Re: Turning

Re: Turning
The Turning Point



Tap! Tap! Tap! langkah kaki menggema cepat di dalam lorong gua yang gelap. Memecah keheningan yang selalu mengisinya.


“Huff! Huff! Huff!” Seorang pemuda berambut hitam berlari dengan terengah-engah. Mencoba mengumpulkan udara ke dalam paru-parunya. Mendorong kakinya agar terus bergerak. Berusaha untuk tidak berhenti bahkan sedetik pun.


“GROOOAAARR!” Raungan keras menggetarkan gua di belakangnya. Menjatuhkan kristal dan stalaktit yang bergantungan di langit-langit.


Makhluk itu berlari. Menggetarkan bumi setiap kali ia melangkah. Seolah-olah bencana berjalan. Seekor pemangsa yang sedang memburu mangsanya. Makhluk itu adalah pemangsa hebat. Shinnichi merupakan mangsa mudah.


Shinnichi berhenti di pinggir sungai. Ia sudah berlari entah berapa lama dalam beberapa hari terakhir ini. “Skill” seribu langkahnya hanya bisa membantunya sejauh ia bisa berlari. Itu tidak akan menyelamatkannya jika ia tersudut. Seperti sekarang.


Shinnichi tidak bisa berlari lagi. Ia sudah mencapai batasnya. Setiap nafas yang ia ambil terasa membakar paru-parunya. Ia menoleh ke arah sungai. Terdapat beberapa bebatuan besar, cukup besar sampai-sampai ada celah di antaranya yang mampu ia masuki.


Shinnichi menelan ludahnya. Ia melompat ke dalam air, memasuki celah itu untuk bersembunyi di dalamnya. Sempit dan dalam, hanya seluas loker sapu dan dipenuhi air setinggi dada. Ia bisa saja jatuh jika ia tidak hati-hati.


DRAP! Sosok besar mendarat di tempat yang sama di mana Shinnichi berdiri beberapa saat yang lalu. “Grrr!” Sosok itu menggeram rendah. Shinnichi menahan nafasnya.


Ia menilik makhluk itu dari balik batu. Berusaha untuk tidak ketahuan. Serigala raksasa dari neraka merupakan penjelasan yang paling tepat.


Ukuran tubuhnya hampir sama dengan truk besar. Bulu perak menutupi tubuhnya, seperti zirah besi. Kuku panjang serupa pisau mencuat dari keempat kakinya. Namun, satu karakteristik yang paling menonjol dari hewan itu ada di punggungnya. Sepasang tangan merah darah yang mengerikan. Bergerak-gerak seolah mencari mangsa. Tangan itu kurus, hanya tertutupi oleh kulit. Di tengah-tengah dadanya, terdapat sebongkah kristal biru. Tertanam dengan tidak alami, seperti tertusuk ke dalam.


Wolfsdämon. Shinnichi mengingat nama monster itu. Monster yang sudah mengejarnya sejak di Oasis. Monster yang selalu menerornya setiap kali ia keluar dari ruangan Schwarz.


Shinnichi terpeleset sedikit. “Gruh!” Hewan itu menyentakkan kepalanya ke udara. Mendengarnya, ia mengendus-endus udara.


Shinnichi menenggelamkan dirinya. Mencoba bersembunyi di dalam air. Dari bawah air, ia bisa melihat siluet perak Wolfsdamon mendekatinya. Setiap detik semain dekat menemukannya. Tapi, sebelum ia sampai Wolfsdämon mendengar sesuatu di hulu sungai. Monster itu meninggalkannya.


Shinnichi mengangkat kepalanya dari air. Ia menghela nafas lega.


❂❂❂❂❂❂


“.... Kau ini memang pengecut ya?” Suara Schwarz terdengar di dalam kepalanya. Sedikit mengejek, sedikit kasihan.


“.... Diam.” Shinnichi hanya bisa menggumamkan jawabannya. Ia mengigit daging buah hijau yang berhasil ia ambil dari bayi monster tumbuhan, Methanosian.


Shinnichi mengernyit selagi ia menelan buah itu. Rasanya pahit seperti buah yang belum masak. Namun, hanya itu buah yang bisa dimakannya tanpa meledakkan diri ataumembunuhnya. Lidahnya masih belum terbiasa.


Ia melirik ke belakang. Puluhan bangkai monster yang baru saja ia bunuh bertumpukan di situ. Filbrum, Methanosian, semut raksasa, Raptor, dan beberapa ikan besar yang ia ambil dari sungai. Semuanya terasa pahit dan menjijikan. Tapi, setidaknya ia bisa berlatih menggunakan kemampuan barunya.


Shinnichi melempar buahnya ke samping. Dum! Sebuah ledakan kecil tercipta saat buah itu menghantam dinding. Keringat dingin menuruni punggungnya. Ia sedikit khawatir sekarang. Buah itu tidak akan meledak di perutnya ‘kan?


“Sampai kapan kau berencana untuk terus berlari?” tanya Schwarz, tidak sabar. “Makhluk itu mengincarmu. Hanya masalah waktu sebelum ia berhasil menemukanmu.”


Shinnichi bangkit lalu berjalan ke arah tumpukan bangkai itu. “Kau kira aku tidak tahu? Aku juga tidak mau mati di tangan monster itu.” Shinnichi mengubah tangannya menjadi Abyssal Mist lalu mulai memotong-motong bagian tubuh monster.


“Lalu? Apa yang akan kau lakukan? Terus melarikan diri?”


“.... Mungkin.”


“Apa?! Kau sadar apa syarat yang perlu kau penuhi untuk-“


“Berisik oi. Bisakah kau diam sebentar?” Shinnichi menarik kepala seekor semut raksasa. Hampir terjatuh. “Kau pikir aku tidak memikirkan sesuatu?”


“Dari kelakuanmu, aku sangat meragukan itu.” Schwarz mendengus. Skeptis terhadap pernyataan Shinnichi. “Apa rencanamu?”


“Eh, aku juga tidak tahu.” Shinnichi mengangkat bahunya. Memetik beberapa buah ungu dari bangkai Methanosian. Berharap agar tidak meledak.


“.... Baiklah. Terserah kau saja.” Schwarz menyerah. Tidak berniat untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Shinnichi.


“....” Shinnichi juga diam. Tak mencoba beralasan dengannya.


Terjebak di Dungeon selama berhari-hari merubah dirinya. Hampir setiap hari, ia terus bergesekan dengan kematian. Dikejar oleh Wolfsdämon, bertarung dengan kelompok semut raksasa, dililit ular berbisa raksasa, bahkan hampir disedot oleh sekelompok Methanosian. Pepatah “membunuh atau dibunuh” sangatlah jelas jika seseorang berada di situ bahkan beberapa jam saja. Dan Shinnichi memilih untuk membunuh. Shinnichi diharuskan menjadi egois. Entah itu nyawanya atau nyawa mahkhluk lain, dungeon ini tidak peduli.


Keselamatannya adalah hal yang utama. Ia tidak berniat untuk mengakhiri ceritanya di sini. Tidak sebelum ia melihat senyum Fiona lagi.


Shinnichi memotong kepala seekor ular raksasa. Darah ungu menciprat ke wajahnya. Shinnichi menggertakkan giginya. Ia tidak berhenti.


“... Dia merebut sesuatu yang penting dariku.” Suara Schwarz membuat Shinnichi berhenti. Tak menyangka Schwarz akan berbicara lagi. “Peninggalan terakhir istriku.”


“....”


“Istriku, Emphiria, adalah jiwa yang baik dan murni. Selalu menolong siapa saja yang membutuhkan tanpa meminta balasan sedikitpun. Tapi, karena kebaikannya itu, ia kehilangan nyawanya,” lanjut Schwarz. Ia menjeda sejenak. “Akulah naga yang memporak-porandakan Panzia ratusan tahun yang lalu. Meluluh-lantakkan puluhan negara. Membumihanguskan benua terkutuk itu. Kau tahu kenapa?”


Shinnichi tidak menjawab. Tapi, ia bisa menebak jawabannya.


Cinta adalah perasaan yang kuat. Mampu mendorong siapa saja untuk melakukan apa saja. Ditambah dengan kebencian dan balas dendam, seseorang menjadi tak terhentikan. Schwarz adalah salah satu contoh utama.


Bahkan jika ia seorang Kaisar Naga, menghancurkan satu benua bukanlah perkara yang mudah. Namun, didorong oleh kebencian dan balas dendam, ia mampu melakukannya dalam waktu singkat. Bahkan sampai saat ini, benua Panzia belum sembuh dari serangan Schwarz.


Namun, segalanya memiliki harga. Selesai menghancurkan Panzia, tenaganya. Wolfsdämon dengan mudah membunuhnya. Dan merampas sesuatu darinya. Sesuatu yang lebih penting daripada nyawanya sendiri.


“.... Apa yang ia ambil?” Shinnichi bertanya. Mengubah Abyssal Mist menjadi tangannya lagi.


“’Hati’ Emphiria.”


❂❂❂❂❂❂


Shinnichi berjalan menelusuri lorong Dungeon. Memegang sebuah buku kecil, sebuah kantong kain besar dan memakai selimut Schwarz. Buku itu, buku milik Emphiria,  memiliki peta yang digambar oleh Shinnichi selama beberapa hari terakhir ini. Sejauh ini, ia sudah turun sekitar empat lantai. Berkat Wolfsdämon, kemajuannya pelan. Ia harus bersembunyi setiap kali monster terkutuk itu muncul. Tapi, tidak kali ini. Ia sudah mempersiapkan diri. Saat Shinnichi mengatakan bahwa ia mempunyai rencana ia tidak berbohong.


Shinnichi menaruh kantongnya ke bawah. Ia menyaku buku Emphiria di dalam sakunya. Ia memanaskan dirinya sedikit. Mengayunkan Abyssal Mist dan memotong udara. Ia ingin mencoba sesuatu yang sudah ia pikirkan beberapa hari terakhir ini.


Sebuah laras panjang, bentuk simpel, peluru dari Mana dan-


“GROAAAARRR!” Sebelum bisa menyelesaikan pikirannya, sebuah raungan keras menggema di lorong gua.


Ia menemukannya.


Shinnichi mengambil nafas dalam-dalam. Ia mengangkat kantong besarnya. Menghadap arah di mana raungan Wolfsdämon datang.


DUM! Wolfsdämon menerobos lewat dinding. Menghancurkan sepenuhnya.


“Dasar gila....” gumam Shinnichi. Menelan ludahnya.


Seolah-olah – atau bahkan memang-- mendengar Shinnichi, Wolfsdämon menoleh ke arahnya. Memamerkan puluhan gigi tajam seukuran pisang. Air liur menetes dari mutunya, mirip seekor anjing buas.


Serigala raksasa itu menatap Shinnichi geram. Mangsa yang selalu berhasil kabur darinya. Entah ia memiliki akal atau tidak, ia merasa terhina.


Seekor makhluk lemah sepertinya berhasil lolos darinya? Tak bisa dipercaya. Lagipula makhluk kecil ini memiliki bau familier. Bau yang sama seperti naga itu.


Ia membenci naga itu.


Wolfsdämon membunuhnya. Bagaimana bisa ia kembali? Ia geram. Ia murka. Tak ada yang bisa selamat setelah bertemu dengannya!


“GROOOAAAA!” Wolfsdämon menerjang maju. Menghunuskan kuku tajamnya ke arah Shinnichi.


Namun, pemuda itu tenang. Ia dengan mudah melempar kantong kainnya ke arah Wolfsdämon.


Serigala neraka itu mencium bau aneh. Bau yang sudah ia kenali sejak dirinya masih kecil. Bisa ular!


Jangan sampai tergigit!


Puluhan buah ungu keluar darinya. Beberapa mulai berubah warna menjadi merah.


BUUUM!


“GROOOOAAAAAA!” Ledakan besar menghempaskan Wolfsdämon ke belakang. Rasa membara menyerang tubuhnya. Bulunya terbakar, wajahnya juga hangus setengah. Wolfsdämon meraung kesakitan. Menabrak dinding dan bergerak tidak jelas.


Tes. Shinnichi tidak membuang-buang waktu. Ia melesat ke depan; menghunus Abyssal Mist tepat ke dadanya. “HAAAA!” Ia berseru.


Jleb! Shinnichi menancapkan pedangnya ke daging Wolfsdämon. Gaya yang ditimbulkan mendorong serigala itu ke belakang. Shinnichi menyayat dada Wolfsdämon. Mencoba melepaskan kristal biru di dadanya. Ia menggumam, “Dua puluh....”


“GROOAA!” Wolfsdämon menyadarinya. Menggunakan kaki depannya, ia mencakar Shinnichi. Terpukul mundur, Shinnichi melompat dan mengambil jarak.


“Tch! Sialan!” Shinnichi mengumpat. Kesal karena kehilangan kesempatan untuk membunuhnya langsung. Di balik selimut, bahu kanan kemeja putihnya – sangat kotor pada titik ini— robek. Darah mengalir dari luka cakar Wolfsdämon. “Delapan belas....”


Wolfsdämon mengangkat dirinya. Asap mulai mengepul dari luka bakarnya. Air keluar dari kristal biru di dadanya; tubuhnya mulai sembuh dengan sendirinya. Inilah kenapa Shinnichi begitu kesal karena tidak membunuhnya dalam satu serangan.


Kristal di dadanya adalah “hati” Emphiria; Holy Healing Crystal. Kristal suci yang mampu menghasilkan air penyembuh. Air yang mampu menyembuhkan luka paling mematikan sekalipun. Di tangan yang benar, kristal ini dapat membantu dunia. Di tangan yang salah? Kalian bisa menebaknya sendiri.


“Kau harus mencabut kristal itu dari tubuhnya.” Shinnichi mengingat perkataan Schwarz sebelumnya. “Selama ada kristal itu, ia pasti sembuh dari segala macam luka.”


“Tak ada pilihan lain.” Ia menghunuskan Abyssal Mist. Mengarahkannya ke Wolfsdamon. “Aku harus bertarung adil.”


Wolfsdamon terlihat waspada. Tak meremehkan makhluk kecil ini lagi. Ia bisa melukainya, Wolfsdämon menggeram kesal. Ia kembali menerjang untuk menyerang.


Shinnichi tersenyum sinis. “Yah, itu yang akan kulakukan jika aku ingin mati. Enam belas.”


Shinnichi melemparkan selimut ungu yang ia pakai. Memamerkan apa yang berada di baliknya. Mengelilingi tubuhnya, puluhan buah ungu yang terikat di akar Methanosian. Buah yang dapat menghasilkan ledakan luar biasa.


Mengikat puluhan bom pada dirinya? Hanya orang sinting saja yang akan melakukannya. Mungkin Shinnichi sudah sinting, siapa yang tahu?


Namun, ada hal yang pasti. Wolfsdämon berhenti. Ia bahkan mundur, tak ingin meresikokan dirinya terkena ledakan lagi Ia sudah tahu bahwa buah ungu itu adalah hal berbahaya. Ia tidak akan menerjang maju seperti sebelumnya.


Shinnichi tertawa dalam hatinya. Berhasil! Serigala sialan itu tertipu! Empat belas!


“Tak kusangka. Tipuan murahan ini benar-benar bekerja.” Schwarz terdengar kagum.


Shinnichi juga tidak menyangkanya. “Buah ungu” itu adalah bagian tubuh monster yang sengaja dibentuk menyerupai buah kemudian dicelupkan dalam darah ungu ular raksasa. Memberi ilusi bahwa itu adalah buah peledak Methanosian. Tentu saja Shinnichi tidak akan mengikat bom ke tubuhnya. Ia belum berubah menjadi orang sinting. Hanya berubah menjadi orang yang melawan ketakutan mereka. Ia juga masih sayang nyawanya. Ia tidak tahu berapa lama tipuan ini akan berhasil, jadi ia harus segera bertindak.


Shinnichi mengangkat tangan kanannya. Menggunakan sihir kegelapan, ia membentuk sebuah laras. Kemudian menggunakan sihir putih, ia menciptakan bola Mana di dalam laras itu. Ia menciptakannya, sebuah meriam.


Dum! Tembakan pertama dilepaskan. Melesat tanpa bisa diikuti pergerakannya. Wolfsdämon kebingungan. Namun, sesaat kemudian ia merasakan sebuah hantaman telak di wajahnya.


“GROA!?”


“Heh... Hehehe... HAHAHA!” Shinnichi tertawa seperti orang gila. Ia tersenyum seperti orang gila. Ia mengarahkan senjata barunya seperti orang gila. “[Dominator] didapatkan. Sepuluh.”


Dum! Dum! Dum! Rentetan peluru Mana melesat ke arah serigala neraka itu. Menghantam tubuhnya dan membuatnya meraung kesakitan. Setiap peluru terasa seperti pukulan keras. Ia tidak tinggal diam.


Wolfsdämon menerjang ke depan. Menghindari peluru Mana yang ditembakkan Shinnichi.


Shinnichi menggertakkan giginya. Ia juga melesat ke depan. Terus menembakkan pelurunya ke arah Wolfsdämon. Meskipun tak lebih efektif dari sebuah pukulan.


Wolfsdämon membuka mulutnya.  Mencoba menangkap Shinnichi di mulutnya. Shinnichi menunduk dan meluncur di antara kaki bawahnya. Shinnichi dengan cepat mengubah Dominator menjadi Abyssal Mist lalu mengayunkan bilah pedang. Memotong pergelangan kaki kirinya.


“GROOAA!!” Meraung kesakitan,  Wolfsdämon jatuh terjerembab. Menubruk dinding Dungeon.


“Delapan.” Shinnichi melihat kesempatan, ia menendang tanah. Kembali melesat ke arah dada Wolfsdämon. Bilah terarah kepadanya. Monster serigala itu menyadarinya. Ia mengepalkan tangan di punggungnya dan dengan kekuatan yang tidak sesuai dengan penampilan kurus, ia mengayunkannya.


“!?” Shinnichi berhenti. Tak punya waktu untuk menghindar, ia hanya bisa mengangkat tangannya untuk melindungi dirinya.


“BUH!” Benturannya terasa kuat. Seperti ditabrak oleh mobil dengan kecepatan 120 km/jam. Shinnichi terlempar mundur.


“Shinnichi!” Schwarz berseru.


Brak! Tubuhnya menghantam dinding Dungeon dengan suara yang mengerikan. Udara yang masih tersisa di dalam paru-parunya dipaksa keluar. Shinnichi jatuh ke tanah.


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Shinnichi batuk darah. Mengeluarkannya karena mereka mulai terkumpul di tenggorokkan dan paru-parunya. Ia mencoba mengumpulkan kembali udara namun dadanya terasa begitu sesak.


“Shinnichi! Shinnichi!” Suara khawatir Schwarz menggema di kepalanya. Terasa jauh dan samar.


Pandangan kabur, bau anyir darah, rasa sakit. Ini persis seperti saat itu. Saat Samejima mempermalukannya. Saat ia membiarkan Fiona diambil darinya. Saat dirinya masih tidak berdaya. Ia menggertakkan giginya.


Aku bukan orang itu lagi! Aku punya kekuatan! Aku akan hidup! Dan siapa saja yang menghalangiku akan....


Ia mengangkat dirinya. Goyah, namun mantap. Berdarah, namun membara. Ia menatap Wolfsdamon yang mulai berdiri.


Mati!


“GROAAAARR!” Wolfsdämon meraung murka. Baru saja menyadari bahwa buah peledak di tubuhnya itu palsu. Mengarahkan nafsu membunuhnya ke arah Shinnichi dan hanya Shinnichi.


Wolfsdämon akan membunuhnya. Ia pasti membunuhnya. Ia harus membunuhnya!


‘Kau tahu, Schwarz. Kuharap kau benar tentang ini.” Shinnichi tidak bergerak. Ia tetap berdiri di tempat. Senyuman maniak kembali muncul di wajahnya. Senyuman yang penuh darah “Satu.”


Sesuai dengan perkataannya. Wolfsdämon jatuh ke tanah, kaku seperti kayu. Tepat di depan Shinnich. Tak bisa bergerak. Seperti Boneka yang putus dari benangnya.


“HAHAHA! BERHASIL!” Shinnichi tidak bisa menahan kegembiraannya. Menatap Wolfsdämon yang terkapar tak berdaya di hadapannya membuat hatinya melompat-lompat.


Wolfsdämon menatap Shinnichi dengan penuh emosi. ketidakpercayaan, keterkejutan, kebencian, nafsu membunuh. Tapi, ia tak bisa apa-apa; hanya bisa menatap.


“Apa? Kau pikir aku akan bertarung dengan adil? Sayang sekali.” Shinnichi menginjak kepala Wolfsdämon. “Aku bukan makhluk bodoh sepertimu. Aku punya otak.”


Shinnichi mengambil sebuah kantong yang terikat di pinggangnya. Melemparnya, ia menusuk kantong itu dengan Abyssal Mist. Cairan hijau transparan keluar darinya, mengalir di permukaan bilah pedangnya. Bisa ular.


Benar. Kristal Emphiria mungkin mampu menyembuhkan segala luka. Namun, ada dua hal yang tidak bisa disembuhkannya: Bisa dan penyakit jiwa.


Menggunakan informasi itu dari Schwarz, Shinnichi memanfaatkan bagian-bagian tubuh monster yang ia bunuh sebelumnya. Buah peledak Methanosian, darah dan bisa Ular raksasa, kelenjar asam semut raksasa, serta kulit Filbrum sebagai kantongnya.


Shinnichi tahu kelemahannya sendiri. Jika ia bertarung satu lawan satun dengan Wolfsdämon, kemungkinan besarnya adalah kekalahan serta kematian. Tapi, dengan menggunakan taktik kotor, ia bisa memenangkan pertarungan ini.


Shinnichi tidak malu. Ia akan melakukan segalanya untuk hidup. Bertarung dengan curang dan licik, berlari dan bersembunyi. Ia tidak akan segan-segan melakukannya. Selama ia menang dan hidup, maka itulah taktik yang akan digunakannya.


"...."


Shinnichi melirik ke arah Wolfsdämon. Monster yang sudah merepotkannya sejak ia berada di Dungeon ini. Bisa masih menetes dari Abyssal Mist.


Dan untuk pertama kalinya, Wolfsdämon merasakan emosi yang belum pernah ia rasakan selama ratusan tahun. Emosi purba yang tertanam dalam seluruh makhluk hidup yang ada dan yang pernah ada di dunia; Ketakutan.


Makhluk kecil ini. Makhluk yang selalu berlari setiap kali bertemu dengannya. Makhluk kecil yang tidak berdaya ini. Makhluk kecil yang bisa melukainya. Makhluk kecil yang mengalahkannya.


Di hadapan Wolfsdamon, Shinnichi bukan makhluk kecil itu lagi. Seorang iblis; malaikat maut. Kematian itu sendiri.


Wolfsdamon merintih takut.


Kematian sudah menjemputnya. Dan ia tidak akan menunggu lama untuk mengantarnya pergi.