekitar 15 meter. Hampir mencapai para penonton. Itu menunjukkan betapa kuatnya tendangan Endel. Jika orang biasa menerimanya, ia bisa langsung mati.
Untung saja Izumi bukanlah orang biasa. Tidak hanya bertahan hidup, ia bahkan tidak langsung jatuh. Hanya terdorong saja. Tapi, tendangan itu memberi dampaknya.
Izumi terbatuk. Darah keluar dari mulutnya. Ia jatuh berlutut. Dadanya terasa sesak.
"I-Izumi-kun!" Yonaka menatap Izumi khawatir.
Tapi, bukan hanya Izumi yang terkena dampaknya. Endel juga sama.
Ia menutupi mulutnya. Menahan sebuah batuk. Namun, saat ia melihat telapak tangannya, ia melihat darah.
"Chir...." Endel mengutuk dalam bahasa Iblis.
"E-End...." Haira memanggil namanya pelan. Fusena saja yang dapat mendengarnya. Wanita itu hanya terdiam.
Para penonton menahan nafas mereka. Sehebat apa kekuatan mereka berdua? Mereka memiliki kekuatan yang mampu merubah permukaan bumi. Namun, sebagai Manusia, mereka lebih khawatir daripada kagum.
Jika Iblis ini mampu melakukan itu kepada seorang Pahlawan, apa yang bisa ia lakukan kepada orang biasa?
Seolah-olah mengerti kekhawatiran mereka, Izumi kembali berdiri. Ia menoleh ke belakang. Ke arah Yonaka dan yang lain. Kemudian, tersenyum yakin.
Senyuman itu menjadi tanda. Tanda bahwa ia baik-baik saja. Tanda bahwa ia masih bisa bertarung.
Melihat itu, para Manusia merasa kembali tenang. Benar, seorang Iblis pun tidak bisa mengalahkan Pahlawan mereka! Pahlawan pasti akan menang.
Membawa semangat Manusia di punggungnya, Izumi mengambil kuda-kuda.
Di saat yang bersamaan, Endel mengelap darah di sudut bibirnya. Ia juga membawa semangat Iblis di punggungnya. Terutama kekhawatiran gadis Iblis di belakangnya.
Endel mengambil kuda-kuda.
Serangan berikutnya yang menjadi penentu. Mereka tahu. Manusia maupun Iblis, semua memiliki batasan. Dan saat ini, tubuh mereka sudah berada di ambang batas itu.
Mereka berdua mengambil nafas dalam-dalam. Menatap lawan di hadapan mereka.
"Hrah!
"Fuh!"
Lalu, menerjang.
Dekat dan cepat, mereka sama-sama mengangkat kaki mereka. Sebuah tendangan ke kepala. Mereka berdua mengincar itu.
Saat itulah, takdir mereka mulai terhubung.
Kedua kaki menghantam target mereka bersamaan. Bersamaan, mereka merasakan kepala mereka seperti dihantam oleh sebuah batang kayu. Bersamaan juga mereka terkapar.
Tiga meter dari tempat berdiri mereka. Izumi dan Endel jatuh ke tanah.
"Izumi-kun!"
"E-End!"
Dua gadis, satu Manusia, satu iblis, langsung berlari ke tengah lapangan. Khawatir dengan teman mereka masing-masing. Erina, Fiona dan Shinnichi mengikuti. Fusena juga.
Yonaka memangku kepala Izumi. Merasakan nafasnya, Yonaka menghembuskan nafas lega.
Pemuda itu hanya pingsan.
"Syukurlah...." Yonaka menoleh ke arah Erina. Erina mengangguk, mengerti arti tatapan itu.
"Wahai Dewi yang agung. Sembuhkanlah. [Heal]." Erina melambaikan tangannya di atas tubuh Izumi. Sesaat kemudian, tubuhnya diselimuti oleh cahaya hijau. Menyembuhkan luka-luka Izumi.
Yonaka berterimakasih kepada Erina. Shinnichi juga menghela nafas lega. Ia menoleh ke arah para Iblis.
Haira berada di samping Endel. Terlihat ragu untuk menyentuhnya. Khawatir ia akan menyakitinya.
Di belakangnya, Fusena berjalan santai. Terlihat tak khawatir sama sekali. Sampai di samping Haira, ia mengarahkan tangannya ke Endel.
"[Heal]," katanya. Menyelimuti tubuh Endel dengan cahaya hijau yang sama seperti Izumi.
"Huh?" Shinnichi agak terkejut.
Menggunakan sihir tingkat menengah tanpa mantera? Ras Iblis benar-benar mahir dalam sihir.
Menyadari bahwa seseorang menatapnya, Fusena menoleh. Ia menyipitkan matanya.
Merasakan bahwa tatapan Fusena tertuju ke arahnya, Shinnichi menjadi gugup. Ia bertanya-tanya. Apakah ia marah karenanya?
Namun, tatapan Fusena tidak ditujukan kepada Shinnichi. Malah, orang yang ada di belakangnya. Seorang muda dengan rambut emas; Jinba Samejima.
Memegang Rivelia, ia berjalan melewati mereka. Mendorong Shinnichi sedikit. Membuat pemuda berambut hitam itu mengaduh kecil.
"Apa yang kau lakukan kepada temanku?" tanyanya kepada para Iblis.
"J-Jinba-san?"
"Samejima?"
Erina dan Yonaka menyebutkan namanya terkejut. Lebih terkejut saat ia mengarahkan permusuhan kepada para Iblis.
"Kami tak melakukan apa-apa," jawab Fusena. "Mereka sendiri yang berduel."
"Kau kira aku percaya itu?" Samejima menghunus pedangnya. Entah apa yang ada di pikirannya.
"M-Morta!" Haira berseru. Berlutut di tanah, ia merentangkan tangannya. Mencoba melindungi Endel di belakangnya. "Morta lara Endel!"
Samejima tidak mengerti perkataan Haira. "Kau berani berbicara denganku?" Samejima menyiapkan senjatanya. Api Rivelia mulai terbakar. Mengubah bilahnya menjadi merah.
Anehnya, Fusena hanya diam. Iris merahnya menatap Samejima. Entah apa yang ada di pikirannya. Namun, ia masih mengirimkan aura permusuhan yang kuat.
Hubungan antar ras mulai meregang. Satu langkah yang salah bisa menyebabkan perang.
Ras Manusialah yang pertama kali mengambil keputusan. Tangan Samejima bergerak cepat. Menuju ke arah Haira.
"B-berhenti!"
Namun, sebelum bilahnya menyentuh tubuh Haira, seseorang kembali menghalanginya. Seorang pemuda berambut hitam. Leher Shinnichi berada di ujung pedang Samejima.
"Kurobane-sama!?"
"S-Shinnichi-kun!?"
Gantian Fiona dan Yonaka yang memanggil nama Shinnichi. Terkejut melihatnya berada di antara pedang Samejima dan tubuh Haira.
"Apa yang kau lakukan!?" seru Samejima. Sebenarnya ia tidak masalah memotong Shinnichi di situ juga, namun tatapan mata di belakang mencegahnya.
"D-dia tidak melakukan apa-apa! Kenapa kau mencoba menyerangnya!?" Shinnichi gantian berseru. Meskipun takut, ia lebih geram karena Samejima mencoba menyerang seseorang yang tak bersalah.
"S-Shinnichi-dono...." Haira terkejut. Tidak menyangka seorang manusia mau melindungi Iblis.
"Apa ini? Kau melindungi para Iblis?" Samejima menyipitkan matanya. "Apakah kau bermaksud mengkhianati rasmu sendiri?" tanya Samejima, agak keras. Agar yang lain dapat mendengarnya.
"Bu-bukan!" Shinnichi langsung membantah. Ia was-was mendengar gumaman ras Manusia tentangnya. "H-Haira-dono mengatakan untuk tidak menyakiti Endel-dono! Tapi, kenapa kau malah menyerangnya!?"
Seruan Shinnichi sampai di telinga para penonton. Membuat mereka bergumam ragu. Terlihat skeptis.
Samejima mendengus. Mencoba menguasai keadaan. "Lalu? Kenapa aku harus percaya denganmu? Dia bisa saja mengatakan hal yang lain."
"I-itu...."
"Saya percaya. Pelayanku memiliki skill yang memampukannya mengerti bahasa ras lain. " Tak membiarkan Shinnichi kebingungan, Fiona menjelaskan. "Lagipula, ia tidak pernah berbohong. Saya bahkan berani bersumpah atas nama keluarga kerajaan Victoria."
Mendengar kata-kata sang Puteri, para penonton mulai mempercayai perkataan Shinnichi. Mereka tahu bahwa sumpah atas nama keluarga kerajaan bukanlah hal yang bisa dikatakan begitu saja. Sumpah itu memiliki arti di belakangnya.
Samejima mendecakkan lidahnya. Ia menarik kembali Rivelia. Shinnichi menghela nafas. Lega karena pedang itu tidak jadi mengenai lehernya.
Samejima menatap tajam Shinnichi. Ia menunjuk wajahnya. "Bertarunglah denganku."
Shinnichi menatap Samejima. "Eh?" lalu mengeluarkan suara aneh