Re: Turning

Re: Turning
A Friend's Worth



"Hmm?"


Yonaka merasa sakit kecil di daun telinganya. Seperti dititik sebuah jarum kecil. Ia menoleh ke belakang.


Hanya ada barisan ranjang dan tirai. Di ruangan penyembuhan, hanya ada ia dan Izumi. Ruangan itu kosong, bahkan seperti ditelantarkan. Entah apa alasannya.


Yonaka mengelus-elus daun telinganya. Ia kembali menatap Izumi yang masih berbaring tenang. Yonaka tidak khawatir tentang telinganya. Sebelum datang ke Zelfria, ia juga sering mengalaminya.


"Aku harap Shinnichi-kun baik-baik saja," gumam Yonaka. Ia merasa tidak enak meninggalkannya begitu saja. Ia hanya bisa berdoa untuk yang terbaik.


Yonaka memegang tangan Izumi. Mencoba menenangkan dirinya sendiri. Setidaknya, ia merasa aman jika bersama dengan Izumi.


"Kuharap semuanya baik-baik saja...."


Yonaka menaruh kepalanya di samping ranjang. Menatap wajah tidur Izumi. Ia bisa merasakan wajahnya memerah. Meskipun begitu, ia tidak mengalihkan pandangannya.


"?"


Yonaka mengangkat kepalanya. Mendengar langkah kaki di luar. Indera pendengarannya memang cukup tajam. Ia tidak salah.


Brakk! Pintu ruangan terbuka dengan lebar. Seorang ksatria berbaju baja berdiri di ambang pintu.


"Yonaka-dono!"


"A-ada apa?" Yonaka agak terkejut mendengar seruan ksatria itu. Jarang sekali ia melihat hal itu. Apakah sesuatu yang darurat terjadi?


"Shinnichi-dono! Ia diserang oleh para Iblis!"


Darah terkuras dari wajah Yonaka. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berharap telinganya salah dengar. Namun, ekspresi khawatir di wajah ksatria itu berkata lain.


"S-Shinnichi-kun...?"


✾✾✾✾


"End...."


Di kamar Endel, Haira menggumamkan namanya. Menatap seorang pemuda Iblis yang berbaring di atas ranjang. Ekspresinya tenang. Meskipun begitu, Haira tetap khawatir.


Di belakangnya, Fusena berdiri sambil melipat tangannya. Berbeda dengan Haira, wanita berambut perak itu tidak terlihat khawatir sama sekali. Kebalikannya, ia bahkan terlihat sedikit kesal.


Ia akhirnya berjalan ke samping ranjang Endel. Menaruh tangannya di pipi adiknya, Fusena menatap lekat Endel.


Lalu, menamparnya.


"Fu-Fusena-dono?!"


"Bangun, bodoh." Mengabaikan Haira, Fusena kembali menampar Endel berkali-kali. Suara tamparan itu menggema di ruangan. "Berapa lama lagi kau mau tidur?"


"Aduh! Sakit! Baik, baik! Aku bangun! Aku bangun!" Merasakan rasa panas di pipinya, Endel langsung bangun. Ia memelototi Fusena. "Apa yang kau lakukan!?"


"Apa yang harus kulakukan."


Fusena mengangkat bahunya. Ia menoleh ke belakang. Endel mengikutinya. Namun, sebelum mengerti apa yang ia katakan, seorang gadis Iblis gotik melompat ke arahnya.


"End!"


"I-Ira!? Guh!"


Endel menerima pelukan - atau lebih tepatnya, tubrukan - dari Haira. Perutnya yang baru saja disembuhkan kembali terasa sakit. Tak tega melawan, ia hanya bisa menahan dan tersenyum. Haira tak bergerak, menanamkan wajahnya ke dada Endel.


"Err.... Ira?"


"... Hiks."


"Ira!?"


Endel mulai panik. Ia tidak tahu harus apa jika seorang gadis menangis di dadanya. Ia menoleh ke arah kakaknya. Namun, Fusena mengalihkan pandangannya, seolah-olah tidak ingin berurusan dengannya. Endel memelototi Fusena, bertekad untuk mengganggunya di masa depan.


"Jangan lakukan itu lagi... A-aku khawatir....." bisik Haira pelan. Cukup untuk didengar Endel.


"Uhh... Maaf?" Endel menjawab tidak yakin. "Pahlawan itu mengatakan bahwa ia penasaran dengan kekuatanku, jadi aku terbawa suasana. Maaf ya, sudah membuatmu khawatir."


Menjelaskan alasannya yang kurang tepat, Endel meminta maaf kepada Haira. Ia tidak tahu bahwa tunangannya ini begitu mengkhawatirkannya. Ia mengelus-elus rambut bob Haira.


"Iya, tak apa."


Haira menjawab. Mengusap wajahnya ke baju Endel sebelum berdiri. Pemuda itu hanya bisa menerimanya dengan lapang dada. Lupa betapa anehnya gadis di depannya ini.


Tak berkomentar, Endel memegang kepalanya. Ia merasa kepalanya sedikit tidak imbang. Benar saja, tanduk kirinya tidak ada.


"Ah, tandukku tidak ada." Endel memegang sisa tanduk kirinya. Terlihat seperti cangkang yang kosong. Endel tidak terlalu khawatir, tanduk spiralnya itu bisa tumbuh lagi.


"Apakah aku kalah?" Endel bertanya. Tidak memikirkan dirinya sendiri.


Fusena menghela nafas. Otak otot memang merepotkan. Ia menggelengkan kepalanya.


"Hasilnya seri," jawabnya singkat. "Tapi, kau dan Haira hampir mati."


"Huh?" Endel menatap kakaknya dengan bingung. Tidak mengerti apa yang dikatakannya. "Ira juga? Apa yang terjadi?"


"Pahlawan Samejima mencoba menyerangmu dan Haira setelah duelmu dengan Pahlawan Izumi." Fusena kembali melipat tangannya. Terlihat kesal, ia menceritakan apa yang terjadi. "Orang bodoh itu hampir saja memenggal Haira."


"Apa!? Kenapa ia melakukan itu? Haira tidak ada hubungannya dengan itu. Kenapa dia menyerangnya?"


Endel hampir bangkit dari ranjangnya. Jika Haira tidak menahannya, ia mungkin sudah berlari keluar mencari Samejima. Di pengawasannya, tak ada yang boleh macam-macam dengan Haira.


"Te-tenanglah, End!" Haira terus menahan Endel. "S-Shinnichi-dono menghentikannya."


"Pelayan Puteri itu? Ia menghentikan seorang Pahlawan?" Endel terlihat skeptis.


Di matanya, Shinnichi adalah seorang yang biasa. Endel rasa jika Shinnichi berdiri di kerumunan, ia akan menghilang dengan mudah. Selain itu, ia juga tidak memiliki sesuatu yang membuatnya mencolok. Bagaimana orang sepertinya menghentikan seorang Pahlawan tidak bisa ia mengerti.


"Ia berdiri di depan Haira. Membahayakan lehernya sendiri untuk menyelamatkan kalian berdua."


Fusena tersenyum samar. Kini, ia lebih menghormati Shinnichi daripada sang Raja ataupun pahlawan lainnya. Seseorang yang membahayakan nyawanya untuk menyelamatkan musuh yang tak berdaya. Jarang sekali ada orang seperti itu.


"Begitu ya?" Endel terdiam. Ia harus ingat untuk berterimakasih kepadanya. Haira juga membuat


"Ngomong-ngomong," tambah Fusena. "'Pelayan Puteri' itu juga mengalahkan Samejima dalam duel."


"Huh!? Kakak bercanda ya?!"


Endel membelalakkan matanya mendengar Fusena. Sudah mengejutkan baginya bahwa Shinnichi sudah melindungi mereka. Mengalahkan Samejima dalam duel? Itu lebih mengejutkan.


Ia menoleh ke arah Haira. Gadis itu mengangguk. "D-dia mengalahkannya dengan sebuah bola Mana."


"Eh? Eh!?"


Endel memegang kepalanya. Apakah seorang yang "kosong" memang sekuat itu!? Ia mulai takut akan Shinnichi.


Tok, tok. Sebuah ketukan di pintu menghentikan pertunjukan kecil mereka. Fusena menoleh. "Ada apa?" tanyanya.


"Yang Mulia raja Albert meminta kehadiran anda semua." Suara seorang pelayan terdengar. Memberi pesan sang Raja.


Fusena menyipitkan matanya. Ia tidak mengerti alasannya. Ia menoleh ke arah Haira dan Endel. Jika Fusena sendiri tidak tahu, mereka berdua apalagi.


"... Baik. Kami akan ke sana." Fusena akhirnya menjawab.


"Terima kasih atas pengertiannya." Pelayan itupun pergi.


Ruangan itu kini sunyi. Fusena memegang dagunya. Memikirkan alasan atas pemanggilan mereka. Hal yang jelas adalah ini pasti berhubungan dengan duel tadi pagi.


"Fusena-dono? Apa yang harus kita lakukan?" Haira yang pertama bertanya. Menatap Fusena dengan khawatir.


"Pengelihatanku tidak aktif. Jadi ini yang seharus terjadi," jawab Fusena. Ia membalikkan badannya. Menunjukkan sayapnya yang terlipat. "Ayo."


Endel dan Haira mengangguk. Membantu Endel turun dari ranjang, Haira mengikuti Fusena.


❂❂❂❂❂❂


Ketiga Iblis itu berjalan menelusuri lorong. Sesekali berbelok di koridor yang lebar. Lorong kerajaan terlihat sepi. Terlalu sepi.


Biasanya, mereka melihat sepasang atau tiga ksatria yang berpatroli. Namun, saat ini mereka tidak melihat satu jiwa sekalipun. Pelayan tadi juga tidak bisa ditemukan di mana-mana. Seolah-olah ia lenyap begitu saja.


Firasat mereka bertiga tidak baik. Fusena berhenti sebelum sampai di ruang singgasana. Ia menoleh ke arah Haira dan Endel.


"Haira, siapkan sihir pertahanan. Jika situasi memburuk, gunakan [Teleport] untuk melarikan diri. Bawa Endel bersamamu."


"Aku menolak!" Endel langsung memprotes keputusan Fusena. "Aku tidak bisa meninggalkan kakak begitu saja."


"Bodoh!" Fusena menatap Endel dengan kesal. "Memangnya kau bisa melindungiku dengan kondisi seperti itu?"


"Err...." Endel terlihat tidak yakin. Fusena hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku akan baik-baik saja." Fusena meyakinkan Endel. Ia menoleh ke arah Haira yang sedang mengucapkan mantera sihirnya. "Kita bertemu di luar kota. Bagian selatan."


Masih mengucapkan manteranya, Haira mengangguk. "-- Lindungi kami! [Shielding Aura]!" Selesai mengaktifkan sihirnya, cahaya hijau mulai menyelimuti tubuh mereka. Sihir itu sesuai dengan namanya. Melindungi pengguna serta orang yang terpilih.


Merasa sedikit aman, Fusena dan yang lain kembali berjalan. Langkah kaki mereka terdengar jelas. Terdengar seperti menggema di seluruh istana.


Mereka sampai di depan pintu masuk ruang singgasana. Sama seperti bagian istana lainnya, tidak ada penjaga pintu. Pintu berornamen itu terbuka sedikit. Seseorang tidak bisa melihat apa yang ada di dalam.


"Jangan sentuh dia!"


Fusena dan Haira tertegun. Meskipun hanya sebentar mengenal Shinnichi, mereka tidak pernah melihat atau mendengar pemuda itu begitu marah.


Mereka bergegas masuk. Di dalam, Cahaya merah menyinari ruangan. Di tengah-tengah, mereka bisa melihat Shinnichi yang babak belur di lantai. Penuh darah dan memar. Tangan kanannya bahkan terputus.


"FIONA! AKU AKAN KEMBALI! AKU BERSUMPAH AKAN KEMBALI UNTUKMU! BAGAIMANAPUN CARANYA!"


Suara Shinnichi memenuhi gendang telinga mereka. Sumpah itu bergetar di rongga dada mereka. Endel bahkan bisa merasakan sensasi dingin menuruni tulang belakangnya. Aura kebencian yang dikeluarkan Shinnichi melebihi apapun yang pernah ia temui di medan pertempuran.


"I-itu... Lingkaran sihir teleportasi!"


"Teleportasi?!"


"Shinnichi-dono!"


Sebelum bisa melakukan sesuatu, Shinnichi terlanjur tertelan cahaya itu. Setelah beberapa saat, cahaya itu redup. Shinnichi tidak ada lagi di pandangan.


"Ah, para Iblis sudah datang."


Di ujung ruangan, Estoc tersenyum. Perkataannya membuat semua orang di ruangan menoleh ke arah mereka.


"Kalian datang di saat yang tepat." Seorang pemuda berambut emas membuka tangannya. "Si pecundang itu baru saja hilang."


"Kau!" Fusena menatap tajam ke arah Albert, Estoc dan Samejima. "Bagaimana bisa, kau melakukan itu ke kaummu sendiri?!"


"Kaumku?" Albert kini menjawab. Mendengus. "Ia hanyalah sampah rendahan yang perlu dibuang."


"Sampah?! Shinnichi-dono sampah?!" Fusena menggeram. "Kalian tak waras! Apa yang akan dipikirkan rakyat?!"


Ia benar-benar tidak mempercayai apa yang dikatakan raja itu. Orang baik seperti Shinnichi itu sampah? Hanya monster atau hewan yang tak berakal yang memikirkan hal itu.


"Tak masalah. Kalian tahu kenapa?" Estoc tersenyum kecil. "Karena kami tidak melakukan apa-apa."


"!?"


Fusena menyadari apa yang dikatakan olehnya.


Seorang Manusia meninggal di istana. Sang Raja bersama Pahlawan dan Tiga Iblis. Mana yang lebih dipercaya sebagai pembunuhnya?


"Kau...." Fusena mengepalkan kedua tangannya. Sayapnya mulai melebar. Memperlihatkan warna hitam merahnya serta ukurannya yang lebar.


"Hahaha! Cukup pintar bukan?" Samejima tertawa. "Aku juga terkesan."


"Ck." Fusena mengeklik lidahnya. Ia menoleh ke arah Haira dan Endel. "Pergi! Sekarang!"


Mereka berdua langsung mengangguk. Endel meraih tangan Haira. Mana gadis itu mulai keluar. Menciptakan cahaya putih yang samar.


"Tak akan kubiarkan!" Samejima menarik Rivelia. Ia menerjang maju.


Fusena tidak tinggal diam. Ia menendang lantai. Membuka tangannya, memamerkan cakar merah gelap tajamnya yang baru saja tumbuh. Berbeda dengan Haira dan Endel, ia adalah seorang Dragon-kin.


Sriing! Samejima mengayunkan pedangnya. Fusena mengangkat tangannya. Menangkis pedang sihir itu. Percikan api terlempar dari gesekan antara bilah pedang dan cakar naga.


Fusena mengepalkan tangannya. Memukul perutnya dengan kekuatan penuh.


"Geh!"


Samejima terpental ke belakang. Melesat di udara. Sebelum menghantam tanah, Samejima terhenti. Beberapa ksatria menggunakan sihir angin untuk menghentikannya di udara. Samejima turun tanpa luka.


Di saat yang bersamaan, Endel dan Haira ditelan cahaya putih. Dalam sekejap, mereka menghilang. Fusena menghela nafas lega.


"Cih, mereka melarikan diri."


Samejima meludah ke samping. Kemudian, ia menoleh ke arah Fusena.


Lalu, tersenyum.


"!?"


Fusena merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia melompat ke samping. Tepat waktu. Sebuah panah bersiul melewatinya, nyaris mengenai kepalanya.


Jleb! Panah menancap di salah satu pilar putih. Menunjukkan betapa kuatnya tenaga di belakang anak panah itu.


Fusena menoleh ke belakang. Seorang gadis berambut hitam panjang berdiri menatapnya. Di tangannya, sebuah panah emas. Wajahnya yang cantik tertutupi oleh ekspresi kesedihan yang jelas.


"Kau...." Yonaka kembali menarik busurnya. Suaranya bergetar. "Kau apakan Shinnichi-kun?!"


❂❂❂❂❂❂


Yonaka tak bisa mempercayai matanya. Sebuah pemandangan mengerikan tergelar di hadapannya. Di ambang pintu ruangan, ia bisa melihat segalanya.


Samejima dan seorang Iblis bertarung. Kumpulan ksatria yang ketakutan. Lalu, Di tengah-tengah ruangan. Terdapat sepotong tangan.


Bukan tangan biasa. Yonaka mengenali tangan itu.


Tangan temannya yang selalu tersenyum lembut. Tangan temannya yang selalu baik hati; Tangan Shinnichi.


Kini tergeletak di atas genangan darah pekat.


Yonaka merasakan hatinya tercelus. Jatuh ke jurang keputusasaan. Kesedihan mulai memakan dirinya.


Ia mengangkat busurnya lalu menarik senarnya. Menargetkan orang yang bertanggungjawab. Iblis yang telah merenggut teman berharganya. Yonaka melepaskan anak panah itu.


"Kau...." Yonaka mencoba mengeluarkan suaranya. Kesedihan itu digantikan oleh kemarahan. "KAU APAKAN SHINNICHI-KUN?!"


Berseru dengan suara keras, Yonaka melepaskan rentetan panah dari Paragrine. Masing-masing terarah ke hati, kepala dan jantungnya. Akurasinya tak bisa ditandingi.


Fusena menangkis panah itu dengan sayapnya. "Tunggu!" serunya. "Diri yang satu ini tidak melakukan apapun!"


"Bohong! Kau menyerangnya!" Yonaka tidak mendengarkan. Iblis itu membunuh Shinnichi! Ia tidak pantas didengarkan. "Kau membunuh Shinnichi-kun!"


Ia terus menyerang Fusena dengan anak panahnya. Berbeda dengan Yonaka yang lemah lembut, ia melepaskan anak panah itu dengan tujuan untuk membunuh.


Fyu! Fyu! Fyu! Fusena menutupi tubuhnya di belakang sayapnya. Panah Yonaka memantul tanpa melukainya. Ia hanya bisa bertahan, tanpa melukai Yonaka. Bagaimana bisa? Jika ia menyerangnya, kecurigaan Yonaka dapat dipastikan.


"Shinnichi-dono dibunuh mereka! Percayalah!" Fusena terus berusaha meyakinkan Pahlawan pemanah itu.


"DIAM!" bentak Yonaka. Air mata terus membasahi wajahnya. "Kau! Kau membunuh temanku! Seseorang yang berharga bagiku! Kau akan membayar apa yang kau lakukan!"


"Hancurkan Musuhku dengan petirmu! [Apollo]!" Dari Paragrine, petir kuning terbentuk. Yonaka menembakkannya tepat ke sayap Fusena.


ZU! ZU! ZU! DUM! Sontak, kilatan cahaya kuning menerjang Fusena dari atas. Puluhan petir menyambar tubuh Iblis itu, membentuk pilar petir raksasa. Gemuruh guntur dan retakan listrik mengikuti.


"!!?"


Fusena tidak bisa menahan serangan itu. Berteriak pun ia tidak bisa. Wanita itu hanya bisa menerima serangan langsung Yonaka.


Wanita itu ambruk ke tanah. Asap melayang di atas tubuhnya yang gosong. Meskipun begitu, Fusena masih bernafas. Pertahanan seorang Iblis Naga memang tidak bisa diremehkan.


Yonaka berlutut. Menggunakan [Apollo] menguras habis Mananya. Tapi, ia menggertakkan giginya dan kembali berdiri. Mengarahkan panahnya ke arah Fusena.


"Katakan...." Yonaka menarik nafas. Mencoba menahan amarahnya. "Kenapa kau melakukan itu...."


"I... Insch mate." Fusena bergumam. Tak bisa menggunakan bahasa Manusia. "... Mereka... membunuhnya...."


Yonaka terdiam. Ia menundukkan kepalanya. Menyembunyikan ekspresi wajahnya.


"Yonaka! Jangan dengarkan Iblis itu! Dia yang membunuh Shinnichi!" seru Samejima. Menambahkan minyak ke perapian. "Bunuh dia sebelum dia melarikan diri!"


"To-tolong...." Fusena memelas. "Pe-percayalah...."


Yonaka terdiam. Kehilangan Shinnichi, membunuh seseorang. Hatinya tidak siap untuk ini. Di saat seperti ini, apa yang akan dilakukan Shinnichi?


Fusena tidak membuang-buang kesempatan. "[Transform]." Ia menggumamkan nama kemampuan rasnya.


FWOOSH! Aura merah keluar dari tubuh Fusena. Menerbangkan panah yang melesat ke arahnya. Seolah-olah tornado muncul di dalam ruangan. Yonaka dan semua orang di ruangan terdorong ke belakang. Debu mulai mengepul, menutupi Fusena.


"Groaaarr!" Raungan liar menggema di ruangan. Dari awan debu, seekor naga merah hitam berdiri.


Terlihat seperti naga Eropa, ia memiliki sepasang sayap di punggungnya. Dua pasang tanduknya panjang, cakarnya tajam. Naga itu adalah Fusena. Memakai kemampuan khusus ras Dragon-kin, ia merubah wujudnya menjadi seekor naga.


Fusena mengamati sekitarnya. Yonaka menatapnya tak percaya. Sementara itu, Albert, Estoc dan Samejima hanya menatapnya dengan diam.


Fusena tak menunggu. Ia melompat, mengepakkan sayapnya lalu mengudara. Gelombang kejut yang dihasilkan cukup untuk menciptakan lubang di lantai.


"Kruuaa!" Fusena membuka mulutnya. Sinar merah tertembak keluar. Menghancurkan atap ruangan dan menciptakan lubang untuknya.


Menjatuhkan puing-puing ke bawah, Fusena terbang pergi. Melarikan diri dari kerajaan Victoria bersama Endel dan Haira. Ini bukan terakhir kalinya mereka terlihat.


Yonaka menatap sosok Fusena. Ia menggigit bibirnya. Saking kuatnya hingga darah segar mengalir dari mulutnya.


Yonaka terjatuh ke lututnya. Tak bisa mengangkat kepalanya. Pandangannya buram. Bukan karena kehilangan Mana, tapi tertutupi air mata.


"Shinnichi... Kun...."


Yonaka mengepalkan tangannya. Menyadari bahwa ia kehilangan teman terbaiknya. Yonaka mulai menangis.


Sama seperti Shinnichi, sebuah tekad terbentuk di dalam hatinya. Berbeda dengan Shinnichi. Tekad itu bukan untuk menyelamatkan seseorang.


Dalam hati, Yonaka bersumpah. Ia akan membuat ras Iblis membayar untuk ini semua.