Re: Turning

Re: Turning
The Princess' Offer



Shinnichi menghela nafas. Mencoba mengabaikan kekecewaan besar yang dirasakannya. Saat ini, ia sedang duduk di taman istana. Jauh dari lapangan tempat mereka tadi.


"Apakah kau benar-benar seorang Pahlawan?"


Setelah mendengar perkataan Gregory, Shinnichi merasa hancur. Ia mungkin berasal dari dunia lain, tapi setidaknya ia cukup tahu. Statnya rendah, skillnya tidak berguna, ia bahkan tidak memiliki kelas. Benar-benar tidak berguna.


Izumi dan Yonaka mencoba menghiburnya. Ia merasa senang, tentunya. Tapi, semua itu hanyalah perkataan penuh lapisan gula.


Menerima kembali kartu statusnya, ia meminta izin untuk pergi. Mencoba menenangkan pikiran, alasannya. Sebenarnya Shinnichi tahu bahwa ia hanya akan menganggu jika ia tinggal. Gregory juga mengerti itu, ia membiarkannya pergi.


Dan sekarang, Shinnichi duduk di atas bangku di bawah sebuah pohon Dedalu rindang. Menatap danau di hadapannya.


"—Ne-sama?" Sebuah suara samar memasuki indera pendengarannya.


Shinnichi tidak terlalu peduli. Saat ini, ia hanya bisa melamun. Ia melirik kartu statusnya. Membuatnya kembali menghela nafas.


".... Aku benar-benar tidak berguna." Ia bergumam. Menggantungkan kepalanya.


"— Bane-sama." Suara itu kembali terdengar. Sebuah tangan putih yang ramping melambai-lambai di depan wajahnya. "Kurobane-sama."


Shinnichi mengangkat kepalanya. Menatap keindahan wajah sang Putri, kembali terpesona. Sadar bahwa ia menatap terlalu lama, wajah Shinnichi memerah.


"F-Fiona-sama. A- err... Saya tidak menyadari kedatangan anda." Shinnichi berdiri. Mencoba berbicara dengan sopan, meskipun terdengar cukup aneh.


Fiona, di sisi lain, tertawa kecil. "Berbicaralah seperti biasa, Kurobane-sama. Saya tidak keberatan," katanya dengan suara halusnya.


"O-oh, baiklah." Shinnichi mengangguk. Tidak bisa menolak.


"Apa yang sedang anda lakukan di sini? Bukankah para Pahlawan sedang berlatih dengan Jenderal Gregory?" Fiona bertanya, duduk di atas bangku. "Apakah sudah selesai?"


Mendengar pertanyaan itu, Shinnichi terdiam. Ia merasa kekecewaannya kembali datang. Tapi, ia juga tidak bisa mendiamkan sang Putri.


"... Aku tadi pergi." Shinnichi menjawab, setelah beberapa saat.


"Anda pergi? Tapi, kenapa?" Fiona terlihat bingung.


Menurutnya, Shinnichi adalah orang yang paling antusias tentang ini semua. Fiona dapat melihatnya dari reaksinya terhadap sihir dan perkataan Ayahanda. Ia tidak bisa menangkap alasan kenapa ia pergi.


"Aku lemah." Shinnichi tersenyum pahit. Menggaruk kepalanya. "Lihat." Shinnichi memberikan kartu statusnya.


"Yah, aku bukan Pahlawan ternyata." Shinnichi kembali menggantungkan kepalanya. "Mana ada Pahlawan selemah ini. Seharusnya a—"


"Hebat."


Suaranya terpotong oleh Fiona. Shinnichi membulatkan matanya. "Eh?"


"Skill milik anda tidak biasa, Kurobane-sama. [Appraisal], itu pertama kalinya saya mengetahui skill ini." Fiona berkata, terkagum-kagum. "Apakah ini skill yang sama dengan [Identify]? Lalu, [Self-Magic Manipulation]. Sihir? Apakah ini termasuk sihir putih? Benar-benar menarik."


"Me-menarik?" tanya Shinnichi bingung. "Apanya yang menarik? Stat-ku rendah, aku tidak bisa bertarung. Aku juga tidak memiliki gelar Pahlawan. Aku bukan siapa-siapa!"


Shinnichi menundukkan kepalanya. Ia mengepalkan kedua tangannya. Merasa kesal akan dirinya sendiri. Baginya, statusnya hanyalah tumpukan sampah.


"Apakah itu begitu penting bagi anda, Kurobane-sama?"


Shinnichi mengangkat kepalanya. Menatap Fiona yang tersenyum kepadanya. Tidak bisa menjawab pertanyaannya.


"Menurut saya, semua orang di dunia ini memiliki perannya masing-masing." Fiona mengangkat kepalanya. Menatap dedaunan yang tertiup angin. "Baik itu pahlawan, ksatria, putri, petualang. Kita semua memiliki peran penting yang perlu diisi. Pertanyaannya bukan kuat atau lemahnya peran seseorang. Tapi, kemampuannya untuk mengisi peran itu."


"... Tetap saja." Shinnichi berkata pelan. Suaranya hampir tak terdengar. "Jika aku bukan pahlawan, apa peranku di sini?"


"Hmm. Saya juga tidak bisa menjawab itu." Fiona menaruh tangannya di atas pahanya. Tersenyum anggun, ia terlihat seperti sebuah lukisan yang indah. "Hanya anda yang mengetahui jawabannya."


Shinnichi tidak terlalu mengerti perkataan Fiona. Setidaknya ia mengerti bahwa sang Putri berusaha menghiburnya. Ia hanya bisa menggumamkan terima kasih.


"Sama-sama!" Pendengaran Fiona sepertinya cukup tajam. Ia menepuk-nepuk bangku di sampingnya. "Kenapa anda tidak duduk, Kurobane-sama?"


Mendengar itu, Shinnichi merasa sedikit terganggu. Ada dua hal sebenarnya. Bahwa Putri kerajaan menawarkan tempat duduk di sampingnya dan sang Putri memanggil nama marganya sementara Shinnichi memanggil nama aslinya.


Shinnichi duduk di samping Fiona. Terlihat gugup.


"Err... Kurobane itu nama marga-ku," jelas Shinnichi. "Di negara asalku, nama marga dan nama asli itu terbalik."


"Eh?" Kini, gantian Fiona yang kebingungan. "Jadi... Shinnichi Kurobane?"


Shinnichi mengangguk.


"Ah, Saya belajar hal baru." Fiona mengangguk, terlihat senang. "Tapi, semua orang memanggil anda Shinnichi bukan? Apakah saya boleh memanggil anda Kurobane?"


"Boleh... Tapi, kenapa?"


Fiona menyentuh dagunya dengan jari telunjuknya. Seperti memikirkan suatu alasan.


"Karena sudah terbiasa." Mengambil kesimpulan, Fiona tersenyum puas. "Mungkin?"


"Entah kenapa, itu terdengar meragukan."


"Fufu, benarkah?"


Selesai bertukar kata, mereka berdua menatap ke arah danau. Terlihat tenang seperti cermin raksasa. Memantulkan langit biru dan tumbuhan hijau.


"Ah, iya. Ini." Fiona sadar bahwa ia belum mengembalikan kartu status Shinnichi. "Terima kasih sudah membiarkan saya melihatnya."


"Ah, sama-sama." Shinnichi menerima kembali kartunya. "Tidak ada yang hebat, jadi kurasa itu sedikit membosankan."


"Sama sekali tidak." Fiona menggelengkan kepalanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Shinnichi. "Statusmu benar-benar unik! Aku belum pernah melihat skill dan gelar seperti itu sebelumnya! Ah!"


Menyadari perubahan dari cara berbicaranya, Fiona terlihat malu. Wajahnya sedikit memerah. Namun, karena warna kulitnya yang pucat, itu terlihat jelas.


"M-maafkan ketidaksopanan saya tadi." Fiona meminta maaf. Segera menegakkan tubuhnya. "Saya terlalu bersemangat."


"O-oh, iya. Tidak apa-apa."


Shinnichi juga terlihat malu. Berdekatan dengan seorang gadis, berapa kali pun itu, ia masih belum terbiasa.


"Namun, saya tidak berbohong. Status Anda memang unik, Kurobane-sama." Fiona kembali berkata. "Jika tidak keberatan, saya ingin melihat Anda mempraktekkannya."


"Ah, umm..." Mendapati permintaan seperti itu, Shinnichi merasa sedikit malu. "Sebenarnya aku... Tidak tahu caranya..."


"...."


"...."


"Pfft!"


"Ja-jangan tertawa! Aku baru datang ke dunia ini! Ja-jadi, bagaimana aku bisa tahu!?"


Mengabaikan posisi mereka, Shinnichi mencoba membela dirinya sendiri. Sementara Fiona mencoba menahan tawanya.


"Maaf, saya berbuat hal yang tidak pantas tadi." Fiona kembali meminta maaf. Senyum simpul terpasang di wajahnya.


"... Tak apa." Shinnichi kembali memaafkannya.


"Ah, iya. Sebagai balasan, bagaimana jika saya mengajari Anda?"


"Eh?" Shinnichi tak bisa berkata-kata. "Mengajariku? Seperti mengajariku sihir dan semacamnya?"


"Oh, b-begitu ya?" Jawaban samar Shinnichi membuat Fiona menggembungkan pipinya.


"Apakah Anda meragukan saya? Lihat, ini kartu status saya!" Fiona menyodorkan sebuah pelat besi hitam.


Tak bisa menolaknya, Shinnichi menerima pelat itu. Melihat ekspresi berharap sang Putri, ia benar-benar tidak bisa menolak. Shinnichi mulai membaca status sang Putri.


『Name : Fiona Throst Victoria Ainsworth


Level : 32


Race : Human


Class : Archmage


Stats


Agi : 22


Atk : 46 (+5)


Int : 55 (+15)


Vit : 16


Skill


[Ice Magic lvl.7] [Water Magic lvl.6] [Wind Magic lvl.3] [Cold Resistance] [Charisma Boost]


Gelar


[Ice Princess] [Frost Witch] [Princess of Victoria]』


"Wow." Shinnichi mengeluarkan suara kagum. "Statusmu benar-benar hebat."


"Fufu, bukan kah saya mengatakannya tadi?" Fiona kembali terlihat bangga dengan dirinya sendiri. "Jadi, bagaimana? Apakah Anda mau mengambil tawaran saya tadi?"


Shinnichi terdiam, ragu. Bukannya ia ingin menolak, jauh dari itu. Ia ragu karena ia ditawari oleh sang Putri. Tentunya, orang sepenting Fiona tidak bisa begitu mudahnya memberikan tawaran ajaran, bukan?


"Tenang saja, Anda tidak perlu merepotkan diri. Saya menawari ini hanya kepada Anda, Kurobane-sama." Fiona melanjutkan perkataannya. Seolah-olah membaca pikiran Shinnichi.


Shinnichi melirik kartu status Fiona. Memastikan bahwa tuan Putri tidak mempunyai skill membaca pikiran.


"Saya tidak bisa membaca pikiran." Fiona menyela.


"Perkataanmu benar-benar tidak membantu." Shinnichi mengembalikan kartu status Fiona sambil memasang ekspresi waspada.


Fiona hanya tersenyum simpul. Menerima kartu statusnya, ia menoleh ke arah danau. Memperhatikan keluarga bebek yang berenang di atas permukaan air.


"Jadi, apakah aku bisa menjadi kuat? Ah, tidak. Berguna." Shinnichi meralat pertanyaan. "Apakah aku bisa berguna jika aku belajar di bawahmu?"


"Tentu saja tidak." Fiona menjawab dengan instan.


"Ja—!"


Sebelum Shinnichi bisa mengutarakan kata protes, Fiona mengangkat tangannya. Menghentikan Shinnichi.


"Itu semua tergantung diri Anda, Kurobane-sama," jelas Fiona, tanpa menatapnya. "Jika Anda terus berusaha, bahkan jika saya tidak mengajari, Anda pasti bisa menjadi kuat dan berguna."


Shinnichi kembali terdiam. Sepertinya sang Putri mempunyai bakat dalam membuatnya begitu. Perlahan, Shinnichi juga menoleh ke arah danau.


"... Baiklah," kata Shinnichi beberapa saat kemudian. "Aku ingin belajar darimu, Fiona-sama."


"Bagus." Fiona tersenyum senang. Menepuk kedua tangannya. "Mulai saat ini, Anda adalah pelayan saya."


Mendapat pernyataan yang tidak ia sangka, otak Shinnichi membeku.


"Eh?"


✾✾✾✾


Sementara itu, di ruang singgasana. Sang Raja duduk di atas takhta dengan ekspresi syahdu. Ia mengangkat tubuhnya yang mulai menua itu. Berdiri dengan penuh kehormatan.


Albert melangkah ke dalam ruang kerjanya. Jubah merahnya terseret di lantai. Ketukan sepatunya terdengar nyaring. Di dalam, ia menutup pintunya.


"Mist."


Albert memanggil sebuah nama.


Di sudut ruangan, bayangan mulai bergerak. Sebuah sosok muncul; Mula-mulanya dua dimensi kini menjelma ke medan tiga dimensi. Kini, sosok itu terlihat jelas. Prajurit yang mengawal para Pahlawan.


Ia langsung berlutut untuk Albert. Suara dalam muncul darinya. "Maafkan keterlambatan hamba, Yang Mulia. Tidak ada kehebatan yang lebih be—'


"Singkirkan basa-basi itu. Langsung saja ke intinya." Albert memotong perkataan Assassin itu.


"Tentu, Yang Mulia. Maafkan hamba."


Prajurit itu perlahan berdiri. Dengan sebuah gerakan cepat, ia merobek wajahnya sendiri.


Seorang bertopeng hitam. Tidak jelas wanita atau pria. Tua atau muda. Jika seseorang melihatnya, kesan yang didapatkan hanyalah "samar".


"Hamba berhasil mengantarkan para Pahlawan ke Jendral Gregory tanpa hambatan." Suara yang berbeda keluar dari mulutnya. Kini lebih teredam.


"Aku tidak butuh informasi tak berguna itu." Albert mendengus kesal. "Para Pahlawan, aku ingin tahu kemampuan, pengetahuan dan pengalaman mereka."


"Tentu, Yang Mulia." Mist kembali menundukkan kepalanya. "Dari pengamatan hamba, mereka masih muda dan polos. Tidak ada tanda-tanda pengalaman bertarung atau membunuh."


Mendengar perkataan pembunuh serta mata-mata peringkat teratasnya itu, Albert tersenyum. "Jadi, mereka memang anak kecil? Ini pasti mudah."


Albert mulai tertawa kecil. Senang karena dirinya berhasil mendapatkan pahlawan-pahlawan naif. Tipe yang mudah dikendalikan.


"Namun, Yang Mulia." Mist menyela kegembiraan sang Raja.


Albert memutar tubuhnya. Menghadap Mist. Senyumnya tadi kini menghilang tanpa jejak. Seperti tidak pernah terbentuk.


"Ada satu orang yang sangat aneh menurut hamba, Kurobane Shinnichi."


"Ah, bocah berambut hitam itu? Aku juga berpikir begitu." Albert berjalan ke arah jendela. Menatap kerajaannya dari atas kastilnya. "Tak seperti yang lain, aku tidak bisa merasakan apapun darinya. Seolah-olah... Dia tidak memiliki jiwa."


Mist tidak mengatakan apa-apa. Pembunuh itu juga merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang tidak biasa dari pemuda itu.


"Terus awasi dia."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


Mist berlutut. Dalam sekejap, ia menghilang. Seolah-olah tidak pernah ada.


Albert terus menatap ke luar. Menatap ke arah cakrawala. Arah di mana kerajaan Iblis terletak, di benua Selatan.


"Kini tinggal menunggu."


Sebuah senyum tercipta di wajah Albert. Senyum lebar. Senyum licik.


Sebentar lagi....