
Di Barat ibukota Victoria, di dekat perbatasan antara Victoria dan Eltron terdapat sebuah labirin.
Sebuah struktur bawah tanah. Terbagi atas berbagai lantai dan diisi oleh berbagai macam monster. Dibandingkan dengan Dungeon, labirin itu cukup kecil. Namun, jangan salah sangka. Labirin terkecil saja dapat memiliki 20 lantai. Masing-masing dipenuhi jebakan dan bahaya.
Konon, Dungeon dan labirin tercipta karena Mana gelap, jenis Mana ketiga yang jarang diketahu; Arcana. Arcana tercipta karena kegelapan hati orang yang menggunakan sihir. Seiring waktu, Arcana berkumpul. Setelah jumlah mereka cukup, labirin atau Dungeon dapat terbentuk.
Dan di salah satu labirin itu; Labirin Batu Bulan, para Pahlawan sedang berlatih.
"Mati!"
"UUGGRRAH!"
Dengan sebuah tebasan pedang, seekor Orc - monster raksasa berkepala **** - mengeluarkan suara keras sebelum jatuh ke tanah. Samejima menyentakkan tangannya, membersihkan darah yang menodai bilah pedangnya. Tak menyadari seekor Goblin yang melaju ke arahnya. Mengayunkan sebilah pedang berkarat.
"Jinba-san! Di sampingmu!"
Cepat, Yonaka melepaskan sebuah anak panah.
"Krue-!?"
"!?"
Dengan suara siulan, proyektil itu melesat melewati wajah Samejima. Menancap tepat di mata sang goblin. Monster itu langsung terkapar di kaki si pemuda.
"Ah, aku selamat. Terima kasih, Yonaka." Menyadari bahwa monster itu masih hidup, Samejima menebasnya. Tak lupa memberi terima kasih kepada Yonaka.
Mengangguk sebagai balasan, Yonaka kembali berfokus ke medan pertempuran. Melancarkan puluhan anak panah sambil sesekali mengeluarkan sihir petir.
"Erina, aku butuh bantuan! Soryah!"
Dengan suara keras, Izumi melancarkan pukulan ke wajah Kobold - monster humanoid berwajah serigala. Tak bisa menerima pukulan Izumi, kepala enam ekor kobold itu hancur. Menyisakan pemandangan yang menjijikkan. Kain putih yang melindungi kepalan Izumi mulai berubah warna menjadi merah darah.
"Mengerti! Wahai Dewi yang suci, berkahi hambamu! [Holy Magic : Lesser Strength Boost]!"
Merapal mantera dan memutar-mutar tongkat sihir, Erina bersiap untuk memberi sihir pembantu. Lesser Strength Boost adalah sihir suci tingkat rendah. Seperti namanya, sihir ini menambah sedikit kekuatan target.
Diselimuti cahaya berwarna merah, Izumi merasa bersemangat. Sedikitpun tak masalah! Izumi menghantam kedua tangannya.
Izumi melaju ke depan. Melewati Samejima, ia mengangkat kepalan tangannya. Melancarkan pukulan ke arah seekor Orc lain.
"[Iron Punch]!" Sesaat sebelum meninju perut monster, Izumi menyerukan nama sebuah skill. Skill yang membuat pukulan seseorang mirip dengan hantaman besi.
"URRGGAAH!"
Orc itu memekik kesakitan. Menyadari orang yang memukulnya, Monster itu meraung sambil mengayunkan kapaknya. Izumi dengan lihai melangkah ke samping. Tak mengambil gerakan berlebih, ia kembali menghantam perutnya.
Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Berkali-kali ia memukulnya, suara retakan dan hantaman keluar dari tubuh monster **** itu. Membuatnya meraung kesakitan sebelum akhirnya menyerah dan menjadi jatuh ke tanah.
Namun, dia belum sepenuhnya menyerah. Sebelum kehilangan nyawanya, dia menjatuhkan tubuhnya ke atas Izumi. Setidaknya dia akan membawa pembunuhnya ke neraka!
Izumi menyadarinya. Dengan senyum kecil, ia mendorong kakinya mundur. Menerbangkan debu, Izumi mengambil kuda-kuda kaki kanan belakang, "[Hardening]!" Ia berseru.
Skill yang menaikkan pertahanan serta serangan penggunanya itu mulai terasa. Izumi merasa tubuhnya mengeras. Tentunya bukan untuk bertahan. Izumi bukan tipe seperti itu.
"HAH!"
Izumi mengeluarkan sebuah tendangan keras. Menghantam perut Orc, seseorang bisa melihat tubuh sang monster yang hancur di bawah tendangan Izumi.
Tubuh Orc itu menekuk selagi Izumi menambahkan tenaga ke kaki kanannya. Dengan hanya satu kaki, monster raksasa itu terlempar jauh ke arah monster lainnya. Tidak menyangka proyektil raksasa itu, seluruh monster di situ terbasmi.
"Fuuhh...." Izumi mengeluarkan nafas yang sedari tadi tertahan.
Prok! Prok! Prok!
Tepuk tangan bergema di lorong labirin. Cukup besar untuk memuat dua belas orang sambil merentangkan tangan. Suara itu berasal dari belakang keempat pahlawan. Seorang pria berzirah perak, Gregory.
"Luar biasa!" Senyum lebar dapat terlihat di wajah pria tua itu. Seperti orang tua yang bangga melihat anaknya. "Koordinasi kalian, kekuatan individu, semuanya benar-benar luar biasa!"
"Terima kasih, Gregory-dono." Yonaka yang pertama menjawabnya. Tersenyum senang. Pertempuran pertama mereka tanpa mendapat bantuan selesai dengan lancar.
"Fuuh... Yah... Ini sedikit menyenangkan." Izumi tersenyum puas sedikit terengah-engah. Sudah jelas bahwa ia adalah maniak pertempuran.
"Ini semua berkat kerja keras semua orang," timpal Erina. Kini, ia terlihat lebih ceria daripada saat pertama kali datang ke Zelfria. "Terutama bantuan Gregory-dono."
"Benar, ini berkat latihan Anda, Gregory-dono." Samejima menyarungkan kembali pedangnya. Suara besi tajam menyapa telinga semua orang.
"Haha, anda terlalu berlebihan. Saya hanya memberi arahan. Ini semua berkat anda semua." Gregory terlihat enggan menerima pujian mereka. "Lagipula, senjata kalian memiliki peran yang lebih penting daripada saya."
Mendengar perkataan Gregory, para pahlawan menatap senjata mereka.
Samejima menepuk-nepuk pedang yang tersarung di pinggangnya. Ornamen naga timbul di sarung tersebut. Rune kuno menghiasi bilahnya. Memberikan nuansa magis. Dan memang tidak salah, pedang itu adalah pedang sihir. Rivelia, pedang api legendaris.
Pedang yang terbuat dari besi luar dunia dan dibentuk oleh api dari sang Raja Naga. Hanya pendekar pedang magis terkuat saja yang bisa menggunakannya.
Erina mengangguk setuju. Di tangannya terdapat tongkat sihirnya. Tongkat itu sekepala lebih tinggi dari Erina. Elegan, dan mistis adalah dua kata yang cukup untuk menjelaskannya.
Serat kayu memberikan kesan kasar namun alami, tempat di mana Erina memegang tongkat itu dilapisi kain untuk menjaga tangan pemegang dari serpihan kayu. Tongkat itu melengkung, menyerupai tanda "?" dengan sebuah kristal bola melayang di ujungnya, memancarkan sinar biru yang samar.
Tongkat itu terbuat dari batang kayu pohon suci Arboria. Memiliki nama yang sama dengan pohon suci tersebut, tongkat itu memiliki kekuatan sihir yang tak terkira.
Yonaka juga mengikuti. Menatap busurnya dengan senang. Sebuah busur dengan corak emas. Bentuk busur itu sekilas terlihat seperti elang. Dengan sayap yang terlihat anggun.
Paragrine adalah nama busur itu. Senarnya diambil dari seekor Empress Arachnid - Monster laba-laba tingkat legendaris - dan tubuhnya dibentuk dari tulang Griffon - seekor monster legendaris dengan tubuh setengah elang setengah singa. Meskipun memiliki kemampuan untuk memperkuat anak panah yang ditembakkannya, sebenarnya kemampuan Yonaka saja sudah cukup. Kemampuan itu hanyalah tambahan untuk Yonaka.
Di sisi lain, Izumi masih menata nafasnya yang memburu. Berbeda dengan yang lain, Izumi tidak memiliki senjata khusus atau semacamnya. Ia bertarung dengan tangan kosong. Sebagai seorang Pugilist, ia tidak memiliki senjata. Sepasang gauntlet atau sarung tangan besi mungkin cocok, tapi kerajaan tidak memiliki senjata semacam itu.
"Ah, maafkan ketidakpekaan saya, Izumi-dono." Menyadari bahwa Izumi tidak memiliki senjata, Gregory langsung meminta maaf.
Sebaliknya, Izumi mengangkat bahunya. Tidak terganggu. "Tak apa, lagipula aku lebih senang berkelahi dengan tangan kosong."
Izumi memukul-mukul udara. Hembusan angin bisa terasa dari setiap pukulannya. Melihatnya, siapa saja pasti tidak ingin menerima pukulan itu.
"Tapi, tetap saja! Apa kata kerajaan lain saat melihat pahlawan bertarung tanpa peralatan? Kita akan ditertawakan." Gregory tampak khawatir. Masih merasa tidak enak atas fakta itu. "Saya akan meminta Yang Mulia untuk mencarikan peralatan untuk anda."
"O-oh, kalau begitu, tolong ya." Izumi tidak bisa menolak itu. Ia juga memiliki akal sehat. "A-ah, bagaimana jika kita istirahat sejenak? Melawan Orc itu benar-benar melelahkan."
"Benar. Kita harus menghemat tenaga kita." Samejima mengangguk setuju dengan usul Izumi.
"Ide bagus." Gregory mengangguk. "Kita istirahat dulu selama setengah jam."
Mendengar itu, para pahlawan mengeluarkan nafas panjang. Mereka sudah menuruni labirin ini selama lebih dari dua jam. Sedikit istirahat benar-benar dibutuhkan.
Gregory menaruh tas yang ia bawa, menyandarkannya ke dinding labirin. Ia merogoh isinya sebelum mengeluarkan beberapa kantong air kulit. Ia membagikannya kepada para pahlawan.
Mendapatkan kata terima kasih dari mereka membuat Gregory senang. Ia kembali ke tasnya. Berniat untuk menyiapkan makan siang. Mengembalikan energi itu penting.
Izumi menenggak air minumnya. Membasahi tenggorokannya yang kering. Duduk di samping Yonaka dan Erina. Mereka juga mulai meminum air.
"Apakah levelmu naik lagi, Eri-chan?"
"Hanya dua. Aku level 25 sekarang. Sihir suciku juga naik satu level. Bagaimana denganmu, Yon-chan?"
"Aku naik tiga level. Jadi sekarang aku level 27. Sihir petirku juga naik satu level."
Mendengar percakapan kedua gadis itu, Izumi tidak tahan untuk berpikir bahwa mereka menjadi dekat. Jika ia masih di dunia asalnya, ia pasti tidak akan percaya.
Hubungan wanita memang membingungkan. Selagi berpikir itu, Izumi kembali menenggak airnya. Menatap ke atas.
Langit-langit labirin dihiasi oleh bebatuan yang bersinar. Memberi cahaya di lorong-lorong gelap ini. Batu sihir adalah nama mereka. Selain melimpah, mereka juga berguna dan memiliki berbagai jenis. Kebanyakan batu sihir digunakan sebagai alat penerang. Dan tak sedikit pula yang digunakan sebagai senjata.
Izumi tidak tertarik dengan itu. Izumi sendiri memiliki sihir. Tapi, ia jarang menggunakannya. Jika musuhnya memiliki sihir, maka ia hanya perlu menghindarinya dan memukul wajahnya. Pemikiran ini sepertinya menyusahkan para profesor yang bertugas untuk mengajari sihir kepada para pahlawan.
Berkaitan dengan sihir, ia teringat Shinnichi. Temannya yang satu itu senang mendengarkan cerita mereka saat sedang berpetualang di luar kerajaan. Selain itu, ia juga sering berkunjung ke perpustakaan kastil di malam hari dan membaca berbagai macam buku. Meskipun ia tahu bahwa Shinnichi adalah tipe yang sering begadang, ia sedikit khawatir dengannya.
Akhir-akhir ini, Shinnichi juga sering terlihat memakai seragam pelayan dan membawa nampan penuh makanan. Hal itu yang membuat Izumi khawatir.
Izumi menghela nafas. Mengambil perhatian Yonaka dan Erina.
"Izumi-kun, ada apa?" tanya Yonaka. "Apakah kau lapar? Sebentar lagi makanannya siap kok."
"Ah, tidak. Aku memang lapar, tapi bukan itu." Izumi melambaikan tangannya. "Aku hanya khawatir dengan Shinnichi."
"Oh, Shinnichi ya." Yonaka langsung terlihat sedih. Ia juga khawatir dengan kondisi temannya.
"Bukankah Kurobane terlihat baik-baik saja?" Erina bergabung dengan percakapan mereka. "Kemarin aku melihatnya memotong-motong buah di taman. Dia terlihat senang."
"Kau belum terlalu mengenalnya, Himekaze." Izumi tersenyum. Menatap ke langit-langit. "Orang itu benar-benar ahli dalam menyembunyikan perasaannya. Dia lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri."
"Benar. Waktu pertama kali bertemu, aku lupa membawa payungku. Dia meminjamkannya dan berlari di bawah hujan." Yonaka memeluk lututnya. Menyembunyikan senyum kecilnya. "Setelah itu, dia demam parah sampai masuk ke rumah sakit."
"Waktu kecil, dia juga pernah menggendongku ke rumah sakit saat aku jatuh dari pohon dan mematahkan kakiku. Padahal jaraknya jauh." Izumi tidak bisa menahan senyumnya saat mengingat waktu itu.
Mereka berdua terlihat senang membicarakan temannya. Bagaimana tidak? Mereka sudah bertahun-tahun bersama. Meskipun Shinnichi mempunyai kekurangan, kelebihannya sudah lebih dari cukup untuk menutupinya.
"He~h, pasti menyenangkan. Mempunyai teman seperti itu." Kini, gantian Erina yang berbicara. Sedikit iri dengan Shinnichi yang mempunyai teman sebaik mereka.
"Ah, Eri-chan tak perlu khawatir! Aku di sini kok!" Menjawab dengan nada bercanda, Yonaka menenangkan Erina.
Gadis berambut pirang itu tidak menjawab. Ia tahu Yonaka berbeda dengan yang lain; ia tulus. Sifat yang sepertinya jarang ditemui.
Erina menyandarkan kepalanya ke Yonaka. Membiarkan gadis berambut hitam itu merangkulnya.
"Kalian benar-benar jadi dekat ya."
Sepasang senyuman menjadi jawaban untuk Izumi. Sementara itu, Samejima hanya mendengarkan percakapan mereka dengan diam. Menatap kegelapan di depan.
❂❂❂❂❂❂
"Kita sampai di lantai terakhir."
Suara Gregory menggema di lorong labirin. Membuat para pahlawan menganggukkan kepala.
Saat ini, mereka berada di lantai 23. Lantai terendah di labirin Batu Bulan. Ada beberapa hal yang membuat Gregory yakin bahwa ini adalah lantai terakhir di labirin.
Yang pertama dan paling utama adalah penampilannya. Jika lantai-lantai lain terbentuk seperti gua besar, lantai terakhir terbentuk seperti sebuah altar besar. Luasnya mencapai 100 meter.
Kristal raksasa di langit-langit bersinar biru tenang. Memberikan kesan bahwa mereka sedang berada di luar, di bawah cahaya rembulan. Jika seseorang mengabaikan bahwa mereka sedang berada di labirin, tempat ini bisa menjadi terkenal akan keindahannya.
Yang kedua adalah penghuni lantai ini. Di tengah-tengah altar, terdapat sebuah bola kristal besar. Warna biru gelap membuat kristal itu terlihat seperti laut di malam hari. Dengan pelan, bola kristal itu berputar.
Masih berdiri di anak tangga, para pahlawan menatap pemandangan indah itu. Sesekali mengeluarkan suara kagum.
"Gregory-dono, apakah itu...." Samejima hendak bertanya.
"Benar. Itu adalah inti tempat ini. Sebuah [Core]." Gregory memastikan dugaan Samejima.
Setiap labirin atau Dungeon pasti memiliki sebuah inti. Jika dihancurkan, maka tempat yang menaunginya dapat hancur. Namun, Dungeon dan labirin adalah tempat yang menguntungkan. Bagian-bagian monster bisa dijual, sebagai sumber latihan para petualang, bahkan tempat yang dipenuhi oleh harta karun. Karena ini, semua orang dilarang menghancurkan Core kecuali memiliki izin tertentu dari sang Raja.
Para Pahlawan memiliki izin itu. Dengan menghancurkan Core, level mereka bisa meningkat drastis. Kerajaan mengincar hal ini.
"Kalau begitu, ayo kita lawan." Izumi tersenyum senang. Membunyikan buku-buku jarinya.
Mendapat anggukan dari anggota party-nya, mereka langsung menuruni tangga. Mendekati bola kristal itu.
Dua puluh meter sebelum mereka sampai, sebuah terjadi. Sebuah cahaya terang. Bola kristal itu bercahaya.
Para pahlawan berhenti dan menutupi mata mereka dari cahaya itu. Mencoba agar tidak terbutakan olehnya. Sesaat kemudian, tanah bergetar. Seperti sesuatu yang berat jatuh.
Para pahlawan menatap makhluk yang muncul di hadapan mereka. Setinggi 3 meter, tubuh kekar, berbulu hitam pekat, berkepala banteng dengan tanduk tajam. Di tangannya, terdapat sebuah Greatsword yang terikat rantai. Seekor Minotaur
"GROAAAR!"
Minotaur itu meraung keras. Cukup untuk menggetarkan rongga dada semua orang yang ada di altar.
"Izumi, Yonaka. Kalian ambil sisinya. Serang saat ada kesempatan yang datang. Erina, dukung kami dari belakang!" Samejima memberikan perintah. Sebagai penyerang utama, secara alami ia adalah pemimpin party. "Aku akan maju."
"""Mengerti!"""
Jawaban mereka menjadi awalnya. Samejima maju ke depan, Izumi dan Yonaka berlari ke samping Minotaur itu sementara Erina mulai merapal manteranya.
"Wahai Dewi suci! Berkahilah mereka semua! [Holy Magic : Lesser Area Stat Boost]!"
Selesai merapal, tubuh ketiga rekan party-nya bercahaya hijau. Merasakan kekuatan mengalir di tubuh mereka. Stat mereka bertambah sementara. Samejima yang pertama bertindak. Menghunus Rivelia, ia melesat ke arah monster banteng itu.
"GROOOAA!"
Mengambil langkah, Minotaur itu mengayunkan pedangnya ke arah Samejima. Bilah raksasa itu menuju tepat ke atas kepala sang pemuda.
Samejima mengangkat pedangnya. Menangkap bilah, percikan api terlempar keluar. Dengan gerakan cepat, ia mengarahkan pedang sang Minotaur ke samping. Dengan suara keras, pedang itu menancap ke dalam tanah.
Minotaur itu membulatkan matanya. Tidak menyangka Manusia kecil itu dapat mengarahkan serangannya ke arah lain.
Kesempatan!
Samejima mendekati tubuh sang monster. Pedangnya merah menyala, seperti besi panas.
"Hrah!"
"GROOAAAHHRR!"
Pedang Samejima menebas pinggang Minotaur, menembusnya seperti pisau panas memotong mentega. Rasa sakit serta panas menyerang sisi tubuhnya. Meraung keras, Minotaur itu melepaskan pedangnya. Rantai di tangannya mengeluarkan suara.
"Sekarang!"
Mendengar isyarat Samejima, Izumi mulai mendekat. Pemuda itu berlari ke arah Minotaur. Ia melompat mendekatinya. Meledak ke depan, ia melontarkan sebuah pukulan keras ke wajah banteng itu.
"HAH!"
"Gruoo-!?"
Minotaur mundur beberapa langkah. Pukulan Izumi cukup untuk membuatnya goyah.
Mengambil kesempatan, Yonaka merapal manteranya. Menarik senar busurnya.
"Wahai petir yang agung! Sambarlah musuhku dengan kekuatanmu! [Lighting Magic : Flash Arrow]!"
Mengikuti tangan Yonaka, sebuah anak panah petir terbentuk. Yonaka melepaskannya.
Kilatan cahaya menerjang maju. Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata manusia. Ia menancap di mata kiri Minotaur.
"GROOAAAA!?"
Minotaur meraung keras. Darah keluar dari rongga matanya. Asap melayang ke atas. Darahnya menguap saat terkena anak panah Yonaka.
Kini, Minotaur tahu. Musuh yang dihadapinya tidak bisa diremehkan. Minotaur itu memamerkan giginya. Taring tajam yang tidak sesuai dengan seekor banteng.
Ia membuka mulutnya. Sambil meraung, asap biru tua keluar dari mulutnya. Insting alami Izumi berteriak liar. Menyuruhnya untuk mundur. Firasatnya jarang salah.
"Mundur! Aku merasakan sesuatu yang buruk dari asap itu!" seru Izumi, hampir berteriak.
Mengikuti arahannya, Yonaka dan Samejima mundur ke belakang. Mereka berkumpul di dekat Erina. Mengambil nafas mereka sambil menyusun strategi.
"Izumi, kau tahu itu apa?" Samejima bertanya. Menyarung Rivelia.
"Kurang tahu. Tapi, menurutku itu asap racun," jawab Izumi. Menatap kumpulan asap itu. Sesekali, setitik merah bisa terlihat. Minotaur itu mengamati mereka.
"Racun 'kah? Erina, kau bisa mengatasinya?" Samejima mengalihkan perhatian ke Erina.
Gadis pirang itu mengangguk. "Aku memiliki sihir yang menahan racun."
Samejima mengangguk. "Gunakan itu. Izumi dan aku akan menyerang." Samejima memandang wajah rekan-rekannya. "Yonaka dan kau akan melindungi dari belakang."
"Bagus!" Izumi tersenyum lebar. "Ayo kita serang ******** itu!"
Izumi dan Samejima berdiri menghadap kepulan asap biru. Meskipun sudah beberapa menit berlalu, asap itu belum memudar. Kehadiran Minotaur itu masih terasa jelas.
"Wahai cahaya yang agung! Lindungi mereka dari keburukan! [Holy Magic : Resist]!"
Mengarahkan tongkatnya ke Izumi dan Samejima, Erina selesai merapal manteranya. Cahaya biru menyelimuti mereka, melindungi dari racun.
"Bagus!" Izumi kembali tersenyum. Ia melirik Yonaka. Terlihat agak malu, tapi tetap memasang senyum lebar. "Yonaka, lindungi aku ya."
Yonaka, sama malunya dengan Izumi, mengangguk. Memberikan senyum lembutnya. "B-baik!"
Samejima menghunus pedangnya. "Ayo maju!"
"Ou!"
Dengan semangat tinggi, kedua pemuda itu maju. Tujuan utama; Mengalahkan Minotaur.