Re: Turning

Re: Turning
Hellscape



Shinnichi menginjakkan kakinya di lantai ke-96. Lanskap lantai ini berbeda jauh dari lantai sebelumnya. Jika lantai sebelumnya bertema gua dingin, lantai ini adalah gua dalam gunung berapi!


Tanah di lantai itu berwarna merah dan retakan-retakan di atasnya bersinar panas. Mampu membakar siapa saja yang jatuh. Dari pintu masuk lantai, tak ada jalan lebar. Hanya jalur bebatuan sempit yang menjulang di atas sungai magma yang meletup-letup. Dengan jurang menganga di sampingnya, jatuh adalah kematian pasti yang lambat dan menyakitkan.


Dengan suhu tinggi ini, makhluk biasa tidak mungkin bertahan hidup. Paru-paru mereka akan terbakar duluan sebelum bisa mengambil tujuh langkah dari anak tangga. Neraka mungkin kata yang cocok dengan untuk menjelaskan lantai ini.


Shinnichi menutupi mulutnya. Udara panas membuat nafasnya sesak. Hidungnya terasa terbakar setiap kali menarik nafas. Ia membuka [Storage], lalu mengambil topeng naga kemudian memakainya. Ia bisa bernafas seperti biasa lagi. Namun, ia masih khawatir dengan sepatunya. Ia harap mereka tidak terbakar.


“Kakakmu yang membuat ini?” tanya Shinnichi.


Schwarz menjawab. “Dia Dungeon Master, jadi mungkin begitu.”


“Kau tidak yakin?”


“Aku tidak dilahirkan di sini, kau tahu? Kau kira aku tahu semuanya?”


“Ah, benar juga.” Shinnichi mengangguk mengerti.


Shinnichi melanjutkan perjalanannya. Menahan suhu tinggi yang menguras tenaga. Untung saja ia memiliki jubah Schwarz. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana petualang bisa menjelajahi bagian dungeon ini.


Bum! Sebuah ledakan di bawah meniup angin panas ke arah Shinnichi. Dengan hati-hati, ia menengok ke bawah. Ada sepasang ikan aneh, yang memiliki sebuah antena di kepalanya mirip Anglerfish yang ada di dunia asalnya. Kedua makhluk itu sedang bertarung. Melemparkan bola api dari antena mereka yang berfungsi seperti tongkat sihir. Di kejauhan, Shinnichi bisa melihat monster lain. Kadal api, mungkin mereka Salamander yang sering didengar Shinnichi. Mereka sedang menunggu slah satu dari ikan itu untuk kalah, mangsa yang mudah.


Shinnichi memutuskan untuk tidak mengganggu mereka. Tak ada gunanya mengambil resiko yang tidak perlu. Ia ingin cepat-cepat pergi dari lantai ini.


Namun, Dungeon tidak akan membiarkannya begitu saja.


“””Kraa!”””


Tiga ekor ngengat raksasa muncul di hadapannya. Sayap mereka terbuat dari aura api yang bersinar cemerlang. Meskipun Shinnichi ingin memikirkan bagaimana makhluk seperti mereka hidup di lantai seperti ini, ia tidak diberi kesempatan.


Fwoosh! Sepasang ngengat api mengepakkan sayap mereka ke arah Shinnichi. Menciptakan angin panas kencang. Sementara yang satunya melemparkan bola api ke arahnya. Bergabung, bola api kecil yang dilemparnya tiba-tiba membesar. Membara seperti matahari kecil.


“--!?” Shinnichi melindungi dirinya menggunakan jubah Scwarz. Menerima bola api itu dan menahan panas menyengat serta gaya dorongan kuat yang hampir menjatuhkannya dari jalan sempit itu.


“Sialan!” Shinnichi tak membiarkan mereka menyerang lagi. Ia mengarahkan Dominator ke arah ngengat yang ada di tengah


Terkena peluru Mana Shinnichi, ngengat itu meledak. Mendorong kedua ngengat yang tersisa, membuat mereka mengoleng di udara. Dengan akurasi yang agak condong, ia menembak ngengat  di kiri.


“Kra!” Ngengat itu berkicau kesakitan. Tubuhnya hancur setengah, ia jatuh ke bawah dan menerima kematiannnya di dalam lava.


Melihat apa yang terjadi, ngengat terakhir mencoba melarikan diri. Namun, Shinnichi tidak membiarkannya. Ia mengubah laras Dominator agar menjadi lebih panjang dan kecil. Kemudian, seperti penembak runduk, ia menciptakan sebuah lubang di tengah-tengah tubuh monster itu. Jatuh, tubuhnya bahkan tidak mencapai tanah. Ia dilahap oleh seekor kadal yang sedang berenang.


“Fuuh...” Shinnichi menghembuskan nafas lega. Ia menaikkan kembali tudungnya lalu melanjutkan perjalanannya.


❂❂❂❂❂❂


Jalan yang Shinnichi ambil perlahan mulai menurun. Membentuk sebuah lengkungan di atas sungai lava. Dan ia tidak menyukainya.


Di depan, ia bisa melihat alasannya. Sebuah danau lava yang luas. Dibandingkan dengan danau yang ia lihat di kerajaan, ini bisa saja samudera. Hanya letupan lahar dan bebatuan yang meleleh karenanya.


Shinnichi berdiri di tepian. Berusaha untuk menahan rasa penasarannya untuk menyentuh lava agar tahu bagaimana sensasinya. Ia sudah kehilangan satu tangan, ia tidak berencana untuk kehilangan yang satunya lagi.


Shinnichi menendang sebuah batu kecil jauh ke tengah-tengah lava.


“Groaa!” Sebuah erangan hebat muncul dari danau, menggetarkan rongga dadanya. Bersamaan, sebuah sosok besar muncul dari kedalaman danau. Melompat ke luar lava dengan anggun.


Shinnichi menelan ludahnya. Seekor ikan paus. Seekor ikan paus berenang dalam lava. Entah bagaimana caranya, Shinnichi benar-benar tidak tahu.


Bentuknya mirip dengan paus biru kecil, dengan beberapa perbedaan. Di bagian atas, kulitnya mirip bebatuan panas yang dipijaknya, lengkap dengan retakan bercahaya. Di bagian bawah, warnanya putih kemerah-merahan. Di samping kepalanya, terdapat tanda berwarna hitam, seperti mata seekor paus pembunuh dengan titik merah sebagai matanya.


Beberapa ekor paus lava lainnya muncul tak lama setelah yang pertama, sebuah kelompok. Dengan kata lain danau lava dalam dungeon ini mempunyai ekosistem yang mampu mendukung sekelompok paus meskipun terbuat dari magma yang mempunyai suhu di atas seribu derajat celcius.


Shinnichi perlu berhenti sejenak. Ia memijat-mijat dahinya. Mencoba menelan kenyataan bahwa ini adalah hal sungguhan.


“Aku lelah dengan dunia ini,” keluhnya. Jika ini Shinnichi dulu, mungkin reaksinya berbeda. “Paus di air saja sudah cukup menakjubkan. Sekarang paus di lava? Berikutnya apa? Paus di langit?”


“Nama mereka Pyrowel, dan iya. Paus di langit memang ada. Tepatnya di sekitar Benua Selatan dan Barat,” jawab Schwarz, tak membaca suasana. "Cukup menarik, menurutku."


“.... Aku benar-benar lelah dengan dunia ini.”


Kesal, Shinnichi menaruh tangannya di atas dahi lalu menyipitkan matanya. Di kejauhan, ada jalan lain di seberang. Terlalu jauh untuk di lompati. Ia menoleh ke sana ke sini untuk mencari jalan menyebrang lalu memutuskan untuk berjalan menelusuri tepian danau. Mencari jalan untuk melanjutkan perjalanannya.


Di kejauhan, ia bisa mendengar lagu para paus. Menjadi pengiring langkahnya. Dan jika Shinnichi jujur, “lagu” mereka benar-benar menakutkan baginya yang mempunyai phobia kedalaman laut. Meskipun hampir tidak ada setetes air di lantai ini, mendengar suatu yang besar seperti itu benar-benar menakutinya.


“Hei, Schwarz. Apakah aku boleh membunuh mereka?”


“Kau ingin mati dalam lava atau mati terpukul oleh ekor mereka lalu jatuh ke dalam lava?”


“Tch.” Mendecakkan lidahnya, Shinnichi mencoba mengabaikan mereka.


Setelah beberapa lagu dan saat menyiksa kemudian, Shinnichi melihat sesuatu yang aneh di depannya. Sekejap melupakan lagu paus yang menganggunya. Ada sebuah perahu batu.


“....”


“....”


“.... Kakak sialan.”


“S-Shinnichi!?”


Mengabaikan Schwarz yang terkejut atau karma yang mungkin menghampiri, Shinnichi menghampiri perahu itu. Sepasang dayung yang terbuat dari besi dengan pegangan fleksibel yang terasa seperti karet. Entah siapa yang membuatnya, Shinnichi kira itu spatula raksasa. Ujungnya bahkan pipih dan sedikit tajam.


Ia mengerahkan sedikit tenaga untuk membengkokkannya. Namun, dayung itu tersentak kembali ke posisi awal. Benar-benar mirip karet. Ia mengetuk-ngetuk ujungnya. Menghasilkan bunyi besi yang memuaskan.


Ini bukannya spatula?


“Selera humor yang menggelikan,” gumam Shinnichi.


Hanya bisa menghela nafas, ia mendorong perahu itu ke danau lava. Dengan hati-hati, ia menaikinya. Mengambang. Meskipun goyangan perahu di awal hampir membuat jantungnya berhenti.


Shinnichi menenangkan dirinya. Menggunakan dayung aneh, ia mulai menggerakkan perahu itu. Ia belum pernah menggunakan perahu sebelumnya, jadi ia sedikit kaku. Apalagi hal yang didayungnya bukan air, tapi lava yang kental.


Namun, perlahan tapi pasti. Perahunya bergerak ke arah tengah.


❂❂❂❂❂❂


Dua jam kemudian. Lebih dari setengah danau sudah Shinnichi tempuh. Tinggal seperempat jalan, sekitar 100 meter lagi. Keringat sudah mengalir dari pori-pori tubuhnya, menguap bahkan. Terasa seperti sauna. Rasa lelah masih menyerangnya bahkan setelah meminum air penyembuh Emphiria. Sedari tadi ia juga tidak bergerak dari tempatnya.


“Sungai ini disihir. Aku tidak bergerak dari tadi.” Shinnichi menatap tangannya yang merah.


“Kau saja yang payah mendayung.”


“Katakan itu saat kau punya tubuh, dasar Naga tua pemalas.”


“Bicara apa kau bocah!? Aku masih muda!”


“Berisik! Jangan teriak-teriak di kepala orang! Apa kau sudah hidup selama itu sampai-sampai pendengaranmu hilang?!”


“Dasar bocah tengil!”


Ajang berseru itu terlihat seperti orang gila yang berteriak entah ke siapa. Tentu saja Shinnichi tidak tahu. Suara keras itu juga menarik perhatian.


“Grua!”


“--!?”


Sebuah bola api melesat ke arahnya. Dengan cepat, Shinnichi menunduk. Menghindarinya dengan nyaris, ia menembakkan Dominator ke arah datangnya bola api itu.


“Krua!” pekikan ngeri muncul. Seekor monster ikan yang Shinnichi lihat sebelumnya kehilangan bagian kiri matanya. Dan kini, bagian dalam tubuhnya di bakar oleh lava.


Tak hanya ikan itu, Shinnichi bisa melihat beberapa kadal api, sekelompok ngengat api raksasa, selusin Anglerfish api dan sejumlah katak api. Semuanya terlihat mengincar Shinnichi.


“Katak itu amfibi, bagaimana bisa ia hidup di sini!?”


“Pikirkan hal yang lebih penting, bodoh. Kita dikepung!”


“Ah!” Shinnichi sadar. “Schwarz, kita terkepung!”


“AKU BARU SAJA MENGATAKANNYA!”


“Tch, kau ini tidak tahu komedi.”


Mencoba meringankan suasana, Shinnichi mengarahkan Dominator lalu mulai menembakkannya. Peluru Mananya menembus kepala para monster seperti tahu. Dengan cepat membunuh mereka. Namun, jumlah mereka ditambah dengan ruang bergerak yang terbatas dengan cepat membuatnya kewalahan.


Ia mencoba menghindari beberapa bola api dan beberapa kali menerimanya. Ngengat-ngengat itu merupakan monster yang menjengkelkan. Gabungan antara kepakan angin mereka serta bola api merupakan serangan yang dahsyat. Ditambah sekali-kali bola api monster lain juga ikut bergabung. Beberapa kali Shinnichi hampir jatuh ke dalam danau.


Shinnichi mendecakkan lidahnya. Jadi, ini akhirnya kah? Shinnichi memutuskan untuk bertarung sampai akhir. Namun, sebelum ia mengatakan sesuatu yang bodoh. Ia melihat siluet di belakang monster-monster itu.


Siluet raksasa.


Di belakang monster itu, seekor paus api, Pyrowel, melaju ke arahnya dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya. Seperti kereta raksasa dari Neraka. Gelombang lava mulai terbentuk di sisinya. Monster-monster yang menyerangnya tersadar. Mereka berhenti menyerang Shinnichi untuk melihat ke belakang dan menghindar.


“Kesempatan!”


Shinnichi tidak mau menunggu kematian menjemputnya. Ia mengambil sebuah dayung lalu melompat dari perahu. Kemudian menginjak seekor ngengat, lalu ngengat lain, dan yang lain. Ia menggunakan mereka seperti tangga. Kemudian, di kedua ngengat terakhir, ia melompat sekuat tenaga.


“GROOAAA!” Raungan Pyrowel bergemuruh di bawahnya, menabkrak perahu itu. Langsung menghancurkannya berkeping-keping.


Melayang di atas udara, Shinnichi terhindar dari nasib mengerikan itu. Beberapa monster sayangnya tidak seberuntung dirinya. Paus api seberat 15 ton menabrak mereka, pilihan apa yang mereka punya selain terlempar dan mati?


Shinnichi memutar tubuhnya. Dayung masih di tangannya, Shinnichi menaruh perhatiannya kepada seekor katak api di bawah. Kepalanya besar dan sedikit pipih, target yang sempurna. Sepertinya ia berhasil menghindari terjangan Pyrowel. Sayang sekali, nyawanya belum aman. Kali ini, kematian akan datang dari atas.


Shinnichi melempar dayungnya seperti tombak. Melaju dengan kecepatan yang hampir menyamai kecepatan kosmik pertama. Tak butuh tiga detik sebelum dayung itu menancap kepalanya.


JLEB! Suara daging, otot, dan tulang yang tertusuk mampu membuat siapa saja meringis kesakitan terdengar. Lemparannya tepat sasaran. Katak api itu bahkan tidak sadar dirinya mati.


Shinnichi tersenyum percaya diri. Entah dia bisa atau tidak, ia tak tahu. Yang pasti adalah ia akan mati jika gagal.


Gravitasi mulai menariknya kembali. Di bawah, ada danau lava yang mampu membakar apa saja yang disentuhnya. Yang menghalanginya hanyalah bangkai katak api dengan sebuah dayung yang tertancap di kepalanya.


Shinnichi mengarahkan tubuhnya. Kaki berada di bawah. Lalu, menapak gagang fleksibel dayung.


Berkat gaya gravitasi serta berat tubuh yang dibawanya, gagang itu melentur ke belakangnya. Lalu, menggunakan keelastisannya, Shinnichi terlempar ke depan. Seperti batu kerikil yang dilempar menggunakan ketapel, ia melaju ke arah tepian.


80 meter, 60 meter, 40 meter. Sepertinya ia akan mencapai tepian. Tapi, kecepatannya mulai menurun. Ia mulai jatuh.


Shinnichi tidak kehilangan akal. Ia membentuk laras Dominator agar menjadi sebesar mungkin. Dengan diameter laras 75 cm, Dominator berubah menjadi meriam yang menyaingi meriam raksasa Dardanella. Ia mengumpulkan Mana dan sebelum ia jatuh ke dalam danau, ia menembakkannya ke bawah.


DUM! Krak! Suara ledakan menggema di seisi lantai. Sebuah gelombang lava yang mampu menandingi buatan Pyrowel tercipta karenanya.


Shinnichi terlempar ke atas karena efek hentakannya. Memberinya lebih dari cukup jarak untuk mendarat di atas tanah. Ia berguling-guling di atas kerikil panas.


“Uhuk! Uhuk!” Shinnichi menarik nafas dengan susah payah. Hentakan itu sedikit terlalu kuat. Menghantam dadanya seperti palu godam.


 Namun, sekejap kemudian. Ekspersi kesakitannya berubah. “Hah... Hahahaha! HAHAHA!” Shinnichi tertawa puas. Berhasil menghindari kematian sekali lagi.


Shinnichi bangkit. Bahunya sakit, sepertinya terdislokasi. Tentu saja. Hentakan itu hampir memutuskan lengannya, atau mungkin sisa lengan kanannya. Masih tersenyum, ia memperbaiki bahunya yang hampir copot.


Krek! Bunyi bahu yang kembali ke tempatnya membuat Shinnichi sedikit meringis kesakitan. Ia menghela nafas.


“Tadi itu menyenangkan. Mau coba lagi?


“Kau gila ya?”


Shinnichi hanya tertawa kecil. Selesai dengan candaannya, ia mengeluarkan kristal Emphiria lalu mulai meminum airnya. Membasahi tenggorokannya yang kering. Tenaga yang hilang sedikit demi sedikit kembali.


Shinnichi menghela nafas lega. Mengusap air yang masih membasahi mulutnya. Ia membuka [Storage] lalu mengambil sepotong daging. ia menaruhnya di dekat tepian.


Shinnichi berbaring. Merasakan tanah hangat di punggungnya. Ia melepaskan topengnya. Menyiramkan air Emphiria di wajahnya. Mencoba menyejukkan diri.


Setelah beberapa menit, Shinnichi bangkit. Mengambil dagingnya lalu mulai memakan daging pahit itu. Tak lupa meminum air Emphiria untuk melancarkan perjalanan ke perutnya.


“Krua!” Seekor ngengat api datang untuk menyerangnya. Sebuah bola api melesat ke arahnya.


Shinnichi terlalu malas. Ia mengangkat kristal Emphiria lalu menembakkan air ke arahnya. Aliran air Emphiria mengalahkan bola api itu. Tak berhenti di situ, Shinnichi terus mengalirkan Mananya. Shinnichi mengguyur ngengat api itu.


Ngengat api itu jatuh ke tanah. Tak bisa bergerak karena sayapnya membatu. “Krua! Krua!” Ngengat itu berkicau-kicau panik.


“Oh, berguna juga.” Shinnichi menatap kristal biru itu, tersenyum senang. Kemudian, Shinnichi tersadar. Senyumnya langsung menghilang.


 “Tunggu, kenapa aku tidak menyadarinya lebih awal!?”


“Kau bisa diam satu menit tidak!?”


❂❂❂❂❂❂


‘Groa!”


“KRAA!”


“Rroa!”


Pekikan kematian monster menggema di lantai 96. Bangkai monster yang tak terhitung berserakan di jalurnya. Shinnichi tak peduli siapa yang ada di hadapannya, peluru Dominator terus melubangi kepala monster yang mencoba menyerangnya.


“Kau masih kesal?”


“Hmmm? Aku? Kesal? Tak mungkin,” jawab Shinnichi dengan senyum kecil sambil menendang bangkai seekor ngengat api. “Aku tenang kok.” Shinnichi menanamkan empat peluru ke dalam kepalanya lalu menendangnya ke bawah sungai lava.


Shinnichi menghembuskan nafasnya. “Hah, dunia ini begitu indah,” katanya dengan penuh sarkas. “Benar. Benar. Indah!”


Dor! Dor! Dor!


“Kroa!”


“Tchra!”


“Grrua!”


“Mati. Mati. Sialan.” Di bawah nafasnya, Shinnichi mengumpat.


Amukan Shinnichi berhenti empat puluh bangkai monster kemudian.


❂❂❂❂❂❂


Shinnichi terus berjalan menyusuri jalan sempit yang berbatu. Memanjat tebing, mempertahankan diri dari monster, dan menyebrangi sungai lava. Jalan yang ia ambil mulai menanjak. Dan ia tidak menyukainya.


“Ini lagi,” gumam Shinnichi. Sifat pesimisnya mulai terlihat. Namun, ia terus berjalan.


Shinnichi sampai di sebuah plateau. Memberi sedikit ruang untuk bergerak leluasa. Meskipun suhu masih menyengat kulit dan jalan sempit yang berbahaya tadi, ia merasa sedikit senang. Terlebih lagi ketika ia melihat pintu keluar lantai ini di ujung.


Tapi, sekejap kemudian ia menyadari pola ini. Sebuah daerah rata yang berdiri menjulang di atas danau lava? Dan lagi, pintu keluar di ujung?


“Oh sial.” Shinnichi menghela nafasnya. “Ini area bos ya?”


Tebakannya tepat.


Sebuah retakan terbentuk di tengah-tengah plateau. Menjalar seperti jaring laba-laba musim semi. Dan dari retakannya, magma mulai menyisip. Berkumpul menjadi satu dan mulai mengambil bentuk.


Sepasang tangan dan kepala tak berwajah. Monster humanoid setinggi tiga meter tanpa kaki. Shinnichi menilainya menggunakan [Appraisal].


『Spesies : Fire Elemental


Level : 102


Stats


Agi : 17


Atk : 673


Int : 431


Vit : 802


 


Skill


[Fire Magic lvl.9] [Magma Manipulation] [Summoning lvl.7]


Title


[Floor 96 Boss] [Vulcanic Lord]』


“HHRAAAA!” Monster itu meraung keras. Menandakan pertarungan dimulai.


“Ya, aku tak mau membuang waktu.” Shinnichi mengeluarkan kristal Emphiria lalu mulai menyemprot air ke arah Fire Elemental.


“GROOAAA!” Monster itu memekik kesakitan. Selagi tubuhnya membatu.


“Diam ah. Berisik.”


Shinnichi meningkatkan daya keluar Mananya. Menguyur tubuhnya menjadi batu dan membekukannya. Satu tembakan dari Dominator dan sang bos lantai ke-96 dikalahkan dengan cara yang sangat anti-klimaktis. Dibasahi dan ditembak.


“....”


“... Setidaknya lawan dia dengan adil agar ia bisa tenang di sana.” Sang Kaisar Naga memberi simpatinya