
Matahari sudah berada tinggi di angkasa. Waktu siang hari di Victoria umumnya cukup sejuk. Namun, suhu yang meningkat menjadi penunjuk bahwa musim panas sudah mulai mendekat.
Di belakang kastil, Shinnichi sedang berlatih. Keringat mengucur dari wajahnya. Menetes seperti embun di daun pagi.
"Hah... Hah... Hah...." Terengah-engah mengambil nafas, Shinnichi mengulurkan tangannya ke depan. Telapak tangannya penuh dengan lecet. Ia terlihat seperti akan jatuh pingsan kapan saja.
"Kau sudah lelah 'kan? Kenapa kita tidak berhenti dulu?" Suara seorang gadis mengingatkannya.
"Aku masih bisa melanjutkannya, Himekaze-san." Shinnichi tersenyum samar. Mengelap keringat di dagunya.
Berterimakasih kepada samg gadis berambut pirang, Shinnichi kembali mengulurkan tangan kanannya. Kembali mencoba merapal manteranya.
Erina menghela nafas. Takjub dengan sifat pantang menyerahnya. Selama ini, ia belum pernah melihat seseorang segigih Shinnichi.
Tak jauh di belakangnya, Izumi dan Yonaka sedang duduk di dalam gazebo. Terlindungi dari terik matahari.
"Shinnichi-kun, tidak apa-apa 'kan?" Yonaka bertanya. Menatap Erina dan Shinnichi yang berbincang-bincang.
"Aku tidak akan mengkhawatirkannya," jawab Izumi. Menyandarkan tubuhnya ke belakang. "Dia pasti punya alasan tersendiri."
"Tetap saja, sampai meminta Erina untuk mengajarinya." Yonaka masih tidak bisa mengenyahkan kekhawatirannya.
"Ah, berlutut di depannya memang aneh."
Izumi mengingat seminggu yang lalu. Sehari setelah mereka kembali, Shinnichi meminta Erina untuk mengajarinya sihir. Apapun itu. Meskipun pada awalnya Erina menolak, ia akhirnya menyerah setelah melihat Shinnichi menekan dahinya di lantai selama dua jam penuh.
"Apakah ini berhubungan dengan sang Puteri?"
"Benar juga. Aku belum melihat sang Puteri akhir-akhir ini. Kata Shinnichi, dia sibuk mempersiapkan diri."
"Menjadi Puteri ternyata sulit ya."
Bertukar kata, atmosfer di antara mereka berdua baik seperti biasa. Mereka kembali menoleh ke arah Shinnichi dan Erina.
"Sihir air, angin, api, tanah. Semuanya sudah kita coba! Tak satupun yang sesuai untukmu!" Erina memijat dahinya. "Kenapa kau tidak menyerah saja?"
Shinnichi menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan menyerah."
"Keras kepala itu ada batasnya!" Erina menggelengkan kepalanya. "Kau tidak mempunyai kecocokan dengan sihir apapun. Kau tidak berbakat dalam sihir!"
"...."
Shinnichi hanya diam. Mendengarkan teguran dari Erina.
"Dengar, kau gigih. Aku berikan itu padamu. Tapi, kau harus tahu batasmu sendiri." Erina mulai memberi nasehat. "Jika kau terus memaksakan diri menggunakan sihir yang tidak sesuai, hasilnya tidak akan bagus. Kau sering membaca, kau pasti tahu 'kan?"
Shinnichi perlahan mengangguk. "... Keracunan Mana dan kemungkinan Fragor."
"Benar. Kau bisa mati karenanya. Yang satu mati perlahan dan menyakitkan, satunya lagi kematian cepat dan menyakitkan. Bagaimanapun caranya, kau bisa mati."
Shinnichi diam. Menatap ke tanah, tak mengatakan apapun.
Ia tahu resiko yang ada. Resiko yang menunggunya jika ia terus melakukan ini. Ia takut, tentu saja. Siapa yang tidak? Kematian yang menyakitkan dapat menakuti siapa saja.
Namun, Shinnichi rela menjalaninya. Ketakutan mungkin selalu menghantuinya, tapi ia tidak keberatan.
Jika itu berarti menjaga senyuman Fiona, Shinnichi tidak keberatan.
"... Tetap saja. Aku tidak akan menyerah." Shinnichi mengangkat kepalanya. Tersenyum yakin, menatap Erina yang mulai lelah.
Erina kembali menghela nafas. "Baik, baik. Terserah kau saja."
Erina membuka buku di tangannya. Judulnya terbaca: "Medeis Magnus Opum."
Sebuah buku ensiklopedia populer. Buku itu menyimpan berbagai macam sihir serta perapalan manteranya. Mulai dari A hingga Z, hampir tidak ada sihir yang tidak tercatat di dalam buku itu.
Dengan tidak sabar, ia mulai membuka halaman demi halaman. Mencari sihir yang cocok untuk Shinnichi.
"Sihir air, sudah. Angin, tidak cocok. Api, apalagi. Tanah, tidak." Erina terus mencari. Sebelum ia sadari, ia sudah berada di bagian belakang buku.
Di halaman terakhir, ekspresi Erina berubah.
"Bagaimana dengan ini?" tanyanya antusias. "Sihir putih. Kau tahu?"
"Eh?" Shinnichi menggelengkan kepalanya.
"Dengar. Ini sihir murni. Tak perlu meminta roh elemen atau semacamnya. Kau hanya perlu mengendalikan Mana di dalam tubuhmu," jelas Erina sambil membaca buku. "Sihir ini mudah tapi agak tidak berguna. Mungkin kau bisa melakukannya."
Mendengar perkataan Erina, HP Shinnichi berkurang satu poin.
"Baiklah, bagaimana caranya?" tanya Shinnichi. Menyiapkan dirinya.
"Kendalikan Manamu. Kumpulkan di tanganmu. Selanjutnya, lemparkan."
"Lemparkan? Err... Maksudmu?"
"Lakukan saja."
"... Baiklah."
Shinnichi menutup matanya. Mengambil nafas dalam-dalam. Membayangkan kekuatan yang ada di dalam tubuhnya. Ia mengingat perkataan sang Puteri.
'Mana ada di mana-mana. Selalu mengalir di dunia. Di langit, di tanah, di air. Bahkan di tubuh makhluk hidup. Kekuatan serbaguna ini mirip dengan air. Mampu menyembuhkan, dan, tentunya, kebalikannya.'
"Bayangkan sebagai air," gumam Shinnichi. Ia mengulurkan tangan kanannya.
Ia merasakan sesuatu di dalam dadanya. Berpindah menuju telapak tangannya. Sedikit demi sedikit, ia mengumpulkannya di atas telapak tangannya.
Ia membuka matanya lalu menyentakkan tangannya. Tak terjadi apa-apa. Tubuhnya terasa berat lagi. Gagal.
Shinnichi menghela nafas. Ia mencoba lagi.
Erina menatap Shinnichi. Merasa sedikit bosan.
Sihir putih adalah sihir paling dasar. Tak perlu dikuasai jika seseorang ingin menjadi penyihir. Tak perlu merapal, nama atau semacamnya. Mengendalikan Mana cukup sama dengan bernafas. Seseorang bahkan tidak perlu sadar untuk melakukannya.
Jadi, melihat Shinnichi begitu fokus melakukannya dan gagal membuatnya cukup mengejutkannya.
Shinnichi mencoba melakukannya lagi. Tapi, tubuhnya terasa berat. Berlatih sihir sejak pagi sudah memberi dampak pada tubuhnya. Mana tubuhnya sudah hampir kosong. Ia tidak bisa menggunakan sihir.
Shinnichi tidak menyerah. Setelah ia melihat air mata sang Puteri? Tidak bisa dan tidak akan.
Shinnichi menutup matanya. Kembali mencobanya. Kini, ia tidak merasakan sesuatu dari dadanya. Kini, ia merasakan sesuatu dari luar. Seperti hembusan angin atau aliran air yang sejuk.
Shinnichi tidak terlalu memikirkannya. Ia terus mengumpulkan Mana di telapak tangannya. Ia bisa merasakan ototnya menegang. Seperti menahan sesuatu yang berat.
"Bagus!" Erina berseru. Lega karena Shinnichi akhirnya melakukan sesuatu. "Kau berhasil!"
"Oh! Shinnichi! Kau berhasil, kawan!"
"Shinnichi-kun! Hebat!"
Shinnichi mendengar seruan teman-temannya, ia membuka matanya. Sama seperti Erina, ia tersenyum lebar. Di tangannya, terdapat sebuah bola cahaya berwarna biru samar. Berputar-putar seperti ombak.
Erina melangkah ke sampingnya. "Sekarang pertahankan, kemudian lempar." Ia menunjuk ke arah sebuah pohon, sekitar 10 meter jauhnya.
Shinnichi mengambil nafas. Dengan gerakan cepat, ia menyentakkan tangannya.
Bola itu melesat terbang. Tak jauh, hanya empat meter sebelum meledak. Menciptakan gelombang kejut yang cukup untuk meniup rambutnya.
Shinnichi tersenyum. Entah kenapa, suara Erina, Yonaka, dan Izumi terdengar samar. Pandangannya juga semakin buram.
"... Keren."
Hanya itu yang bisa Shinnichi katakan sebelum jatuh ke tanah. Kelelahan dan kehabisan Mana.
❂❂❂❂❂❂
Bulan bungkuk menghiasi langit malam. Memberikan cahaya emas yang lembut. Memantulkannya dari mentari yang sudah pergi.
Di Ibukota, lampu-lampu mulai menyala. Bintang di bawah langit mulai berkelap-kelip. Mengikuti tabir malam yang terpasang.
Ibukota Victoria adalah kota tanpa tidur. Kapanpun waktunya, aktivitas-aktivitas tetap berlanjut. Kota besar itu adalah pusat dari kerajaan Victoria. Kerajaan Manusia terbesar di Zelfria.
Di Utara, perumahan mewah milik bangsawan terletak. Mansion dan Bungalow berukuran besar menjadi tempat tinggal para pejabat-pejabat tinggi kerajaan.
Di Barat, perdagangan menjadi hal utama. Kios-kios, restoran, penginapan, dan pedagang kaki lima menghiasi sisi jalan. Senjata, baju, makanan, hewan bahkan budak. Dengan harga yang tepat, apapun bisa ditemukan di sektor perdagangan Victoria.
Selain menjadi pusat pendidikan, sisi Selatan kota juga menjadi markas Guild cabang Victoria. Di mana petualang berkumpul dan bekerja. Di manapun kau melihat, kau pasti bisa menemukan seorang petualang di sana.
Di tengah-tengah ibukota, terdapat sebuah istana putih. Seputih gading dan semegah pegunungan. Dapat terlihat dari kejauhan dan nampak mencakar langit. Sebuah simbol kekuasaan negara.
Ivory Palace adalah tempat tinggal keluarga kerajaan. Memiliki ribuan ruangan, pelayan, dan penjaga. Seseorang bisa tersesat jika tidak terbiasa dengan interiornya.
Istana memiliki sebuah perpustakaan. Dengan rak buku setinggi langit-langit serta sepanjang ruangan, tidak berlebihan jika seseorang menyebut tempat ini sebagai labirin.
Jauh di dalam labirin ini, seorang pemuda sedang duduk di lantai. Puluhan buku tertumpuk tinggi di sekitarnya. Hampir mengelilinginya.
Cahaya samar menjadi penerangan utamanya. Keluar dari sebuah batu yang dikalungkan di lehernya.
"Penjedaan aktivasi," gumam pemuda itu. Membaca barisan kata dalam bukunya. "Dengan ini, pengaktifan sebuah sihir dapat ditahan untuk beberapa saat. Caranya— Oh."
Sebelum bisa menyelesaikan kalimatnya, batu sihir di lehernya meredup. Digunakan terus menerus selama empat malam secara terus menerus seperti mulai menguras Mana yang tersimpan di dalamnya.
"Terima kasih atas kerja kerasnya." Pemuda itu, Shinnichi, menyentuh batu itu. Mengisinya dengan Mananya sendiri dan membuatnya terang kembali.
Setelah berlatih bersama Erina selama seminggu, Shinnichi sudah lebih handal dalam mengendalikan Mananya. Levelnya juga meningkat dua kali. Kini ia level 5.
Shinnichi menutup bukunya lalu berdiri. Meregangkan tubuhnya yang sedari sore duduk tak bergerak. Ia berjalan melewati buku-buku yang dibacanya hari ini, berhati-hati agar tidak menjatuhkan salah satu tumpukan itu.
Mengingat jalur yang selalu ia lewati sebulan ini, Shinnichi melangkah keluar dari labirin perpustakaan.
Di luar, Shinnichi berjalan melewati lorong yang redup. Hanya cahaya bulan dan batu sihir yang menjadi penerang. Suara langkah kakinya menggema.
Sesekali, ia melewati beberapa penjaga. Berpatroli dalam zirah mereka. Tak memperdulikan Shinnichi. Bagi mereka, Shinnichi hanyalah pelayan rendahan milik sang Puteri keempat. Tidak perlu menghormat seseorang sepertinya.
Shinnichi tidak terlalu memikirkannya. Ia juga tidak pantas mendapatkannya.
Mengenyahkan pikiran negatif dari kepalanya, Shinnichi terus berjalan. Melewati aula, kamar tamu, teater kerajaan, ruang makan, dan sebagainya.
Kemudian, Shinnichi berhenti.
Ada seseorang di hadapannya. Memakai jubah mandi yang terbuat dari sutera. Di tangannya, terdapat sebuah gelas emas berisi anggur. Menatap ke luar jendela. Rambut emasnya memantulkan cahaya bulan.
"Sedang jalan-jalan, Shinnichi?" Samejima bertanya tanpa menatapnya. Suaranya terdengar apatis dan dingin
"... Perpustakaan, sebenarnya." Shinnichi menjawab.
Shinnichi melirik ke arah kamarnya yang terbuka. Ia bisa melihat beberapa wanita yang sedang tertidur di ranjangnya. Ia langsung mengalihkan pandangannya.
"Ah, benar. Kau sedang belajar!" Samejima menoleh ke arahnya. Sebuah senyum samar di wajahnya. "Untuk apa?"
"...."
Samejima berjalan mendekatinya. "Untuk apa kau belajar? Menjadi lebih kuat? Mencari cara untuk mendapatkan kekayaan? Lucu sekali."
Samejima menatap pemuda berambut hitam itu. Menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Samejima. Dilihat lebih dekat, tubuhnya gemetar. Kata pengecut cocok untuknya.
"Ah, aku tahu." Samejima menatap Shinnichi tajam. "Kau mencoba pamer kepada sang Puteri 'kan?"
Tubuh Shinnichi menegang. Di bawah tatapannya, ia tidak bisa bergerak. Nafasnya tercekat. Ia merasa sesak. Takut. Ia ingin lari meninggalkan tempat ini.
"Kau ini cuma bocah ingusan. Lemah, tak berguna, pendek, payah." Segala macam cemoohan keluar dari mulut Samejima. Menusuk hati Shinnichi. "Kau pikir membaca beberapa buku bisa mengubah hal itu?"
Samejima memutari tubuh Shinnichi. Membiarkan pemuda itu merasakan ketakutan. Baginya, mengurus seseorang seperti Shinnichi itu cukup mudah, bagaikan mematahkan ranting kering.
"Lalu, pakaian apa ini? Kau mencoba menjadi pelayan?" Samejima menarik-narik baju Shinnichi, sebuah robekan terbentuk di bahunya. "Kau lebih pantas menjadi budak."
Shinnichi menggigit bibirnya. Mencoba menahan ini semua. Mencoba mengabaikan perkataan Samejima.
"Sebenarnya apa yang dilihat Puteri itu darimu?"
"!?"
"Dia bodoh ya. Memilihmu daripada orang lain, matanya memang tidak benar. Yah, seperti kata Bangsawan, dia kan anak ha—"
"Jangan." Suara Shinnichi menyelanya. Tidak membiarkan Samejima mengatakan hal-hal buruk tentang tuannya.
Shinnichi mengeratkan genggamannya pada buku yang dibawanya. Mengangkat kepalanya, ia menatap Samejima dengan mata yang bergetar.
"Jangan ejek Fiona-sama."
"...."
"...."
"Pfft! Hahaha!" Samejima langsung tertawa melihatnya. "Hahaha, ah begitu ya. Begitu."
Samejima memegang perutnya. Terhibur melihat Shinnichi yang mencoba sang Puteri. Dengan senyum tipis, ia kembali menatap Shinnichi. Ia menaruh tangan di atas bahu Shinnichi.
"Kau sombong sekali, sialan." Senyumnya langsung hilang. Ia mencengkram bahu pemuda itu.
"Argh!" Shinnichi mengerang kesakitan. Mencoba melepaskan diri, tanpa hasil yang berarti.
Kekuatannya yang lemah bukan tandingan bagi sang Pahlawan. Shinnichi jatuh ke lututnya. Merasakan tulangnya yang mulai retak karenanya.
Samejima menjegal kakinya. Membantingnya ke lantai. Tubrukan itu mengeluarkan udara dari rongga dadanya.
"Kau hanya beban. Kau pikir kau bisa mengatakan hal semacam itu seenaknya?" Samejima memegang kepalanya. Menyisir rambut pirangnya. "Meminta Erina untuk mengajarimu? Berlatih setiap hari? Kau pikir itu bisa membuatmu kuat?! Menjadi keren?! Ingat tempatmu, sampah!"
"Keh!? Urgh!"
Samejima mengangkat Shinnichi di lehernya. Secara praktis mencekik pemuda berambut hitam itu. Membiarkannya meronta-ronta, Samejima menatapnya rendah.
"Puteri itu memang naif, bodoh, murahan, *****, kekanak-kanakan." Ejekan kembali keluar dari Samejima. Sengaja untuk membuat Shinnichi marah. "Lihat? Apa yang bisa kau lakukan saat aku mengatakan itu?"
Shinnichi mencoba menendang, memukul, mencakar. Apapun yang bisa ia lakukan. Mengejek dirinya mungkin tak apa, tapi mengejek orang yang penting baginya adalah hal yang berbeda.
Namun, tanpa bisa melakukan apa-apa, gerakan Shinnichi menjadi lebih lemah. Ia kekurangan oksigen.
"Ayo, lakukan sesuatu. Lindungi Puteri spesialmu itu." Samejima tersenyum melihat cahaya mulai meninggalkan mata Shinnichi. "Seharusnya kau bisa mengalahkanku. Bukankah begitu, wahai pelayan berharga milik sang Puteri?"
Samejima melepaskan Shinnichi. Membiarkan pemuda itu jatuh ke lantai.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Shinnichi berusaha mengisi paru-parunya yang kosong.
"Lihat? Lemah sekali." Samejima menendang Shinnichi. Membuatnya berguling beberapa kali sebelum menghantam dinding.
"Menyedihkan sekali." Tak melemparkan pandangan ke Shinnichi, Samejima kembali ke kamarnya.
Shinnichi masih di lantai. Telengkup di lantai. Tatapannya kosong, di sudut matanya, ia melihat buku yang dibawanya.
"...." Tanpa mengatakan apapun, ia mengambil bukunya yang jatuh.
Dengan bersusah payah, Shinnichi berdiri. Perlahan, ia berjalan dengan tertatih-tatih. Mencoba mengabaikan rasa sakit yang menyerangnya dalam setiap langkah.
Shinnichi sampai di halaman belakang kastil.
Bulan masih bersinar di angkasa. Angin malam menerpa wajahnya. Memberikan sensasi dingin yang lembut.
Wajahnya mulai basah. Air mata mulai menetes dari dagunya.
Shinnichi muak. Benar-benar muak.
Muak ditindas. Muak diejek. Muak menjadi lemah. Muak menjadi dirinya sendiri. Ia...
Muak tidak bisa membela orang yang penting baginya.
Kenapa?
Kenapa dunia selalu kejam kepadanya? Kenapa dunia selalu menolaknya? Di Zelfria, di dunia asalnya. Di manapun ia berada.
Ingin rasanya, ia melawan. Berdiri di tempat tanpa goyah. Membela hal yang ia anggap penting.
Tapi, bisa apa ia?
Lemah, tak berguna, beban. Shinnichi merasakan bahwa itu semua benar. Ia bukan pahlawan, bukan pula orang penting. Ia bukan siapa-siapa.
Shinnichi tidak mau membiarkan perkataan orang lain mempengaruhinya. Tapi, ia juga tidak bisa membantahnya. Semua ini terlalu banyak untuk seorang pemuda sepertinya.
"Aku hanya ingin menjadi kuat...." Shinnichi menundukkan kepalanya. Memegang bahunya. "Untuk melindungi orang-orang yang dekat denganku... Apakah permintaan itu terlalu sulit?"
Di bawah langit malam, hembusan angin membawa gumaman Shinnichi pergi. Entah kemana itu.