Re: Turning

Re: Turning
The Beginning



*Pada awalnya, dunia adalah tempat yang kosong. Tanpa cahaya, tanpa kegelapan. Tanpa konflik, tanpa perdamaian. Tanpa kehidupan, tanpa kematian.


Ketiadaan bahkan tidak ada di dunia. Kosong. Tanpa ada hal di dalamnya. Namun, semua berubah; sesuatu terjadi.


- Chapter 1, Creation of the World*


ーーーーーーーーーーーーーーーーーー


Bel masuk kelas berbunyi. Menandakan pergantian waktu belajar. Pemberitahuan yang mengganggu.


Kurobane Shinnichi menguap kecil. Ia menaruh bukunya di dalam tas. Merasa mengantuk.


Kesiangan lagi. Aku ingin tidur.


Pemuda berambut hitam berantakan itu mengeluh dalam hati. Ia menghela nafas. Untuk ke berapa kalinya hari ini? Ia sendiri bahkan tidak tahu.


"Shinnichi. Mengantuk lagi ya?"


Akihiro Izumi tersenyum kecil dari tempat duduk di depannya. Remaja berambut merah itu terlihat bersemangat. Seperti mampu mengangkat beban 30 kg dengan hanya satu tangan. Berbeda dengan Shinnichi yang saat ini bahkan hampir tidak mampu mengangkat kelopak matanya sendiri.


"Oh, kau tahu Shinnichi-kun. Ia pasti bermain game atau menonton anime larut malam lagi."


Dari sampingnya, gadis berambut hitam panjang menyahut. Manik hitamnya terarah kepadanya. Mikazuki Yonaka adalah nama gadis itu.


"Ayolah, aku hanya bermain sampai jam 2 pagi," kata Shinnichi. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursinya. Tak lama kemudian, ia kembali menguap.


"Lihat kataku! Begadang itu tidak baik! Iya 'kan, Izumi-kun?"


Yonaka menoleh ke arah Izumi. Mendapati tatapan sang gadis, pipi Izumi sedikit merona. "A-ah, iya."


Untuk seorang laki-laki bertubuh besar, hatinya cukup lembut. Shinnichi merasa seperti roda ketiga.


"Jadian sana," gumam Shinnichi. Mereka berdua selalu bersama sejak SMP. Ia rasa mereka akan menjadi pasangan yang cocok.


"Aduh!"


Yonaka tiba-tiba memekik kecil. Ia memegang bagian belakang kepalanya. Sebuah penghapus papan tulis jatuh di lantai dekatnya.


Izumi dan Shinnichi langsung bangkit dari tempat duduk mereka. Mendekati Yonaka untuk memastikan bahwa ia tidak apa-apa. Mereka langsung menatap pelakunya.


Seorang gadis yang sedang tersenyum mengejek. Rambut pirangnya tidak membuat gadis itu terlihat sedikit ramah sama sekali. Namanya Himekaze Erina.


"Dasar pencari perhatian," ejek Erina. diikuti oleh tawa kecil sepasang gadis di belakangnya.


"Hei! Jangan ganggu dia!" Izumi mendesis kesal.


Mendengar Izumi, Erina sedikit mundur. Tapi, ia tidak menyerah. Gadis itu memiliki bantuan lain. Ia menoleh ke sampingnya.


Seorang laki-laki tampan merangkul bahu Erina. Tersenyum kecil kepada sang Madonna kelas, Jinba Samejima menenangkan gadis itu.


"Kau berani mengganggu Erina? Laki-laki macam apa kau?" Samejima tersenyum miring. Terlihat seperti membela seorang korban.


Mereka berdua adalah pasangan pembuat onar paling terkenal di SMA. Ditambah dengan fakta bahwa Erina adalah cucu dari Kepala Sekolah, membuat kelakuan mereka semakin menjadi-jadi. Salah satu hal kesukaan mereka adalah mengganggu murid yang berada di bawah mereka. Yonaka dan Shinnichi sering menjadi target utama.


"Samejima-kun, di-dia memarahiku tanpa alasan tadi.... Padahal a-aku hanya bercanda." Erina berkata sesenggukan. Ia memeluk Samejima sambil mengeluarkan air mata buaya.


"Laki-laki yang meneriaki seorang gadis dan membuatnya menangis? Apakah kau seorang pecundang?" Samejima kembali membela Erina. Ia melepas Erina dari pelukannya kemudian maju satu langkah.


"Sialaー!"


Izumi awalnya ingin langsung menghajar mereka. Tapi, Yonaka memegang tangan tangan Izumi. Mencegah pemuda itu melakukan hal yang akan ia sesali.


"Jangan...." bisik Yonaka. Menggelengkan kepalanya pelan. Ia tersenyum kecil. "Aku tidak apa-apa kok."


"Yonaka, akuー"


"Benar! Sana pergi bermain. Kalian bertiga hanya membawa masalah kemanapun kalian berada!" Samejima menyela perkataan Izumi. "Apalagi kalian berdua, pasangan menyedihkan yang menjadi sampah pemandangan."


"Bajiー!"


Sebelum Izumi menyelesaikan katanya, seorang lain menerjang ke arah Samejima. Ia menubruk tubuh pemuda itu. Menjatuhkannya. Shinnichi menggertakkan giginya. Memukul wajah Samejima sekali.


"Shinnichi!?"


Yonaka dan Izumi membelalakkan matanya. Tidak menyangka teman mereka yang pendiam itu adalah orang yang pertama bertindak. Samejima juga tidak menyangka itu.


"Jangan hina temanku!" Shinnichi berseru. Tangannya bergetar ketika ia memukul Samejima.


Mendapati tinju Shinnichi, Samejima agak tertegun. Tapi, ia langsung sadar. "Enyahlah!" Samejima mengirim tinju ke wajah Shinnichi.


Menerima pukulan Samejima, Shinnichi terlontar ke belakang. Pipinya bengkak. Darah keluar dari hidungnya. Ia langsung pingsan. Sebuah pukulan dari seorang jagoan Kendo. Siapa yang tidak akan terluka?


Samejima berdiri. Mengelap hidungnya yang terasa sakit. Meskipun pukulan Shinnichi hampir tidak terasa, ia ingin terlihat keren.


"Shinnichi-kun!"


"Shinnichi!"


Yonaka dan Izumi langsung menghampiri Shinnichi. Khawatir dengan teman mereka itu. Izumi langsung berdiri di hadapan Samejima. Memasang kuda-kuda tengah.


"Minggir! Jangan menghalangiku!" seru Samejima. Pandangannya masih tertuju kepada Shinnichi.


"Ambil satu langkah, maka kau akan menyesalinya." sahut Izumi. Api kemarahan membara di matanya.


"Cih!" Samejima mendecih kesal. Ia bukan tandingan Izumi dalam pertarungan tangan kosong.


"Samejima! Tangkap!" Suara Erina terdengar dari samping. Ia melempar sesuatu.


Samejima menoleh ke arahnya lalu menangkap benda itu. Sebuah pedang kayu. Senjata andalannya.


"Sankyuu." Samejima mengangguk senang. Ia pun mengambil kuda-kudanya.


Melihat perkelahian antara jagoan Kendo dan Karate tidak terhindarkan lagi, hampir semua orang langsung beranjak ke luar kelas. Tidak ingin terlibat, mereka lebih memilih untuk menjaga keselamatan mereka.


"Izumi-kun! Hati-hati!" Yonaka berseru. Memangku kepala Shinnichi yang tidak sadarkan diri.


"Samejima! Jangan sampai kalah!" Erina juga menyemangati Samejima.


Mendengar perkataan mereka, kedua belah pihak meyakinkan diri untuk tidak kalah. Semangat bertempur mereka membara.


Izumi menarik kakinya ke belakang. Membentuk kuda-kuda kaki kiri depan. Tangannya mengepal keras. Samejima mengangkat pedang kayunya ke atas. Memasang kuda-kuda Jōdan. Pedang kayunya berbunyi karena genggamannya.


Tapi, sebelum kedua-duanya bisa mengambil tindakan, sesuatu terjadi. Lantai di bawah kaki mereka memancarkan sinar putih! Bentuk-bentuk aneh memenuhi lantai dan atap.


"A-apa!?" Kuda-kuda Samejima langsung buyar. Ia menjatuhkan pedang kayunya.


"Kyaa!" Erina langsung berlari kemudian memeluk Samejima. Samejima juga balas memeluknya.


"Yonaka! Shinnichi!" Izumi langsung mundur menghampiri Yonaka dan Shinnichi. Menjaga kedua temannya itu. Barangkali ada gempa bumi.


"Izumi-kun!" Yonaka memegang lengan baju Izumi. Memegangi kepala Shinnichi.


Mereka bersiap-siap untuk sebuah gempa bumi. Tapi, bumi tidak bergoncang. Sinar putih itu terus memenuhi ruangan. Membuat mata silau.


Kelima anak itu menutup matanya. Melindungi iris mereka dari cahaya yang membutakan.


Setelah beberapa saat, cahaya di sekitar mereka mereda. Membuat mereka bisa kembali membuka mata. Pemandangannya berubah.


Bukan lantai berwarna cokelat. Tapi, lantai putih tanpa noda. Bukan papan tulis atau jendela, tapi dinding putih cemerlang. Bukan atap kelas, tapi langit biru yang cerah. Apakah ini mimpi?


Izumi yang pertama berdiri. Menatap sekelilingnya. Putih dan biru di atas. Tidak ada warna lain yang menghiasi ruangan ini.


"Di mana kita?" gumam Izumi. Masih heran dengan keadaannya.


"Izumi," panggil Yonaka. Juga merasa bingung.


"Yonaka? Kau tidak apa-apa?" Izumi langsung menghampiri gadis itu. "Bagaimana dengan Shinnichi?"


"Tidak apa-apa. Shinnichi-kun masih pingsan." Yonaka mengelus kepala Shinnichi. Pemuda malang itu sepertinya terkena geger otak karena menerima pukulan Samejima.


"Di mana kita?" tanya Yonaka. Setelah memastikan Shinnichi masih bernafas.


Izumi menggelengkan kepalanya. Berniat untuk mengatakan tidak tahu. Tapi, tidak sempat.


"Samejima! Di mana kita?" Pekikan keras terdengar di belakang Izumi. Erina berdiri terlihat kesal dan tidak mengerti.


"Aku tidak tahu. Setidaknya kita tidak apa-apa." Samejima ikut berdiri. Memegang kepalanya. "Geh, kita bersama mereka."


Ekspresi kedua orang itu langsung memburuk. Hubungan antara kelompok mereka memang tidak bagus. Namun, sebelum bisa bertindak, sebuah suara menyela mereka.


"Selamat datang, penghuni dunia lain. Ke Dunia-Ku, Zelfria."


Mendengar suara itu, semua orang mendongakkan kepalanya. Menatap sosok


wanita yang melayang di udara.


Wanita berekspresi lembut itu memakai kain putih yang tersampir di tubuhnya. Mahkota yang dibubuhi permata-permata indah. Sebuah halo emas melayang di atas kepalanya. Dengan empat sayap putih yang anggun.


Rambut pirang yang bergelombang. Kulit putih bagaikan mutiara. bibir merah tipis mirip dengan rubi. Manik biru cemerlang yang berkilau. Ditambah dengan postur tubuh yang ideal. Indah dan mempesona. Dua kata yang tepat untuk menggambarkannya.


Wanita itu turun di hadapan Samejima. Mengelus pipi pemuda itu. Mengulas senyum lembut. Wajah Samejima merona karenanya.


"Oh, begitu muda. Begitu kuat. Begitu... hebat," ucap wanita itu. Masih mengelus pipi Samejima.


".... Permisi, siapa anda?" Izumi memberanikan diri untuk bertanya.


"Ah, maafkan ketidaksopanan saya." Wanita itu mundur beberapa langkah. Ia membungkuk hormat kepada remaja-remaja itu. "Saya adalah Dewi Aqrina. Dewi yang mengatur Zelfria. Dunia yang berbeda dari dunia kalian."


"D-Dewi!?"


"A-apa? Dunia lain?"


Reaksi mereka dapat dimengerti. Siapapun pasti tidak akan percaya jika seseorang mengaku menjadi Dewa dari dunia lain. Namun, Aqrina tidak tersinggung.


Dewi itu menyimpulkan senyum kecil. Ia mengangkat tangannya. Sayapnya mengepak sekali. Kembali melayang di udara.


Pemandangan di sekitarnya berubah. Yang awalnya ruangan serba putih, kini berubah menjadi medan peperangan. Lantai di bawah kaki mereka berubah menjadi tanah kotor. Langit berubah warna menjadi merah. Tanah dialiri darah para prajurit yang tumbang.


"!?"


Izumi langsung terperanjat melihat pemandangan itu. Cepat, ia menutupi mata Yonaka. Mencegah gadis itu melihat pemandangan yang mengerikan itu. Tetap saja, itu sedikit terlambat.


Yonaka langsung membenamkan wajahnya di lengan baju Izumi. Tidak ingin mengingat hal yang baru saja ia lihat. Tapi, bau anyir darah tidak membiarkannya begitu saja.


"Apa maksudnya ini?" Samejima gantian bertanya. Erina memeluk lengannya. Sama-sama ketakutan.


Mendengar pertanyaan itu, Aqrina menatap sekelilingnya dengan tatapan sedih. Seperti menyesali hal ini.


"Ini adalah masa depan Zelfria. Manusia akan dibasmi habis oleh ras Iblis," ucap Aqrina setelah terdiam beberapa saat. Ia terdengar hancur karena kesedihan.


"Aku... Aku tidak bisa mencegah saat perang itu terjadi..." lanjutnya, dengan suara yang bergetar. "Aku ingin menyelamatkan anak-anakku. Penghuni duniaku. Tapi, aku tidak bisa ikut campur dalam urusan dunia... Tapi, kalian bisa membantuku! Kalian bisa membantu Dunia-Ku!"


Mendengar itu, Yonaka, Izumi, dan Erina menjadi ragu.


Pemandangan kembali berubah menjadi ruangan putih. Aqrina turun ke tanah. Berlutut, air mata mulai menetes.


"Aku tahu memanggil kalian untuk membela Dunia-Ku itu egois... Tapi, tolong...." Aqrina berlutut di lantai. Menangis sesenggukan. "Tolong! Tolong selamatkan Dunia-Ku! Selamatkan Zelfria!"


Aqrina akhirnya memohon. Seorang Dewa yang ingin menyelamatkan dunianya, pemandangan yang mengenyuhkan. Yang awalnya ragu, menjadi bersimpati dengan Dewi Aqrina. Tidak tega melihat sang Dewi menangis seperti itu.


Samejima yang pertama melakukan sesuatu. Ia berjalan lalu berlutut di hadapan Aqrina. Pemuda berambut pirang itu mengelus pipi Aqrina. Mengelap air mata dari wajah sang Dewi.


"Jangan khawatir, Aqrina-sama. Saya, Jinba Samejima dan teman-teman saya bersedia membantu anda." Samejima berkata. Tersenyum lembut tanpa memikirkan perasaan yang lain.


Aqrina menatap Samejima. Air mata kembali terkumpul di pelupuk matanya. Sang Dewi langsung memeluk Samejima.


"Terima kasih! Terima kasih!"


Dewi berkali-kali berterimakasih. Lega karena mendapatkan sosok penyelamat. Samejima hanya tersenyum. Pikirannya berbeda dari sang Dewi.


Lumayan. Aku bisa mendapatkan tubuh Dewi nanti. Rasanya pasti nikmat.


Samejima tersenyum lembut. Menutupi pikiran hinanya. Kemunafikan. Bukankah itu sifat seorang manusia?


Setelah beberapa saat, sang Dewi melepaskan pelukannya. Meskipun masih ada beberapa air mata, ia tersenyum bahagia.


"Wahai penghuni dunia lain. Mohon, kalahkanlah ras Iblis yang terkutuk dan tuntunlah kedamaian ke atas ranah Zelfria sekali lagi." Dewi Aqrina mengangkat tangan kanannya. Empat jarinya bercahaya. "Untuk membantu perjalanan kalian, terimalah kekuatanku ini."


Keempat cahaya itu terbang. Mirip seperti kunang-kunang. Mereka mendekati Samejima, Erina, Izumi, dan Yonaka.


Yonaka mengulurkan tangannya sedikit. Terlihat ragu. Tapi, cahaya itu terasa hangat. Gadis itu menyentuhnya. Cahaya itu langsung menyelimuti tubuhnya.


Yonaka menatap kedua tangannya yang bercahaya. Perlahan-lahan meredup lalu hilang sepenuhnya. Yang lain juga mengikutinya. Memegang cahaya itu lalu membiarkannya meresap ke dalam tubuh mereka.


Dewi Aqrina tersenyum. Ia kembali berlutut dengan kedua tangannya di depan dadanya. Sepertinya seorang biarawati yang sedang berdoa.


"Atas nama Zelfria, aku berterimakasih. Pahlawan-pahlawan berani, selamatkanlah Zelfria."


Setelah mengatakan itu, cahaya putih kembali memenuhi mata keempat orang itu. Tapi, kemudian Izumi tersadar. Semua orang tidak menerima cahaya itu.


"Bagaimana dengan Shiー"


Izumi mengangkat tangannya. Berniat untuk memprotes. Tapi, suaranya terpotong. Ia sudah menghilang dari pandangan sang Dewi. Bersama yang lain.


Selepas kepergian mereka, Dewi Aqrina berdiri. Menundukkan kepalanya. Menyembunyikan sebuah senyum. Senyum kecil yang mengisyaratkan sesuatu.


Sesuatu yang buruk.


"'Selamatkanlah' Zelfria, Pahlawanku."