Re: Turning

Re: Turning
Gadis Beastkin



Api berderak pelan. Menerbangkan abu dan bunga merah ke atas, menghilang sekejap kemudian. Diterangi oleh cahaya oranye api, Shinnichi duduk menatap api unggun. Lebih tepatnya menatap tiga pasang apel yang sedang dipanggang di atas api. Ditusuk menggunakan sepasang tongkat emas yang ia temukan. Warna merah terang mereka mulai berubah gelap; tanda bahwa mereka mulai matang. Bau manis yang menyeruak juga membuat air liur Shinnichi sedikit mengalir.


Shinnichi menoleh ke sampingnya. Gadis Beastkin kelinci itu masih tertidur. Jubah ungunya menjadi selimut, melindungi tubuh lemah gadis itu dari dinginnya malam. Di sekelilingnya, terdapat beberapa peti. Isinya penuh dengan pakaian, dan benda-benda tak berguna seperti cermin, kosmetik, dan peralatan makanan.


Shinnichi menggigit apel di tangannya. Ia sudah melucuti pohon apel itu dari buahnya. Makanan pertamanya setelah keluar dari Dungeon adalah apel, ia tidak akan melupakan rasa ini seumur hidupnya.


“Schwarz, apakah kau tahu di mana ini?” Shinnichi menatap peta di hadapannya. Penuh simbol pohon, danau, dan gunung.


“Dunia luar terlihat asing setelah 300 tahun. Dengan kata lain, jangan tanya aku.” Schwarz menjawab sedikit kesal. Sepertinya masih belum menerima bahwa kakaknya akan menggunakan tubuhnya sebagai bahan percobaan.


“Woah, tenang sedikit.” Shinnichi melempar sisa buah apelnya ke samping. Dengan segera, ia mengeluarkan apel lain dari [Storage]. Ia mulai memakannya lagi. Menunggu apel panggangnya siap membuatnya lapar.


“Jadi, kita tersesat, tanpa kompas, dan tanpa tujuan.” Shinnichi menghela nafasnya. Selesai satu masalah, masalah lainnya datang.


Apakah ia harus berjalan ke sembarang arah dan berharap ia akan sampai di peradaban? Tidak, itu terlalu merepotkan. Ia hanya perlu mengerti di mana arah kota atau desa terdekat.


Buta arah ternyata menyusahkan juga. Shinnichi menggaruk kepalanya. Kembali menatap peta itu dengan seksama.


“Ugh… Ibu... Ayah….” Suara pelan itu memasuki rongga telinganya.


Gadis itu mengigau. Sepertinya mengalami mimpi buruk. Tak berhenti di situ, gadis itu menggerakkan badannya, berkeringat dan gigauannya menjadi lebih keras.


“Ibu! Ayah!” Gadis itu bangun. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Air mata bahkan menetes dari matanya.


Gadis itu terlihat kebingungan. Ia memegang jubah Shinnichi dengan erat. Seolah-olah itu adalah hal yang menjaganya. Ia kemudian menoleh ke samping.


Seorang berambut hitam balik menatapnya. Di lehernya, sebuah kalung kristal biru. Namun, bukan itu yang membuatnya membeku di tempat. Tapi, wajahnya.


Sepasang rahang naga yang tidak sesuai dengan tubuhnya. Ia terlihat seperti monster. Dengan mata kirinya yang bersinar ungu samar.


Gadis itu gemetaran. Tak bisa bergerak. Ia terlalu ketakutan.


Shinnichi menatap gadis itu dengan diam. Ia mengangkat tangannya, gadis itu tersentak. Shinnichi mengerutkan dahinya sebelum melepas topengnya. Gadis iu terkejut melihat wajah Shinnichi yang normal.


“Apakah semua orang di dunia ini begitu kasar?” Shinnichi menggerutu pelan. Ia menaruh topengnya dalam [Storage]. Shinnichi mengisi segelas penuh air dari kristal Emphiria, ia menyerahkannya kepada gadis itu.


“….” Gadis itu dengan menerimanya dengan tangan gemetaran. Menyeruput air itu. Sebelum menenggaknya habis. “… Te-terima kasih….”


“Kau mau lagi?”


Gadis itu mengangguk malu. Shinnichi mengisi kembali gelas itu, gadis itu menenggaknya habis. Mereka mengulangnya dua kali sebelum gadis itu puas.


Sedikit warna kembali ke wajahnya. Telinga kelincinya juga menegak. Air penyembuh Emphiria memang ampuh, Shinnichi sekali lagi kagum.


“Terima kasih….” Gadis itu kembali menggumam pelan. Menaruh gelas emas itu di sampingnya. Baru beberapa detik setelah ia menaruh gelas itu, perutnya berbunyi.


Gadis itu memegang perutnya lalu menunduk malu. Tidak, bukan malu. Takut lebih tepat. Ia gemetaran.


“Kau lapar?”


Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. “Ti-tidak! Aku tidak lapar….” Ia menyanggah dirinya sendiri.


Shinnichi mengangkat bahunya. Tidak mengerti kenapa gadis ini bertingkah aneh. Ia mengambil tongkat emas yang digunakan untuk memasak apelnya. Sedikit gosong, tapi selain itu matang cukup sempurna. Ia mengambil satu lalu mulai memakannya.


Lembut, panas, dan manis. Persis seperti rasa apel panggang. Tapi, rasanya ada yang salah. Sepasang mata terpasang jelas ke arahnya. Shinnichi merasa kurang nyaman jika ia ditatap saat makan.


Shinnichi menyerahkan sebuah apel kepadanya. “Makan ini.”


Mata gadis itu berbinar sekilas. Tapi, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, a-“


“Makan.” Shinnichi bersikeras. Menyodorkan buah itu ke tangan gadis itu.


“….” Gadis itu menatap buah apel panggang di tangannya. Ia menggigitnya. Merasakan rasa manis yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia terus memakannya. Tak berhenti sampai buahnya habis.  “…. Terima kasih….”


“Mau lagi?” Shinnichi kembali menawarkan sebuah apel.


Gadis itu mengangguk. Menerima apel yang diberikan Shinnichi. Ia terus mengisi perutnya yang sudah lama kosong. Bersyukur atas makanan yang diterimanya.


❂❂❂❂❂❂


Shinnichi terus memeriksa peta yang ia temukan di samping gadis Beastkin yang masih memakan apel panggang dengan pelan. Memperlakukannya seperti sebuah makanan berharga. Sudah lebih dari empat apel dimakannya, ia sendiri sudah memakan lebih dari selusin buah.


Sekarang, ia perlu menemukan di mana ia berada. Peta itu tidak memberikan banyak petunjuk selain simbol-simbol umum dan benua yang ia tempati; benua Ronzi.


Bentuk benua Ronzi cukup unik. Sebuah benua besar, bentuknya hampir seperti lingkaran sempurna. Ada sebuah garis yang memisahkan benua menjadi dua. Terlihat seperti simbol yin dan yang sekarang. Dan Shinnichi hanya bisa menghela nafas atas keanehan dunia ini.


Di tengah-tengah benua, terdapat dua kerajaan. Kerajaan Birre dan kerajaan Elfria. Birre ada di bagian atas kanan benua. Sedangkan, Elfria ada di sisi kiri garis. Sedikit di bawah Birre. Pertanyaannya adalah di mana letak Shinnichi saat ini.


Ada enam danau yang tersebar di benua Ronzi. Dan Shinnichi tidak tahu yang mana. Secara teori, ia bisa terus berjalan ke arah utara sampai ia menemukan laut. Tapi, perutnya berteriak untuk makan. Sejujurnya ia sudah muak makan daging yang hanya dipanggang di atas api. Ia butuh variasi.


“Tidak ada kota yang dekat ya….” gumam Shinnichi. “Schwarz juga tidak berguna.”


“Aku dengar itu, sialan.” Schwarz menggerutu pelan sebelum kembali diam. Sepertinya tidur.


“Aku hanya bercanda.”  Shinnichi menggaruk kepalanya.  Mengabaikan Schwarz. “Schwarz? Kau di sana?”


Schwarz tidak menjawab. Entah ia sedang kesal atau ia sudah tertidur.


“U-uhm….” Beastkin kelinci di sampingnya mengeluarkan suara.


“Hmm? Ada apa?” Shinnichi meliriknya.


“A-aku tahu kota di dekat sini….”


“-!? Benarkah??” Shinnichi langsung menoleh ke arahnya. Melihat ekspresi terkejutnya, Shinnichi berdeham kecil. “Maaf, kau tahu di mana kota itu?”


“Timur?” Shinnichi menoleh kembali ke petanya. Tak ada simbol kota di peta itu. Hanya hutan sungai, danau dan gunung. Dan sekarang Shinnichi lupa arah timur di mana.


Ia menggaruk-garuk kepalanya. Ia kembali menoleh ke arah gadis itu. “Siapa namamu?” Shinnichi bertanya.


“A-aku Genia….” Gadis itu, Genia menjawab. Suaranya pelan seperti biasa.


“Genia ‘kah? Terima kasih atas infonya.”


Shinnichi melemparkan setumpuk pakaian dari dalam peti. Memberinya sedikit bantalan. “Kita akan berangkat saat matahari terbit.”


Genia menangkap pakaian yang dilempar Shinnichi. Ia menyadari perkataan Shinnichi. “Tuan akan membawaku…?” tanyanya, terlihat tak percaya.


Shinnichi sedikit bingung karena Genia memanggilnya tuan, tapi ia tidak terlalu memikirkannya. “Kau ingin ditinggal di sini?”


Genia menggelengkan kepalanya.


Shinnichi tak menjawab. Ia mengeluarkan sebuah apel dari [Storage]. Entah apel keberapa hari ini. Selagi masih ada, Shinnichi akan terus memakannya. Sambil mengunyah apelnya, Shinnichi melemparkan potongan kayu ke dalam api. Menjaganya agar tetap menyala.


Suasana ini tak jauh berbeda dari apa yang ia rasakan di dalam dungeon. Namun, sekarang ia bisa merasakan angin yang bertiup lembut. Terasa menenangkan jika ia jujur.


Namun, ia masih belum bisa menghilangkan rasa tegangnya. Hidup di dungeon selama Shinnichi, maka siapa pun dapat berubah. Ambil Shinnichi sebagai contoh utama. Ia tidak bisa menutup matanya selama lebih dari dua jam. Bahkan bagi seorang pengidap Insomnia seperti dirinya, dua jam untuk tidur itu terlalu sedikit.


Shinnichi menggigit apelnya. Kembali merasakan manis yang sedikit asam di dalam mulutnya.  Menatap kayu yang dilahap api perlahan berubah menjadi abu.


“Ke-kenapa….” Suara pelan Genia dapat ia dengar. “Kenapa… tuan menyelamatkanku?”


Shinnichi tidak menoleh atau meliriknya. Memikirkan pertanyaan Genia. Sejujurnya ia tidak tahu. Kasihan? Simpati?


“... Aku tidak tahu.” Shinnichi menjawabnya beberapa saat kemudian. “Kurasa itu spontanitas saja.”


“Begitu ya….” Genia menjawab di sampingnya. Berbaring, punggungnya menghadap Shinnichi. Jubahnya masih menyelimuti tubuhnya.


“Kenapa kau ada di situ?” Shinnichi gantian bertanya. Meskipun ia bisa menebaknya sendiri.


“Aku… diculik,” jawab Genia. “Desaku diserang prajurit berzirah merah. Mereka membakar tempat tinggalku…. Aku terpisah dari orang tuaku dan bertemu dengan orang jahat lainnya. Mereka menangkapku dan menjualku….”


Shinnichi tak mengatakan apa-apa. Ia tidak terkejut. Hukum dunia ini adalah “siapa kuat ia dapat”. Tak manusiawi memang, tapi begitulah jalannya Zelfria.


Perbudakan, pasar gelap, invasi kerajaan. Itu semua hal biasa. Tak relevan baginya yang datang dari dunia lain untuk mengubah peraturan dunia ini. Kejam mungkin, tapi angka simpatinya terhadap penduduk dunia ini hampir mencapai nol.


“A-aku ingin pulang….” Genia bergumam kecil. Mulai terisak. “Aku ingin bertemu ibu dan ayah….”


Shinnichi mendengarnya, namun memilih untuk diam. Ia tidak punya kata-kata manis untuk menghiburnya. Hanya realita kejam yang meremukkan. Ia juga begitu.


Shinnichi juga ingin pulang. Pulang ke teman-temannya. Pulang ke dunianya. Pulang ke Fiona.


Semua orang punya tujuan mereka masing-masing. Dan saat ini, Shinnichi hanya bia berfokus pada tujuannya sendiri.


Shinnichi melemparkan sisa apelnya ke dalam api. Iseng, apel itu langsung tertutupi abu. Sebelum suara mendesis terdengar, sari buahnya menyentuh api. Meredupkannya sedikit.


Malam masih panjang. Dan Shinnichi menunggu dengan tenang.


❂❂❂❂❂❂


Shinnichi menatap langit yang mulai terang. Fajar telah tiba. Sang surya terbit dari timur.


Shinnichi berdiri di atas batang pohon yang ia panjat tadi malam. Shinnichi meregangkan tubuhnya. Mendengar suara sendi-sendinya yang berderak setelah semalaman berbaring di atas pohon. Ia mencoba menutup matanya berkali-kali. Meskipun tak berhasil, ia setidaknya lega hari sudah tiba.


Shinnichi melompat turun. Mendarat tanpa suara, ia berjalan ke arah kereta kuda. Bekas api unggun dapat terlihat, menyisakan abu dan sisa buah apel yang dimakannya tadi malam. Gadis yang seharusnya ada di situ, Genia, tidak terlihat.


“Apakah dia kabur?” Shinnichi bertanya-tanya.


Gerakan di balik semak-semak. Shinnichi menyiapkan Dominator. Ia mengarahkannya tepat ke sumber suara. Namun, sebelum ia bisa menembakkannya, sepasang telinga kelinci muncul dari balik semak-semak itu.


Genia muncul dari hutan. Memakai jubahnya dan beberapa buah biru di tangannya. Terkejut melihat Shinnichi, ia berjalan ke arahnya sambil menundukkan kepalanya.


“A-aku mencari makanan untuk sarapan.” Ia memperlihatkan buah di tangannya. Bentuknya mirip mangga dengan sebuah mahkota di atasnya. Sedikit mengingatkannya dengan buah Methanasian yang selalu dipakainya.


Shinnichi mengulurkan tangannya lalu melepas jubahnya dari Genia. “Aku tidak butuh itu.” Ia memakai jubahnya. “Untukmu saja.”


Shinnichi mengeluarkan sebuah apel dari [Storage] lalu mulai memakannya. Ia berjalan ke arah kereta kuda. Genia hanya mengangguk, mengikuti di belakangnya.


Shinnichi menoleh ke arah sepasang kuda yang terikat di depannya. Shinnichi duduk di atas kursi pengemudi. Memegang tali kekang di tangannya, Shinnichi menariknya sedikit. Kuda dan keretanya mundur. Shinnichi membalikkan arah kereta kuda itu. Membuatnya mengarah ke Timur.


Shinnichi sadar bahwa Genia belum naik. “Kau menunggu apa?” tanyanya.


“U-uhm… A-aku boleh naik?” Genia bertanya dengan gugup.


“Apa maksudmu? Naik cepat, aku tak ingin berlama-lama.”


“Ba-baik!” Genia mengangguk. Ia dengan ragu-ragu naik ke samping kursi pengemudi di samping Shinnichi.


Shinnichi tak mengatakan apa-apa. Ia mengibaskan tali pengekang di tangannya dengan pelan. Kedua kuda itu mulai berjalan ke arah Timur.


“Aku tidak tahu kau bisa mengendalikan kereta kuda.” Schwarz terdengar terkejut.


“….” Shinnichi tidak menjawab.


Aku tidak tahu sih….


Dalam hatinya, Shinnichi berharap keretanya tidak menabrak pohon atau semacam itu.