
Jauh di entah berantah. Di bawah permukaan bumi.
Shinnichi jatuh dengan suara gedebuk. Mendarat di lantai yang dingin, Shinnichi membuka matanya. Gelap. Ada cahaya hijau samar, namun ia tidak bisa melihat tujuh meter di depannya.
"Argh!"
Shinnichi mencoba bangkit, tapi luka di tangan kanannya masih belum tertutup sempurna. Terserang rasa sakit yang menyengat, ia mengernyitkan kesakitan. Shinnichi bahkan tidak bisa menatap bagian kanan tubuhnya.
Kemeja putih di balik rompinya ternodai oleh darahnya. Bau darah yang anyir mulai menusuk hidungnya. Bunyi tetesan yang membuat merinding juga mencegahnya melihat ke bawah. Shinnichi memaksakan tubuhnya untuk berdiri.
"Ugh...."
Mengerang, Shinnichi bersandar ke dinding gua yang dingin. Ia bisa melihat sekelilingnya dengan baik.
Kini, ia berada di dalam semacam gua. Kristal hijau mencuat dari dinding dan atap. Memberi cahaya samar yang lembut. Suara aliran air pun bisa terdengar di kejauhan.
"Di mana... aku?" gumam Shinnichi bertanya-tanya.
Tak lama kemudian, ingatan itu datang. Shinnichi membulatkan matanya.
Fiona-sama!
Shinnichi mencoba berjalan. Namun, rasa sakit di lengannya mencegahnya. Ia kembali jatuh ke tanah.
Aku harus kembali! Fiona-sama! Fiona-sama membutuhkanku!
Shinnichi menarik tubuhnya di atas tanah. Panik, detak jantungnya menjadi lebih cepat. Membuat luka di tangannya kembali berdenyut.
"Urgh! Fiona-sama...."
Shinnichi menutupi lukanya. Mencegah lebih banyak darah keluar dari tubuhnya. Kepalanya mulai terasa ringan. Tapi, Shinnichi tidak membiarkan kesadarannya terbang. Ia tahu, jika ia pingsan di sini, ia bisa-bisa tidak bangun lagi.
Shinnichi menggertakkan giginya lalu kembali berdiri. Berjalan sambil menyandarkan diri di dinding. Meninggalkan jejak darah di belakangnya.
❂❂❂❂❂❂
Shinnichi terus menyusuri gua itu. Cahaya lembut membuatnya sedikit lebih tenang. Meskipun begitu, raungan dan suara misterius di kejauhan membuatnya khawatir.
Tapi, Shinnichi tidak berhenti. Ia terus berjalan. Mencari suatu jalan keluar atau seseorang untuk bantuan.
Diikuti oleh suara tetesan darah, Shinnichi mencapai sepasang jalan. Yang satu mengarah ke kiri, satunya lagi ke kanan. Shinnichi berhenti.
Ia tidak tahu harus kemana. Namun, suara aliran air di jalan kiri menariknya ke situ. Tenggorokannya terasa kering. Entah berapa lama ia sudah berada di gua ini, ia tidak tahu.
Dengan dorongan untuk minum, Shinnichi berjalan menelusuri jalan kiri. Suara aliran air itu menjadi lebih jelas.
Setelah beberapa saat, Shinnichi akhirnya sampai.
Sebuah sungai bawah tanah. Airnya jelas seperti kristal. Shinnichi bisa melihat dasarnya yang dipenuhi kerikil dan kristal yang ia temui di gua. Kristal itu mewarnai air bening itu dengan cahaya hijau. Di hulu, terdapat air terjun setinggi 20 meter. Samar-samar, terdapat beberapa pelangi di atas air terjun. Menambah kesan indah yang dimiliki tempat ini.
Shinnichi terkesima. Jika ini situasi normal, ia ingin pergi bersama Fiona ke sini.
Shinnichi berlutut di pinggir sungai. Menendang beberapa kerikil. Menimbulkan suara yang menenangkan.
Shinnichi menyiduk air lalu meminumnya. Air segar membasahi tenggorokan. Terasa dingin dan manis. Shinnichi minum beberapa teguk. Ia juga membasuh wajahnya. Menyegarkan diri.
Kemudian, ia menoleh ke lengan kanannya. Darahnya sudah mengering, menutupi daging, otot dan tulang yang terekspos. Shinnichi tidak bisa menatapnya lama-lama. Ia mencuci lukanya dengan air dingin.
Selesai, Shinnichi menatap sekelilingnya. Beberapa bongkah batu besar di pinggir sungai. Terdapat sebuah celah di antaranya. Shinnichi berjalan ke arah bongkahan batu itu lalu bersandar.
Ia mengangkat tangan kirinya lalu menggigit kemejanya. Dengan sekuat tenaga, ia merobek lengan bajunya. Kemudian, dengan susah payah Shinnichi mengikat kain itu di tangan kanannya. Mencoba menutupi lukanya.
Tak mudah melakukannya dengan satu tangan. Shinnichi harus menahan rasa sakit yang ditimbulkan saat kain bajunya bergesekan dengan lukanya. Tapi, sekitar 15 menit kemudian, ia berhasil mengikatnya.
Shinnichi menyandarkan tubuhnya ke belakang. Merasakan sensasi dingin batu besar itu. Sedikit mengingatkannya kepada Fiona-sama.
Shinnichi menghela nafas. Mendengarkan suara air terjun. Mencoba menenangkan diri.
Shinnichi menutup matanya. Membayangkan wajah Izumi, Yonaka dan Fiona. Ia tak sanggup. Hanya ada kenangan buruk yang muncul. Shinnichi mengadahkan kepalanya. Menatap langit-langit gua yang bercahaya.
Pikirannya terbebani. Duel, dikhianati, ia tidak tahu apa yang akan terjadi lagi. Ia takut memikirkan apa yang akan terjadi.
Shinnichi memeluk lututnya.
Shinnichi tidak tahu harus berbuat apa. Ia sendirian. Ia ketakutan. Ia ingin pulang.
Awalnya, ia hanya seorang murid SMA biasa. Dipanggil ke dunia lain mungkin salah satu impiannya. Tapi, setelah datang ke dunia ini, ia sadar. Ini bukan fantasi. Ini dunia nyata.
Dan dunia memang tidak adil. Seseorang mungkin memiliki kekuatan yang luar biasa. Namun, ada juga orang seperti Shinnichi yang bahkan di bawah rata-rata.
Meskipun ia terus berlatih keras setiap hari. Meskipun ia bisa mengalahkan Samejima sekali. Ia masih lemah.
Ia ingin menjadi kuat. Tapi, apa yang bisa ia lakukan?
Ia hanya seorang pengecut yang bertarung dengan taktik kotor. Seorang lemah yang tak bisa berdiri tegap di hadapan musuh. Seorang yang dilindungi bukan yang melindungi.
"Yonaka... Izumi... Fiona-sama...." Shinnichi menggumamkan nama teman-temannya. "Apa yang harus kulakukan...."
❂❂❂❂❂❂
Shinnichi tidak bergerak. Ia masih memeluk lututnya. Dalam hatinya, ia masih memegang sepucuk harapan kecil. Bahwa seseorang akan datang sebentar lagi dan menyelamatkannya.
Satu jam. Dua jam. Tiga jam.
Setiap detik. Setiap menit. Setiap jam.
Harapan itu semakin mengecil.
Dunia Shinnichi semakin mengecil. Klaustrofobia mencekik pemuda itu. Memeganginya di tempat dan mencegahnya keluar.
Ia bahkan tidak bisa tidur. Setiap kali Shinnichi menutup matanya, bayangan teman-temannya di tangan kerajaan muncul. Menghantuinya. Mimpi buruk yang nyata.
❂❂❂❂❂❂
"Kuu."
Sebuah suara memasuki gendang telinganya. Seolah-olah menjawabnya. Membuat pemuda itu menoleh.
Seekor tikus raksasa. Itu yang pertama kali Shinnichi pikirkan. Seukuran anjing besar, tikus itu memiliki tiga pasang mata merah. Cakar tajam dan gigi taring yang mencuat. Caranya berdiri mengingatkan Shinnichi kepada seekor meerkat. Sama seperti meerkat, enam tikus serupa juga muncul di belakangnya.
Shinnichi menelan ludahnya. Ia tahu mereka bukan hewan biasa. Mereka monster.
Shinnichi berdiri dengan perlahan. Mencoba untuk tidak memprovokasi mereka.
Tikus-tikus itu memiringkan kepala mereka. Jika wujud mereka bukan tikus raksasa bermata enam, mereka mungkin terlihat imut. Namun, mereka bahkan lebih buas daripada penampilannya.
"Kraa!" Mendesis keras, tikus pertama menyentakkan kepalanya.
Sprat! Suara tamparan yang basah menghantam dadanya. Dengan takut, Shinnichi menyentuh dadanya.
Basah. Lengket.
Ia berdoa itu bukan darahnya.
"""Kuraa!"""
Sebelum bisa mengetahui apa yang dirasakan tangannya, tujuh tikus itu menerjang maju.
"Aahh!" pekik Shinnichi. Ia tahu jika ia diam, kematian akan menjemputnya.
"Kra!"
"Krra!"
"Kuu!"
Ketujuh tikus itu membuka mulut mereka. Mendesis, meraung. Mengeluarkan suara buas yang lebih sesuai dengan macam daripada tikus. Sesekali, seekor dari mereka akan membuka mulut dan menyentakkan kepalanya. Menembakkan cairan hijau.
Shinnichi tidak tahu, tapi monster itu adalah Afanc. Seekor monster tikus yang bisa menembakkan racun. Berburu dalam kelompok, mereka sangat berbahaya jika dihadapi seorang diri.
Tak diberitahu sekalipun, instingnya masih bisa mengetahui bahwa sekelompok monster itu dapat mencabik-cabik tubuhnya dengan mudah. Ia tidak berhenti. Shinnichi terus berlari sambil menghindari kristal, batu, dan bahkan cairan yang ditembakkan Afanc.
Jarak antara mereka tidak berubah. Semakin dekat bahkan. Shinnichi bisa merasakan kematian di belakangnya.
"Ah!"
Shinnichi berhenti tiba-tiba. Ia sampai di tepian lereng setinggi 20 meter. Ada air terjun di sampingnya, tapi tak mungkin ia melompat ke bawah. Ia tidak bisa melarikan diri lagi.
"Sial!" Shinnichi mengumpat. Tak ada pilihan lagi.
Ia berbalik untuk menghadapi kelompok Afanc itu. Shinnichi mengalirkan Mana ke telapak tangannya. Membuat bola Mana yang lebih besar dari biasanya. Namun, sebelum bisa menembakkannya, Shinnichi berhenti.
Wajahnya berubah pucat. Ia bisa melihat sosok hitam besar di belakang para Afanc. Menguntit mereka seperti seekor pemangsa.
"Kura!"
Shinnichi tersadar. Racun seekor Afanc melaju ke arah wajahnya. Shinnichi mengangkat tangan kirinya untuk menutupi wajahnya.
Terlambat.
"AARGHH! Mataku! Mataku!"
Sensasi terbakar menyerang wajahnya. Ia tidak bisa membuka mata kirinya. Shinnichi mencoba mengusap racun itu dari wajahnya. Mencoba menghentikan rasa sakit.
Ia mundur ke belakang. Kakinya tidak menginjak tanah. Ia bisa merasakan tarikan gravitasi. Perasaan melayang. Perutnya berputar.
"Ah."
Tanpa bisa mengatakan apa-apa, Shinnichi jatuh.
Merasakan udara bersiul melewatinya. Ia mendengar sesuatu. Sesuatu yang mengerikan. Bukan seperti sesuatu yang pernah ia dengar sebelumnya. Seperti seekor monster dari neraka.
Lolongan seekor Serigala dan suara ketakutan para Afanc adalah hal terakhir yang ia dengar. Sebelum tubuhnya menghantam air.
✾✾✾✾
Gelap. Dingin. Sesak.
Pemuda itu menggelepar. Meronta-ronta di dalam air yang dingin. Mencoba berenang ke arah permukaan. Di manapun itu.
Tubuhnya terseret arus. Air mendorongnya ke dasar. Menggesek tubuhnya dengan tanah dan bebatuan yang keras. Seperti mesin cuci raksasa.
Shinnichi berputar-putar. Ia tidak tahu mana permukaan air. Udara yang dimilikinya semakin menipis.
Ia tidak bisa melihat. Atas, bawah, kiri, kanan. Semua terlihat sama.
Hati Shinnichi kembali remuk. Harapan yang dipegangnya pupus. Ia menyadari kenyataan yang dialaminya.
Ia sendirian. Tidak ada seorang pun yang akan menyelamatkannya. Kemungkinan besar ia akan mati. Tapi, ia tidak mengerti.
Kenapa ini terjadi?
Kenapa ia terus menderita?
Kenapa ia di sini?
Kenapa?
Kenapa... Ia hidup?
Udaranya semakin menipis. Shinnichi berhenti meronta-ronta. Kelopak matanya berat. Ia ingin tidur. Ia ingin istirahat.
Mungkin, selamanya.
Sekali lagi, Shinnichi kehilangan kesadaran.
✾✾✾✾
Shinnichi menyerah. Namun, ini bukan akhir ceritanya.
Entah karena keajaiban atau hal lain, nasib baik masih berpihak kepadanya. Ia terbawa arus. Memasuki sebuah jalur bawah air. Menuju ke dalam gua dengan kantong udara.
Tubuhnya terdampar di dalam. Tak sadar, namun masih hidup.
Gua itu cukup besar. Ukurannya dapat dibandingkan dengan sebuah stadion kecil. Berbeda dengan bagian yang lain, gua ini terlihat tidak alami. Dindingnya terlihat buatan. Seperti sebuah ruangan rahasia.
Di ujung, terdapat sebuah ranjang seukuran ratu. Perabotannya lengkap. Sepasang kursi dengan meja, beberapa peralatan makan serta masak dan bahkan lemari penuh buku. Di pojok ruangan, terdapat tumpukan tulang seekor hewan. Seseorang pernah menempati ruangan ini. Setidaknya di masa lalu.
Debu sudah berkumpul di permukaan seluruh benda di ruangan. Membuat mereka terlihat abu-abu dan kotor dari aslinya. Menandakan penghuni tempat ini sudah lama tidak berkunjung.
"Uhuk! Uhuk!"
Shinnichi sadar. Terbatuk-batuk. Mencoba mengeluarkan air yang memenuhi paru-paru dan perutnya.
"Haah.... Haah...." Shinnichi membuka mulutnya lebar-lebar. Berusaha menghirup udara.
Shinnichi menarik dirinya ke daratan. Ia menggigil kedinginan.
"Aku... masih hidup?"
Shinnichi menatap tangannya. Basah dan kedinginan, namun masih hidup. Tapi, masalahnya lebih besar. Ia kedinginan. Suhu tubuhnya yang rendah dapat membahayakan dirinya.
Ia menatap sekelilingnya. Sedikit terkejut karena melihat benda buatan yang familiar. Ia tidak terlalu lama memikirkannya. Matanya tertuju ke arah selimut ungu yang ada di atas ranjang.
Shinnichi berjalan tertatih-tatih menuju ranjang. Ia melepaskan pakaiannya dan melemparkannya ke tanah. Ia menarik selimut itu lalu menutupi tubuhnya.
Penuh debu dan tubuhnya terasa kotor. Tapi, lebih baik daripada tidak ada. Shinnichi mengikat selimut itu agar tidak jatuh. Meskipun begitu, ia masih kedinginan.
Shinnichi mencari sesuatu di ruangan itu. Tak menemukan apa-apa, ia mengambil sebuah kursi lalu mematahkan kaki kursi dan sandarannya. Ia mengukir sebuah lingkaran sihir di atasnya. Belajar di perpustakaan setiap hari setidaknya memberikan hasil.
"Wahai Ifrit, penguasa api dan panas. Berilah sumber kehangatan padaku. [Fire Magic : Spark]."
Menggunakan Mana seadanya, Shinnichi membakar kursi itu. Api mulai membara. Memberi sedikit kehangatan kepadanya. Ia juga menaruh pakaian basahnya di samping api.
Kelelahan akhirnya menyerangnya. Ia baru sadar betapa berat tubuhnya. Rasa sakit terus menyerangnya. Dari lengan kanannya, punggungnya, dan kepalanya. Shinnichi bahkan baru sadar. Mata kirinya kini tidak bisa melihat apa-apa.
Ia menyentuhnya mata kirinya. Ia tidak merasakan apa-apa. Ia bahkan tidak tahu apakah kelopak matanya terbuka atau tertutup. Area sekitar mata kirinya mati rasa. Pengelihatan kirinya sudah hilang.
Shinnichi hanya bisa pasrah. Ia sudah tahu hal seperti ini akan terjadi. Berbeda dengan tangan kanannya yang dipotong, ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa kecuali dirinya.
Shinnichi berbaring di lantai. Mencoba beristirahat dan menutup matanya. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini. Dalam beberapa saat, Shinnichi sudah terlelap.
Tak diketahui olehnya, ada "sesuatu" di dalam ruangan itu. Tak bergerak, ia menatap pemuda berambut hitam itu dengan diam. Seabad sudah ia menunggu.
Waktunya telah tiba. Untuk pembalasan.