
*Suatu ketika, mereka datang. Tidak ada yang tahu darimana, kapan, bagaimana, atau kenapa. Tapi, mereka datang; Empat Dewa.
Sang pemberi kehidupan, Clarity. Sang pembawa perang, Arteus. Sang pengembara pengetahuan, Veil. Sang pengemban kematian, Shin.
Membawa berkah mereka masing-masing. Memberi kehidupan, pengetahuan, pertentangan, dan kematian.
Tanah muncul. Api membara. Air mengalir. Hidup dan mati saling menyeimbangkan. Semuanya adil. Semuanya damai. semuanya baik
- Chapter 1, Arrival of Gods*
ーーーーーーーーーーーーーーーー
Seusai cahaya mereda, mereka sudah berganti tepat. Izumi menatap ke sekelilingnya. Sebuah ruangan besar. Terdapat beberapa lusin pilar yang melingkari mereka. Ruangan itu diterangi oleh obor-obor yang menempel di pilar.
"Apakah sang Dewi tidak mendengarku?" gumam Izumi. Ia menoleh ke belakang.
Yonaka masih terduduk di lantai. Shinnichi juga belum siuman. Ia masih khawatir dengannya.
"Berhasil! Pemanggilannya berhasil! Puji Dewi Aqrina!" Seorang tua berseru. Suaranya bergema di ruangan. Membuat remaja-remaja itu menoleh ke depan.
Beberapa orang bertudung cokelat tumbang di lantai. Ada dua orang yang berdiri. Seorang tua yang berseru tadi dan seorang gadis berambut twintails biru. Sang gadis terlihat kelelahan, seperti tidak kuat bahkan untuk sekedar berdiri.
"Ksatria! Bawa sang Putri ke ruang tabib Istana!" seru orang tua itu. Menoleh ke arah barisan ksatria yang ada di depan pintu masuk.
Tanpa mengatakan apapun, seorang ksatria berzirah menghampiri gadis yang dipanggil Putri itu. Dengan hati-hati, ia membawa sang Putri keluar.
"Selamat datang, Pahlawan! Selamat datang ke Zelfria!"
Pria tua itu maju ke depan. Mengangkat kedua tangannya. Ia berlutut di depan para remaja.
Samejima yang mengambil inisiatif. "Di mana kita?" tanyanya.
"Saya tahu anda memiliki beberapa pertanyaan." Pria dengan janggut bergaya balbo putih itu menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap mata Samejima. "Mari, saya akan mengantar anda semua untuk bertemu Baginda Raja. Beliau akan menjawab seluruh pertanyaan anda.
Erina tiba-tiba memeluk lengan Samejima. "Aku takut, Samejima," ucapnya pelan. Terlihat tidak ingin melepaskan tangan pemuda itu.
"Aku tahu. Tenang saja, aku di sini kok." Samejima tersenyum. Mengelus kepala Erina.
Kemudian, Samejima kembali menoleh ke arah pria tua itu. Ia mengangguk setuju. Tidak ada gunanya diam di sini.
"Bagus! Mari! Mari ikuti saya!"
Pria tua itu membalikkan tubuhnya. Berjalan cepat ke arah pintu. Para ksatria mundur beberapa langkah. Memberi jalan untuknya.
"Tunggu! Teman kami terluka! Bisakah anda menyembuhkannya terlebih dahulu?" Yonaka berseru. Membuat seluruh perhatian tertuju padanya.
"Apa?"
Mendengarnya, pria tua membalikkan badannya. Agak terkejut. Ia tidak menyangka salah satu dari pahlawan sudah terluka sebelum dipanggil ke dunia.
"Ksatria, bawa sang Pahlawan ke tabib istana. Sembuhkan dia."
Mendengar perintah pria itu, ksatria berzirah lainnya maju ke depan. Ia berlutut di depan Yonaka. Mengulurkan kedua tangannya. Seperti meminta izin kepada Yonaka.
Yonaka menoleh ke arah Izumi. Pemuda berambut merah itu mengangguk. Meyakinkan sang gadis berambut hitam.
"Tolong. Sembuhkan dia." Yonaka kembali memelas.
Ksatria itu menganggukkan kepalanya. Besi zirahnya beradu. Ia langsung mengangkat Shinnich dengan mudah. Seperti tidak terpengaruh berat badan pemuda itu.
Dengan langkah besi, ksatria itu membawa Shinnichi pergi. Izumi terlihat ragu saat temannya dibawa pergi entah kemana. Sang pria tua menyadari air muka pemuda itu.
"Tenanglah, wahai Pahlawan. Temanmu berada di tangan yang baik. Kami akan merawatnya hingga sembuh."
Izumi diam selama beberapa saat. Tapi, ia mengangguk mengerti. Menurut sang Dewi, mereka adalah Pahlawan. Berdasarkan ini, ia yakin mereka tidak akan melakukan hal-hal aneh kepada Shinnichi.
"Nah, mari kita bertemu raja yang mulia." Pria tua itu kembali mengajak keempat remaja itu.
Samejima melirik ke arah Izumi yang sedang membantu Yonaka berdiri. "Selesai? Berhentilah membuang-buang waktu." Ia mendengus kesal.
Izumi memilih untuk mengabaikannya. Memegang tangan Yonaka. Gadis itu gantian mengeratkan pegangannya.
Samejima tidak mau kalah. Ia juga memegang tangan Erina. Tersenyum percaya diri, ia menoleh ke arah pria tua. "Bimbing jalannya, Pak Tua."
"Segera, wahai Pahlawan." Pria itu membungkuk hormat. Berjalan keluar dari ruangan terlebih dahulu.
Pasangan Samejima Erina serta Izumi Yonaka mengikuti di belakangnya. Diikuti oleh barisan ksatria yang berjalan rapi. Besi mereka beradu dengan tanah. Membuat suara nyaring yang menggema di lorong-lorong besar.
Setelah melewati lorong gelap, beberapa tikungan, dan sepasang tangga besar, mereka sampai di permukaan. Cahaya biru langit memenuhi retina mereka. Menjadi bukti bahwa mereka sudah keluar dari bawah tanah.
Mereka berada di sebuah halaman. Keluar dari sesuatu bangunan yang mirip gua. Burung berkicau, angin tenang, bayangan daun di tanah. Semuanya terlihat nyata.
Erina mencubit dirinya sendiri. Mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi. Rasa sakit kecil terasa di pipinya. Ini dunia nyata.
"Samejima, apakah kita benar-benar di dunia lain?" tanya Erina. Mencoba mencari jawaban yang logis.
Samejima tidak menjawab. Sibuk dengan rasa takjub. Ia menatap ke depan lalu ke atas. Sebuah istana memenuhi pandangannya. Dari dinding bawah hingga ke menara teratas.
Ketiga remaja lain mengikuti arah pandang Samejima. Kemudian, pandangan mereka tertuju kepada seekor hewan di pojok halaman. Seekor hewan yang hanya pernah mereka lihat melalui film atau dengar melalui cerita mitologi.
Kepala dan kulitnya mirip dengan seekor kadal. Sayapnya mengingatkan mereka terhadap seekor kelelawar. Kedua kaki bak burungnya. Seekor hewan mitologi terkenal; Seekor Wyvern.
"I-Izumi-kun. I-itu nyata kan?"
Mendengar pertanyaan Yonaka. Izumi hanya bisa mengangguk. Sebenarnya, ia juga tidak tahu lagi apa yang harus dipercayainya saat ini. Dunianya sendiri bahkan terlihat tidak nyata sekarang.
"Pahlawan, bisakah kita melanjutkan langkah kita?" Pria tua itu menyadarkan para remaja itu.
Samejima, seperti biasa mewakili mereka, mengangguk. Kembali mengikuti pria itu. Ia berkata pelan. "Ayo."
Karpet? Terbuat dari sutra dan dibubuhi permata-permata kecil. Tirai jendela? Emas dan berlian.
Gagang pintu? Susuran tangga? Lampu gantung? Lukisan? Emas dan berlian.
Otak para remaja tidak bisa mengikuti kenyataan ini. Harga dari ini semua pasti mencapai milyaran bahkan trilyunan. Yonaka, Izumi dan Erina memilih untuk mengabaikannya.
Sedangkan Samejima mulai memutar otaknya untuk memiliki kekayaan ini semua. Kesempatan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Serakah mungkin namanya tengahnya.
"Ke atas sini, Pahlawan sekalian." Pria tua itu berjalan menaiki tangga besar di tengah ruangan. Pahlawan kita terus mengikutinya.
Di atas, mereka kembali berjalan menelusuri lorong. Berbagai macam lukisan dan patung menghiasi sisi kanan dan kiri lorong. Terlihat seperti museum daripada istana sekarang.
Setelah berjalan beberapa menit, mereka akhirnya sampai di ujung lorong. Sepasang pintu besar. Sebesar dua ekor kuda dengan tinggi seekor gajah.
Ukiran yang rumit terukir di atasnya. Sepasang kain biru menutupi setengah pintu itu. Sepasang cincin emas dengan ornamen singa menjadi gagang pintu. Sepasang ksatria pemegang tombak menjaga pintu itu.
"Pahlawan sekalian akan menghadap sang Mulia Raja Albert Throst Victoria Ainsworth III. Saya mohon pengertiannya untuk pahlawan sekalian agar bersikap sopan dan hormat." Pria tua itu mengingatkan.
Para pahlawan mengangguk mengerti. Mereka juga tidak ingin kehilangan nyawa mereka karena alasan konyol seperti menyinggung perasaan sang Raja. Mereka ingin hidup, sebisa mungkin sampai mereka bisa pulang.
Pria berjanggut itu mengangguk. Ia menoleh ke arah salah satu ksatria. Ksatria itu gantian mengangguk.
Dengan lantang, ia berseru. "Pahlawan datang ke hadapan yang Mulia Raja Albert Throst Victoria Ainsworth III!" Kemudian, pintu itu terbuka perlahan.
Megah merupakan kata ideal untuk mendeskripsikannya. Lantai putih bersih seperti kaca, pilar-pilar besar berwarna putih kapur, jendela kaca berwarna yang memberi cahaya lembut, lampu gantung yang terbuat dari emas. Ruangan seluas lapangan sepakbola itu terlihat seperti sesuatu dari dongeng.
Ruangan itu terlihat indah dan agung. Penangkapan sempurna dari kebesaran sang Raja.
Para Pahlawan terus berjalan. Mereka sampai di depan singgasana sang Raja. Warna ungu dan emas mendominasi kursi tinggi itu. Melambangkan posisi Raja sebagai Pemimpin Negara yang utama.
Duduk di atas singgasana, seorang pria berjanggut. Dengan mahkota emas, udara kewibawaan mengelilingi pria berjubah merah itu. Iris birunya menatap wajah keempat remaja bergantian.
Pria yang masuk bersama pahlawan langsung berlutut di hadapan. Mengerti bahwa posisinya jauh lebih rendah daripada sang Raja.
Raja turun dari singgasananya. Ia berjalan menuruni tangga kecil di depannya, menyeret jubahnya di lantai. Ketukan sepatunya menggema dalam setiap langkah.
"Selamat datang, Pahlawan. Selamat datang di kerajaan Victoria." Sang Raja mengangkat kedua tangannya. Menyambut para Pahlawan. "Saya adalah Raja negeri ini, Albert Throst Victoria Ainsworth III."
Keempat Pahlawan terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Samejima bahkan tidak tahu harus menjawab apa.
Raja menurunkan tangannya. Ia menaruh tangan kanannya di atas dadanya. Menundukkan kepalanya sedikit.
"Saya tahu betul bahwa ini adalah permintaan yang amat sangat besar. Akan tetapi," Albert menghentikan suaranya sebentar. Berusaha memikirkan kata yang tepat. "Mohon! Selamatkanlah kami!"
✾✾✾✾
Shinnichi membuka matanya. Pandangannya agak kabur sebelum menjadi jelas. Langit-langit yang tidak ia kenali menyapa matanya.
Shinnichi mengangkat tubuhnya. Bangun dari tempat tidur yang terasa keras. Kepalanya terasa pusing, tenggorokannya juga kering.
"Yonaka? Izumi?" Shinnichi bertanya. Menatap ke sekeliling.
Ruangan yang aneh. Tidak seperti ruangan yang ia tahu. Lemari, dinding, jendela, pintu. Semuanya terlihat aneh. Seperti Lebih kuno.
Lantainya terbuat dari ubin keramik berwarna merah. Beberapa ranjang putih terlihat berderet di sisi kanan kiri ruangan. Shinnichi juga terbangun di salah satu ranjang.
'Di mana aku?' Shinnichi bertanya-tanya. Mencoba mengingat sesuatu.
Beberapa saat tadi, ia berada di kelas. Bersama Yonaka dan Izumi. Shinnichi tersenyum lemah. Sepertinya sudah ingat. Tapi, bukankah ia harusnya di UKS?
Sesuatu menangkap iris hitamnya. Di pojok ruangan, di atas sebuah ranjang yang tertutup tirai. Ia melihat siluet seseorang.
Shinnichi turun dari ranjang. Berjalan mendekatinya. Ia mengangkat tangannya, memegang tirai itu lalu menyingkapnya.
Warna biru memenuhi pandangannya. Bergelombang dan mengkilap seperti emas. Butuh beberapa saat sebelum ia menyadari bahwa itu adalah rambut seseorang. Saat Shinnichi menyadarinya, pemilik surai eksotis itu menoleh.
Sebuah paras cantik. Manik biru langit yang dihiasi bulu mata yang lentik itu menatap Shinnichi, terkesiap. Bibir tipisnya membentuk sebuah lengkungan kecil. Sebuah anting putih berbentuk kepingan salju berputar pelan, memaes kulit putihnya.
Seorang gadis manis. Itu yang ada di pikiran Shinnichi. Tak menyangka ada gadis secantiknya. Mirip dengan seorang Putri dongeng.
Gadis itu juga memiliki pemikiran yang serupa. Tidak menyangka pemuda di hadapannya.
Pemuda itu terlihat berbeda. Ia memiliki rambut hitam kelam. Warna rambut yang jarang ia lihat. Terlebih lagi, netra sewarna sang pemuda, menatapnya lekat.
Hitam pekat. Seperti langit malam, tak berbulan dan berbintang. Matanya terlihat dalam. Seakan-akan menarik orang yang menatapnya.
"A-ah! Maaf!" Shinnichi berseru. Menutup kembali tirai merah itu.
Pemuda itu membalikkan tubuhnya. Wajahnya sedikit memerah karena menyadari apa yang sudah ia lakukan. Meskipun tidak menoleh ke bawah, jika gadis itu sedang mengganti pakaiannya, ia termasuk pengintip.
Shinnichi menggelengkan kepalanya. Membersihkan pemikiran yang aneh-aneh. Ia segera melangkah pergi.
"Tunggu!"
Suara seorang gadis mencegahnya mengambil langkah lagi. Shinnichi menoleh ke arah gadis itu. Kini, dapat melihatmu lebih jelas.
Rambut birunya terurai panjang, hampir mencapai lantai. Tubuh gadis itu terlihat ideal. Tidak terlalu kurus maupun terlalu gemuk. Dengan tinggi sekitar 162 cm.
Satu hal yang paling mencolok selain rambutnya adalah pakaiannya. Ia memakai gaun biru putih berenda, sarung tangan putih menutupi kedua lengannya, lalu sebuah tiara berpermata biru kecil tersemat di atas kepala gadis itu. Mirip dengan seorang Putri Kerajaan Dongeng.
"Apakah engkau salah satu dari pahlawan?"
Sebuah pertanyaan keluar dari mulut gadis itu. Shinnichi membutuhkan beberapa waktu. Tidak mengerti pertanyaan gadis itu, Shinnichi menjawab dengan dua huruf.
"Eh?"