Re: Turning

Re: Turning
The Conflict



*Tidak ada yang kekal di dunia ini.


Kehidupan akan diakhiri oleh kematian. Yang muda akan menjadi yang tua. Perdamaian akan digantikan oleh pertikaian.


Zelfria tidak berbeda. Dari berkah yang dibawa para Dewa, musibah datang mengikuti. Sesuatu muncul dari bayangan.


Sesuatu yang sinis. Sesuatu yang buruk. Sesuatu yang jahat.


Era kegelapan menyelimuti Zelfria. Era kekacauan bangkit di cakrawala.


- Chapter 1, Chaos Rises*


ーーーーーーーーーーーーーーーー


"Pahlawan? Aku tidak mengerti maksudmu." Shinnichi menggelengkan kepalanya. Tidak memahami perkataan gadis itu.


Pemuda surai hitam itu masih bingung. Ia bangun di tempat yang asing. Bertemu dengan seorang gadis asing yang mengatakan suatu hal aneh. Ia tidak mengerti.


Fiona menundukkan kepalanya. Gadis berambut biru itu terlihat kecewa. Bukan kepada Shinnichi, tapi kepada dirinya sendiri. Ia mundur selangkah, mengambil nafas kecil.


"Maaf atas ketidaksopanan saya." Fiona membungkukkan tubuhnya anggun. "Nama saya Fiona Throst Victoria Ainsworth, Putri kerajaan Victoria. Senang bertemu dengan anda."


Pikiran Shinnichi kembali kacau. Kenapa ada orang yang memiliki nama sepanjang itu?


Ia menatap Fiona bingung. Tidak tahu harus mengatakan apa. Tertawa? Atau apa? Ia tidak mengerti.


"A-aku Kurobane Shinnichi." Shinnichi memutuskan untuk mengikuti aliran.


Mungkin saja ia dibawa oleh Izumi dan Yonaka ke maid cafe atau semacamnya. Tapi, rambut biru itu terlihat asli. Seperti bukan wig cosplay.


"Aku masih tidak mengerti. Di mana ini? Akiba? Atau Harajuku?"


Fiona mengangkat kepalanya. Terlihat antusias. Ternyata benar! Ia tidak mengenali kata-kata itu! Pemuda itu, Kurobane, adalah seorang Pahlawan!


"Kurobane-sama, maaf karena anda tidak bersama yang lain. Tapi, anda sekarang berada di Zelfria," kata Fiona. Mendekati Shinnichi. "Anda berada di dunia lain."


Shinnichi kembali menatap gadis itu. Sepatah kata keluar dari mulutnya. "Apa?"


✾✾✾✾


Sang Raja mengangkat kepalanya. Menatap Samejima dan yang lain, iris zamrudnya terlihat tajam. Entah apa yang ada di pikirannya. Tapi, sesaat kemudian ia kembali menatap mereka dengan mata yang ramah.


"Mohon maaf atas kekasaran saya, kalian baru saja datang ke sini. Kalian pasti tidak mengerti apa yang terjadi." Albert kembali menundukkan kepalanya. Membuat beberapa bawahannya khawatir.


Sedikit keributan muncul di ruang singgasana. Melihat Raja mereka menundukkan kepalanya di hadapan seseorang asing, tentu saja itu mengejutkan. Sebagai simbol kerajaan, Raja harus bisa menjaga martabatnya.


Albert mengangkat tangannya. Memberi isyarat untuk diam. Sesuai dengan perintahnya, ruangan menjadi sunyi.


"Kita bisa membahas ini di ruanganku," kata Albert. Ia membalikkan tubuhnya. "Ikuti saya."


Albert berjalan melewati singgasananya. Di belakang tahta megah itu terdapat sebuah pintu yang sama megahnya. Tertutupi oleh kain dan singgasana, orang luar pasti tidak tahu ruangan ini. Ia memasukinya.


Keempat Pahlawan mengikuti langkah sang Raja. Melewati singgasana kerajaan, tanpa menghiraukan tatapan tajam dari para Menteri dan beberapa bangsawan.


Mengikuti Albert, mereka masuk ke dalam ruangan itu. Gaya sederhana dan klasik mampu merangsang indera penglihatan siapa saja. Sebuah meja dengan kursi kayu, jendela besar di ujung ruangan, beberapa lemari buku, dan satu set sofa.


Memasuki ruangan itu, Yonaka merasakan sebuah sakit kecil di daun telinganya. Seperti gigitan seekor semut. Mengelus-elus telinga kirinya, ia memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.


"Silakan duduk. Tak usah sungkan" Albert menunjuk ke arah sofa.


Di depannya, terdapat sebuah meja dengan makanan ringan di atasnya. Mereka tidak terlalu tertarik.


Mereka duduk di atas sofa merah marun itu. Albert sendiri berjalan ke arah jendela. Menatap ke luar jendela.


Menatap kerajaannya dengan diam. Ia mengelus-elus janggutnya. Sebuah garis putih dapat terlihat di sisi rambut pirangnya. Menandakan usianya yang mulai menua.


"Manusia berada dalam bahaya, Pahlawan."


Setelah beberapa saat, Albert mengatakan sesuatu. Nadanya terdengar sedih. Para Pahlawan memasang telinga.


"9 tahun yang lalu, ras Iblis menyatakan perang kepada kami. Mengatakan bahwa mereka akan menghancurkan ras Manusia. ******* kami ke tanah hingga dunia tidak kembali mengingat Manusia," jelas Albert. Ia menyentuh kaca jendela. "Kami mencoba bertahan sebisa mungkin. Tapi...."


Albert menjeda perkataannya. Terlihat tertekan. Para Pahlawan masih diam mendengarkan.


".... Usaha kami sia-sia. Kekuatan Iblis terlalu kuat. Sudah ribuan prajurit yang menjadi korban mereka. Bila situasi ini terus berlangsung, ras Manusia akan musnah!"


Albert memukul jendela. Menimbulkan suara keras. Retakan kecil bisa terlihat di permukaan kaca. Tangannya mengeluarkan darah.


"Yang Mulia, tangan anda—!"


Samejima berdiri dari tempat duduknya. Terkejut melihat tangan sang Raja yang mengeluarkan darah. Albert mengangkat tangan lain, mencegahnya.


"Maafkan atas perilaku saya." Albert mengambil sebuah sapu tangan dari rak mejanya. Menutupi lukanya dan mencoba menghentikan pendarahan kecil itu. "Saya hanya tidak tahan dengan situasi kerajaan."


Membersihkan tangannya, ia berjalan ke arah Pahlawan. Ia kembali menundukkan kepalanya.


"Pahlawan, saya tahu ini permintaan yang berat. Tapi, mohon! Bantulah Victoria! Bantu kami bertahan hidup!" pinta Albert. "Mohon!"


Mendengar permohonan itu, keempat Pahlawan tidak bisa mengatakan apa-apa. Ini bukan Dunia mereka. Mereka tidak mempunyai tanggung jawab apapun terhadap dunia ini.


Merasakan keraguan, Albert bertindak lebih jauh. Ia berlutut dan menunduk di hadapan Pahlawan. Membuang harga dirinya sebagai Raja.


"Y-yang Mulia! Angkat kepala anda!" seru Yonaka risih. Melihat seorang Raja menundukkan kepalanya, sebuah pemandangan yang menyedihkan.


"Tolong! Saya mohon dengan seluruh jiwa raga saya! Tolonglah Victoria!" Albert kembali memohon. "Kami akan memberikan kalian apapun! Harta, kekuasaan, wanita! Segalanya!"


Samejima menghampiri sang Raja. Ia juga berlutut di hadapannya. Memegang bahunya, ia tersenyum ramah.


"Angkat kepala anda, Raja Albert. Kami akan membantu," katanya. Tidak memikirkan pendapat yang lain.


"Hero-sama......." Mendengar perkataan Samejima, Albert mengangkat kepalanya. Melihat secercah harapan.


"Samejima! Apa yang kaupikirkan!?" protes Izumi. Ia menarik bahu Samejima. "Kita tidak bisa menghabiskan waktu di sini! Harusnya kita tidak berada di sini!"


"I-Izumi benar, Samejima. Kita harus segera pulang!" timpal Erina. Sekali ini setuju dengan pendapat Izumi.


Mendengar protes itu, Samejima mengklik lidahnya. "Aku paham jika Izumi yang memprotes. Tapi, aku tidak menyangka kau setuju dengannya, Erina."


"T-tidak! Aku hanya—!"


Samejima menunjuk sang Raja. Memotong Erina yang ingin mengungkapkan alasannya.


"Dunia butuh bantuan! Kalian tidak mempunyai hati nurani? Membiarkan penghuni dunia ini begitu saja? Tanpa bisa membela diri mereka?"


"Tetap saja! Ini bukan dunia kita! Kita ti—!" Perkataan Izumi terpotong.


Yonaka memegang tangannya. Mencegah pemuda itu menyelesaikan kalimatnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"I-Izumi-kun, , kita tidak bisa pergi begitu saja."


"Yonaka? Apa maksudmu? Kita tinggal dan membantu mereka?!" Izumi melepaskan tangan Yonaka. Membentak keras. "Jangan bercanda!"


Yonaka ketakutan. Belum pernah melihat Izumi semarah itu. Ia hampir saja menangis. Tanpa ada Shinnichi atau Ayumi untuk membantunya, ia hanya bisa menundukkan kepalanya.


Izumi sadar akan perbuatannya. Ia menatap Yonaka, merasa menyesal. Izumi meminta maaf kepada Yonaka.


"Itu tidak pantas. Aku seharusnya tidak membentakmu, maaf."


Yonaka menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Aku juga yang salah." Ia mengelap air mata yang mulai berkumpul di sudut matanya.


"Dengar, ini bukan dunia kita. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita ikut campur." Izumi mulai menjelaskan. Kini dengan pikiran yang lebih tenang. "Prioritas utama kita adalah kembali ke Jepang."


"Lalu? Bagaimana caranya kau kembali? Memakai pintu-ke-mana-saja begitu?" ejek Samejima. "Yang mengirim kita ke sini Dewi! Lagipula, ia juga memberi kita kekuatan untuk menyelamatkan dunia!"


"I-itu...."


Izumi berusaha keras untuk membantahnya. Tapi, ia tidak menemukan alasan yang tepat. Ia juga tidak tahu alasan mereka dikirim ke sini.


"Urusan kembali itu mudah. Jika kita bisa dikirim ke sini, kita pasti bisa dikirim kembali." Samejima mengangkat bahunya. Terlihat santai.


Di belakangnya, sang Raja tersenyum samar. Ia merasa senang. Tapi, entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


"Memang, ada cara untuk kembali ke dunia asal kalian." Albert tiba-tiba menimpali percakapan mereka.


Mendengar itu, Yonaka, Izumi dan Erina menatap Albert terkejut. Tidak menyangka perkataan Samejima benar-benar nyata.


"Bagaimana caranya?" Izumi langsung bertanya.


Raja kembali mengelus-elus janggutnya. Ia menghela nafas berat. "Sayangnya, pengetahuan itu diambil dari kami."


"Apa maksudnya itu?!" Izumi kembali menggeram kesal. Yonaka kembali memegang tangannya. menahannya agar tidak bertindak di luar batas.


"Maksudmu... Bagian lain gulir itu. Bagian yang bisa menjadi petunjuk kami pulang ada di tangan musuh?" Izumi bertanya. Menjaga agar amarahnya tidak meluap.


"Maafkan kesalahan kami...." Albert kembali menundukkan kepalanya.


"Tunggu! Bukankah ini bagus?" Samejima tiba-tiba berseru. Tersenyum lebar. "Dengan ini, kita bisa mengalahkan musuh sekaligus merebut kembali cara kita kembali pulang! Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui!"


Izumi langsung mencengkeram kerah Samejima. Mendorongnya ke arah dinding lalu mengangkatnya ke atas. Beberapa ornamen dinding jatuh karena kekuatan Izumi.


"Kau pikir ini lelucon?! Kita terjebak di sini! Satu-satunya cara untuk pulang ada di tangan musuh! Dan kau pikir ini semua lucu!?"


"I-Izumi-kun!"


"Samejima!"


Seruan kedua gadis itu diikuti oleh Samejima yang terbatuk-batuk. Tidak menyangka tekanan yang kuat dari Izumi. Tapi, senyum simpul masih tersinggung di wajahnya.


"Lalu, apa yang bisa kau lakukan? Menerobos ke wilayah musuh? Kau tidak bisa apa-apa tanpa bantuan mereka."


"—!?"


Izumi menyadari kebenaran dalam kata-kata Samejima. Ia tidak tahu harus berbuat apalagi. Membantu kerajaan ini adalah pilihan terbaik.


"I-Izumi-kun... Tenanglah. Lagipula, kita belum melihat kondisi Shinnichi-kun."


"... Cih!"


Izumi melepaskan Samejima. Anggap saja keberuntungannya karena Yonaka ada di situ. Gadis itu adalah salah satu dari tiga orang yang bisa membuat Izumi menahan diri.


"Baiklah. Aku akan membantu," ujar Izumi, agak enggan.


"Oh! Luar biasa! Dengan ini, ras Manusia bisa—!"


"Dengan satu syarat." Izumi menyela sang Raja. Tidak peduli dengan gelarnya. "Pastikan keamanan teman-temanku."


Izumi menatap sang Raja dengan tegas. Terlihat serius dengan permintaannya. Tak sadar bahwa perkataannya itu membuat Yonaka kagum.


"Ah, tentu saja. Keamanan kalian semua pasti terjamin. Saya berjanji atas jiwa saya." Albert membungkukkan tubuhnya.


Raja melirik ke arah para Pahlawan. Senyum samar terbentuk di wajahnya. Dilihat sekilas, senyum itu terlihat misterius.


'Ini terlalu mudah. Kukukuku.'


✾✾✾✾


Shinnichi mengedipkan matanya beberapa kali. Berusaha memastikan bahwa matanya tidak berbohong. Ia hampir tidak bisa mempercayai matanya.


Pemuda itu mendengar penjelasan sang Putri. Tentang ritual pemanggilan. Tentang Iblis dan ancamannya terhadap umat Manusia.


Shinnichi tentu saja tidak percaya begitu saja. Bagaimana mungkin? Shinnichi terhitung orang memilih pemikiran logis.


Berusaha untuk meyakinkannya, Fiona melakukan sesuatu. Sesuatu yang berada di luar akal sehat seseorang seperti Shinnichi. Gadis itu menggunakan sihir.


Shinnichi masih merasa angin dingin tertiup ke arahnya. Ia masih ingat kata-kata yang diucapkan oleh Fiona. Sesuatu yang aneh; semacam mantera. Dan dalam sekejap, sebuah keajaiban.


Sebuah patung es besar berbentuk kelinci tercipta di depannya. Bentuknya terlihat benar-benar hidup. Seperti seseorang membekukan seekor kelinci asli. Namun, ia bisa melihat bahwa patung itu transparan.


Biasanya, mungkin ia berpikir bahwa itu adalah hal biasa. Banyak orang yang bisa membuat patung es. Tapi, ini berbeda. Tidak ada orang yang bisa membuat patung itu dalam waktu beberapa detik. Itu mustahil.


Shinnichi mengulurkan tangannya. Menyentuh patung itu. Rasa dingin menjalar dari jemarinya. Sedingin apapun patung itu, Shinnichi masih bisa merasakan keringat mengalir di punggungnya.


Pemuda bersurai hitam memutari patung itu. Mencoba mencari penjelasan yang masuk akal. Sayangnya, nihil.


Itu bukan hologram. Bukan pula tipuan. Ia benar-benar melihat seorang gadis menciptakan sebuah patung dari udara tipis.


Shinnichi menoleh ke arah sang gadis pencipta patung, Fiona. "A-apa maksudnya ini?"


"Sihir, Kurobane-sama."


Dengan senyum ramah, Fiona menjawab. Tidak terdapat setitik keraguan dalam perkataan. Seperti ini adalah hal alami baginya


"Si.. sihir? Jadi, k-kamu tidak berbohong? Ini dunia lain!?" Shinnichi membulatkan matanya.


"Tepat, Kurobane-sama. Dunia ini, Zelfria adalah dunia yang berbeda dari dunia anda."


"Mu-mustahil...."


Meskipun disuguhi bukti kuat, Shinnichi tetap tidak percaya. Sisi logisnya masih tetap bersikukuh bahwa hal seperti dunia lain itu tidak mungkin. Namun, jiwa Otaku-nya ingin percaya.


Ia ingin percaya bahwa mungkin saja. Mungkin saja, hal ajaib itu bisa terjadi.


"Apakah ini nyata? Aku tidak bermimpi bukan?"


Shinnichi menatap kedua tangannya. Bergetar, entah karena kedinginan atau ketidakpercayaan. Setelah beberapa saat, sepasang tangan bersarung tangan putih memegang tangan kanannya.


"—!?"


Terkejut, Shinnichi mengangkat kepalanya. Senyum hangat Fiona adalah hal yang pertama kali menyapanya. Meskipun tangan gadis itu terasa dingin. Ia bisa merasakan wajahnya memerah. Degup jantungnya meningkat cepat.


Kondisi sang Putri Es tidak jauh berbeda. Gadis itu tidak tahu kenapa ia tiba-tiba memegang tangan sang Pemuda. Ia tidak pernah memegang laki-laki selain Ayahnya. Hal ini membuatnya gugup.


Namun, ada sesuatu tentang pemuda itu yang menarik dirinya. Sesuatu yang tidak ia mengerti.


"Se-semua ini nyata, Kurobane-sama." Fiona berhasil mengatakan sesuatu. Meskipun pikirannya juga tidak karuan. "Dunia ini, kerajaan ini, saya sendiri. Semuanya nyata."


Shinnichi menatap lekat Fiona. Ia bisa melihat dirinya, terpantul di iris azure gadis itu. Itu terlihat cukup nyata baginya.


"O-oh, begitu...." Shinnichi menjawab dengan malu. Tidak terbiasa dengan jaraknya yang dekat.


Menyadari itu, Fiona melepaskan tangannya. Ia mundur beberapa langkah dan menata kembali dirinya.


"A-ah, benar. Teman-temanku, aku dipanggil ke sini bersama mereka bukan? Di mana mereka?" tanya Shinnichi. Mengubah topik pembicaraan.


"Ah, teman-teman anda? Mohon maaf saya tidak tahu. Saya juga baru bangun tadi." Fiona meminta maaf karena ketidaktahuannya. "Namun, ada kemungkinan mereka bertemu dengan yang Mulia Raja."


Mendapati jawaban itu, Shinnichi merasa kikuk. Ia baru menyadari betapa sopannya cara bicara Fiona.


"Raja? Err... Ayahmu?" Shinnichi kembali bertanya.


Fiona mengangguk. "Tepat, Kurobane-sama. Ayahanda saya, Albert Throst Victoria Ainsworth III."


'Terlalu panjang!'


Shinnichi berceletuk dalam hati. Namun, ia memilih untuk menyimpannya sendiri.


"Err... Hime-sama, apa—"


"Ah, tak usah begitu sopan. Fiona saja cukup." Fiona memotong kalimat Shinnichi.


Shinnichi menatap Fiona beberapa saat. Tidak mengerti alasannya. Meskipun cara bicaranya sendiri benar-benar sopan. Tapi, ia seorang Putri. Tidak mungkin seseorang seperti Shinnichi memanggilnya dengan nama saja.


"Ah, begitu ya? Kalau begitu, Fiona-sama." Shinnichi mengangguk mengerti. Mencoba mengabaikan ekspresi Fiona yang berubah saat mendengar embel-embel 'Sama'.


"Apakah ka—" Shinnichi memutuskan untuk tidak mengatakan itu. Ia mengubahnya. "—apakah anda mengetahui di mana mereka bertemu?"


Mendengar gaya bicara Shinnichi yang berubah, Fiona sedikit kecewa. Tapi, ia segera menutupinya lalu tersenyum kepada sang Pahlawan.


"Saya rasa mereka sedang berada di ruang singgasana. Mungkin yang Mulia sedang menjelaskan kondisi mereka saat ini," jelas Fiona. "Apakah Kurobane-sama ingin pergi ke sana?"


Mendengar usulan itu, Shinnichi langsung mengangguk. Baginya, kedua teman-temannya adalah harta yang paling berharga baginya. Ia tidak ingin sendirian di dunia ini. Apalagi setelah mendengar bahwa ada dua orang lain ikut bersama mereka.


"Jika itu tidak merepotkan." Shinnichi menundukkan kepalanya.


"Tentu saja tidak." Fiona kembali tersenyum. Ia berjalan melewati Shinnichi. "Mohon ikuti saya."


"Ah, baik." Shinnichi mengangguk. Ia mengikuti gadis di depannya itu.


Membuka pintu ruangan, sebuah lorong lebar. Fiona belok ke kanan. Terlihat mengerti tujuan mereka. Ketukan bisa terdengar setiap langkah yang ia ambil.


Shinnichi mengikuti. Mengagumi dinding putih yang dihiasi berbagai lukisan bak era renaisans. Sesekali ia melirik ke depan, ke arah sang Putri bersurai biru.


Fiona berjalan dengan tenang. Tidak ada gerakan terbuang dalam langkahnya. Tubuh tegap, tangan diam dan pandangan ke depan. Aura kebangsawanan dapat terasa hanya dengan lirikan sekilas.


Membandingkan diri, Shinnichi tiba-tiba merasa kikuk. Ia menundukkan kepalanya, berusaha untuk tidak memikirkannya lebih lanjut.


Saat ini, ia harus segera bertemu dengan teman-temannya.


Dengan diam, sang Putri dan sang Pahlawan menelusuri lorong sunyi di dalam kastil kerajaan.