
Kereta kuda yang ditumpangi Shinnichi dan Genia berguncang selagi melewati hutan. Menghindari pohon dan semak-semak yang terlalu tebal. Shinnichi memegang tali pengekang dengan erat.
Sudah lebih dari lima jam mereka menuju ke sebuah kota di arah Timur. Dan selama lima jam itu, Shinnichi dan Genia tidak mengatakan apa-apa. Mungkin sesekali Shinnichi akan menawarkan apel dan minum kepada Genia, namun selain beberapa patah kata, percakapan panjang tidak terjadi. Tentu saja, Shinnichi tidak bisa berbicara karena ia perlu fokus, jika seseorang menatapnya dengan teliti, ia bisa melihat bahwa tangan Shinnichi sebenarnya gemetaran. Ditutupi oleh guncangan kereta kuda, Genia tidak menyadarinya.
Selain kekuatan mentalnya, ia juga sudah duduk di atas kayu yang berguncang selama lima jam, bokongnya pegal. Shinnichi harap kota itu sudah dekat. Ia sangat ingin tidur di atas kasur.
Sebelum ia mulai mengeluh, kereta kudanya sampai di sebuah jalan setapak. Sedikit kasar, tapi ia bisa melihat jejak roda dan tapal kuda di atasnya. Matanya berbinar, Shinnichi memecut talinya. Membuat kedua kuda itu berjalan sedikit lebih cepat.
Dan setelah lima belas menit, Shinnichi bisa melihatnya. Dinding yang terbuat dari batang kayu. Gerbang batu dan sebuah kota di baliknya. Peradaban! Shinnichi hampir tidak bisa menahan senyumnya. Ia kini selangkah lebih dekat menuju tujuannya.
Shinnichi menghampiri gerbang itu. Sepasang pria berpelat dada menjaga gerbang itu. Memegang tombak seperti penjaga gerbang fantasi yang klise.
“Berhenti.” Seorang penjaga berdiri di depan kereta kuda Shinnichi. Membuat kuda-kudanya menghentikan langkahnya. Di saat yang bersamaan, penjaga yang lain bergegas memeriksa kereta kduanya.
“Siapa kau? Identifikasikan dirimu.”
Shinnichi menurunkan jubahnya. Memberi tatapan paling bersahabat yang ia punya. “Selamat sore, aku seorang pengelana. Aku butuh mengisi ulang persediaanku, jadi aku datang ke sini.”
“Seorang pengelana ‘kah?” Penjaga itu menatap Shinnichi curiga. Matanya jatuh ke arah Genia. Gadis malang itu terlihat ketakutan di bawah tatapan sang penjaga.
Genia menundukan kepalanya. Telinga kelincinya terkulai lemas. Tubuhnya gemetaran. Ia memang ketakutan.
“Dia budakmu?” Penjaga itu bertanya.
Shinnichi melirik ke arah Genia. Tak mau repot, Shinnichi hanya mengangguk.
“Bos!” Penjaga yang memeriksa kereta kuda itu tadi berseru. “Ini kereta kuda milik perusahaan Greenmile!”
“Greenmile?” Penjaga yang dipanggil bos itu kembali menatap Shinnichi curiga. “Setelah kupikir-pikir, ada sebuah kereta kuda dari Greenmile yang baru saja pergi kemarin. Dan keretanya terlihat sama persis dengan kereta ini….” Ia melebih-lebihkan gerak dan gaya bicaranya.
Shinnichi menghela nafas. Ia tahu apa yang ada di pikiran penjaga itu. Ia melempar sekeping koin emas ke arah Bos itu. Tanpa tersentak, ia menangkap koin itu. Tersenyum samar.
“Aku sedikit terbur-buru. Jadi, bisakah aku langsung lewat?” Shinnichi bertanya, masih sopan.
“Tentu saja, tuan pengelana. Oi! Buka gerbangnya!” Kelakuan bos itu berubah 180 derajat. Uang sepertinya akan menjadi hal penting baginya setelah ini.
Sesaat setelah bos itu menyerukan perintahnya, gerbang yang terbuat dari kayu besar itu terbuka. Memperlihatkan kota balik tembok.
“Apakah kota ini memiliki penginapan?” Shinnichi kembali bertanya.
“Oh, tentu saja. Saya merekomendasikan Paviliun Tiga Telur. Sedikit mahal, tapi kujamin kualitasnya sesuai. Tinggal ikuti saja jalan, dan Anda akan melihat logonya. Apakah Anda butuh pengantar?” Penjaga itu memberikan petunjuk lengkap.
Shinnichi hanya menggelengkan kepalanya. “Tidak usah, terima kasih.”
“Baiklah kalau begitu. Nikmati waktu Anda di Iedrich.” Bos itu tersenyum senang. Melambaikan tangannya seperti seorang karyawan licik.
Shinnichi memecut tali pengekang dengan ringan, kedua kuda itu kembali berjalan. Memasuki kota bernama Iedrich itu.
❂❂❂❂❂❂
Iedrich adalah kota kecil. Dikelilingi oleh dinding kayu setinggi empat meter, berbagai macam bangunan mengisi kota ini. Suara besi panas yang dihantam keluar dari sebuah toko senjata, aroma menggiurkan tercium dari salah satu kedai makanan, baju-baju simpel dan indah dipajang dengan bangga di balik kaca. Ekonomi berkembang baik di kota ini
Orang-orang berlalu kian kemari, mengurusi kepentingan mereka masing-masing. Ibu-ibu menggendong bayi mereka, anak-anak lari bermain, para pria sibuk bekerja. Iedrich adalah kota yang damai di mata Shinnichi.
Shinnichi menahan dirinya agar tidak melompat turun kemudian berlari ke arah salah satu kedai makanan. Bayangan makanan enak benar-benar menggiurkan, tapi ia setidaknya perlu mencari tempat menginap dulu. Shinnichi melirik ke belakangnya, sekilas tapi jelas. Ia mengabaikannya untuk sementara ini.
Setelah beberapa saat, Shinnichi bisa melihatnya; Penginapan Telur Emas. Sebuah bangunan kayu putih berlantai tiga. Darimana Shinnichi tahu? Sebuah tanda yang tergantung di depan bangunan itu. Tiga telur retak dengan sepasang sayap keluar darinya. Di mana lagi jika itu bukan tempatnya?
Shinnichi berhenti di depan penginapan itu. Ia turun, Genia mengikuti di belakangnya. Ia membuka pintu penginapan itu.
Di dalam, sebuah bar sekaligus tempat makan. Dari selusin meja yang ada, hampir setengah dipenuhi orang. Di kursi depan bar, tiga pria tertawa-tawa sambil meminum alkohol. Mereka tidak sadar, atau lebih tepatnya, tidak peduli dengan kehadiran Shinnichi. Waktu makan siang, jadi Shinnichi tidak heran tempat ini penuh.
Shinnichi berjalan ke arah meja resepsionis. Seorang wanita muda berambut pirang pendek duduk di balik meja, mencatat sesuatu. Menyadari kehadiran pelanggan, wanita itu mengangkat kepalanya lalu mendorong kacamatanya.
“Selamat datang di Paviliun Tiga Telur. Penginapan kami senyaman sarang bagi telur burung. Saya Annie, bagaimana saya bisa membantu?” Dengan kelancaran yang sempurna, Annie sang resepsionis menyapa Shinnichi. Tersenyum ramah.
“Aku ingin menginap di sini.” Shinnichi menjawab pertanyaan resepsionis itu. Sedikit terkejut dengan sambutan sopan itu.
“Ah, tentu saja. Berapa lama Anda akan menginap di sini?”
Shinnichi berpikir sebentar. Ia tidak bisa terlalu berlama-lama. Ia hanya perlu tempat beristirahat selagi ia mengumpulkan informasi dan persediaannya. Shinnichi memutuskan. “Tiga hari.”
“Baik.” Resepsionis itu menulis sesuatu di bukunya. Ia kemudian mengambil sehelai kertas. Semacam brosur. Ia menghirup nafas dengan plan kemudian mulai menjelaskan.
“Kami memiliki tiga tawaran untuk Anda. Reguler, Emas, dan Premium. Jika anda memilih reguler, kami akan menyediakan kamar biasa dengan tiga kali makan sehari. Jika Anda tidak puas dengan itu, Anda bisa memilih paket Emas, di mana Anda akan mendapatkan kamar spesial, tiga kali makan sehari ditambah dengan kamar mandi pribadi Anda. Sedangkan paket Premium kami menawarkan pelayanan maksimal. Kamar istimewa, kamar mandi pribadi, hidangan lengkap dengan jamuan makan malam Premium. Lengkap dengan makanan pembuka, makanan utama, dan penutup. Tak lupa juga, “layanan kamar malam” istimewa khas Paviliun Tiga Telur.”
Shinnichi tak bisa berkata-kata. Ia tidak tahu bahwa resepsionis di dunia ini begitu profesional. Ia hanya bisa membayangkan apa artinya “layanan kamar malam” itu.
Sedikit ragu, Shinnichi menunjuk ke tengah. “Err… aku pilih paket emas saja.”
“Pilihan yang bagus, tuan.” Annie menganggukkan kepalanya. “Tarifnya enam koin perak per malam. Jadi, jumlah totalnya adalah 18 koin perak. Anda perlu membayar 30% dari jumlah total sebagai pembayaran di muka; Lima perak dan 40 koin perunggu. Silahkan tanda tangan dan tulis nama Anda di sini."
Shinnichi mengangguk. Ia mengambil pena yang disediakan lalu menulis nama dan membubuhkan tanda tangan di tempat yang disediakan. Kemudian, ia mengambil kantung uangnya dari [Storage] di balik jubahnya. Menaruh sekeping koin emas di atas nampan. Dengan lihai, Annie sang resepsionis menghitung kembaliannya. Sembilan puluh empat koin perak dengan 60 koin perunggu.
Annie memberikan sebuah kunci kepada Shinnichi. Menaruh kembaliannya dalam kantong, Shinnichi menerima kunci itu. Gantungan kuncinya menunjukkan angka 12.
“Kamar anda ada di lantai dua. Sarapan tersedia dari jam 8-10. Makan siang mulai dari jam 12-3. Dan makan malam, jam 5-9. Nikmati waktu Anda bersama kami.” Resepsionis itu kembali tersenyum ramah.
“Terima kasih.” Shinnichi memegang kunci itu di tangannya sebelum mengingat sesuatu. “Ah, kereta kuda-“
“Tentu saja, Tuan. Kendaraan Anda sudah dipindahkan ke belakang saat ini juga.” Annie menjawab, memotong Shinnichi. Penginapan ini terlalu High-spec sampai-sampai Shinnichi sedikit takut.
Gawat, aku hanya memesan satu kamar. Shinnichi menggaruk-garuk kepalanya. Ia kembali ke meja resepsionis.
“Permisi, bisakah aku memesan satu kamar la-”
“Ti-tidak usah!” Genia menyela sebelum Shinnichi menyelesaikan perkataanya.
“Apa maksudmu?” Shinnichi menghadap Genia. Tidak mengerti jalan pikirannya.
“A-aku tidak butuh kamar…” Genia menjawabnya pelan. Menundukkan kemudian menggelengkan kepalanya sambil mencengkram bajunya.
“… Terserah kau sajalah.”
Shinnichi menyerah setelah melihat Genia. Ia berjalan menaiki tangga. Genia mengikutinya dengan kepala tertunduk. Tidak berani mengangkat kepalanya menatap Shinnichi.
Shinnichi membuka pintu kamarnya. Sebuah kamar biasa, hal pertama yang mengambil perhatian adalah sepasang kasur ukuran kembar di kamar itu. Shinnichi menghela nafas. Lega karena ada dua kasur di situ.
Sekarang, yang menjadi pertanyaanya adalah apakah ini standar bagi kamar lain atau disengajai oleh resepsionis itu? Membayangkan wanita itu mendorong kacamatanya, tersenyum sambil bergumam “Sesuai rencana.” Itu sedikit menakutkannya sekarang.
Shinnichi memeriksa kamar itu. Sepasang kasur, satu set meja dan kursi, serta lemari kosong. Di ujung ruangan, terdapat sebuah pintu lain. Kamar mandi, lengkap dengan bak, sabun, beberapa handuk, dan toilet duduk. Untuk standar dunia ini, penginapan itu cukup bagus. Terlalu bagus, jika Shinnnichi tahu kondisi penginapan lainnya.
Ia menoleh ke arah Genia. Gadis itu masih kotor dan berantakan. Rambutnya kusut dan berminyak, kain kumuh yang dipakainya juga bau. Shinnichi tidak mengatakannya langsung , ia masih tahu sopan santun.
“Kau mandi dulu.” Shinnichi menyuruhnya. Menunjuk ke arah kamar mandi dengan jempolnya. “Aku akan pergi sebentar.”
Genia sedikit ragu, tapi ia menganggukkan kepalanya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Shinnichi menghela nafas. Menggaruk kepalanya, ia keluar dari kamarnya.
“Schwarz, kau di situ?” Shinnichi memanggil nama sang naga.
“Aku di sini. Ada apa?” Schwarz menjawab tak lama kemudian.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Kau jarang bicara akhir-akhir ini.” Shinnichi berhenti di depan meja resepsionis. Ia bertanya kepada Annie. “Maaf, apakah di sini ada toko baju?”
“Tentu saja. Ada toko baju di seberang jalan. Toko Arville.”
“Terima kasih.” Shinnichi mengangguk sebelum berjalan keluar.
“Hanya itu?” Schwarz menjawab. Setengah terkejut. “Kita sedang berada di peradaban. Dan aku berada di dalam kepalamu. Kau berbicara denganku sama saja berbicara dengan dirimu sendiri. Kau ingin terlihat seperti orang gila?”
“Oh, benar juga.” Shinnichi berhenti di pinggir jalan. Menoleh ke sana kemari, memastikan tidak ada kereta kuda atau gerobak yang lewat.
“Jadi, kau tidak kesepian?” tanyanya lagi, terlihat tidak peduli dengan perkataan Schwarz sebelumnya.
“Omong kosong apa itu? Tentu saja tidak!”
“He~h, kupikir kau diam karena merajuk. Kau tsundere jadi sulit tahu.”
“Aku bukan tsundere!”
“Dan itulah hal yang akan dikatakan oleh seorang tsundere.” Shinnichi tersenyum jahil, menyebrangi jalan.
“Berisik, bocah. Sudahlah, lebih baik aku memejamkan mata.”
“Oke, selamat malam.”
“….”
Schwarz tidak menjawabnya. Kasar sekali, Shinnichi membatin dalam hatinya. Tanpa sadar, ia sudah sampai di depan toko baju Arville.
Shinnichi masuk ke dalam. Bunyi gemerincing bel menemani langkah pertamanya ke dalam toko. Sekilas, toko itu tidak jauh berbeda dengan toko baju di dunianya. Rak baju di mana-mana, manekin yang memakai pakaian terkini, bahkan tempat untuk mencoba pakaian.
Shinnichi melihat-lihat baju di dalam toko itu. Mulai dari jubah, celana, tunik, kemeja, gaun, bahkan sepatu. Toko ini terlihat lengkap.
“Selamat datang di toko Arville~”
Suara mencurigakan datang dari belakang toko. Shinnichi merasakan bulu kuduknya berdiri. Sensasi yang jauh berbeda dari yang di alaminya dalam dungeon. Shinnichi dapat merasakan instingnya menyuruhnya untuk pergi.
Namun, ia terlambat.
Ia datang.
Shinnichi merasakan seseorang ada di belakangnya. Ia membalikkan tubuhnya. Hal pertama yang ia lihat adalah otot yang dibalut kain merah muda.
Shinnichi menelan ludahnya. Ia harus mendongakkan kepalanya sebelum bisa menatap wajahnya. Ia menyesal melakukan itu. Bahkan dengan pengalamannya di dalam Dungeon, ia belum pernah melihat makhluk semacam ini.
Di depannya, seorang pria berjenggot lebat. Sebesar gorilla dengan otot yang sama besar. Memakai gaun gothic merah muda, lengkap dengan sarung tangan dan topi kecil serta pita kucing di kepala botaknya. Penampilan yang mampu membuat siapa saja ingin mencuci mata mereka dengan air suci dan sabun.
“Pelanggan yang terhormat, apakah ada yang bisa saya bantu~?” Pria itu, mengangkat kedua tangannya lalu mengambil pose peace yang tidak cocok dengan penampilannya. Suara dalamnya juga tidak membantu.
Shinnichi menelan ludahnya. “Uh… Ti-tidak, kurasa aku salah masuk toko. Permisi….”
Shinnichi membalikkan badannya untuk berlari. Namun, pria itu dengan cepat menangkapnya tangannya.
“Tenang saja, tuan! Saya akan melayani Anda dengan baik~! Jadi, mari saya pilihkan baju untuk Anda~”
“Tu-Tunggu! Aku tidak pe- Huh?” Shinnichi tidak bisa melepaskan tangan pria itu. Vit-nya yang melebihi 450 kurang kuat untuk menandingi pria berpita pink ini.
Keringat dingin menuruni punggungnya. Di situlah, Shinnichi belajar; Monster di luar ternyata lebih menakutkan daripada di dalam dungeon. Ia juga mendapat diskon yang bagus untuk empat set pakaian, jadi itu tidak terlalu buruk.