
Tanpa disadari, satu bulan berlalu. Seperti awan yang melewati kanvas biru raksasa di atas. Melayang pelan sebelum menghilang dengan pasti.
Shinnichi berdiri di depan kamar sang Puteri.
Sudah lebih dari dua minggu sejak ia terakhir berbicara dengannya. Itupun hanya berbalas sapa.
Ia merasa gugup. Terutama hari ini. Hari di mana utusan ras Iblis datang.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin ini suatu negosiasi, espionase, atau bahkan deklarasi perang. Namun, saat ini di pikirannya hanya ada satu; Dampingi Fiona, apapun yang terjadi.
Shinnichi mengambil nafas dalam-dalam. Ia mengetuk pintu besar itu.
"Masuk."
Suara familiar terdengar di dalam. Sudah lama ia tidak mendengarnya. Terasa menenangkan.
Shinnichi membuka pintu. Masuk ke dalam lalu menutup pintu.
Di dalam, ia bisa melihat sosok sang Puteri. Menatap keluar jendela. Membelakanginya.
Memakai gaun biru dengan rok mengembang. Kulit putih pucatnya terlihat berkilau di bawah sinar matahari. Surai birunya yang dihiasi tiara terurai indah. Bagaikan permen kapas yang dibubuhi permata.
Shinnichi tertegun. Di hadapan kecantikan bak lukisan, ia tidak bisa bergerak.
Merasakan sesuatu, Fiona membalikkan badannya. Menatap orang yang memasuki kamarnya. Pemuda berambut hitam bernama Kurobane Shinnichi.
Iris azure Fiona membulat. Ia langsung menghampiri Shinnichi.
"—!?"
Fiona memeluk Shinnichi. Merangkulnya tanpa keraguan sedikitpun.
"Fi-Fiona-sama?!" seru Shinnichi. Terkejut atas sambutan yang tiba-tiba ini. "A-ada apa?"
Fiona tidak mengatakan apa-apa. Sebaliknya, ia mengeratkan pelukannya. Hanya nafasnya yang bisa Shinnichi dengar.
Suhu tubuhnya dingin, seperti biasa. Rasa dingin yang lembut. Familier, menenangkan.
Shinnichi menutup matanya. Ia tersenyum kecil. Mengembalikan pelukan sang Puteri.
Ia merasa lega.
✾✾✾✾
Victoria penuh dengan hiruk pikuk. Jalanan dipenuhi oleh pedagang. Menjajakan barang-barang mereka kepada orang-orang yang berlalu.
Mereka sedang mengambil keuntungan yang ada.
Hari ini adalah hari di mana utusan dari Grimer datang ke Ibukota. Entah karena didorong kemarahan, kebencian, atau bahkan rasa penasaran, rakyat berbondong-bondong datang ke kota.
Ledakan pengunjung ini tentunya dipandang sebagai kesempatan emas. Kamar di penginapan-penginapan penuh, pasar ramai pembeli, dan jalanan penuh dengan pengelana. Masing-masing memiliki pemikiran tersendiri.
Namun, mereka memiliki satu kesamaan; mereka tertarik dengan ras Iblis.
Keputusan kerajaan dapat mempengaruhi hidup mereka. Demi mendapatkan jawaban yang mereka inginkan, Manusia berdoa kepada Dewi.
Tengah hari, bel kota berdentang. Bergema dari setiap sudut kota. Memberitahu kepada penduduknya.
Iblis telah datang.
Gerbang di sisi Utara kota terbuka. Memberi jalan untuk sebuah kereta kuda hitam. Bagian dalamnya tertutupi tirai merah. Bagian luarnya dihiasi oleh ornamen emas dan dilapisi permata. Roda emasnya berputar dengan lancar.
Di pintunya terdapat sebuah lambang. Seekor hydra emas berkepala empat yang sedang memegang sebuah perisai hitam bersimbolkan neraca putih.
Tak sesuai dengan kereta mewah itu, hewan penariknya terlihat diambil dari mimpi terburuk seseorang. Layaknya hewan dari neraka, sepasang Kuda Kerangka menarik kereta tersebut.
Asap biru keluar dari rongga mata. Seperti api jiwa mereka dipaksa menyala dan perlahan-lahan mulai padam.
Rahang mereka terbuka dan menutup. Berusaha menarik nafas dari kubur.
Di tubuh mereka, tak ada daging yang menempel, hanya sendi berwarna merah muda pucat yang tersisa. Tulang mereka berderak dengan setiap langkah. Seolah-olah kaki mereka bisa hancur kapan saja.
Sepanjang jalan, orang-orang menatap kereta kuda itu dengan ketakutan. Mengintip dari celah jendela atau belakang pintu. Tidak ada yang berani mendekat.
Bagi rakyat biasa yang tidak pernah melihat monster, pemandangan itu memancing teror di hati. Bagi petualang, mereka merasakan aura yang jahat, seperti tunggangan kematian itu sendiri.
Hiruk pikuk kota berubah menjadi kesunyian yang mencekam.
Wanita menahan nafas mereka. Pria memberanikan diri mereka. Orang tua menutupi mata anak mereka.
Tak peduli dengan reaksi orang-orang, mereka tetap berjalan ke depan. Menarik kereta kuda. Beranjak ke tengah ibukota. Menuju Istana Gading.
✾✾✾✾
Shinnichi berjalan di belakang sang Puteri. Menyesuaikan langkahnya agar ia tidak melewatinya. Seorang pelayan harus selalu di belakang tuannya.
Mereka sudah mendengar pesan dari gerbang Selatan; Iblis telah tiba. Kini, mereka dipanggil ke gerbang istana. Tugas sang Puteri adalah menyambut mereka.
Tentu saja ia tidak sendirian. Selain Shinnichi, beberapa kompi pasukan sudah siaga di sekitar. Selain memperlihatkan kekuatan, mereka juga bertugas untuk menjaga keamanan istana.
Yang mereka hadapi adalah ras Iblis. Siapa tahu mereka membawa niat buruk.
Fiona dan Shinnichi berjalan melewati barisan ksatria. Berdiri tanpa bergerak seperti patung. Fiona tidak menghiraukannya dan berjalan menuruni tangga. Berhenti di anak tangga terakhir.
Menghadap taman yang merangkap sebagai tempat berhentinya tamu kerajaan. Kicauan burung yang damai tidak sesuai dengan suasana tegang di situ.
Ini pertama kalinya kerajaan melakukan kontak dengan Iblis selain di medan pertempuran. Situasi tegang ini tidak dapat dihindari.
"Kurobane-sama." Fiona memanggil Shinnichi. Menoleh ke arahnya dengan ekspresi khawatir.
"Tenang saja, Fiona-sama." Shinnichi tersenyum. Menenangkan sang Puteri dan dirinya. "Aku di sini."
Fiona perlahan tersenyum. Ia mengangguk mantap. Keraguan dalam hatinya kembali sirna.
Fiona menatap gerbang istana yang tertutup rapat. Dinding tinggi juga menutupi pengelihatannya dari dunia luar. Seolah-olah mengurungnya di dalam.
Selama 15 tahun ia hidup, Fiona hanya pernah keluar dari istana tiga kali. Semuanya untuk menghadiri pernikahan ketiga saudarinya. Jadi baginya, ketika gerbang terbuka, itu adalah waktu yang spesial untuk Fiona.
Namun, ini bukan saatnya untuk berpikir hal seperti itu.
"Ras Iblis telah datang!"
Seruan datang dari atas dinding. Membuat semua orang di situ menegang.
Pintu gerbang mengeluarkan suara keras. Di dalam dinding, puluhan orang memutar katup besar. Menarik rantai besar, membuka pintu gerbang sedikit demi sedikit.
Sedikit demi sedikit pula mereka yang di dalam bisa melihat kereta kuda ras Iblis. Mata mereka jatuh ke hewan di depan kereta.
Semua orang menelan ludah. Mencoba mengumpulkan keberanian mereka. Di hadapan hewan mengerikan itu, ksatria sekalipun, kaki mereka terasa lemah.
Derakan tulang mulai terdengar. Perlahan mendekat. Seperti kematian yang mengikuti semua orang.
Fiona mencoba menahan rasa takutnya. Ia harus tegar. Shinnichi ada di sisinya.
Shinnichi juga. Menahan keinginannya untuk berlari dari tempat itu, ia menanamkan kakinya yang mulai gemetar. Pengalamannya di dunia asalnya, berbagai macam game, anime maupun novel, tidak mempersiapkannya untuk hal sebenarnya.
Meskipun tidak ada kusir, kereta kuda itu berhenti di depan Fiona. Seperti mengetahui waktu dan tempat yang tepat.
Pintu kereta kuda terbuka lambat. Memperlihatkan interior merah. Tiga sosok yang menempatinya keluar.
Yang pertama adalah seorang wanita tinggi. Surai perak-birunya terurai bebas hingga pinggangnya. Tubuhnya tertutupi gaun hitam terbelah. Memamerkan belahan dadanya dan kaki mulusnya. Memberikan aura dewasa yang sensual.
Yang kedua adalah seorang gadis kecil berekspresi lembut. Surai bob-nya memiliki warna yang sama dengan Shinnichi dan Yonaka; hitam kelam. Pakaian gothic hitamnya membuat gadis itu terlihat seperti sebuah boneka porselen.
Di belakang mereka, seorang pemuda berdiri tegap. Rambut putihnya terlihat kontras dengan kulit gandumnya. Memakai tunik hitam-putih, sepasang gauntlet emas-merah terpasang di tangannya.
Jika dilihat sekilas, seseorang tak akan melihat keanehan atau perbedaan antara mereka dan manusia biasa. Namun, sebuah lirikan ke arah kepala mereka membuat perbedaan besar.
Sepasang tanduk di kepala mereka. Masing-masing memiliki bentuk yang berbeda.
Si pemuda memiliki dua tanduk pendek yang mirip domba. Si gadis memiliki sepasang tanduk panjang serupa antelop. Si wanita memiliki bahkan memiliki dua pasang tanduk naga di kepalanya dan sepasang sayap di punggungnya.
Tak salah lagi, mereka adalah Iblis.
"°≈~•≈~•ʊ? `¶≈∞~•"
"~•~*~? Ω≈~•~≠°"
"¶_~≠≈•..."
"~•°•|≈X~"
Mereka bertiga berbicara dengan bahasa yang asing bagi manusia. Hampir tidak ada yang tahu pembicaraan mereka. Dan itu membuat suasana menjadi lebih tegang.
Kecuali seorang pemuda di belakang sang Puteri. Shinnichi hampir tidak bisa mempercayai telinganya. Sepertinya skillnya [Language Comprehension] mulai bekerja. Ia bahkan bisa mengerti setiap kata.
Percakapan macam apa ini?
Sebelum bisa mengajukan pertanyaan, wanita Iblis maju ke depan. Tersenyum lembut, ia berdiri di depan sang Puteri.
"Salam, wahai Manusia." Wanita itu menyapa dalam bahasa manusia. "Diri yang satu ini adalah Fusena Madoya Yuwa, perwakilan dari ras Iblis."
"Ah." Fiona tersadar. Ia memegang gaunnya lalu membungkuk. "Saya Fiona Throst Victoria Ainsworth. Puteri keempat Raja Albert Throst Victoria Ainsworth III dari Victoria. Saya bertugas sebagai wali untuk kerajaan Victoria."
"Ah, Puteri kerajaan." Fusena mengangguk. "Maafkan ketidaksopanan diri yang satu ini. Bahasa Manusia sulit dipelajari."
"Tak apa, Fusena-dono. Saya mengerti." Fiona gantian mengangguk. Mencoba terlihat pantas sebagai seorang Puteri dan tidak terlihat ketakutan. "Lalu, kedua orang di belakang anda?"
"Ah, benar. Mereka berdua bersamaku." Fusena menoleh ke belakang. "Yang itu adalah Warstr terbaik kami, Endal Baskar."
Fiona dan Shinnichi menoleh ke arah sang pemuda, Endal. Ia tersenyum lebar lalu membungkukkan tubuhnya hormat.
"Dan gadis itu adalah Mágos kami, Haira Narasma Kayshil." Fusena mengenalkan gadis Lolita di sampingnya. Ia menunduk malu sambil mengangguk samar ke arah Fiona.
Fiona kembali mengangguk. Mengerti bahwa ketiganya merupakan utusan kekuatan Iblis. Namun, ia tidak tahu dua kata dari perkataan Fusena.
"Warstr? Magos? Apa itu?"
"Ah, artinya petarung dan penyihir, Fiona-sama." Shinnichi dengan cepat memberitahu sang Puteri. Ia mendapat anggukan serta terima kasih singkat darinya.
"Oh?" Fusena menatap Shinnichi kagum. "Apakah pemuda yang satu ini memiliki pengetahuan bahasa kami?
"Ah, tidak. Dia memiliki kemampuan untuk mengerti berbagai bahasa." Fiona yang menjelaskan.
"Ah, [Language Comprehension]. Menarik." Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Shinnichi. Membuat pemuda itu mundur beberapa langkah.
"F-Fusena-yu, u schwareze...." Haira mengingatkan Fusena agar tidak menakutinya.
"Ah, fa'trn invus. Insch tacti." Fusena menyentuh dadanya lalu meminta maaf. Menyadari dirinya tidak sopan.
"T-tak apa." Shinnichi gantian menunduk.
Fiona menoleh ke arah Shinnichi dan Fusena bergantian. Tidak mengerti cara kerja kemampuan Shinnichi.
"Pasangan anda menarik, Tuan Puteri." Fusena menoleh ke arah Fiona. "Siapa namanya?"
"-!? S-saya bukan pasangan sang Pu—"
"Terima kasih banyak. Namanya Kurobane Shinnichi." Tak membuang-buang waktu, Fiona menjawab.
"Fi-Fiona-sama!?"
"Ahem, kita sudah berlama-lama di sini. Anda semua pasti lelah. Bagaimana jika saya mengantar kalian ke kamar?" Fiona mengusulkan pendapatnya.
"Ah, tentu saja." Fusena mengangguk, tersenyum. "Ctrestum morvi, tuan Puteri."
Fiona mengangguk, mengerti bahwa itu berarti terima kasih. Memutar tubuhnya dengan anggun, ia berjalan melewati Shinnichi. Pemuda itu tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh sang Puteri.
Selagi mengatur pikirannya, Shinnichi berjalan mengikuti Fiona. Seperti biasa, berada di belakangnya.
Sebelum mereka pergi, Haira menjentikkan jarinya. Kereta kuda serta Kuda Kerangka itu lenyap menjadi asap sebelum berkumpul menjadi sebuah bola kecil di atas tangannya. Ia menempelkan bola itu di kalungnya. Melayang bersama beberapa bola lain yang serupa.
Memikirkan bahwa monster-monster lainnya yang ada di bola-bola itu bisa dilepaskan kapan saja membuat ksatria yang melihatnya kembali ketakutan.
❂❂❂❂❂❂
"Jika anda membutuhkan sesuatu silahkan bunyikan lonceng di dalam kamar. Seseorang akan datang secepat mungkin."
"Ctrestum morvi, tuan Puteri. Diri yang satu ini akan menempatkan itu dalam pikiran." Fusena kembali menunduk kecil. "Shinnichi-ma, Fiona-denyu, terima kasih."
Kembali mengucapkan terima kasih, Fusena masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu dengan pelan.
Usai mengantarkan ketiga Iblis ke kamar mereka, Fiona merasakan kakinya menyerah. Sebelum jatuh, Shinnichi sudah siap. Ia menyangga Puterinya.
"Hati-hati, Fiona-sama."
"Ah, terima kasih, Kurobane-sama. Aku hanya merasa sedikit pusing." Fiona tersenyum kecil. Ia kembali memposisikan dirinya lagi, menyentuh kepalanya yang berdenyut. "Seumur hidupku, aku tidak pernah membayangkan bertemu dengan ras Iblis."
"Begitu ya? Jangan terlalu paksakan diri." Shinnichi berjaga-jaga agar Fiona tidak terjatuh. "Mari istirahat sebentar."
Fiona mengangguk. Menyetujui saran Shinnichi.
❂❂❂❂❂❂
"Yang Mulia, Iblis sudah datang ke istana."
Estoc melaporkan kedatangan tamu kerajaan kepada sang Raja.
"Bagus." Albert mengangguk syahdu. "Beritahu para Pahlawan. Malam ini, kita akan makan bersama mereka."
"Dimengerti, Yang Mulia."
Albert melambaikan tangannya. Menyuruh Estoc untuk pergi. Dengan menunduk hormat, Estoc mengundurkan diri.
Albert mengadahkan kepalanya ke atas. Menatap langit-langit yang dipenuhi lukisan renaisans. Di tengah-tengah, terdapat seorang wanita cantik berambut hitam. Sebuah halo emas melayang di ubun-ubunnya. Panggilan Dewi cocok untuknya.
Wajah datar Albert kini membentuk sebuah senyum. "Fuhaha...." Albert mulai terkekeh. Perlahan berubah menjadi tawa. "Hahaha."
"HAHAHA! SEBENTAR LAGI, AQRINA-SAMA! KEDATANGANMU AKAN HAMBA SAMBUT DENGAN MERIAH!"
Terdengar seperti orang gila, gelak tawanya menggema di ruangan.