
Shinnichi membuka matanya perlahan. Kelopaknya terasa berat. Rasanya ia bisa tidur lagi, namun ia merasakan sesuatu yang mendorongnya bangun.
Shinnichi menatap langit-langit. Meskipun ia ingin mengatakan "Langit-langit yang asing," dengan klise, ia berhenti. Lebih tepatnya, ia terhenti karena merasakan gerakan di belakang kepalanya.
"Kurobane-sama!" Suara familier seorang gadis menyapa telinganya. Membuat ia mendongak. Wajah khawatir Fiona memenuhi pandangannya.
"Fiona... sama?" Shinnichi memanggil namanya dengan nada bingung. Tidak tahu apa yang terjadi.
Tak lama kemudian, semuanya kembali teringat. Bagaimana ia melindungi Haira, dan bertarung dengan Samejima. Ia menang lalu ia pingsan.
"Hmm?"
Jadi, ini.... Shinnichi membayangkan posisinya dan sang Puteri. Sekilas, ia sadar. Ini adalah bantal pangkuan yang legendaris!
Mata Shinnichi langsung membulat. Ia tidak bisa menerima ini begitu saja. Pangkuannya berasal dari sang Puteri!
Shinnichi langsung bangkit. Sadar bahwa ia berada di kamar Fiona. Berbaring di atas karpet. Di samping ranjang besar sang Puteri.
"Jangan!"
Namun, sebelum bisa mengatakan sesuatu, Fiona mencegahnya. Ia memegang kepala Shinnichi lalu mendorongnya kembali ke pangkuannya. Kekuatan sang Puteri bahkan melebihinya, Shinnichi bahkan tidak bisa melawan.
"Kamu masih terluka, Kurobane-sama," jelas Fiona. Menatap Shinnichi marah. "Meskipun Erina-dono sudah memberi sihir penyembuhan kepadamu, bukan berarti kamu sembuh!"
Shinnichi agak ketakutan melihat Fiona yang begitu berbeda. Ia hanya bisa mengeluarkan, "Ba-baik, Fiona-sama," dengan pelan.
Tak mengatakan apa-apa lagi, mereka berdua terdiam. Kamar Fiona sunyi. Sebuah jarum jatuh bahkan bisa bergema. Saat Shinnichi akan mengangkat suaranya, setetes air dingin jatuh ke pipinya.
"Hiks...."
"Fi-Fiona-sama!?"
Melihat Fiona tiba-tiba menangis, Shinnichi terkejut sekaligus kebingungan. Ia selalu tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika ada seorang lawan jenis yang menangis.
"M-maafkan aku, Kurobane-sama... Hiks... Maafkan aku...." Air mata terus mengalir. Menetes dari dagunya ke pipi Shinnichi. "A-aku... Aku membuatmu mengalami itu semua... Maafkan aku...."
Fiona menyesal karena telah mendorong Shinnichi. Penyesalan itu terbukti saat ia melihatnya menerima serangan demi serangan. Saat ia melihat Shinnichi pingsan, Fiona memikirkan hal yang terburuk. Melihat itu semua membuat hatinya serasa diremuk.
Ia marah. Marah kepada dirinya sendiri karena membiarkan. Atau bahkan membuat Shinnichi menderita.
Bagaimana bisa ia menatap Shinnichi lagi? Ia meminta maaf, tapi ia tahu bahwa itu semua hanya kata-kata kosong.
Namun, bagi Shinnichi, kata-kata itu adalah semuanya.
Shinnichi mengulurkan tangannya ke atas. Mengatupkan kedua tangannya di pipi Fiona. Menatap iris biru langit milik Fiona yang basah, Shinnichi tersenyum.
Senyuman itu cukup untuk mengatakan semuanya. Fiona membungkukkan tubuhnya. Menyentuhkan dahinya ke Shinnichi.
Meskipun begitu, tangisannya belum selesai. Shinnichi hanya bisa tersenyum lemah sembari berpikir bahwa air mata sang Puteri yang mendarat di pipinya benar-benar dingin.
❂❂❂❂❂❂
"A-aku menunjukkan sesuatu yang tak pantas. Maafkan aku." Fiona berdeham kecil sambil mengusap wajahnya dengan sapu tangan Shinnichi. Pipinya yang merah menunjukkan bahwa ia sedikit malu.
"T-tak apa." Hanya bisa mengatakan itu, Shinnichi mengangkat bahunya sedikit.
Kini, ia duduk di samping Fiona. Menyandarkan tubuhnya ke dinding. Mencoba mengistirahatkan diri.
Seperti kata Fiona, Shinnichi sudah menerima sihir penyembuhan milik Erina. Tapi, itu bukan berarti lukanya sembuh begitu saja. Ia masih bisa merasakan rasa sakit di tangan kirinya. Tulangnya seperti patah. Sihir penyembuhan sekalipun membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka seperti itu.
"Kurobane-sama," panggil Fiona lagi. "Aku penasaran. Bagaimana caramu mengalahkannya?"
Fiona tidak sudi memanggil nama Samejima. Tak mengetahui ini, Shinnichi ber-oh singkat. Ia mulai menjelaskan.
"Fiona-sama melihatku menyerang dengan bola Mana di tanganku 'kan?" tanya Shinnichi. "Saat aku maju dan terlihat seperti mengincar perutnya."
"Ah, iya." Fiona mengangguk. Kembali mengingat kejadian itu. Meskipun khawatir, ia tidak tahan untuk berpikir bahwa sosok Shinnichi saat itu benar-benar keren. Wajahnya memerah sedikit.
"Aku sebenarnya tidak menyangka Samejima akan mengangkatku dari tanah. Tapi, kurasa itu kesempatan yang bagus." Shinnichi menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Kesempatan bagus? Apa maksudmu?" Fiona masih belum mengerti perkataan Shinnichi.
"Err, Samejima memiliki sebuah kebiasaan. Ia pasti menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan kirinya setelah menyerangku." Shinnichi menyadari hal itu saat Samejima menendangnya. "Jadi, aku memanfaatkannya. Aku menyamarkan bola Mana-ku lalu menaruhnya di pergelangan tangan Samejima. Tak lupa juga dengan menggunakan aktifasi waktu."
"Ah!" Fiona akhirnya sadar. Menyadari betapa cerdiknya taktik Shinnichi. "Jadi, Kurobane-sama memanfaatkan kebiasaan bodohnya itu untuk meledakkan bola Mana tepat di wajah jeleknya itu?"
"Umm... Se-seperti itu...?" Shinnichi agak tertegun mendengar Fiona menghina Samejima dengan mudahnya. Namun, ia juga tidak membelanya. "Tapi, itu taktik yang curang. Hanya pengecut sepertiku yang akan melakukan hal seperti itu."
Shinnichi tersenyum lemah. Tidak terlalu bangga dengan kemenangannya. Tidak seperti Izumi, ia lemah. Ia tidak bisa menang menggunakan metode biasa.
"Apa yang kamu katakan?" Fiona mencegah Shinnichi merendahkan dirinya lagi. "Dalam pertempuran, semuanya adil. Tak peduli seberapa aneh, curang, atau liciknya taktik itu. Kemenangan adalah kemenangan."
"K-kurasa kalimat itu harusnya berhenti di 'adil' saja, Fiona-sama." Shinnichi tersenyum lemah. Entah kenapa perkataan sang Puteri sedikit menusuk hatinya.
"... Tapi, terima kasih." Shinnichi tetap bersyukur karena sang Puteri sudah menghiburnya.
Ia tidak pernah melihat seorang perempuan menangis untuknya. Ia mungkin agak terkejut, tapi ia merasa lebih senang. Lagipula, ia sudah melihat sang Puteri membelanya dari Samejima, ia merasa harga dirinya sebagai laki-laki sedikit terluka. Ia rasa ini setimpal.
"Sama-sama." Fiona tersenyum manis. Senang bisa membuat Shinnichi lebih baik.
Tak lama kemudian, ia merasakan sesuatu di bahunya. Fiona menyandarkan kepalanya. Selesai mengusap pipinya yang basah, sapu tangan masih ada di genggamannya.
"Aku...." Fiona kembali mengangkat suaranya. "Selalu melihatmu berlatih, Kurobane-sama."
"Huh?" Shinnichi kebingungan mendengar perkataan Fiona.
"Pertama kali, aku tidak sengaja. Namun, melihatmu berlatih setiap pagi sebelum matahari terbit, setiap hari menggunakan sihir yang sama, dengan ekspresi pantang menyerah yang sama." Wajah Fiona kembali memerah. Terlihat manis seperti apel di kumpulan salju. "Aku akhirnya selalu bangun pagi untuk itu."
"Tunggu. Jadi, aku sebenarnya tak perlu membangunkanmu?"
Pertanyaan Shinnichi disambut oleh tawa kecil sang Puteri. Entah kenapa, ia memilih untuk membicarakan hal sepele itu. Tapi, seperti itulah Shinnichi. Selalu mementingkan orang lain.
"Tidak. Aku selalu naik ke tempat tidur setelah kamu selesai berlatih." Fiona menjawab setelah tertawa beberapa saat.
"Ugh... Pikirkan berapa banyak waktu yang terbuang." Shinnichi tersenyum kecil.
"Fufu, tapi aku senang dibangunkan olehmu." Fiona menggoda Shinnichi. Senyumnya tak terlihat seperti senyum seorang gadis 15 tahun. "Aku ingin orang pertama yang kulihat saat bangun adalah kamu, Kurobane-sama."
"To-tolong jangan bercanda, Fiona-sama." Shinnichi hanya bisa menghindari topik itu. Ia bisa mendengar Fiona ber-fufu ria.
Fiona kembali bersandar di bahu Shinnichi. Tubuh pemuda itu terasa hangat. Berbeda dengan dirinya sendiri. Dari lahir, tubuhnya selalu dingin. Namun, akhir-akhir ini, ia selalu merasakan kehangatan di dalam dadanya saat bersama Shinnichi.
Saat ia bersamanya. Saat ia berbicara dengannya. Saat ia melihatnya berlatih. Saat ia menyentuhnya. Saat ia tersenyum untuknya.
"Aku... menyukai itu semua." Fiona berbisik. Cukup keras untuk mencapai telinga Shinnichi. "Aku ingin selalu bersamamu, Kurobane-sama."
Shinnichi tidak mengatakan apa-apa. Lebih tepatnya, ia tidak harus mengatakan apa. Ia bisa merasakan wajahnya memerah karena malu.
"Bisakah kamu berjanji untuk selalu bersamaku?"
"O-Oh, tentu....."
A-a-apa yang kukatakan!? Ha-harusnya Kurobane-sama yang mengatakan itu bukan?!
I-itu lamaran 'kan!? Ke-ke-kenapa aku yang menjawabnya seperti itu?!
Memikirkan hal tak penting semacam itu, mereka berdua duduk berdampingan dalam diam. Masing-masing dengan wajah merah.
Mungkin itu yang akan terjadi. Tapi, Fiona tidak membiarkannya. Mengingat apa yang terjadi kepada Shinnichi, ia tidak ingin menyesal lagi. Siapa yang bisa menduga sesuatu seperti itu bisa terjadi lagi?
Fiona membulatkan tekadnya. "Kurobane-sama."
Mendengar panggilan Fiona, Shinnichi langsung menoleh. Ia merasakan tangan Fiona melingkari lehernya. Tak bisa bereaksi, ia merasakan sesuatu yang lembut dan dingin menyentuh bibirnya.
"!?"
Shinnichi membuka matanya lebar-lebar. Menatap Fiona yang menciumnya dengan wajah merah. Sang Puteri bahkan tidak membuka matanya. Terlalu malu untuk melakukannya.
Setelah beberapa saat, Fiona melepaskan diri dari ciuman pertamanya itu. Menundukkan kepalanya, tak berani menatap Shinnichi.
Shinnichi tidak melakukan apapun. Otaknya sibuk mencerna apa yang barusan terjadi. Ia menganggap bahwa itu adalah sebuah mimpi. Namun, sebuah sentuhan dingin di tangannya menyadarkannya bahwa ini semua nyata.
"U-uhmm...." Fiona masih belum berani menatap Shinnichi. Tangannya menyentuh jari Shinnichi sedikit. "Ma-maaf...."
"T-tak apa...." Shinnichi kembali memberikan jawaban itu. Tapi, ia tahu bahwa itu bukan sesuatu yang sesuai.
Melawan rasa malunya sendiri, Shinnichi gantian memegang tangan Fiona. Merasakan lembut dan dingin kulitnya. Sensasi yang tak mungkin dilupakannya dalam waktu dekat.
"Um...." katanya pelan. Merasa canggung mengatakannya. "A-Aku berjanji untuk selalu bersamamu, Fi-Fiona-sama."
Fiona masih menatap ke bawah dengan diam. Shinnichi tidak menyadarinya, tapi Fiona kini tersenyum. Ia kembali menyandarkan kepalanya ke bahu Shinnichi.
Jauh lebih pelan, ia membisikkan sesuatu lagi. Namun, kali ini hanya Fiona yang mendengarnya. Ia belum bisa mengatakan bisikan itu kepada Shinnichi.
Setidaknya, untuk sekarang.
Tok, tok, tok. Ketukan di pintu membuat mereka berdua melompat kaget. Membuat mereka menoleh ke sumber suara.
"Permisi, Kurobane Shinnichi. Anda diminta hadir di hadapan yang Mulia raja Albert." Suara seorang pelayan perempuan terdengar dari balik pintu. Memberitahukan perintah yang agak membingungkan.
"Aku? Bukan Puteri Fiona?"
Shinnichi bertanya-tanya. Selama ini, ia belum pernah dipanggil oleh sang Raja. Paling dekat, menemani sang Puteri saat menghadapnya.
Beberapa alasan muncul di kepalanya. Perseteruannya dengan Samejima, statusnya sebagai orang dunia lain, atau bahkan hubungannya dengan sang Puteri. Semuanya tidak terdengar baik. Ia sedikit takut.
"Mohon segera menghadap Yang Mulia di ruang singgasana. Yang Mulia sudah menunggu" kata pelayan itu sekali lagi sebelum pergi.
Shinnichi menatap Fiona. Ia memasang ekspresi khawatir. Sebelum Shinnichi bisa mengatakan apa-apa.
"Aku ikut."
Fiona mendahuluinya. Shinnichi hanya bisa tersenyum lemah. Setidaknya ia tidak sendirian.
Mereka bergegas menuju ruang singgasana.