Re: Turning

Re: Turning
Darkness Rises



Dum! Sebuah ledakan menggema di langit senja. Menggetarkan udara dan menghancurkan bumi sekitar.


Seorang gadis berambut hitam panjang berdiri diam di ujung sebuah jurang. Angin mengibarkan rambutnya, wajahnya dihiasi ekspresi sedih. Daerah di sekitarnya terlihat seperti neraka. Pohon tumbang, tanah terbalik, mayat monster dan hewan yang tak terhitung berserakan.


Mikazuki Yonaka menurunkan busurnya. Hampir kehabisan tenaga.


Sudah hampir seharian penuh ia pergi dari istana. Mencoba menenangkan, atau untuk dirinya, melarikan diri. Melarikan diri dari kenyataan yang terus merayap ke selubung hatinya yang sudah remuk.


Shinnichi sudah meninggal.


Yonaka tidak bisa menerima kenyataan itu. Tidak mau menerimanya.


Tapi, sekeras apapun ia menolak. Sekeras apapun ia berharap Shinnichi masih hidup. Berharap pemuda itu muncul di hadapannya, mengatakan "Aku tidak apa-apa kok," sambil tersenyum kecil.


Sekeras apapun itu, harapannya tidak akan terwujud. Shinnichi sudah tiada. Itulah yang menjadi penyesalan terbesar Yonaka. Yonaka mengutuk kelemahannya.


"Shinnichi-kun, maafkan aku...." bisik Yonaka. "Kita... Kita tidak bisa kembali bersama...."


Sama seperti yang lain, Yonaka hanya ingin menyelamatkan dunia ini lalu kembali bersama teman-temannya. Namun, kenyataan memang menyakitkan. Dunia di sini jauh lebih keras dari dunia asalnya.


Yonaka mengeratkan genggaman pada busurnya. "Iblis-iblis itu.... Mereka... Mereka! ARGH!" Yonaka menarik senarnya. Melepaskan sebuah anak panah.


DUAR! Ledakan besar tercipta saat panah Yonaka menyentuh sisi jurang. Tanah di atasnya bergeser. Ribuan ton material tanah jatuh ke dalam jurang. Menciptakan kepulan debu raksasa dan gempa bumi kecil. Jurang selebar 35 meter itu bertambah lebar hingga 45 meter.


Yonaka ambruk. Akhirnya kehabisan tenaga. Namun, sebelum menyentuh tanah. Seseorang menangkapnya.


"Yonaka...." Seorang pemuda berambut merah, Akihiro Izumi menatap Yonaka khawatir.


Sejak kematian Shinnichi, Yonaka berubah. Sikapnya yang ceria dan baik hati kini jarang terlihat. Kematian temannya pasti memukulnya keras.


Izumi juga terpukul. Ia bahkan tidak sadar saat Shinnichi bertemu akhirnya. Sama seperti Yonaka, Izumi juga menyesali hal itu. Ia rela menukar nyawanya jika berarti menyelamatkannya.


Izumi adalah "Pahlawan Terkuat." Ia bisa mengubah permukaan bumi dengan kakinya. Mengalahkan monster dengan satu pukul. Menahan tebasan pedang dari lusinan orang. Tapi, untuk apa? Izumi bahkan tidak bisa menyelamatkan temannya. Ia tidak sanggup mengangkat kepalanya di hadapan kuburan Shinnichi. Ia malu kepada dirinya sendiri.


"Sialan...." Izumi merutuk. "Aku memang bodoh."


Izumi duduk. Menaruh kepala Yonaka di pangkuannya. Dengan datangnya malam, kesunyian kembali. Ia menatap Yonaka.


Apa yang akan dilakukan Shinnichi sekarang? Mengingat dirinya, ia pasti mementingkan orang lain. Benar-benar orang yang baik.


"Maafkan aku, Shinnichi," gumam Izumi. Menatap langit malam. "Kami akan kembali. Demi dirimu."


✾✾✾✾


Shinnichi membuka matanya. Bunga oranye masih membara dengan tenang. Sesekali berderak sambil memakan kayu.


Shinnichi bangun. Tidak tahu berapa jam ia tertidur. Tapi, jika api itu masih hidup, pasti tidak lama. Meskipun kelelahan, insomnianya masih tidak hilang.


Ia mencoba tidur lagi, namun sia-sia. Ia bahkan tidak bisa berbaring dengan tenang. Shinnichi melepaskan selimut yang ia kenakan. Setidaknya pakaiannya sudah kering.


Mengenakan pakaiannya, Shinnichi menyelidiki ruangan itu. Lemari buku adalah hal pertama yang menarik perhatiannya. Meskipun ditinggalkan untuk mati, sifatnya tidak bisa hilang begitu saja.


Memeriksa buku yang ada, Shinnichi tidak bisa membacanya. Semua buku di ruangan itu menggunakan bahasa yang , entah kenapa, tidak bisa dikenali oleh [Language Comprehension]. Meskipun ia sendiri sudah dapat berbicara atau setidaknya mengetahui setidaknya tujuh bahasa dunia ini.


"Semacam bahasa kuno? Atau dilindungi sihir?" gumam Shinnichi bertanya-tanya. Ia menoleh ke arah meja. Sebuah buku duduk sendirian di situ.


Shinnichi mengambil buku itu lalu membuka halaman pertama. Ia sedikit terkejut. Ia bisa membacanya.


"Milik Emphiria." Shinnichi membaca judul buku itu. Sebuah jurnal perjalanan atau semacamnya.


Sudah lama aku meninggalkan dari kakak. Aku penasaran dengan kabarnya. Kakak sering terlibat dalam masalah, jadi kuharap ia baik-baik saja.


Aku membeli buku ini di kerajaan Elf. Mereka mahir membuat peralatan sihir dan benda-benda menarik lainnya. Kurasa aku akan menulis perjalananku. Aku tidak pandai menulis, jadi mungkin tidak setiap hari, tapi hal-hal menarik yang terjadi akan kucatat.


Shinnichi tidak membaca seluruh buku. Ia melewati beberapa halaman. Sesekali menemukan gambar aneh dan coret-coretan pemilik buku ini.


Saat ini, aku berada di negeri bernama Kumoni. Banyak hal-hal menarik di sini. Bangunannya indah, orang-orangnya baik! Sepertinya mereka jarang kedatangan pengunjung, jadi mereka menerimaku dengan baik!


Aku juga bertemu dengan seseorang yang menarik. Ia suka mengatakan hal-hal lucu dan aneh. Aku tertarik dengannya.


Kuharap ia mau berteman denganku.


Shinnichi menggelengkan kepalanya. Ia harus berhenti membacanya. Ini sama saja melanggar privasi seseorang.


Shinnichi meneliti ruangan yang ditempatinya. Selain lokasinya yang tak biasa, ruangan ini tak terlalu aneh. Jika seseorang tidak menghitung tumpukan tulang di pojok ruangan. Penasaran, Shinnichi mendekatinya.


Sebuah kerangka hewan raksasa. Bentuknya mirip kadal bertanduk. Tapi, entah kenapa, ia bisa merasakan aura yang berbeda darinya.


"Naga?" gumamnya bingung. Shinnichi mengingat hewan yang pernah ia baca serta gambarannya di buku-buku.


Digambarkan sebagai monster cerdas dan kuat. Meskipun begitu, naga adalah makhluk langka. Hanya ada tiga ekor yang pernah didokumentasikan di Panzia. Salah satunya adalah saat seekor naga memporak-porandakan Panzia sekitar 2 abad yang lalu. Selain digambarkan sebagai pembawa kehancuran, mereka adalah penguasa langit.


Karena itulah Shinnichi bingung. Naga adalah penguasa langit. Kenapa ada tengkorak naga di gua bawah tanah?


Shinnichi menyentuh tengkorak itu. Ukuran kepalanya sama dengan sebuah mobil. Shinnichi rasa jika naga ini membuka mulutnya, ia bisa berdiri dengan tegak di dalam.


Menyelidikinya lebih lanjut, Shinnichi sadar bahwa kerangka itu tidak lengkap. Ia menemukan bahwa tulang lehernya remuk, ekornya tak bisa ditemukan di dalam ruangan, salah satu sayapnya juga tak ada, dan beberapa serpihan tulang di sana-sini.


Shinnichi penasaran. Monster apa yang bisa membunuh seekor naga?


Ia mengingat sosok yang ia lihat sekilas saat jatuh. Monster itu cukup besar untuk mengalahkan naga ini. Shinnichi berharap ia tidak menemuinya sebelum ataupun setelah ia keluar dari sini.


"Huh? Batu sihir?"


Shinnichi menyadari sebongkah batu ungu kecil di dalam rongga dadanya. Tergeletak di atas tanah seperti dilempar ke dalam. Shinnichi bisa merasakan Mana yang mengalir keluar darinya. Itu bukan batu biasa, tapi memang batu sihir.


Batu itu juga menyala dengan cahaya ungu yang samar. Seperti menyadari kehadiran pemuda itu.


Dengan hati-hati, Shinnichi meraih batu itu. Meskipun ukurannya hanya sedikit lebih besar dari kelereng, batu itu lebih berat dari penampilannya.


Ia kembali bertanya-tanya. Kenapa batu sihir ini ada di situ? Monster di Zelfria tidak memiliki inti batu sihir. Mereka terbentuk dari Arcana atau Mana gelap yang dikeluarkan oleh dungeon. Monster yang lahir di luar dungeon bahkan bisa dimakan. Tapi, belum ada kasus monster yang memiliki inti batu sihir.


Selagi memikirkan itu, Shinnichi menyadari sebuah pola di atas batu sihir itu. Semacam lingkaran sihir? Shinnichi mendekatkan batu itu untuk menelitinya.


"Milikku."


"Ap-!?"


Batu itu tiba-tiba melompat. Menempel di dada Shinnichi. Terkejut, Shinnichi jatuh ke belakang. Merasakan berat batu itu menghantam dadanya.


"Lepas! Lepas!" Shinnichi mencoba menarik batu itu. Tak bisa. Batu itu terus menempel. Bahkan menggali kulitnya. Ia bisa merasakan setiap detail menyakitkan yang ditimbulkannya.


"ARGH!"


Shinnichi mencengkeram dadanya. Mencegah batu itu masuk lebih dalam. Ia tidak ingin sesuatu seperti itu memasuki tubuhnya.


Shinnichi tidak mampu berdiri. Bernafas pun sulit. Sesuatu menusuk jantungnya. Ia bisa merasakannya. Batu itu menanamkan dirinya di jantungnya.


"Emphiria, aku akan menjemputmu."


Shinnichi mendengar suara "sesuatu" di kepalanya. Bukan suara miliknya. Tapi, ia yakin mendengar suara lain.


Deg! Jantung Shinnichi berhenti. Shinnichi membelalakkan matanya. Dadanya sesak. Ia tidak bisa bernafas. Shinnichi mengangkat tangannya ke atas. Mencoba menggapai sesuatu, apa saja.


"Fi-Fiona...."


Menggunakan sisa nafasnya, ia memanggil nama Puteri tercintanya.


✾✾✾✾


Di dalam ruang kerjanya, sang Raja menatap ke luar jendela. Menatap wilayah kerajaannya.


Distrik-distrik yang ramai. Jalanan yang dipenuhi orang. Transaksi ekonomi yang terus berjalan. Pemandangan biasa untuk ibukota Victoria.


Dari atas kastil, Albert bisa melihat segalanya. Bagaikan seorang dewa yang menatap ke bawah dunia. Ia adalah penguasa tertinggi di Victoria.


Sebuah senyum syahdu muncul di wajahnya. Senyum lembut. Seperti seorang ayah kepada anaknya.


Pintu terbuka. Dari luar, muncul seorang pria berwajah tirus. Perdana menteri Estoc Grant Xevery menghadap sang Raja.


Estoc menundukkan kepalanya. "Segalanya sudah diperbaiki, Yang Mulia," jawabnya lancar. "Dengan ini, rencana anda dapat berjalan lancar."


"Bagus, bagus." Albert mengangguk senang. "Dengan kematian bocah itu, kita tidak mempunyai halangan lagi."


"Begitulah, yang Mulia."


Ruangan itu kembali sunyi. Albert akhirnya menoleh ke belakang. Di tangannya, terdapat segelas anggur merah. Ia menyisipnya perlahan.


"Dryach buatan Elf memang tiada duanya." Albert memuji minuman di tangannya. "Bukankah begitu, Estoc?"


"Menurut saya pribadi, Burstac Kurcaci lebih memuaskan, Yang Mulia." Estoc menjawab. Santai namun tetap formal.


"Ahahaha, dari dulu kau memang lebih menyukai yang lebih memukul." Albert menenggak kembali minumannya. "Ah, benar juga. Bagaimana dengan Fiona? Apakah dia sudah 'diperbaiki'?"


Estoc mengangguk. "Saya sudah menduga anda akan menanyakan hal itu." Ia mendekati sang Raja. "Sebenarnya saya ingin meminta izin anda. Saya ingin agar kejadian ini tidak terjadi lagi. Saya ingin 'mengikat' sang Puteri."


"Mengikat?" Sang Raja menangkap maksud Estoc. Terdiam beberapa saat. "Maksudmu menggunakan sihir pengendali?"


Sihir pengendali adalah salah satu sihir hitam. Penggunaan sihir hitam sangat dilarang di Zelfria. Selain resiko kegagalan yang besar, kematian dan kutukan juga menaungi siapa saja yang mempraktekkannya. Meskipun begitu, kekuatan sihir hitam seringkali menjadi penggoda yang kuat.


Albert menaruh gelasnya di atas meja. Mengelus-elus janggutnya.


"Tak usah meminta maaf, Estoc," katanya setelah beberapa saat. Memberi persetujuannya. "Jika ini memang satu-satunya cara untuk mengendalikannya, maka biarlah."


Albert membalikkan badannya. "Sekarang pergilah."


"Sesuai permintaan anda, Yang Mulia." Estoc menunduk hormat. Ia keluar dari ruang kerjanya.


❂❂❂❂❂❂


Di bawah ruang bawah tanah, suara langkah kaki Estoc menggema. Obor di dinding menerangi lorong-lorong samar. Ia sampai di sebuah altar bawah tanah. Puluhan orang berjubah mengelilingi mereka. Menyanyikan suatu lagu kuno yang tak dapat dikenali. Suasana mencekam dapat terasa di seluruh ruangan.


Di tengah-tengah altar, terdapat seorang gadis berambut azure. Diikat seperti seekor hewan buas. Rantai yang mengekangnya terselimuti lapisan es.


"Puteri Fiona." Estoc memanggil nama gadis itu.


Fiona mengangkat kepalanya. Ekspresinya tenangnya sudah menghilang. Digantikan oleh amarah. Seperti dapat meledak kapan saja.


"Saya akan memberikan sebuah kesempatan untuk anda. Kesempaー"


"Persetan kalian semua." Fiona mendesis.


Estoc terdiam sejenak. "Puteri, kami hanya melakukan apa yang diperlukan."


"Diperlukan? Diperlukan!?" Fiona menarik rantainya. Meronta-ronta, mencoba melepaskan dirinya. "Kalian membunuh seorang tak bersalah! Iblis pun tidak akan melakukan hal semacam itu! Kalian Manusia biadab!"


"Jaga mulut anda, Puteri." Estoc menyipitkan matanya. Tak suka dengan perbandingan itu. "Bocah itu mengkhianati kita."


"Mengkhianati!? Gila kalian! Kurobane-sama tidak melakukan apa-apa!" Fiona berseru. Menatap Estoc dengan penuh kebencian sebelum menundukkan kepalanya. "Meskipun begitu... Kalian membunuhnya.... Kalian membunuh.... Satu-satunya orang yang kucintai...."


Setetes air mata jatuh ke tanah. Membeku sebelum mencapai tanah. Pecah menjadi kepingan mikroskopik.


Fiona menggertakkan giginya. Mengepalkan tangannya hingga kulit pucatnya memerah.


Kalian akan membayar ini. Kalian semua akan menyesalinya... Aku akan membalas kalian! JANGAN HARAP KALIAN BISA— URGH! UGHH!"


Mencegahnya bebas, penyihir-penyihir bertudung di sekitarnya menguatkan rantai dan mengikat mulutnya. Estoc terdiam. Sang Puteri sudah di luar kendalinya. Ia membalikkan tubuhnya, memberi tanda persetujuannya.


Seooang pria tua maju ke depan. Pria sama yang pertama kali membimbing para pahlawan. Penyihir tertinggi kerajaan, Ryan von Stiltch. Memegang sebuah buku tua.


Buku bersampul tengkorak itu mengandung sarat kejahatan yang pekat dan jelas. Guratan putih samar terbaca "Eibon," menjadi judulnya.


Ryan membuka halaman buku itu dengan hati-hati. Seolah-olah tak ingin membangunkan seseorang atau "sesuatu". Halaman buku itu sudah menguning. Termakan oleh pasir waktu. Dilupakan oleh dunia.


Meskipun begitu, kekuatan yang dikandungnya sangatlah kuat. Sihir hitam yang mampu meratakan sebuah kerajaan dalam sekejap. Membunuh ribuan orang dengan satu hembusan nafas. Estoc tak membiarkan konsentrasinya lepas.


Ia berhenti di sebuah halaman. Ilustrasi mengerikan tertera di situ. Sebuah manusia yang dirasuki oleh sebuah kabut hitam. Inilah salah satu sihir hitam itu; Sihir pengendali.


"Ehye'ah goff'n 'bthnk ng orr'eagl! Fm'latgthah chlrigh ng mnahn' uhe! Uaaah! [S'uhn Illoig]!" Melantunkan bahasa kuno yang terkutuk, Ryan mengaktifkan sihir pengendali.


Kabut hitam gelap muncul dari retakan kecil di tanah. Lebih gelap dari langit malam. Kabut itu merayap ke Fiona. Mengitari tubuhnya sebelum masuk ke dalam tubuhnya.


"Ugh! Uhuk! Uhuk!"


Dada Fiona sesak. Seperti menghirup asap. Terbatuk-batuk, Fiona bisa merasakan udara di paru-parunya menipis.


Ia merasakan kendali atas tubuhnya perlahan menghilang. Perasaan kaku mulai menyelimuti tubuhnya. Sesuatu mulai mengendalikan tubuhnya.


"Ku-Kurobane-sama...."


Pengelihatannya gelap. Fiona jatuh tak sadarkan diri. Memanggil nama orang yang dicintainya.


✾✾✾✾


Apakah kau tahu kebencian?


Apakah kau tahu keputusasaan?


Apakah kau tahu kegelapan?


Perasaan saat orang yang kau cintai direnggut paksa darimu. Saat cahaya kehidupanmu pupus di hadapan matamu. Saat hidupmu kehilangan seluruh maknanya.


Aku mengalami itu semua. Kau juga begitu, bukan? Kau dan aku dibentuk oleh cetakan yang sama.


Kita mengutuk dunia yang tak adil ini. Kita mengutuk orang yang merenggut mereka. Kita mengutuk kelemahan kita sendiri.


Kau haus akan kekuatan. Haus akan kemampuan untuk melindungi orang-orang berhargamu dan memusnahkan musuh-musuhmu.


Aku memegang mata air kekuatan. Pinta dan kau akan mendapatkannya.


Terimalah diriku. Maka kau akan mendapatkannya.


Jadilah diriku. Maka kau akan mendapatkannya.


Serahkan kemanusiaanmu. Maka kau akan mendapatkannya.


Kau ingin kekuatan? Pintalah padaku.


Ingat namaku. Sang pengemban kebencian dan pembalasan. Sang Penguasa Kegelapan.


Namaku adalah....


✾✾✾✾


Masih tak sadarkan diri, Shinnichi mengejang beberapa kali. Keringat terus mengalir dari tubuhnya. Batu sihir itu bukanlah batu sihir biasa.


Dahulu kala, hiduplah seekor Naga, bukan naga biasa. Ia adalah naga terkuat yang pernah menginjakkan kakinya di Zelfria. Kaisar naga kegelapan adalah julukannya.


Ia adalah naga sama yang memporak-porandakan Panzia dua ratus tahun yang lalu. Menghancurkan empat kerajaan terbesar pada waktu itu. Menyebabkan kerusakan dan kematian yang tak terukur.


Setelah dua tahun yang penuh kehancuran, Naga itu menghilang. Sama seperti kedatangannya, ia menghilang tiba-tiba. Tak pernah dilihat siapapun lagi.


Dan sekarang, batu sihirnya sudah menanamkan diri dalam tubuhnya. Perlahan, kekuatan sang kaisar naga kegelapan mulai memenuhi tubuh Shinnichi. Aura ungu mulai keluar dari tubuhnya. Seperti asap yang melayang di atas api.


Perubahan mulai terjadi.


Otot-ototnya robek. Membentuk jalinan otot yang baru dan lebih kuat. Menyesuaikan diri agar sesuai dengan kekuatan sang Naga. Bunyi retakan tulang dapat didengar dengan mengerikan. Setiap jaringan di tubuhnya berteriak kesakitan. Mendorong metabolismenya ke ambang batasnya.


Tubuhnya tumbuh dengan kecepatan yang tak alami. Berkat pertumbuhan cepat itu, luka di sekujur tubuhnya menghilang. Disembuhkan secara paksa oleh kekuatannya.


Tubuh Shinnichi beradaptasi dengan kekuatan sang naga. Evolusi, tidak, revolusi yang akan mengubah hidupnya telah dimulai. Tak ada jalan kembali sekarang.


Perubahan telah terjadi.


Ia bukan Manusia lagi. Pada hari itu, Manusia bernama Kurobane Shinnichi meninggal. Pada hari itu, makhluk terkuat bernama Kurobane Shinnichi lahir.