Re: Turning

Re: Turning
Courageous



"E-eh? Bertarung denganmu?" Shinnichi mengulangi kata-kata Samejima. "U-untuk apa?"


Ia tidak mengerti alasan di balik perkataannya. Ia baru saja lolos dari tebasan pedangnya. Dan sekarang, ia didorong kembali ke arahnya?


"Untuk apa aku menjawabmu?" jawab Samejima yakin. Seolah-olah pendapat Shinnichi untuk bertarung itu tidak penting.


"...."


A-aku salah dengar ya? Apa-apaan itu!? Shinnichi berteriak dalam kepalanya. Ia tidak mengerti jalan pikiran orang di depannya ini. Ia bahkan lebih memilih untuk meragukan telinganya sendiri.


"Kenapa? Kau ingin menolak seperti seorang pecundang? Menyerah dengan ekor di antara kakimu?" tanya Samejima lagi.


Shinnichi ingin mengangguk dan berseru "iya!" Sebagai seorang pelayan, ia tidak mempunyai harapan untuk bertanding dengan seorang Pahlawan seperti Samejima. Namun, sebuah suara dari seorang Puteri tertentu menyelanya.


"Tentu saja tidak! Kurobane-sama tidak takut dengan anda."


"F-Fiona-sama!?"


Dengan yakin, Fiona menyetujuinya. Mewakili Shinnichi, meskipun orangnya sendiri terlihat — koreksi — benar-benar enggan. Bagaimanapun, keputusan telah dibuat. Mereka akan berduel.


Samejima tersenyum puas. Ia menaruh tangannya di atas gagang Rivelia. Ia membalikkan badannya. "Aku akan memberimu waktu untuk mempersiapkan diri," katanya sebelum berjalan pergi.


"Fi-Fi-Fiona-sama! A-apa itu tadi?" Seusai ditinggalkan Samejima, Shinnichi langsung menghampiri Fiona dengan ekspresi ketakutan. Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. "A-aku tidak bisa bertarung dengan seorang Pahlawan! Saat ini, aku hanyalah pelayan biasa!"


Tantangan Samejima, alasan anehnya, keputusan Fiona. Ia tidak bisa mencerna itu semua bersamaan. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut. Bergumam, "Bagaimana ini? Bagaimana ini?" di bawah nafasnya.


"Hmm? Tapi, aku yakin Kurobane-sama bisa mengalahkannya," kata Fiona yakin. Ditambah dengan sebuah senyuman cerah di wajahnya.


"Ba-bagaimana kamu tahu, Fiona-sama?" tanya Shinnichi pelan.


Fiona tidak menjawab. Sebaliknya, ia hanya tersenyum manis. Membuat penerima senyum itu sedikit tersipu.


Shinnichi tidak tahu asal keyakinan penuh itu. Maupun alasan kenapa Fiona berani membelanya dan ras Iblis di hadapan para Manusia. Namun, ia tahu senyum itu berarti sesuatu. Dan ia merasa harus membuktikan "sesuatu" itu.


Shinnichi menghela nafas. Ia tidak pernah mengerti pemikiran Tuannya itu. Ia menoleh ke arah Yonaka, Izumi, dan Erina.


Meskipun Izumi masih pingsan, luka di tubuhnya sudah menghilang. Seseorang bahkan dapat mengira bahwa ia hanya tertidur. Memangku kepalanya, Yonaka tersenyum kepada Shinnichi. Seolah-olah mengatakan "Kau pasti bisa!"


Erina, di sisi lain, memasang ekspresi rumit. Ia sudah melatih Shinnichi selama lebih dari dua minggu. Cukup baginya untuk mengerti sifat Shinnichi yang lembut dan jujur. Namun, ia juga memiliki perasaan kepada Samejima, bahkan sebelum datang ke Zelfria. Ia tidak bisa membuangnya begitu saja.


Mengatakan sesuatu kepada Yonaka, Erina pergi meninggalkan mereka. Berjalan ke arah Samejima. Tak lama kemudian, beberapa ksatria juga datang dan membawa Izumi ke ruang tabib. Yonaka menoleh ke arah Shinnichi dengan ekspresi khawatir. Shinnichi hanya tersenyum lemah sambil mengatakan "Tak apa." Yonaka menunduk meminta maaf sebelum mengikuti mereka.


Sepertinya hanya Fiona yang menemaninya sekarang. Namun, ia terbukti salah.


"Tuan Puteri, Shinnichi-dono."


Dari belakangnya, ia mendengar suara seorang wanita. Itu membuat Shinnichi dan Fiona menoleh. Menatap seorang wanita berambut perak. Seorang Iblis, Fusena menundukkan kepalanya sedikit.


"Terima kasih sudah membela kami," katanya dengan sedikit aksen. "Meskipun ia adalah Pahlawan, Shinnichi-dono melindungi Haira."


Fusena menoleh ke samping. Haira juga menundukkan kepalanya kepada Shinnichi. "Ctrestum morvi, Shinnichi-dono. K-kami berhutang kepada anda."


"A-ah, tak apa. Tak usah dipikirkan." Shinnichi melambaikan tangannya. Memberikan senyum kecil. "Aku juga sudah dibantu."


Shinnichi masih belum tahu cara mengaktifkan sihir miliknya. Tapi, setidaknya ia sudah mengerti mantera yang dibutuhkan. Itu saja sudah lebih dari cukup.


Lagipula, Shinnichi melindungi Haira karena niatannya sendiri. Ia tidak merasa enak jika seseorang berhutang kepadanya.


"Ta-tapi...."


"Haira, jangan mengotori kehormatan Shinnichi-dono." Fusena memotong perkataan Haira yang ingin memprotes. "Ia ingin melakukan ini dengan kemauannya sendiri."


Huh? Kapan aku berniat untuk bertarung dengan Pahlawan OP itu!?


Menahan pikiran itu di dalam kepalanya sendiri, Shinnichi hanya bisa tersenyum lemah. Fiona merasa sedikit bersalah sekarang. Setelah dipikir-pikir, Shinnichi pasti ketakutan.


"U-umm... Kurobane-sama, ji-jika kamu menang...." Fiona mulai menggumamkan sesuatu. Wajahnya merah karena malu. "N-nanti...."


"Hmm?" Shinnichi hampir tidak mendengar suara Fiona. "Apakah kamu mengatakan sesuatu, Fiona-sama?"


"Po-pokoknya!" Fiona memilih untuk tidak memberitahunya. "Kurobane-sama harus menang!"


"O-oh, baiklah?" Shinnichi menatap Fiona. Agak bingung.


Tak mengatakan apa-apa, Fiona membalikkan badannya. Ia berjalan cepat ke sisi lapangan. Memberi ruang kepada Shinnichi. Sekaligus menyembunyikan wajahnya yang merah.


Para Iblis juga sama. Menggunakan sihir angin, Haira mengangkat Endel lalu membawanya keluar lapangan. Fusena kembali menunduk kepada Shinnichi lalu mengikuti Haira.


Shinnichi kembali menghela nafas. Ia sendirian sekarang.


Shinnichi mengambil nafas dalam-dalam. Menyiapkan diri untuk berhadapan dengan seorang Pahlawan.


❂❂❂❂❂❂


Samejima mengayunkan Rivelia. Sesekali melepaskan bola api ke arah langit. Sengaja membuat perhatian semua orang tertuju kepadanya.


Ia adalah orang yang bangga. Terlalu bangga dengan dirinya sendiri. Bahkan sebelum datang ke Zelfria.


Samejima hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna. Membuat ia tak diperhatikan orang tuanya. Faktor itu membuatnya menjadi seorang yang gila hormat.


Secara alami, ia berpikir bahwa ia berada di atas semua orang. Bahwa semua orang itu lebih rendah darinya. Maka, saat Shinnichi mendapat perhatian khusus dari sang Puteri. Ia murka.


Ia tidak mengerti. Apa yang dilihat sang Puteri dari Shinnichi? Penampilannya? Biasa. Sifatnya? Biasa. Kekuatannya? Biasa.


Ia tidak mengerti. Menurutnya, penampilan, karisma dan kekuatan adalah hal yang terpenting. Dengannya, ia bisa mengendalikan orang lain.


Namun, sang Puteri memilih untuk mengabaikannya. Memilih sang pelayan daripada sang Pahlawan. Bahkan membelanya di depan wajahnya, dua kali.


Jadi, saat ia menerima pesan dari sang Raja pagi tadi, ia kegirangan. Dengan ini, ia bisa menyingkirkan pelayan lemah itu. Dengan ini, sang Puteri bisa menjadi miliknya.


Samejima menutupi mulutnya. Bagi orang lain, ia terlihat seperti tak tega melawan Shinnichi. Membuat orang lain lebih menghormatinya. Tapi kebenarannya dapat membuat siapa saja merasakan rasa takut merayap di bawah kulit.


Samejima mencoba menyembunyikan senyumannya. Ia sudah tidak sabar.


Menyarungkan kembali Rivelia, ia berjalan ke tengah lapangan. Melirik ke arah sang Puteri. Tatapan yang diberikannya kepada Shinnichi menjelaskan semuanya.


Sang Puteri jatuh hati kepada sang pelayan.


Cerita yang indah. Batin Samejima. Menatap Shinnichi. Sayang sekali, kau bukan karakter utamanya.


Samejima berhenti di seberang Shinnichi. Pelayan itu terlihat menyedihkan seperti biasa. Gemetar di bawah tatapan Samejima seperti seekor tikus yang dipojokkan oleh kucing.


Samejima mendengus. Hampir tidak bisa menahan tawanya.


"Duel ini memiliki peraturan yang sama seperti yang lain!" Samejima berkata. "Tapi, aku akan membuat pengecualian."


Samejima mengangkat Rivelia di dalam sarungnya. Ia mengikat gagang pedang dan sarungnya dengan tali pengekang pedangnya.


"Untuk menghindari korban yang tak perlu. Aku tidak akan mengeluarkan Rivelia! Orang yang terakhir berdiri, menang!" katanya agak keras. Membuat penonton bersemangat.


Benar saja, para penonton mulai mengeluarkan suara kagum. Tak hanya kuat, Pahlawan Samejima juga baik hati. Begitulah yang mereka ucapkan.


Tentu saja Samejima tidak bermaksud seperti itu. Selain menyombongkan diri dan membuatnya lebih baik di mata orang, ia ingin Shinnichi menderita.


Jika ia memakai bilah Rivelia, ia bisa tanpa sengaja membunuhnya. Samejima tak ingin itu. Ia ingin Shinnichi hidup agar dapat mengingat luka yang akan ia berikan.


Mendengar itu, Shinnichi agak terkejut. Tak lama kemudian, ia tersenyum kecil. Sepertinya ia tidak tahu apa yang dipikirkan Samejima.


"Siap? Aku akan memberikan pukulan pertama kepadamu." Samejima tersenyum sombong. Memastikan tidak ada yang mendengarnya kecuali Shinnichi.


"Ba-baiklah." Shinnichi mengangguk pelan.


Berkat latihannya, Shinnichi hanya membutuhkan 6 detik untuk mengumpulkan bola Mana. Ia juga berusaha untuk tidak menutup matanya.


Tak mengatakan mantera atau nama sihir, Shinnichi melemparkan bola Mana itu ke arah Samejima. Terlihat seperti sebuah bola meriam.


Namun, Samejima tidak gentar. Ia mengayunkan Rivelia yang masih ada dalam sarungnya. Memotong bola Mana itu menjadi dua. Tanpa menggunakan bilah Rivelia sekalipun, ia masih bisa memotong bola biru milik Shinnichi.


Dum! Sepasang ledakan besar tercipta di belakangnya. Meniup angin dan membuat rambut emasnya berkibar. Penampilannya cocok dengan gelar Pahlawan. Sayangnya, ekspresi wajahnya lebih cocok untuk seekor hewan buas.


Samejima tersenyum lebar. Bukan senyum mempesona. Namun, senyum kosong yang terlihat seperti bulan sabit. Ia merendahkan tubuhnya lalu melesat secepat kilat.


Gerakannya terlalu cepat. Shinnichi tidak bisa melihatnya. Ia menengok ke sana kemari, namun tak menemukannya.


"Di belakangmu."


"Apー!? Guh!"


Tak bisa merespon dengan cepat, Shinnichi menerima sebuah tendangan di punggungnya. Terasa seperti dipukul dengan pemukul baseball. Ia melayang di udara sebelum jatuh ke tanah.


"Kurobane-sama!" Fiona berseru melihat tubuh Shinnichi tiba-tiba terlempar.


Debu terangkat saat ia jatuh. Di bawah, Shinnichi terbatuk-batuk. Ia hampir tidak bisa berdiri. Ia mungkin tidak tahu, tapi Samejima menahan daya serangnya. Ia tidak ingin Shinnichi pingsan di tengah pertarungan.


"Uhuk! Uhuk!" Shinnichi terbatuk-batuk. Mencoba mengeluarkan debu yang masuk ke dalam paru-parunya dan dampak tendangan tadi. Pandangannya kabur, tapi ia bisa melihat sosok Samejima.


"Ada apa? Sudah menyerah?" Samejima menyisir rambut emasnya, tersenyum kecil.


Suara Samejima menyadarkannya. Ia berdiri dengan susah payah. Tidak ingin menyerah setelah terkena satu serangan. Ia mungkin ketakutan, tapi ia tak akan menyerah.


Shinnichi mulai memutar otaknya.


Samejima tidak menunggu lagi. Kali ini, ia hanya berjalan. Dengan tenang mendekati Shinnichi.


Bagi orang lain, mungkin itu terlihat biasa. Namun, bagi Shinnichi, itu adalah pengalaman paling menakutkan yang ia alami sejauh ini. Aura membunuh yang dikeluarkan oleh sang Pahlawan menusuk ke dalam tubuhnya. Membuatnya kembali gemetaran.


Ingin rasanya ia menyerah. Ingin rasanya ia berlari. Tapi, Shinnichi tetap berdiri dengan kakinya.


Ia mulai mendorong batas dirinya. Menciptakan dua bola Mana dalam waktu yang bersamaan. Ia melemparkannya kepada Samejima.


Samejima mengayunkan Rivelia. Dum! Sepasang ledakan kembali terdengar di belakangnya. Ia berhenti lalu memegang Rivelia dengan kedua tangannya.


Duum! Sebuah ledakan besar mendorongnya ke belakang. Sepertinya bola Mana Shinnichi memang memiliki kekuatan tersendiri. Samejima tidak terlalu khawatir.


Shinnichi tidak membuang-buang kesempatan. Ia berlari ke arah Samejima. Sebuah bola Mana di tangannya. Ia mengarahkannya ke perut Samejima. Mencoba taktik yang digunakan oleh seorang ninja pirang tertentu.


Tentu saja bagi seorang Pahlawan berlevel tinggi, Samejima menangkap niatan Shinnichi. Ia memegang tangannya yang terulur. Lalu dengan cepat, menariknya.


Shinnichi membelalakkan matanya. Terkejut saat ia merasakan tubuhnya tertarik ke depan. Tapi, rasa terkejut itu segera digantikan oleh rasa sakit yang menyerang punggungnya lagi. Samejima menyikutnya dengan keras sampai-sampai membuatnya terjatuh ke tanah. Mengabaikan momentum tarikannya.


"Guhuk!"


Menghantam tanah, Shinnichi bisa merasakan udara terdorong keluar paru-parunya. Tak sampai dua menit, ia sudah jatuh ke tanah lagi. Shinnichi menutup matanya.


"Menyedihkan sekali," bisik Samejima. Terdengar oleh Shinnichi. "Jika kau menyerah dan memberiku sang Puteri, aku akan membiarkanmu pergi."


"T-tidak." Shinnichi langsung memberikan jawabannya. Serangan sehebat apapun tidak akan bisa menggoyahkannya.


Samejima menatap Shinnichi dingin. Ia menggantungkan Rivelia di punggungnya. Ia mengangkat Shinnichi dengan mudah.


"Kalau begitu, mati."


"Argh!"


Memegang lehernya, Samejima mulai memukul perut Shinnichi. Membuat pemuda itu mengeluarkan suara kesakitan. Setiap hantaman tinju Samejima terasa begitu menyakitkan di perutnya. Shinnichi membutuhkan semua tenaganya untuk tidak kehilangan kesadaran.


"Kurobane-sama...."


Melihat Shinnichi, Fiona merasa sakit yang sama di hatinya. Ia bisa merasakan setiap pukulan yang diterima Shinnichi. Berbeda dengannya, lukanya psikologis. Ia mulai menyesali keputusannya. Fiona mengutuk dirinya sendiri karena mendorong Shinnichi ke pertarungan ini.


Bukan hanya Fiona yang memasang ekspresi khawatir di wajahnya. Di seberang lapangan, Haira juga menatap Shinnichi dengan ekspresi yang sama. Ia merasakan dirinya sebagai alasan utama Shinnichi menderita. Haira juga mengutuk kebodohan dirinya sendiri karena menyebabkan Shinnichi menderita.


Erina juga mulai tidak sanggup melihat lagi. Ia mengalihkan pandangannya. Mencoba mengabaikan erangan Shinnichi. Penonton yang lain juga mulai merasa kasihan kepadanya. Namun, mereka tidak bisa melakukan apa-apa.


Shinnichi memegang tangan kiri Samejima. Mencoba melepaskan diri. Samejima menajamkan matanya. Ia melepaskan Shinnichi lalu menendangnya.


Tubuh Shinnichi menggelinding di tanah. Mengotori tubuhnya dengan debu dan lecet. Jika Samejima tidak menahan diri, ia pasti sudah mati. Ia bisa merasakan memar di punggungnya.


Namun, Shinnichi belum menyerah. Ia kembali bangkit. Babak belur, tapi tatapannya mengatakan bahwa ia pantang menyerah.


Samejima berjalan ke arah Shinnichi. Menyisir rambut emasnya. Menghela nafas melihat betapa keras kepalanya bocah yang satu ini. Ia menarik Rivelia -masih dengan sarungnya- dari punggungnya.


Samejima menyisir rambutnya. "Kau tahu, aku selalu berha— Gwah!?"


Dum! Sebuah ledakan tercipta dari tangan kiri Samejima. Mengenai Kepalanya langsung. Samejima terlempar ke belakang. Terkapar dan kehilangan kesadaran.


Kejadiannya begitu cepat sampai-sampai penonton tidak mengerti apa yang terjadi. Samejima menyisir rambutnya seperti biasa, terdengar ledakan kemudian terkapar. Itu yang mereka lihat.


"Kurobane-sama menang...?" Fiona mulai menggumam. Tak lama kemudian, ia tersenyum senang. "Kurobane-sama menang! Ia yang terakhir berdiri!"


Seaneh apapun perkataan Fiona, ia mengatakan hal yang benar. Meskipun tidak ada yang menyoraki kemenangannya kecuali Fiona, mereka tak bisa membantah bahwa Shinnichi menang.


"Samejima kalah...?" Erina, sama terkejutnya dengan yang lain, bergumam. Meskipun ia merasa kasihan kepada Shinnichi, rasa itu dikalahkan oleh keterkejutannya.


Fusena di lain sisi, tersenyum kecil. Haira juga terlihat lega. Menatap Shinnichi sekali lagi, ia membalikkan badannya. Meninggalkan lapangan.


"Fusena-dono?" Haira memanggil nama wanita Iblis itu. Tak mendapatkan jawaban, ia memutuskan untuk mengikutinya. Endel -masih pingsan- melayang di belakangnya.


Menatap Samejima yang tak sadarkan diri, Shinnichi ingin menangis. Ia pasti mengingat hal ini dan akan mengincarnya lagi. Tapi, untuk kali ini, setidaknya ia berhasil. Ia berhasil mewujudkan kepercayaan Fiona. Atau sebaliknya, kepercayaan Fiona menjadi kenyataan.


"Kamu benar, Fiona... sama...."


Tersenyum kecil, pandangan Shinnichi mulai kabur. Tubuhnya seperti sudah mencapai batasnya. Shinnichi jatuh ke tanah. Suara Fiona yang memanggil namanya menjadi hal terakhir yang ia dengar.


✾✾✾✾


"Apa!?" Albert menghantam meja kerja. Membuat gelas dan botol alkohol di atas terjatuh dan pecah. Namun saat ini, kekhawatiran terbesarnya bukan itu. "Samejima kalah!? Bagaimana bisa!?"


"Pemuda aneh itu, Kurobane Shinnichi, mengalahkannya, Yang Mulia."


Menjawab pertanyaan Albert, adalah sebuah sosok. Sosok yang samar, laki-laki, perempuan, tua atau muda. Ia tidak menyerupai siapapun. Mist, mata-mata andalan sang Raja Victoria.


"Pengkhianat itu mengalahkanya!?"


Albert membelalakkan matanya. Tidak mempercayai apa yang dikatakan Mist.


"Pertama dia mendekati Fiona, lalu mengkhianati rasnya sendiri, kemudian mengalahkan salah satu Pahlawan? Apa yang ada di pikirannya?!" Albert mendesis kesal. "Apakah dia tahu hal yang sebenarnya?"


Rencananya sudah berjalan lancar. Ia sudah dapat melihat masa depan idealnya. Dan sekarang ada seorang pengganggu yang muncul di hadapannya. Albert tidak bisa membiarkan ini.


"Panggil Estoc! Aku ingin dia dan pengkhianat itu ada di hadapanku!" seru Albert memberi perintah.


Mist berlutut di hadapan sang Raja. "Akan hamba laksanakan." Dalam sekejap, ia menghilang. Menyatu dengan kegelapan yang ada di ruangan.


"Sialan!" Albert merutuk. Membalikkan mejanya dengan kekuatan penuh. "Tak akan kubiarkan!"


Pikirannya tertuju kepada pemuda berambut hitam itu. Pemuda yang mulai mengganggu rencananya. Dan ia akan membayar sesuai dengan perbuatannya.


"Aqrina-sama, mohon tunggu sebentar lagi. Hamba akan mengurus tikus pengganggu ini."


Berbicara kepada Dewinya, Albert mengadahkan kepalanya ke atas. Entah apa yang ia maksud dengan mengurus. Hanya ia dan Dewinya yang tahu.