Re: Turning

Re: Turning
Plan



"Jadi, bagaimana rencana kita, Kak?" tanya pemuda berambut putih, Endel duduk di atas ranjang.


"Kau tuli ya?" celetuk wanita cantik berambut perak panjang yang duduk di kursi. Fusena melipat tangannya. "Aku sudah menjelaskannya waktu kita berangkat."


"E-End... Fu-Fusena-dono...." Haira, gadis berambut bob hitam itu hanya bisa menggumamkan nama mereka. Tidak bisa menyela mereka.


"Itu lebih dari sebulan yang lalu! Aku tidak bisa mengingat sejauh itu!"


"Ah, benar. Daya ingatmu itu hampir sama dengan seekor ikan."


"Katakan itu sekali lagi!"


"Ka-kalian berdua, jangan bertengkar...."


Dengan suasana yang cukup hangat, ketiga Iblis bertukar kata dalam kamar Fusena. Meskipun baru saja datang ke wilayah musuh, mereka tidak terlalu khawatir.


"Padahal sederhana sekali." Fusena menghela nafas. "Aku akan berbicara dengan sang Raja. Mencoba untuk menegosiasikan perdamaian. Kalian berdua tinggal diam saja."


"Hanya itu? Bukankah itu berarti aku dan Ira tidak diperlukan di sini?"


"Inilah kenapa aku tidak ingin menjelaskannya lagi." Fusena memijat pelipisnya, lelah mendengar pertanyaan Endel. "Bukan berarti kalian tidak diperlukan. Ada kemungkinan besar sang Raja hanya ingin memamerkan kekuatannya. Di situlah kalian berperan."


"Ah, maksud kakak kita akan menghajar para Pahlawan? Bilang begitu dong!"


"Me-menghajar itu agak tidak sopan, End...."


"Otakmu murni otot ternyata."


Walaupun mengatakan itu, sebenarnya Fusena yakin 80% bahwa sang Raja menginginkan semacam pertunjukan kekuatan. Jika tidak, duel. Karena itulah ia mengajak Endel dan Haira. Meskipun Endel tidak terlalu pintar dan sifat Haira yang pemalu, ia cukup yakin dengan kekuatan duo itu.


"Hmm, aku jadi penasaran dengan kekuatan para Pahlawan ini. Kuharap mereka kuat."


"Mereka 'Pengelana Dunia,' tentu saja mereka kuat." Fusena mengeluarkan sebuah bola kristal entah dari mana.


Di dalamnya, terdapat empat sosok. Sepasang gadis - satu berambut hitam, satunya lagi berambut pirang - dan sepasang pemuda - berambut merah dan emas.


Mereka adalah para Pahlawan; Yonaka, Erina, Izumi dan Samejima.


"Kurasa tak perlu menjelaskan mereka lagi." Fusena memperlihatkan bola kristal itu. "Sebodoh-bodohnya Endel, kau pasti bisa mengingat mereka, 'kan?"


"Heh, tentu saja." Endel tersenyum bangga. "Samejima si Pedang Api, Pemanah Petir Yonaka, Erina Penyembuh Suci, dan Izumi sang Tinju Baja."


Mata Endel terpaku pada pemuda kekar berambut merah. Jarang-jarang ia bisa bertemu dengan seorang kuat yang bertarung dengan tangan kosong. Mirip dengannya meskipun ia sendiri memakai gauntlet.


"Apa-apaan julukan aneh itu."


"Diam! kata Val, itu keren!"


Seperti biasa, kedua kakak beradik ini selalu bertengkar.


"Ta-tapi, Fusena-dono, kenapa mereka tidak mempunyai penyihir?" Haira juga menatap bola kristal itu. Bertanya-tanya akan ketidakadaan peran penyihir di dalam party mereka.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu." Fusena menggelengkan kepalanya. "Meskipun mereka memiliki seorang Magic Swordsman, rasanya juga kurang tepat jika tidak memiliki seorang penyihir."


"Apakah Manusia hanya memanggil mereka berempat?" Endel gantian bertanya.


"Tidak. Kurasa ada lima orang." Wanita perak itu menggelengkan kepalanya. Menoleh ke arah Haira. "Kau tahu kan, Haira?"


Haira mengangguk. Pikirannya kini tertuju kepada pemuda berambut hitam di samping sang Puteri. "Pe-pelayan sang Puteri."


"Eh? Anak itu? Dia juga seorang pengelana dunia? Kenapa dia menjadi seorang pelayan?" Endel mulai bertanya bergilir.


"E-entahlah.... A-aku merasakan sesuatu yang aneh darinya." Haira merenungkan kembali kesan yang dikeluarkan Shinnichi. "D-dia 'kosong'."


"Kosong?" Fusena membulatkan matanya. Tidak percaya bahwa seseorang sepertinya ada di sini. "Kau yakin?"


Haira mengangguk. "Tak hanya itu. Skillnya juga aneh... Aku tidak pernah melihat skill seperti itu...."


"Kosong? Skill aneh? Aneh bagaimana?"


"Endel, diamlah." Fusena ingin melempar bola kristal itu ke wajah adiknya yang berisik itu. "Apakah kerajaan sudah menyadarinya?"


"Se-sepertinya begitu." Haira kembali mengangguk. "Pa-pakaiannya telah disihir. Aku bisa merasakannya...."


"Sihir? Sihir apa?" Endel kembali bertanya.


"Pelacak." Funesa yang menjawab. "Kemungkinan untuk mengetahui lokasinya."


"Apakah dia seberbahaya itu? Aku bahkan hampir tidak bisa menyadari kehadirannya kalau kakak tidak berbicara dengannya."


"Berbahaya mungkin tidak." Fusena menaruh jarinya di atas dagunya. "Berharga, lebih tepatnya. Dalam perang, seseorang sepertinya dapat membalikkan keadaan."


"Ta-tapi, kenapa kerajaan membiarkannya begitu saja bersama sang Puteri?"


"Entahlah. Mungkin ini salah satu tipu daya mereka." Fusena memikirkan berbagai macam kemungkinan. "Mungkin mereka sengaja memancing kita untuk menculiknya."


"Itu dapat digunakan untuk menjadi alasan perang," lanjutnya. "Kita harus menghindari itu, apapun caranya."


Iblis dan Manusia sudah berperang selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Memperebutkan tanah dan mengorbankan jiwa. Sejarah kedua belah pihak hitam karenanya.


Karena itu juga, satu pihak perlu mengalah. Ras Iblis memilih untuk mengambil jalan yang lebih tinggi. Mereka ke sini untuk menegosiasikan perdamaian.


Seperti kata pepatah, tak ada pemenang dalam perang.


Haira tiba-tiba menyentakkan kepalanya. Seperti menyadari sesuatu. "A-ada orang yang datang."


Endel langsung melompat dari ranjang. Menggerakkan tubuhnya sedikit. Seseorang sepertinya memang tidak bisa duduk diam untuk waktu yang lama.


Fusena tetap tenang. Ia menyimpan kembali bola kristal itu entah kemana.


"Kembali ke kamar kalian masing-masing."


"Siap."


"Ba-baik."


Mendengar perintah Fusena, Endel dan Haira mengangguk. Jika seseorang mengetahui bahwa mereka sedang berkumpul sesaat setelah datang ke istana, hasilnya tidak akan bagus.


Endel memegang tangan Haira. Membuat gadis gothik lolita itu tersipu malu. Endel, sebaliknya, tersenyum lebar seperti tidak menyadari apapun.


"Kalau begitu, kami pergi dulu."


Fusena mengangguk. Sesaat kemudian, Endel dan Haira tertelan cahaya putih sebelum menghilang. Sihir teleportasi Haira berhasil.


Beberapa saat kemudian, sebuah ketukan terdengar.


"Pe-permisi, kehadiran anda diminta oleh sang Raja. Dimohon untuk segera bersiap-siap."


❂❂❂❂❂❂


Para Iblis masuk ke dalam ruang singgasana. Kesan pertama yang mereka pikirkan adalah mewah.


Keenam pilar putih raksasa di dalam ruangan tertutupi oleh banner biru bersimbolkan lambang kerajaan. Elang dan Singa emas yang memegang pedang dan tombak. Lambang itu terbuat dari emas asli. Memamerkan kekayaan kerajaan yang memegang lambang itu.


Lampu gantung yang ada di langit-langit bersinar samar. Bukan karena batu sihir, tapi karena kilauan emas dan permata. Endel bahkan berpikir bahwa itu mirip bintang-bintang.


Di ujung ruangan, terdapat sebuah singgasana besar yang diletakkan di atas beberapa anak tangga. Membuatnya terlihat lebih tinggi.


Singgasana itu mewah. Tidak, menyebutnya mewah sepertinya kurang tepat. Kursi raja itu sudah dihias sedemikian rupa hingga setiap inci tertutupi oleh batu permata, dilapisi emas, atau bantalan sutera.


Seorang pria paruh baya duduk di atasnya. Ekspresinya datar, seperti tidak peduli dengan ini semua. Ia memakai pakaian khas raja dengan jubah berwarna ungu. Menandakan kedudukannya sebagai penguasa tertinggi.


Di samping kirinya, terdapat sebuah singgasana biru. Sang Puteri duduk di atasnya. Tak semewah milik sang Raja, tapi bagaimanapun, kumpulan safir besar di atas singgasananya terlihat indah. Pelayannya, Shinnichi, berdiri di sampingnya. Berusaha untuk terlihat tenang dan tidak memalukan Puterinya.


Di sisi kanan sang Raja, keempat Pahlawan berdiri dengan penuh kewibawaan. Meskipun memakai pakaian resmi, aura kekuatan mereka terasa jelas dari jauh. Terutama si pemuda berambut merah, Izumi.


Ketiga utusan Iblis terus berjalan masuk. Melewati pasangan pilar pertama. Di sisi mereka, kumpulan Manusia berdiri.


Di sisi kiri, dipimpin oleh Gregory, Ksatria-ksatria kerajaan berbaris rapi. Mereka semua memakai zirah khusus. Zirah pelat penuh yang mengkilat. Dengan pedang perak yang disimpan dalam sarung pedang dengan corak-corak estetis.


Di sisi kanan, puluhan bangsawan berdiri. Mereka semua memakai pakaian mewah terbuat dari sutera yang nyaman dan perhiasan yang lebih cocok dipakai istri dan anak perempuan mereka. Dilihat sekilas saja sudah jelas bahwa mereka sedang memamerkan kekayaan.


Tentu saja, itu semua dilakukan untuk menunjukkan kehebatan Victoria.


Perang tidak hanya terjadi di medan pertempuran. Dengan menunjukkan bahwa Victoria memiliki keunggulan - bukan hanya dalam kekuatan militer, tapi juga kesejahteraan dan sumber daya, ini dapat menjadi tinjauan penting agar membuat musuh menyerah.


Setelah utusan dari Grimer mendekati singgasana, mereka disambut oleh sang Raja, membuka tangannya lebar-lebar.


Fusena, Haira dan Endel berjalan di atas karpet merah yang terlihat mahal. Terbentang dari bawah singgasana hingga ke pintu keluar.


"Terima kasih, Yang Mulia." Fusena menjawab. Menyentuh dadanya lalu menunduk. "Kami utusan Grimer merasa, terhormat bisa berada di sini."


"Jadi, mereka ras Iblis?"


"Ugh, mengerikan sekali."


"Rupa mereka begitu menakutkan."


"Bahasa mereka begitu tidak sopan."


"Tidak berlutut di hadapan Raja. Betapa beraninya."


"Sombong sekali, dasar Iblis."


Samping kanan dan kiri, puluhan bangsawan berbisik-bisik. Mereka semua adalah pejabat yang berbakti kepada Victoria. Hampir semua bekerja sebagai pengurus wilayah kerajaan. Dengan kata lain, tangan kanan sang Raja.


Mereka dipanggil oleh sang Raja untuk ikut serta menyambut para tamu kerajaan. Namun, sebagai Manusia, tentu saja mereka membenci ras Iblis dengan sepenuh hati.


Endel dan Haira tidak bereaksi. Mereka tidak terlalu mengerti bahasa Manusia, jadi mereka tidak bereaksi terhadap cemoohan dan hinaan yang keluar. Jikapun mengerti, mereka juga tidak akan melakukan apa-apa. Tak pantas marah karena kata-kata rendah seperti itu.


Fusena memilih untuk mengabaikannya. Saat ini mereka adalah tamu. Mencoba melakukan hal-hal beresiko seperti itu tidak akan berakhir dengan baik.


"Yang Mulia, sebelum kita berlanjut. Terimalah hadiah ini." Fusena menerima sebuah permata hijau berbentuk telur dari Haira. Menyodorkannya agar dapat dilihat oleh semua orang.


"Apakah kalian berusaha menghina sang Raja!?"


Sebuah seruan terdengar dari kalangan bangsawan. Memulai rentetan protes lainnya.


"Hadiah sekecil itu tidak pantas untuk penguasa tertinggi Victoria!"


"Benar! Kami ini negara kaya! Permata kecil itu tidak layak untuk dijadikan hadiah!"


Haira menundukkan kepalanya. Sifatnya yang lembut membuatnya ketakutan jika diteriaki. Endel bahkan hampir menerjang dan menyerang mereka. Namun, ia dihentikan oleh Fusena.


"Diam." Albert mengangkat suaranya.


Menurut dengan titahnya, para bangsawan menghentikan seruan mereka.


"Kalian mengotori nama baik Victoria," katanya. Suaranya mencapai seluruh ruangan. "Fusena-dono, atas namaku. Mohon maafkan mereka."


"Y-Yang Mulia! Tak perlu meminta maaf kepada mereka!"


"Diam. Kau tak perlu membuat Victoria malu lagi."


Sekali lagi, sebuah upaya untuk menaikkan nilai Victoria di mata musuhnya. Bagi mata telanjang, Albert mungkin terlihat seperti Raja yang rendah hati. Meminta maaf untuk bawahannya.


Namun, Fusena sudah tahu. Albert hanya berpura-pura. Seorang raja yang mampu meminta maaf kepada utusan musuh, bukankah itu raja yang baik hati?


Propoganda itu sudah pasti akan menyebar. Membuatnya mendapatkan simpati dari negara-negara tetangga. Yang sama-sama membenci Iblis.


Fusena tidak terlalu memikirkannya. Hal semacam itu tidak perlu dipikirkan olehnya.


"Tak apa, Yang Mulia." Fusena tersenyum. Mengelus telur permata itu. "Ini adalah telur seekor Jewel-Shelled Tortoise."


"""Apa!?"""


Hampir seluruh orang di ruangan terperanjat mendengar perkataan Fusena. Bagaimana tidak? Di tangan Fusena adalah telur dari seekor hewan legendaris. Sederajat dengan Phoenix atau bahkan Naga.


Jewel-Shelled Tortoise - Kura-kura bercangkang permata dalam bahasa Manusia - adalah jenis kura-kura yang sangat berharga. Mereka adalah komoditas langka yang hanya muncul setiap seratus tahun. Konon, harga permata yang tumbuh di cangkang mereka lebih besar daripada anggaran dasar suatu kerajaan kecil.


Dan kini, telur dari hewan legendaris itu muncul di hadapan mereka begitu saja. Siapa yang tidak tergiur?


Para bangsawan menelan ludah mereka. Albert diam tak berkata-kata.


Dalam sekejap, harta mereka terlihat begitu kecil. Kekayaan hidup mereka tidak sebanding dengan "hadiah kecil" itu.


Endel mencoba untuk tidak mengeluarkan senyum sombong. Tapi, melihat para bangsawan yang tadinya begitu besar mulut menjadi tak berkutik membuatnya senang.


"Meskipun tak seberapa, tolong terimalah." Fusena kembali menyodorkan telur itu.


Kali ini, tidak ada yang menyudutkannya lagi. Seorang bangsawan menerimanya dengan tangan bergetar. Takut tangan gemuknya bisa meremukkan telur itu.


Albert berdeham. "Terima kasih atas hadiahnya, Fusena-dono. Kami akan menjaganya dengan baik."


"Diri yang satu ini yakin anda akan melakukannya, Yang Mulia." Fusena kembali tersenyum lembut. Tak memperlihatkan bahwa ia sudah menyadari langsung perubahan sikap para Manusia.


❂❂❂❂❂❂


Setelah pemberian hadiah yang mengejutkan itu, Fusena menjelaskan tujuan mereka datang ke sini. Negosiasi perdamaian adalah hal utama bagi negaranya.


Sang Raja hanya mengangguk mengerti. Tentu saja pihak Victoria sudah tahu, namun sedikit formalitas tidak menyakiti siapapun. Ia meminta waktu untuk berdiskusi dengan keluarga bangsawan.


Menurut, ketiga Iblis mengundurkan diri dari hadapan sang Raja. Selain Gregory, seluruh ksatria juga keluar dari ruangan. Begitu pula keempat Pahlawan, Fiona dan juga Shinnichi.


Sekarang, di ruang singgasana hanya ada kaum bangsawan, ketua ksatria serta Jenderal Besar Victoria, dan Raja Albert.


"Jadi," Albert membuka diskusi. "Bagaimana pendapat kalian?"


"Mereka mempermainkan kita!" Seorang pria gemuk dengan jenggot goatee berseru langsung. "Mereka sengaja memancing kita untuk mempermalukan diri kita!"


"Saya setuju dengan pendapat Walter-dono!"


"Mereka Iblis! Kita tidak bisa mempercayai mereka!"


"Setuju! Setuju!"


Berbagai macam konfirmasi datang dari mayoritas bangsawan di situ. Iblis adalah musuh mereka. Tak perlu penjelasan lain. Kebencian kedua ras sudah mengakar dalam di hati mereka masing-masing.


"Dengan segala hormat, Yang Mulia. Menurutku kita harus menjalin kerjasama dengan mereka." Gregory yang pertama mengusulkan jalan damai.


Usulan tak biasa itu membuat beberapa bangsawan melemparkan tatapan curiga kepadanya. Mereka berpikir bahwa Gregory memihak musuh daripada negaranya.


"Biarkan saya menjelaskan." Gregory menyela sebelum ada yang bisa melontarkan tuduhan tak berdasar.


"Ras Iblis adalah salah satu, jika tidak, musuh terbesar kita. Saya tahu, karena saya sering berhadapan dengan mereka." Gregory mulai menjelaskan. "Meskipun jumlah prajurit kita melebihi jumlah mereka, kekuatan individual membuat mereka setara dengan kita."


Iblis adalah ras yang ahli dalam sihir. Jarang sekali ada Iblis yang tak mahir menggunakan sihir. Sebaliknya, hanya seperempat dari seluruh ras Manusia yang bisa menggunakan sihir. Gregory bahkan tak bisa menghitung beberapa kali ia merasa terpojokkan karena sihir Iblis.


"Lagipula, apakah kalian tidak melihat hadiah yang dibawa mereka?" Gregory menunjuk ke arah seorang bangsawan yang sedari tadi diam. Dia yang memegang telur kura-kura.


"Saya pasti yakin anda semua mengetahui betapa berharganya hewan itu untuk kerajaan?"


Gumaman-gumaman seperti "benar juga," "setelah dipikir-pikir lagi...," dan semacamnya dapat terdengar. Mereka semua mulai berubah pikiran.


"Ayolah! Kalian sudah gila?!" Pria bernama Walter itu kembali menyuarakan pendapatnya. "Mereka Iblis! Setelah kita menyepakati perjanjian perdamaian, mereka akan langsung mengkhianati kita!"


Semua mata kembali tertuju kepada sang Duke. Ia mengelus-elus janggutnya, menghela nafas.


"Sudah berapa ribu jumlah prajurit yang kita korbankan? Jumlah uang yang sudah kita keluarkan untuk membiayai perang suci ini? Apakah kalian akan membiarkannya begitu saja?"


"Tidak!"


"Tentu saja tidak!"


Perkataan Walter terus membuat jiwa buas para bangsawan membara. Meskipun mereka bukan prajurit, mereka masih merasa ingin berbakti kepada negara. Akal sehat mereka dibutakan oleh rasa kebanggaan atas kerajaan mereka.


"Maka karena itu, kita perlu membalas apa yang mereka lakukan kepada kita!" seru Walter. "Prajurit kita terbunuh, kita bunuh sepuluh Iblis! Satu perunggu kita habis, kita ambil satu emas dari mereka!"


""UUOO!""


"Hidup Victoria! Hidup sang Raja!"


"Hidup Victoria! Hidup sang Raja!"


Albert menatap pejabat negaranya yang kini terlihat seperti hewan liar tanpa kata. Tidak setuju maupun menentang mereka.


Estoc di sampingnya, tersenyum samar. Mengikuti Perdana Menterinya, ia juga. Tersenyum.


Rencana mereka mulai berjalan lancar.