
Shinnichi membuka matanya. Menatap langit-langit batu yang sering ia lihat beberapa minggu ini. Sebuah kristal putih raksasa bersinar samar. Cahayanya terasa nyaman, namun tanah di bawahnya terasa begitu kasar.
Shinnichi bangun. Menyadari bahwa tangan kanannya menghilang. Sepertinya ia meniadakan Abyssal Mist sebelum tertidur. Memegang kepalanya, ia merasakan rasa sakit yang berdenyut-denyut.
“Di mana aku?” gumam Shinnichi. Ia menatap sekelilingnya. Lanskap hutan yang familiar. Tapi, entah kenapa berbeda. Kemudian, Shinnichi membeku.
Di sampingnya, terdapat sebuah kepala raksasa bermata satu. Shinnichi tersentak. Ia bergegas berdiri sebelum menyadari bahwa pemilik kepala raksasa itu sudah mati. Masih membelalak. Menampilkan emosi yang ia perlihatkan sebelum kematian; ketakutan. Tak jauh di belakangnya, ada tubuh, sepasang tangan, setengah kaki dan “danau” penuh darah. Semuanya terpisah dari satu sama lain. Seolah-olah ada sesuatu yang memotong-motongnya.
Lanskap hutan di belakang potongan raksasa itu kacau balau. Pepohonan besar tertarik dari akar mereka. Gua yang terlihat tak alami mengisi dinding dungeon. Sebagian besar tanah diceruk dan berubah menjadi pegunungan kecil. Di sampingnya, Kawah raksasa melubangi bumi, seperti meteor raksasa menghantam tanah; meratakan serta menghanguskan pepohonan sekitar. Bahkan di tubuh raksasa itu, tertancap sebagian besar kristal putih yang menerangi lantai. Berlumuran darah dan memberi cahaya merah di wilayah sekitar.
“Apa-apaan...” Shinnchi menatap pemandangan yang mirip akibat bencana alam itu. “Schwarz, kau melihat ini? Siapa yang melakukan ini?”
“Kau penyebabnya.” Sebuah suara menjawabnya. Bukan milik Schwarz. Suara orang lain, Seorang wanita, menggema di kepalanya.
“Siapa?” Shinnichi bertanya. Lebih tenang daripada saat ia pertama kali bertemu Schwarz.
“Kau tidak usah menebak-nebak. Kurasa kau tahu siapa aku.” Suara itu terdengar sedikit senang.
“.... Kau kakak Schwarz? Sang Dungeon Master?”
“Tepat.” Suara halus itu kembali menjawab.
Tiba-tiba, seperti seekor bunglon yang mengganti warna kulitnya, seekor naga biru muncul tepat di hadapannya. Naga itu ramping. Berdiri di hadapannya dengan aura keanggunan dan kewibawaan yang pekat. Wajahnya begitu dekat sampai-sampai bisa menyentuhnya jika ia menggerakan tangannya sedikit. Sepasang mata toska menatap Shinnichi lekat. Ia bahkan bisa melihat pantulannya di iris sang Dungeon Master. Meskipun begitu, ia tidak menyadari kehadirannya sampai naga itu muncul.
“Akulah Dungeon Master. Gramillion Scientia Rex. Tolong, panggil aku Gram.” Naga itu, Gram, menggepakkan sepasang sayap biru lebar. Gram tidak menggerakan mulutnya, tapi berbicara menggunakan telepati.
“.... Aku Shinnichi Kurobane. Senang bertemu denganmu.” Shinnchi mengenalkan dirinya, sedikit membungkuk. Berbeda dengan monster biasa, tekanan di hadapan seekor naga memberikan perasaan yang sangat berbeda.
“Tak usah begitu sopan, Shinnichi.” Suara lembut Gram terdengar menenangkan. “Aku sudah lama memperhatikanmu. Keselamatanmu dapat dipastikan bersamaku.”
“Ah, terima kasih kalau begitu.” Shinnichi mengutarakan rasa syukurnya. Ia baru saja bangun tanpa ingatan apa yang terjadi. Kondisinya tidak fit untuk bertarung. “Lalu, apa maksudmu aku penyebab ini semua?”
Shinnichi menunjuk ke arah bangkai raksasa dan lanskap hutan yang hancur. Tidak mengerti apa yang dikatakan Gram sebelumnya.
“Aku mengatakan hal yang sebenarnya,” jawab Gram, jujur. “Kau mengamuk dan melesat dari lantai ke-97 hingga lantai ke-101 dalam waktu singkat. Bahkan aku terkejut.”
“Tunggu. Ini lantai 101? Aku berhasil menaklukkannya?” Shinnichi hampir tidak mempercayai Gram.
“Benar, anakku. Meskipun menghancurkan lebih tepat.” Gram tertawa kecil sembari menjelaskan lebih lanjut. "Butuh kekuatan hebat untuk menghadapi Carcharodon dan Cyclops. Tapi, kau berhasil mengalahkan mereka berturut-turut. Patut dipuji."
“Bagaimana bisa?” Shinnichi kembali bertanya. Ia tidak mengingat apa yang terjadi. Hal terakhir yang ia ingat adalah saat ia disudutkan oleh Wendigo. Setelah itu, ia kehilangan kesadaran. Bangun-bangun, ia sudah di sini.
Gram tidak menjawab. Ia mengangkat kaki depannya lalu menyentuh dahi Shinnichi. Menyentilnya dengan lembut. “Untuk itu, kau harus berterima kasih kepada adikku yang tidak berguna itu.”
“Schwarz?”
Shinnichi mengelus-elus dahinya. Mengingat bahwa Schwarz tidak menjawabnya sedari tadi. Tidur? Tidak, Schwarz akan langsung menyahut jika ia memanggil namanya.
Rupanya, Gram bisa merasakan kekhawatiran Shinnichi. Ia mengepakkan sayapnya dan merendahkan kepalanya. “Tak perlu khawatir, anakku. Schwarz hanya perlu mengistirahatkan diri.”
Shinnichi sedikit lega. Gram mengangkat kepalanya. “Tak baik berbicara di sini, mari.”
Gram melebarkan sayapnya, menutupi Shinnichi dan dirinya. Kulitnya mulai berganti warna. Membentuk sebuah lingkaran sihir yang penuh dengan pola-pola rumit di tubuhnya. Dan lingkaran sihir itu bercahaya.
Dalam sekejap, tempat mereka berdiri berubah. Dari hutan hijau menjadi perpustakaan raksasa. Jauh lebih besar dari perpustakaan manapun. Mirip sebuah menara, dinding dihiasi oleh rak penuh buku. Struktur tangga yang membingungkan memenuhi area atas ruangan selebar lapangan sepak bola dan setinggi sepuluh lantai ini. Ribuan bahkan jutaan buku pasti tersimpan di sini. Ada yang berserakan di lantai, atau tertumpuk menjadi menara kecil.
“Woah....” Shinnichi menghembuskan nafas kagum. Ia belum pernah melihat buku sebanyak ini sebelumnya. “Ini semua milikmu?”
“Tentu saja.” Gram terdengar bangga. “Buku-buku ini kukumpulkan dari segala penjuru Zelfria. Sebutkan sebuah topik, dan kemungkinan besar, aku mempunyai lebih dari 200 buku yang membahasnya. Tak berlebihan jika membandingkannya dengan Pohon Pengetahuan para Elf.”
Shinnichi hanya mengangguk. Tak terlalu memperhatikan perkataan Gram. Perhatiannya teralihkan oleh sebuah bola kaca raksasa berdetail rumit di tengah-tengah ruangan. Mirip seperti globe.
Shinnichi bisa melihat puluhan pemandangan berbeda di permukaan bola itu. Ada beberapa yang terlihat familier, oasis yang ia lihat, lantai neraka yang penuh lava, pengunungan bersalju.
“Jadi, kau mengawasi Dungeon melalui ini ya?” tanya Shinnichi. Kagum melihat bola kaca raksasa itu.
Gram berjalan dengan langkah sunyi. Tak sesuai dengan tubuhnya yang besar. Ia berdiri di samping Shinnichi. Menatap bola kaca itu.
“Oculi Dei.” Gram menyebutkan nama benda itu. “Mata Dewa. Artifak yang cukup berguna.”
Gram menyentuh bola itu dengan kaki depannya. Dalam sekejap, ukurannya menyusut. Dari lebih dari enam meter menjadi kurang dari 30 cm. Bola itu melayang di atas kepalanya, mengitarinya seperti bulan mengitari bumi. Terlihat sedikit aneh menurut Shinnichi.
“Jadi, kau memang mengawasiku.” Shinnichi menatap vambrace yang dipakainya. Salah satu harta yang ia terima dari harta karun misterius.
“Aku sudah lama mengawasimu, Shinnichi,” Gram mulai menjelaskan. Ia mengulurkan kaki depannya. Memberikan Vambrace kanan Shinnichi. “Dari pertama kali kau muncul di lantai 80 hingga pertarungan hebatmu di lantai 101. Aku melihat dan mendengarnya semua.”
“O-oh....” Shinnichi menerima Vambrace itu lalu merasa bahwa Gram menekankan kata “mendengar”. Shinnichi memilih mengabaikan fakta bahwa ia sering mengutuk sang Dungeon Master dan mempertanyakan keputusan desainnya.
“Harus kubilang, Shinnichi. Cara bertarungmu benar-benar aneh. Aku belum pernah melihat seseorang melongsorkan gunung untuk menyeberangi danau es di lantai 97. Aku harus memperbaikinya nanti”
Shinnichi terbatuk-batuk kecil. “Err, maaf karena itu.”
“Tak apa.” Gram tertawa kecil. “Aku terhibur karenanya. Setiap kali kau menginjakkan kaki di lantai baru, pasti ada sesuatu yang menarik yang terjadi.”
Shinnichi mengingat waktu yang ia habiskan menghancurkan monster dengan cara-cara aneh. Mengancam Wolfsdamon dengan bom di tubuhnya, mendayung perahu di atas lava, berseluncur di atas salju menggunakan Treant, menciptakan longsor raksasa. Jika ini dunia aslinya, Shinnichi sudah pasti dicap sebagai *******.
Keringat dingin mengalir di dahinya. Setelah dipikir-pikir, kelakuannya memang agak berlebihan. Shinnichi memutuskan untuk melempar itu semua ke belakang pikirannya. Ia lebih memikirkan hal yang lebih penting.
“Gram, bisakah aku-“
“Keluar dari dungeon ini?” Grim menoleh ke arah Shinnichi. Memotongnya sebelum sempat menyelesaikan perkataannya. “Tentu saja bisa.”
Hati Shinnichi terasa lega. Jalan keluar dari sini sudah terlihat. Entah perasaan apa yang mulai meluap dari dalam, tapi Shinnichi yakin perasaan itu baik. Sebentar lagi, ia bisa keluar dari sini.
“Tapi, apakah kau yakin kau akan keluar dengan kondisimu saat ini?” tanya Gram lagi. Membuat Shinnichi menelengkan kepalanya.
“Apa maksudmu?” Selain sakit kepala, Shinnichi tidak merasakan sesuatu yang salah.
“Sihirmu,” ucap Gram. “Apakah kau bisa menggunakan sihirmu?”
Shinnichi baru menyadarinya. Ia memfokuskan Mananya ke lengan kanannya. Berusaha menggunakan Abyssal Mist dan membentuk tangan kanannya. Beberapa menit berusaha, tetap saja tak berhasil.
Shinnichi mengkerutkan dahinya. Ia mencoba menciptakan bola Mana di tangan kirinya. Sebuah bola Mana terbentuk. Namun, beberapa saat kemudian, menguap hilang.
“Apa? Sihirku? Kenapa...?” Shinnichi menatap tangan kirinya. Bertanya-tanya kenapa ia tidak bisa menggunakan sihir.
“Menjelaskannya kepadamu pasti membosankan.” Gram menguap. Menutupi mulutnya dengan sayapnya. “Kita katakan saja bahwa aliran Manamu terbebani oleh kekuatan Schwarz dan terputus.”
“Tunggu, Aliran Manaku terputus? Aku tidak bisa menggunakan sihir lagi?” Shinnichi menjadi sedikit panik. Sihir adalah senjata utamanya. Di dunia kejam ini, berlari tanpa senjata bisa membuatmu terbunuh.
“Tenang saja. Ini hanya sementara.” Gram menenangkan Shinnichi yang terlihat mulai khawatir. “Beberapa jam dan ia akan kembali.”
"Begitu kah?" Shinnichi terdiam. Ia kembali bertanya. "Apakah ada cara lain?” Shinnichi merasa tak sabar. Sejujurnya, ia ingin keluar dari Dungeon ini secepat mungkin.
“Tak usah terburu-buru, anakku.” Gram menurunkan kepalanya. “Kekuatan yang diwariskan Schwarz lebih kuat daripada yang kau kira. Kau beruntung tubuhmu tidak hancur karenanya. Semakin lama kau menggunakannya, semakin besar dampaknya kepadamu. Karena kemurkaan adalah pedang berbilah dua.”
“Apa maksudmu?” Shinnichi menanyakan perkataan Gram yang terdengar seperti peringatan.
“Kau akan mengetahuinya dalam waktu dekat.“
Gram mengepakkan sayapnya. Menciptakan angin yang kuat. Shinnichi menutupi wajahnya sementara Gram terbang ke atas perpustakaan dan mendarat di platform tertinggi. Shinnichi tak mendengar suara mendarat.
Shinnichi menoleh ke samping. Ada tangga di dekatnya, dipenuhi dengan menara buku. Ia berjalan ke arahnya.
“Kurasa begitu.” Shinnichi menjawab sembarang. Shinnichi mengangkat kepalanya. Sedikit kesulitan menatap ke atas karena tingginya perpustakaan ini. Ia mulai menaiki tangga yang terlihat seperti labirin itu. Ribuan anak tangga perlu ia naiki untuk sampai ke atas.
“Tapi, sungai itu memiliki arus yang mampu menenggelamkan. Keindahan sihir memiliki resiko....” Suara Gram terdengar pelan. Ia tidak melanjutkan perkataannya.
Perpustakaan itu menjadi sunyi. Hanya suara langkah kakinya yang menaiki tangga. Lebih dari lima belas menit kemudian, ia sampai di atas.
Sebuah taman indah adalah hal yang tepat untuk menggambarkannya. Pohon indah, bunga cantik, bahkan lengkap dengan air mancur dan meja piknik. Shinnichi kagum hal semacam ini bisa ada di atas perpustakaan.
Di bawah pohon, seorang wanita bergaun biru duduk di kursi taman. Rambut putihnya dikepang ke samping, duduk di atas bahunya. Digabungkan dengan ekspresi tenangnya, ia adalah contoh sempurna untuk kata “Wanita cantik.”
Ia menatap Shinnichi dengan iris biru pucatnya. Tersenyum lembut, ia berkata. “Sampai juga.”
“Gram?” Shinnichi menyadari suaranya.
Wanita itu, Gram hanya tersenyum. Ia berdiri, gaun biru gelapnya menutupi seluruh tubuhnya. Ia terlihat seperti burung hantu.
Ia berjalan mendekati Shinnichi. Gerakannya halus dan lancar. Seperti meluncur di atas lantai putih. Semakin dekat, ia menyadari bahwa Gram hampir sekepala lebih tinggi darinya. Shinnichi mundur sedikit.
Gram mengulurkan tangannya dari dalam gaun. Bukan untuk meraih tangan Shinnichi tapi meraih kristal biru Emphiria. Ia melepaskannya dari leher Shinnichi.
“Kalung yang indah.” Gram membelai kristal Emphiria. Menatapnya dengan penuh kasih sayang.
Shinnichi menatap Gram dengan diam. Memberikan waktu kepada wanita naga itu untuk menatap kristal Emphiria. Setelah beberapa saat, Gram mengambil tangan Shinnichi lalu menaruh kristal Emphiria di atasnya.
“Kristal Emphiria mampu menyembuhkan segala macam kondisi. Air yang dikeluarkannya hampir sama denganair yang menciptakan kehidupan. Murni, manis dan penuh Mana.” Gram membalikkan tubuhnya. Ia kembali duduk di atas kursi taman itu. “Anugerah terindah yang dapat diberikan kepada jiwa murah hati sepertinya.”
Shinnichi menatap kristal Emphiria yang ada di tangannya. Ia kembali mengalungkannya. Shinnichi menghampiri Gram lalu duduk di sampingnya. Mencoba menikmati pemandangan taman yang indah.
Ia menengadah. Menatap langit-langit lantai 102. Hitam namun tidak kosong. Ratusan bahkan ribuan titik-titik putih berkelap-kelip di atas kepalanya. Meskipun di bawah tanah, Shinnichi bisa menatap bintang di angkasa.
Ilusi yang mengekang dan menipu. Memberi harapan palsu bahwa ia sudah keluar dari neraka ini. Ia tidak membenci tempat ini, jauh darinya. Ia mendapatkan kekuatan, pengalaman, dan bahkan teman. Tapi, di sini bukanlah tempatnya. Ia harus segera kembali.
“Apa tujuanmu di dunia ini, Shinnichi?” Gram tiba-tiba bertanya.
Shinnichi sedikit terkejut. Namun, ia dengan cepat mengatur kembali pikirannya. “Aku... Ingin menyelamatkan seseorang. Seseorang yang penting bagiku.”
“Tujuan yang mulia.” Gram tersenyum. “Bolehkah aku memberi nasehat?”
“Hmm? Tentu saja.”
“Cinta adalah hal terkuat di dunia. Dengannya, seseorang bisa mengalahkan apapun atau siapapun di dunia.”
Shinnichi memiringkan kepalanya tidak mengerti. Ia kini mengerti apa maksud Schwarz bahwa ia tidak tahu jalan pikiran Gram. Tak mempermasalahkan ekspresi kebingungan Shinnichi, Gram tersenyum misterius.
“Sepertinya ini sudah waktunya kau keluar dari Dungeon ini.” Gram berdiri. Shinnichi mengikutinya. Terlihat seperti anak kecil yang tak sabar untuk pergi jalan-jalan.
Gram berjalan ke arah tepian platform besar itu. Ia menoleh ke bawah, tersenyum kecil. Shinnichi ikut menoleh.
Tinggi! Shinnichi otomatis memegangi pembatas platform. Berhati-hati agar tidak jatuh. Jarak antara dirinya dan tanah sekitar 10 lantai. Jika ia jatuh, ia mungkin mati. Terutama dengan dirinya yang sedang tidak bisa menggunakan sihir.
“Err... Kema-“
“Lompatlah.”
“... Apakah ada cara lain?”
Gram hanya tersenyum. Tidak menjawab pertanyaan Shinnichi. Melihat itu, Shinnichi menelan ludahnya. Ia tidak takut ketinggian, ia takut jatuh dari ketinggian.
“Baiklah, kalau begitu.” Shinnichi pasrah. Ia naik ke atas pembatas.
Bersiap untuk melompat. Ia mengumpulkan nyalinya. Tanah di bawah terlihat lebih jauh. Menekukkan kakinya, Shinnichi-
“Ah, aku hampir lupa.”
“Uwa!”
Ia diganggu oleh Gram. Shinnichi hampir kehilangan keseimbangan. Ia memegangi platform dengan erat. Menatap Gram tidak terima.
“... Apa?” tanyanya pelan.
“Sampaikan kepada Schwarz bahwa aku akan menggunakan tubuhnya sebagai bahan penelitian.”
“....” Shinnichi memasang wajah ‘yang-benar-saja-kau-bisa-mengatakan-itu-sendiri’-nya, tapi ia tetap diam. “Baik , aku akan katakan kepadanya.”
Shinnichi menghela nafas. Ia kembali berdiri di atas tepian. Bersiap-siap untuk melompat. Benar-benar kali ini. Ia menekuk tubuhnya lalu-
“Ah, tunggu.”
“Uwah!” Shinnichi kembali hampir kehilangan keseimbangannya. Ia jatuh satu kaki ke belaang. Shinnichi menoleh ke belakang. Menatap Gram, mencoba untuk tidak memperlihatkan kemarahannya.
“... Apa lagi?”
Gram menyentuh dahi Shinnichi, mengalirkan Mananya. Meskipun Shinnichi tidak tahu untuk apa. Tubuhnya terasa sama.
“Meskipun kau belum menaklukkan Dungeon ini sepenuhnya, aku ada sedikit hadiah dan petunjuk untukmu.” Gram tersenyum. “Ada tiga titik yang perlu kau capai. Kuncinya adalah kegigihan, kerja sama, dan kesabaran. Setelah kau selesai, kembalilah ke sini. Apa yang hatimu inginkan, akan terkabulkan.”
“Apa maksu-“
Sebelum Shinnichi selesai bertanya, Gram mendorongnya.
“GRAAAMM!!!!” Shinnichi berteriak sekuat tenaga selagi ia jatuh ke bawah.
“Sampai jumpa, Shinnichi.” Sementara itu, Gram melambaikan tangannya seperti seseorang yang berpisah dari stasiun. Ia menjentikkan jarinya.
Sebuah lingkaran sihir menyala di tanah di bawah. Membuka semacam portal berwarna biru. Shinnichi merasakan angin segar menerpa wajahnya. Jalan keluar! batinnya. Namun, Shinnichi sadar bahwa warna biru itu bukan warna portal. Ia bisa melihat coretan putih.
“Oh, sial.”
Shinnichi masuk ke dalam portal itu. Terlempar keluar, ia menghadap langit. Gravitasi menariknya ke bawah tak lama kemudian.
Shinnichi kembali jatuh. Kini, ia bisa melihat warna biru lain. Biru gelap. Air.
“BASAH LAGI!?” Shinnichi berseru sebelum tercebur. Merutuki nasib sialnya yang sering berhubungan dengan air
✾✾✾✾
Di lantai 102, Gram menoleh ke atas. Menatap langit-langit yang penuh titik cahaya. Senyum kecilnya sirna entah kemana. Digantikan oleh ekspresi sedih dan khawatir.
"Hari yang ditakdirkan semakin dekat. Veil-sama, apakah itu orang yang Anda maksud?" Gram menggumam. "Jika memang ia orangnya, lindungilah perjalanannya."
Gram menjentikkan jarinya. Sebuah portal tercipta di hadapannya. Melangkah ke dalam, ia sampai di ruangan Schwarz. Tak jauh berbeda dari terakhir kali ia ke sini.
Ranjang mulai mengumpulkan debu. Abu dingin di tengah-tengah ruangan memberi peninggalan bahwa api pernah menyala di situ. Dan kerangka Schwarz. Kehilangan rahangnya.
Gram mengingat hari di mana ia kehilangan adiknya; Saat Emphiria direbut darinya. Ia berubah. 300 tahun sudah berlalu sejak saat itu. Namun, Gram masih merasakan penyesalan yang terus menghantuinya.
Meskipun ia adalah makhluk tinggi ciptaan Dewa. Ia tidak bisa menyelamatkan seseorang terpenting bagi adiknya. Tak bisa melindungi adiknya. Bukankah itu berarti ia gagal menjadi kakaknya?
Gram menyentuh tengkorak adiknya itu. Menutup matanya, Gram menggumam pelan.
"Maafkan kakak, Schwarz...."