
Dominator adalah nama yang diberikan Shinnichi kepada bentuk silinder di tangannya. Namanya tentu saja diambil dari senjata futuristik yang mampu mendeteksi level kejahatan seseorang. Tapi, jika seseorang melihat bentuknya, mereka akan teringat dengan meriam angin dari seekor robot kucing biru tertentu.
Alasan Shinnichi menciptakan bentuk seperti itu? Tentu saja karena ia tidak tahu cara membentuk sebuah pistol sungguhan. Bentuk rumit membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dibuat dan mudah gagal. Lebih baik ia menggunakan bentuk sederhana saja. Ia hanya perlu menyesuaikan peluru dan larasnya saja.
Apakah itu menghambat kekuatannya? Justru sebaliknya.
Dor! Dor! Dor! Peluru Mana yang ditembakkannya mengarah tepat ke arah kepala para Meiolania. Kepala Meiolania langsung meledak terkena peluru Mananya. Lebih dari selusin Meiolania jatuh di depan moncong Dominator.
Tanpa perlu memfokuskan diri dengan desain rumit, Shinnichi memaksimalkan daya tembaknya. Kekuatan yang ada di balik setiap peluru hampir sama dengan sihir level atas. Kekuatan Schwarz yang diwariskan kepadanya tidak main-main. Dan itu baru sebagian kecil.
“KRAA!” Seekor Meiolania menerjang dari samping. Seperti menduganya, Shinnichi mengayunkan Dominator, menghantam wajah monster itu. Shinnichi melompat ke samping. Masih di udara, ia mengarahkan Dominator ke arahnya.
Dor! Dalam sekejap, Meiolania itu mati. Shinnichi berguling dengan aman ke belakang. Kemampuan Shinnichi sudah meningkat sejak ia dilempar ke dalam Dungeon.
“Hampir saja….” Shinnichi bergumam.
Benar, sebesar apapun kekuatan yang diwariskan Schwarz kepadanya. Jika ia tidak berlatih, apa gunanya? Sama saja memberikan sebuah senjata kepada seorang anak kecil.
“Gryaa!” Sepasang bola api besar terbang ke arahnya.
“Si-!”
Buar! Suara Shinnichi terendam kobaran api. Pilar api tumbuh dari ledakan yang mengenainya. Shinnichi melompat keluar dari pilar api itu. Jubahnya melindunginya dari kobaran api.
“Kadal b*jingan!” Shinnichi mengutuk sepasang Meiolania bersisik ungu di belakang. Sepertinya pengalaman bertempurnya masih kurang.
“Grya! Kra!”
“-!?”
Sebelum bisa berdiri, seekor Meiolania lain melompat ke arahnya. Shinnichi mengangkat tangan kirinya dan membiarkannya menggigit tangannya. Vambrace Shinnichi melindungi tangannya. Mencegah mulut penuh gigi tajam itu mencabik wajahnya.
“Argh!” Shinnichi mengernyit kesakitan. Lengan kirinya dicengkram oleh monster itu. Cakar tajamnya menggali kulit dan dagingnya. Darah mengalir keluar dari luka segar itu.
“Sialan!” Shinnichi menempelkan Dominator ke perut hewan itu.
Dor! Dor! Dor! Tiga tembakan menembus perut monster itu. Darah dan isi tubuhnya menciprat ke mana-mana. Melumuri tubuh dan leher Shinnichi dengan darah kental. Monster itu mati sambil berteriak kesakitan.
“Minggir!” Shinnichi menendang mayat itu ke samping. Ia berguling ke belakang dan berdiri.
Shinnichi kehilangan momentumnya karena serangan mendadak itu. Jarak mereka semakin mendekat. Tembakan rentetan tidak akan membantunya lagi. Ia memegang lengan kanannya. Lalu melebarkan laras Dominator. Dari 12 cm menjadi 50 cm. Ia tidak ingin berlebihan seperti di dalam Dungeon. Hal terakhir yang dibutuhkannya adalah kedua tangannya menjadi tidak berguna.
Setelah menyiapkan bola Mananya selama enam detik, Shinnichi melompat. Ia mengarahkan Dominator di tengah-tengah pasukan. Lalu, Shinnichi menembakkannya.
DUM! DUAR!Suara mendentum yang mirip meriam terdengar. Diikuti oleh ledakan besar. Bumi sekitar bergoncang. Ledakan itu melemparkan bebatuan dan bagian-bagian tubuh Meiolania ke mana-mana.
“”KRYAK!””
“”“GRYUAAK!”””
Pekikan Meiolania memenuhi hutan. Ledakan itu cukup besar hingga menciptakan sebuah kawah kecil. Lebih dari setengah Meiolania mati karenanya. Sisanya terlempar karenanya.
“Tsk, kurang ya?” Shinnichi mendecakkan lidahnya saat ia mendarat. Ukuran Dominator itu kurang besar. Niatnya adalah membunuh semua monster itu langsung. Shinnichi akan mencoba mengingatnya di masa depan.
Berkat tembakannya, jumlah Meiolania turun drastis. Ia menghitung ada kurang dari 25 ekor yang tersisa. Dan mereka terpencar.
‘Kesempatan!’ Shinnichi membatin. Ia menghunuskan Abyssal Mist lalu melesat dengan kecepatan tinggi. Shinnichi mengincar kelompok terdekat, lima Meiolania. Shinnichi kembali melompat ke udara. Memutar tubuhnya, ia mengubah Abyssal Mist menjadi sebuah godam. “Hrngh!” Menggunakan gaya gravitasi dan berat tubuhnya, ia mengayunkan godam itu tepat ke arah kepala seekor Meiolania.
Tanpa bisa melawan, kepala monster itu pecah. Shinnichi tidak membuang-buang gerakannya. Selagi berguling, ia mengubah godam itu menjadi pedang. Memanfaatkan inersia yang didapatnya, Shinnichi mengayunkan bilah hitam itu sekuat tenaga dan memotong kaki beberapa ekor Meiolania.
“”“KRYA!”””
Mereka memekik kesakitan di tanah. Shinnichi mengangkat Abyssal Mist ke atas lalu mengubahnya menjadi kapak raksasa. Bilah itu jatuh seperti Guillotine. Memisahkan kepala mereka dalam sekejap
Melihat rekan-rekan mereka mati dengan mudah oleh pemuda itu mengisi mereka dengan kemurkaan dan ketakutan. Insting para Meiolania berteriak. Makhluk yang satu ini harus dibunuh!
“Kraa!!” Seekor Meiolania mengayunkan sebilah pedang ke arahnya. Namun, dengan mudah pedang itu ditangkis.
Shinnichi menendang Meiolania itu, mendorongnya ke belakang beberapa langkah. Ia menyentakkan Abyssal Mist ke arah lehernya. Seperti cambuk, Abyssal Mist mengikat lehernya. Shinnichi melirik sekitarnya, Meiolania yang lain mulai berlari dan mengelilinginya. Ia terkepung.
“Bagus.” Shinnichi tersenyum kecil.
Sebelum monster itu bisa meronta-ronta, Shinnichi kembali mengubah Abyssal Mist. Cambuk yang mengikat leher Meiolania itu kini menjadi kaku. Ia menahan rasa panas di lengan kirinya lalu memegang lengan kanannya. Dengan sekuat tenaga, Shinnichi mengangkat Meiolania itu ke udara sebelum membantingnya kembali ke tanah.
GRUAK! Suara keras timbul saat Meiolania menghantam tanah. Shinnichi tidak berhenti tentu saja. Ia menanamkan kakinya tegap di tanah. Lalu, seperti atlet lontar martil, Shinnichi memutar tubuhnya. Meiolania yang masih diikat lehernya kini ikut berputar. Menghantam Meiolania lain yang ada di jalurnya. Entah melempar mereka jauh atau membuat mereka menghantam dinding dan pingsan.
“”“KRYAAK!”””
Meiolania yang ada diujung cambuknya sudah tidak bernyawa sejak dibanting. Kini, ia menjadi sebuah bola penghancur. Sisik kuat Meiolania menjadi penghalang bagi Meiolania yang mendekat.
Shinnichi mulai merasa sedikit pusing. Ia mengubah Abyssal Mist menjadi tangannya kembali. Melemparkan bangkai Meiolania itu entah kemana. Sekarang, hanya ada 15 Meiolania yang tersisa. Melihat sosok Shinnichi yang mirip dengan Dewa Kematian, insting Meiolania kembali berteriak. Lari! Lar!
“Krya! Tss!’
Seekor dari mereka berdesis dan berciap. Seperti memberi tanda, 15 Meiolania itu berlari ke dalam gua. Tak ingin menghadapi monster yang satu ini.
Shinnichi yang melihat Meiolania terakhir ditelan kegelapan gua menghela nafas. Ia merubah Abyssal Mist menjadi tangannya lagi. Kepompong bayangan yang ada di dalam hutan juga mulai menghilang. Kembali berubah menjadi bayangan. Para petualang yang ada di dalamnya jatuh keluar.
Shinnichi jatuh terduduk.
“Shinnichi-sama!” Seorang Beastkin kelinci berlari ke arahnya. Genia datang ke sisi Shinnichi, khawatir.
Genia menatap Shinnichi. Tubuhnya berlumuran darah dan sebuah luka dalam di lengan kirinya. “Apakah Shinnichi-sama terluka?!”
Shinnichi mengangkat tangannya. “Aku tak apa-apa.” Ia meraih kristal biru Emphiria lalu meminum air yang dikeluarkannya. Air penyembuh segar membasahi tenggorokannya. Menyembuhkan luka di tangannya dan menghilangkan sedikit keletihan dalam tubuhnya.
“….”
Genia terdiam, Shinnichi terlihat berantakan. Bukankah orang yang satu ini menyelamatkan hidupnya? Jadi, kenapa ia tidak bisa membalasnya? Dalam hatinya, ia menyesal tidak bisa melakukan apa-apa untuknya. Genia menundukkan kepalanya. Telinga kelincinya menurun lesu.
Shinnichi menyadari ekspresi Genia. Telinganya menjadi penanda utama. Ia tidak tahu kenapa Genia sedih, tapi ia bisa menebak bahwa ia mengkhawatirkannya.
‘Gadis yang baik’
Shinnichi sedikit senang. Seseorang mengkhawatirkannya. Ia menepuk-nepuk kepalanya. “Aku tidak apa-apa. Tenang saja.” Ia menoleh ke arah hutan, Gruzzex dan petualang lainnya berjalan mendekatinya.
Shinnichi bangkit. Sementara Genia masih duduk menyentuh kepalanya yang ditepuk-tepuk Shinnichi. Sedikit tersipu.
“… Apakah kau yang mengalahkan mereka?” Gruzzex bertanya kepada Shinnichi.
Shinnichi mengangguk. Tidak mengatakan apa-apa. Ia sudah melihat bagaimana Gruzzex menyindirnya di awal, jadi ia tidak terlalu bersahabat.
“Terima kasih banyak.” Gruzzex menundukkan kepalanya. Diikuti oleh petualang lain. Tentu saja, petualang seperti mereka tahu untuk berterima kasih kepada penyelamat mereka.
“Saya Gruzzex Jackiel, putera pertama dari Earl Roald Jackiel. Senang bertemu dengan Anda.” Gruzzex memperkenalkan dirinya. Gerakan terhormatnya cocok untuk seorang bangsawan. Ia mengulurkan tangannya.
“… Shinnichi Kurobane.” Shinnichi menyambut tangan Gruzzex. Tidak ada alasan untuk menolaknya.
❂❂❂❂❂❂
Shinnichi berdiri di ujung gua. Menatap kegelapan yang menyerap cahaya. Di belakangnya, para petualang yang sedang beristirahat di sekitar api unggun. Malam sudah turun dan bumi berubah gelap. Sudah beberapa jam berlalu sejak Shinnichi mengalahkan para Meiolania. Sekarang, ia ingin masuk ke dalamnya.
“Meiolania adalah ras monster penyendiri. Satu suku hanya terdiri dari 5-7 ekor. Tapi, tiba-tiba ada seratus ekor yang berkumpul di satu tempat. Ada sesuatu atau yang mengumpulkan mereka di sini.” gumam Shinnichi, menyentuh dagunya. Mengingat buku tentang Monster yang dibacanya di istana.
“Oh? Kau memiliki pengetahuan tentang monster?’ Schwarz bertanya. Tidak menyangka Shinnichi mengetahuinya.
“Hanya dasar-dasarnya saja.” Shinnichi mengangkat bahunya. Ia hanya membaca sekilas buku itu.
“Apakah Anda ingin masuk ke dalam?”Gruzzex berjalan menghampirinya. Zirah emasnya kembali terlihat indah di bawah cahaya api.
Shinnichi mengangguk. “Aku belum menghabisi seluruh pasukan Meiolania. Ada kesempatan mereka akan kembali lagi.”
Gruzzex kagum dengan sikap Shinnichi. Mau membantu kota yang ia tidak memiliki hubungan. Apakah ada orang lain yang punya sikap seperti ini?
“Apakah Anda akan segera memasukinya?” Gruzzex kembali bertanya.
“Aku tidak bisa membuang-buang waktu,” jawab Shinnichi. “Besok aku akan pergi.”
“Oh….” Gruzzzex sedikit kecewa. Orang hebat sepertinya akan pergi dalam waktu yang dekat. Padahal ia ingin memberinya hadiah karena sudah menyelamatkan nyawanya.
“Kalau begitu, apakah kami boleh membantu Anda?” Gruzzex bertanya. Mewakili para petualang.
Shinnichi sedikit enggan. Ia tidak bisa melindungi seratus orang di dalam sana sambil bertarung. Ia tidak mengatakannya langsung, tapi Gruzzex bisa mengambil arti dari mimik wajahnya.
“Tentu saja, hanya petualang terkuat saja yang akan menemani Anda.” Gruzzex mencoba meyakinkan Shinnichi. “Kami tidak akan menghalangi Anda. Jadi, tolong.”
“….” Shinnichi diam. Berpikir untuk apa yang harus dilakukan. Ia menatap Gruzzex dan petualang yang sedang mempersiapkan diri di belakang.
Ia bia melihat Genia bersama beberapa petualang. Tertawa dan berbincang riang. Memakan sup dan roti yang dimasak bersama-sama. Mereka datang ke sini meskipun tahu mereka lemah. Bertekad untuk melindungi kota dan rumah mereka. Jika ia meninggal mereka, rasa tidak enak akan tertinggal di dalam mulutnya.
Shinnichi menghela nafas. “Baiklah. Persiapkan dirimu dan pasukanmu. Kita akan berangkat dalam setengah jam.”
“Baik!” Gruzzex menegakkan punggungnya. Ia langsung berlari kembali. Segan membuat Shinnichi menunggu.
“Kau yakin ingin membawa mereka?” Schwarz bertanya.
“Aku tidak punya pilihan lain.” Shinnichi tersenyum samar. Ia duduk di sebelah pintu masuk gua. Menyandarkan tubuhnya ke dinding batu yang dingin. “Yah, niat mereka tidak buruk, jadi tak apa, bukan?”
Schwarz mendengus lucu. “Mereka bisa menjadi perisai daging yang bagus.”
“…. Kejam juga kau. Apa yang dilihat Emphiria dalam dirimu?”
“A-apa!? Apa maksudmu, bocah?!”
Shinnichi mengabaikan Schwarz yang tergoncang. Ia menoleh ke arah seorang gadis bertelinga kelinci yang berjalan menghampirinya. Membawa nampan penuh dengan makanan.
“Shinnichi-sama.” Genia memanggilnya. Memberikan nampan itu kepadanya.
“Ah, terima kasih.” Shinnichi menerimanya. Mencelupkan roti keras itu ke dalam sup sebelum menggigitnya. Rasa asin memenuhi mulutnya, makanan yang lebih rendah daripada di penginapan.
Genia duduk di sampingnya. “A-apakah Anda akan masuk ke dalam?” tanyanya, beberapa saat kemudian.
“Tentu saja.” Shinnichi mengangguk. Ia menenggak gelas kayu penuh jus jeruk. “Meiolania itu tidak akan mengalahkan diri mereka sendiri.”
“A-ah, begitu ya.” Genia kembali terdiam. Ia melirik Shinnichi. “Apakah aku boleh ikut?”
“Tidak.” Shinnichi menjawabnya singkat dan jelas. Tanpa menoleh atau meliriknya, Shinnichi menggigit kembali rotinya. “Kau lemah dan akan ada waktu di mana aku tidak bisa menolongmu. Tak usah mempercepat datangnya waktu itu.”
“Oh, baik....” Genia sedikit kecewa dengan jawaban tegas Shinnichi.
Daripada mengkhawatirkannya, ia lebih takut Shinnichi akan meninggalkannya. Hari-harinya sebagai budak membuatnya bergantung kepada Shinnichi. Jika ia meninggalkannya, Genia tidak tahu harus apa.
Ia ingin terus bersamanya. Baginya, Shinnichi adalah penyelamat sekaligus pelndungnya.
“Shinnichi-sama,” panggil Genia. “… Kenapa Shinnichi-sama menyelamatkanku?”
Shinnichi tidak menjawabnya langsung. Ia menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Shinnichi menaruh mangkuknya.
“Bukankah menyelamatkanmu adalah hal yang masuk akal?” Shinnichi akhirnya menjawab. Seolah-olah itu hal yang alami. Shinnichi mengembalikan nampan itu kepada Genia lalu mengelus kepalanya.
“Kau tidak perlu ikut.” Shinnichi mencoba menenangkan hati Genia. Efek sebaliknya terjadi. Wajah Genia memerah dan hatinya berdegup kencang.
“Ba-baik….” Genia menundukkan kepalanya.
Shinnichi tidak memikirkan reaksi Genia lebih lanjut. Gruzzex dan 5 orang lain menghampirinya. Mereka memiliki perlengkapan yang berbeda.
“Kami siap.” Gruzzex mengangguk. Menyentuh gagang pedangnya dan memamerkan zirah emasnya.
“Panggil aku Higg.” Pria beastkin beruang kekar di belakang Gruzzex melambaikan tangannya kepada Shinnichi. Sebilah Longsword besar terpasang di pinggangnya.
“Senang bertarung dengan Anda, Shinnichi-san. Saya Jane” Wanita berambut cokelat yang berperan sebagai Cleric menyapa Shinnichi. Ia mengingatkan Shinnichi akan tipe onee-san yang sering dilihatnya.
“Halo, tuan. aku Ramley. Aku akan bekerja keras!” Seorang gadis Beastkin kucing kecil yang memegang tongkat sihir lebih besar tubuhnya memperkenalkan diri.
“Sam.” Assassin bertudung itu menyebutkan namanya. Laki-laki atau perempuan, Shinnichi tidak tahu. Sesuai dengan kelasnya sebagai Assassin.
Dua Swordsman termasuk Gruzzex, seorang Cleric, Mage dan Assassin. Ditambah dengannya, party yang cukup seimbang. Meskipun ia sendiri tidak memiliki kelas, Shinnichi menganggap dirinya sebagai Mage.
“Genia, kau tunggu di sini.” Shinnichi kembali menenangkan Genia.
“H-hati-hati, Shinnichi-sama.”
Shinnichi dan party-nya masuk ke dalam gua itu. Entah apa yang ada di dalam, ia tidak tahu. Tapi, apapun itu, ia akan mengalahkannya.
Genia menatap mulut gua yang menelan ketujuh orang itu. Kegelapan yang pekat membuat Shinnichi dan yang lainnya segera tak terlihat. Sekali lagi, Genia mengharapkan Shinnichi baik-baik saja.
Genia mengingat apa yang dikatakan Shinnichi sebelumnya.
‘Kau lemah dan akan ada waktu di mana aku tidak bisa menolongmu. Tak usah mempercepat datangnya waktu itu.’
Benar, Genia lemah. Ia tidak bisa melakukan apa-apa tanpa Shinnichi. Apakah pantas baginya untuk terus mengikat pergelangan kaki Shinnichi. Ia harus berusaha untuk tidak menyusahkan penyelamatnya.
Genia berlari ke arah para petualang yang masih berkumpul di sekitar api unggun. Mereka tersenyum melihat Genia. Ia dan Shinnichi terlihat memiliki hubungan, tentu saja mereka menjadi segan dan bersahabat dengannya.
Genia menundukkan tubuhnya. “Tolong! Ajari aku bertarung!”
❂❂❂❂❂❂
Di bawah sinar bulan, sebuah kereta kuda berjalan dengan pelan. Roda kayu berderak setiap meter. Berteriak minta tolong karena hampir tidak sanggup menahan beban yang dibawanya. Tiga ekor kuda menarik kereta itu, terengah-engah setengah mati.
Di atas kereta kuda, tiga orang duduk. Sepasang pria kembar membawa Greatsword besar dan zirah lengkap. Di tengah-tengah mereka, seorang ****- tidak, seorang pria gemuk dengan wajah lebam. Gerald Grog Greenmile masih mengingat apa yang dilakukan pemuda berambut hitam itu kepadanya.
“Tidak bisa diampuni!” Entah keberapa kali ia mengatakan itu. Kebenciannya kepada Shinnichi hampir tidak memiliki batas.
Siang tadi, ia mendapat kabar bawa para petualang bersama Shinnichi dan budaknya ikut dalam pemberantasan Meiolania. Gerald mendengus senang. Ia melirik kedua pria kembar di sampingnya.
‘Tanpa dua petualang terbaik di Iedrich, mereka pasti sudah mati. Dan jika ada yang tersisa, Keln dan Heln bisa menyelesaikan mereka. Rencana yang hebat.’
Gerald tidak sabar melihat wajah pemuda itu. Meraung-raung seperti hewan yang akan disembelih. Membayangkannya saja membuatnya tidak sabar.
Kereta kuda itu terus berjalan ke arah sarang gua Meiolania.