
Tujuh orang menginjakkan kaki mereka di dalam gua yang gelap. Melewati pintu masuk yang sempit, interior dalam langsung meluas. Tanah di dalam melandai ke bawah, menuju dunia gelap di bawah permukaan. Shinnichi merasakan atmosfer yang familiar.
“Ini dungeon…?” Shinnichi bertanya-tanya.
“Ada teori semacam itu, tuan.” Seorang gadis Beastkin kucing menjawab. Ramley berada di depan Shinnichi, memegang tongkatnya yang bercahaya. Menerangi jalan di depan. “Tapi, monster yang diciptakan di dalam dungeon tidak bisa keluar. Jadi, teori itu dicoret.”
“Oh, benar juga.” Shinnichi mengangguk. Sedikit lega dirinya tidak kembali memasuki dungeon. Setelah sekian lamanya di sana, ia tidak ingin terburu-buru kembali ke dalam sebuah dungeon.
“Apakah Anda sering turun ke dalam Dungeon, Shinnichi-san?” Jane bertanya. Cleric itu memakai baju yang mirip biarawati.
“Hanya sekali.” Shinnichi mengangkat bahunya.
Percakapan mereka berhenti di situ. Gruzzex mengangkat tangannya. Menandakan mereka untuk berhenti. Di depan, sebuah jurang selebar 7 meter menganga. Di bawah kegelapan, seseorang dapat jatuh jika mereka tidak hati-hati.
Gruzzex melirik ke arah sosok bertudung di sampingnya. “Sam, tolong periksa.”
Assassin itu mengangguk tanpa kata. Dengan satu gerakan cepat, ia melompati jurang itu tanpa kendala. Memeriksa sisi lain seperti kata Gruzzex. “Aman.” Suara misteriusnya mencapai sisa party yang lain.
“Bagus, kita akan melompatinya. Higg, bawa Jane. Ramley, tolong bantu Shinnichi-dono melewati jurang ini.” Gruzzex memberi perintah sebelum melompat. Meskipun memakai zirah, ia dengan mudah melewati jarak 7 meter itu.
“Siap.”
“Baik!”
“Uhuk, pe-permisi.”
“Terima kasih, Higg-san….”
Dengan malu-malu, pria Beastkin beruang itu mengangkat Jane dengan kedua tangannya. Membawa wanita itu seperti seorang pengantin. Untung saja, wajah merah mereka tertutupi oleh kegelapan. Shinnichi, di sisi lain, bisa melihat mereka dengan jelas. Matanya sudah terbiasa dengan kegelapan seperti ini. Ia hanya diam melihat interaksi itu. Cinta tidak memandang ras, pikirnya.
Higg melompat sambil membawa Jane dengan lancar. Sementara itu, Ramley membaca mantera untuk sihirnya.
“Wahai Sylph, pinjamkanlah kami anginmu. [Wind Magic : Zephyr Boots].”
Memakai sihir angin tingkat menengah, Romley dan Shinnichi melayang di udara. Hembusan angin tercipta di bawah kaki mereka. Mengangkat mereka dengan mudah.
“Nah, condongkan tubuh tuan ke depan untuk bergerak. Seperti ini.” Ramley mencontohkan bagaimana caranya untuk melewati jurang itu. Shinnichi mengikutinya dengan mudah.
Sebenarnya ia dapat dengan mudah melompati jurang itu, tapi Shinnichi tidak ingin terlihat tak sopan. Gruzzex adalah pemimpin party, setidaknya ia perlu memperlihatkan sedikit tata krama. Ia akan mengikuti Gruzzex untuk sementara.
Perjalanan kembali berlanjut. Shinnichi mengikuti di belakang Ramley di tengah-tengah. Jane dan Higg ada di belakang dan Gruzzex di depan. Kali ini, Sam berjalan lebih dahulu. Memeriksa perangkap, jebakan atau monster yang mungkin ada di depan.
“Tuan seorang penyihir ‘kan? Kalau boleh tahu, sihir apa yang tuan kuasai?” Ramley bertanya tiba-tiba. Sedikit mengejutkan Shinnichi.
“Ramley, tidak sopan bertanya hal seperti itu.” Higg menegur sikap Beastkin kucing putih itu. Menanyakan kekuatan seseorang tentu saja perilaku yang tak pantas. Apalagi kepada orang asing seperti Shinnichi. Bukankah itu sama saja menanyakan kelemahannya?
“A-ah, maafkan aku….” Telinga kucing Ramley turun dengan lesu.
“Ah, aku tidak keberatan.” Shinnichi mengangkat bahunya.
Semua orang dalam party menoleh ke arah Shinnichi. Sebenarnya bukan hanya Ramley yang penasaran dengan kekuatan pemuda yang satu ini. Tapi, tak ada yang berani bertanya selain Ramley.
Shinnichi mengangkat tangannya. Ia menciptakan bola Mana berwarna biru samar dalam sekejap. Berputar-putar dengan indah di atas tangannya.
“Hmm? Sihir Putih?” Ramley sedikit bingung. “Spesialisasi tuan di bidang sihir putih?”
Shinnichi mengangguk.
Sihir putih adalah tingkat terdasar dalam sihir. Sihir ini berfokus pada pengendalian Mana murni. Tak ada unsur-unsur elemen seperti sihir lain. Sihir ini sangat mudah dipelajari oleh siapa saja. Sekolah-sekolah sihir pun tidak mau repot mengajari muridnya sihir putih karena dianggap membuang-buang waktu. Ramley tak jauh berbeda. Baginya, sihir putih hanyalah sihir yang berguna untuk menyalakan peralatan sihir.
Berbeda bagi Shinnichi. Sihir Putih adalah sihir pertama yang dikuasainya. Ia mengalahkan seorang Pahlawan menggunakan sihir sederhana ini. Untuk seseorang tak berbakat sepertinya, menciptakan sebuah bola Mana pun menjadi suatu kebanggaan.
Ramley menatap Shinnichi aneh. Bagaimana bisa sihir putih mengalahkan sepasukan Meiolania yang punya sisik menyerupai baja? Ia tahu Shinnichi memiliki sihir atau kemampuan lainnya. Seperti kepompong aneh yang menyelimutinya tadi siang atau senjata aneh yang meledakkan kepala seekor Meiolania berkeping-keping.
“Anda tidak menggunakan senjata tajam?” Gruzzex bertanya. Ia melihat beberapa mayat Meiolania yang terpotong bagian tubuhnya.
“Atau sebuah palu?” Higg ikut bertanya. Mengingat seekor Meiolania dengan kepala pecah seperti semangka dan kawah kecil. Seperti tertimpa benda berat.
Shinnichi menggenggam tangannya. Menghilangkan bola Mananya.
“Aku juga memiliki beberapa kartu tersembunyi.” Shinnichi tersenyum samar. Hampir tidak terlihat di balik gelapnya gua. Ia kembali berjalan. “Kalian akan melihatnya nanti.”
Shinnichi mengeluarkan sebuah apel. Ia mulai memakannya. Party itu tidak mengerti perkataan Shinnichi. Mereka kembalimenelusuri gua luas itu.
Satu setengah jam berlalu. Mereka menemui beberapa jalan bercabang. Namun, dengan Sam memimpin jalan, mereka selalu menemukan jalan yang tepat. Kelas Assassin sepertinya memiliki kemampuan untuk mendeteksi jebakan dan serangan kejutan. Shinnichi akan mengingat ini, meskipun ia tidak memiliki kelas Assassin.
“Musuh di depan.” Sam berbisik. Cukup untuk didengar oleh Gruzzex dan yang lain. “Dua Meiolania.”
Gruzzex mengangguk. “Kita harus membunuh mereka dengan diam.“ Ia menghunus pedangnya lalu menoleh ke belakang. “Higg.”
Beastkin beruang itu mengangguk. Ia juga menghunus Longsword-nya. Ia maju bersama Gruzzex. Sam menghilang tanpa jejak, sesuai dengan kelasnya. Di belakang, Shinnichi menatap mereka dengan mata kiri yang bercahaya. Menggunakan [Soul Eye], ia bisa melihat jiwa makhluk hidup sekitar.
‘Ada tiga Meiolania. Apakah Sam tidak melihatnya?’ Shinnichi melihat tiga cahaya berwarna kuning. Shinnichi menggunakan sihir gelapnya.
“Kra?” seekor Meiolania menoleh ke arah lorong yang gelap. Meiolania di depannya juga menoleh.
“”-!?””
Tiba-tiba, sesuatu mengikat mulut mereka. Mencegah mereka mengeluarkan suara. Ular? Ekor? Mereka tidak tahu. Di belakang mereka, seeekor Meiolania muncul. Kulitnya yang tadinya transparan kini terlihat jelas. Sebuah benda hitam menutup mulutnya diam.
Sekejap kemudian, Gruzzex dan Higg berlari dengan langkah ringan. Mata mereka membulat, sadar bahwa ada tiga ekor Meiolania. Namun, pengalaman mereka sebagai petualang mengajarkan mereka untuk tidak panik. Mereka mengincar Meiolania terdekat, sementara Sam muncul di atas Meiolania kedua.
Di bawah kegelapan, mereka tidak menyadari benda hitam yang menutupi mulut monster-monster itu. Bilah mereka menancap ke salah satu kelemahan Meiolania; rongga matnya. Membunuh mereka seketika. Sam bergera dengan lincah, mengakhiri hidup Meiolania ketiga
“Bahaya….” Gumam Higg. “Jika kita terlambat satu detik pun, kita bisa mati terkepung.”
“….” Gruzzex menarik pedangnya. Ia menoleh ke arah Sam yang menundukkan kepalanya. “Sam, kau tidak melihat Meiolania ketiga?”
“…. Aku tidak melihatnya….” Sam tidak mengerti. Ia jelas-jelas hanya melihat dua ekor Meiolania. Darimana Meiolania ini muncul? Ia menyesal karena hampir membahayakan nyawa party-nya.
“Meiolania itu berkamuflase,” ujar Shinnichi. Ia, Ramley dan Jane berjalan mendekati mereka.
“Kamuflase? Ia menyembunyikan dirinya?” Gruzzex tidak mempercayai telinganya. Dalam sejarah, tak ada yang menyebutkan bahwa Meiolania bisa merubah kulit mereka.
“””-!?”””
Shinnichi mengangkat tangannya, atau lebih tepatnya Abyssal Mist. Kali ini, bentuknya mirip dengan tali yang bercabang menjadi tiga. Tentu saja untuk menutup mulut ketiga Meiolania itu. Dengan cepat, Shinnichi merubahnya kembali menjadi tangannya. Gruzzex dan party-nya tercengang.
“Si-sihir gelap?!” Ramley tidak mempercayai matanya. “T-tuan bisa menggunakan sihir gelap?”
“Demonkin?” Jane ikut bertanya.
Dark Magic atau sihir gelap. Sihir yang berfokus pada kutukan dan, seperti namanya, kegelapan. Demonkin adalah ras yang memiliki pengetahuan luas tentang bidang sihir itu. Namun, karena ras itu menutup diri mereka dari dunia luar selama ratusan tahun, pengetahuan itu tak banyak diketahui orang.
“Tidak, aku bukan Demonkin.” Shinnichi menjawab pertanyaan Jane. Ia mengingat Schwarz di dalam kepalanya. Harga yang dibutuhkan untuk kekuatan adalah kemanusiaannya. “Aku setengah Naga Iblis.”
“Setengah Naga Iblis…!?”
Gruzzex dan yang lain hampir tidak mempercayai perkataanya. Namun, di depan mereka adalah Shinnichi. Seseorang yang mampu menumpas pasukan Meiolania seorang diri. Perkataannya memiliki bukti di belakangnya.
Shinnichi tidak menghiraukan mereka lagi. Ia sudah bosan berada di bawah tanah. Ia berjalan ke depan. Meninggalkan party Gruzzex di belakang. Butuh beberapa saat bagi mereka untuk menyadari bahwa mereka masih ada di wilayah musuh, Gruzzex dan party-nya menelan ludah mereka. Mereka berjalan mengikuti Shinnichi. Punggungnya terlihat jauh sekarang.
❂❂❂❂❂❂
“Secara umum, ada dua jenis pedang; Shortsword dan Longsword. Shortsword atau pedang pendek dapat dipegang hanya dengan satu tangan dan bisa digunakan bersama pedang pendek lain untuk serangan tambahan atau perisai untuk pertahanan. Sedangkan Longsword atau pedang panjang hanya bisa dipegang dengan dua tangan, berguna untuk seseorang yang memfokuskan diri kepada serangan.”
Seorang pria Beastkin harimau melipat tangannya dan mulai menjelaskan. Di depannya, seorang gadis beastkin kelinci berambut cokelat, Genia. Tak sesuai dengan penampilan imutnya, mendengarkan penjelasan tentang senjata.
Beastkin harimau itu, Hans, menatap Genia. “Untuk nona kecil, senjata yang paling tepat adalah pedang pendek. Tak terlalu berat dan mudah untuk digunakan oleh seseorang yang tidak berpengalaman.”
Hans menghela nafas. Ia tidak tahu kenapa Genia tiba-tiba memintanya untuk mengajarinya bertarung. Tidak, ia bisa menebak kenapa. Tak ingin merepotkan Shinnichi, ia kagum dengan niatan gadis ini.
Hans menoleh ke arah seorang petualang, memberi tanda. Petualang itu memberikan sebuah pedang pendek kepada Genia. Pola mirip akar pohon yang terbuat dari perak menyelimuti sarung pedang itu. Genia menatap pedang itu lalu menariknya keluar dari sarungnya.
Pedang berbilah dua sepanjang 20 cm yang terbuat dari besi hitam. Gagang hitam polos yang terbuat dari kayu yang nyaman di tangan. Ia mencoba mengayunkannya beberapa kali.
“Ringan!” Matanya berbinar. Ia merasa cocok dengan senjata itu.
“Namanya Khinzal. Bagaimana? Bagus bukan?” Hans terlihat bangga dengan pilihannya. Petualang yang lainnya juga ikut setuju dengan pilihan Hans.
Genia memiliki tubuh yang ramping, sedikit kurus bahkan. Jadi, senjata berat seperti tombak, pedang besar atau palu tak mungkin dipakainya. Selain itu, Genia juga tidak memiliki bakat sihir yang memukau, hanya sedikit afinitas dengan angin. Tak cocok untuk menjadikannya sebagai penyihir.
“Ingat,” Hans memberikan nasehat. “Setelah kau menerima senjata ini, kau harus terus berlatih setiap hari. Nona kecil ingin berdiri di samping tuan Shinnichi bukan?”
Genia menggenggam Khinzal dengan erat. Ia diberi kesempatan. Menyia-nyiakannya bukanlah sebuah pilihan. Genia mengangguk mantap. “Aku akan terus berlatih!”
Petualang yang melihat itu tersenyum senang. Adik kecil mereka terlihat begitu dewasa. Meskipun di Dunia itu, Genia sudah termasuk dewasa. Namun, mereka terlalu terpesona oleh keimutan Genia. Rambut cokelat panjang, sepasang telinga kelinci, wajah bulat serta iris hijau yang besar membuatnya terlihat menggemaskan. Untuk Hans yang sudah paruh baya, ia terlihat seperti cucunya.
“Baik, mari kita berlatih dasar-dasarnya dulu.” Hans mengangkat tanggannya. Memberi perintah kepada petualang lain untuk mempersiapkan latihan pertama Genia.
Di balik lebatnya hutan, sepasang pria menatap perkemahan itu. Bilah Greatsword mereka memantulkan cahaya bulan yang menyusup pepohonan. Niat membunuh memenuhi mata mereka.
❂❂❂❂❂❂
“Apakah tuan bisa mengutuk seseorang?”
“Tidak.”
“Apakah tuan bisa mengendalikan bayangan?”
“Bisa.”
“Apakah tuan bisa menciptakan senjata dari bayangan?”
“Bisa.”
“Apakah tuan bisa menjadi bayangan?”
“Tidak.”
“Apakah tuan bisa menciptakan klon dari bayangan?”
“Ide bagus.”
“Apakah tuan bisa berubah menjadi naga?”
“Tidak. (Kurasa)”
“Apakah tuan bisa terbang?’
“Tidak. (Kurasa)”
“Apakah orang tua tuan seorang iblis dan naga?”
“Tidak.”
“Apakah tuan mewarisi kekuatan seekor naga?”
“Iya.”
Rentetan pertanyaan datang dari Ramley tanpa lelah. Awalnya Shinnichi mencoba mengabaikannya, tapi kegigihan beastkin kucing itu patut diberi jempol. Shinnichi tak punya pilihan selain menjawabnya. Meskipun singkat.
Pada awalnya, party Gruzzex menjadi sedikit segan dengan Shinnichi. Bukankah ia setengah naga iblis? Naga adalah makhluk yang ada di luar batas wajar bahkan di Zelfria. Makhluk di atas segala makhluk, hanya sedikit yang pernah bertemu dengan naga dan hidup untuk menceritakannya. Bagi Ramley yang selalu haus akan pengetahuan, ini adalah kesempatan utama untuk mengetahui sihir kegelapan dan naga pada saat yang bersamaan.
Atmosfer di sekitar mereka menjadi lebih santai karena Ramley. Shinnichi mengagumi orang extrovert sepertinya. Sementara anggota party lain hanya diam dan mendengarkan percakapan Ramley dan Shinnichi.
“Siapa nama naga yang mewariskan kekuatannya kepada tuan?”
“Schwarz.”
“Kaisar naga kegelapan dan kematian!?” Ramley hampir tidak bisa menahan suaranya. “Perwujudan kematian dan musibah! Ia yang ditakuti Zelfria! Schwarz yang itu?!”
“Apa-apaan gelar itu….” Shinnichi bergidik. Selera nama di dunia ini begitu aneh.
“Heh, aku jadi teringat masa lalu.” Sementara itu, Schwarz mendengus bangga di dalam kepalanya. Tersanjung oleh Ramley.
‘Malah nostalgia! Naga murahan lebih tepat. Kau senang dengan pujian semacam itu?’
Shinnichi tidak mengerti Schwarz. Dipuji seseorang memang menyenangkan. Tapi, siapa yang senang jika dipanggil 'Ia yang ditakuti Zelfria'?
Shinnnichi hanya bisa mengangguk. Mata Ramley kembali berbinar. Ia bertemu dengan seseorang yang mewarisi kekuatan legenda!
“Hmm, ‘pewaris Schwarz?’ ‘Ia yang dipilih sang kaisar?’ Mana yang cocok ya?” Ramley memegang dagunya.
Shinnichi, di sisi lain, bergidik ngeri. Ia tidak mau gelar itu menempel kepadanya. Mendengarnya saja membuatnya geli. Ia ingin menghentikan Ramley yang serius memikirkan gelar untuknya.
“Ada musuh di depan.” Sam menyela mereka. “Sepertinya kita sudah sampai di sarang mereka.”
Atmosfer berubah tegang. Gruzzex dan Higg menghunus pedang mereka. Sementara Jane dan Ramley menggenggam tongkat mereka dengan erat. Mereka maju dengan hati-hati. Di depan mereka, sebuah belokan.
Mereka sampai di sebuah ruangan tak beratap di dalam gua. Semacam lubang raksasa di bumi. Mereka ada di pinggir atas. Shinnichi dan yang lain bisa melihat bintang di angkasa. Pemandangan yang indah selalu ada di tempat yang berbahaya.
Mereka menatap ke bawah. Di dasar, ratusan telur Meiolania dan ratusan ekor Meiolania. Terbuat dari dedaunan, ranting, tulang belulang dan senjata. Jagger benar, jika mereka dibiarkan sendirian, sebuah pasukan akan terbentuk dan Iedrich akan hancur.
“Kita harus menghentikan mereka.” Gruzzex mengeratkan genggamannya.
Enam orang menghancurkan sepasukan Meiolania? Mustahil. Bahkan pahlawan tidak bisa menghadapi mereka semua. Party Gruzzex terdiam. Bahkan sihir terkuat Ramley tidak mampu mengalahkan dua Meiolania. Mereka mulai putus asa. Tapi, mereka melupakan satu orang.
Shinnichi maju ke depan. Abyssal Mist mulai membentuk sebuah tabung hitam. Pelontar projektil sihir terbaik, Dominator terbentuk secara harfiah di tangannya.
Shinnichi memegang tangan kanannya. Ia menanamkan kaki belakangnya dengan kokoh. Ia melebarkan selongsong Dominator menjadi 60 cm. Ia mulai mengumpulkan Mana di dalam selongsong Dominator. Perlahan-lahan menyala. Gruzzex, Higg, dan Sam tidak tahu apa yang akan dilakukan Shinnichi. Namun, kelas yang sensitif terhadap Mana seperti Cleric Jane dan Mage Ramley dapat merasakan.
“I-ini….”
“Sihir gelap dan sihir putih! Bersamaan!?”
Di Zelfria, konsep menggabungkan sihir bukanlah hal yang langka. Sihir api dan sihir angin contohnya. Jika seseorang menggabungkannya, badai api bisa menjadi sihir yang mampu membakar sebuah medan perang dalam satu serangan. Tentu saja, untuk menggabungkan sihir, seseorang harus memiliki Int, kemampuan, dan bakat. Kombinasi yang langka. Sihir yang digabungkan juga harus cocok. Sihir api tidak bisa digabungkan dengan sihir air untuk alasan yang jelas.
Shinnichi mengambil nafas dalam-dalam. Lalu, ia melepaskannya.
ZRUU! Sebuah ledakan besar keluar dari tangannya. Berasal dari Dominator, sinar putih tertembak, seperti laser. Menghantam tepat ke dinding gua.
DUM! Seisi gua bergoncang. Bebatuan, pasir, tanah dan segala macam benda mulai berjatuhan ke tengah-tengah lubang dalam itu. Hampir mengisinya sampai ke kaki Shinnichi.
“”“KRYAA!!”””
“”“GRYAA!”””
Ratusan Meiolania memekik saat tubuh mereka terkubur dan tertimpa batu. Ratusan telur pecah dan hancur, secara efektif menghentikan pertumbuhan mereka. Dalam sekejap, ras Meiolania di dekat Iedrich mati tak tersisa. Lubang sedalam 80 meter itu kini hanya sedalam 15 meter dari tempat Shinnichi berdiri.
Shinnichi menghela nafasnya. Asap mengepul dari Dominator. Ia tidak merasakan panas di tangan kanannya, tapi bahunya terasa berat. Shinnichi merubah Dominator menjadi tangannya kembali. Ia menggerakkannya beberapa kali untuk memastikannya tidak apa-apa.
Party Gruzzex kini tahu. Kekuatan dari seorang setengah naga.Setengah naga saja mampu meruntuhkan sebuah gua. Bagaimana dengan naga asli? Mereka bahkan tidak ingin membayangkannya.
Seseorang yang mampu mengubah wajah bumi. Seseorang yang mampu membunuh ratusan makhluk hidup dengan sekali serangan. Seseorang yang mewarisi perwujudan kematian. Sihir dan sinar putih yang menemaninya. Kematian dan musibah yang akan mengelilinginya. Di hadapannya, Shinnichi terlihat seperti….
“Malaikat Maut Putih…..”
“….”
Shinnichi ingin mengubur dirinya bersama para Meiolania.