
"Hoam...."
Shinnichi menguap saat ia bangun dari tempat tidurnya. Wajahnya terlihat lesu dan rambutnya berantakan. Ia menatap ke arah jendela kecil di dekat langit-langit. Gelap.
Shinnichi menghela nafas. Kebiasaannya saat di Bumi belum juga hilang. Mengidap insomnia, ia hanya tidur sekitar empat jam perhari. Itupun setelah jarum jam menunjuk angka 12. Mengerti bahwa dirinya tidak bisa tidur lagi, ia memilih untuk bangun.
Shinnichi turun dari ranjangnya. Sebuah ranjang kecil sederhana. Kasurnya terasa sedikit kaku dan tipis. Setiap kali ia bergerak, ranjangnya berderik.
Ia berjalan dua langkah dari ranjangnya. Sampai di depan sebuah lemari, ia membukanya. Beberapa pasang pakaian digantung di dalam. Masing-masing terlihat seperti pakaian cosplay, baginya.
Sebuah kemeja putih, sarung tangan putih, rompi hitam, dan celana serta sepatu kulit senada menjadi pilihannya hari ini. Pakaian seorang pelayan. Shinnichi tersenyum masam.
Memakainya, ia menatap dirinya sendiri di cermin. Tidak terlalu buruk. Baik malah. Yang membuatnya khawatir adalah begitu cocoknya pakaian-pakaian pelayan itu saat dipakainya.
Mengabaikan pemikiran seperti itu, Shinnichi keluar dari kamarnya. Ia muncul di taman belakang kastil. Dekat dengan basemen tempat menyimpan bahan makanan.
Berbeda dengan teman-temannya yang memiliki kamar mewah masing-masing di dalam kastil, Shinnichi memilih untuk mendapatkan kamar yang sederhana. Satu ranjang, satu lemari pakaian kecil, beberapa buku dan satu set meja makan sekaligus belajar. Shinnichi tidak memiliki kekuatan ataupun bakat untuk membantu kerajaan, ia akan merasa bersalah jika ia tidur di kamar yang mewah.
Sang Raja tidak keberatan, menerima bahkan. Ia memberikan kamar bekas pelayan yang sudah pensiun kepada Shinnichi.
Izumi dan Yonaka tidak setuju tentunya. Tapi, mendengar bahwa Shinnichi yang memintanya sendiri, mereka akhirnya menerimanya.
Menghirup udara pagi yang masih gelap, Shinnichi melakukan sedikit pemanasan. Selesai, ia beranjak ke arah sebuah sumur di sudut taman. Diterangi oleh sebuah batu sihir, sumur itu terselimuti cahaya biru samar.
Dengan susah payah, ia mengambil air dari dalam sumur. Membasuh mukanya, ia merasa lebih segar. Shinnichi menatap pantulan wajahnya di dalam ember.
"[Appraisal]."
Mengucapkan nama skillnya, sebuah "jendela" transparan tercipta di hadapannya. Menampilkan statusnya. Berbeda dengan kartu status, tulisan yang digunakan adalah huruf latin.
『Name : Kurobane Shinnichi
Level : 3
Race : Human
Class : [None]
Stats
Agi : 6
Atk : 5
Int : 17
Vit : 6
Skill
[Appraisal lvl.2] [Self-Magic Manipulation lvl.1] [Language Comprehension]
Title
[Other World Traveler] [The Dreamer] [Observer] 』
Masih belum berubah sejak kemarin lusa....
Memikirkan hari di mana ia memperlihatkan status terbarunya kepada sang Putri, Shinnichi tersenyum lemah. Ia menyentuh [Appraisal]. Sebuah jendela lain terbentuk di hadapannya.
『 Appraisal lvl.2
Skill penilaian tingkat [???]
- Mantera pengaktifan
"[Appraisal]"
- Mampu mengetahui informasi tentang sesuatu. Benda mati ataupun hidup.
- Informasi yang didapatkan sesuai dengan level skill dan Int pengguna
- Mampu mengetahui status makhluk hidup lain dengan level yang sesuai
- Skill dan Gelar yang langka membutuhkan level lebih tinggi
- Kegunaan dapat bertambah sesuai dengan bertambahnya level』
Sudah berkali-kali Shinnichi menatap skill ini. Skill yang harusnya menjadi sesuatu yang umum di dunia fantasi, ternyata adalah suatu hal yang langka di Zelfria. Shinnichi menghela nafas.
Setidaknya jika ia tidak bisa bertarung dan menjadi petualang, ia bisa menjadi seorang penilai barang atau penerjemah. Mungkin tidak sehebat bertarung dengan monster atau berpetualang, tapi jika ia bisa mendapatkan uang — meskipun tak seberapa — tanpa menyusahkan orang lain, Shinnichi akan merasa lebih dari puas.
Shinnichi mengusap jendela itu ke atas. Seperti sebuah Smartphone, jendela yang memperlihatkan skill [Appraisal] hilang. Ia menyentuh [Self-Magic Manipulation].
『 Self-Magic Manipulation
Skill sihir tingkat [???]
- Mantera pengaktifan
"Ubahlah, wahai engkau yang bermimpi— [???]"
- [???]
- [???]
- [???]』
Senyum pahit terbentuk di wajahnya. Menatap skill sihir satu-satunya, ia merasa sedih. Ia tidak tahu cara menggunakannya, apa yang dapat dilakukannya, bahkan manteranya.
Perkataan Gregory kembali terngiang-ngiang di telinganya. Kata-kata itu menusuk hatinya seperti paku berkarat. Meskipun menerima berbagai perkataan mendukung dari Fiona, Izumi, dan Yonaka, Shinnichi sendiri tidak yakin. Ia mulai berpikir bahwa perkataan Gregory itu ada benarnya
Ia merasa tidak berguna.
"...."
Shinnichi menundukkan kepalanya. Menatap pantulannya di ember. Setetes kecil jatuh, riak kecil tercipta di permukaan air.
Shinnichi kembali membasuh mukanya.
❂❂❂❂❂❂
"Selamat pagi, Yang Mulia." Shinnichi membungkukkan badannya saat ia membuka pintu kamar sang Putri.
"... Umm... Lima menit lagi...." Sebuah jawaban pelan terdengar dari bawah selimut.
Shinnichi menghela nafas. Ia tidak menghampiri ranjang besar di tengah-tengah ruangan, tapi ke arah jendela. Ia menarik tali yang ada di sudut ruangan. Tirai jendela mulai terbuka. Membiarkan cahaya matahari memasuki ruangan.
Ukurannya lebih dari 20 meter, seisi ruangan dilapisi karpet merah, ornamen emas menghiasi dinding dan langit-langit. Berbagai macam lukisan sang Putri terpasang bangga. Sepasang lemari raksasa, meja dan kursi di samping jendela, rak-rak buku, dan meja rias raksasa.
Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah ranjang besar dan mewah. Cukup untuk empat orang. Seprai merah dan putih dapat membuat siapa saja merasa nyaman.
Shinnichi tak tahan berpikir bahwa ruangan ini terlalu besar untuk seorang gadis remaja. Namun, untuk seorang Putri, ini sudah cukup.
Shinnichi menghampiri samping ranjang. Ada sebuah gundukan di tengah-tengahnya.
"Fiona-sama, waktunya bangun." Shinnichi mendekatkan wajahnya ke arah gundukan itu.
"...."
Fiona tidak menjawab. Shinnichi memegang ujung selimut. Menghirup nafas dalam-dalam, ia menyingkap selimut itu.
Tubuh Fiona kini terlihat jelas. Meringkuk seperti bayi. Rambut birunya yang biasanya diikat kini terurai bebas. Rambut bak suteranya panjang dan mengkilap, tak terpengaruh oleh posisi tidurnya. Wajahnya tenang dan indah. Seperti danau di pagi hari. Kabut dingin keluar setiap kali ia bernafas, memberi kesan magis. Memakai gaun tidur yang memperlihatkan kulit putih pucatnya, ia terlihat seperti orang sakit. Namun, itu tidak menutupi keelokan paras sang gadis.
"...."
Shinnichi tidak menyukai pagi hari seperti ini. Alasan utamanya adalah melihat sang Putri masih tertidur pulas dan pakaian yang dikenakannya.
Gaun tidur birunya tidak menutupi begitu banyak. Memperlihatkan kulit gadis itu, Shinnichi bisa melihatnya dengan jelas. Lehernya, bahunya yang mulus, kemudian sepasang "bukit" ya—
Shinnichi langsung mengalihkan pandangannya. Wajahnya merah seperti lobster rebus. Ia ingin menampar dirinya sendiri karena menatap.
Mencoba mengendalikan pandangannya, Shinnichi kembali berusaha membangunkan Fiona.
❂❂❂❂❂❂
"Hoam... Kurobane-sama, bukankah ini terlalu pagi?" keluh Fiona. Terlihat masih mengantuk meskipun sudah bangun setengah jam yang lalu.
"... Ini sudah hampir jam sembilan," gumam Shinnichi, menyisir rambut azure sang putri.
Fiona duduk di depan meja rias. Kantuk tidak mengurangi keindahan gadis bergaun monarki itu. Tak jauh berbeda dengan gaunnya yang lain, ia memakai gaun dengan rok mengembang. Warna biru dan putih menjadi palet utamanya. Sutera dirajut dengan ahli. Memberikan kenyamanan dan kelembutan yang tak tertandingi. Berbagai berenda dan pita memberikan kesan feminim yang tinggi. Ditambah dengan tiara berornamen salju yang dipakainya, gelar Putri Es menjadi nama keduanya.
Orang di belakang yang sedang menyisir rambutnya adalah pelayan khusus sang Putri. Surai hitam menyerupai tabir malam, ditemani oleh sepasang mata yang mirip obsidian. Penampilannya yang langka di benua Panzia, menangkap perhatian sang Putri. Kurobane Shinnichi terus menyisir rambut sang Putri.
Shinnichi bergidik ketakutan membayangkan itu.
"Apa jadwalku hari ini?" Fiona kembali bertanya. Menutup matanya dan menikmati sisiran Shinnichi.
"Ah, setelah sarapan, ada piknik bersama putri-putri bangsawan. Di siang hari, makan siang sekaligus pertemuan mingguan dengan perdana menteri. Di sore hari, ada acara minum teh bersama dengan rumah bangsawan Roderick. Malam hari, makan malam bersama dengan Earl Westcrone." Dengan lancar, Shinnichi memberitahu Fiona. Setelah menjadi pelayannya selama lebih dari dua minggu, ia menjadi jauh lebih baik.
"Ugh... Merepotkan sekali!" Fiona kembali mengeluh. "Hari-hariku diisi hal-hal tidak berguna!"
"Fiona-sama, jangan berbicara seperti itu." Shinnichi tersenyum samar. "Itu semua acara penting."
"Penting? Semua itu hanya acara untuk menutupi kepentingan politik. Menjilati keluarga kerajaan agar mendapatkan kesan baik. Benar-benar bodoh. Jika kau ingin dikenal dan dihormati, maka berusahalah dengan jujur."
Mendengar perkataan Fiona, Shinnichi hanya bisa tersenyum lemah. Tidak bisa membantahnya maupun setuju dengannya. Ia tidak tahu apa-apa tentang masalah rumit seperti itu.
"Aku tidak ingin mengikuti acara-acara murahan seperti itu." Fiona menyandarkan kepalanya ke belakang, ke dada Shinnichi. Merasakan ritme diafragmanya. "Apalagi dipasangkan dengan orang yang tidak kukenal...."
Mendengar nada sedih Fiona, Shinnichi kebingungan. Menaruh sisirnya di atas meja, ia kini mengelus-elus kepalanya. Setidaknya ia melakukan itu untuk menenangkannya.
"Aku tidak ingin terpisah darimu, Kurobane-sama...." gumam Fiona. Ia mengambil kedua tangan Shinnichi lalu mengalungkannya di bawah lehernya. Menyentuhkan tangan kanannya ke pipinya sendiri.
Meskipun tangan Shinnichi terasa dingin, wajahnya mulai memanas. Malu mendengar perkataan sang Putri.
"A-aku juga...."
Mendengar jawaban pelayannya, Fiona tersenyum. Ia merasa hangat. Sesuatu yang jarang ia rasakan.
✾✾✾✾
"Ini tidak bisa dipercaya, Yang Mulia!" Suara protes menggema di ruang singgasana. Tertuju kepada sang Raja. "Kita tidak bisa menerima mereka!"
Pemiliknya adalah seorang pemuda tampan. Perut buncit dan pakaian sutera bersulam emasnya menandakan gaya hidup yang berkecukupan. Rambut pirangnya dihiasi oleh sebuah topi hitam. Bulu-bulu burung serta permata eksotis duduk nyaman di atasnya.
Ia adalah Pangeran pertama kerajaan Victoria sekaligus putra semata wayang sang Raja, Caliber Throst Victoria Ainsworth II.
"Membiarkan Iblis datang ke istana!? Apakah anda sudah kehilangan akal anda?!"
"Pangeran! Perhatikan nada anda!"
Sebuah peringatan datang dari seorang pria yang berdiri di dekat sang Raja.
Seorang pria paruh baya berwajah tirus dengan rambut putih yang menipis. Memakai tunik hijau yang disulami dengan emas, aura bangsawan terpancar darinya. Di tangannya, terdapat sebuah buku tebal.
Perdana Menteri Estoc Grant Xavery memasang ekspresi kesal.
"Yang Mulia merancang pertemuan ini untuk menunjukkan kekuatan Victoria kepada Iblis-iblis hina itu!" Estoc berseru. Memberikan penjelasan lebih lanjut.
"Tetap saja! Membiarkan Iblis menginjakkan kaki kotor mereka ke tanah Victoria itu adalah penghinaan!" Caliber bersikeras. "Kita tidak dapat membiarkan itu terjadi!"
Estoc memijat pelipisnya. Merasa lelah dengan ini. "Pangeran, dengan adanya pertemuan ini, kita dapat menunjukkan betapa hebatnya kekuatan kita dibandingkan dengan mereka, kita dapat menghindari pertempuran yang tidak perlu dan menghemat sumber daya bagi kerajaan."
"Alasan apapun tidak bisa membenarkan ini, Estoc!" Pangeran masih bersikukuh. "Demi apapun, aku tidak sudi bernafas dalam satu ruangan bersama mereka! Apalagi berbicara dengan mereka! Aku tidak akan datang meski langit terbelah karenanya!"
Caliber membalikkan badannya. Jubah kuningnya berkibar mengikuti. Meninggalkan kedua orang penting itu.
Estoc kembali memijat pelipisnya sambil menghela nafas. Sementara Albert menatap anaknya dengan diam. Ia merasa terlalu memanjakan putra semata wayangnya itu.
"Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan?" Estoc bertanya. Mencoba mencari pendapat.
Dalam waktu satu bulan, utusan dari benua Grimer; Ras Iblis, akan datang ke Victoria. Mereka diundang oleh kerajaan untuk menyaksikan dan menguji kehebatan para Pahlawan yang berhasil menaklukkan labirin pertama mereka dalam waktu yang cukup cepat.
Seperti kata Estoc, kerajaan perlu menghemat sumber daya jika ingin berperang. Tentunya akan buruk bagi kerajaan jika perang ini berkelanjutan. Ia dan Albert menginginkan ras Iblis untuk menyerah setelah melihat kekuatan para pahlawan.
Lalu, untuk kejadian tadi.
Pangeran Caliber sebenarnya ditunjuk untuk menjadi utusan Victoria. Sebagai juru bicara sekaligus wakil Victoria dalam kunjungan ini. Namun, sifat keras kepala sang Pangeran membuatnya menolak dengan tegas.
Albert menarik nafas. "Bagaimana dengan Putri-putriku?"
"Sayang sekali, Yang Mulia," kata Estoc dengan menyesal. "Mereka sudah terikat dengan kerajaan lain. Jika kita menunjuk Putri-putri anda, tidak ada jaminan pihak kerajaan lain tidak akan tersinggung. Jika kita tidak berhati-hati, seluruh Panzia bisa mengarahkan pedang mereka ke leher kita."
Sang Raja terdiam. Sebagai raja, ia tidak boleh mengambil keputusan yang membahayakan kerajaan. Segala hal ini terasa memberatkannya. Namun, sesaat kemudian, ia tersadar.
"Bagaimana dengan 'dia'?"
"'Dia'?" Estoc bingung sebentar sebelum sadar. "Apakah anda yakin? Dia bahkan bukan—"
"Apakah aku memiliki pilihan lain?" Albert menyela Estoc.
"Tidak, Yang Mulia." Estoc membungkuk hormat. "Perintah anda akan saya laksanakan."
✾✾✾✾
"A-apa? Yang Mulia, jika saya boleh bertanya. kenapa saya?" Fiona bertanya, terkejut dengan pernyataan itu. "Kenapa saya yang ditunjuk?"
"Kenapa? Apakah anda meragukan keputusan Yang Mulia?" Estoc bertanya. Nada suaranya terdengar merendahkan.
Fiona menoleh ke arah sang raja. Ia menatapnya dengan diam. Fiona langsung menundukkan kepalanya, tidak bisa berbicara.
Fiona adalah putri keempat kerajaan, tingkatnya hampir sama dengan bangsawan lain. Ia tidak memiliki kekuatan di ranah politik seperti kakak-kakaknya. Karenanya, ditunjuk menjadi perwakilan Victoria adalah tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab yang tidak ia duga.
Ia juga tahu apa yang terjadi kepadanya nanti. Akhir buruk selalu menunggu orang yang berhubungan dengan ras Iblis. Lalu, seorang Puteri yang berhubungan dengan Iblis.
Fiona tahu apa yang akan terjadi padanya.
Di belakangnya, Shinnichi hanya bisa merendahkan kepalanya. Batinnya berteriak untuk menolak keputusan ini. Namun, mulutnya tertutup rapat. Tidak bisa membantah perkataan sang Raja. Shinnichi tahu jika ia melakukannya, ia hanya akan membuat masalah bagi sang Puteri.
"... Baiklah, Yang Mulia," kata Fiona dengan suara pelan. "Saya bersedia menjadi perwakilan Victoria."
"Bagus!" Estoc hampir melompat kegirangan. "Sekarang, persiapkan diri anda. Wakil dari Grimer akan datang seminggu lagi. Saya harap anda bisa memberi kesan baik bagi kerajaan."
"...."
Fiona tidak mengatakan apapun. Membungkuk hormat, ia meninggalkan ruang singgasana. Shinnichi mengikutinya.
Berjalan di lorong kerajaan. Suara ketukan sepatu sang Puteri bergema. Mereka berjalan dengan diam.
"...."
"...."
Shinnichi tidak bisa mengatakan apa-apa. Sekedar menghiburnya juga tidak. Ia sendiri kebingungan atas kejadian tadi.
Setelah beberapa saat, mereka sampai di ruangan Fiona. Secara praktis, Fiona mendobrak pintu lalu melompat ke ranjangnya. Menanamkan wajahnya ke dalam bantal.
Shinnichi menutup pintu dengan pelan lalu beranjak ke sisi Fiona.
"Kurobane-sama... Kenapa?" Fiona bertanya dengan pelan. "Kenapa aku?"
Shinnichi tidak bisa menjawabnya. Ia menggigit bibirnya. Mencoba memutar otaknya, mencari kata-kata yang tepat.
"Fiona-sama...." Shinnichi membuka suaranya. "Aku... aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi, aku akan selalu bersamamu."
Fiona mendengar suara Shinnichi. Pelan, tapi penuh keyakinan. Dadanya terasa panas.
Fiona malu.
Kenapa ia memikirkan pendapat orang lain? Kenapa ia peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain kepadanya? Harusnya ia tidak peduli.
Benar, Fiona tidak peduli. Selagi ia masih di sisinya. Selagi Shinnichi terus bersamanya.
Fiona bangkit dari tempat tidurnya. Menatap iris hitam Shinnichi. Ia merasakan pipinya yang basah. Sepasang tangan terulur untuknya. Sepasang tangan hangat yang mengusap air matanya.
Pemuda itu tersenyum kepada sang Puteri. "Jadi, jangan menangis ya."
Bibir Fiona bergetar. Ia mengulurkan tangannya lalu mendekap erat tubuh Shinnichi.
"Ap-!? F-F-Fiona-sama!?"
"Terima kasih, Kurobane-sama... Terima kasih...."
Shinnichi tertegun. Tidak menyangka pelukan itu. Otaknya tiba-tiba kacau. Tapi, mendengar perkataan sang Puteri membuat Shinnichi tenang.
Tubuh sang Puteri terasa begitu dingin seperti angin musim dingin. Namun, Shinnichi tidak keberatan. Ia menyukai sensasi dingin itu.
Ia memutuskan untuk mengabaikan pikirannya dan membalas pelukan sang Puteri. Mendengar nafas pelannya, Shinnichi tersenyum kecil.
"Jangan tinggalkan aku, Kurobane-sama...."
"... Tentu saja, Fiona-sama. Aku akan selalu ada di sisimu."