Re: Turning

Re: Turning
The Coward's Oath



Shinnichi dan Fiona berjalan melewati lorong megah. Di satu sisi, dinding dipenuhi oleh lukisan dan mural. Di sisi lain, kaca ornamen menghiasi. Cahaya matahari pagi menjelang siang hari memasuki celah-celah, menerangi lorong yang redup itu. Memberi nuansa mistis dan estetis.


Langkah kaki mereka terdengar jelas. Menutupi detak jantung Shinnichi yang mulai cepat. Berjalan berdampingan, masing-masing dengan ekspresi rumit. Firasat mereka mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai. Namun, mereka tidak tahu apa itu.


Dalam waktu singkat, mereka sampai di depan ruang singgasana. Pintu - atau lebih tepatnya disebut gerbang - terbuka itu dijaga oleh sepasang ksatria. Meskipun sekilas, mereka menatap Shinnichi tajam sebelum memberi salut kepada sang Puteri.


"Puteri keempat Victoria, Fiona Throst Victoria Ainsworth dan pelayannya, Shinnichi Kurobane datang ke hadapan sang Raja!"


Dengan sebuah pengumuman, Fiona dan Shinnichi masuk ke dalam ruangan. Shinnichi selalu merasa risih. Bukan karena ia dipanggil pelayan, tapi karena suara mereka yang keras.


Bersama sang Puteri, Shinnichi berjalan di atas karpet merah bermotif aneh di tengah-tengah. Mural yang menunjukkan lambang kerajaan masih tergantung dengan bangga. Bangsawan yang memenuhi sisi ruangan kini digantikan oleh ksatria-ksatria berzirah pelat. Aura mereka terasa dingin dan tajam.


Di ujung ruangan, raja Albert, Perdana Menteri Estoc dan pahlawan Samejima berdiri. Kedua orang itu berada di kedua sisi sang Raja. Menatapnya dengan penuh kebencian yang tak bisa ia mengerti.


Shinnichi menelan ludahnya. Ia rasa semua orang bisa mendengarnya. Tak bisa menghentikan rasa paranoid itu, Shinnichi terus berjalan. Mereka sampai di dekat tangga yang menuju singgasana.


Fiona menundukkan hormat. Mengangkat gaunnya dengan anggun dan indah. Sementara Shinnichi berlutut di belakangnya. Terlihat ketakutan.


"Segala puji bagi Anda, Yang Mulia. Raja mulia yang menuntun Victoria menuju keagungan." Fiona memulai memujinya. Mencoba menutupi kegugupannya yang sebelumnya belum pernah ada.


Ia mengangkat kepalanya untuk menatap ayahnya. Sebagai seorang bangsawan, ia memiliki kemampuan untuk mengerti sifat seseorang. Kemampuan yang penting untuk bernegosiasi atau berhubungan politik. Meskipun Fiona sendiri tidak menyukai hal-hal berbau politik, ini berhubungan dengan Shinnichi.


Lagipula, kemampuannya mengatakan bahwa sang Raja sedang marah besar, untuk suatu alasan. Memujinya buku hal yang salah.


"Yang Mulia, gerangan apa yang membuat Anda memanggil pelayan rendah milik hamba ini?" tanyanya. Memberanikan diri. "Apakah karena pekerjaannya? Penampilannya? Pe—"


"Diamlah, putriku." Albert mengangkat tangannya, menghentikan Fiona. Suaranya tegas dan berat. "Aku tidak memiliki waktu untuk berbicara denganmu. Maupun keinginan untuknya."


"... Maafkan hamba, Yang Mulia." Fiona menurut. Ia menundukkan kepalanya.


Pandangan semua orang kini tertuju kepada Shinnichi. Merasakan tatapan mata yang menusuk, Shinnichi terus menundukkan kepalanya.


"Shinnichi Kurobane." Estoc memanggil namanya. Membuat Shinnichi terperanjat sedikit. "Maju ke depan."


"... Ba-baik."


Shinnichi berdiri, masih menunduk, lalu berjalan melewati Fiona. Sang Puteri mencoba meraih tangannya, tapi ia mengurungkan niatnya. Menggigit bibirnya, Fiona hanya bisa melihat Shinnichi maju ke depan.


Tiga langkah kemudian, Shinnichi berhenti. Ia berusaha untuk menghentikan gemetarannya dengan mengepalkan kedua tangannya. Tak berhasil, tentunya. Ia terlihat seperti hewan kecil yang kedinginan. Di bawah tatapan benci orang-orang terkuat dan terhebat di kerajaan? Siapa yang tidak?


"Jadi." Albert mulai berbicara. Nadanya sedingin es pegunungan. "Ini yang mengalahkan salah satu Pahlawan terkuat Victoria?"


""!?""


Dua orang bereaksi mendengar itu. Shinnichi akhirnya mengerti kenapa ia dipanggil ke situ. Ia juga tidak bisa membantah begitu saja.


"Ti-tidak, Yang Mulia. A-aku hanya beru—"


"Kaupikir aku seorang bodoh?"


Pertanyaan Albert membuat Shinnichi kaku. Ia langsung terdiam. Kemurkaan sang Raja adalah kemurkaan seluruh kerajaan.


"Kau mengalahkan Pahlawan Samejima," lanjut Albert. Pelan tapi pasti. "Untuk melindungi para Iblis? Apakah itu benar?"


Fiona maju ke samping Shinnichi. Mencoba membela Shinnichi. "Yang Mulia, tolong. Biarkan hamb—"


"Diam, Fiona!" Albert meninggikan suaranya. Seruannya terasa menggema di ruangan. "Biarkan dia berbicara."


"A-aku...." Shinnichi berusaha mencari kata yang tepat untuk menjelaskannya. Namun, tidak bisa membantah apa yang dikatakan olehnya. "A-aku melindungi para Iblis, benar. Ta-tapi, aku hanya ingin menjaga perdamaian!"


"Menjaga perdamaian?" tanya Albert. Ia menajamkan matanya ke arah Shinnichi. "Kau tahu apa akibat perbuatanmu itu?"


Shinnichi diam. Tidak bisa menjawab pertanyaan sang Raja. Sang Raja menghantam lengan singgasananya. Suara hentakan yang keras itu membuat Shinnichi terperanjat.


"Kau menyabotase tampilan kekuatan ras Manusia!" bentak Albert. Darahnya mendidih karena emosi. "Apa yang akan musuh pikirkan ketika seorang pelayan rendahan sepertimu mengalahkan Pahlawan?! Mereka akan meremehkan kita! Menganggap umat Manusia sebagai ras yang lemah! Kau mengerti?! Perbuatanmu itu mengantarkan ras Manusia ke dalam jurang kekalahan!"


Gemetaran Shinnichi kembali menjadi-jadi. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Menerima tatapan benci dari semua orang di ruangan. Hanya ada sepasang mata yang melihatnya dengan kasihan, namun Fiona tidak bisa melakukan apa-apa.


"Ma-maafkan saya, Yang Mulia...." Shinnichi hanya bisa mengeluarkan sebuah bisikan minta maaf. Hanya tekad dan kemauannya saja yang memaksanya berdiri. Jika orang lain berada di posisinya, mereka sudah pasti melarikan diri atau bahkan pingsan.


"Maaf?" Samejima mendengus. Bergabung ke percakapan, ia menganggap bahwa apa yang dikatakan Shinnichi itu begitu menghibur.


"Untuk apa kau meminta maaf? Bukankah ini sudah sesuai dengan rencanamu...." Ia sengaja menjeda perkataannya. "Oh, pengkhianat Manusia?"


""!?""


Fiona dan Shinnichi tidak bisa mempercayai telinga mereka. Tuduhan itu sudah berlebihan. Tak beralasan bahkan.


"Kenapa kau terlihat begitu terkejut? Bukankah kau sudah mengkhianati rasmu sendiri?" Samejima menatap rendah Shinnichi. Kepalanya masih berdenyut-denyut setelah menerima serangannya, membuatnya lebih marah. "Melindungi para Iblis, berbicara akrab dengan mereka. Berkonspirasi dengan mereka."


"Apa yang...?" Shinnichi memutar otaknya. Mencoba mengerti apa yang dikatakan Samejima.


Kemudian, ingatan itu muncul di kepalanya. Malam hari saat ia berbicara dengan Haira.


"A-aku tidak mengkhianati kalian!" Shinnichi menggelengkan kepalanya. Mencoba menyakinkan semua orang.


"Kau bertemu dengan seorang utusan Iblis lalu memberikan sesuatu kepadanya, bukan?" Estoc juga bergabung. "Ternyata ini rencanamu. Mendekati sang Puteri untuk mendapat akses ke informasi tertutup lalu memberikannya kepada ras Iblis. Betapa liciknya otakmu itu."


"Ti-tidak! Aku hanya... A-aku hanya memintanya memeriksa statusku." Shinnichi mulai terdengar putus asa.


"Alasan macam apa itu?" Estoc menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Hanya orang bodoh yang percaya alasan itu."


"A-aku tidak berbohong...."


Shinnichi menundukkan kepalanya. Tidak bisa menahan tatapan mata semua orang. Dadanya terasa sesak. Kepalanya berputar-putar. Ia seperti jatuh ke jurang.


Namun, sebuah tangan terulur ke arahnya. Mencegahnya jatuh lebih dalam. Shinnichi merasakan sebuah sensasi dingin yang memegang milik tangannya.


Fiona maju ke depan. Tatapan tangguhnya tertuju ke depan.


"Kalau begitu, aku adalah orang terbodoh," katanya mantap. Memegang tangan Shinnichi, Fiona tidak memperdulikan tatapan tak setuju semua orang.


"Fi-Fiona-sama...."


Menatap itu, Albert hanya diam. Samejima mencoba menahan amarahnya. Estoc menajamkan matanya. Sementara para ksatria mengamati dengan seksama.


"Puteri, apa maksudnya ini?" Estoc yang pertama menyuarakan pertanyaannya.


"Ini seperti yang anda lihat, Estoc-dono." Fiona mengangkat bahunya. Tersenyum berani. "Dia pelayanku yang berharga, maka aku tidak akan membiarkannya begitu saja."


"Kegilaan macam apa ini?" Estoc bergumam.


Tak mempedulikannya, Fiona mengeratkan pegangannya. Ia menoleh ke arah Shinnichi lalu tersenyum manis. Menerima senyuman itu, Shinnichi tidak tahan untuk berpikir bahwa ia memang jatuh hati kepada sang Puteri. Shinnichi juga tersenyum kecil.


Fiona menoleh ke arah ayahnya. Menatapnya tepat.


"Aku, Fiona Throst Victoria Ainsworth, tidak akan membiarkan siapapun memberikan Shinnichi Kurobane tuduhan yang tak beralasan!" Fiona mengangkat suaranya. Memastikan bahwa semua orang di ruangan itu mendengar dan mengerti apa yang ia katakan. "Siapapun yang berani, harus berhadapan denganku langsung!"


Mendengar ultimatum Fiona, Albert menatapnya tajam. "Samejima, tolong sadarkan anakku dari kendali pikiran si pengkhianat."


Samejima tersenyum. Ia menarik pedang dari sarungnya. Pedang sihir itu menyala merah. Membara dengan api magis dari raja naga, Rivelia. "Dengan senang hati."


Fiona melepaskan tangan Shinnichi. Ia sudah menyangka hal ini akan terjadi. Tentu saja ia tidak akan membiarkan mereka mendapatkan Shinnichi.


Fiona melepaskan sarung tangan putihnya. Menunjukkan kulit putih pucatnya. Uap es bisa terlihat di sekelilingnya. Seketika, suhu di ruangan turun drastis. Artifak yang menahan kekuatannya - sarung tangan putihnya - sudah lepas. Tanda bahwa ia serius.


"Kurobane-sama, aku akan melindungimu." Fiona maju di depan Shinnichi.


Shinnichi ingin mengatakan sesuatu. Dilindungi oleh gadis yang ia cintai, bukankah itu menyedihkan? Namun, Shinnichi tahu, kekuatannya tidak seberapa. Jika ia mencoba membantu, ia hanya akan mengganggu.


"Dilindungi seorang gadis? Lucu sekali! Tak berani menghadapiku seperti seorang pria asli?" Ejekan Samejima kembali membuatnya merasa bersalah. "Yah, cocok untuk seorang pengecut sepertimu."


"Ucapan yang besar dari seseorang yang meniduri seluruh wanita di kastil." Fiona gantian mengejeknya. "Kurobane-sama lebih terhormat daripada pria yang berpikir dengan *********** sepertimu."


"K-kau!" Samejima tidak menerima ejekan Fiona dengan baik. Ia mengayunkan pedangnya. "[Fireball]!"


FUUM! Sebuah bola api raksasa muncul dari pucuk pedangnya. Melaju ke arah Fiona dan Shinnichi. Fiona tidak gentar. Ia mengangkat tangannya dengan lembut.


"[Ice Wall]."


Sebuah dinding es muncul dari bawah. Fiona menggunakan Sihir es tingkat menengah, [Ice Wall] tanpa mantera. Menunjukkan betapa hebatnya ia dalam bidang sihir.


Duum! Dengan sebuah ledakan, bola api itu menghantam dinding es Fiona. Menahan dan melindungi dua orang di belakangnya.


Fiona tak membuang waktu. Ia menarik tangannya ke depan dadanya lalu kembali mendorongnya. Seperti gelombang air, dinding es itu melaju ke arah Samejima. Berniat mendorongnya ke belakang.


"Mudah!"


Namun, Samejima adalah seorang Pahlawan. Individu terkuat di Panzia atau bahkan Zelfria. Ia memotong dinding itu dengan mudah. Seperti memotong mentega dengan pisau panas.


"Apakah hanya itu yang bisa kau lakukan, Puteri? Giliranku sekarang."


Berdiri di atas uap dan air lelehan dinding es Fiona, Samejima tersenyum lebar. Ia lalu merendahkan tubuhnya. Tanda-tanda bahwa ia akan melaju. Tepat, ia melesat ke depan dengan kecepatan tinggi.


Fiona menaruh kakinya ke depan. Selusin tombak es muncul dari lantai di bawah kakinya. Melayang di atas udara, Fiona menembakkan tombak es sepanjang dua meter itu. Meskipun sihir tingkat dasar, Di tangan Fiona, sihir tin


Zu! Zu! Zu! Proyektil berbahaya itu mengarah tepat ke Samejima. Pemuda itu tidak khawatir. Ia menangkis tombak itu dengan mudah. Menggerakkan pedangnya ke kanan dan ke kiri, menghancurkannya sambil menghindarinya.


Sampai di depan Fiona, Samejima menarik pedangnya. Fiona mengantisipasi itu, ia membentuk sebuah dinding es di depannya. Ia menguatkannya untuk melindunginya dari sapuan Rivelia.


"Hah!"


Samejima tak berhenti. Ia menyerang dinding es itu dengan sekuat tenaga. Memotong sebagian besar dinding es itu setiap kali pedangnya mengenai dinding. Setiap kali pula dinding itu kembali seperti semula. Menggunakan sihirnya, Fiona memperbaiki dinding es itu. Namun, terus menerus memperbaiki menguras habis Mananya. Semuanya mempunyai batas. Dan Fiona sudah mendekati batas itu.


Krek! Krek! Retakan mulai terbentuk di permukaan dinding setinggi tiga meter itu. Seperti sarang laba-laba yang menjalar, retakan itu terus melebar.


Samejima mengangkat pedangnya untuk serangan terakhir. Sudut bibirnya menekuk. Ia mengayunkan pedang itu ke bawah.


Kraakk! Dengan suara keras, dinding es itu hancur. Fiona menutupi wajahnya, mencoba berlindung dari serpihan es. Dari belakang lengannya, ia bisa melihat siluet Samejima yang mendekatinya.


Waktu serasa berjalan lambat. Detak jantungnya yang cepat, nafasnya yang memburu, ia bisa mendengarnya. Ia juga bisa melihat bilah pedang yang mengarah tepat ke dirinya. Fiona tidak bisa bergerak. Apakah ia akan mati di sini?


Seorang pemuda berambut hitam tidak akan membiarkannya.


Shinnichi mendorong Fiona. Menjauhkannya dari jalan bahaya. Mata Fiona membulat, ia bisa melihat ekspresi ketakutan Shinnichi yang tidak sesuai dengan perbuatannya yang berani. Namun, di mata Fiona, ekspresi itulah yang membuatnya jatuh hati.


Fiona jatuh ke tanah. Sedetik kemudian, terdengar suara memotong yang tajam diikuti dengan suara gedebuk kecil. Fiona membuka matanya.


Merah adalah warna yang pertama kali ia lihat; Darah. Darah segar mengalir dari lengan kanan Shinnichi. Atau lebih tepatnya, tempat di mana lengan Shinnichi seharusnya berada.


Ia menoleh ke bawah. Tangan Shinnichi ada di bawah, di kubangan darahnya sendiri. Tergeletak begitu saja. Lengkap dengan lengan baju dan telapak tangan yang terbuka.


"K-Kurobane-sama...." Fiona menggumamkan namanya.


❂❂❂❂❂❂


Waktu berjalan lambat bagi Shinnichi.


Tubuhnya bergerak sendiri. Melawan insting bertahan hidupnya, ia mendorong Fiona dari laju pedang Samejima. Menempatkan tangannya sendiri.


Sriing! Suara angin yang terpotong bilah Rivelia mencapai telinga Shinnichi dengan kejelasan yang mengerikan. Kemudian, ia merasa bagian kanan tubuhnya menjadi ringan. Pandangannya memburam sekilas.


Shinnichi melirik ke bawah. Lengan kanannya hilang. Lebih tepatnya, terpotong bersih.


"Eh?"


"Ah, aku meleset." Suara santai Samejima terdengar. Meskipun mengatakan itu, ia tetap tersenyum lebar.


"A... AARRGGHH!" Seruan kesakitan Shinnichi langsung memenuhinya ruangan.


Karena adrenalin, meskipun hanya sementara, ia kehilangan indera rasa sakit. Dan sekarang ia akhirnya merasakannya. Setiap detail menyakitkan yang dapat dirasakan olehnya.


"Kurobane-sama!" Fiona bergegas untuk berdiri. Menangkap Shinnichi tepat sebelum ia jatuh. Fiona membaringkan Shinnichi di pangkuannya.


"Kurobane-sama! Kurobane-sama!"


Darah Shinnichi masih mengucur. Menodai gaun biru putih Fiona dengan merah darahnya. Namun, saat ini Fiona tidak bisa mengkhawatirkan itu.


"Fi-Fiona-sama! Ta-tanganku! Ta-tanganku hilang!" Shinnichi menatap bagian kanan tubuhnya dengan pandangan yang samar. Dari atas sikunya, lengannya hilang. Terpotong bersih hingga seseorang bisa melihat tulang dan ototnya.


"Tak apa, Kurobane-sama. A-aku ada di sini. Tenang. Aku akan membantumu." Fiona mengelus pipi Shinnichi. Mencoba menenangkan pemuda itu. "[Healing Water]."


Fiona menggunakan sihir untuk menciptakan bola air kecil. Menutupi lengan Shinnichi dan menyembuhkannya perlahan. Tetap saja, sihir tingkat rendah itu tidak bisa menyembuhkannya langsung. Darah masih mengalir


"Urgh! Fiona-sama! Tanganku! Tanganku!" Shinnichi mencengkeram gaun Fiona. Mencari cara untuk meringankan rasa sakit yang menyerangnya.


"Oh, seseorang menangis karena kehilangan tangannya. Apakah itu sakit?" Samejima menyarungkan Rivelia lalu menatap Shinnichi.


"Jangan mendekat! Kau akan membayar untuk ini semua!" Fiona menggeram marah. Membuat pemuda itu berhenti lalu tersenyum.


"Terserahlah." Samejima tersenyum misterius. Ia membalikkan badannya. "Yang Mulia."


"Mist."


Hanya dengan menyebutkan namanya, sesosok orang muncul di belakang Fiona. Sebelum bisa bereaksi, Fiona menerima sebuah pukulan di tengkuknya. Kesadarannya memudar.


"Ku-Kurobane-sama...."


Memanggil namanya, Fiona jatuh pingsan. Mist langsung menangkapnya. Ia menendang Shinnichi lalu melompat mundur.


"Urgh! Fi-Fiona-sama!" Menggelinding di lantai, Shinnichi memanggil nama Fiona.


"Terima kasih." Samejima tersenyum. Ia berjalan ke arah Shinnichi. Seperti seekor pemangsa yang menguntit mangsanya.


"Kemari kau, b*jingan kecil."


"Urgh!"


Samejima mencengkeram lehernya Shinnichi. Mengangkatnya ke udara dengan mudah. Samejima melemparnya ke tengah-tengah ruangan. Tepat di atas motif aneh yang Shinnichi sadari.


Brugh! Udara dipaksa keluar dari paru-parunya. Shinnichi mencoba berdiri. Hanya untuk mendapatkan sebuah kaki yang menghantam punggungnya.


"Argh!" Shinnichi memekik kesakitan. Samejima tidak menghiraukannya dan terus menanam tumitnya ke punggung pemuda itu. Setelah menginjaknya beberapa kali, Samejima berhenti.


"S-Samejima... kenapa?" Shinnichi bertanya. "Kenapa kau melakukan ini...?"


Samejima menghela nafas. Ia menyisir rambutnya ke belakang. Ia berjongkok di depan Shinnichi. Tersenyum ke pemuda itu.


"Karena aku membencimu," jawabnya singkat. "Meskipun seorang otaku menjijikkan, kau bisa tersenyum dengan teman-teman, dekat dengan Puteri. Aku benci melihat pecundang sepertimu bahagia."


"Hanya karena itu...." gumam Shinnichi. "Hanya karena itu kau melakukan ini.... Ini semua karena hal sepele seperti itu?"


"Benar." Samejima berdiri. "Dan sekarang, kau akan mati. Oh, tak usah khawatir, sang Puteri akan ada di tangan yang aman."


Shinnichi terpaku mendengar kata-kata Samejima. Ia mengangkat kepalanya, menatap Shinnichi dengan ekspresi yang tidak pernah ia pasang; Amarah.


"Jangan sentuh Fiona-sama!"


"Oh, ucapanmu besar sekali. Bisa apa kau? Oi, bawa dia ke sini."


Shinnichi menoleh ke arah yang sama dengan Samejima. Di tangan seseorang, Fiona tak sadarkan diri.


"Fiona-sama! Fiona-sa— Guh!" Mencoba memanggilnya, Shinnichi menerima tendangan tepat di kepalanya.


"Berisik."


Orang itu berjalan ke arah Samejima. Menatap Fiona lekat, Samejima tersenyum. "Bukankah dia cantik?" katanya, mengelus pipi Fiona.


"AAARGHH!"


Untuk sesaat, Shinnichi melupakan rasa sakitnya. Ia berdiri lalu berlari ke arah Samejima. Namun, sebelum bisa mencapainya ia ditahan oleh para ksatria.


"Lepaskan aku! Lepaskan! LEPASKAN! Urgh! Ugh!"


Shinnichi memberontak. Mencoba melepaskan diri. Tapi, lusinan pukulan dan tendangan membuatnya terdiam. Ia dibanting ke tempat awal.


"Fiona-sama! Fiona-sama! Fiona!"


Di bawah pegangan Ksatria, Shinnichi tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa menyerukan namanya. Menatap gadis berambut azure di tangan Samejima. Gadis yang sangat ia cintai, berada di tangan seseorang yang benar-benar jahat.


"Sampai jumpa lagi, Kurobane-sama~" Samejima memegang tangan Fiona lalu melambai-lambaikannya. Menirukan cara bicaranya.


"Jangan sentuh dia!" Shinnichi mendesis. Dibalas oleh gelak tawa Samejima.


Ia menoleh ke arah Fiona. Lalu....


Menciumnya.


Sesuatu hancur dalam diri Shinnichi. Sesuatu yang berharga. Sesuatu yang menjadi identitas dirinya yang lembut; Hatinya.


Shinnichi menggertakkan giginya. Emosi negatif yang belum pernah ia rasakan mulai meluap. Memuncak di ubun-ubun kepalanya. Kebencian, kemurkaan, kesedihan. Semuanya bergabung menjadi satu.


Cahaya merah mulai muncul dari motif aneh itu; Sebuah lingkaran sihir teleportasi. Menyinari ekspresi Shinnichi.


"FIONA!" Shinnichi berseru sekuat tenaga. "AKU AKAN KEMBALI! AKU BERSUMPAH AKAN KEMBALI UNTUKMU! BAGAIMANAPUN CARANYA!"


Sumpah itu menggema di ruangan. Shinnichi mengukir sumpah itu dalam hatinya. Dan selama ia masih bernafas, selama ia bisa bergerak, selama ia melihat senyum Fiona lagi. Ia tidak akan berhenti.


"HAAAAHH—!"


Cahaya merah memenuhi ruangan. Menelan pemuda itu. Dalam sekejap, ia dan suaranya menghilang tanpa jejak.


Kurobane Shinnichi lenyap dari ranah Victoria.