
Meskipun sudah berlatih hampir empat jam, Shinnichi masih belum berhenti. Meskipun belum ada perkembangan, ia tidak menyerah. Walaupun pada akhirnya, ia melatih sihir putihnya dulu.
Hasil latihannya tidak sia-sia.
Shinnichi sudah bisa melempar bola Mana sejauh 9 meter. Entah kenapa, melihat bola Mana itu berputar-putar lalu menghantam pohon, membuatnya teringat suatu jutsu ninja tertentu. Ia bahkan harus mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak berteriak "R◯sengan!" setiap kali ia melemparnya.
Selain itu, ia juga melatih aktivasi waktu. Aktivasi waktu bukan berarti sihir waktu atau semacamnya. Tapi, suatu cara untuk menjeda aktifnya sebuah sihir.
Caranya yang cukup mudah membuat Shinnichi dapat melakukannya dengan beberapa kali percobaan. Meskipun untuk menguasainya, butuh usaha yang lebih besar.
Pertama seseorang perlu menyelimuti sihir mereka dengan Mana — bukan menambah Mana ke dalam sihir tersebut tapi menyelimutinya. Pastikan Mana tidak bergabung. Selanjutnya, bayangkan sebuah sulut yang terbakar. Saat sulut itu mencapai ujung, maka sihir akan aktif.
Dengan kata lain, cara Shinnichi melakukannya adalah membayangkan aktivasi waktunya sebagai bom sulut. Seseorang dari Zelfria pasti tidak bisa mengerti jalan pikirannya.
Bagaimanapun, sedikit demi sedikit, Shinnichi merasa dirinya menjadi lebih berguna.
Untuk terakhir kalinya pagi itu, Shinnichi mengangkat tangannya. Ia menutup matanya, — suatu kebiasaan yang perlu ia lupakan. Ia mengumpulkan Mana di tangan kanannya. Membayangkan sebagai bola yang berputar-putar.
Tangannya terasa berat. Ia berhasil.
Shinnichi membuka matanya. Di tangannya, sebuah bola Mana berwarna biru samar berputar-putar. Tepat seperti bayangannya.
Ia mengarahkannya ke depan. Sebuah pohon tua menjadi targetnya. Di bawahnya, terdapat puluhan lubang. Bekas bola Mana-nya yang tidak berhasil mengenai targetnya. Tapi, tak sedikit pula bekas bola Mana di batang pohon tersebut.
Ia sudah berkembang.
Memikirkan hal sentimental itu, Shinnichi mengejangkan tangannya.
Bola Mana itu terlempar dari tangannya. Menerjang maju seperti ditembakkan dari meriam. Lalu, menghantam pohon itu. Serpihan kayu terbang ke mana-mana. Menciptakan sebuah lubang di batang pohon itu.
Shinnichi tersenyum. Meskipun tak seberapa, ia berkembang.
✾✾✾✾
Selesai dengan latihannya, Shinnichi mempersiapkan diri untuk melayani sang Puteri. Sarapan juga sudah ia santap. Kini, tinggal membangunkannya saja.
Biasanya, Fiona masih tertidur meskipun waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan dirinya membutuhkan waktu 2 jam. Sementara itu, aktivitasnya dimulai jam 9. Siapapun dapat menyimpulkan bahwa waktunya hampir tidak cukup.
Tapi, untung saja Shinnichi adalah seorang pengidap insomnia. Ia bisa bangun di pagi hari, memiliki waktu berlatih, sarapan, dan membangunkan sang Puteri.
Memikirkan hal semacam itu, Shinnichi terus berjalan. Menaiki tangga, ia tinggal berbelok ke kanan. Kamar sang Puteri terletak di ujung koridor. Namun, langkahnya seketika terhenti.
Di depan pintu kamar Fiona, seorang pemuda berambut emas berdiri. Jinba Samejima terlihat di depan kamar Fiona.
Otak Shinnichi membeku. Tidak tahu yang terjadi. Kenapa dia di sini?
Samejima menyadari Shinnichi. Ia melirik ke arahnya lalu tersenyum kecil.
Gerakan tak berbahaya itu membuat bulu kuduk Shinnichi berdiri. Rasa takut seperti malam itu kembali menghantuinya. Namun, Shinnichi tidak melarikan diri.
Ia menguatkan mentalnya lalu berjalan mendekatinya. Berhenti tepat di belakangnya, Shinnichi berusaha untuk menghentikan gemetarannya.
"Kenapa... K-kau di sini?"
Shinnichi ingin mengutuk suaranya yang gemetaran. Mengutuk dirinya yang penakut.
Beberapa detik berlalu. Hening. Terlalu hening. Firasat Shinnichi tidak enak.
"Oh, Aku di sini untuk sang Puteri tentu saja."
Kata-kata itu menyambarnya bagaikan petir di siang bolong.
Shinnichi tahu rumor yang beredar. Rumor bahwa Samejima meniduri hampir seluruh perempuan yang ada di kastil. Bangsawan, pelayan. Remaja maupun dewasa. Lajang maupun bersuami.
Meskipun begitu, tak ada yang berani menentangnya. Samejima adalah seorang Pahlawan. Kehendaknya hampir menyamai sang Raja.
Shinnichi takut saat ini akan datang. Saat di mana Samejima mengincar Fiona.
"M-maaf, Fiona-sama menyuruhku untuk menjemputnya, jadi ka—"
"Lalu? Kau bisa apa?"
Usaha Shinnichi untuk melindungi sang Puteri dihancurkan dengan begitu mudah. Shinnichi tidak bisa mengatakan apa-apa.
Samejima menoleh ke arah Shinnichi. Di mata Shinnichi, tubuhnya terlihat menjulang di atasnya. Ia merasa kecil di bawah tatapan matanya.
"Dengar, akan kukatakan ini sekali lagi. Kau lemah." Suara Samejima terasa panas. "Kaukira kau cocok untuk sang Puteri? Ingat tempatmu."
Samejima mendorong dada Shinnichi. Membuat pemuda itu terjatuh. Ia menyisir rambut emasnya ke belakang.
"Kaupikir seseorang sepertimu layak berjalan berdampingan bersamanya?" Samejima kembali bertanya. Kata-katanya menusuk seperti pedangnya. "Kau pergi ke perpustakaan, kau berlatih setiap hari. Untuk apa? Seorang yang lemah sepertimu tidak akan berubah."
"Kau punya otak kan? Seorang Pahlawan sepertiku atau seorang pelayan sepertimu. Mana yang lebih layak?"
Shinnichi terdiam. Tidak bisa membantah. Perkataan Samejima mulai memasuki relung jiwanya. Rasa frustrasi dan putus asanya kembali timbul.
Samejima benar. Dia hanyalah seorang pelayan. Shinnichi sudah lama menerima fakta itu.
Tanpa perlu dipikirkan lama-lama, siapa saja bisa tahu. Samejima lebih layak.
Jika ini novel roman, Shinnichi mungkin mengatakan sesuatu yang murahan untuk dikatakan. Namun, ia tidak memiliki kata-kata apapun. Shinnichi hanya bisa diam dan menatap ke bawah.
"Mana yang lebih layak? Daripada Pahlawan berhati busuk? Tentu saja pelayan berhati mulia."
Suara familier itu membuat Shinnichi mengangkat kepalanya dan Samejima menoleh ke belakang. Seorang gadis berambut biru panjang. Memakai gaun putih-biru bertemakan salju.
Puteri keempat kerajaan Victoria, Fiona Throst Victoria Ainsworth berdiri di depan pintu, menatap tajam Samejima.
"Fi-Fiona-hime? Sejak kapan?" Samejima terdengar terkejut. Tak menyangka Puteri kerajaan mendengarnya. "Ini bukan seperti yang anda ki—"
Fiona berjalan melewati Samejima. Mengabaikan tatapan matanya. Ia berjalan mendekati Shinnichi lalu duduk di sampingnya.
"Kamu tidak apa-apa, Kurobane-sama?" Fiona menyentuh punggung Shinnichi. Memeriksanya.
"A-aku tidak apa-apa." Shinnichi tersadar. Ia menggelengkan kepalanya. "Fi-Fiona-sama, gaunmu bisa kotor!"
Fiona tersenyum lembut. "Kenapa malah khawatir tentang itu?"
"Bolehkah aku mengetahui sesuatu?" tanya Samejima. Suaranya jernih. Seperti berubah. "Kenapa kau memilih seseorang sepertinya? Apa yang kau lihat darinya?"
Fiona tidak langsung menjawab. Ia membantu Shinnichi bangun. Memegang tangan Shinnichi, ia menatap Samejima.
"Ia jujur dan selalu berusaha sekeras mungkin," kata Fiona singkat dan mantap. menggenggam erat tangan Shinnichi. Membuat pemuda itu tersipu.
"Begitu ya."
"Dan ingat ini." Suara sang Puteri menjadi dingin. Suhu di sekitar juga turun beberapa derajat. "Jika anda berani menyakiti Kurobane-sama lagi, saya akan membekukan dan menghancurkan anda berkeping-keping."
Samejima tak mengatakan apapun lagi. Bahkan ketika Fiona dan Shinnichi berjalan melewatinya. Berpegangan tangan.
Namun, bibirnya melengkung. Membentuk sebuah senyum yang dapat membuat seseorang bergidik.
"Yah, kita lihat saja nanti."
❂❂❂❂❂❂
Shinnichi tak bisa berkata-kata. Membiarkan Fiona menarik tangannya, ia tidak menyangka bahwa Fiona bisa berbicara seperti itu. Bagi Shinnichi, sisi lain Fiona benar-benar menakutkan.
Selain itu, peran mereka juga terbalik, bukankah harusnya ia yang melindungi sang Puteri? Ia tidak tahu harus merasakan apa. Namun, yang pasti Shinnichi merasa sedikit senang. Ia malu mengakuinya.
Setelah berjalan menuruni tangga, Fiona berhenti. Ia langsung memeluk Shinnichi.
"—!?"
Shinnichi tidak menyangka pelukan tiba-tiba itu. Ia kembali merasa malu dan gugup.
"F-Fiona-sama?"
"... Sebentar saja."
Perkataan dari Fiona membuat Shinnichi tenang. Sepertinya sang Puteri ingin menenangkan diri. Shinnichi memutuskan untuk membalas pelukannya. Kali ini, ia tidak memikirkan konsekuensinya.
Sebenarnya, sama seperti Shinnichi, Fiona juga merasa malu. Mengatakan hal berani seperti itu. Bahkan mengancam seorang Pahlawan. Fiona tidak bisa mempercayai dirinya.
Karena tak ingin dilihat Shinnichi, ia mendekapnya. Detak jantungnya, aromanya, kehangatan tubuhnya. Itu semua mampu menenangkannya.
Meskipun hanya sebentar. Fiona memeluk Shinnichi. Ia menikmati saat-saat seperti ini.
Berada di rangkulan masing-masing, mereka merasa tenang.
✾✾✾✾
Di lapangan istana.
"Izumi-kun, bagaimana pendapatmu tentang mereka?"
Keluar dari ruang singgasana, Yonaka bertanya kepada Izumi. Mereka kini duduk di lapangan istana. Lebih tepatnya, Yonaka yang duduk. Izumi sedang berlatih seperti biasa. Memukul sebuah batang kayu yang digantung.
Setelah mendapatkan kekuatannya, Izumi tidak bermalas-malasan. Berbeda dengan Samejima, setiap kali ia mendapat waktu bebas, Izumi akan beranjak ke lapangan istana dan mulai berlatih.
Julukan "Pahlawan terkuat" pantas menempel padanya.
"Mereka kuat." Izumi tidak membuang-buang waktu untuk menjawab. Ia menendang batang kayu itu. Serpihan kayu terbang dan suara keras mengikuti. "Apalagi si rambut putih. Dari tubuh dan cara bergeraknya, ia mirip sepertiku."
"Seorang petarung tangan kosong?"
"Seperti itu, iya." Izumi mengangguk.
Ia melontarkan sebuah pukulan keras. Batang kayu itu langsung terputus dari rantainya dan terbang jauh karenanya.
Izumi mengibas-ibaskan tangannya. Bukan untuk menghilangkan rasa sakit, hanya gerakan refleks saja. Kepalannya sudah lebih dari cukup untuk membengkokkan baja. Sesuatu seperti kayu tidak cukup untuk menyakitinya.
"Hebat!" Yonaka menepuk tangannya. Selalu kagum dengan kekuatan Izumi. "Izumi-kun benar-benar kuat."
"Ahaha, terima kasih." Izumi merasa malu dipuji Yonaka.
Dapat dilihat jelas bahwa ia menaruh hati kepadanya. Yonaka juga sama. Sebenarnya, mereka berdua menyadarinya.
Mereka bukan tipe yang begitu tebal sampai-sampai tidak menyadari hal semacam itu. Mereka bukan protagonis manga atau novel ringan romansa.
Tapi, mereka berdua tahu. Jika mereka menyatakan perasaan, mereka akan melewati sebuah garis. Status mereka sebagai "teman baik," akan berakhir jika melewati garis itu. Tentunya status quo tidak akan kembali setelahnya.
Mereka sudah pernah melihat itu terjadi kepada kedua teman mereka. Dan meskipun mereka bisa kembali berteman, Yonaka dan Izumi tidak yakin bisa melakukan hal yang sama. Mereka tidak ingin itu terjadi. Jadi, saat ini mereka berdua cukup puas dengan menjadi "teman baik".
Meskipun seorang pemuda berambut hitam tertentu sering kesal karenanya.
"Lalu? Bagaimana dengan pendapatmu, Yonaka?" Izumi kini duduk di bangku di samping Yonaka. Menerima sebuah kantung kulit berisi air dari Yonaka, ia berterima kasih.
"Hmm, aku tidak terlalu yakin. Tapi, aku merasakan kekuatan sihir yang kuat dari si gadis berambut hitam." Yonaka menjawab, tidak terlalu yakin. "Erina mungkin lebih mengerti."
"Begitu ya?" balas Izumi singkat. Ia menenggak isi kantong kulit itu. "Aku jadi penasaran dengan kekuatan mereka."
"Mau coba?"
Suara tak dikenal dari atas membuat Yonaka dan Izumi langsung melompat waspada. Mereka menoleh ke atas. Seorang pemuda berambut putih dengan kulit cokelat. Di kepalanya, sepasang tanduk domba mencuat.
Bertengger di sebuah patung singa, dari ras Iblis, Endel Baskar tersenyum.