Re: Turning

Re: Turning
Quest dari Guild Petualang



“Jadi,” ucap Shinnichi. ”Ini tempatnya?”


Shinnichi menatap bangunan dua lantai di depannya. Sebuah tameng serta sepasang pedang bersilang terpasang di atap. Menjadi semacam logo tempat itu. Di samping, puluhan gerobak penuh dengan senjata dipasang dengan puluhan ekor kuda berotot. Jauh berbeda dari kuda yang sering dilihat menarik kereta kuda biasa.


Di luar, terdapat puluhan orang berzirah dan berjubah. Senjata seperti Greatsword, pedang, pisau, tombak, bahkan tongkat sihir dipegang mereka. Entah berbicara antar satu sama lain atau memeriksa peralatan mereka, ada satu kata yang akan selalu muncul: Adventurer atau Petualang.


Benar, Shinnichi dan Genia berdiri di luar gedung organisasi terkenal di dunia fantasi. Guild Petualang.


“Menurut Annie-san, ini tempatnya…” Genia menjawab. Bersembunyi di belakang Shinnichi, sedikit ketakutan di bawah pandangan buas para petualang.


“Tsk.” Shinnichi mendecakkan lidahnya. “Abaikan saja mereka. Ayo.”


Shinnichi masuk ke dalam. “B-baik!” Genia mengikuti di belakangnya.


Suasana di dalam tidak jauh berbeda dengan yang di luar. Orang berwajah sangar duduk di dalam. Meminum gelas besar alkohol dan semacamnya. Bau samar ale dan bir dapat tercium bahkan sebelum ia masuk ke dalam.


Shinnichi bahkan tidak melirik mereka dan langsung berjalan ke arah meja resepsionis. Seorang pemuda Beastkin beruang di balik meja menyadari kedatangan mereka. “Tuan Shinnichi?”


Shinnichi hanya mengangguk. “Terima kasih sudah datang.Tolong, ikuti saya.” Mendapatkan konfirmasi dari Shinnichi, pemuda itu berjalan membimbing kedua orang itu.


Shinnichi dan Genia mengikuti di belakangnya. Menaiki tangga ke lantai dua dan memasuki sebuah ruangan rapi. Sepasang sofa merah dan meja di tengah-tengah menjadi penarik perhatian. Selain itu, hanya ada lemari dan rak di dalam ruangan. Berbagai macam bagian monster dipamerkan di situ. Bahkan sebuah kepala Harimau Bertanduk yang diawetkan digantung di atas dinding.


“Silahkan duduk dan mohon nikmati makanan kecil yang sudah kami sediakan. Saya akan memanggil Ketua.” Pemuda itu menyilahkan.


Shinnichi memanfaatkan kesempatan itu. Ia langsung duduk santai di atas sofa kemudian mengambil beberapa kacang yang dilemparkannya ke dalam mulut. Genia mengikutinya, meskipun sedikit lebih sopan. Mengikuti Shinnichi ia juga memakan makanan yang tersedia.


Si pemuda Beastkin beruang itu menatap tidak percaya selama beberapa saat. Sebelum pergi memanggil sang Ketua Guild.


“Shinnichi-sama.” Genia menarik jubahnya. “Kenapa kita datang ke sini?”


“Aku tidak tahu.” Shinnichi mengangkat bahunya. Ia mengeluarkan sebuah apel, tidak menyukai rasa kering kacang. “Dilihat dari persiapan dari luar, sepertinya ada quest pemburuan besar-besaran atau sebuah ekspedisi penjelajahan dalam dungeon.”


“Oh!” Genia menatap Shinnichi kagum. Pengetahuan luas Shinnichi selalu mengejutkannya.


Shinnichi hanya diam. Ia merasa sedikit malu karena mengerti apa maksud tatapan Genia itu. Padahal pengetahuannya ini tercipta karena dirinya yang terlalu banyak bermain game, menonton anime atau membaca novel ringan fantasi. Pengetahuan otaku memang membantunya, tapi mendapat tatapan seperti itu terasa sedikit menusuk.


“Cermat juga kau, anak muda.” Sebuah suara dalam terdengar dari arah tangga.


Shinnichi menoleh. Seorang pria tua kekar berambut abu-abu panjang memasuki ruangan. Sepasang telinga serigala yang koyak setengah menghiasi kepalanya. Menandakan rasnya, seorang Beastkin serigala.Ia duduk di seberang Shinnichi.  Shinnichi bisa menebak siapa dia.


“Kau ketua Guild?” tanyanya memastikan.


“Benar, namaku Jagger Cane. Senang bertemu denganmu, Shinnichi Kurobane.” Jagger menundukkan kepalanya sedikit.


Shinnichi mengangguk. “Lalu, apa yang kau inginkan?” Shinnichi menggigit apelnya. Langsung ke inti.


“Tolo-“


“Boleh aku tolak?” Shinnichi memotong perkataan Jagger.


“H-huh? Aku bahkan tidak menyelesaikan perkataanku….”


“Tak perlu. Aku tahu kau akan mengatakan ‘Tolong selamatkan kami!’ atau ‘Tolong! Bantu selamatkan kota ini!’.” Shinnichi menebak perkataannya. Tepat hingga ke tanda baca. “Bisakah aku menolak? Hari ini juga hari di mana kami akan pergi dari sini.”


“….” Jagger menatap pemuda di depannya. Selama 40 tahun hidupnya sebagai petualang, ia sering bertemu dengan orang seperti Shinnichi. Orang egois yang sepertinya tahu semua. Fakta bahwa ia tidak terikat dengan kota ini juga menjadi alasan lainnya.


“Beberapa minggu yang lalu, sekumpulan monster kadal, Meiolania, muncul di bagian Utara Iedrich. Memblokir jalan utama dan menghalangi lajunya perdagangan dengan Kerajaan Birre.” Jagger menjelaskan. “Tak hanya itu, jumlah mereka bertambah setiap harinya. Mereka yang awalnya hanya terdiri dari beberapa belas, kini menjadi puluhan. Digabungkan dengan jumlah dan pertahanan alami mereka yang tinggi, pasukan alami mulai terbentuk. Jika ini terus dibiarkan, dalam beberapa hari, Iedrich akan hancur jika mereka menyerang.”


Shinnichi diam. Mendengarkan perkataan Jagger, tanpa mengatakan apa-apa. Genia merasakan suasana sekitar menjadi dingin.


“Ratusan orang, tidak. Bahkan ribuan orang, laki-laki atau perempuan. Muda maupun tua. Kau tahu apa yang akan terjadi kepada mereka jika Iedrich jatuh?” tanya Jagger. Matanya tajam, menatap jiwa Shinnichi.


Shinnichi mengangkat bahunya. “Lalu?”


“Kau… Kau tidak punya simpati untuk oranglain?” Jagger melemparkan tatapan menuduh kepada Shinnichi. Menanyakan moral pemuda itu.


Shinnichi melirik ke arah Genia. Gadis itu balik menatapnya penasaran. “Aku ingin menjawab tidak, tapi aku sepertinya aku masih memilikinya.”


“Lalu, kenapa?”


Shinnichi menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. “Aku tidak mau berlama-lama di sini. Aku juga punya urusanku sendiri. Lagipula, kenapa kau perlu bantuanku? Bukankah para Petualang di luar sana cukup?”


“Sayangnya tidak. Quest ini hampir mencapai tingkat S. Sedangkan kebanyakan Petualang di sini memiliki peringkat C dan B. Dengan level mereka saat ini, sepasang Troll pun bisa mengalahkan mereka semua.”


Penjelasan Jagger terdengar seperti keluhan. Orang kuat memang jarang ditemukan ditempat seperti ini. Kota damai seperti Iedrich bukanlah tempat untuk petualang yang ingin menjadi kuat. Kota ini lebih cocok untuk para pengembara yang ingin menetap atau orang-orang yang ingin kedamaian.


“Lalu, alasan kami memanggilmu ke sini….”


❂❂❂❂❂❂


“Urgh, aku benci ini.” Shinnichi mengeluh agak keras. Membuat petualang yang ada di dekatnya memelototinya. "Lambat sekali. Tak bisa lebih cepat ya?"


“Shinnichi-sama, orang lain bisa mendengarmu….” Genia mengingatkan Shinnichi. Jika tatapan bisa membunuh, ia sudah mati beberapa kali.


Shinnichi tidak memberikan mereka perhatian sedikitpun. Ia mengambil sebuah apel lalu mulai memakannya. Gerakan mengunyah ditambah dengan rasa manis dan asam apel, membuatnya sedikit tenang.


Saat ini, ia sedang menumpang sebuah kereta kuda. Diiringi oleh beberapa petualang. Tentu saja keluhan seseorang yang menumpang akan diterima secara negatif oleh orang lain yang berjalan kaki.


Kereta yang berisi senjata itu kini sedang menuju lokasi sarang Meiolania. Sejauh ini, perjalanan mereka cukup lancar. Tentu saja, kereta kuda yang dinaikinya ada di belakang. Shinnichi tidak tahu apa yang terjadi di depan.


“Bocah, lebih baik kau jaga mulutmu itu.” Seorang Beastkin rubah menggeram dari samping. Tidak menyukai perilaku Shinnichi yang tidak sopan.


“Benar, meskipun ketua Jagger memilihmu. Bukan berarti kau spesial,” timpal seorang pemuda Elf di samping beastkin itu.


“…..” Shinnichi diam. Ia mendengar mereka, tapi memilih untuk tidak menjawab. Ia menggigit sebuah apel tanpa menghiraukan mereka. Melempar kayu ke dalam perapian. Petualang lain geram melihat sikap Shinnichi yang tidak tahu malu.


“Shinnichi-sama….” Genia sedikit mengkhawatirkan sifat penyelamatnya.


Genia baru bersama Shinnichi selama tiga hari. Namun, selama tiga hari itu ia tahu sifat Shinnichi. Di balik sikap apatisnya, terdapat hati yang baik. Meskipun, Genia meliriknya lagi.


“Tunggu, mereka bisa memegang senjata dan memakai sihir? mereka monster ‘kan? Yang benar saja. Di dalam Dungeon saja tidak ada monster yang memakai senjata dan sihir pada saat yang bersamaan. Schwarz, beritahu kelemahan mereka.”


“….”


Kekhawatiran Genia semakin bertambah setiap hari.


❂❂❂❂❂❂


“Berhenti!” Seorang pria tampan berambut pirang memberi perintah. Zirah emasnya berkilauan di bawah matahari senja.


Gruzzex Jackiel adalah anak dari seorang Earl yang menguasai daerah sekitar Iedrich. Disuapi dengan sendok emas sejak kecil, ia tumbuh menjadi seorang pria berkemampuan hebat namun dengan sifat sombong. Tentu saja, sifat sombong itu bisa dipertanggungjawabkannya.


Gruzzex adalah salah satu petualang terkuat di Iedrich. Peringkat A, peringkat tertinggi kedua setelah S. Ia selalu berpikir bahwa ia adalah yang terkuat. Tak ada monster atau orang yang bisa mengalahkannya.


Karenanya, ia berpikir bahwa misi pemberantasan ini akan berlangsung dengan mudah. Pasukan yang dipimpinnya berhenti di dekat sebuah gua. Lebar mulutnya mungkin tidak mencapai tiga meter, namun Gruzzex tahu betapa luasnya gua itu di dalam.


Di mulut gua, terdapat sekelompok Meiolania; mungkin ada 20 atau lebih. Dengan sederhana, mereka bisa digambarkan sebagai “Manusia kadal.” Berdiri dengan tinggi rata-rata 190 cm, mereka adalah ras monster reptilia yang memiliki sisik biru keras dan kecerdasan di atas rata-rata. Memakai zirah dan senjata bernoda darah yang mereka curi dari petualang yang dikalahkan, penampilan mereka lebih menyeramkan daripada monster biasa.


Gruzzex menoleh ke arah pasukannya. Karavan panjang terbentuk di belakangnya. Ia membawa lebih dari seratus petualang. Keberhasilan mereka hari ini berada di tangannya sebagai pemimpin. Ia menoleh ke arah salah satu bawahannya.


Bawahannya mengangguk sebelum pergi melaksanakan perintahnya. Dalam setengah jam, 14 penyihir berkumpul. Penampilan mereka relatif sama; jubah longgar dengan tongkat sihir dan mungkin sebuah topi. Namun, ada seseorang yang menarik perhatiannya.


Seorang pemuda berambut hitam dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang mirip ikan mati. Di belakangnya, seorang Beastkin kelinci, budaknya mungkin. Berbeda dengan penyihir lainnya, ia tidak membawa sebuah tongkat sihir. Penampilannya juga lebih cocok dengan seorang Assassin daripada penyihir. Gruzzex curiga.


“Penyihir, siapkan sihir terkuat kalian. Pemanah akan memancing para Meiolania keluar. Saat aku memberikan tanda, lepaskan sihir kalian.” Gruzzex menjelaskan rencananya. Simpel dan efektif. Ia menoleh ke arah Shinnichi. “Jika ada dari kalian yang berani menghalangi, harga tinggi menunggu.”


Para penyihir mengangguk mengerti. Mereka tahu siapa Gruzzex itu. Satu kata darinya, mereka bisa langsung kehilangan nyawa. Mereka mulai mengucapkan mantera panjang yang dibutuhkan untuk sihir mereka. Namun, pemuda berambut hitam itu hanya diam.


Gruzzex meruncingkan tatapannya. Tidak memperhatikannya lagi, ia membalikkan badannya untuk menghadap monster reptil itu. Di balik pepohonan lebat dan di bawah perlindungan sihir, monster dengan hidung tertajam pun tidak akan bisa menemukan mereka.


Gruzzex memegang gagang pedang satu tangannya. Ia menghirup nafas sebelum melangkah keluar dari pepohonan.


“Krya?”


“Tss! Krya! Krya!”


Meiolania menyadari kehadiran Gruzzex dan menjadi waspada. Monster-monster itu menatapnya lekat. Seorang manusia, di wilayah mereka? Tak bisa diampuni.


Para Meiolania berdesis kesal. Suaranya mengingatkan seseorang terhadap ular kobra.


Gruzzex mengangkat tangannya. Meiolania memiringkan kepala mereka bingung.


Gruzzex berseru sekuat tenaga. “PEMANAH! SEKARANG!”.


Menerima perintah, grup pemanah melepaskan senar mereka. Puluhan anak panah terbang seperti peluru. Membelah angin dan menutupi langit. Meiolania menyadari apa yang terjadi. Hujan anak panah turun ke permukaan bumi.


Beberapa melarikan diri, sementara sebagian besar maju ke arah Gruzzex. Naas, banyak dari mereka yang tertusuk. Beberapa anak panah yang beruntung menancap mata beberapa Meiolania, membunuh mereka seketika. Namun, masih ada sepasukan yang masih hidup.


“KRYAA!” Raungan Meiolania menggema dari dalam gua. Puluhan ekor Meiolania keluar.


Mata Gruzzex membulat. Meiolania yang keluar dari gua melebihi angka yang diberitahukan kepadanya. Jumlah mereka melebihi seratus ekor!


“Sial! PENYIHIR! SERANG!” Gruzzex memberi perintah. Dalam sekejap, sihir yang menutupi pasukannya menghilang. Di depan, puluhan penyihir melemparkan sihir mereka


Meiolania menyadari serangan itu dan mulai berlari ke depan.


“[Lightning Magic : Lightning Strike]!”


“[Wind Magic : Whirlwind Screech]!”


“[Fire Magic : Flaming Wave]!”


Rentetan sihir level menengah menyapu medan pertempuran. Angin yang mampu memotong tubuh, petir biru menyambar ke arah Meiolania, bumi bergoncang dan melemparkan bebatuan, gelombang api menggulung dan membakar semua yang ada di hadapannya. Pemandangan yang menyerupai neraka menimpa pasukan Meiolania.


Hasilnya? Hanya selusin ekor Meiolania mati. Sisanya, sekitar 98 ekor, relatif baik-baik saja.


“Apa!?” Gruzzex menggertakkan giginya. Tidak mempercayai matanya sendiri. Pertahan Meiolania bukan hanya isapan jempol semata.


Gruzzex menarik pedangnya. Bersiap untuk bertempur. Ia meneriakkan perintahnya. “SERANG!”


Gruzzex berlari ke depan. Seratus sembilan belas petualang mengikuti di belakangnya. Menghunuskan pedang, kapak, tombak dan senjata lainnya. Pertempuran antara monster dan petualang meletup.


“Makhluk rendahan!” Gruzzex mengayunkan pedangnya. Bilah tajamnya mengarah tepat ke arah leher seekor Meiolania. Monster itu tidak menangkisnya.


“-!?”


Gruzzex kembali membulatkan matanya. Percikan api keluar saat pedangnya menyentuh sisik Meiolania. Pertahanan alami monster itu dengan mudah menahan sihir dan pedang!


Gruzzex mundur, Meiolania maju menyerang. Gigi tajam yang dipamerkannya seolah-olah tersenyum menghina.


Meiolania itu mengayunkan pedang berkaratnya. Gruzzex mengangkat pedangnya, menangkisnya. “-!” Tangannya langsung kaku saat menerima serangan Meiolania.


Monster itu tidak menyerah. Ia terus menyerang Gruzzex. Menggunakan serangan yang sangat dasar. Seperti seorang anak kecilyang mengayunkan ranting. Tak bisa menghadapi teknik dasar itu, harga diri Gruzzex terluka.


Namun, apa guna teknik di hadapan kekuatan hebat? Gruzzex hanya bisa menangkis. Sesekali menerima serangan kuat. Zirahnya yang terlihat begitu berwibawa dan kokoh kini berantakan dan rusak. Tanpa disadarinya, ia dan pasukannya mulai terpukul mundur. Jumlah mereka mungkin lebih banyak, tapi pertahanan dan kekuatan musuh jauh lebih besar. Mereka tidak bisa menandinginya.


Di barisan depan, Gruzzzex mulai kewalahan. Tiga Meiolania kini menyerangnya dengan ganas. Ia hampir kehilangan nyawanya beberapa kali. Tapi, sepertinya keberuntungan itu sudah habis. Sebuah bola api meghantam dadanya. Panas api dan ledakan yang muncul karenanya menjatuhkan Gruzzex.


Di belakang pasukan Meiolania, sekilas ia bisa melihat pelakunya. Seekor Meiolania bersisik ungu yang memegang tongkat sihir. Gruzzex kini menyadari betapa berbahayanya pasukan ini. Menyerah di sini bukanlah pilihan, Gruzzex mencoba meraih pedangnya. Namun, seekor Meiolania mengayunkan pedangnya tepat ke arah kepalanya.


“Krya!”


Kematian sudah dekat, ia akan datang. Gruzzex bisa merasakannya dan ia tidak mengalihkan pandangannya. Setidaknya ia akan menyambutnya dengan bangga. Beruntung untuknya, kematian tidak datang untuknya.


Zuu! Sesuatu melesat melewatinya. Sekejap kemudian, suara mirip semangka pecah terdengar. Kepala Meiolania meledak di hadapannya. Darah memuncrat ke mana-mana. Tubuh monster itu jatuh tak bernyawa.


“A-apa?” Gruzzex tidak mempercayai matanya. Seekor Meiolania yang secara praktis kebal terhadap serangan fisik dan sihir, mati dengan kepala hancur?


Medan pertempuran seolah-olah berhenti. Bahkan para Meiolania tidak mempercayainya. Seseorang dari kaum mereka mati begitu saja? Siapa yang melakukannya?


Semua pandangan kini menghadap ke arah datangnya serangan itu. Seorang pemuda berambut hitam dengan tangan kanan yang aneh. Matanya yang mirip ikan mati itu kini menatap tajam ke arah pasukan Meiolania. Di mulutnya, sebuah apel yang setengah termakan. Tak mengatakan apa-apa, ia mengarahkan tangannya ke arah Meiolania lain.


Dari pandangan orang lain, bagian dalam silinder yang menempel di tangan pemuda itu mulai bercahaya. Dengan sebuah sentakan, seekor Meiolania lain mati dengan mudah. Sama dengan yang pertama, kepala meledak.


“KRYA!”


Setelah rekan kedua mereka mati, para Meiolania akhirnya sadar. Para Meiolania kini menargetkan pemuda itu. Namun, ia tidak akan membiarkannya begitu saja.


Pemuda itu mengangkat tangan kirinya ke atas.


“A-apa ini!?”


“Kyaa!”


“Woah!”


“Shinnichi-sama!”


Bayangan seratus dua puluh petualangan tiba-tiba menjadi hidup. Membentuk sebuah kubah yang melindungi mereka. Suara petualang terendam oleh bayangan itu.


Pemuda itu meraih apel di tangannya dengan tenang. Mengigitnya sekali sebelum melemparkannya ke samping. Ia kembali mengarahkan tangannya ke arah musuh.


“Jagger sialan itu. Mana kutahu kedua bodyguard itu dua petualang terkuat di sini. Merepotkan saja.” Shinnichi menggerutu kesal. “Petualang terkuat kok kalah karena kejatuhan orang.”


“Kraa!”


“Krya!!”


“Gryaa!”


Pasukan Meiolania itu semakin mendekat. Melewati puluhan kepompong hitam yang dipenuhi orang. Pemandangan itu terlihat seperti lukisan mimpi buruk.


“Kau coba ditimpa **** seberat 110 kilogram yang dilempar dalam kecepatan tinggi.” Schwarz mengomentari gerutuannya.


“… Benar juga sih.”


Ia melesat ke arah pasukan Meiolania itu. Abyssal Mist di tangannya.