
Tak menyadari peristiwa yang terjadi di dalam ruang singgasana, para Pahlawan kembali ke kamar mereka masing-masing. Sebenarnya, kehadiran mereka tadi hanyalah penghias semata. Seperti biasa, untuk memamerkan kekuatan kerajaan.
Shinnichi mengantarkan Fiona ke kamarnya. Tugasnya sebagai pelayan hanya sampai matahari terbenam. Fiona menolak untuk selalu ditemani. Atau begitu yang ia katakan kepada Shinnichi.
Sejujurnya, ia tidak ingin Shinnichi kelelahan dan selalu berada di sisinya. Seseorang pasti membutuhkan waktu untuk menyendiri. Tapi, dilihat dari gelagatnya, Fiona tidak keberatan jika Shinnichi terus berada bersamanya.
Namun, itu cerita untuk lain kali.
Sementara itu, Shinnichi langsung beranjak ke perpustakaan. Baginya, waktunya sendiri adalah malam hari di perpustakaan. Membaca berbagai macam jenis buku. Mulai dari sejarah, sihir, ensiklopedia, bahkan hingga mitos dunia.
Dibandingkan dengan keempat Pahlawan, ia memiliki pengetahuan dasar yang lebih luas. Meskipun Shinnichi sendiri berpikir bahwa ini semua sedikit sia-sia.
Manfaat apa yang bisa ia dapatkan mengetahui para Divine Beast atau kota di atas langit dan di bawah air? Mitos semacam itu tidak memiliki manfaat nyata. Kecuali jika ia ingin menjadi pendongeng.
Memikirkan hal semacam itu, Shinnichi mengisi Mana ke dalam batu sihir. Membuatnya kembali terang. Tak disadarinya bahwa waktu sudah menunjukkan tengah malam. Ia menyudahi bacaannya.
Merentangkan kedua tangannya, Shinnichi berdiri, berniat untuk kembali ke kamarnya. Hari ini, Shinnichi membawa buku yang dibaca Erina saat melatihnya beberapa minggu yang lalu; Medeis Magnus Opum. Ia ingin mempelajari beberapa sihir putih.
Melewati lorong-lorong istana yang rumit, Shinnichi melewati beberapa kamar. Kali ini, ia memilih untuk mengambil jalan memutar. Tak ingin bertemu dengan Samejima lagi. Tapi, itu juga berarti ia harus melewati kamar utusan Iblis.
Keluar dari api, masuk ke dalam panci. Shinnichi menghela nafas. Berharap tidak bertemu dengan siapapun. Namun, dalam sekejap, harapannya langsung hangus.
Di depan kamar para Iblis, ada seorang gadis Iblis berambut hitam. Menatap langit di luar jendela. Matanya terpaku pada bulan emas. Seolah-olah merindukannya.
Gadis kecil itu memakai pakaian gothik hitam. Penuh dengan rumbai, rok mengembang, hiasan kepala, dan sebagai pelengkap, sebuah penutup mata. Jika seseorang mengabaikan tanduk merah gelapnya, ia terlihat seperti seorang gadis biasa.
Meskipun Shinnichi merasa bahwa pakaian Gothic Lolita itu cukup manis, ia masih bisa menahan diri. Shinnichi tidak sebodoh itu untuk berseru "Goth loli adalah yang terbaik!"
Saat Shinnichi memikirkan hal tak berguna semacam itu, Haira menyadari kehadirannya.
"O-oh, ozt bengu, S-Shinnichi-dono," sapanya.
Berkat [Language Comprehension] Shinnichi bisa mengerti perkataannya. "Se-selamat malam." Shinnichi balas menyapa. Meskipun ia cukup yakin ini sudah dini hari.
Kesunyian kembali merayap. Mereka berdua sama-sama tidak terbiasa dengan orang asing. Mereka sama-sama introvert; jika seseorang dari dunia Shinnichi menggambarkan mereka.
"A-apakah anda sedang belajar sihir?" Haira yang pertama bertanya. Menyadari buku yang dibawa Shinnichi, ia mengangkat topik itu.
"Ah, iya." Shinnichi menunjukkan buku yang dibawanya. "Saya sedang mempelajari sihir putih."
"S-sihir putih?" Haira terlihat kebingungannya. "K-kenapa anda mempelajari sihir itu?"
Shinnichi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tersenyum pahit. "Saya tidak bisa menggunakan sihir lain."
"Ah! Ma-maafkan saya! S-saya tidak tahu!" Haira langsung menundukkan kepalanya. Sadar bahwa ia mengatakan sesuatu yang tidak sopan.
"Tak apa! Tak apa!" Shinnichi menenangkan Haira. Ia tidak terlalu ingin membesar-besarkan masalah.
"Te-tetap saja. Saya mengatakan sesuatu yang kasar...." Haira terlihat menyesal. Sifatnya yang lembut membuatnya seperti itu. "A-apakah ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk menebus ini?"
Mendengar kata-kata itu, tubuh Shinnichi menjadi kaku. Di bawah sinar rembulan, Haira menatap Shinnichi dengan malu. Pakaian gothiknya juga tidak membantu sama sekali.
Seorang gadis mengatakan itu kepada seorang pemuda di malam hari pasti akan membuat siapa saja salah paham. Shinnichi bisa membayangkan Fiona melontarkan tombak es ke arahnya. Membayangkannya saja bisa membuatnya bergidik ketakutan.
Namun, sesuatu terlintas di pikirannya. Suatu skill sihir satu-satunya yang dimilikinya. Skill yang bahkan tidak diketahuinya sendiri.
Ia mungkin bisa mendapatkan jawaban. Gadis di hadapannya ini adalah seorang penyihir terbaik di kalangan Iblis. Ras yang dikenal akan kemahiran dalam bidang sihir. Namun, ia tidak tahu apakah hal seperti ini bisa ditanyakan kepada seorang Iblis sepertinya.
"Bi-bisakah anda memeriksa sesuatu untuk saya?" Shinnichi akhirnya menyerah. Rasa penasaran mengalahkannya.
"A-apa saja!"
Kata-kata Haira kini mulai menakutinya. Gadis itu terlalu baik, Shinnichi sedikit khawatir dengan masa depan Haira.
Shinnichi mengeluarkan kartu statusnya. Ia memberikannya kepada Haira.
『Name : Kurobane Shinnichi
Level : 6
Race : Human
Class : [None]
Stats
Agi : 9
Atk : 8
Int : 23
Vit : 10
Skill
[Appraisal lvl.3] [Self-Magic Manipulation lvl.1] [White Magic lvl.3] [Language Comprehension]
Title
[Other World Traveler] [The Dreamer] [Observer] 』
"Ini status anda?" Haira membaca tulisan yang ada di atas pelat hitam itu. Pengetahuannya atas bahasa Manusia cukup mumpuni untuk mengerti status Shinnichi.
Haira tidak melihat sesuatu yang salah dengan status Shinnichi. Untuk seseorang yang tidak memiliki kelas, int-nya cukup tinggi. Selain itu, stat-nya rata-rata. Jika ia jujur, sedikit rendah untuk seseorang dengan level enam.
Untuk skillnya, Haira sedikit tertarik. Ia belum pernah melihat seorang Manusia yang memiliki [Appraisal], level tiga apalagi.
Ia sendiri memiliki [Appraisal] level enam. Skill itu ia dapatkan saat umurnya 10 tahun dan sejak saat itu, ia selalu mengasahnya setiap hari. Saat ini, umurnya 13 tahun. Butuh tiga tahun untuk menaikkan level skill itu enam kali.
Haira tahu Shinnichi adalah salah satu dari pahlawan yang dipanggil. Gelarnya memastikan itu. Jadi, dalam waktu dua bulan, Shinnichi sudah bisa menaikkan level [Appraisal] tiga kali. Ia kagum dengan kerja kerasnya.
Kemudian, perhatiannya tertuju kepada [Self-Magic Manipulation]. Ia belum pernah mendengar atau bahkan melihat skill seperti itu. Skill yang unik.
Haira menatap Shinnichi. Tersenyum lalu mengangguk. "Sa-saya akan melakukan sebisanya."
Mendapatkan izin dari pemiliknya, Haira mengaktifkan [Appraisal]. Bukan ke pelat hitam di tangannya, tapi ke Shinnichi langsung. Itu membuat Shinnichi sedikit malu. Bukankah itu artinya dia tidak perlu memberinya kartu statusnya?
Tak menghiraukan Shinnichi, Haira terus memeriksa skill unik itu. Setelah beberapa saat, Haira memasang ekspresi rumit. Perasaan Shinnichi tidak enak.
"Ma-maafkan saya, Shinnichi-dono." Haira kembali menundukkan kepalanya. "S-saya hanya bisa mengetahui ini saja...."
Haira menggerakkan tangannya. Memperlihatkan jendela samar yang menunjukan skill Shinnichi.
『 Self-Magic Manipulation
Skill sihir tingkat [???]
- Mantera pengaktifan
"Ubahlah dunia, wahai engkau yang bermimpi. Bentuklah keinginanmu, wahai engkau yang berandai-andai. Tundukkanlah semua. Mimpi buruk, mimpi indah. Wujudkanlah semua"
- Memampukan penggunanya menggunakan sihir —[???]
- [???]
- Pengendalian atas Mana —[???]
- [???]』
"...." Shinnichi menatap lekat jendela itu.
"Ma-maafkan saya." Haira merendahkan kepalanya. Merasa bersalah. "Meskipun s-saya sudah berjanji membantu an—"
"Haira-dono!"
Seruan Shinnichi menyela permintaan maaf Haira. Ia juga memegang tangan gadis itu. Membuatnya melompat kaget.
"S-Shinnichi-dono?!"
"Terima kasih! Terima kasih!" Shinnichi kembali berterimakasih. Menundukkan kepalanya sambil memegang tangan Haira. "Dengan ini, aku bisa berlatih lagi! Aku masih punya harapan! Sungguh, terima kasih banyak! Terima kasih...."
Haira tertegun melihat Shinnichi begitu tulus dengan terima kasihnya. Ia bahkan menangis. Mungkin bagi Shinnichi, skill itu benar-benar penting.
Entah kenapa, itu membuat Haira lega. Sepertinya hutangnya sudah terlunasi.
"Sama-sama." Haira gantian tersenyum. Sesuatu yang jarang ia tunjukkan.
❂❂❂❂❂❂
Melihat Shinnichi pergi, Haira kembali keluar jendela. Masih terpaku pada bulan emas berbentuk sabit di kanvas hitam. Menikmati aroma udara yang sejuk di malam hari, Haira menghela nafasnya.
Pintu kamar di belakangnya terbuka. Memperlihatkan sosok wanita cantik berambut perak. Ia memakai gaun tidur yang mengeluarkan aura sensual dan dewasa. Tanduk dan sayap naganya tidak mengurangi kecantikannya. Beberapa orang bahkan berpikir bahwa fitur itu membuatnya terlihat alami.
Bagaimanapun, Fusena Madoya Yuwa menghampiri Haira. Bersandar di jendela sampingnya. Tak berbicara selama beberapa saat.
"Jadi, kau memberitahunya?" Fusena bertanya.
"M-maafkan aku, Fusena-dono...." Haira meminta maaf. "Meskipun anda sudah menyuruhku untuk tidak mengatakan apapun."
"Tak apa, itu pilihanmu." Fusena tersenyum samar. "Apa pendapatmu tentangnya?"
Haira menatap kedua tangannya. "D-dia menyentuhku."
Mendengar kalimat yang bisa membuat salah paham itu, Fusena tertawa kecil. Seperti biasa, Haira tidak berubah.
"Bukankah kau sudah punya Endel?" Mendengar nama pemuda yang sedang tertidur itu, wajah Haira memerah.
"I-ini berbeda!" Haira mencoba membantah. "E-End adalah laki-laki pertama yang menyentuhku... D-dia spesial!"
Ingin rasanya Fusena tertawa. Haira benar-benar tidak mempunyai akal sehat jika berhubungan dengan caranya berbicara. Di masa depan, Fusena pasti akan menikmati saat Haira akhirnya sadar betapa "hebatnya" cara bicaranya.
Di bawah rembulan, kedua Iblis itu menikmati keindahan malam hari.
Tak sadar, sepasang mata yang mengamati mereka sedari awal. Ia melihat semuanya. Sosok itu tersenyum sebelum menyelinap hilang tanpa jejak.
✾✾✾✾
Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Shinnichi berdiri di depan kamarnya. Hanya tertidur selama empat jam, insomnianya terus saja berjalan. Bantuan dari Haira juga tidak membantunya tidur sama sekali.
Ia sudah bersemangat untuk melatih sihirnya. Manteranya sudah ia ingat dalam otak. Bahkan ia menuliskannya di atas sapu tangannya.
Shinnichi membaca manteranya. Panjang, tapi ia tidak keberatan. Sepanjang apapun manteranya, ia senang jika bisa menggunakan sihir.
Ia mengangkat tangannya. Mengincar sebatang pohon yang ada di seberang taman. Dekat dengan dinding pelindung istana. Kamar di belakang kastil memiliki berbagai macam manfaat. Seperti saat ini, ada banyak ruang untuk berlatih sihir sehingga ia tidak perlu pergi jauh-jauh ke lapangan istana.
Shinnichi menutup matanya. Merasakan Mana-nya.
"Ubahlah dunia, wahai engkau yang bermimpi! Bentuklah keinginanmu, wahai engkau yang berandai-andai! Tundukkanlah semua! Mimpi buruk, mimpi indah. Wujudkanlah semua! [Self-Magic Manipulation]!"
Dua detik, empat detik. Tak terjadi apa-apa. Wajah Shinnichi memerah. Menyadari betapa memalukannya mantera itu jika dikatakan secara langsung.
Ia mengingat kembali masa-masa gelapnya. Di mana ia memakai jubah aneh dan memakai penutup mata sambil mengatakan "Daku ialah Reinkarnasi Raja para Naga, Bahamut! Pembawa kehancuran serta kematian! Dengan mata abadi ini, daku akan menaklukkan dunia!"
Ia ingin mengubur dirinya sendiri. Atau paling tidak menampar dirinya di masa lalu.
Namun, ini berbeda. Ia berada di dunia fantasi. Sihir adalah hal yang nyata. Dan ia memiliki tujuan asli.
Melindungi sang Puteri. Demi Fiona.
Shinnichi kembali menyiapkan diri. Ia tidak akan menyerah. Senyum semangat di wajahnya, Shinnichi terus berlatih.
"Ubahlah dunia, wahai engkau yang bermimpi! Bentuklah keinginanmu, wahai engkau yang berandai-andai! Tundukkanlah semua! Mimpi buruk, mimpi indah. Wujudkanlah semua!"