
Shinnichi duduk di depan tangga yang mengarah ke lantai 96. Sebuah api unggun yang terbuat dari kayu dan kain membara di hadapannya. Beberapa potongan daging monster sedang dibakar di atasnya. Minyak monster berkilauan di atas cahaya api, memberi pemandangan yang menggiurkan.
Shinnichi menggigit daging Filbrum. “Kukira aku sudah terbiasa. Rasanya masih menjijikan,” gerutunya. Menelan daging itu dengan keengganan seorang bocah untuk menelan obat.
Setelah mengalahkan bos lantai, sebuah istirahat yang layak sangatlah dibutuhkan. Apalagi di bagian akhir dungeon seperti ini. Hanya lima lantai lagi sebelum ia sampai di lantai terakhir.
Shinnichi kembali mencelupkan bulunya ke dalam botol penuh darah. Menggores kertas dan menggambar peta terbarunya. Kini sudah melebar hingga 12 halaman. Dan meskipun menggunakan darah, buku milik Emphiria masih memilki aroma wangi yang khas. Aromanya seperti mata air, Shinnichi juga tidak tahu persis.
“Aku masih tidak mengerti.” Schwarz terdengar bingung. Seuatu yang jarang didengar Shinnichi. “Bagaimana buah Methanasian itu meledak? Lemparanmu tidak begitu kuat, Buah itu juga tidak membentur sesuatu yang keras.”
“Oh, aku memakai [White Magic] untuk memasang bola Mana di buah-buah itu lalu memakai penjedaan aktivasi. Selanjutnya bisa kau lihat sendiri.” Shinnichi menunjuk ke arah sisa-sisa Blob Trapper.
“Menggunakan sihir tingkat dasar untuk mengalahkan Bos Lantai, benar-benar cerdik,” puji Schwarz.
Shinnichi hampir salah mencoret petanya. “S-Schwarz? Kau kurang sehat ya?” tanya Shinnichi, bergidik ngeri
“Aku hanya memujimu, apakah ada yang salah?” Schwarz terdengar kesal.
“Yah, aku sangka kau akan mengatakan sesuatu seperti ‘Hoh, menggunakan sihir rendahan? Menggelikan, aku bisa menghancurkannya dengan satu hembusan nafas. Hohohoho,’ atau semacam itu.” Shinnichi meniru suara Schwarz. Ingin terdengar se-chuuni mungkin.
“A-aku tidak berbicara seperti itu!”
“Sanggah sang Kaisar Naga Kegelapan.” Shinnichi kembali mengejek Schwarz.
“.....” Schwarz tidak bisa menyanggah itu. Ia memilih untuk mengabaikannya.
“Heh.” Shinnichi mendengus sombong. Kemenangannya lagi. Meskipun ia sendiri merasa sedikit menyesal karena mengejeknya.
Shinnichi menutup buku Emphiria lalu mengalihkan pandangannya ke arah api. Bayangannya berkibar mengikuti kobaran api. Mendengarkan suara api yang menenangkan, ia mulai meminum air kristal Emphiria. Mengembalikan kesegaran ke tubuhnya yang lelah.
Ia mengangkat tangan kirinya, tangannya yang masih normal. Terdapat luka baru di bawah pergelangan tangannya. Sayatan yang ia terima dari kail Blob Trapper. Air kristal Emphiria mungkin mampu menyembuhkan luka. Namun, bekas luka sepertinya lebih sulit untuk dihilangkan.
“[Appraisal]” gumamnya. Sudah lama ia tidak memeriksanya. Sebuah jendela transparan muncul di hadapannya.
『 Name : Kurobane Shinnichi
Level : 58
Race : Half-Demonic Dragon
Class : [None]
Stats
Agi : 503(+5)
Atk : 398(+3)
Int : 698(+7)
Vit : 456(+4)
Skill
[Appraisal lvl.5] [Self-Magic Manipulation lvl.1] [White Magic lvl.6] [Dark Magic lvl.5] [Soul Eyes] [Draconic Wrath] [Language Comprehension]
Title
[Other World Traveler] [The Dreamer] [Observer] [Heir of Schwarz]』
“PFFTTT!! Uhuk! Uhuk!” Shinnichi menyemburkan air sambil tersedak-sedak. “ Ini statusku??”
“Kau terkejut hanya karena ini? Dasar bocah culun.” kini gantian Schwarz yang mengejeknya.
“Yah, maksudku. Bukankah ini aneh?! Int-ku saja hampir menyentuh angka 700??”
“Senjata utamamu adalah sihir. Tentu saja Int-mu akan berkembang pesat. Kau juga lebih suka berlari-lari seperti tikus, jadi Agi-mu juga ikut meningkat. Vit-mu juga lumayan. Tinggal Atk saja yang kurang. Seranganmu memang cukup lemah relatif dengan stat-mu yang lain,” komentar Schwarz. Ia melanjutkan. “Status seseorang dipengaruhi oleh tindakan pemiliknya. Jika kau sering menggunakan sihir, Int-mu akan meningkat dan seterusnya.”
“Tunggu. Jadi, stat bukan hanya dipengaruhi oleh kelas tapi juga tindakan?” tanyanya.
“Pertanyaan apa itu? Tentu saja. Kelas hanya memberikan sedikit tambahan. Bukan kemutlakan. Jika iya, orang yang tidak memiliki kelas sepertimu akan terus lemah. Tak hanya itu, orang yang terus berlatih juga akan rugi.”
Shinnichi mendengar penjelasan Schwarz. Ia tidak mengetahui ini sebelumnya. Ia pikir dulu di istana ia memang tidak punya potensi untuk menaikkan statnya.
“Dulu di istana, aku terus berlatih setiap hari. Tapi, kenapa statku tidak bertambah drastis seperti ini?”
“Biar aku tebak. Kau berlatih tanpa pengalaman langsung bukan?”
Shinnichi sedikit bingung. Tanpa pengalaman langsung? Apa artinya itu?
Schwarz mengerti bahwa diam Shinnichi berarti ketidaktahuan. Ia menghela nafas. “Pengalaman langsung. Maksudnya melawan monster atau lawan langsung.”
“Ah, tidak....” Shinnichi menggelengkan kepalanya. Tebakan Schwarz tepat sasaran. “Aku hanya menyerang sasaran.”
“.... Kau memang dungu ya? Status hanya akan meningkat jika kau berada dalam pertempuran. Jadi, selama apapun kau menyerang target itu, sebulan, setahun, seabad sekalipun, statusmu tidak akan meningkat jauh.”
Fakta itu menyambar Shinnichi seperti petir. Ia jatuh ke tanah. “Ja-jadi, aslinya aku hanya perlu berburu monster untuk meningkatkan statusku? “
“Secara sederhana dan meskipun akan memakan waktu yang lama, iya.”
“.....”
“.....”
Shinnichi berdiri lalu berjalan ke arah dinding. Ia menyentuh dinding itu lalu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, membenturkan kepalanya dengan sekuat tenaga.
“O-oi, kau sudah kehilangan akalmu?”
“Kuharap begitu.” Shinnichi menundukkan kepalanya. Darah mengalir dari dahinya. “Aku memang bodoh ternyata.”
Schwarz menghela nafas. “Semua orang memiliki kesalahan masing-masing. Tak peduli seberapa kuat atau hebat orang itu.Yang menjadi pilihan bukanlah caramu atau seberapa lama kau menyesalinya, tapi bagaimana caramu belajar darinya dan tak mengulanginya lagi. Yah, tapi kau memang bodoh, iya."
“.... Kau benar.” Shinnichi menjawabnya beberapa saat kemudian. Ia sudah menyesali masa lalunya terlalu lama. Ia harus menatap ke masa depan. Fokus ke tujuan utamanya; menyelamatkan Fiona. “Terima kasih, Schwarz. Kau bijak kadang-kadang.”
“Apa maksudnya itu!? Oi!?”
Shinnichi tertawa kecil. Ia mengangkat kepalanya, menatap dinding yang baru saja dibenturnya. Retakan menjalar seperti jaring laba-laba. “Hmm?” Shinnichi menyadari sesuatu di belakang dinding .
Ia mundur beberapa langkah. Menggunakan Dominator, ia meledakkan dinding. Memperlihatkan sebuah peti di baliknya. Terlihat kuno, tapi masih mempertahankan aura kemewahan.
“Tidak,” jawabnya, seolah-olah mengangkat bahunya. “Biasanya Bos Lantai hanya memberikan pengalaman. Dan mungkin sekali-kali senjata jika mereka memilikinya. Tapi, aku belum pernah melihat sebuah harta karun di dalam Dungeon. Namun, ruang harta aku sering melihatnya.”
“Jadi, ada ruang harta ya?” Shinichi mengambil peti itu. Cukup besar untuk seorang pemuda sepertinya. Dengan Vit yang melebihi 450, ia bisa mengangkatnya cukup mudah.
Tak ada kunci. Shinnichi menendang peti itu. Krek! Petinya terbuka.
“Dundundundu~n.” Shinnichi menggumamkan nada unik itu. Meskipun salah urutan.
Ia menengok isinya. Di dalam terdapat sepasang Vembrace atau pelindung lengan, tunik cokelat serta celana, sepatu boot kulit, jubah ungu dan sebuah topeng ornamen naga. Di samping pakaian itu, ada sepasang cincin merah, dan kantong kecil berisi koin.
Shinncihi mengeluarkan tunik dari peti. Cocok dengan ukuran tubuhnya. Dan melihat bahwa kemeja putihnya sudah kotor dan penuh koyakan, Shinnichi benar-benar membutuhkan pakaian baru.
“Aneh,” gumam Shinnichi. Heran karena hadiah yang diberikan sesuai dengan kondisinya. Iseng, ia mengaktifkan [Appraissal].
『 Item Name : Tunic
Description : Tunik biasa. Terbuat dari kain wol berkualitas tinggi.Terasa nyaman dan mudah untuk bergerak.』
『 Item Name : Mythril Vembrace
Description :Pelindung tangan yang terbuat dari besi sihir, Mithril. Ringan dan kuat, mampu melindungi pemakainya tanpa mengorbankan kecepatan.
Skill : [Lesser Magic Nullification] 』
『 Item Name : Ring of Space
Description : Cincin sihir yang terbuat dari Orichalcum. Dibuat menggunakan sihir kuno.
Skill : [Storage] 』
『 Item Name : Dark Dragon Robe
Description :Jubah Arcana yang terbuat dari kulit Kaisar Naga Kegelapan, Schwarz.
Skill : [Appraisal Cancellation] [Heat Resistance] [Cold Resistance] [Magic Resistance] [Projectile Resistance] [???] 』
『 Item Name : Dark Dragon Mask
Description : Topeng yang terbuat dari tengkorak Kaisar Naga Kegelapan, Schwarz.
Skill : [Poison Resistance] [Heat Resistance] [Cold Resistance] [Magic Resistance] [Intimidation Buff] [???] 』
“....”
“....”
“... Bahan tunik ini cukup nyaman.Bagus untuk dipakai.”
“Tunggu, tunggu, tunggu. Bukankah kau mengabaikan sesuatu yang penting?”
“Err... Efeknya bagus.”
“BUKAN! KENAPA MEREKA DIBUAT MENGGUNAKAN TUBUHKU!??”
Shinnichi tidak menjawabnya. Mendengar seseorang berteriak di kepalanya bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Ia hanya mengangkat bahunya.
“Kakakmu mungkin?”
“.... Kakak sialan.” Schwarz merutuk kakaknya sendiri. “Menggunakan tubuh orang sesuka hati. Ia sudah gila ya?”
Shinnichi mengabaikan Schwarz, tak ingin terkena karma. Ia membuka bajunya lalu mengganti pakaiannya yang ada di dalam peti itu. Memang benar, sesuai ukurannya. Jika memang kakak Schwarz yang membuat ini, berarti ia memperhatikan mereka.
Apakah ini hadiah karena mengalahkan bos lantai? batin Shinnichi. Ia memakai cincin sihir itu di tangan kirinya. Ia sudah melihat skill yang dimiliki cincin ini.
“[Storage],” ucapnya. Sekejap, sebuah jendela hitam berbentuk persegi muncul di hadapannya. “Oh, aku tahu ini.”
Shinnichi menjatuhkan kantongnya ke dalam jendela itu. Kantong itu langsung masuk ke dalam dengan mudah. Sihir untuk menyimpan benda di dimensi lain. Sudah sering ia membaca hal-hal semacam itu.
Klise, pikir Shinnichi. Tapi, ini dunia fantasi, apa yang ia harapkan? Ia yakin jika ia mencarinya dengan benar, pedang ajaib bernama Excalibur pasti ada di Zelfria.
Shinnichi juga memakai jubah gelap berwarna ungu dan hitam itu. Mencoba menutupi kepalanya dengan tudung. Terasa aneh, ia menurunkannya. Kemudian, ia memasang kedua vambrace itu di lengannya. Ringan, hampir tidak terasa beratnya.
Lalu, untuk topeng, Shinnichi menelan ludahnya. Berat untuk mengakuinya, tapi ia rasa topeng itu keren. Bentuknya mirip dengan rahang seekor naga. Berwarna putih gading, dan terasa penuh akan Mana. Jiwa chuuni-nya bergetar melihatnya.
Shinnichi mendekatkan topeng itu ke wajahnya. Seperti --atau memang— sihir, topeng itu terpasang sendiri. Menutupi bagian bawah wajahnya. Ia ingin melihat dirinya sendiri di depan cermin sambil berpose.
Shinnichi menggelengkan kepalanya. Ia melepaskan topeng itu dan memasukkannya ke dalam [Storage].
“Kau tak memakainya?” tanya Schwarz, penasaran.
“Mungkin nanti,” jawab Shinnichi. Setengah berbohong. “Aku belum membutuhkannya.”
“Lalu, tinggal kantong kecil ini.” Shinnichi melempar-lemparkan kantong itu. Bunyi gemericik koin bisa terdengar. Shinnichi membuka ikatannya.
Koin berwarna emas dan perak memenuhi kantong itu. Namun, Shinnichi tidak terlalu terkejut. Pada titik ini, uang tidak berguna untuknya. Ia melemparkannya ke dalam [Storage] bersama benda-benda yang lain.
Sebuah ide muncul di kepala Shinnichi.
“Sebaiknya aku kembali untuk tulang-tulangmu, Schwaz. Cakarmu pasti bagus jika dibuat senjata.”
“Jangan, oi. Tubuhku bukan material!” Protesan sang Naga menggema di kepalanya.
❂❂❂❂❂❂
Shinnichi mengencangkan vambracenya. Bersiap-siap untuk melanjutkan petualangannya, menyelam lebih dalam ke bawah Dungeon. Hanya tujuh lantai lagi. Tujuh lantai lagi, dan ia bisa keluar dari sini.
Shinnichi menatap tangga yang turun ke bawah. Gelap, seolah-olah mulut seekor monster yang siap menangkapnya. Bahaya yang tak terhitung dan tak terbayang mengintai di setiap sudut.
Shinnichi menutup matanya. Membayangkan apa yang menjadi tujuannya; senyuman Fiona, Yonaka, dan Izumi. Senyuman yang harus ia lihat kembali. Karena itu, ia tidak boleh mati di sini. Ia harus keluar dari sini.
Shinnichi membuka matanya. Memperlihatkan tatapan tegas. Berbeda jauh dari dirinya yang dulu. Pemuda yang lemah itu sudah tak terlihat lagi. Ia berubah, ia harus berubah.
Tekad membara di dalam jiwanya, Shinnichi mengambil langkah ke depan. Lantai ke-96, Shinnichi datang.
(Kurobane Shinnichi. Art by Wiwedhandsome)