Re: Turning

Re: Turning
The Truth



[Status] adalah berkah dari Dewi. Diberikan kepada penghuni Zelfria saat dunia ini dibentuk.


Keberadaan status adalah hal yang penting di dunia ini. Dengan adanya status, kita bisa mengetahui tingkat kekuatan seseorang. Semakin tinggi status seseorang, semakin tinggi pula kekuatannya.


Di dunia bunuh atau membunuh ini, kekuatan adalah segalanya. Dengan adanya kekuatan, kau bisa mencari nafkah, memberi makan keluarga, dan hidup aman.


Selain pengukur kekuatan, status juga bisa digunakan sebagai alat identifikasi. Status setiap orang pasti berbeda-beda. Di dunia, hampir tidak ada cara untuk membuat status palsu.


"— Begitulah, apakah kalian mengerti?" Gregory mengakhiri penjelasannya.


Sebagai Ksatria, ia lebih senang mengayunkan pedang daripada menjelaskan ini. Namun, sebagai jenderal, ia memiliki kewajiban untuk membimbing para Pahlawan.


Kelima pemuda mengangguk mengerti. Samejima menatap pelat besi hitam di tangannya.


"Jadi, nilai seseorang bisa diukur lewat benda kecil ini?" Samejima bertanya, sedikit kagum. "Apa saja yang ditunjukkannya?"


Mendengar pertanyaan Samejima, Gregory tersenyum. Sudah menduga bahwa pertanyaan ini akan terlontar.


"Biarkan aku menunjukkannya," kata Gregory sambil melepas sarung tangan besinya.


Ia mengiris jari telunjuknya dengan sudut pelat itu. Sebuah luka kecil tercipta karenanya. Melihat itu, Erina dan Shinnichi mengernyitkan dahinya. Seperti merasakan irisan itu.


"Seperti kata Shinnichi-dono, ini adalah kartu status." Gregory kembali menjelaskan. "Dengan sedikit darah, ia bisa membaca status kalian."


Ia meneteskan darah itu ke atas pelat besi. Selesai, ia mengibas-ibaskan tangannya. Seolah-olah mencoba menutup luka kecil itu. Entah berhasil atau tidak.


Gregory menatap kartu statusnya. Tulisan putih mulai terlihat di permukaannya. Memberikannya informasi dari pemilik darah.


『Name : Gregorius Reclius Isaac


Level : 36


Race : Human


Class : Knight


Stats


Agi : 54


Atk : 75 (+10)


Int : 18


Vit : 65 (+15)


Skill


[Swordsmanship lvl.7] [Defensive Drive lvl.5] [Voice of Leader lvl.4] [Healing Magic lvl.2]


Title


[Knight Commander of Victoria] [Iron Wall] [Great Warrior] 』


"Lihatlah." Gregory memberikan kartu status itu kepada Samejima.


Samejima menatap kartu status itu. Membaca tulisan yang timbul di atas pelat besi itu. Sekeras apapun ia menatapnya, tulisan itu tetap tidak terbaca. Baginya, itu hanyalah goresan aneh.


"Aku tidak bisa membacanya." Samejima mengembalikan kartu itu ke Gregory.


"Oh, benar." Gregory menyadari kesalahannya lalu tertawa kecil. "Biarkan aku menjelaskannya lagi."


Gregory menunjukkan kartu itu kepada kelompok Pahlawan.


"Ini adalah contoh status seseorang. Keempat kolom teratas menunjukkan nama, level, ras dan kelas seseorang." Gregory mulai menjelaskan. "Untuk nama dan ras, kurasa kalian bisa mengerti sendiri.


Lalu, untuk level. Dengan bertambahnya usia dan pengalaman seseorang, levelmu bisa bertambah. Selain itu, levelmu juga bisa bertambah dengan mengalahkan monster dan musuh. Dengan bertambahnya level, stat-mu bisa bertambah. Aku akan menjelaskannya sebentar lagi.


Kelas menunjukkan pekerjaan serta kemampuan yang dapat dimilikinya; Knight, Assassin, Mage, Cleric dan semacamnya. Masing-masing kelas memiliki keunggulan dan kemampuannya sendiri.


Kelas dapat diperoleh dengan cara khusus. Baik latihan maupun ritual. Pemanggilan kalian seharusnya cukup untuk memberikan kalian kelas yang sesuai dengan kehendak Dewi."


"Kemudian, stats," lanjut Gregory. "Stat menunjukkan kekuatan kalian. Agi menunjukkan kelincahan kalian, Atk menunjukkan kekuatan serangan kalian, Int adalah tingkat kemahiran sihir seseorang. Sedangkan Vit adalah pertahanan kalian.


Biasanya, setiap kelas memiliki stat khusus yang akan bertambah setiap naik level. Untuk Ksatria sepertiku, stat yang akan naik adalah Atk dan Vit."


Gregory mengetuk-ngetuk tengah-tengah kartu status. Menunjuk stat Atk dan Vit-nya. Kemudian jarinya bergerak ke bawah. Ke kolom selanjutnya.


"Skill adalah kemampuan yang dimiliki seseorang. Orang biasa hanya memiliki satu atau dua skill, tapi dengan kerja keras dan latihan, seseorang bisa mendapatkan skill lain."


Penjelasan panjang Gregory berhenti sejenak. Tersenyum seolah-olah mengingat masa lalunya. Untuk mendapatkan empat skill, ia mengorbankan banyak hal dan terus berlatih setiap hari. Upayanya selama hampir tiga puluh tahun sudah memberi hasil.


"Umm, Gregory-dono?" Yonaka memanggil nama Jenderal. Mengembalikannya ke kenyataan.


"Ah, maaf. Biarkan aku selesaikan." Gregory menggaruk kepalanya seperti seorang Paman tua. "Yang terakhir adalah title atau gelar."


"Gelar dapat diperoleh saat lahir, saat melakukan sesuatu yang hebat, diberikan oleh seseorang yang kuat dan berpengaruh atau diakui banyak orang. Dengan adanya gelar, kalian juga mendapatkan stat tambahan atau bahkan skill khusus.


Sebagai Pahlawan serta pengunjung dari dunia lain, kalian pasti memiliki gelar tersendiri."


Mendengar penjelasan panjang sang Jenderal, para Pahlawan mengangguk. Pada titik ini, mereka sudah kesulitan untuk kagum. Mendengar suatu penjelasan yang agak normal, mereka cukup mengerti.


Sebagai remaja, mereka setidaknya sudah pernah mendengar istilah-istilah itu dalam game. Tiga serangkai; Izumi, Yonaka dan Shinnichi terutamanya. Berteman dengan Shinnichi —seorang Otaku fantasi— dan seorang gadis ceria penggemar game tertentu, mereka mengenali kata-kata itu.


"Jadi, kurasa itu semua dasar-dasarnya. Jika kalian sudah mengerti, mari kita periksa status kalian."


Gregory menaruh tangannya di atas gagang pedangnya. Menunggu para Pahlawan melakukannya.


Para Pahlawan menatap kartu di tangan mereka sendiri. Mengingat kembali cara untuk melihat status mereka. Dengan meneteskan sedikit darah.


"Apakah tidak ada cara lain untuk mengetahui status seseorang selain dengan ini?" Erina bertanya. Merasa agak enggan. "Kalian punya sihir bukan?"


"Oh, tentu saja ada; Skill [Identify] dan sihir khusus [Insight]. Namun, skill seperti itu sangatlah langka," jawab Gregory. "Kerajaan Victoria, kerajaan terbesar di benua Utara, hanya memiliki tiga orang yang memiliki skill itu. Itu pun terbatas pada level dan skill saja."


Mendengar itu, Erina menekan ludahnya. Sebagai seorang gadis, ia memiliki toleransi rasa sakit yang rendah. Sedikit cubitan saja sudah bisa membuatnya menangis.


"Erina, jangan takut. Aku di sini kok." Samejima menyentuh tangan Erina. Tugas seorang laki-laki adalah melindungi perempuan, itu yang selalu dipikirkannya.


Erina tertegun. Tidak menyangka Samejima masih bersikap baik kepadanya setelah tidak setuju dengan pendapatnya. Dengan sedikit lega, Erina mengangguk.


Izumi tidak banyak bertanya. Untuk kembali pulang, ia perlu melakukan ini. Ia menjadi yang pertama. Dengan gerakan cepat, ia mengiris jari telunjuknya. Mengernyit, Izumi meneteskannya di atas kartu.


Yang lain mengikuti. Pertama Samejima. Kemudian Yonaka, lalu Erina dan Shinnichi. Berbeda dengan yang lain, Shinnichi menusukkan sudut kartu status ke jempolnya. Sebuah lubang kecil terbentuk, darah keluar darinya. Ia meneteskan darahnya di atas kartu. Sedikit merepotkan, tapi setidaknya rasa sakitnya berkurang.


Bersamaan dengan Shinnichi, Erina mengiris jarinya. Setelah melakukannya, air mata terkumpul di sudut mata Erina. Ia mencoba menahan rasa sakit sambil meneteskan darah ke atas kartu statusnya. Selesai, ia merintih kecil sambil meniup-niup jari telunjuknya.


Melihat itu, Yonaka tidak tega. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah plaster luka dan sebuah sapu tangan. Menaruh kartu status di sakunya, ia menghampiri Erina.


"Bolehkah?" Yonaka menunjukkan plaster dan sapu tangannya.


Erina agak kebingungan. Tapi, pada akhirnya, ia kembali mengangguk. Memberikan tangannya kepada Yonaka.


Yonaka membersihkan darah dari jari Erina. Setelah itu, ia menempelkan plaster itu mengelilingi jari telunjuknya. "Selesai." Yonaka tersenyum.


Erina menatap jarinya. Tidak menyangka gestur baik itu dari Yonaka. Kesan baiknya terhadap Yonaka meningkat.


"Te-terima kasih...." Erina berbisik. Agak malu.


Yonaka mengangguk. "Tentu!" Ia merasa senang bisa membantu.


Izumi dan Shinnichi menoleh ke arah mereka. Merasa Senang bisa memiliki teman sebaik Yonaka.


"Hahaha! Bagus, bagus! Sesama Pahlawan memang harus mempunyai ikatan yang kuat!" Gregory tertawa terbahak-bahak. Senang melihat para Pahlawan yang saling membantu.


Awalnya ia khawatir. Para Pahlawan terlihat begitu dingin pada satu sama lain. Terutama Samejima dan Shinnichi. Tapi, sepertinya itu hanya kekhawatiran yang tak berdasar.


Dalam pertempuran, kerjasama adalah hal penting. Sebuah pasukan lemah yang kompak akan mendapat keunggulan daripada pasukan kuat yang mementingkan rasa individual. Selagi memikirkan hal semacam itu, Izumi mengeluarkan suara.


"Oh! Mulai muncul!" Izumi menatap kartu statusnya. Huruf-huruf putih mulai muncul di permukaannya. Izumi tersenyum lemah. "Aku tidak bisa membacanya."


Gregory mendekati Izumi. Penasaran dengan status milik pemuda berambut merah itu. Dari para Pahlawan, yang paling menarik perhatiannya adalah Izumi.


"Ah, aku akan memeriksa status kalian dulu. Setelah itu, aku akan memberi sedikit nasehat untuk kalian."


Menyadari niat sang Jenderal, Pahlawan mengangguk mengerti. Izumi yang pertama memberikan kartu statusnya. "Aku minta tolong ya, Ossan."


Gregory tidak terlalu terganggu dengan panggilan itu. Sebaliknya, ia memang cocok dipanggil Paman. Membaca kartu status Izumi, mata Gregory membulat.


"I-ini!?"


『Name : Akihiro Izumi


Level : 1


Race : Human


Class : Pugilist


Stats


Agi : 45


Atk : 70 (+5)


Int : 20


Vit : 75 (+15)


Skill


[Martial Arts lvl.8] [Physical Prowess lvl.5] [Iron Punch lvl.1] [Hardening lvl.1] [Strengthening Magic lvl.1] [Auto-Correction] [Language Understanding]


Title


[Hero] [Other World Traveler] [Iron Fist] [Defender] 』


"Level satu saja sudah mempunyai kekuatan sehebat ini??" Gregory bergumam terkejut. Tidak menyangka hal ini.


Ia tahu bahwa Pahlawan adalah eksistensi yang khusus. Mereka yang berdiri di puncak Manusia dan dapat duduk bersama Dewa. Namun, ia masih tidak bisa menanggapi ini dengan tenang.


Gregory menenangkan diri.


"Izumi-dono, kau memiliki potensi untuk menjadi Pugilist terkuat di dunia. Stat-mu terfokus pada kekuatan dan pertahanan. Selain itu, skill bela dirimu juga tinggi. Aku yakin kau sering berlatih."


"Oh tentu. Sejak kecil aku terus berlatih Karate, dan Judo." Izumi tersenyum.


Memiliki postur yang besar dan kekar bukanlah kebetulan. Sejak ia bisa mengingat, ia sudah sering bermain di Dojo milik orang tuanya. Berlatih dan belajar banyak hal dari mereka, ilmunya tentang bela diri tidak bisa diremehkan.


"Baguslah." Gregory mengangguk.


Tersenyum puas, ia mengembalikan kartu status Izumi. Setelah Gregory berpaling, ia menoleh ke arah Shinnichi. Mencoba bertanya apa itu Pugilist.


Gregory menghampiri Yonaka. Gadis bersifat lembut itu juga memberikan kartu statusnya. Juga tidak bisa membacanya.


『Name : Mikazuki Yonaka


Level : 1


Race : Human


Stats


Agi : 70 (+15)


Atk : 50 (+5)


Int : 25


Vit : 35


Skill


[Archery lvl.8] [Enhancing Magic lvl.1] [Lightning Magic lvl.1] [Apollo lvl.1] [Silent Steps] [Auto-Correction] [Language Understanding]


Title


[Hero] [Other World Traveler] [Golden Eyes] [Swift and Nimble One] 』


Lagi-lagi, Gregory tidak bisa mempercayai matanya. Stat kedua orang ini berada di luar akal sehat Zelfria. Hampir tidak pernah ada seseorang dengan level satu yang mempunyai keseluruhan stat di atas 50.


Ia menggelengkan kepalanya. Ia harus cepat-cepat terbiasa dengan ini. Lagipula, ia akan melihat pertumbuhan para Pahlawan.


"Kulihat skill panahmu sudah tinggi. Agi-mu tinggi dan Atk-mu juga lumayan. Sepertinya kau ahli dalam memanah, bukankah begitu?"


"Ah, yah begitulah." Yonaka tertawa kecil. Merasa malu dipuji seperti itu. "Aku ikut klub panahan sejak SMP, jadi aku sedikit berpengalaman."


Sedikit berpengalaman adalah kata yang terlalu meremehkan Yonaka. Sebenarnya, sejak SMP, ia sering mengikuti turnamen panahan tingkat Internasional dan sering menjuarai turnamen-turnamen nasional. Yonaka memang gadis yang rendah hati.


Izumi menatap Yonaka. Agak bingung dan senang karena mendapat teman yang baik dan tidak sombong.


Gregory melanjutkan pemeriksaannya. Kali ini giliran Erina.


Erina memberikan kartu statusnya. Gregory langsung membacanya. Meskipun kembali terkejut, kali ini Gregory bisa bersikap cukup tenang.


『Name : Himekaze Erina


Level : 1


Race : Human


Class : Cleric


Stats


Agi : 20


Atk : 25


Int : 65 (+15)


Vit : 20


Skill


[Healing Magic lvl.1] [Holy Magic lvl.1] [Light Magic lvl.1] [Dark Resistance] [Auto-Correction] [Language Understanding]


Title


[Hero] [Other World Traveler] [Pure Maiden] [Golden Tears] 』


Int-nya benar-benar tinggi! Selain itu, ia juga memiliki ketiga sihir yang cocok dengan kelasnya.


"Erina-dono, Int dan bakatmu dalam sihir penyembuhan serta sihir suci benar-benar luar biasa. Kau berbakat menjadi seorang penyembuh yang hebat."


"Eh? Benarkah? Terima kasih...."


Erina terlihat sedikit senang. Dipuji dan disanjung itu menjadi kepuasan tersendiri. Tapi, menyadari bahwa ia tidak perlu bertarung membuatnya lebih lega. Setidaknya ia mengerti bahwa posisi penyembuh itu bukan ikut serta dalam pertempuran.


Gregory merasa kagum. Meskipun baru level satu, para Pahlawan sudah hampir mencapai puncak tertinggi Manusia. Dengan berlatih dan menaikkan level, mereka pasti akan bertambah lebih kuat. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hebatnya kekuatan mereka di masa depan.


Selanjutnya adalah Samejima. Dari para Pahlawan, ia merasakan sesuatu dari Samejima. Seperti melihat rekan yang kuat di medan pertempuran atau bahkan musuh yang luar biasa tangguh.


Selain itu, gerak tubuhnya juga membuat rasa penasaran Gregory terangsang. Posturnya terasah. Terlatih, tangguh, kuat dan gesit. Setiap langkahnya terasa penuh dengan kekuatan. Ia penasaran dengan statusnya.


Samejima, seperti membaca pikirannya, melangkah ke arah Gregory lalu memberikan kartu statusnya. Menerimanya, Gregory mulai membaca.


"Ap—!?"


Emosi mulai membanjiri hatinya. Tangannya bergetar. Nafasnya memburu. Seolah-olah menatap jurang dalam yang kelam.


『Name : Jinba Samejima


Level : 1


Race : Human


Class : Magic Swordsman


Stats


Agi : 65 (+10)


Atk : 85 (+15)


Int : 30 (+5)


Vit : 55 (+5)


Skill


[Swordsmanship lvl.8] [Ragnarok lvl.1] [Fire Magic lvl.1] [Hero's Will] [Goddess' Blessings] [Auto-Correction] [Language Understanding]


Title


[Ultimate Hero] [Other World Traveler] [The Sword of Humanity] [He Who Touched the Goddess] 』


"H-hebat! Stat-mu! Skill-mu! Title-mu!" Gregory tergagap sambil membaca kartu status Samejima berkali-kali.


Di Zelfria, Manusia dengan stat tertinggi berada di angka 350. Itu pun tercapai setelah memperoleh level yang cukup tinggi. Sejak Masa Kekacauan berakhir, tidak ada yang bisa menyaingi status itu. Namun, di hadapan Gregory, berdiri seseorang yang berpotensi menyamai, bahkan melampauinya.


Gregory merasa kagum, senang, takjub, hormat. Segala macam emosi ia rasakan.


Ia menatap Samejima. Wajah tampan pemuda itu kembali menatapnya. Iris birunya terlihat begitu cemerlang. Seolah-olah bintang yang membimbing pelaut tersesat. Aura hebat bisa terasa darinya. Seperti seorang Pahlawan legendaris. Tidak, ia memang....


"Sang Pahlawan Legendaris...." Gregory menggumam.


Dengan penuh tenaga, Gregory berlutut di depan Samejima. Meskipun ia termasuk jejeran orang terkuat di benua Utara, di hadapan kekuatan murni, ia merasa tidak berdaya.


"Para Pahlawan yang mulia! Saya, Gregorius Reclius Isaac, menyerahkan jiwa dan raganya kepada kalian!" Gregory berseru. "Saya memohon dengan sangat! Pinjamkan kekuatan anda! Selamatkanlah Kerajaan ini dari kehancuran dan kalahkanlah ras Iblis yang terkutuk!"


Para Pahlawan tidak menyangka tindakan sang Jenderal. Mereka hanya bisa menatap tanpa mengeluarkan sepatah kata. Lebih tepatnya, mereka terkejut hingga tidak bisa berkata-kata.


"Gregory-dono, tolong angkat kepalamu." Samejima kembali menjadi orang yang pertama kali bertindak. Ia berlutut di depan Gregory. Memegang bahunya. "Kami akan membantu Victoria. Karenanya, tolong bantulah kami dalam pelatihan kami."


"Dengan segala kerendahan hati, saya mematuhi perintah anda!" Gregory mengangkat kepalanya. "Saya akan membantu latihan anda dengan segenap kemampuan saya!"


Samejima tersenyum. Menepuk-nepuk bahu Gregory. Ia berdiri lalu mengisyaratkan agar Gregory juga ikut berdiri.


"Ahem!" Gregory berdeham. "Maaf atas penampilan yang memalukan tadi. "Aku— Saya," Gregory merubah cara bicaranya. "Terbawa suasana."


"Tak apa." Izumi gantian menjawab. Tersenyum kecil. "Tapi, sepertinya kau melupakan satu orang."


Izumi menunjuk ke belakang dengan ibu jarinya. Perhatian Gregory jatuh ke pemuda berambut hitam di ujung barisan. Selain karena posturnya yang pendek, Shinnichi memang mempunyai aura yang tipis.


Gregory menunduk kecil. "Maaf, sepertinya saya lupa. Shinnichi-dono?"


Shinnichi menatap kartu statusnya. Tidak mendengarkan panggilan Gregory, ia terlihat kebingungan. Berkali-kali, ia mengedipkan dan menggosok matanya.


"Ini benar?" Shinnichi menggumamkan hal-hal seperti itu.


"Shinnichi?" Yonaka menepuk bahunya.


"Ah!? Eh? Ah iya." Shinnichi melonjak kaget.


"Kartu statusmu, Gregory-dono akan membacanya." Yonaka menjelaskan. "Kau kenapa?"


Mendengar itu, Shinnichi tersenyum canggung. "Ah, iya. Maaf. Ini. Kurasa ada kesalahan atau semacamnya?"


"Kesalahan? Status seseorang tidak mempunyai kesalahan." Gregory menerima kartu Shinnichi. "Bukankah Anda semua belum bisa membacanya? Mungkin itu—??"


Gregory berhenti bicara saat menatap kartu status milik Shinnichi. Merasakan hal yang mirip saat membaca status Samejima. Ia tidak menyangka hal ini. Gregory kembali membaca tulisan yang ada di permukaan plat besi itu.


『Name : Kurobane Shinnichi


Level : 1


Race : Human


Class : [None]


Stats


Agi : 5


Atk : 4


Int : 15


Vit : 5


Skill


[Appraisal lvl.1] [Self-Magic Manipulation lvl.1] [Language Comprehension]


Title


[Other World Traveler] [The Dreamer] [Observer] 』


Jika status Samejima adalah jurang indah yang menggoda, milik Shinnichi adalah lubang kecil yang digali anak-anak.


Stat-nya benar-benar rendah. Lebih rendah daripada stat rata-rata penduduk biasa Zelfria. Penduduk biasa rata-rata memiliki mempunyai keseluruhan stat di bawah 40. Namun, 29 itu terlalu rendah. Itu bisa dibandingkan dengan anak kecil.


Ini benar-benar membuat Gregory kebingungan. Apakah mungkin seseorang memiliki stat serendah ini? Itu pun belum terhitung skill-nya. Hanya ada tiga, semuanya skill yang tidak ada hubungannya dengan pertempuran.


Shinnichi juga mengetahui itu. Ia ingin tahu apakah itu kesalahan. Namun, melihat ekspresi sang Jenderal, ia tahu jawabannya.


Shinnichi tidak ingin mempercayainya. Ia tidak ingin menjadi tak berguna. Apa gunanya menjadi beban? Ia tidak ingin menjadi hal yang menahan teman-temannya.


Shinnichi mempersiapkan diri untuk yang terburuk. Mungkin ini kesalahan! Mungkin ada suatu harapan. Apa saja.


Namun, satu kalimat dari Gregory memecahkan semangatnya. Menjatuhkannya dengan begitu keras, seakan-akan ia kesusahan bernafas. Harapan kecil yang ia pegang, tiba-tiba lepas dari tangannya.


"Apakah kau benar-benar seorang Pahlawan?"