Re: Turning

Re: Turning
Dunia Luar



Shinnichi menatap danau lebar di hadapannya. Tempat di mana ia baru saja hampir tenggelam. Tapi, ia tidak memikirkan itu. Ia sudah keluar.


Shinnichi menghirup udara segar. Udara di dunia luar. Udara bebas.


“Akhirnya.” Shinnichi menghela nafas. Tersenyum kecil, menerima bahwa ia sudah keluar dari dungeon.


Bunyi air mengalir, burung berkicauan, daun bergemerisik, air mengalir, angin meniup rambutnya. Pemandangan indah itu tak jauh berbeda dari oasis dalam dungeon. Namun, ada suatu yang berbeda. Shinnichi bisa merasakan itu.


Permukaan tak pernah terasa begitu hangat. Shinnichi bersyukur ia masih hidup. Ia menutup matanya. Membayangkan wajah Fiona, Yonaka dan Izumi.


Merekalah pendorong utamanya. Satu-satunya alasan ia tidak menyerah dan memasrahkan diri kepada kematian. Ia sudah keluar,  sekarang waktunya untuk kembali. Shinnichi membuka matanya. Tekad membara bias terlihat di kedua mata tajam itu.


Shinnichi mengalirkan Mana ke tangan kanannya. Sedikit demi sedikit, kegelapan mulai muncul dari bahunya. Membentuk tangan kanannya. Abyssal Mist kembali seperti semula.


“Schwarz, kau bangun?” Shinnichi memanggil nama sang kaisar naga.


Tak ada jawaban.


Shinnichi menghela nafas. “Benar-benar santai ya.”


Shinnichi berjalan menelusuri danau. Mencari seseorang atau sesuatu yang menjadi penanda di mana ia berada.


Shinnichi berjalan beberapa saat. Melewati hutan lebat. Suatu hal mudah bagi seseorang yang berhasil menaklukan lantai teratas Great Dungeon. Meskipun begitu, Shinnichi masih belum menemukan siapa-siapa. Sepertinya portal yang dibuat Gram berada di entah berantah.


Shinnichi bahkan tidak mendengar suara hewan. Sesekali ia mendengar suara derap hewan, namun selalu saja menghilang darinya. Dan sekarang, ia mulai lapar. Ia sudah keluar dari Dungeon, tak ada lagi daging atau buah pahit. Bahkan Shinnichi bertekad untuk tak pernah memakan hal pahit lagi dalam hidupnya.


Kemudian, Shinnichi melihat sesuatu di sudut matanya. Sebuah pohon biasa, namun dengan satu perbedaan. Buah merah yang terkenal; Apel.


Mata Shinnichi berbinar-binar. Dengan kecepatan yang menyamai kilat, Shinnichi berlari ke arah pohon itu. Menyambar salah satu buah dari pohon.


Shinnichi menatap buah apel di tangannya. Rasanya ia ingin menangis. Entah berapa lama ia tidak menjumpai buah sederhana ini. Di tangannya, buah itu terlihat seperti permata.


Ia mengigit buah itu. Suara memuaskan terdengar. Rasa manis memenuhi mulutnya. Rasa manis diiringi dengan nostalgia. Lidahnya sudah terlalu lama ditemani rasa pahit, kini giliran yang lain.


Shinnichi menelan apel itu. Air mata benar-benar mengumpul di sudut matanya. menghirup nafas, “ENAAAAK!” Shinnichi berseru kepada dunia.


❂❂❂❂❂❂


“Oi, Geusepp. Kau sudah memberi makan budak belum?” Seorang pria kekar menggigit sepotong paha kijang. Mengunyahnya dengan suara keras.


Pria gemuk yang ditanyainya, Geusepp, memelototinya. Di seberang api unggun, siapa saja bisa melihat bahwa ia mirip ****. “Kenapa aku? Ini giliranmu!” katanya sambil menenggak segelas penuh bir.


“Hah!? Mana mungkin ah!” Pria kekar itu menggerakan lehernya. Mengeluarkan suara retakan.


Geusepp menghela nafas. “Lakukan sajalah. Besok aku gentian. Kau juga ingin uang kan, Bertham?”


“Tch, baiklah!” Bertham meludah ke samping. Ia menghabiskan makanannya, mesnyisakan tulang-belulang yang masih menyisakan daging di beberapa tempat dan sepasang helai sayur. Ia mengambil piring itu lalu berjalan ke arah kereta kuda.


Ia membuka pintu belakang. Sebuah ruangan gelap yang bau. Selusin kandang ukuran sedang ditempatkan di situ. Hampir semua kandang itu berisi seseorang.


Hampir semua budak di kandang mati dan bahkan sudah membusuk. Namun, kedua pria itu tidak peduli dengan kondisi budak-budak rendahan itu. Budak sakit-sakitan dan tua, mereka bahkan lebih murah dari seperak koin. Bertham tidak mengerti kenapa mereka membawa budak-budak tak berharga itu sementara mereka menghasilkan lebih banyak uang merampok orang di jalanan.


“Nih, makanan hari ini.” Bertham melempar sisa makanannya ke pojok ruangan. “Jangan rakus, dasar parasit.”


Bertham melihat sepasang tangan kurus yang dirantai meraih sepotong tulang di luar kandangnya. Bertham jijik melihatnya. Dengan suara keras, ia menutup pintu kereta kuda itu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kesal.


“Ugh, benar-benar menyebalkan. Geusepp, aku sudah selesai.”


“Baguslah. Aku mau tidur. Kau jaga malam ya.” Geusepp berjalan meninggalkan api unggun. Menuju tenda yang didirikan dekat situ.


“Dasar **** sialan.” Bertham hanya bisa menggerutu. Jika ia melawan anak bangsawan yang satu ini, ia sudah pasti tidak akan mendapatkan bayaran. Kesal, Bertham duduk di depan api unggun. Bersiap-siap untuk mengasah kapaknya.


“Bertham!” Sebelum ia bisa melakukan apa-apa, teriakan Geusepp mencapai telinganya. Bertham segera berlari ke arah sumber suara.


“Ada apa!?” Bertham bertanya.


Di hadapannya, Geuseppi berkeringat dan gemetar hebat. Geusepp menunjuk ke arah di depannya. Bertham menoleh lalu langsung mundur beberapa langkah.


Di kejauhan, di dalam hutan. Mereka berdua melihat setitik cahaya. Sesosok berjubah hitam berdiri di situ. Diam, tak bergerak. Menatap mereka. Mengamati mereka.


“S-siapa kau!?” Bertham yang pertama mengeluarkan suaranya.


Sosok itu menelengkan kepalanya. Kemudian melangkah ke depan. Suara keluar darinya. “A- Hmm? Schwarz?“


“Bertham!” Geusepp akhirnya sadar. Schwarz adalah kata lain untuk kematian. Sosok ini berniat untuk membunuh mereka. “Bertham! Serang dia!”


“Apa ma-“


“BUNUH DIA! KAU INGIN MATI?!!”


Bertham mendecakkan lidahnya. Ia menarik kapak perangnya lalu menerjang ke arah sosok berjubah itu. Mengayunkannya dengan kedua tangannya, ia mengerahkan seluruh kekuatannya pada serangan awal.


Sosok itu mengangkat tangan kanannya. Sebilah pedang muncul tiba-tiba, menangkis kapak Bertham dengan mudah. Percikan api terbang darinya. Menerangi wajah sosok itu sekilas.


“-!?” Bertham merasakan hawa dingin mengalir di punggungnya. Sosok di hadapannya bukanlah Manusia. Taring tajam, mata menyala; sosok di hadapannya adalah Monster.


Bertham harus membunuhnya. Ia menendang monster itu. Mendorongnya ke belakang beberapa langkah.


“Tunggu! Berhenti!” Monster itu berbicara. Suaranya terdengar seperti seorang pemuda. Namun, ia tahu ini hanyalah taktik sang monster untuk mengelabuinya.


“Diam dan mati! Makhluk hina!” Bertham kembali menyerang. Memutar tubuhnya seperti gasing untuk memotong lehernya.


Namun, sebelum bisa mengenai targetnya. Pandangan Bertham terguncang sedikit sebelum ia mulai jatuh. Sekejap kemudian, pandangannya ada di bawah tanah dan semakin buram. Setelah beberapa detik, ia sadar. Kepalanya terpisah dari tubuhnya. Bertham mati tanpa bisa mengatakan apa-apa.


“Hii!” Di belakang Geusepp merangkak mundur. Mencoba meraih sebuah peti di samping kereta kuda. Dengan panik, ia membukanya. Mengambil salah satu gulungan kertas di situ.


“Ke-ketemu!” Geusepp tersenyum. Ia membalikkan tubuhnya. Geusepp kembali jatuh di atas pantatnya.


Sosok itu kini berdiri di belakangnya. Darah mengalir dari pedang anehnya. Wajahnya bukan manusia.


“Kubi-“


“[Thunderbolt]!” Tak membiar sosok itu menyelesaikan perkataannya. Ia langsung melancarkan serangan petir ke arah sosok itu.


Namun, ia hanya berdiri di situ. Tak terpengaruh akan petir kuning yang menyerang tubuhnya. Sosok itu mendekat. Langkah demi langkah.


Geusepp mundur. Mencoba mem[erlebar jarak antara dirinya dan monster itu.


“Mati! Mati! MATI!”


Sosok berjubah itu mengarahkan tangan kanannya kepada Geusepp. Butuh beberapa saat sebelum ia menyadari bahwa bentuknya berbeda dari pedang yang awal. Sekarang mirip tabung, kosong, dan interiornya bercahaya. Mirip-


BUM! Sebelum menyelesaikan pemikirannya, kepala Geusepp meledak berhamburan. Seperti tertembak meriam dalam jarak dekat. Mayatnya jatuh ke tanah, tak bernyawa.


Sosok berjubah itu tidak melirik sekalipun ke arah tubuh dua orang itu. Sebaliknya, ia menoleh ke arah kereta kuda. Mata ungunya bersinar, ia melangkah ke arah kereta kuda itu.


❂❂❂❂❂❂


Gelap. Dingin. Sempit.


Entah berapa lama aku sudah berada di sini. Entah berapa malam sudah kulewati tanpa tidur. Terkekang dan tertahan. Aku tidak bisa apa-apa.


Bau kematian selalu tercium setiap hari. Memenuhi hidung. Menyesakkan nafas.


Rantai di tangan dan kakiku sudah berkarat. Setiap kali kereta kuda bergoyang, kulitku robek karenanya. Sakit, perih.


Makanan dan air jarang kudapatkan. Tenggorokanku kering sampai-sampai aku tidak bisa berbicara, Perutku kosong sampai-sampai aku kesakitan. Makanan sisa seperti yang kudapatkan tadi jarang mengisi perut.


Ini siksaan.


Mereka menculikku. Menjanjikan keamanan dan jalan keluar. Tapi, begitu melihatku tak berdaya, mereka merantaiku. Mencambukku seperti hewan ternak.


Aku benci ini. Aku benci ini….


Ibu…. Ayah… Siapapun tolong aku….


Aku ingin hidup… Aku ingin kembali ke rumah….


Tak bisa mengeluarkan air mata. Aku hanya bisa memohon kepada para dewa. Atau siapapun itu.


“….”


Aku mendengar pintu terbuka. Seseorang berdiri di depan. Setitik cahaya ungu yang tajam menatap jiwaku. Ia masuk, berjalan mendekatiku.


Tolong jangan sakiti aku….


“I-ibu… Ayah… A-aku ingin pulang….”


Aku menutup mataku. Berharap aku bisa membukanya lagi.


❂❂❂❂❂❂


“Orang-orang sialan. Tuli ya? Menyerang seenak jidat.” Shinnichi menggerutu selagi berjalan ke arah kereta kuda. Mencoba mencari sesuatu.


“Shinnichi, di mana kita?” Schwarz bertanya. Dari suaranya, ia terdengar seperti seseorang baru saja bangun tidur.


“Oh, aku lupa kalau kau sudah bangun.” Shinnichi lupa karena kedua orang tadi menyerangnya duluan. Serangan petir yang baru diterimanya terasa hangat. “Kita ada di luar.”


“Luar? Apa maksudmu?”


“Luar Dungeon.”


“APA!?”


“Oi. Berhenti berteriak di kepala orang.” Shinnichi menghela nafas.


“Oi, oi, oi. Kau bercanda kan? Mana mungkin kita sudah keluar?!” Schwarz terdengar skeptis.


“Gram yang mengelua-“


“KAKAKKU!?”


“Sudah kubilang, jangan teriak di kepala orang. Ya ampun” Shinnichi menutupi telinganya. Meskipun suara out datang dari dalam kepalanya. “Aku bertemu kakakmu, kita keluar dari dungeon. Jangan noraklah.”


“Bocah sialan! Apa-!“


“Oh, kakakmu juga mengatakan bahwa ia akan menggunakan tubuhmu sebagai bahan penelitian.” Shinnichi menyelanya dan memberikan pesan Gram.


“…. Kakak sialan….” Schwarz terdengar begitu lelah. Sepertinya ini bukan pertama kalinya kakaknya mengatakan hal seperti itu. “Terserah sajalah.”


Shinnichi merasa sedikit bersimpati kepada Schwarz. Tapi, tak bisa dibantah. Material dari tubuhnya memiliki efek yang cukup bagus. Shinnichi menutup mulutnya, ia sudah merasa kasihan kepada Schwarz.


Berhenti di belakang kereta kuda itu, Shinnichi membuka pintu.


Shinnichi menatap pemandangan di hadapannya. Selusin lebih kandang yang berisi bangkai. Jika ia melepas topengnya, sudah pasti ia akan mencium bau busuk yang menyengat.


“Apa-apaan ini…” Shinnichi merasa mual.


“Kereta budak kah?” Schwarz menggumam.


“Budak….”


Shinnichi mengingat waktunya di kerajaan. Ia sering keluar kastil untuk membeli bahan makanan untuk dirinya dan sang puteri. Di sana, ia sering melihat budak-budak dirantai dan ditarik seperti anjing. Sering kali budak-budak itu adalah Beastkin, ras humanoid yang memiliki karakteristik hewan. Dulu Shinnichi ingin membantu mereka tapi, membebaskan budak sama saja mencuri properti seseorang.


Shinnichi menggunakan [Soul Eye]. Mencoba mencari seseorang yang masih hidup. Ruangan itu gelap, namun ada sebuah cahaya samar di sudut ruangan. Seseorang masih hidup, setidaknya nyaris.


Di sudut ruangan, Shinnichi menemukan seorang gadis berambut cokelat kotor. Menyandarkan kepalanya di jeruji besi. Sesekali dadanya bergerak, menandakan bahwa ia masih bernafas.


“I-Ibu… Ayah….” Suara pelan keluar dari gadis itu. Memanggil orang tuanya. “A-aku ingin pulang….”


Shinnichi berhenti di tempat. Sedikit tertegun. Tak menyangka gadis itu akan mengatakan sesuatu. Ia mengulurkan tangannya ke gembok besar yang mengunci kandang itu lalu menghancurkannya dengan mudah. Ia juga memutus rantai yang mengekang kaki dan tangannya.


Shinnichi mengangkat gadis itu dengan pelan. Berhati-hati untuk tidak melukainya.


“Kau mau apakan dia?” Schwarz bertanya. Sudah tahu jawabannya.


“Kau pikir aku akan melakukan apa?” Shinnichi balik bertanya. Sudah tahu apa yang ada di pikian Schwarz.


Shinnichi membaringkan gadis itu di dekat api unggun. Memberinya sedikit kehangatan. Tubuhnya kurus kering. Shinnichi bahkan hampir tidak merasakan berat tubuhnya.  Tubuhnya penuh luka dan darah kering. Rambutnya kotor, dan hanya sehelai kain bekas menjadi pakaiannya. Di kepalanya, sepasang telinga panjang terkulai lemah.


Ia seorang Beastkin kelinci.


Kondisinya lebih buruk daripada budak biasanya. Setidaknya mereka diberi makan, gadis ini terlihat seperti ia belum makan selama berhari-hari. Shinnichi yang meraskan bagaimana rasanya kelaparan mengerti penderitaan itu.


Ia melepas kalungnya lalu menaruh kristal Emphiria di dekat mulutnya. Tak lupa, Shinnichi menopang kepala gadis itu. Berusaha agar tidak membuatnya tersedak, Shinnichi mengalirkan air penyembuh Emphiria sedikit demi sedikit ke dalam tenggorokan gadis itu.