
Kekacauan menyelimuti Zelfria.
Konflik berdarah menjulang di langit dunia. Membelah daratan. Memakan jiwa dan menelan kedamaian.
"Masa Kekacauan" adalah sebutan untuk era kegelapan itu. 1000 tahun yang penuh dengan perang, kelaparan, wabah penyakit, dan kematian. Penderitaan mencengkeram Zelfria.
Panteon Dewa hanya bisa memperhatikan. Tak bisa ikut campur dalam urusan fana membuat mereka putus asa. Tidak bisa melakukan sesuatu, mereka mengirim utusan.
Utusan untuk memperbaiki dunia. Untuk membawa perdamaian. Untuk menjaga keselamatan Zelfria.
Beberapa berhasil. Beberapa gagal. Beberapa bahkan menolak. Namun, Dewa tetap berusaha.
Dengan penuh kerja keras, dengan penuh upaya, Zelfria akhirnya terbebas. Dunia memasuki era perdamaian. Kedamaian yang berdiri di atas lautan darah penduduknya.
Namun, kekacauan masih mengintai di bayang-bayang. Menunggu waktu yang tepat untuk menerkam kembali. Waktu yang tepat untuk menyebarkan kendalinya atas dunia.
Kegelapan mulai berbisik. Dan tak lama lagi, kekacauan akan kembali turun di tanah Zelfria. Kekacauan yang melebihi apapun yang pernah dilihat dunia.
Pada saat itu, kuharap dunia memiliki penyelamat. Penyelamat utama yang bisa mengangkat dunia dari jurang kegelapan.
Namanya akan terdengar di seluruh dunia. Namanya akan tertoreh di buku dunia. Namanya akan terucap di setiap doa.
Savin Avalê Clarity. Savin Avalê Veil. Savin Avalô Arteus. Savin Avalô Shin ar i náne Zelfria. Savin Avalô yë Avalê quetie.
Ámen edraith Foun. Ámen edraith Aqrina.
- La prophétie; Ange de la mort
Ελφρια
—————————————————————
"Shinnichi!"
Suara Izumi bergema di ruang singgasana. Membuat semua orang menoleh ke belakang. Pandangan mereka tertuju kepada seorang gadis berambut biru dan pemuda berambut hitam.
"Shinnichi-kun!"
Menyadari siapa sosok pemuda itu, Yonaka dan Izumi berlari ke arah teman mereka itu. Yonaka memegang tangan Shinnichi, memeriksa wajah pemuda itu.
"Kau tidak apa-apa? Tidak ada luka atau seperti itu kan?"
"Yonaka-chan, aku tidak apa-apa kok." Shinnichi melepaskan tangan Yonaka. Meyakinkan gadis itu.
Mendengar itu, Yonaka menghela nafas lega. Izumi langsung mengacak-acak rambut Shinnichi. Senyum lebar terulas di wajahnya.
"Sialan kau, Shinnichi. Jangan membuat kami khawatir."
"Maaf, maaf." Shinnichi memegang tangan Izumi. Menghentikannya karena merasa sedikit malu.
"... Apakah kau sudah tahu apa yang terjadi?" Izumi bertanya. Nadanya terdengar serius.
Shinnichi mengangguk. "Aku sudah diberitahu oleh Fiona-hime."
"Hime?" Yonaka menelengkan kepalanya, bingung. Jarang ia mendengar kata itu. Kata yang hanya digunakan untuk memanggil seorang Putri.
Izumi dan Yonaka menoleh ke arah gadis bersurai biru yang berdiri tenang di samping Shinnichi. Gadis itu tersenyum ke arah mereka. Tidak hanya Izumi, Yonaka pun terkesima dengan senyum itu. Dari senyumnya saja, ia memang pantas untuk dipanggil dengan sebutan Putri.
"Ah, Putriku. Apakah kau sudah baikan?" Suara sang Raja menyela mereka.
"Yang Mulia."
Fiona menunduk ke arah raja Albert. Ia berjalan menujunya. Izumi, Yonaka, dan Shinnichi mengikuti di belakangnya.
Mata pemuda itu bergerak ke sana kemari. Mengagumi keindahan ruang singgasana. Dari satu pojok ke pojok lainnya, tidak ada bagian yang lolos dari pandangannya.
Merasa cukup dekat, sang Putri memegang gaunnya lalu membungkuk anggun. "Terima kasih atas kekhawatirannya, Ayahanda. Kata-kata tersebut sudah cukup untuk membuat hati hamba gembira."
Mendengar perkataan Fiona, paduka Raja memberikan senyum samar. Ia menatap Putri bungsunya. Dari tiga bersaudari, hanya Fiona yang belum pergi meninggalkan kerajaan. Ketiga kakak perempuannya sudah pergi meninggalkannya, dipinang oleh pangeran dan bangsawan kerajaan lain.
Meninggalkan pemikiran sentimental di hatinya, Albert menoleh ke arah Shinnichi. Tidak ada kesan tertentu seperti Pahlawan lainnya.
Izumi mengeluarkan aura pejuang tangguh dan keras. Yonaka mempunyai mata yang tajam. Erina memiliki suatu kelembutan tersendiri. Untuk Samejima, sekedar meliriknya saja seseorang dapat merasakan sesuatu yang hebat darinya.
Lalu, untuk Shinnichi? Sang Raja — seseorang yang dapat menyombongkan diri dalam memahami karakter orang — tidak merasakan apa-apa. Kesan yang didapat darinya adalah "biasa". Tidak ada yang spesial darinya. Seolah ribuan batu di pinggir sungai.
Saking biasanya, ia merasa aneh. Seperti ada sesuatu yang salah. Apakah seorang Pahlawan bisa memiliki sifat seperti itu?
Mendapati dirinya berada di bawah perhatian, Shinnichi mengecil. Apalagi saat mengingat bahwa pria berjanggut putih yang sedang mengamatinya di atas singgasana adalah Raja kerajaan Victoria, perutnya tiba-tiba merasa sakit.
Izumi berbisik di telinga Shinnichi. "Kami baru saja memperkenalkan diri, kau juga."
Sebelum Shinnichi masuk, mereka memang memperkenalkan diri mereka. Tak bagus jika kerajaan yang memanggil tidak mengetahui nama para pahlawannya. Tentunya, mereka sudah menjelaskan bahwa nama keluarga mereka dan nama asli mereka terbalik.
Mendengar itu, ia menoleh ke samping. Izumi dan Yonaka mengangguk. Ia menoleh ke arah yang berlawanan; Ia langsung menyesalinya. Samejima menatapnya tajam.
Mengingat-ingat Anime dan film bergenre fantasi yang sering ia tonton, Shinnichi melangkah ke depan — sejajar dengan Fiona. Ia berlutut dengan kikuk. Terlihat aneh bahkan.
"S-saya, Kurobane Shinnichi, menyapa Paduka Raja dengan rendah hati!" Dengan suara yang bergetar, Shinnichi mengenalkan diri dengan tidak biasa.
Izumi ingin menepuk dahinya sendiri. Yonaka hanya tersenyum pahit. Samejima menatapnya dengan rendah. Erina masih menatap ke bawah.
Namun, mendapati pemandangan lucu itu, Fiona hampir melepaskan tawa kecil. Namun, tertawa di hadapan Raja adalah hal yang tidak pantas. Ia menyimpan kejadian itu di dalam hatinya.
Sang Raja, sebaliknya masih terlihat serius. Ia mengangguk. "Salam kenal, Pahlawan Shinnichi. Saya adalah Raja kerajaan Victoria. Albert Throst Victoria Ainsworth III."
Ia menatap Shinnichi dan Fiona bergantian. "Dengan kedatangan kalian berdua bersamaan, saya menganggap anda sudah mengerti situasi saat ini?"
"A-ah, iya." Shinnichi mengangguk. "Sang Putri sudah menjelaskannya."
"Baguslah kalau begitu."
Sang Raja kembali tersenyum. Senang karena tidak perlu membuang-buang waktu lagi.
"Seperti yang diharapkan dari Putriku," puji Albert.
"Anda terlalu baik, Yang Mulia." Fiona membungkuk lagi. Merasa tersanjung. "Saya hanya melakukan apa yang perlu dilakukan."
Shinnichi tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Ia berdiri lalu kembali ke sisi Izumi. Pemuda berambut merah memegang bahu Shinnichi. Seperti menenangkannya.
Shinnichi memiringkan kepalanya. Terlihat bingung. Seolah-olah ada tanda tanya di atas kepalanya.
"Sekarang, karena seluruh Pahlawan sudah berkumpul, kita bisa berlanjut ke hal yang terpenting...." Albert menjeda perkataannya. "Kekuatan kalian."
"Memang, kekuatan Pahlawan adalah kekuatan terbesar dan terhebat di dunia ini," jelas Albert. "Namun, apa gunanya kekuatan besar jika tidak diketahui?"
Para Pahlawan mengangguk mengerti. Apa yang dikatakan sang Raja adalah kebenaran. Apalagi sebelum kedatangan mereka di dunia ini, sang Dewi sudah memberikan kekuatan kepada mereka.
Yonaka dan Izumi menoleh ke arah Shinnichi. Ekspresi khawatir terlukis jelas di wajah mereka. Mereka tahu bahwa tidak ada cahaya yang memasuki dada Shinnichi seperti yang lain.
Mereka berharap agar Shinnichi tidak mengalami hal yang buruk.
Shinnichi, tidak menyadari kekhawatiran kedua temannya, masih menatap sang Raja dengan gugup. Sedikit antusiasme bisa terlihat di wajahnya.
"Ksatria! Antar para Pahlawan ke lapangan pelatihan." Sang Raja bertitah.
Setelah mendengar beberapa kata nasehat dari Raja, para Pahlawan pergi meninggalkan ruangan. Lebih tepatnya, mereka dituntun ke luar oleh seorang Ksatria.
✾✾✾✾
Setelah berjalan beberapa saat dan melewati beberapa ruangan, lorong, dan tangga, mereka sampai di halaman kastil. Berbeda dari tempat mereka datang, halaman tersebut diisi oleh beberapa ratus prajurit. Masing-masing sedang berlatih.
Ada yang sedang beradu pedang, memanah dan berbaris. Namun, hanya satu yang menarik perhatian mereka. Sekumpulan prajurit yang memegang tongkat.
"Wahai Salamander, kami pinta kekuatan darimu —"
Selagi mengucapkan mantera itu, tongkat seorang prajurit mulai mengeluarkan api. Sebuah bola api lebih tepatnya.
"— Membaralah! [Fireball]!"
Mengikuti sentakan tongkatnya, bola api tersebut terbang melesat. Dengan cepat, mengenai boneka kayu sejauh 20 meter dari penembak.
Api menelan boneka kayu itu. Diikuti oleh ledakan keras. Hanya arang dan abu yang menjadi pengingat akan boneka kayu tadi.
Para Pahlawan hanya bisa menyaksikan dengan takjub. Tidak bisa mengucapkan sepatah kata.
Sihir! Shinnichi berseru dalam batin.
Sebagai seorang Otaku — terutama dalam bidang fantasi — ia memiliki beberapa pengetahuan lebih. Meskipun ia tidak yakin semuanya berlaku di dunia ini. Namun, ada satu hal yang sudah ia pastikan.
Sihir itu memang nyata! Ternyata sang Puteri tidak berbohong!
Bukan berarti ia meragukan sang Puteri, tapi melihat orang lain menggunakannya cukup untuk membuatnya yakin.
Sementara Shinnichi bergidik senang, para Pahlawan lain masih merasa takjub. Mereka tidak menyangka hal-hal ajaib seperti sihir benar-benar ada di dunia. Mengingat bahwa mereka bertemu dengan Dewi, hal seperti ini sebenarnya bisa dianggap sepele.
"Kalian semua pasti para Pahlawan yang sedang dibicarakan." Sebuah suara baraton menyapa telinga kelima pemuda itu.
Sontak, mereka menoleh.
Seorang pria berzirah berjalan mendekati mereka. Suara besi terdengar setiap kali ia bergerak. Cahaya matahari terpantul dari zirah peraknya. Sedikit menyilaukan mata.
Wajahnya menunjukkan betapa banyak pengalamannya di medan perang. Serius dan tenang; Seperti sebuah pisau yang tajam karena senantiasa digunakan.
Tubuhnya menunjukkan keunggulan fisiknya di atas orang-orang biasa. Meskipun memakai zirah, seseorang bisa merasakan tonjolan ototnya.
"Salam kenal, namaku Gregorius Reclius Isaac. Jenderal besar Kerajaan Victoria —" Menyentuh dadanya, Gregory menunduk singkat. " — Namun, kalian bisa memanggilku Gregory."
Mendengar perkenalan sang Jenderal, para Pahlawan juga mengenalkan diri. Izumi juga memberitahu pria besar itu bahwa nama mereka terbalik.
"Menarik."
Gregory memegang dagunya. Janggut pendeknya tercukur rapi, cocok dengan gaya rambutnya; cepak. Dilihat darimanapun, siapa saja dapat tahu bahwa ia adalah pria militer.
Dan sekarang, pria militer itu sedang mengamati kelima Pahlawan. Hanya dua yang bisa mengambil perhatiannya. Izumi dan Samejima.
"Yosh—" Gregory mengangguk tiba-tiba. Ia menunjuk pemuda berambut merah. "Izumi-dono, maukah kau bertarung denganku?"
Mendengar permintaan tiba-tiba itu, Izumi agak tertegun. Ia menunjuk dirinya sendiri. Hal itu disambut oleh anggukan dari Gregory.
"Gregory-sama." Sebelum Izumi bisa menjawab, Ksatria yang menemani mereka menyela. "Yang Mulia raja Albert memberi perintah untuk memeriksa kekuatan Pahlawan-dono. Saya harap anda bisa mengerti."
Gregory menatap prajurit itu. Beberapa saat kemudian, ia berdeham.
"Ah, tentu saja. Maafkan atas ketidaksopananku." Gregory meminta maaf. Terlihat lebih serius kali ini. "Kalau begitu, ayo ikuti diriku."
Gregory membalikkan badannya. Berjalan ke arah sebuah bangunan putih besar. Terdapat sepasang penjaga di pintu masuk.
Saat Gregory mendekat, kedua penjaga itu memberikan salut kepadanya. Gregory mengangguk lalu berjalan masuk. Kelima Pahlawan mengikuti di belakangnya. Prajurit tadi sudah menghilang entah kemana.
Di dalam, berbagai macam senjata dan peralatan perang dijejerkan di dinding dan rak; Tersebar di seluruh ruangan. Bau besi melayang di udara. Bau itu membuat para Pahlawan mengernyitkan hidung mereka.
"Maaf atas baunya." Gregory mengangkat bahunya. Menyadari perubahan air muka di wajah para pemuda. "Di sini tempat kami membuat senjata dan zirah untuk para prajurit. Jadi, tolong tahan ya."
Gregory menyeringai lebar. Ia menoleh ke arah salah satu rak yang ada. Terdapat beberapa bola kristal, tongkat sihir, gulir sihir dan sebuah peti kecil. Gregory mengambil peti itu.
Ia membukanya di depan para Pahlawan. Terdapat tumpukan pelat baja berwarna hitam di dalamnya. Huruf-huruf aneh tertulis di atasnya.
"Masing-masing ambil satu, kita akan mencari tahu status kalian."
Mengikuti kata Gregory, satu persatu Pahlawan mengambil pelat tersebut. Memeriksa benda aneh itu.
Shinnichi menatap pelat itu lekat-lekat. Goresan-goresan putih yang mirip rune itu merangsang rasa ingin tahunya.
Sebuah keanehan terjadi. Huruf-huruf itu bergerak. Membentuk sepasang kata. [Status Card].
Shinnichi mengedipkan matanya beberapa kali. Kata-kata itu masih menetap di pandangannya.
"Ini?" Erina bertanya, sedikit kebingungan.
"Kartu status?"
Mendengar pertanyaan gadis itu, Shinnichi menjawabnya. Seluruh mata kembali tertuju kepada Shinnichi.
"Kau bisa membacanya?" Samejima gantian bertanya.
"Ah, ku-kurasa begitu." Shinnichi memberikan jawaban samar. Bisa-bisa ia dikira gila jika mengatakan bahwa huruf-huruf itu berubah dengan sendirinya.
"Hooh? Jadi dia mempunyai skill [Language Comprehension] ya?" Gregory bergumam kecil, menutup peti itu lalu kembali mengelus-elus dagunya. "Menarik."
"Maaf?" Yonaka mendengar gumaman Gregory.
"Ah, tidak. Lupakan saja." Gregory menggeleng lalu tersenyum. "Sekarang kita akan memeriksa status kalian."