
Zelfria adalah dunia yang kita tempati. Dibentuk hampir 12.000 tahun yang lalu oleh kekuatan hebat sang Dewi.
Zelfria memiliki empat benua utama. Masing-masing benua dihuni oleh beragam ras dan makhluk hidup. Semua memiliki kekuatan dan kemampuan masing-masing.
Benua Utara adalah benua yang kini ditempati para Pahlawan. Panzia namanya. Mayoritas penghuninya adalah Manusia. Panzia memiliki tiga kerajaan besar; Victoria di Utara, Triste di Timur dan Eltron di Barat.
Di Timur terdapat benua terbesar di Zelfria, Ronzi. Dihuni oleh Beast-kin dan Elf, Ronzi adalah benua yang dipenuhi peninggalan masa lalu. Banyak Dungeon dan labirin di bawah tanah Ronzi.
Di Barat adalah benua yang dipenuhi gurun dan gunung, Farni. Memiliki sumber mineral yang melimpah, Dwarf memanfaatkannya untuk menjadi negara pemroduksi senjata terbesar di dunia.
Terakhir adalah benua Selatan; Grimer, benua para Iblis. Selain ras yang menghuninya, tak banyak hal yang diketahui tentang Grimer.
"... Jadi, begitulah! Apakah Anda mengerti, Kurobane-sama?" Fiona mengakhiri penjelasannya dengan menghirup secangkir teh hangat.
"Ah, saya mengerti. Tapi, saya sudah berniat menanyakan ini...." Suara Shinnichi mengecil. "Apakah pakaian ini tidak terlalu berlebihan?"
"Hmm? Apakah begitu? Menurut saya itu cocok dengan Anda. Serasi dengan rambut dan mata Anda." Fiona menaruh cangkir tehnya. Bunyi menyenangkan bisa terdengar.
Ia menatap Shinnichi yang berdiri di sampingnya. Membawa sebuah nampan besi, Shinnichi memakai sebuah seragam pelayan. Lengkap dengan sarung tangan putih dan sebuah tailcoat, ia terlihat seperti seorang Butler muda.
"Bukankah ka— Fiona-sama berjanji mengajari saya? Apakah menjadi pelayan itu salah satunya?" tanya Shinnichi. Ia merasa seperti sedang ber-cosplay.
"Apakah Anda tidak mendengar saya tadi? Bukankah tadi terhitung sebagai sebuah pelajaran?" Fiona menyentuh pipinya lalu memiringkan kepalanya. Terlihat mempesona.
Dihadapkan dengan pemandangan yang indah itu, Shinnichi ragu untuk membantahnya dan merasa sedikit berterimakasih.
"Ti-tidak... Itu memang pelajaran." Shinnichi menyerah. "Terima kasih, Fiona-sama."
"Awalnya, saya akan membiarkannya saja," kata Fiona. "Namun, untuk memastikan bahwa Anda mendengarkan, saya akan memberikan beberapa pertanyaan. Topik hari ini adalah sihir."
Quiz lagi ya?
Shinnichi hampir mengeluh. Tapi, ia juga tidak berhak. Shinnichi memilih untuk mempersiapkan telinganya.
"Apa nama kekuatan sihir di Zelfria?"
"Mana."
"Jenisnya ada?"
"Dua. Mana Semesta dan Mana Tubuh."
"Jelaskan."
"Mana Semesta adalah Mana yang mengalir bebas di dunia. Sedangkan Mana tubuh terletak di tubuh seseorang."
"Ada dua cara untuk mempraktekkan sihir, apa saja? Jelaskan."
"Ada dua cara. Dengan mantera dan dengan lingkaran sihir. Mantera membuat sihir lebih kuat tapi memakan waktu dan Mana. Lingkaran sihir menghemat waktu dan Mana, tapi mengurangi kekuatan sihir."
"Bagus. Saya kagum dengan kapasitas belajar Anda, Kurobane-sama!" Fiona menepuk tangannya selagi tersenyum. Senang melihat Shinnichi bisa menjawab pertanyaannya dengan tepat.
"Te-terima kasih...."
Ini adalah rutinitas mereka sehari-hari. Sudah seminggu sejak Shinnichi menjadi murid Fiona. Namun, kata yang lebih tepat adalah pelayan.
Selain mengurus kebutuhan sang Putri, Shinnichi juga mengikuti sang Putri seharian penuh. Memastikan untuk mendengarkan penjelasan Fiona dan belajar darinya.
Perlahan, Shinnichi mulai mengumpulkan pengalaman. Saat ini, ia sudah bisa menggunakan [Appraisal] meskipun cukup terbatas; Hanya bisa melihat nama dan penjelasan singkat.
Meskipun sedikit, Shinnichi masih berterimakasih kepada Fiona karena sudah mengajarinya. Selain sihir, ia juga mendapatkan pelajaran umum. Seperti mata uang, geografi, sejarah, bahkan tata krama di istana.
"Oh, sepertinya tehnya habis." Fiona menaruh cangkirnya yang kosong.
Menangkap isyarat Fiona, Shinnichi mengambil teko berornamen cantik lalu menuangkan isinya ke dalam cangkir sang Putri. Suara menyenangkan keluar saat teh mulai terisi di dalamnya. Uap panas melayang di atasnya.
Shinnichi diberitahu bahwa teko itu merupakan benda sihir. Mampu menjaga suhu hangat di dalamnya selama diberi Mana, teko itu cukup berguna. Salah satu contoh benda yang menggunakan Lingkaran Sihir.
"Terima kasih, Kurobane-sama." Fiona tersenyum senang, mencium aroma teh sebelum meminumnya.
"Kepuasan Anda adalah kesenangan saya, Fiona-sama." Shinnichi menjawab dengan sopan.
Mendengar itu, Fiona menaruh cangkirnya. Menatap Shinnichi dengan tidak senang.
"Kurobane-sama. Bukankah saya sudah mengatakan untuk tidak berbicara seperti itu?" Fiona melipat tangannya.
"E-eh? Tapi, bukankah ka— Fiona-sama yang mengajariku untuk berbicara sopan dengan Bangsawan?"
"Tepat sekali. Bangsawan. Bukan saya," kata Fiona. Menekankan kata bangsawan.
"Te-tetap saja! Jika hanya ka— Fiona-sama saja yang berbicara sopan seperti itu, aku merasa tidak enak." Shinnichi mengeluarkan alasannya.
"Saya adalah Putri kerajaan, tentu saja saya harus berbicara sopan! Terutama saat berbicara dengan seorang Pahlawan seperti Kurobane-sama!" Tak ingin kalah, Fiona mencoba berdebat.
"Aku bukan Pahlawan," kata Shinnichi. Hatinya sedikit sakit. "Aku adalah pelayan Yang Mulia, Fiona Th-Throst... Victoria Ainsworth!"
"Ah! Apakah Anda membaca status saya?! Anda pelayan saya, tapi kenapa anda tidak mengingat nama saya!?"
Fiona berdiri. Menaruh kedua tangannya di atas pinggangnya. Menatap Shinnichi marah.
Karena nama bangsawan di dunia ini mirip kereta! Panjang!
Menahan celetukan itu di pikirannya, Shinnichi hanya mengalihkan pandangannya. Tidak bisa mengatakan hal sekasar itu. Sifatnya yang baik hati dan tidak tega sepertinya mencegahnya.
Fiona menghela nafas. Menenangkan dirinya. Seorang Putri harus bersikap tenang dan anggun.
"Baiklah, bagaimana dengan sebuah penawaran?" tawar Fiona.
"... Menjadi budak Fiona-sama?"
"Ti-tidak! Ke-kenapa anda mengatakan itu?!" seru Fiona dengan wajah merah. Malu karena Shinnichi mengatakan hal yang agak tidak sopan. "Dan saya kira anda adalah orang yang pendiam dan sopan."
"M-maafkan saya...?" Tidak mengerti, Shinnichi hanya bisa meminta maaf.
"Dengar, jika anda menghentikan cara berbicara itu, saya juga akan berhenti." Fiona menegakkan tubuhnya. Tersenyum kecil. "Bagaimana?"
"Te-tentu saja tidak bisa!" Shinnichi langsung menolaknya. "Jika orang lain mendengar saya berbicara tidak sopan kepada Fiona-sama, saya bisa dieksekusi!"
Mendengar alasan Shinnichi, Fiona menaruh jarinya di atas bibir tipisnya, memikirkan sesuatu. "Hal itu kemungkinan besar memang bisa terjadi."
"!?"
"Ta-tapi, tak perlu khawatir! Kurobane-sama adalah pendatang dari dunia lain serta pelayan sang Putri." Fiona menutup matanya, menaruh tangannya di atas dada dengan bangga. "Tidak ada yang akan berani mengganggumu. Mungkin...."
"Mungkin?" Shinnichi mendengar bisikan Fiona. Dan merasa sedikit khawatir.
"Ah, baiklah! Bagaimana dengan ini." Fiona memperbaiki postur tubuhnya. Memberikan usulan baru. "Saat ada orang lain, anda boleh berbicara sopan. Namun saat kita berdua, anda harus berhenti berbicara seperti itu. Secara alami, saya juga."
Shinnichi hampir tidak mendengar perkataan Fiona. Terlalu terfokus pada kata "Berdua". Berduaan bersama dengan seorang Putri seindah Fiona tentunya dapat membuat hati seorang laki-laki - siapapun itu - goyah. Shinnichi juga tidak terlalu berbeda.
Pengalamannya dengan perempuan mungkin tidak tepat untuk disebut dalam dan menyeluruh, tapi setidaknya ia memiliki pengalaman. Meskipun sedikit singkat.
"Kurobane-sama? Bagaimana?"
Suara Fiona memanggilnya. Membuatnya kembali ke dunia nyata. Shinnichi tanpa sadar mengangguk, menambah masalah yang tak perlu di masa depan. Sang Putri hanya tersenyum senang.
Di kejauhan, di atas sebuah menara, sepasang mata menatap pasangan pelayan dan putri. Mengamati mereka, emosi buruk mulai timbul.
❂❂❂❂❂❂
"Jadi, jika aku membeli dua buah apel seharga 10 koin perunggu menggunakan satu koin perak, berapa kembaliannya?"
"Satu koin perak setara dengan seratus koin perunggu, jadi kembaliannya adalah 90 koin perunggu."
"Hebat! Lalu, jika aku membeli sekotak apel dengan harga 40 koin perak menggunakan sekeping koin platinum, berapa kembaliannya?"
"Seratus koin perak setara dengan satu koin emas. Satu koin platinum setara dengan 100 koin emas. Jadi, kembaliannya adalah 99 puluh koin emas dan 60 koin perak. Tapi, aku agak khawatir jika kamu membeli apel menggunakan koin platinum, Fiona-sama."
"Ahaha, benar juga."
Di bawah sebuah gazebo putih di taman, Fiona tertawa kecil. Menyadari bahwa contoh soalnya memang agak aneh. Matahari mulai condong ke barat. Angin sore berhembus pelan. Menciptakan suasana yang hangat.
Seperti biasa, setelah selesai dengan pelajaran mereka hari ini, Fiona memberikan beberapa pertanyaan kepada Shinnichi. Namun, Berbeda dengan kemarin lusa, Fiona terlihat lebih santai, Shinnichi juga duduk di sampingnya.
Ini adalah hasil penawaran Fiona kemarin lusa. Meskipun butuh waktu untuk terbiasa, Shinnichi akhirnya setuju. Meskipun ia masih menjadi pelayan Fiona, Shinnichi diperbolehkan untuk bersikap biasa saat mereka hanya berdua.
Meskipun begitu, Shinnichi tidak sanggup memanggil nama Fiona secara langsung. Mengerti itu, Fiona membiarkannya. Ia juga masih sama; Memanggil Shinnichi dengan Kurobane-sama.
"Ah, itu mengingatkanku. Apakah levelmu sudah naik, Kurobane-sama?"
"Aku belum memeriksanya. Tunggu sebentar." Shinnichi mengeluarkan kartu statusnya. Tak butuh waktu lama untuk melihat isinya.
『Name : Kurobane Shinnichi
Level : 3
Race : Human
Class : [None]
Stats
Agi : 6
Atk : 5
Int : 17
Vit : 6
Skill
[Appraisal lvl.2] [Self-Magic Manipulation lvl.1] [Language Comprehension]
Title
[Other World Traveler] [The Dreamer] [Observer] 』
Seperti biasa, menatap statusnya terasa menyakitkan bagi Shinnichi. Setidaknya, level, stat dan level skillnya naik. Itu sudah cukup baik.
Shinnichi memberikan kartu statusnya kepada Fiona. Membiarkan sang Putri membacanya sendiri.
"Oh! Levelmu naik lagi." Fiona menatap kartu status itu dengan ekspresi tertarik. "Bukankah ini bagus?"
Shinnichi hanya bisa tersenyum lemah. Sudah lebih dari seminggu sejak ia datang ke Zelfria. Namun, levelnya hanya naik dua kali. Dibandingkan dengan teman-temannya, pertumbuhannya benar-benar lambat.
Di bawah bimbingan Gregory dan beberapa orang berbakat lainnya, para pahlawan mengalami pertumbuhan pesat. Selain itu, mereka juga mempunyai dukungan kerajaan. Setiap hari, mereka diberi ramuan peningkat level dan dibawa untuk berburu monster berlevel tinggi.
Shinnichi mungkin tidak tahu. Tapi, skill [Auto-Correction] yang didapat dari gelar [Hero] juga membuat pertumbuhan mereka meningkat. Ditambah dengan ramuan peningkat level, pertumbuhan mereka tidak tertandingi.
Dalam sekejap, level mereka naik dengan cepat. Izumi bahkan sudah mencapai angka tiga puluh. Pertumbuhan yang mengerikan.
Untuk Shinnichi sendiri? Ia bahkan tidak tahu kegunaan [Self-Magic Manipulation].
Shinnichi merasa sedikit iri. Ia juga ingin keluar dari istana dan berburu monster. Goblin, Slime, Ogre, dan monster-monster lainnya. Tapi, ia lemah. Saking lemahnya, kemungkinannya menyakiti dirinya sendiri saat mengayunkan pedang lebih besar daripada menyakiti musuhnya.
"Kurobane-sama? Kamu melamun lagi." Fiona mengembalikan kartu status Shinnichi. Terlihat khawatir. "Apakah kamu tidak apa-apa?"
"Eh? A-ah, maaf." Shinnichi menggaruk tengkuknya. Sedikit malu. "Aku hanya memikirkan teman-temanku."
"Ah, kudengar mereka sedang menjelajahi labirin di dekat perbatasan." Fiona memakan potongan buah apel yang terlihat seperti kelinci-kelinci kecil.
Selagi makan, Fiona terlihat senang. Gemar dengan contoh makanan unik yang sering dibuat Shinnichi. Meskipun hanya makanan sederhana, Fiona tidak keberatan. Ia senang, setidaknya itu berbeda dari makanan mewah yang selalu disajikan kepadanya. Shinnichi, di sisi lain, merasa tatapan dari para pelayan, seolah-olah mengatakan "Apa yang kau beri makan ke putri kerajaan?" itu mulai terasa menusuk.
Mencoba mengabaikan itu, Shinnichi menghela nafas lalu menutup matanya. Menyandarkan tubuhnya ke belakang. Ia berbisik.
"Apakah mereka baik-baik saja?"
"Oh, mereka pahlawan. Mereka pasti bisa," kata Fiona, kembali meraih potongan apel.
"Haha, tentu saja ya." Shinnichi tertawa kecil. Melepaskan senyum samar.
Fiona terdiam melihat Shinnichi. Ia menaruh kembali potongan apel itu lalu mengelap tangannya dengan sapu tangan di meja.
Shinnichi tidak terlalu memperhatikan si putri es. Ia kembali menutup matanya dan mengadah ke atas. Tak lama kemudian, sebuah sensasi dingin terasa di pipinya. Ia langsung membuka matanya.
Sebuah tangan ramping menyentuh wajahnya. Rasa dingin yang terasa nyaman mengimbangi rasa panas yang melintasi wajahnya. Shinnichi bisa menebak bahwa wajahnya kini memerah.
"U-umm... Fi-Fiona-sama?" Shinnichi bertanya dengan malu.
"Matamu benar-benar indah, Kurobane-sama. Sehitam langit malam. Menarik siapa saja yang memandangnya."
"!?"
Rajutan kata Fiona membuat Shinnichi terkejut. Laki-laki adalah makhluk yang sederhana, puji dan mereka akan gembira. Jantung Shinnichi mulai menguji kemampuan rusuknya. Serasa dapat meledak keluar kapan saja.
"Saat bahagia, matamu berkilauan seperti langit penuh bintang. Namun, saat sedih, awan menutupi keindahan malammu." Fiona menaruh tangan lainnya di wajah Shinnichi. Menangkup wajah sang pemuda.
"Kamu memang bukan pahlawan. Tapi, itu tidak berarti kamu lemah, Kurobane-sama." Fiona menatap Shinnichi dengan lekat. Tidak membiarkan pemuda itu mengalihkan pandangannya. "Semua orang memiliki perannya masing-masing, pertanyaannya adalah apakah kamu sudah menemukan peranmu dan bisa mengisinya?"
Shinnichi mendengarkan perkataan Fiona. Benar, ia memang bukan pahlawan, penyihir, atau bahkan petarung. Namun, ia yakin. Ia bisa menemukan perannya.
"Terima kasih, Fiona-sama." Shinnichi tersenyum. Memegang kedua tangan putri kerajaan. Terasa dingin dan sejuk.
Fiona balik tersenyum. Tak keberatan dengan tangannya yang disentuh. Jika laki-laki lain yang memegang tangannya seperti ini, Fiona pasti langsung membekukan mereka. Namun, untuk Shinnichi, ia merasa sikapnya berbeda. Entah kenapa, ia juga tidak tahu. Yang ia tahu, bersama Shinnichi membuatnya merasa aman.
"Ngomong-ngomong...." Fiona mengangkat suaranya.
Shinnichi memiringkan kepalanya sedikit. Tidak menjawab Fiona dengan kata, tapi bertanya dengan tatapan.
"Peranmu adalah pelayanku!" Fiona tersenyum lebar.
Shinnichi mulai bertanya-tanya apakah mencubit sang putri bisa membuatnya dieksekusi.