Re: Turning

Re: Turning
The Awakening



Shinnichi membuka matanya lagi. Pandangannya buram, tapi ia bisa mengerti bahwa ia masih di dalam gua. Ia bangun, merasa sedikit grogi.


"Ugh!"


Begitu kesadarannya kembali, Shinnichi mengerang. Ia memegang perutnya. Rasa sakit menyerang perutnya. Ia kelaparan.


Bukankah aku sudah makan pagi tadi? Harusnya tidak sesakit ini.


Shinnichi tidak mengerti. Ia menyentuh kepalanya yang berdenyut-denyut. "Berapa lama aku pingsan?"


"Sekitar empat atau lima jam."


"!?"


Shinnichi menoleh ke sana kemari. Mencari sumber suara yang menjawabnya. Ia tidak menemukan siapapun di situ.


"Halusinasi?"


"Bukan, bodoh. Aku di kepalamu."


"... Aku sudah mulai gila ternyata." Shinnichi kembali memegang kepalanya lalu tersenyum lemah. Menggeleng-geleng sedikit.


"Setelah apa yang terjadi kepadamu? Aku tidak terkejut."


Shinnichi terdiam. Sadar bahwa suara itu bukan bayangannya semata. Ia bisa mendengar suara itu dari dalam kepalanya.


"Cukup tenang ya? Yah, kau pengelana dunia jadi itu sudah biasa." Suara itu kembali berkomentar dalam kepalanya.


"Bagaimana kau tahu? Siapa kau? Kenapa kau ada di kepalaku?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Shinnichi. Dipenuhi rasa penasaran dan waspada.


"Apakah kau tak punya sopan santun? Seseorang akan mengenalkan dirinya sendiri sebelum menanyakan nama orang lain."


Shinnichi kembali diam. Sedikit kesal dengan sifat suara di dalam kepalanya ini. Ia memilih untuk menurut.


"... Namaku Shinnichi," jawabnya singkat.


"Aku sudah tahu."


Kenapa kau tanya!? Menahan celetukan itu, Shinnichi ingin memukul sesuatu.


"Lalu? Siapa kau?"


"Aku? Schwarz, sang Penguasa kegelapan. Penghuni dunia ini memanggilku Kaisar Naga Kegelapan." Dengan nada sombong, Schwarz mengenalkan dirinya. Menyangka Shinnichi akan terpukau dengan gelar hebatnya itu.


Sebaliknya, Shinnichi mengernyitkan dahinya. "Nama macam apa itu? Kau chuuni ya?"


"A-apa? Kau tidak kagum dengan nama hebatku?"


"Kagum? Kau gila?! Mana ada orang kagum dengan kata-kata seperti itu!"


Shinnichi masih mengernyit. Ia kembali mengingat masa lalu. Sebuah masa gelap di era hidupnya. Kelas dua SMP.


Waktu itu, Shinnichi gemar memakai sarung tangan hitam dan jubah ayahnya. Tak lupa kalimat-kalimat yang bisa membuat siapa saja malu seperti "Takdir sudah mengikat kita!" dan "Kekuatan misterius dari masa laluku muncul!"


"Argh! Bunuh aku! Tolong!"


Shinnichi memegang kepalanya sambil berguling-guling di atas tanah. Trauma masa lalunya lebih menyakitkan daripada rasa laparnya.


"O-oi! Tak usah berlebihan!" Schwarz menghardik Shinnichi. Terdengar sedikit kewalahan.


"Diam kau! Kau yang membuatku mengingatnya!"


"O-oh, maaf."


Seorang pemuda memarahi seekor Naga. Pemandangan yang absurd. Tak ada yang akan percaya jika mereka tidak melihat ini secara langsung.


❂❂❂❂❂❂


"Sudah baikan?"


"Maaf, aku baik-baik saja sekarang."


Setelah beberapa menit, Shinnichi akhirnya tenang. Setelah minum beberapa tenggak, ia merasa lebih baik.


"Jadi, apa sekarang?" Shinnichi bertanya. Merasa sedikit canggung.


"Yah, sebelum 'aksi' kecilmu tadi, aku ingin menjelaskan bagaimana aku bisa berada di dalam kepalamu," jelas Schwarz. Terdengar santai. "Tapi, kurasa kau sudah tahu 'kan?"


"Batu sihir itu?" Shinnichi menebak.


"Tepat," jawab Schwarz. "Batu sihir itu adalah 'inti'-ku; Soul Stone. Salah satu dari enam Batu Filsuf."


"Uwah, aku menemukan hal yang berbahaya,"


"Kau harusnya bersyukur. Aku memberikan sedikit kekuatanku. Kau jauh lebih kuat sekarang."


"Benarkah?"


Shinnichi menatap tubuhnya. Tak ada yang berbeda. Tapi, selain rasa lapar, ia tidak merasakan sakit lagi. Sensasi berdenyut di tangan kanannya juga menghilang. Lukanya sembuh.


Shinnichi berdiri. Ia hampir jatuh. Keseimbangannya seperti terganggu. Wilayah pandangannya juga berbeda. Tinggi tubuhnya bertambah 12 cm. Dari 164 cm menjadi 176 cm.


Shinnichi menyentuh dadanya dan perutnya. Keras. Ia memukulnya beberapa kali. Seperti memukul batu. Otot-ototnya juga berkembang.


"Ini berbeda. Tubuhku terasa lebih ringan."


"Aku harus menyesuaikan tubuhmu agar bisa menerima kekuatanku. Meskipun hanya sedikit, itu tidak bisa diremehkan."


"Huh, begitu ya?" Shinnichi menggerakkan kakinya. Membiasakan diri dengan perubahan tubuhnya. "Ah, kartu statusku."


Shinnichi teringat. Ia merogoh saku rompinya. Mengambil sebuah pelat hitam.


"Hmm? Penduduk dunia ini kini menggunakan alat sihir untuk melihat status mereka sendiri ya? Menggelikan sekali."


Shinnichi mengabaikan Schwarz. Ia memfokuskan Mana ke kartu statusnya. Menunggu kartu itu menampilkan informasi.


"Ap-!?"


Namun, sebelum bisa melihat statusnya, kartu hitam itu tiba-tiba retak. Pecah berkeping-keping sebelum berubah menjadi abu di tangan Shinnichi.


"... Kenapa?"


"Inilah kenapa aku tidak percaya dengan alat sihir. Ciptaan si tua Xerc memang tidak bisa diandalkan. Gunakan [Appraisal]-mu."


"... Jangan intip kemampuanku, sialan." Shinnichi menggerutu. Ia mengangkat lengannya. Menggumamkan "[Appraisal]," jendela status Shinnichi muncul.


『Name : Kurobane Shinnichi


Level : 13


Race : Half-Demonic Dragon


Class : [None]


Stats


Agi : 278


Atk : 263


Int : 383


Vit : 276


Skill


[Appraisal lvl.5] [Self-Magic Manipulation lvl.1] [White Magic lvl.3] [Dark Magic lvl.1] [Soul Eyes] [Draconic Wrath] [Language Comprehension]


Title


[Other World Traveler] [The Dreamer] [Observer] [Heir of Schwarz]』


"Huh!? A-apa ini?!" Shinnichi mengedipkan matanya berkali-kali. Tak percaya apa yang ia lihat. "Ini bohong!"


"Kasar sekali." Schwarz mendengus. "Ini berkah dariku. Kau seharusnya bersyukur."


"Jangan bercanda! Aku bukan Manusia lagi!" seru Shinnichi. Masih menatap statusnya.


"Oh? Kau khawatir dengan itu?" tanya Schwarz. "Lalu, kenapa kau tersenyum?"


"!?" Shinnichi langsung menangkup mulutnya. Baru sadar, bahwa ia memang tersenyum sedari tadi. "A-aku tersenyum?"


"Benar. Kau senang bukan?" Suara Schwarz terdengar menggoda. Senang melihat perasaan Shinnichi keluar tanpa diketahuinya. "Kau tidak peduli darimana asalnya. Untuk mendapatkan kekuatan, kau bahkan rela menjual jiwamu ke Neraka, bukan?"


"...."


"Tak usah malu. Kau sudah menjual jiwamu kepadaku. Terima diriku sebagai bagian darimu. Maka kau akan mendapatkan semuanya."


"... Aku bisa menggunakannya? Kekuatan ini?"


"Tentu. Anggap saja bayaran pertama untuk tubuhmu ini. Gunakan kekuatanku sepuas hatimu. Untuk apapun yang kau mau. Namun," jeda Schwarz. "Seperti kataku tadi, kau harus menerimaku."


Shinnichi terdiam. Keinginannya terwujud. Keinginan terbesarnya; Kekuatan.


Tawaran Schwarz terdengar begitu manis. Menjanjikan masa depan yang terang. Shinnichi ingin menerimanya langsung, namun ia tahu. Segala hal memiliki konsekuensi.


Hatinya goyah. Tangan bantuan Schwarz menggodanya untuk menerimanya. Jantungnya berdebar-debar. Hatinya berbisik.


'Terima kekuatan itu dan selamatkan Fiona.'


Ini kesempatan yang ia tunggu-tunggu. Permohonan yang selalu ia harapkan. Kesempatannya untuk berubah dan merebut apa yang menjadi miliknya.


Shinnichi memutuskan. "... Baiklah, aku terima."


✾✾✾✾


Makhluk hidup tidak mudah berubah. Pemakan tumbuhan tidak bisa berubah menjadi pemakan daging dalam sekejap. Begitu pula sebaliknya.


Tekanan dari luar memaksa mereka. Memaksa mereka untuk mengambil keputusan sulit. Membunuh atau dibunuh. Aturan hidup yang tidak pernah Shinnichi temui tiba-tiba menjeratnya.


Shinnichi sudah muak.


Muak kalah dari orang lain. Muak mengalah. Ia muak menerima semuanya begitu saja. Dengan kekuatan barunya, ia akan melawan.


✾✾✾✾


Perut Shinnichi berbunyi. Mengeluarkan pintaan untuk makan.


"Ugh, aku belum pernah merasa selapar ini sebelumnya." Shinnichi mengelus perutnya.


"Ah, itu akan sering terjadi di masa depan. Lebih baik kau cari makanan dulu." Schwarz memberi saran.


"Di mana?" tanya Shinnichi. Sedikit kebingungan.


Shinnichi sudah memeriksa ruangan Schwarz. Sudah lama ruangan ini tidak disentuh makhluk hidup. Makanan apapun pasti sudah tidak bisa dikonsumsi lagi. Ia juga tidak tahu makanan apa yang dikonsumsi oleh seekor naga.


"Ada pintu keluar di balik lemari buku. Dorong saja."


Shinnichi mengikuti arahan Schwarz. Seperti yang dikatakannya, sebuah jalan terbuka di balik lemari. Lorong gelap yang diterangi kristal hijau.


"Oh. Berguna juga."


Shinnichi berjalan menelusurinya. Meskipun dengan pencahayaan minim, Shinnichi bisa melihat jalan dengan mudah. Shinnichi tidak terlalu memikirkannya, pikirannya fokus dalam mencari makan.


Setelah beberapa saat, ia keluar dari barisan batu di pinggir sungai bawah tanah. Tak jauh dari tempat di mana ia jatuh. Shinnichi bahkan bisa melihat air terjun yang sama.


"Ikuti hilir. Kau bisa menemukan makanan di sana." Schwarz kembali memberi arahan.


Shinnichi mengangguk. Ia mulai berjalan menyusuri sungai. Berharap tidak bertemu monster di sepanjang jalan.


❂❂❂❂❂❂


Shinnichi terus berjalan beberapa saat. Rasa lapar di perutnya bertambah seiring dengan langkah kakinya. Ia hanya bisa menahannya dan sesekali meminum air sungai.


Ia sudah berjalan selama beberapa jam. Melewati beberapa air terjun dan ratusan kristal cahaya. Perlahan, interior gua berubah. Dari lantai batu dan kerikil, menjadi rumput dan tanaman.


Shinnichi keluar ke ruangan terbuka. Memiliki lebar sekitar setengah kilometer dan dipenuhi oleh rerumputan, pepohonan hijau serta aroma segar yang samar. Ia bisa melihat puluhan sungai menjalar dari segala arah bergabung menjadi satu. Membentuk sebuah danau besar di tengah-tengah. Diterangi oleh kristal, "ruangan" itu nampak seperti memiliki matahari kecil. Memberi kehangatan kepada penghuni gua itu.


Dari sudut matanya, Shinnichi bisa melihat beberapa hewan unik. Sekumpulan hewan mirip rusa yang berparuh panjang sedang mencari makan di pesisir danau. Menyisir air dengan paruh mereka. Mengingatkan Shinnichi akan sekelompok burung flamingo.


Sekelompok hewan gabungan antara tapir dan gajah merumput di sudut ruangan. Menarik rumput dan memukul-mukulkannya ke tubuh mereka. Membersihkannya dari pasir dan tanah sebelum memakannya.


Burung-burung berbulu cerah bertengger di sisi dinding, menempati ratusan lubang yang ada. Ratusan, bahkan ribuan serangga berputar-putar di sekitar kristal seperti ngengat yang tertarik dengan cahaya lampu. Banyak dari mereka menjadi makanan burung, namun lebih banyak yang menggantikan mereka.


Beberapa pasang makhluk berbentuk semak-semak melancarkan jalarnya ke satu sama lain seperti sebuah cambuk. Pertarungan memperebutkan wilayah sepertinya.


Shinnichi terpaku di tempatnya. Memandang keindahan surreal di hadapannya. Ia sadar bahwa ini bukan gua biasa.


"Hei, Schwarz," panggil Shinnichi. "Kita sebenarnya ada di mana?"


"Hmm? Saat ini kau berada di lantai dalam ke-79 Great Dungeon Gram."


Jawaban santai Schwarz mengejutkannya. "Hah? Aku pasti salah dengar. Tadi aku mendengar Great Dungeon Gram."


Great Dungeon. Labirin kuno yang ukurannya melebihi labirin biasa. Hanya dua yang diketahui oleh penghuni dunia ini. Konon, Dungeon ini diciptakan oleh Dewi saat menciptakan dunia untuk melatih penduduknya agar dapat melindungi diri mereka. Dikatakan bahwa siapa saja yang menaklukkannya akan mendapatkan kekuatan tak terbayangkan. Namun, selain itu hanya sedikit yang diketahui tentang Great Dungeon. Karena kekuatan yang dibutuhkan untuk melewati lantai menengah Dungeon ini haruslah besar, tak banyak yang bisa tahu isi dan sejarah labirin ini.


Lalu, mana mungkin seseorang sepertinya berada di dalam lantai terdalam sebuah labirin? Sebuah Great Dungeon pula. Hanya pahlawan di cerita fantasi saja yang dapat memasuki Dungeon mistis seperti ini.


Shinnichi meyakinkan dirinya bahwa ia salah dengar. Meskipun Schwarz dengan mudah mematahkannya.


"Otakmu rusak atau kau memang tuli? Kita memang sedang berada di lantai dalam ke-78 Great Dungeon Gram."


".... Di Benua Ronzi?"


"Memangnya ada di mana lagi?"


Shinnichi tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia kembali berjalan. Mengepalkan tangannya.


"Apakah ada jalan keluar dari sini?"


".... Ada."


"Bagai—"


"Fokuslah pada hal yang penting terlebih dahulu."


".... Baik."


Shinnichi ingin memprotes Schwarz. Tapi, apa yang dikatakannya memang benar. Ia harus makan dulu. Apa gunanya jika ia mati karena tidak fokus?


"Sekarang, mari kita berburu."


"Tunggu. Berburu? Kita tidak menangkap ikan atau mencari tanaman?" Shinnichi kembali bertanya.


"Jangan bodoh. Cermati baik-baik danau itu."


Shinnichi mengikuti perkataan Schwarz. Ia menatap danau itu. Tenang, seperti kaca. Sesekali, rusa berparuh panjang itu membuat riak dengan kaki mereka. Lalu.


"GROOA!"


"Kraa! Kraa!"


Sebuah bayangan hitam besar melompat keluar dari air. Menangkap seekor rusa di mulutnya. Sontak, rusa-rusa lain berlari terbirit-birit. Insting menyuruh mereka untuk menjauhi air.


Shinnichi tak bisa melihat sosok itu dengan jelas. Sebelum ia sadar bahwa sosok hitam itu adalah seekor buaya raksasa seukuran bus sekolah. Di mulutnya, puluhan gigi tajam menusuk tubuh rusa malang itu. Kejang-kejang mencoba melarikan diri dari penjara maut.


Buaya itu mengatupkan rahangnya lebih keras. Suara retakan bisa terdengar dari jauh. Memastikan bahwa mangsanya sudah mati, buaya itu mundur kembali ke dalam air dalam.


Shinnichi menelan ludahnya. Thalassophobia-nya kembali muncul. Ia mengingatkan dirinya agar tidak mendekati danau itu apapun yang terjadi.


"Y-yah, paling tidak hewan semak-semak itu memiliki buah."


Shinnichi mengalihkan pandangannya ke kelompok hewan tumbuhan itu. Ia bisa melihat buah berwarna ungu di sekitar tubuh mereka. Terlihat segar dan matang.


"Aku tidak akan menyarankanmu untuk mendekati mereka. Ledakan dari Methanosian terasa cukup menyakitkan."


"Ledakan?" Shinnichi tidak mengerti perkataan Schwarz. Tapi, ia pasti melebih-lebihkannya. Mana mungkin tumbuhan bisa menyebabkan ledakan.


Shinnichi melihat sepasang monster semak-semak atau Methanosian itu. Masih mencambuk satu sama lain. Jika seseorang mengabaikan bahwa mereka sebenarnya tanaman, tidak ada yang terlalu aneh.


Lalu, salah satu dari mereka menarik beberapa buah dari tubuhnya. Ia melemparkan tiga buah ungu ke lawannya. Aneh, Shinnichi pikir. Ia akhirnya sadar bahwa di sekeliling mereka terdapat puluhan kawah-kawah. Lalu.


BUUM! Ledakan besar mengguncang gua. Berasal dari buah yang dilemparnya, Methanosian yang menerima ledakan itu hancur tak tersisa. Sementara Methanosian yang lain terbang karena gelombang kejut yang besar. Menjatuhkan beberapa buah dan menciptakan ledakan beruntun lainnya. Menghancurkan lanskap dan meledakkan hewan-hewan lainnya yang ada di jalannya.


"... Schwa—"


"Jangan tanya. Aku sendiri juga tidak mengerti." Schwarz menghela nafas. "Untuk sementara ini, kau buru saja Filbrum itu."


Shinnichi mengangguk mengerti. Rusa berparuh itu terlihat seperti target terbaik. Tapi, ada satu masalah.


"Aku tidak punya senjata," kata Shinnichi. "Ada ide?"


"... Manusia benar-benar dungu ternyata." Schwarz bergumam. Terdengar sedikit frustrasi. "Kau punya kekuatanku. Gunakan."


Shinnichi mengingat kekuatan yang didapatkannya dari Schwarz. [Soul Eyes] dan [Dark Magic]. Dari namanya, ia bisa menebak skill mana yang harus digunakan.


"Jadi, apa manteranya?"


"Mantera? Ayolah, kau punya [Self-Magic Manipulation]. Kau hanya perlu membayangkannya saja."


"Tutup matamu." Schwarz mulai memberikan arahannya. "Konsentrasi. Fokuskan Mana-mu di tangan kanan. Bentuknya, cara bergeraknya, rasanya. Bayangkan dan pertahankan."


Apa maksudnya itu? Shinnichi bertanya-tanya. Ia mengikuti perintah sang kaisar naga.


Ia mulai membayangkan tangannya. Tulang, daging, otot-otot yang membentuknya. Lengan, telapak tangan, jari-jemari. Kehangatan menyelimuti tangannya.


Shinnichi membuka matanya. Sebuah tangan hitam pekat berada di tempat tangan aslinya. Shinnichi mencoba menggerakkannya. Membuka-tutup kepalannya.


"Hebat...." gumamnya.


Meskipun warna dan sensasinya berbeda. Tangannya kembali. Benar-benar kembali.


Ia menyentuhnya; dingin. Ia mencoba memegangnya; tangan kiri menembusnya seolah-olah kabut. Shinnichi mencoba beberapa hal. Mengubah tangannya menjadi beberapa bentuk; pedang, sabit, kama, cakar, kapak, bunga pala sebelum mengubahnya kembali menjadi tangan.


"Hoh, tak kusangka. Ternyata kau berbakat."


Shinnichi berterimakasih kepada dirinya di masa lalu. Mempelajari senjata karena ingin terlihat keren ternyata membantunya.


"Kurasa aku bisa menggunakan ini." Shinnichi mengubah tangannya menjadi pedang hitam. Mengayunkannya beberapa kali.


"Kuberi nama...." Shinnichi memeriksa pedang hitamnya. "Blackstar! Bagaimana? Aku mengambilnya dari pedang ikonik milik Reu—"


"Bicara apa kau? Nama sihir itu [Abyssal Mist]. Jangan ubah seenaknya."


"Tch, terserahlah." Shinnichi menggerutu. Kesal karena harapannya tidak terpenuhi.


Shinnichi mengarahkan pandangannya kembali ke depan. Menatap seekor Filbrum di kejauhan. Ia menghunuskan Abyssal Mist. Ia berbisik. "Kau akan menjadi target pertamaku."


Shinnichi menendang tanah. Melesat dengan kecepatan di atas normal. Ia membelalakkan matanya.


Sejak kapan aku bisa bergerak secepat ini!? Shinnichi berseru dalam hatinya. Tak bisa berhenti, kakinya menyandung batu.


"Ah."


Shinnichi jatuh tersungkur. Wajahnya mencium tanah. Awan debu terbang karenanya.


"...."


"...."


"Harusnya kau la—"


"Diam."