
Shinnichi memeriksa dinding di sekitar pintu masuk ke lantai 97. Bahkan menembaknya beberapa kali. Mencoba mencari peti atau hadiah semacamnya.
“Kau tidak akan menemukan apa-apa,” ucap Schwarz kesal. “Kau sudah mencoba untuk mencarinya selama setengah jam. Kau hanya membuang-buang waktu.”
“Kegigihan itu berbuah manis, Schwarz,” jawab Shinnichi, ingin terdengar filosofis. “Kita harus menggunakan waktu sebaik mungkin dan tidak boleh malas.”
“Butuh cermin? Kau mengalahkan Bos Lantai dengan cara curang karena kau malas.”
“Ini dan itu urusan yang berbeda. Jangan mencampur adukkan hal-hal yang tidak penting.”
“Mengalahkan Fire Elemental itu tidak penting dan ini iya?” tanya Schwarz tidak mengerti pemikiran pemuda yang satu ini. “Kau hanya ingin perlengkapan atau senjata yang punya efek bagus bukan?”
“Tepat sekali," jawabnya tanpa ragu-ragu.
“... Setidaknya sanggah sedikit.” Schwarz menghela nafas.
Manusia memang makhluk yang aneh. Tidak, Shinnichi adalah makhluk yang aneh. Mengkategorikannya dengan Manusia lain sepertinya tidak cocok. Lagipula, rasnya juga bukan manusia lagi. Entah ia menerimanya atau tidak, Schwarz tidak tahu
Akhir-akhir ini, pemuda itu berubah. Pada saat bertemu, Schwarz kira Shinnichi adalah pemuda pasif yang naif. Namun, sekarang. Seorang pemuda licik yang rela melakukan cara apapun untuk bertahan hidup.
Namun, satu hal yang tidak berubah dari Shinnichi adalah sifat pengecutnya. Bagaimana ia berlari dar musuh yang tidak bisa dikalahkannya. Menggunakan taktik kotor untuk melawan mereka. Sebagai seekor Naga yang dikenal memiliki harga diri yang tinggi, dirinya kurang menyukai cara licik Shinnichi. Menurut Schwarz, pemikiran seperti itu tidaklah salah. Setelah apa yang dilalui Shinnichi, ia rasa pemikiran itu normal untuk dimilikinya.
Schwarz berharap pemuda yang satu ini bisa memperbaiki perangainya, setidaknya.
“Tch, tidak ada ya.” Shinnichi mendecakkan lidahnya, kesal. “Membuang-buang waktuku saja.”
“....”
Schwarz ingin mengatakan “Apa kubilang?” Tapi ia tahu hal itu hanya akan berujung ke ajang adu mulut.
“Cepatlah, lantai ini benar-benar tidak nyaman.” Schwarz memilih untuk tidak mengatakannya. Meskipun ia berada di kepala Shinnichi, Schwarz merasa tidak enak untuk pemuda itu. Jika ia mati, Schwarz juga bisa mati.
Shinnichi meregangkan tubuhnya. Ia harap lantai selanjutnya tidak seekstrim ini.
“Lantai ke-97. Lima lantai lagi.”
Shinnichi menyemangati dirinya. Ia turun ke dalam kegelapan.
✾✾✾✾
Dua bulan sudah berlalu sejak kematian Shinnichi. Dibunuh dengan begitu sadisnya oleh para Iblis. Atau begitulah yang dikatakan para petinggi kerajaan. Kebenaran tidak pernah keluar.
Dalam dua bulan, para Pahlawan sudah menaklukkan enam Dungeon. Meningkatkan kekuatan mereka dan mempersiapkan diri untuk perang yang akan tiba. Mereka lebih dewasa setelah kematian Shinnichi. Mereka tahu bahwa ini adalah dunia nyata. Lengah dan nyawamu bisa melayang.
Fyu! Fyu! Fyu! Siulan panah melesat dapat terdengar. Bergerak dengan anggun, Yonaka melepaskan anak panahnya ke arah monster yang mengepung. Semuanya tepat sasaran, mengenai kepala.
“KRUA!” Seekor Hob Goblin mengayunkan pentungan kayunya ke kaki Yonaka.
“Hup!” Yonaka melompat, menghindarinya. Berguling, ia kembali menghadap Hob Goblin itu lalu menarik senarnya. Melepaskan sebuah anak panah ke belakang kepalanya.
Hob Goblin itu jatuh mati. Namun, bahaya belum selesai.
“Grua!” Seekor Kobold menyerangnya dari belakang menggunakan pedang pendek.
Yonaka mengangkat busurnya. Mengalihkan laju bilah itu untuk menjauhi lehernya. Menyadari serangannya gagal, Kobold itu tersandung sedikit. Kesempatan untuk Yonaka, ia menyodok ujung busurnya ke mata monster itu.
“Graa!” Menerima serangan tepat ke rongga matanya,Kobold memekik kesakitan.
Yonaka tak membuang-buang waktu. Ia menarik busurnya lalu menanamkan sebuah anak panah ke tengah-tengah dada monster berkepala serigala itu. Kobold itu sudah dipastikan akan mati.
Namun, ia belum menyerah. Mengumpulkan tenaga terakhirnya, ia menerjang maju. “GRUAA!”
‘--!?” Yonaka tidak menyangka itu. Ia buru-buru menyiapkan busurnya. Tapi, sebelum ia bisa melepaskan anak panah, Kobold itu sudah mengayunkan pedangnya.
Sebelum bilah berkarat itu mencapai Yonaka, sesosok besar berdiri di hadapannya. Seorang pemuda berambut merah, Izumi menangkap pedang itu dengan tangan kosong. Ia memukul Kobold itu.
Brak! Gaya yang dihasilkannya membuat Kobold menghantam dinding di seberang ruangan. Jatuh. Kobold menghembuskan nafas terakhirnya. Izumi menurunkan kepalannya. Di tangan kirinya, pedang pendek Kobold yang patah menjadi dua karena genggaman Izumi.
Pemuda berbadan besar itu menghadap Yonaka. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya khawator.
Yonaka mengangguk. “Aku tidak apa-apa. Terima kasih, Izumi-kun.” Yonaka tersenyum kecil.
Sebuah senyum lebar terlukis di wajah Izumi. “Baguslah!”
❂❂❂❂❂❂
Suara kayu yang berderak karena kobaran api memberikan rasa ketenangan dalam selimut malam. Bunga merah mekar cantik, Menjilat-jilat sepasang ikan yang ditusuk di atasnya. Mengeluarkan suara mendesis yang sedap bagi telinga dan menggoda bagi perut. Izumi dan Yonaka duduk bersampingan di hadapan api unggun.
Mereka berdua memegang sebuah cangkir besi. Berisi teh terbaik yang disiapkan oleh kerajaan. Air yang panas menyebar ke badan, menjaga mereka dari dingin malam.
Mereka sedang menjalankan perintah Victoria. Menaklukkan Dungeon di kerajaan tetangga, Eltron. Sebuah kerajaan maritim di bagian barat Panzia. Bagaimana cara sang raja mendapatkan izin untuk menaklukkan dungeon milik kerajaan lain akan menjadi misteri bagi para Pahlawan.
Mereka dibagi menjadi dua tim. Izumi dan Yonaka ada di Eltron, sedangkan Samejima dan Erina ada di Triste, kerajaan timur Panzia. Sepertinya ini dilakukan untuk mempercepat laju pertumbuhan para pahlawan. Di level mereka saat ini, seorang pahlawan seperti Izumi dan Samejima bahkan dapat menaklukkan sebuah dungeon seorang diri. Namun, karena Yonaka dan Erina masing-masing memiliki kelas pendukung, mereka akhirnya dipasangkan.
Tak ada yang keberatan. Tentu saja. Jika mereka bisa tumbuh lebih cepat, maka kesempatan mereka untuk kembali juga lebih cepat. Dan untuk Izumi dan Yonaka, kesempatan untuk membalas kematian Shinnichi.
Yonaka memeluk lututnya. “Nee, Izumi-kun,” panggilnya. “Apakah kau pikir kita akan kembali pulang?”
Izumi tidak menjawab pertanyaan Yonaka langsung. Jujur saja, ia tidak punya jawaban. Maupun keyakinan bahwa mereka pasti akan kembali setelah mengalahkan ras Iblis.
“.... Aku tidak tahu,” jawabnya jujur. “Tapi, aku yakin ada jalan pulang. Toh, ini juga dunia sihir . Semuanya pasti punya kemungkinan.”
Izumi mencoba meringankan suasana. Yonaka tersenyum mendengar kata-kata izumi. “Benar juga, ini dunia sihir.”
Senyum Yonaka berubah sedih. Mengingat wajah temannya yang tidak lagi bersama mereka. Jika mereka memang menemukan jalan pulang, bagaimana dengan Shinnichi? Yonaka tidak tahu. Ia belum memikirkan kemungkinan itu. Apa yang akan ia lakukan setelah kembali ke Jepang.
“Sihir...,” gumam Yonaka. Ia tenggelam dalam pikirannya. Sihir dapat melakukan apa saja. Menciptakan air, mendatarkan bumi, membakar dunia.
Apakah sihir mungkin....
“... Menghidupkan yang sudah mati?”
Pertanyaan Yonaka membuat Izumi tertegun. Ia bahkan hampir menjatuhkan tehnya. Menghidupkan kembali Shinnichi, hal seperti itu. Izumi menggelengkan kepalanya.
“Tidak mungkin,” jawabnya singkat. “Tidak ada sihir yang dapat mengembalikan orang yang sudah mati.”
Sang Dewi yang membawa mereka dari dunia lain, yang memberi mereka kekuatan luar biasa, yang telah menciptakan dunia ini. Dewi pasti punya jawabannya. Dewi pasti punya jalannya.
Sebelum Yonaka mengatakan sesuatu, Izumi mendahuluinya. "Aku sudah mencari tahu. Tidak ada sihir yang bisa menghidupkan orang mati."
Izumi bukanlah orang yang suka membaca. Ia membencinya bahkan. Namun, demi Shinnichi, hampir setiap malam ia beranjak ke perpustakaan untuk mencari tahu. Meskipun ia sendiri belum terlalu lancar dalam bahasa Panzia. Ia tahu bahwa tidak ada sihir sekuat itu.
“Yonaka, aku tahu kau merindukan Shinnichi. Aku juga. Tapi....” Kata-kata selanjutnya terasa mencekat tenggorokan Izumi. Terasa begitu pahit untuk dikeluarkan. “Kita harus merelakan Shinnichi....”
Yonaka merasakan luka hatinya kembali terbuka. Ia ingin berteriak. Ingin memarahi Izumi karena mengatakan itu. Tapi, satu kilasan kepada Izumi mencegahnya.
Pemuda yang biasanya tegap dan kokoh itu terlihat begitu sedih. Menahan emosinya sembari meremas cangkir besi di tangannya. Berusaha untuk tidak menghancurkannya.
Sama seperti Yonaka, Izumi juga berduka atas kehilangan Shinnichi. Bagaimana tidak? Ia sudah berteman dengannya bahkan sebelum TK. Sudah lebih dari 15 tahun ia bersama Shinnichi. Dibandingkan dengan Yonaka yang hanya mengenalnya sejak SMP, beban yang diterima Izumi jauh lebih berat.
Yonaka merasa menyesal mengatakan hal semacam itu. Bahkan sempat berpikir untuk memarahi Izumi. Ia merasa malu atas dirinya sendiri karena tidak memikirkan perasaan Izumi.
“Maaf...” Yonaka menurunkan bahunya. Menatap ke arah api. “Aku tidak berpikir jelas.”
Yonaka bisa mendengar Izumi mengusap wajahnya. “Tak apa. Aku juga meminta maaf karena sudah berkata begitu.”
“Tidak, Izumi-kun benar.” Yonaka mencoba melihat kenyataan. Shinnichi sudah tiada, ia tidak bisa melakukan apa-apa. “Aku yang belum bisa menerima ini.”
“Semua orang butuh waktunya sendiri,” ucap Izumi. “Aku yakin waktu itu tidak singkat.”
Yonaka mengangguk. Memikirkan perkataan Izumi membuatnya teringat seorang puteri es tertentu. Sejak kematian Shinnichi, ia tidak pernah melihat Fiona lagi. Menurut para pelayan, Fiona mengurung diri. Hampir tidak pernah keluar dari kamarnya.
Sepertinya Fiona benar-benar terpukul atas kematian Shinnichi. Melihat kedekatan mereka, tidak heran jika Fiona masih bersedih.
“Aku khawatir tentang puteri Fiona.”
Izumi mengerti apa yang dibicarakan Yonaka. Ia juga mengkhawatirkan sang puteri. Menurut kabar yang ia dengar, Fiona berada di sana saat ras Iblis menyerang. Shinnichi melindungi sang puteri hingga tangannya terputus. Namun, ada satu hal yang mengganggu pikirannya.
Kenapa Shinnichi diserang oleh ras Iblis? Kenapa hanya Shinnichi yang menjadi korban? Lalu, tangan Shinnichi. Satu hal yang paling mengganggunya. Tangannya terpotong bersih seperti hasil potongan pedang, namun dari tiga utusan ras iblis, tidak ada salah satu dari mereka yang membawa pedang.
Pikirannya terbang ke arah Samejima. Pembawa pedang legendaris yang juga ada dalam pertempuran itu. Apakah mungkin?
Izumi menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh memikirkan hal semacam itu. Seburuk apapun Samejima, ia tidak akan membunuh sesama rasnya.
Yonaka menyadari raut wajah Izumi yang rumit. Seolah memikirkan sesuatu dengan keras. Tak punya kata-kata untuk menenangkannya, Yonaka menyandarkan kepalanya ke bahu Izumi. Mengejutkan pemuda berambut merah itu,
“Y-Yonaka?” Izumi tidak bisa bergerak. Ia mungkin Pahlawan terkuat. Namun, di hadapan gadis yang satu ini, ia merasa tidak berdaya.
Yonaka, dengan wajah tersipu, menolak untuk menatap Izumi. Hampir tidak kuat menahan rasa malunya.
“H-hanya malam ini saja....” gumam Yonaka. Suaranya hampir tertutupi oleh hembusan angin. “Bi-biarkan aku berada di sisimu.”
Izumi tidak bisa berkutik. Ia hanya mengangguk kecil, entah disadarinya atau tidak. Diterangi cahaya api, dua sejoli itu melewati malam yang dingin berdampingan.
✾✾✾✾
Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki menggema di koridor kastil. Sepi, tanpa ada orang yang berjaga. Gelap, tanpa ada cahaya yang menyala. Cahaya rembulan menyelip masuk lewat jendela. Menyelimutinya dalam aura misitis yang menyembunyikan kebiadaban yang memenuhi kerajaan.
Seorang pria paruh baya berjalan dengan penuh kewibawaan. Wajah tirusnya menunjukkan kekurangannya dalam memperhatikan diri. Sudah lebih dari 50 tahun ia mengelola negeri ini. Perdana Menteri Estoc berjalan menaiki tangga.
Membiarkan jubah sutera merahnya terseret di tanah. Sebuah lambang kesombongan dan bukti kebangsawanan. Ia mendekati sebuah kamar di ujung lorong.
Dijaga oleh sepasang ksatria berzirah. Yang bersalut ketika ia mendekat dan segera membukakan pintu. Tidak membiarkan pria berkepentingan itu menunggu sedetik pun di luar.
Di dalam adalah kamar seorang gadis. Ranjang yang nyaman, cermin raksasa, lemari berisi pakaian mewah, meja berisi makanan dan minum terenak di seluruh benua. Semua yang bisa diimpikan seorang gadis kerajaan. Namun, bagi penghuni kamar itu, semuanya hanyalah barang tak berguna. Ditempatkan hanya untuk dekorasi semata.
Penjara. Tempat itu hanyalah penjara. Penjara yang menyiksa hatinya. Penjara yang membuatnya tak berdaya. Dan meskipun ia tidak dirantai oleh belenggu apapun, sebesar apapun keinginannya untuk kabur, sekuat apapun tekadnya untuk melawan, Fiona tidak bisa apa-apa.
Estoc mengalihkan pandangannya ke pojok ruangan. Duduk di kursi, seorang sosok berantakan. Wajahnya suram dan tak bernyawa, rambutnya kusut dan berantakan, bajunya kotor dan robek. Duduk di kursi, puteri Fiona diam tak bergerak.
Estoc berjalan mendekatinya. Dengan kasar, ia mengangkat wajah gadis berambut azure itu. Menatap parasnya yang lebih pucat dari biasanya.
Wajah eloknya, senyum menawannya, tawa cerahnya sudah lama hilang. Kini, Fiona terlihat seperti boneka yang terputus dari benangnya. Seolah-olah tak bernyawa dan rusak. Iris birunya bahkan berubah menjadi abu-abu kelam. Jika mata memanglah jendela ke dalam jiwa, maka jendela itu sudah tertutupi oleh tirai berdebu.
Estoc tahu ini akibat yang akan terjadi setelah menggunakan sihir kegelapan untuk mengendalikannya. Seseorang bisa kehilangan jiwa mereka. Tertelan oleh kekuatan gelap yang mencengkram tubuh mereka.
“Puteri, dua bulan sudah berlalu. Samejima-dono tidak bisa menunggu lagi. Ia menolak untuk menerima boneka rusak sepertimu. Kurasa kau mengerti maksudku, bukan?” Bisikan Estoc terdengar sangat jelas dalam ruangan lengang itu.
Sihir kegelapan adalah sihir kuno yang mampu mengendalikan seseorang. Bukan dengan menidurkan kesadaran orang, namun mengendalikannya melalui siksaan batin. Menganiaya jiwa dan pikiran sang inang sampai mereka kehilangan asa dalam tubuh mereka. Mengubah mereka menjadi bidak yang bisa disuruh.
Orang biasa rata-rata hanya bisa bertahan selama dua jam. Melebihi itu, maka mereka akan mati. Namun, entah bagaimana, sang Puteri masih bisa bertahan selama dua bulan. Menahan siksaan yang bahkan tidak bisa dibayangkan orang biasa selama 24 jam setiap hari untuk lebih dari 60 hari. Kegigihan yang ditunjukkan sang Puteri begitu kuat, sampai-sampai penyihir tertinggi kerajaan tidak bisa berkata-kata.
Estoc sudah lelah menunggu. Begitu pula Samejima yang sudah dijanjikan tangan sang puteri dalam pelaminan. Ia tidak akan menerima sang puteri dalam kondisi seperti ini. Hasratnya tidak menginginkan seorang boneka sebagai pasangannya.
Estoc masih menunggu jawaban Fiona.
“Pe.... Pe....”
Fiona menggerakkan bibirnya. Mencoba mengeluarkan sesuatu. Iris abu-abunya perlahan berubah kembali menjadi biru.
“Per....” Fiona menyelesaikan perkataannya. “Persetan.... kalian....”
“Da-Dasar gadis hina!”
Kutukan itu membuat Estoc geram. Ia melayangkan tamparan tepat ke wajah puteri itu, menjatuhkannya dari kursi. Darah keluar dari bibir Fiona, namun sekilas kepuasan bisa terlihat di wajah sang puteri.
“Masih belum mengerti juga? Baik! Terserah kau saja!” Estoc meludah ke samping. Muak berurusan dengan Fiona.
Ia segera keluar dari kamarnya. Sambil berseru, “Panggil penyihir tinggi kerajaan! Sekarang!”
Fiona tidak takut. Sebaliknya, sebuah senyum kecil terlukis di wajahnya. Sedikit mengembalikannya kepada dirinya yang dulu. “Kurobane... sama....”
Sebelum kesadarannya kembali ditelan kegelapan, ia memanggil nama pemuda itu. Nama yang membuatnya bertahan selama ini. Nama pemuda yang sangat ia cintai. Nama pemuda yang akan selalu ia cintai.
Sebelum ditelan kegelapan, sebuah air mata menetes ke bawah. Fiona belum menyerah. Fiona tak akan menyerah. Demi Shinnichi, ia akan terus bertahan.
Demi Shinnichi. Demi Kurobane-nya.