Re: Turning

Re: Turning
Dream



"Hngh! Ah!"


Shinnichi menarik kristal biru dari bangkai Wolfsdämon, hampir terjatuh karenanya. Benda itu sudah berada di dadanya selama ratusan tahun. Ia harus memotong daging di sekelilingnya. Dan karena kristal itu selalu menyembuhkannya, butuh waktu dan usaha untuk mengambilnya.


“Dapat juga,” katanya. Ia menoleh ke arah kepala Wolfsdämon. Sudah terpisah dari tubuhnya. Ia menendangnya, kesal. Kepala itu menggelinding beberapa meter. “B*jingan sialan.”


Shinnichi akhirnya merasakan rasa lelah yang mulai menyerangnya. Ia menyandarkan dirinya ke dinding Dungeon, terengah-engah. Pukulan Wolfsdämon itu lebih kuat dari yang terlihat. Ia yakin ada beberapa tulangnya yang patah.


“Shinnichi,” panggil Schwarz. Terdengar pelan. “Aku-“


“Simpan omong kosong itu untuk dirimu sendiri.” Shinnichi memotongnya. Tidak terlalu menginginkan seekor naga tua berterima kasih kepadanya. Ia tersenyum lemah. “Anggap saja ini sebagai bayaran keduaku.”


 “Heh... Hahaha!” Schwarz tertawa mendengarnya. Tak menyangka pemuda ini bisa menggunakan perkataannya sendiri melawannya. “Baiklah. Aku terima.”


Shinnichi hanya bisa mengangguk sambil menggumam, “Bagus....” Ia menatap kristal di tangannya. Warna biru cemerlangnya tertutupi oleh darah dan bulu. Shinnichi mengangkat dirinya. Hampir terjatuh karena kakinya tidak memiliki kekuatan.


“Hati-hati." Suara khawatir Schwarz kembali terdengar. "Kau terlalu memaksakan tubuhmu.”


“Aku tak apa. Aku tidak ingin memaksakan keberuntunganku," katanya. Shinnichi tidak ingin berlama-lama di situ. Hal terakhir yang ia inginkan adalah monster yang datang karena mencium bau darah.


Dengan langkah tertatih-tatih, ia berjalan kembali ke ruangan Schwarz. Berharap tidak bertemu dengan monster. Tak sadar bahwa, labirin itu menjadi sunyi beberapa saat yang lalu.


❂❂❂❂❂❂


Shinnichi membasuh kristal Emphiria di kolam dalam ruangan Schwarz. Membersihkannya dari darah dan sisa-sisa Wolfsdämon. Perlahan warna biru cerahnya kembali bersinar. Indah, seolah-olah Shinnichi memegang potongan langit biru.


“Menakjubkan, bukan? Sama seperti warnanya, kebaikan hatinya seluas angkasa yang tak terbatas.”


Shinnichi ingin meminta Schwarz untuk berhenti. Mendengar seorang tua mengatakan hal yang lebih cocok dikatakan gadis SMA terasa menggelikan. Namun, untuk menghormati Emphiria, ia memilih untuk diam. Sopan santun bukan termasuk hal yang hilang darinya.


Shinnichi mengusap kristal itu. Menyadari bahwa tangannya masih bergetar hebat. Sepertinya rasa takutnya tidak bisa hilang begitu saja. Ia berdiri lalu berbaring di kasur yang berdebu.


“Kau tak apa?” tanya Schwarz. "Lukamu cukup parah."


Shinnichi juga sadar. Setiap inci tubuhnya berteriak kesakitan setiap kali ia bergerak. Berbicara saja cukup menyakitkan. Tapi, yang lebih merepotkan adalah rasa besi yang masih menempel di mulutnya.


“Aku lelah," katanya menghela nafas. "Kurasa aku akan tidur dulu.” Shinnichi menutup matanya.


“... Baiklah kalau begitu. Berisitirahatlah, kau layak mendapatkannya."


Shinnichi tidak mendengar perkataan Schwarz. Rasa kantuk yang datang dengan rasa kelelahannya sudah membebani kesadarannya. Ia belum pernah merasakan rasa lelah seperti ini sebelumnya. Dalam sekejap, Shinnichi terlelap ke dalam dunia mimpi.


❂❂❂❂❂❂


Aku membuka mataku. Sebuah pemandangan aneh terbentang di hadapanku. Aku berdiri di pinggir pantai. Suara ombak dan bau asin air laut memenuhi hidungku. Suatu perasaan familier yang sudah lama tidak kurasakan.


“Di mana ini?” Aku bertanya. Entah kepada siapa.


Menoleh ke sana kemari, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada pesisir emas yang terus menerus ditendang gelombang laut. Ada sebuah tebing tinggi di kejauhan. Memecah ombak setiap beberapa saat. Samar-samar aku bisa mendengarnya.


Tebing itu terlihat menggoda untuk dihampiri, namun kakiku berkata lain. Aku merasa begitu lelah. Aku memutuskan untuk tetap dan duduk di tempat. Menikmati angin laut yang berhembus ringan melewati rambutku. Menggelitik daun telingaku.


Aneh. Tak ada makhluk hidup lain di sini. Seekor burung atau bahkan kepiting pun tak terlihat di mana-mana. Setelah beberapa saat, aku mulai mengantuk.


“Ya, sudahlah.” Aku mengangkat bahuku lalu berbaring di atas pasir hangat. Matahari tidak bersinar terik, jadi cuacanya cukup nyaman. Menutup mataku dan mencoba tidur.


Sebelum aku terlelap, aku bisa merasakan sesuatu, atau seseorang berdiri di sampingku. Membuatku tertutupi bayangan mereka.


“Kau lama sekali!” Suara soprano seorang perempuan memasuki telingaku. Bersamaan dengan pasir yang ditendangnya.


“Bwah! Pfft! Uhuk! Uhuk!” Aku bangun lalu membatukkan pasir dari mulut dan hidungku. Tak lupa juga menelengkan kepalaku untuk mengeluarkannya dari telingaku. Aku menoleh ke arah pelakunya. “Oi! Kau tak punya otak ya?!”


“Haah!? Ngaca!” Gadis itu balas membentak. Menendang lebih banyak pasir. “Aku sudah menunggumu di sana! Kenapa kau tidak datang?!”


Gadis itu menunjuk ke arah tebing di kejauhan. Tepat sekali, di kejauhan.


“Aku tidak mau berjalan ke sana. Kau pikir ini cerita di mana aku bisa langsung sampai?”


“Dasar pemalas!”


“Koreksi, aku pengecut.”


“Orang mana yang mengakui dirinya pengecut?!”


“... Kau tuli ya?”


“Jangan memandangiku dengan tatapan kasihan itu! Muu!”


Menggembungkan pipinya, ia duduk di sampingku. Terlihat jelas bahwa ia marah.


Aku manatap perempuan itu. Dari penampilannya, sepertinya gadis itu berumur 15 atau 16 tahun. Memakai one piece putih, ia terlihat seperti gadis biasa yang sedang berlibur musim panas di pantai. Tapi, satu hal yang mencolok bukanlah kulit putihnya, wajah imutnya ataupun penampilannya. Tapi, rambutnya.


Berwarna biru dan berkilauan, rambutnya terbuat dari air. Secara harfiah, rambutnya benar-benar terbuat dari air. Mirip air terjun, dimulai dari atas kepalanya dan mengalir (benar, mengalir) hingga ke punggungnya. Aku bahkan bisa melihat buih-buih putih di ujung rambutnya.


“Kau bukan Manusia?” Aku bertanya. “Rambutmu indah," pujiku jujur.


Gadis itu diam sebentar sebelum menoleh sambil tersenyum. “Kau orang kedua yang mengatakan itu.”


Emosi seorang gadis memang mudah berubah ya.


Ia menyisir rambutnya dengan ekspresi senang. Seperti mengingat seseorang, mungkin orang pertama yang mengatakan itu. “Dan untuk pertanyaanmu, iya. Aku bukan Manusia, aku seorang Leviathan. Namaku Emphiria.”


“Emphiria, nama yang bagus." Aku mengangguk lalu mengenalkan diriku. "Aku Shinnichi.”


“Aku sudah tahu itu.”


“Tentu saja kau sudah tahu, aku baru memberitahumu.”


“Bukan itu.” Ia tertawa, secara mengejutkan tidak marah. “Tapi, yah mungkin kau tidak tahu.”


Aku menelengkan kepalaku. Tidak mengerti perkataannya. Ia kembali menatap ke arah laut. Aku mengikutinya.


Bunyi laut kembai menguasai suasana. Seolah-olah menjadi status quo tempat ini. Di mana pun ini berada.


Sebenarnya, aku ada di mana? Aku tidak ingat berjalan ke sini. Aku juga tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya aku di sini. Apakah aku harus khawatir?


“Ini mimpi, kau tahu.” Emphiria menjawabku. Seperti membaca pikiranku.


“Oh, jadi ini tidak nyata.” Aku mengangkat kepalaku. Tidak terlalu memikirkan bagaimana ia bisa membaca pikiranku. Ini kan mimpi. "Lalu, kau?"


“Oh, aku nyata," jawabnya. Senyum awalnya berubah pahit. "Yah, awalnya sih. Aku sudah mati.”


“Jadi, kau hantu?”


“Semacam itu. Aku hanya kemari untuk bertemu denganmu.”


“Denganku?” Aku menunjuk diriku sendiri. Sedikit kebingungan.


“Tapi, aku tidak melakukan apa-apa.” Aku kembali dibingungkan oleh perkataan Emphiria.


“Oh, tak usah dipikirkan. Aku berterima kasih. Itu saja yang perlu kau tahu.”


“Begitu ya? Baiklah, sama-sama.” Aku menjawab sembarang. Tidak terlalu mengerti, tapi Emphiria terlihat senang jadi kurasa tak perlu dipikirkan lebih lanjut.


Suasana pantai cukup menyenangkan. Dari kecil, aku suka bermain di dekat pantai. Meskipun aku sendiri takut laut. Entah bagaimana seseorang yang tinggal di dekat laut takut akan laut.


Aku mendengar Emphiria bersenandung. Menyanyikan lagu yang tak kuketahui. Hampir membuatku lupa bahwa ia sudah mati.


“Hei, maaf jika ini terdengar tidak sopan, tapi bagaimana rasanya?” Aku bertanya. “Kau tahu. Kematian, bagaimana rasanya?”


“Hmmm, bagaimana cara menjelaskannya....” Emphiria memegang dagunya terlihat keras berpikir. “Rasanya seperti tidur, kurasa? Atau mungkin pingsan? Entahlah, kau harus merasakannya sendiri untuk mengetahuinya.”


“Yah, kuharap aku tidak mengalaminya dalam waktu yang dekat.”


“Kematian tidak terlalu menakutkan kok.” Emphiria melanjutkan. Ia tersenyum lemah. Menatap kakinya yang sedang menggali-gali pasir. “Tapi, sedikit sepi. Mengingat orang yang kau tinggalkan, membayangkan wajah mereka, perasaan mereka setelah tahu bahwa kau sudah pergi. Itu sedikit menyakitkan.”


“.... Begitu ya.”


Aku tidak bisa mengatakan apapun yang berarti. Menghiburnya? Aku tidak bisa melakukan itu. Kematiannya ada di luar kendaliku. Aku juga tidak begitu mengenalnya, tak sopan rasanya.


Kesunyian kembali merayap. Emphiria menatap ke arah laut dengan senyum. Namun, tatapannya terlihat jauh. Terlihat merenungi dan mengingat sesuatu.


“Hei, Shinnichi.” Emphiria memanggilku. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar. Tertutupi oleh angin dan ombak. ”Bisakah aku meminta tolong lagi”


“Tentu.” Aku menjawabnya. Tak terlalu mengharapkan sesuatu yang di luar kendaliku.


“Terus temani Schwarz, ya. Dia mudah kesepian dan suka mengeluh. Dia angkuh, tapi khawatiran. Dia suka berbicara sombong, tapi sebenarnya dia tulus. Dia ingin terlihat kuat, tapi berjiwa lembut.” Emphiria tersenyum kepadaku. Aku bisa melihat sedikit air mata di sudut matanya. “Aku ingin meminta maaf langsung kepadanya, tapi yah, kau tahu. Hehe. Jadi, tolong sampaikan ya."


Emphiria mencoba bercanda. Tapi, air mata yang mulai menetes dari dagunya mengatakan hal lain.


Aku tidak tahu siapa Schwarz ini. Tapi, menolaknya terlihat tidak pantas. Sebagai formalitas, aku mengangguk. “Baiklah.”


“Terima kasih....” Emphiria masih bisa tersenyum di antara air matanya. Berterima kasih kepadaku yang tidak mengetahui apa-apa. Aku merasa sedikit bersalah.


Isakan Emphiria terdengar untuk beberapa saat sebelum ia berhenti. Ia mengusap air matanya. Mencoba menenangkan dirinya.


“Maaf, aku malah menangis.”


"Tak apa. Aku tidak keberatan." Aku menjawab tanpa menatapnya. Tak sanggup. Dari dulu, aku tidak tahu caranya menanggapi gadis yang menangis.


“Kurasa ini sudah waktunya bagiku.” Emphiria berdiri. Menepuk-nepuk gaunnya; membersihkannya dari pasir.


“Oh, begitu ya.” Aku juga berdiri. Ikut membersihkan celana dan bajuku dari pasir yang menempel. “Err... Kuharap kau beristirahat dengan tenang?”


“Hahaha, kau agak terlambat 200 tahun. Tapi, terima kasih.” Emphiria tertawa kecil. Aku hanya bisa menggaruk kepalaku, sedikit canggung karenanya.


“Terima kasih lagi. Aku berhutang budi padamu.” Emphiria kembali berterima kasih kepadaku. “Meskipun aku tidak yakin aku bisa membalasmu atau tidak.”


Aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. “Tak usah dipikirkan.”


“Kau orang yang baik.” Emphiria tersenyum. “Senang bertemu denganmu, Shinnichi. Semoga kita bertemu lagi.”


“Sampai jumpa, Emphiria. Ah, tidak. Sampai nanti kurasa lebih tepat. Aku mungkin butuh pemandu nanti.”


“Haha, kedengarannya menyenangkan. Aku menantikan hal itu. Kalau begitu, Sampai nanti, Shinnichi.”


Emphiria melambaikan tangannya, aku membalasnya. Ia kemudian merentangkan tangannya dan mengangkat kepalanya ke langit. Ia terlihat tenang. Tubuhnya mulai bercahaya biru, terlihat seperti seorang malaikat.


 “Aku masih menunggumu, Schwarz. Jangan khawatir.”


Suara bisikan Emphiria sempat memasuki telingaku. Sesaat kemudian, sebuah ledakan cahaya. Diikuti dengan cipratan air besar. Membasuhku seperti guyuran air.


Aku terhempas. Ia terbang ke belakang karena gelombang kejut. Tapi, tubuhku tidak pernah menyentuh tanah. Gelap, aku jatuh ke dalam kekosongan. Tak bisa menggapai apapun, aku menutup matanya.


❂❂❂❂❂❂


Shinnichi membuka matanya. Menatap langit-langit abu yang membosankan. Udara dingin menusuk tubuhnya, membuatnya agak menggigil. Debu yang mengudara membuat bernafas sedikit sulit.


Shinnichi bangkit dari kasur. Memegang kepalanya yang sedikit berdenyut. Mengumpulkan jiwanya yang sedikit grogi. Sepertinya hanya itu tidur yang ia butuhkan. Insomnia yang diidapnya mengesalkan pada saat-saat seperti ini.


Shinnichi merasakan tangannya memegang sesuatu. Sebuah kristal biru, terasa dingin dan basah. Ia merasakan sesuatu yang familier dari kristal itu.


“Emphiria....” Shinnichi menggumamkan nama gadis berambut air itu. Mengingat mimpi yang baru saja dialaminya.


 “Schwarz,” panggil Shinnichi. “Kau bangun?”


“Ada apa?” Suara kesal Schwarz terdengar di kepalanya. “Kau hanya tidur selama dua jam?”


“Aku bertemu Emphiria.” Shinnichi berterus terang.


Schwarz terdiam untuk beberapa saat. Terkejut mendengar itu. Sedikit skeptis bahkan. “.... Jika ini salah satu leluconmu,aku tidak terhibur.”


“Aku tidak berbohong. Seorang gadis Leviathan dengan rambut air, bukan?”


“-!? Bagaimana!?”


“Aku tidak tahu. Dia muncul dalam mimpiku. Berterima kasih kepadaku dan memintaku maaf kepadamu. Ia masih menunggumu, Schwarz.”


“.... Begitu ya. Emphiria masih menungguku....” Suara Schwarz terdengar lega. Jika ia masih memiliki bentuk fisik, sudah dapat dipastikan ia tersenyum lapang. “Emphiria....”


Schwarz merasa lega. Benar-benar lega.  Sebelum Emphiria meninggal, ia berjanji kepada Schwarz bahwa ia akan menunggunya di Alam Roh. Tak akan pergi sebelum Schwarz datang. Dan Schwarz tahu sifat Emphiria, istrinya akan selalu menepati janjinya. Tak akan melanggarnya demi apapun.


Tapi, Emphiria sudah meninggalkan dunia ini selama lebih dari 200 tahun. Selama waktu itu, jiwa seseorang dapat terkikis dari kesadarannya. Merubahnya menjadi Jiwa yang Tersesat, terkutuk untuk berkeliaran di Alam Roh selamanya. Jadi, mendengar bahwa Emphiria masih menunggunya memberi ketentraman pada hatinya.


“Shinnichi, terima kasih. Benar-benar, aku berterima kasih.”


“Tak usah dipikirkan.” Shinnichi tidak mendengarkan Schwarz. Mendengar seseorang Seperti Schwarz berterima kasih secara tulus baginya terasa aneh.


Tunggu, tulus?


“Jadi, Emphiria memang benar. Kau ini sebenarnya Tsundere ya?”


“Tsundere?? Apa maksudnya itu?”


“Orang sok kuat yang aslinya sensitif.”


“A-apa?! Aku tidak sensitif!”


“Oh, dialog khas Tsundere keluar. Ia juga mengatakan bahwa kau mudah sepi. Jadi, kau tipe itu ya?"


“Diam! Emphiria, kau mengkhianatiku!”


Entah kenapa, Shinnichi bisa membayangkan Emphiria mengetuk kepalanya sambil menjulurkan lidahnya. Mengatakan “Tee★hee! Pero~!”