Re: Turning

Re: Turning
The Thing



Shinnichi berjalan menelusuri lorong samar. Di tangan kirinya, sebuah buku kecil. Di tangan kanannya, memanggul sebuah kantong besar. Berisi benda-benda dari kamar Schwarz yang dianggapnya perlu. Sesekali, ia akan berhenti dan menggambar jalur yang diambilnya. Membuat peta tidaklah mudah jika kau tidak memiliki pengalaman.


Dua belas hari sudah berlalu sejak ia mengalahkan Wolfsdamon. Tubuhnya sudah sembuh seperti sedia kala, atau bahkan lebih baik, berkat kristal penyembuh Emphiria. Dan saat ini, ia berada di tingkat ke-94.


Tak jauh berbeda dari lantai lainnya, lantai 94 terdiri dari lorong-lorong gua yang disinari cahaya hijau samar. Sebenarnya, semua lantai dari lantai 84-94 memiliki interior yang sama. Sedikit membosankan jika Shinnichi jujur. Monster yang muncul juga tidak jauh berbeda dengan lantai yang lain dan ia juga menemukan oasis setiap lima lantai jadi tidak sepenuhnya membosankan. Dan setidaknya ia mengalami kemajuan drastis.


Shinnichi berhenti di bebatuan. Menggunakan salah satu dari mereka sebagai tempat untuk menulis. Menggunakan bulu burung dan darah sebagai tintanya benar-benar menyulitkannya. Di saat seperti inilah baru ia sadar betapa berharganya sebuah bulpoin.


“Hei, Schwarz.” Shinnichi memanggil Schwarz. Terdengar sedikit kewalahan. “Aku agak bingung. Sebenarnya kita belok kanan atau kiri di pertigaan sebelumnya.”


“Hmm? Bukankah kau belok kiri? Ingat,melewati dua kristal cahaya yang saling bersilangan?”


“Benarkah? Kukira itu perempataan sebelum pertigaan ini.” Shinnichi menggaruk kepalanya.


Di dekatnya, bumi mulai bergetar. Gempa bumi? Tidak, bebatuan besar di dekatnya mulai bergerak. Berkumpul menjadi satu seperti ada sebuah magnet di tengah-tengahnya. Berderak dan menggelinding dan bergabung. Hingga akhirnya, ia memiliki bentuk yang sedikit humanoid. Itulah salah satu monster terkuat Dungeon, Golem.


“---!!” Golem itu mengeluarkan suara keras serupa raungan. Menggetarkan udara sekitar. Ia mulai berlari mengincar Shinnichi.


Shinnichi mengangkat Dominator. Dan tanpa menoleh, menembakkannya.


DUM! Golem meledak dengan keras. Hancur, kepingannya menghujani lantai dungeon.


“Berisik sekali.” Shinnichi menggerutu. Mengembalikan botol darahnya ke dalam kantong.


Setelah bertarung dengan Wolfsdamon, level dan kemampuannya meningkat drastis. Statusnya sudah melampaui para pahlawan. Memungkinkannya untuk mengalahkan hampir seluruh monster di dalam dungeon dengan satu pukulan. karenanya, ia menjadi lebih tenang saat menjelajahi labirin. Meskipun begitu, ia harus tetap waspada. Labirin adalah tempat yang berbahaya. Satu langkah yang salah, maka kematian akan menunggu.


Meningkatkan kewaspadannya, Shinnichi melanjutkan perjalanan.


❂❂❂❂❂❂


“Hoam.” Shinnichi menguap. Sedikit bosan melihat dinding batu labirin. Ia sudah berjalan selama tiga jam. Mencoba mencari jalan ke lantai selanjutnya. Setelah beberapa saat, ia sampai di jalan buntu.


“Hei, Schwarz. Kau yakin di sini tempatnya?” tanya Shinnichi. Sedikit skeptis.


“Aku yakin,” jawab Schwarz mantap. “Ada lingkaran sihir di dinding itu. Coba cari.”


“Hmm.” Shinnichi hanya mengangguk. Ia menyentuh dinding berwarna abu-abu itu. Dingin, penuh debu, dan sedikit misterius.


“Hmm?”


Shinnichi menyadari sesuatu di dinding. Sebuah torehan putih, membentuk sebuah lengkungan. Sisanya tertutup oleh debu. Shinnichi mengusap-usap debu di permukaan dinding. Membersihkannya dan mengungkapkan apa yang tertulis di bawahnya. Tak butuh waktu lama, sebuah lingkaran sihir terkuak.


“Heh, apa yang kubilang.” Suara sombong Schwarz menggema di kepalanya. Sedikit menjengkelkan, tapi Shinnichi memilih untuk mengabaikannya.


Ia menyentuh lingkaran itu dan mengalirkan Mananya. Cahaya kuning mulai keluar dari garis dan simbol yang membentuk lingkaran. Dalam sekejap, dinding dungeon mulai bergetar. Terbelah menjadi dua. Membuka sebuah jalan dan menyingkap tangga di ujungnya.


“Dududududundu~udun” Shinnichi menyenandungkan nada khas suatu RPG tertentu yang berputar setelah menyelesaikan teka-teki.  “Lantai ke-95, aku datang.”


Shinnichi menuruni tangga Di belakangnya, dinding dungeon kembali tertutup. Menyirnakan sisa cahaya yang menerangi jalan. Lorong menurun itu berubah gelap. Shinnichi menyentuh dinding, menjaga dirinya agar tidak jatuh.


“Kau pernah ke sini?”


“Tidak, aku mengetahuinya dari perkataan kakakku. Aku hampir tidak pernah menelusuri Dungeon ini.”


“Jadi, kau hanya tinggal di kamar? Dasar Hikkikomori,” gumam Shinnichi, sedikit mengejeknya. Schwarz memilih untuk mengabaikannya, karena secara teknis ia tidak salah.


Setelah 300 anak tangga, Shinnichi sampai di lantai 86. Berbeda dengan lantai sebelumnya, tak ada kristal sihir untuk menerangi jalannya. Ia harus lebih waspada di sini. Shinnichi mengingatkan dirinya. Ia mengeluarkan batu sihirnya. Merubahnya menjadi kalung, ia mengalirkan mananya. Batu itu memberi sedikit cahaya yang berharga.


Jarak pandangannya sempit dan kecil. Bahkan dengan matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan, tak bisa melihat lebih dari lima meter. Ia berjalan dengan waspada. Kemudian,


Squash. Shinnichi menginjak sesuatu yang lunak. Ia mengangkat kakinya, lengket dan basah. Ia bisa merasakannya dari balik sepatu. Di bawah kakinya, ia bisa melihat permukaan berwarna merah muda. Seperti permen karet yang selesai dikunyah. Sama-sama menjijikan.


‘Ugh.” Shinnichi mengelap kakinya di tanah. Mencoba membersihkannya dari lendir yang mirip ludah itu. “Tempat apa ini?”


Shinnichi menahan keinginannya untuk muntah kemudian berjalan ke mengelilingi gumpalan merah muda itu. Mencoba tidak menginjaknya. Sensasinya benar-benar memuakkan.


Tak lama kemudian, Shinnichi mulai mendengar sesuatu. Sesuatu bergerak di gumpalan merah muda. Ia menyiapkan Abyssal Mist.


Kegelapan menyembunyikan sesuatu yang membuat suara basah itu. Tapi, Shinnichi yakin, sesuatu ada di depannya. Dalam beberapa langkah, Shinnichi melihatnya.


Seekor monster yang menyerupai tikus tanah. Terjebak, atau lebih tepatnya, terperangkap dalam gumpalan merah muda itu. Gumpalan merah muda itu bergerak menyelimutinya. Merangkak dengan kecepatan yang menyakitkan, setiap gerakan mengeluarkan lendir hijau menjijikan. Suara desisan keluar setiap kali lendir itu menyentuh tubuh monster itu. Melarutkan dagingnya menjadi cairan yang meremas perut.


“Gila....” Shinnichi tidak mempercayai matanya.


“Shinnichi, gunakan [Soul Eye].” Schwarz memberi pendapat.


Shinnichi menutup mata kanannya. Mengaktifkan skill mata kirinya. Cahaya terang menyambutnya, hampir memenuhi ruangan. Ada beberapa cahaya lain, berbeda warna dan agak redup.


“Jadi, ini monster? Hampir seluruh lantai tertutupi olehnya..” Shinnichi tidak mempercayai matanya sendiri. “Bagaimana bisa?”


“Dungeon memiliki caranya sendiri untuk mengambil nyawa. Tak ada gunanya jika kau terus memikirkannya.” Schwarz berkomentar. Meskipun ia sudah hidup berabad-abad, pengetahuannya tidaklah mutlak. Ia juga pertama kali melihat hal semacam ini. “Lebih baik kau mencari jalan untuk melewati lantai ini.”


Shinnichi setuju. Ia menendang-nendang gumpalan itu beberapa kali. Lendir mengalir keluar karenanya. Ia mengubah tangannya menjadi Dominator lalu menembakkannya.


Dor! Dor!


“---!!??” Gumpalan merah muda itu mengeluarkan suara menjijikan.Suaranya tidak bisa dikenali, terdengar asing di telinga. StrategI Shinnichi berhasil.


Gumpalan itu tiba-tiba mengkerut. Mundur dengan kecepatan dan gerakan tak terduga. Seperti tumbuhan putri malu. Menyingkapkan ratusan bahkan ribuan tulang di bawahnya, berasal dari monster yang berbeda. Entah sejak kapan mereka berkumpul di situ, Shinnichi tidak tahu.


“Bagus,” puji Schwarz. “Jangan sampai lengah. Kau tidak mau terperangkap.”


“Oh, tentu saja. Aku tidak mau dekat-dekat dengan benda itu.”


Shinnichi bergidik ngeri. Ia tidak mau bertemu Emphiria secepat ini. Apalagi jika dengan cara seperti serangga. Ia melanjutkan langkahnya. Mencoba menahan suara berderak dari tulang patah yang diinjaknya. Berhati-hati agar ia tidak jatuh. Entah kenapa, firasatnya tidak enak.


❂❂❂❂❂❂


Lantai ke-95 adalah lantai yang relatif kecil untuk ukuran Dungeon. Shinnichi bisa berjalan dari satu sisi ke sisi yang lainnya dalam waktu singkat. Dan hanya ada beberapa belokan, dan secara keseluruhan cukup mudah untuk ditelusuri jika seseorang memiliki pencahayaan.  Namun, gumpalan merah muda terus menerus menutupi jalannya.  Sedikit menjengkelkan, tapi bisa diatasi dengan dua atau satu Peluru Mana dari Dominator.


Ia sudah berada di sini selama dua jam. Namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia mulai berpikir bahwa gumpalan itu sudah memakan semua monster yang ada di sini. Tapi, jika itu yang memang terjadi, ia heran. Kenapa gumpalan itu bisa hidup sampai sekarang?


Yah, rasa penasarannya kini terpenuhi.


“Apa-apaan...” Shinnichi menatap dinding Dungeon di hadapannya.. Setengah penasaran, setengah heran. Ada sebuah tonjolan besar di permukaannya. Bentuknya lonjong, seperti cangkang telur.


Sesaat kemudian, tonjolan itu retak. Mengeluarkan sebuah sosok cokelat. Seekor monster tikus tanah yang ia lihat sebelumnya. Ia jatuh seperti baru saja dilahirkan. Sebagai bayi, wajahnya benar-benar sulit dilihat. Sebagai ganti matanya yang absen, sebuah hidung merah besar yang berbentuk seperti bintang menjadi indera utamanya. Ia meraba-raba tanah di bawahnya, insting pertamanya sebagai makhluk hidup.


Perut Shinnichi sedikit bergolak. Namun, ia menahannya. Ia mengaktifkan skill yang sudah lama ia tidak gunakan:[Appraisal].


『Spesies : Moguramon


Level : 1


Stats


Agi : 102


Atk : 152


Int : 9


Vit : 178


 


Skill


[Digging Proficiency] [Acute Sensory] [Claw Spin lvl.1]]』


Melihat status Moguramon, entah kenapa Shinnichi merasa sedikit iri. Seekor monster yang baru lahir memiliki status yang lebih tinggi darinya saat dulu. Dunia ini memang tidak adil.


Dor! Shinnichi langsung menembak monster itu mati. “Dasar Cheater.”


“.... Dia monster Great Dungeon tahu?”


“No comment.”


Shinnichi melanjutkan perjalanannya. Ia kini tahu bagaimana gumpalan itu masih hidup. Ia diberi makan oleh Dungeon. Gaya hidup yang lumayan untuk seekor monster.


“Aku harus meningkatkan levelku,” gumam Shinnichi. Bertekad untuk terus menjadi kuat. Membunuh monster adalah cara yang cepat, Shinnichi menyiapkan Dominator. Siap untuk menumpas segala macam monster yang muncul di hadapannya.


❂❂❂❂❂❂


“Hei, Schwarz. Aku bosan,” ujar Shinnichi beberapa saat kemudian. “Ceritakan aku tentang kakakmu.”


“Boleh saja, tapi kenapa kakakku?” Schwarz bertanya, agak heran.


“Yah, dia kan Dungeon Master. Ada kemungkinan aku harus melawannya untuk meninggalkan Dungeon ini bukan?”


“Kurasa kau benar.” Schwarz menerima penjelasan Shinnichi. Ia berjeda sedikit untuk berpikir. “Tapi, aku rasa kakak tidak akan bertarung denganmu. Ia berpikir bahwa perkelahiannya hanyalah konflik tanpa tujuan.”


“Oh, benarkah? Ia terdengar seperti tipe pintar. Yang suka membaca buku," ucap Shinnichi. Mulai tertarik.


“Suka? Ia mencintainya.” Schwarz tertawa kecil. “Lantainya adalah perpustakaan. Terisi penuh dengan buku dari segala pojok Zelfria. Kakakku adalah orang yang selalu haus akan pengetahuan.”


“Benarkah?” Mata Shinnichi berbinar.


Buku adalah hal kesukaannya. Seperti waktunya di kerajaan, jika ia tidak bersama sang Puteri, hampir pasti ia ada di perpustakaan. Sayangnya, koleksi buku yang ada di kamar Schwarz tidak bisa dibacanya. Buku itu tertulis dalam bahasa kuno yang sudah dilupakan. Bahkan Schwarz sendiri tidak tahu cara membacanya. Jadi, ia harap kakak Schwarz, Gram memiliki buku yang bisa ia baca.


“Setelah kupikir, Kakak juga diciptakan oleh Veil-sama, Dewi Pengetahuan, jadi tak terlalu mengherankan jika ia suka mengumpulkan pengetahuan.”


Shinnichi mendengar sesuatu yang aneh. Dewi Veil? Siapa itu?


“Hei Schwarz. Apa maksu-!?”


Sebelum bisa menyelesaikan perkataannya, Shinnichi merasakan sesuatu melesat ke arahnya. Ia melompat ke samping. Tepat waktu.


Cssstt! Sebuah desisan muncul dari tempatnya berdiri beberapa saat yang lalu. Lendir hijau tua. Asam, berasal dari depan.


“Mulai menyerang ya?” Shinnichi mendecakkan lidahnya. “Licik juga kau, sialan.”


Shinnichi mengarahkan Dominator ke depan. Ia mulai menembakkan Peluru Mana. Kali ini dengan kekuatan yang lebih besar, mengakibatkan efek recoil. Suara dentuman Dominator memenuhi lorong diikuti oleh suara daging yang terkoyak.


“----!!!??” Suara aneh itu kembali berteriak. Kali ini lebih “aktif”. Gumpalan merah muda besar terlontar ke arahnya, semacam projektil menjijikan yang dipenuhi lendir.


Shinnichi menebasnya menjadi dua dengan Abyssal Mist. Suara basah timbul saat kedua potongan itu menyentuh tanah. namun, itu bukan akhirnya.


Kedua gumpalan itu bergerak. Membentuk sesuatu yang aneh. Semacam makhluk bertangan dan berkaki yang tidak memiliki kepala.


“”Krua!””


Kedua makhluk itu menerjang ke arah Shinnichi. Namun, dengan satu ayunan, mereka terpotong menjadi dua. Mereka jatuh ke tanah. Namun, sekali lagi mereka bergerak. Kembali mengambil wujud monster kecil tanpa kepala. Empat monster itu kini mengincarnya.


“Mereka bisa membagi diri!?” Shinnichi berseru. Seharusnya ia menyadarinya saat membelah gumpalan itu menjadi dua.


“Serang induknya! Jangan biarkan dia memproduksi lebih banyak monster!” Schwarz memberikan perintah.


Shinnichi mengangguk. Ia merubah bentuk Abyssal Mist. Dari pedang menjadi bunga pala. Ia tidak bisa menggunakan senjata tajam.


Karena tak terbiasa, Shinnichi mengayunkannya dengan sedikit amatir. Ia menghantam tubuh keempat monster kecil itu. Menghempaskan mereka ke kegelapan di belakangnya. Masih hidup atau tidak, bukan urusannya.


Shinnichi menginjak tanah, berlari ke arah induk semang. Menghindari tembakan asam yang terus menerus mengincarnya. Sesekali memukul gumpalan merah muda yang ditembakkan ke arahnya seperti permainan baseball yang menjijikan.


Cahaya? Shinnichi menyipitkan matanya, melihat secercah sinar yang memberi pengelihatan itu. Tak lama kemudian, Shinnichi sampai. Di hadapannya, sebuah ruangan besar yang di terangi kristal sihir. Di sana, ia melihatnya.


Gumpalan merah muda memenuhi ruangan. Menggeliat dan mengejang dengan gerakan yang mengelikan. Setiap gerakan mengeluarkan lendir asam, terlihat dan tercium memualkan. Puluhan bangkai tergeletak begitu saja di tengah-tengah. Setengah tercerna, sebagian bahkan sudah tak berbentuk. Aroma busuk menyebar di udara. Seperti ruangan neraka yang menjijikan.


Sebuah ruangan yang terbuat dari daging. Itulah penjelasan paling sederhana yang bisa diberikan Shinnichi. Meninggalkan detail yang mampu menggolakkan perut orang terkuat sekalipun.


“---!!!”


Ruangan itu menyadari kedatangan Shinnichi. Ia mengkerut dan berkumpul menjadi satu gumpalan raksasa yang memenuhi setengah ruangan. Berubah menjadi gumpalan bertentakel. Sebuah monster yang meremas perut. Shinnichi tidak ingin melihatnya tapi, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari musuh.


Shinnichi mengaktifkan [Appraisal].


『Spesies : Blob Trapper


Level : 98


Stats


Agi : 313


Atk : 561


Int : 11


Vit : 709


Skill


[Acid Slime lvl.9] [Shapeshift lvl.3] [Duplication lvl.7]


Title


[Floor 95 Boss] [Great Trapper] [Repulsive Creature]』


“Bos lantai!” seru Shinnichi.


Sesuai namanya, bos lantai adalah monster yang menguasai sebuah lantai. Berperan sebagai ujian bagi para petualang yang ingin maju ke level selanjutnya. Stat dan levelnya berada di tingkat yang berbeda darinya. Monster di antara monster.


Shinnichi menelan ludahnya. Setidaknya ia beruntung, level kemampuan berubah bentuknya masih rendah. Ia tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan monster ini jika levelnya lebih tinggi.


“Shinnichi, siapkan dirimu!” Peringatan dari Schwarz memberinya kewaspadaan. Ia merogoh sesuatu dari kantong sebelum menjatuhkannya. Pertarungannya baru saja dimulai.


Setelah beberapa saat, monster itu, Blob Trapper selesai berubah bentuk. Sebuah badan besar yang menyerupai humanoid tanpa kepala. Mulut lebar dengan barisan gigi-gigi tajam terletak di tengah-tengah dadanya. Sepasang tentakel yang berperan sebagai tangannya, lengkap dengan kail di ujungnya. Dan meskipun tidak memiliki mata, Shinnichi bisa merasakan monster itu menatapnya.


“GRUUAA!!” Monster itu meraung dari “mulutnya”. Menerbangkan lendir asam ke arahnya. Shinnichi menghindar ke samping dengan mudah. Ia bisa mendengar desisan asam di dinding belakangnya.


FYUSH! Monster itu mengayunkan pasangan tentakelnya. Shinnichi melompat menghindarinya. Mengubah tangannya menjadi Dominator. Ia melepaskan pelurunya ke arah monster itu.


“GRRUUAAA!!” Dalam bentuk raksasa itu, pertahannya menjadi lebih tinggi. Peluru Dominator menjadi tidak berguna pada titik ini.


Blob Trapper berlari ke arah Shinnichi. Mengangkat kedua tentakelnya ke atas untuk membuatnya terlihat lebih besar. Menggunakannya seperti cambuk, ia terus menyerang Shinnichi.


“Ugh!” Shinnichi terkena salah satu cambukannya. Kail monster itu menyayat daging Shinnichi. Mengoyaknya semudah pisau memotong tahu. Rasa pedih menyerang bahu kirinya. Darah mengalir dari lukanya, Shinnichi menutupi lukanya.


“GRUAA!” Monster itu tidak berhenti. Ia kembali mengayunkan cambuknya. Menghantam Shinnichi tepat di dadanya.


“Sia- Bugh!” Shinnichi terhempas ke belakang. Tubuhnya mendarat di tumpukan tulang. Bukan tempat yang paling nyaman setelah dipukul oleh campuk. Ia bisa merasakan beberapa tulang menusuk punggungnya.


Blob Trapper tidak ingin memberi kesempatan pada mangsanya. Dari mulutnya, ia mulai meludahkan lendir hijau tuda yang menjijikan. Sekali kena, bahkan tulang tidak bisa bertahan lama.


Shinnichi menyadari ini. Ia menggertakan giginya lalu memaksa tubuhnya untuk bangkit dan berlari. Sembari menghindari lendir, ia merogoh bagian dalam bajunya dan mengeluarkan kalungnya yang lain, sebuah kristal biru. Mengalirkan Mana ke dalamnya, air mulai mengalir dari kristal itu. Air penyembuh Emphiria.


Dengan cepat, ia menenggaknya. Dan dalam sekejap, luka yang dialaminya sembuh seketika. Kemampuan penyembuhan kristal Emphirai benar-benar menakjubkan. Shinnichi selalu terkejut setiap kali meminum air segar itu.


Tak ada waktu untuk bersantai. Shinnichi berhenti, menghadap Blop Trapper. Merasa bahwa kemampuan asamnya tidak terlalu efektif, ia kembali mengirim cambuk tentakelnya. Shinnichi tidak menghindar, sebaliknya, menggunakan tangan kanannya,  “Hup!” ia menangkap Tentakel itu. Tak menyangkanya, Blop Trapper mengirim tentakel satunya. Shinnichi menangkapnya dengan tangan kirinya, lebih menyakitkan dari yang pertama, tapi ia berhasil menangkapnya.


Memainkan permainan tarik tambang menggunakan tentakelnya, Shinnichi menggenggam kedua tentakel itu. Dengan sekuat tenaga, ia menariknya. Hampir membuat Blob Trapper kehilangan keseimbangannya.


Geram, ia meraung, “GROAAA!!” lalu menarik Shinnichi ke arahnya.


Shinnichi tersenyum singkat, menyangka hal ini. Menggunakan momentum itu, ia melesat ke arah Blob Trapper dengan kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti mata. Ia menghunuskan Abyssal Mist.


Ia menekuk tubuhnya dan berputar di udara. Dengan Abyssal Mist terhunus, ia mirip seperti bola berbilah. Lalu, ia bisa merasakannya. Abyssal Mist memotong daging merah mudanya. Ia memberikan kekuatan pada tangan kanannya. Mengayunkan pedang itu untuk membelah Blob Trapper.


Berhasil! Shinnichi mendarat di belakangnya. Tubuh Blob Trapper terpotong menjadi dua, namun tidak terpisah. Shinnichi tidak khawatir. Menggantung di pinggangnya, terdapat sepasang buah ungu Methanasian.


Shinnichi mengambil kedua buah itu lalu melemparkannya ke tengah-tengah tubuh Blob Trapper yang terbuka. Blob Trapper tidak menyadarinya. Ia meregenerasi tubuhnya lalu menghadap ke arah Shinnichi. Bersiap-siap untuk melanjutkan serangannya.


Namun, sebelum bisa mengambil bahkan selangkah.


BUUM! Sebuah ledakan menggoncangkan ruangan. Berasal dari dalam tubuh Blob Trapper, ledakan itu meledakkan monster itu menjadi berkeping-keping. Suhu tinggi ledakan ditambah dengan lendir yang mudah terbakar, mampu mencegah monster itu beregenerasi.


“Bos lantai ke-95, Blob Trapper, dikalahkan.”


Shinnichi bersandar di dinding. Terengah-engah, hampir jatuh kelelahan. Sebuah senyum kemenangan terlukis di wajahnya.